0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan25 halaman

Script Sosio

Film ini menggambarkan konflik antara Faris, seorang ayah yang baru saja di-PHK, dan Natan, anaknya yang merasa tertekan karena tidak memiliki motor seperti teman-temannya. Faris berusaha memenuhi keinginan Natan untuk memiliki motor meskipun dalam keadaan keuangan yang sulit, yang kemudian mengarah pada dinamika hubungan mereka. Cerita ini mengeksplorasi tema gengsi, penerimaan diri, dan tantangan dalam keluarga di tengah tekanan sosial.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan25 halaman

Script Sosio

Film ini menggambarkan konflik antara Faris, seorang ayah yang baru saja di-PHK, dan Natan, anaknya yang merasa tertekan karena tidak memiliki motor seperti teman-temannya. Faris berusaha memenuhi keinginan Natan untuk memiliki motor meskipun dalam keadaan keuangan yang sulit, yang kemudian mengarah pada dinamika hubungan mereka. Cerita ini mengeksplorasi tema gengsi, penerimaan diri, dan tantangan dalam keluarga di tengah tekanan sosial.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

PEMBUKAAN FILM (FINAL)

DI BALIK GENGSI

SCENE 0

INT. RUMAH NATAN

Rumah sederhana, rapi, tidak mewah namun layak.


Suasana pagi masih tenang.

Faris duduk di ruang tamu, menatap kosong ke depan.


Tangannya memegang ponsel, dan melihat saldo di hpnya

Tiba-tiba terdengar suara dari luar rumah.

SUARA
“Surattt…”

Faris tersentak.
Ia bangkit, berjalan keluar rumah.

CUT TO:

EXT. DEPAN RUMAH

Faris menerima sebuah amplop.


Ia membuka perlahan, membaca isinya.

Tulisan besar terlihat jelas: SURAT PHK.

Wajah Faris berubah.


Ia membaca ulang, berharap salah.

Tidak ada kata-kata.


Hanya tatapan kosong.

Faris melipat surat itu, menggenggamnya erat, lalu masuk kembali ke rumah dengan langkah
berat.

CUT TO:
INT. KAMAR NATAN

Pintu kamar terbuka.


Natan keluar sambil menunduk menatap ponselnya.

Ia berjalan ke arah ruang tamu tanpa melihat sekitar.

Di layar ponsel Natan:

 Teman sekolah berfoto dengan motor


 Nongkrong di kafe
 Caption: “anak motor gak pake nunggu angkot”

Langkah Natan melambat.

Ia berhenti, lalu duduk di sofa.


Matanya menatap layar lebih lama dari seharusnya.

Ekspresinya berubah—
antara iri, kesal, dan ingin dianggap.

Ia menutup ponsel pelan.

CUT TO:

INT. RUANG TAMU

Faris duduk di sudut lain ruangan, diam, surat PHK terlipat di tangannya.

Natan tidak menyadari itu.

Dua orang berada di satu ruangan,


masing-masing tenggelam dalam pikirannya sendiri.

CUT TO BLACK

JUDUL MUNCUL:

DI BALIK GENGSI

SCENE 1
INT. RUMAH NATAN – SORE

Sore hari.
Cahaya matahari masuk lewat jendela.

Faris duduk di ruang tamu, membuka dompet.


Isinya sedikit. Ia menutupnya lagi.

Pintu terbuka.

Natan masuk.
Tas sekolah dilempar ke sofa.

Ia berdiri sebentar, menatap punggung ayahnya.

NATAN
Pak.

Faris menoleh.

FARIS
Iya?

Natan duduk, gelisah


Seolah sudah lama menahan kata-kata

NATAN
Teman-teman di sekolah semuanya pake motor pak

Faris diam.

NATAN
Cuma aku yang jalan kaki

Faris menarik napas pelan.

FARIS
Terus kenapa?

Natan menatap ayahnya, suaranya mulai meninggi.

NATAN
Kenapa Bapak selalu nanya “kenapa”?
Padahal Bapak tau jawabannya.
Faris menegang.

FARIS
Motor itu bukan kebutuhan utama, Tan.

NATAN
[langsung motong pembicaraan]

Buat Bapak mungkin bukan.


Tapi buat aku iya pak

Hening.

NATAN
Aku tu capek, Pak.
Capek ngerasa beda.
Capek diliatin.
Capek diketawain.

Faris berdiri.

FARIS
Hidup itu bukan lomba, Tan.

NATAN
Tapi sekolah itu lomba, Pak! Aku Cuma mau lebih keren, supaya gak ditindas dan di anggap
kalah.

Natan berdiri juga.


Kini mereka saling berhadapan.

NATAN
lagian aku Cuma minta motor pak, bukan rumah ataupun mobil.

Faris menatap mata anaknya.

FARIS
faris memberikan surat yang bertulisan surat PHK itu ke natan

“ bapak di PHK, bapak gaada pemasukan nak “


NATAN
(jeda, natan tercengang)
“ Ya itu salah bapak, pokoknya gamau tau harus ada motor [nama motore natan, mboh namane
apa]

Faris terdiam.
Kalimat itu menusuk faris

FARIS
“N-nak kalo motor itu, bapak belum sanggup”

Natan tertawa kecil sarkas

NATAN
Berarti aku harus nerima
jadi bahan omongan terus?

Ia mengambil ponselnya, menunjukkan layar.

NATAN
Lihat ini, Pak.
Mereka semua bebas.
Punya motor.
Punya gaya.

Faris memalingkan wajah.

NATAN
Aku cuma pengen dihargai.
Sekali aja.

Hening panjang.

Faris duduk dn bingung

FARIS
huft.. kalau Bapak usahain
kamu janji apa?

Natan terdiam.
NATAN
aku janji bakal jaga motor itu baik baik dan semangat sekolah

Faris menunduk.

Natan pergi dan faris berdiri menelpon seseorang dan berkata “ halo bro, sibuk ga? “

CUT TO:

TRANSISI NATAN MASUK KAMAR – MALAM

Natan masuk lalu berbaring sambil membuka Instagram.


Wajahnya diterangi cahaya layar ponsel.

Story Enjel muncul:


Enjel dan teman-temannya nongkrong santai di sebuah tempat sederhana.
Tertawa, terlihat menikmati momen.

Natan menatap layar agak lama.

Ia menekan replay

Jarinya mengetik… berhenti…


lalu menghapus.

Mengetik ulang.

NATAN (CHAT)
“Seru ya. Lain kali kita nongkrong bareng.”

Tanda terkirim muncul.

Natan tersenyum kecil.

Beberapa detik kemudian—


notifikasi masuk.

ENJEL (CHAT)
“ haha iyaa boleh.”

Senyum Natan melebar.


Ia menatap layar dengan puas.

Namun senyumnya perlahan memudar


ia teringat akan kejadian tadi
Natan mengunci layar ponsel.

Ia menatap langit-langit kamar.

CUT TO:

TRANSISI BAPAK LG RUANG TAMU – MALAM

Faris masih telp tp pas blg “ udah masuk, makasih ya bro, janji bakal tak balikin kalo udah dapet
kerja lagi”

Ia mematikan telp lalu duduk

Ia menghela napas panjang.

Keputusan berat sedang diambil.

SCENE 2
EXT. TERAS RUMAH NATAN – PAGI

Pagi cerah.
Sebuah motor merah terparkir rapi di depan rumah.

Natan berdiri terpaku.


Matanya berbinar—antara senang dan kaget.

Faris keluar rumah sambil membawa helm.

NATAN
(pelan, tak percaya)
Pak… ini motor…?

Faris mengangguk pelan.

FARIS
Iya.

Natan tersenyum lebar, lalu berhenti.


NATAN
(jujur)
Uangnya dari mana, Pak?

Faris menarik napas.


Tidak menghindar.

FARIS
Bapak pinjem.

Natan terdiam.

NATAN
Pinjem… ke siapa?

Faris ragu sejenak.

FARIS
Ke Pak Budi.
Nama itu menggantung di hati natan

NATAN
(kaget)
Pak budi?

FARIS
iya, kamu gak kenal nak

FARIS
(ketat tapi lembut)
Motor ini bukan buat pamer, Tan.
Ini buat kamu sekolah.
Jaga baik-baik.

NATAN
iyo iyo pak [natan menghiraukan iu dan langsung fokus ke motornya]

Faris menyerahkan helm.


Natan naik motor.

Mesin menyala.

SCENE 3
EXT. JALAN MENUJU SEKOLAH – PAGI

Natan mengendarai motor dengan hati-hati.

Anak-anak sekolah menoleh.

Beberapa berbisik.

Natan tersenyum kecil.


Rasa bangga mulai tumbuh.

SCENE 4
EXT. SEKOLAH – PAGI

Natan memarkir motor.

Enjel, Chika, Bila, dan Aurel berdiri tak jauh.

Enjel menoleh lebih dulu.

ENJEL
eh natan

Natan mendekat, sok santai.

NATAN
(percaya diri palsu)
halo njel, pagi

bila dan Chika saling pandang dan aurel sibuk main hp

BILA
Eh… akhirnya punya motor juga.

AUREL
Bagus.

Nada Aurel datar.


Matanya menatap motor lebih lama dari yang lain.

NATAN
ya lumayan lah.
Chika menatap Natan, lalu Enjel.

CHIKA
jadi sekarang gak telat lagi dong.

NATAN
senyum
harusnya enggak.

Bel sekolah berbunyi.

BILA
eh bel.

Natan tersenyum ke Enjel.

NATAN
Nanti pulang bareng, Jel?

Enjel tersenyum.

ENJEL
Boleh.

Natan bilang yaudah yuk masuk

SCENE 5
INT. KELAS – Sore

Bel pulang berbunyi.

Siswa-siswi mulai beres-beres.

Natan menutup bukunya cepat, matanya langsung mencari Enjel.

Enjel berdiri, merapikan tas.

NATAN
(pelan)
Jel.

ENJEL
hm?
NATAN
pulang bareng ya.

Enjel tersenyum kecil.

ENJEL
iya.

Bila dan Chika mendengar.

BILA
eh iya sekalian dong.

CHIKA
ramean.

Aurel mengangkat tasnya.

AUREL
ayo.

CUT TO:
EXT. PARKIRAN SEKOLAH – SIANG

Natan berjalan lebih dulu ke arah motornya.

Teman-temannya menyusul.

Natan membuka jok motor, mengeluarkan helm cadangan.

NATAN
Jel.

Ia menyerahkan helm.

ENJEL
makasih.

Enjel memakai helm dan naik

BILA
ciee siap motoran.
NATAN
ketawa kecil

Chika tersenyum tipis.

Aurel memperhatikan motor itu sebentar, lalu berpaling dan berkata “ udah sana tiati “

Lalu motor itu jalan

CUT TO:
EXT. DEPAN RUMAH ENJEL – SORE

Motor berhenti.

Enjel turun.

ENJEL
makasih ya, tan.

NATAN
sama-sama.

Enjel menatap Natan sesaat.

ENJEL
eh nanti aku mau nongkrong sama temen temen, kamu mau ikut?

NATAN
gausah deh, tp nnt kamu aku jemput aja, gimana? Mau?

ENJEL
mauu, eh tapi ngerepotin kamu ga? Kalau ngerepotin aku bisa pulang sendiri

NATAN
gaada kata repot kalau buat kamu njel

ENJEL
alah gombal, yaudah hati hati pulangnya

Natan mengangguk.
NATAN
nanti kalau nongkinya udh selesai, kabarin oke

ENJEL
okey siap

NATAN
okey [masih diam di atas motor]

ENJEL
kok ga jalan?

NATAN
nungguin kamu masuk

ENJEL
astaga yauda byee

Enjel masuk ke rumah.

Natan menatap pintu rumah itu sebentar, lalu pergi.

SCENE 6
INT. KOPKEN – SORE

Enjel, Chika, Bila, dan Aurel nongkrong.

Minum sederhana.
Tertawa ringan.

BILA
eh cie tadi pulang bareng

CHIKA
haha iyatuh, lucu deh

Aurel diam.
Tangannya memegang minuman

ENJEL
ih apasii

Enjel tertawa kecil, sedikit malu.


Aurel ikut tersenyum, tapi senyumnya tipis dan kaku.
Tangannya memutar sedotan.

CHIKA
Nat emang keliatan beda ya sekarang.

BILA
iya, makin pede.

ENJEL
haha ganteng kan

Aurel menunduk, lalu meneguk minumannya.

AUREL
yaa semoga aja dia beneran nyaman sama dirinya sendiri.

Enjel menatap Aurel, bingung.

ENJEL
maksudnya?

Aurel tersenyum kecil.

AUREL
gapapa.
aku cuma mikir aja.

ENJEL
hmm yaudah deh

CHIKA
ehh guys foto yuk, enjel gabisa lama’ kan ya, keburu dia balik nih

BILA, AUREL, ENJEL


yukyukyuk

Mereka foto foto dan enjel chat natan buat jemput

BILA
eh nanti km plg naik apa njel

CHIKA
ya bareng si ono lah
ENJEL
sutt, ojo banter banter

CHIKA
alahh kan kan

Enjel dan lainnya tertawa

SCENE 7
EXT. KOPKEN – SENJA

Natan datang dengan motor merahnya

Ia memarkir, lalu masuk dan mengajak enjel pulang

NATAN
hai guys, yuk njel

ENJEL
eh bentar aku bayar dulu

Enjel berdiri, mau ke kasir

NATAN
eh gausah [mengeluarkan dompet dan kartu]. Aku bayarin aja, yang lain juga blm bayr kan?
Skalian nih

BILA
HAH, gausah tan

Chika hanya mengangguk.

NATAN
gapapa bil, aman aja

ENJEL
gausah gt lah, gpp kita bayar sendiri aja

Natan berdiri, masih memegang dompet dan kartu.


Enjel menahannya pelan.

Natan ragu sesaat, lalu mengangguk.


NATAN
yaudah… tapi lain kali aku ya.

Enjel tersenyum, lalu berjalan ke kasir.

Bila mencondongkan badan ke arah Natan.

BILA
Nat, kamu sekarang royal banget deh.

Natan terkekeh kecil.

NATAN
ya biasa aja.

Chika memperhatikan dari samping.


Tatapannya tenang, tapi penuh perhatian.

Aurel diam, menatap minumannya.

Enjel kembali.

ENJEL
udah.

Natan langsung berdiri.

NATAN
ayo.

Enjel mengambil tasnya.

ENJEL
kita pulang dulu ya.

BILA
iya, hati-hati.

CHIKA
hati-hati, tan

AUREL
pelan nyetirnya.

NATAN
siap.
CUT TO:
EXT. DEPAN KOPKEN

Enjel naik motor.

Natan memberikan helm.

NATAN
nih.

ENJEL
makasih.

Motor dinyalakan.

Natan menoleh sebentar ke arah teman-temannya.

Ia tersenyum—
senyum yang ingin terlihat mapan.

Motor melaju pergi.

SCENE 8
INT. KOPKEN – SENJA (SETELAH ENJEL PERGI)

Tinggal Bila, Chika, dan Aurel.

Hening sebentar.

BILA
Nat keliatan bahagia ya.

Aurel menghela napas.

AUREL
bahagianya mahal.

Chika menoleh.
CHIKA
kenapa kamu bilang gitu?

Aurel ragu sejenak.

AUREL
sebenernya aku gak mau ngomongin ini…
tapi aku juga gak enak.

Bila dan Chika fokus.

AUREL
motor itu…
papiku yang dipinjemin uang sama bapaknya Natan.

Bila kaget.

BILA
hah? serius?

Aurel mengangguk.

AUREL
papiku bilang bapaknya lagi gak kerja.

Chika terdiam lama.

CHIKA
(pelan)
jadi selama ini…

Aurel mengangguk kecil.

Hening.

BILA
kasian juga sih.

CHIKA
kasian…
tapi juga sedih.

Ia berdiri perlahan.
CHIKA
aku pengen ngomong sama Natan.
Bila dan Aurel saling pandang.

BILA
jgn dulu gasih? Mending kt selidikin dulu

CHIKA
apanya yang mau di selidikin

BILA
rumahnya mungkin?

AUREL
aku tau rumahnya, mau kesana?

BILA,CHIKA
gas

Akhirnya mereka kerumah naan yang tak begitu jauh dari situ

Sesampainya di rumah

AUREL
ini rumah natan

Bila chika pun terkejut

BILA
hah seriusan ini?

AUREL
iya bil

Tbtb ada suara motor yang berhenti tepat rumah itu dan itu natan

CHIKA
eh guys itu natan

[pov yg dilihat aurel,bila,chika]

FARIS
darimana aja sih tan, jam segini baru pulang

NATAN
apasih pak, berisik bgt, aku tu capek jgn ribet deh
Natan masuk dengan kemarahan

Faris hanya geleng’ sambil berkata astagfirullah

[balik lagi ke chika dkk]

AUREL
astaga natan

BILA
kasian bapaknya

Tiba tiba ada notif dari enjel

CHIKA
eh enjel ngechat

[enjel cerita kalau natan mau membelikan dia sepatu]

AUREL,BILA
hah…

Disela sela kebingungan itu akhirnya mereka memutuskan pulang kerumah masing masing

SCENE 9
INT. RUMAH NATAN – MALAM

Rumah sunyi.
Lampu ruang tengah redup.

Faris tertidur di kursi, kelelahan.


Dompetnya tergeletak di meja.

Natan keluar dari kamar.


Matanya merah, pikirannya kacau.

Ia menatap dompet faris lama.

NATAN (V.O.)
cuma bentar…
nanti aku ganti.

Tangannya gemetar saat membuka dompet.


Ia mengambil beberapa lembar uang.
Tetapi pada saat itu posisinya faris tertidur diluar dan ada wargasana yg sengaja merekam

SCENE 10
(HARI BERIKUTNYA)

Natan menjemput enjel berangkat sekaligus memberikan sepatu yang diinginkan enjel

ENJEL
ihh lucu, terimakasih natan.

Natan memaksakan senyum.


dan mereka muai berangkat

SCENE 11
INT. SEKOLAH – KORIDOR

Kerumunan siswa.

Bisik-bisik terdengar.

SISWA 1
eh udah liat videonya?

SISWA 2
yang Natan itu?

Chika berjalan, tiba-tiba ponselnya berbunyi.


Masuk sebuah video.

Ia membuka.
Wajahnya langsung berubah.

SCENE 12
INT. KELAS

Natan duduk sendirian.


HP-nya berbunyi terus.
Ia membuka pesan.
Video dirinya mengambil uang dari dompet Faris.

Natan pucat.

Kepala sekolah masuk bersama guru.

GURU
Natan, ikut saya.

Semua mata tertuju padanya.

SCENE 13
INT. RUANG BK – SIANG

Faris duduk di sana.


Wajahnya lelah.

Natan masuk.
Tangannya dingin.

Guru memutar video.

Sunyi.

Faris menutup mata.

FARIS
kenapa, Tan…

Natan tidak sanggup menatap.

NATAN
(terisak)
aku cuma pengen keliatan cukup, Pak…

Ia jatuh berlutut.

NATAN
aku malu…
aku capek pura-pura.
aku salah.
Faris bangkit, menahan emosi.

FARIS
bapak gak marah karena uangnya.
bapak sedih…
kamu ngerasa harus nyuri buat dihargai.

Natan menangis.

Akhirnya natan diperbolehkan untuk keluar dari ruang bk

SCENE 14
SEKOLAH – SORE

Natan berdiri di depan kelas.


Tangannya gemetar.

Chika, Bila, Aurel, dan Enjel duduk di depan.

NATAN
aku mau minta maaf.

Ia menunduk dalam.

NATAN
aku bohong.
aku maksa diri biar keliatan mampu.
sampe nyakitin orang paling sayang sama aku.

Ia menatap Faris.

NATAN
aku minta maaf, Pak.

Faris mengangguk pelan.

Natan menoleh ke Enjel.

NATAN
dan aku minta maaf ke kamu.
aku gak seharusnya ngasih sesuatu
kalau harus ngorbanin harga diri dan kejujuran.
Enjel terdiam.
Matanya berkaca-kaca.

SCENE 15 (ENDING)
EXT. HALAMAN SEKOLAH – SENJA

CHIKA
jujur itu emang nyakitin.
tapi pura-pura…
lebih nyakitin semuanya tan

Natan mengangguk.

NATAN
aku gak mau jadi orang lain lagi, maafin aku ya

BILA
terus motor kamu gimana tan

NATAN
pak.. aku ngikut bapak, aku iklhas..

FARIS
nak, bapak pinjam uang itu dengan papi aurel tapi bapak sudah membayarnya dengan kerja
bersama papi aurel nak, tidak apa apa, yang penting kamu mau berubah dan rendah hati ya, serta
teruslah menuai kejujuran

NATAN
aurel, maafin aku..

AUREL
iya tan aman, jangan mengulang kesalahan yang sama ya

ENDING.

Anda mungkin juga menyukai