Bab Ii
Bab Ii
id
BAB II
LANDASAN TEORI
5
[Link] 6
[Link]
dapat menghasilkan potongan jerami sepanjang 1,5 cm. Roll ini berfungsi untuk
menarik jerami/rumput gajah dari lubang pemasukan menuju pisau potong.
2.2 Daya
Secara umum daya diartikan sebagai kemampuan yang dibutuhkan untuk
melakukan kerja, yang dinyatakan dalam satuan Nm/s, Watt, ataupun HP.
Penentuan besar daya yang dibutuhkan perlu memperhatikan beberapa hal yang
mempengaruhinya, diantaranya adalah harga gaya, torsi, kecepatan putar dan
berat yang bekerja pada mekanisme tersebut. Berikut adalah persamaan untuk
mencari nilai gaya pemotongan, Torsi minimal pisau potong, safety factor, gaya
pemotongan minimal, torsi, dan daya pada mesin perajang tembakau.
Torsi minimal adalah torsi yang dibutuhkan agar mesin pencacah jerami bisa
[Link] 7
[Link]
memotong jerami dengan baik. Besarnya torsi minimal dapat dicari dengan
persamaan (2.2) [4] berikut.
𝑇𝑚 = 𝐹𝑚 ∙ 𝑟 ............................................................................................. (2.2)
Dimana :
𝐹𝑚 = Gaya pemotongan minimal (N)
𝑟 = Jari-jari pisau potong (m)
c. Safety factor (𝑆𝑓)
Faktor Keamanan (Safety factor) adalah faktor yang digunakan untuk
méngevaluasi agar perencanaan elemen mesin terjamin keamanannya. Safety
factor dapat dicari dengan Metode Tegangan Kerja dengan persamaan (2.3)
berikut [4]:
τu
𝑆𝑓 = ..................................................................................................... (2.3)
τy
Dimana :
𝜏𝑢 = Tegangan ultimate (N/mm2 )
𝜏𝑦 = Tegangan ijin (N/mm2 )
d. Gaya (F)
Gaya adalah sesuatu yang menyebabkan benda bergerak. Gaya yang bekerja
pada poros dapat dicari dengan Persamaan (2.4) berikut [4]:
𝐹 = 𝑚 𝑥 g................................................................................................... (2.4)
Dimana :
𝐹 = Gaya (N)
𝑚 = Massa ( kg )
g = Percepatan gravitasi (m/s2)
e. Torsi (T)
Torsi merupakan hasil dari perkalian gaya dengan jarak terhadap sumbu yang
dapat dicari dengan persamaan (2.5) berikut [4]:
𝑇 = 𝐹 𝑥 𝑟 ................................................................................................... (2.5)
Dimana :
𝑇 = Torsi (Nm)
𝐹 = Gaya (N)
𝑟 = Jarak terhadap sumbu/jari-jari (m)
[Link] 8
[Link]
Besar torsi berdasarkan kecepatan putar dapat dihitung dengan persamaan (2.6)
berikut [4] :
𝑁1 𝑇1
= 𝑇2 ...................................................................................................... (2.6)
𝑁2
Dimana :
𝑁1 = Kecepatan putar pulley penggerak (rpm)
𝑁2 = Kecepatan putar pulley yang digerakkan (rpm)
𝑇1 = Torsi pulley penggerak (Nmm)
𝑇2 = Torsi pulley yang digerakkan (Nmm)
f. Daya (P)
Berdasarkan nilai putaran poros dan torsi, daya dapat dihitung dengan
persamaan (2.7) berikut [4] :
𝑃 = 𝑇 𝑥 𝜔 ................................................................................................... (2.7)
2𝜋 𝑥 𝑁
𝜔= ................................................................................................. (2.8)
60
2𝜋 𝑥 𝑁 𝑥 𝑇
𝑃= ............................................................................................ (2.9)
60
Dimana :
𝑃 = Daya (Watt)
𝑇 = Torsi ( Nm)
𝑁 = Putaran (rpm)
g. Putaran Poros
Dimana :
𝑁1 = Kecepatan putar pulley penggerak (rpm)
𝑁2 = Kecepatan putar pulley yang digerakkan (rpm)
𝐷1 = Diameter pulley penggerak (mm)
𝐷2 = Diameter pulley yang digerakkan (mm)
[Link] 9
[Link]
1. Sistem transmisi pulley dan sabuk, jarak yang cukup jauh yang memisahkan
antara dua buah poros mengakibatkan tidak memungkinkannya menggunakan
transmisi langsung dengan roda gigi, sehingga digunakan transmisi pulley dan
sabuk yang dapat menghubungkan kedua poros. Keuntungan menggunakan
transmisi pulley dan sabuk yaitu dapat menghasilkan transmisi daya yang besar
pada tegangan yang lebih rendah dibandingkan dengan roda gigi dan rantai, lebih
halus dan tak bersuara. Kelemahan menggunakan transmisi sabuk dimana transmsi
sabuk memungkinkan terjadinya slip. Adapun jenis-jenis sabuk yang dapat
digunakan dalam mentransmisikan daya antara lain: sabuk datar (flatbelt), sabuk V
(V-belt), dan ropes.
2. Sistem transmisi roda gigi digunakan untuk mentransmisikan daya besar
dan putaran yang tepat serta jarak yang relatif pendek. Roda gigi dapat
berbentuk silinder atau kerucut. Transmisi roda gigi mempunyai
keunggulan dibandingkan dengan sabuk atau rantai karena lebih ringkas, putaran
lebih tinggi dan tepat, dan daya lebih besar. Kelebihan ini tidak selalu
menyebabkan dipilihnya roda gigi di samping cara yang lain, karena memerlukan
ketelitian yang lebih besar dalam pembuatan, pemasangan, maupun
pemeliharaannya.
3. Sistem transmisi rantai sering digunakan untuk mengirimkan gaya dan torsi
yang sangat besar relatif terhadap ukurannya. Ada banyak jenis rantai yang berbeda,
dan salah satu jenis yang paling umum adalah rantai roller yang menggunakan
tautan logam yang dihubungkan bersama oleh pin dan dipisahkan oleh bushing.
[Link] 10
[Link]
Sprocket, roda bergigi yang merupakan bentuk gigi khusus, secara mekanis
melibatkan rantai sehingga tidak ada selip. Dengan demikian, rantai sangat
serbaguna. Rantai dan sproket dapat digunakan untuk mengirimkan daya antara dua
poros yang berputar, dan keduanya juga dapat digunakan untuk mengkonversi
gerakan rotari ke linier atau untuk mengaktifkan gerak linier. Kelebihan transmisi
ini dibanding dengan transmisi pulley dan sabuk yaitu dapat untuk menyalurkan
daya yang lebih besar dengan tidak adanya slip [3].
2.3.1 Sabuk dan Pulley
a. Sabuk
Sabuk adalah elemen mesin yang menghubungkan dua buah pulley yang
digunakan untuk mentransmisikan daya. Sabuk digunakan dengan pertimbangan
jarak antar poros yang jauh, dan biasanya digunakan untuk daya yang tidak terlalu
besar. Belt biasanya dibuat dari kulit, karet, kapas dan paduannya.
Kelebihan transmisi sabuk jika dibandingkan dengan transmisi rantai dan
roda gigi adalah: harga yang relatif murah, perawatan yang cukup mudah, dan tidak
menimbulkan berisik. Adapun kekurangan dari transmisi sabuk ini adalah: umurnya
pendek/mudah aus, terjadi sliding/tidak akurat, efisiensi rendah, dan kapasitas daya
kecil. Ada tiga jenis belt ditinjau dari segi bentuknya seperti pada Gambar 2.1 [3]
dibawah ini.
ketika jarak dua pulley adalah sangat dekat. Dimensi untuk V-standar
ditunjukkan belt pada Gambar 2.2 [3] sebagai berikut.
(a) (b)
Gambar 2.3 Rope and Sheave
Bahan yang digunakan untuk V-belt harus kuat, flexible dan tahan lama.
Material dari V-belt harus mempunyai koefisien gesek yang tinggi, hal ini
bertujuan agar mengurangi slip terhadap pulley. Material yang digunakan
pada V-belt antara lain kulit, kapas, dan rubber (karet) yang masing-masih
memiliki kelebihan. Masing-masing material V-belt memiliki massa jenis
[Link] 12
[Link]
(density) yang berbeda-beda, seperti yang ditunjukkan pada Tabel 2.1 [3].
Massa jenis dari v belt ini digunakan dalam perhitungan kekuatan dari V-
belt.
Tabel 2.1 Massa jenis material V-belt
Keterangan:
r1 = Jari-jari pulley besar (mm)
r2 = Jari-jari pulley kecil (mm)
x = Jarak antar poros (mm)
Panjang keliling sabuk dapat dihitung dengan rumus (2.13) [4] berikut.
(𝑟1−𝑟2)2
𝐿 = 𝜋 (𝑟1 − 𝑟2) + 2𝑥 + .......................................................... (2.13)
𝑥
Keterangan :
x = Jarak sumbu poros (mm)
r1 = Jari-jari pulley kecil(mm)
r2 = Jari-jari pulley besar (mm)
c. Kecepatan Liner Sabuk (v)
Sabuk berputar mengkuti puli yang berputar, sehingga dapat dihitung
kecepatan linier dengan rumus (2.14) [4] berikut.
𝜋 ∙ 𝐷𝑝 ∙ 𝑁
𝑣= .......................................................................................... (2.14)
60
Keterangan:
𝐷𝑝 = Diameter puli driver atau penggerak (mm)
𝑁 = Putaran puli driver atau penggerak (rpm)
d. Tegangan sisi kencang dan kendor pada sabuk
Tegangan sisi kencang dan kendor pada sabuk dapat dihitung dengan rumus
(2.15) dan (2.16) [4] berikut.
𝑃 = (𝑇1 − 𝑇2) ..................................................................................... (2.15)
𝑇1
2,3 log 𝑇2 = 𝜇 ∙ 𝜃 ∙ 𝑐𝑜𝑠𝑒𝑐𝛽 .................................................................... (2.16)
Keterangan:
𝑇1 = Tegangan sisi kencang (N)
𝑇2 = Tegangan sisi kendor (N)
𝜇 = Koefisien gesek untuk pulley pada belt
𝜃 = Sudut kontak (radian)
𝛽 = Sudut alur puli (º)
P = Daya (watt)
e. Ukuran permukaan sabuk
Bentuk dari permukaan sabuk ditunjukan oleh Gambar 2.6 Permukaan sabuk
V memiliki bentuk trapesium, sehingga dapat dihitung dengan rumus (2.17),
(2.18), dan (2.19) [4] sebagai berikut.
𝑥 = tan 𝛽 ∙ 𝑡 ........................................................................................... (2.17)
𝑐 = 𝑏 − 2𝑥 .............................................................................................. (2.18)
[Link] 15
[Link]
1
𝐴= (𝑏 + 𝑐)𝑡 ....................................................................................... (2.19)
2
Keterangan:
𝐴 = Luasan permukaan belt (m2)
𝑡 = Tebal belt (m)
Keterangan:
m = Massa sabuk (kg)
v = Kecepatan linier puli (m/s)
h. Tegangan tarik maksimal sabuk (𝑇𝑚𝑎𝑥)
Tegangan tarik maksimal sabuk adalah tegangan tarik yang nilainya paling
tinggi yang bekeja pada sabuk saat puli bergerak, tegangan tarik maksimal
sabuk dapat dihitung dengan rumus (2.22) [4] berikut.
[Link] 16
[Link]
𝑃
𝑛𝑏 = 𝑃𝑑 .................................................................................................. (2.25)
Keterangan:
𝑃𝑏 = Daya yang ditransmisikan sabuk (Watt)
𝑃 = Daya motor listrik
[Link] 17
[Link]
b. Pulley
Pulley adalah suatu peralatan mesin yang berfungsi untuk meneruskan
putaran motor penggerak ke bagian yang lain yang akan digerakkan, mengatur
kecepatan atau dapat mempercepat dan memperlambat putaran yang diperlukan
dengan cara mengatur diameternya. Pulley digunakan untuk mentransmisikan
daya dari suatu poros ke poros yang lain dengan perantara sabuk dan bisa
juga untuk menurunkan putaran dari motor listrik/motor bensin (gasoline engine)
dengan menggunakan perbandingan diameter puli yang digunakan, perbandingan
kecepatan merupakan kebalikan dari perbandingan diameter pulley secara vertikal.
Bahan dari paduan alumunium tepat digunakan untuk konstruksi ringan dan baja
untuk kontruksi kecepatan sabuk tinggi. Bentuk dari pulley dapat dilihat seperti
pada Gambar 2.7 di bawah ini.
[Link] 18
[Link]
𝑁2 𝐷1
= 𝐷1 .................................................................................................. (2.26)
𝑁1
Keterangan :
N1 = Kecepatan pulley driver (penggerak) (rpm)
N2 = Kecepatan pulley driven (digerakkan) (rpm)
D1= Diameter pulley driver (penggerak) (mm)
D2= Diameter pulley driven (digerakkan) (mm)
Roda gigi yang ujung roda gigi-giginya tersusun miring pada derajat
tertentu, gigi-gigi yang bersudut menghasilkan pergerakan roda gigi menjadi
halus dan sedikit getaran. Bentuk helix gear bisa dilihat pada Gambar 2.9.
c. Bevel gear
Roda gigi yang ujung roda gigi-giginya berbentuk seperti kerucut
terpotong. Bevel gear dapat berbentuk lurus seperti spur gear atau spiral seperti
helix gear. Keutungan menggunakan bevel gear pergerakan roda gigi halus dan
sedikit getaran. Bentuk bevel gear bisa dilihat pada Gambar 2.10.
tersebut bersinggungan dan yang satu menggelinding pada yang lain dengan
sumbu tetap sejajar. Roda gigi lurus digunakan untuk poros yang sejajar atau
paralel. Dibandingkan dengan jenis roda gigi yang lain roda gigi lurus ini paling
mudah dalam proses pengerjaannya (machining) sehingga harganya lebih
murah. Roda gigi lurus ini cocok digunakan pada sistem transmisi yang gaya
kelilingnya besar, karena tidak menimbulkan gaya aksial.
Roda gigi lurus memiliki ciri-ciri : daya yang ditransmisikan <
25.000 𝐻𝑝, putaran yang ditransmisikan < 100.000 𝑟𝑝𝑚, kecepatan keliling
< 200 𝑚/𝑠, rasio kecepatan yang digunakan adalah untuk 1 tingkat = 𝑖 < 8,
untuk 2 tingkat = 𝑖 < 45, untuk 3 tingkat = 𝑖 < 200. 𝑖 adalah perbandingan
kecepatan antara penggerak dengan yang digerakkan. Efisiensi keseluruhan
untuk masing-masing tingkat 96% - 99% tergantung desain dan ukuran.
Bagianbagian roda gigi dapat diamati pada Gambar 2.13. [4]
c. Pitch point adalah titik kontak (titik singgung) antara lingkaran pitch dari
sepasang roda gigi yang berkontak yang juga merupakan titik potong antara
garis kerja dan garis pusat.
d. Addendum (tinggi kepala) adalah jarak radial gigi dari pitch circle (lingkaran
jarak bagi) ke bagian atas gigi. Sedangkan addendum circle (lingkaran kepala
gigi), yaitu lingkaran yang membatasi gigi.
e. Dedendum (tinggi kaki) adalah jarak radial gigi pitch circle ke bagian bawah
gigi. Dedendum circle (lingkaran kaki gigi) yaitu lingkaran yang membatasi
kaki gigi.
f. Module (modul) adalah perbandingan dari pitch circle diameter terhadap
jumlah gigi, disimbolkan dengan 𝑚. Modul diperlukan karena lingkaran jarak
bagi selalu mengandung faktor 𝜋, pemakaiannya sebagai ukuran gigi dirasakan
kurang praktis.
g. Clearance circle adalah jarak radial dari puncak gigi ke gigi bagian bawah.
Atau lingkaran yang bersinggungan dengan lingkaran addendum dari gigi
yang berpasangan.
h. Tooth thickness (tebal gigi) adalah lebar gigi diukur sepanjang pitch circle.
i. Top land (puncak kepala) adalah permukaan atas roda gigi.
j. Total depth (kedalaman total) adalah jumlah addendum dan dedendum.
k. Pressure angle (sudut kontak) adalah sudut yang dibentuk oleh dua buah gigi
pada pitch point atau sudut yang dibentuk dari garis normal dengan kemiringan
dari sisi kepala gigi.
l. Diametral pitch (jarak bagi diametral) adalah rasio jumlah gigi terhadap
diameter pitch circle, dalam hal ini diameter lingkaran jarak bagi diukur dalam
inch, maka jarak bagi diametral (𝐷) adalah jumlah gigi per inch diameter
tersebut.
m. Flank (sisi kaki) adalah permukaan gigi dibawah permukaan pitch.
n. Pinion adalah roda gigi yang lebih kecil dalam suatu pasangan roda gigi.
o. Working Depth adalah jumlah jari-jari lingkaran kepala dari sepasang roda gigi
yang berkontak dikurangi dengan jarak poros.
[Link] 24
[Link]
Keterangan
NP = Kecepatan pinion (rpm)
NG = Kecepatan gear (rpm)
b. Jarak antar poros (L)
Jarak antar poros pinion dan gear dapat dihitung melalui persamaan (2.28)
[4] berikut.
𝐷𝐺 𝐷𝑃
𝐿= + ........................................................................................ (2.28)
2 2
Keterangan
DG = Diameter gear (mm)
DP = Diameter pinion (mm)
c. Modul (m)
Jarak bagi roda gigi dalam sistem metrik didasarkan pada satuan ini dan suatu
parameter yang disebut module (m). Modul dapat dihitung melalui persamaan
(2.29) [4] berikut.
[Link] 25
[Link]
𝐷𝑃
𝑚 = 𝑇𝑃 ...................................................................................................................... (2.29)
Keterangan
DP = Diameter pinion (mm)
TP = Jumlah gigi pinion
d. Kecepatan linier roda gigi (v)
Kecepatan linier roda gigi dapat dihitung melalui persamaan (2.30) [4] berikut.
π∙D∙N
𝑣= ................................................................................................. (2.30)
60
Keterangan
D = Diameter roda gigi (mm)
N = Kecepatan putar roda gigi (rpm)
Jika kecepatan linier melebihi 12m/s, faktor kecepatan roda gigi dapat dihitung
melalui persamaan (2.31) [4] berikut.
3
𝐶𝑣 = ............................................................................................... (2.31)
3+𝑣
Keterangan
v = Kecepatan linier roda gigi (m/s)
f. Beban tangensial (WT)
Gaya yang diberikan oleh gigi-gigi pinion kepada gigi yang lebih besar atau
gigi pasangannya. Gaya tangensial bisa dihitung melalui persamaan (2.32) [4]
berikut.
𝑃
𝑊𝑇 = 𝑣 𝑥 𝐶𝑠 .......................................................................................... (2.32)
Keterangan
P = Daya yang ditransmisikan (Watt)
v = Kecepatan linier roda gigi (m/s)
Cs = Safety factor
g. Faktor gigi
Faktor gigi bergantung pada profil gigi yang digunakan. Faktor gigi dapat
ditemukan dengan persamaan (2.33), (2.34), (2.35) [4] berikut.
0,684 1
𝑦 = 0,124 − for 142 ° composite dan full depth involute system . (2.33)
𝑇
[Link] 26
[Link]
0,912
𝑦 = 0,154 − for 20˚ full depth involute system ............................ (2.34)
𝑇
0,841
𝑦 = 0,174 − for 20˚ stub system ................................................... (2.35)
𝑇
Keterangan
T = Jumlah gigi
h. Tebal roda gigi (b)
Tebal gigi merupakan panjang busur yang diukur pada lingkaran jarak bagi dari
satu sisi gigi ke sisi lain gigi yang sama. Tebal gigi dapat ditentukan dengan
persamaan lewis (2.36) [4] berikut.
𝑊𝑇
𝑏= (𝜎𝑂 .𝐶𝑣) .𝜋 .𝑚 .𝑦
................................................................................... (2.36)
Keterangan
WT = Beban tangensial (Newton)
𝜎𝑂 = Beban statis roda gigi (N/𝑚𝑚2 )
𝐶𝑣 = Faktor kecepatan
m = module (mm)
y = Faktor gigi
Untuk menentukan nilai dari beban statis roda gigi 𝜎𝑂 dapat dilihat
melalui Tabel 2.4 [4] dibawah ini :
Tabel 2.4 Beban statis izin roda gigi
Material Beban statis izin roda gigi (N/𝑚𝑚2 )
Cast iron, ordinary 56
Cast iron, medium grade 70
Cast iron, highest grade 105
Cast steel, untreated 140
Cast steel, heat treated 196
Forged carbon steel-case hardened 126
Forged carbon steel-untreated 140 sampai 210
Forged carbon steel-heat treated 210 sampai 245
Alloy steel-case hardened 350
Alloy steel-heat treated 455 sampai 472
Phosphor bronze 84
[Link] 27
[Link]
Keterangan
WT = Beban tangensal roda gigi (Newton)
j. Beban Dinamis (WD)
Beban dinamis pada roda gigi dapat dihitung untuk mengetahui tingkat
akurasi dan deflection pada roda gigi. Beban dinamis dapat dihitung
melalui persamaan (2.38) [3] berikut
21 𝑣 ( 𝑏 . 𝐶+𝑊𝑇 )
𝑊𝐷 = 𝑊𝑇 + 𝑊𝐼 , dimana ( 𝑊𝐼 = ) ................................ (2.38)
21 𝑣+√𝑏 . 𝐶+𝑊𝑇
Keterangan
WT = Beban tangensal roda gigi (Newton)
v = Kecepatan linear roda gigi (m/s)
b = Tebal roda gigi (mm)
C = Faktor dinamis (Nmm)
Untuk menentukan nilai dari faktor dinamis ( C ) dapat dilihat melalui
Tabel 2.5 [3] dibawah ini :
Tabel 2.5 Faktor dinamis
Material Involute Values of deformation factor (C) in N-mm
tooth Tooth error in action (e) in mm
Pinion Gear form 0,01 0,02 0,04 0,06 0,08
Cast iron Cast iron 55 110 220 330 440
Steel Cast iron 1 76 152 304 456 608
142 °
Steel Steel 110 220 440 660 880
Cast iron Cast iron 57 114 228 342 456
Steel Cast iron 20° full 79 158 316 474 632
Steel Steel depth 114 228 456 686 912
Cast iron Cast iron 59 118 236 354 472
Steel Cast iron 20° full 81 162 324 486 648
Steel Steel depth 119 238 476 714 952
[Link] 28
[Link]
Keterangan
VR = Velocity ratio
l. Faktor tegangan pembebanan (K)
Faktor tegangan pembebanan pada roda gigi dapat dihitung melalui persamaan
(2.40) [4] berikut.
(𝜎𝑒𝑠 )2 . 𝑠𝑖𝑛𝜃 1 1
𝐾= ( 𝐸 + 𝐸 ) .................................................................... (2.40)
1,4 𝑃 𝑔
Keterangan
𝜎𝑒𝑠 = Batas ketahanan permukaan (N/mm2 )
Ep = Modulus elastisitas pinion ( N/mm2 )
EG = Modulus elastisitas gear ( N/mm2 )
Untuk nilai modulus elastisitas dan nilai batas ketahanan material dari
roda gigi dapat dilihat melalui tabel 2.6 dan tabel 2.7 [4] berikut.
Tabel 2.6 Modulus elastisitas
[Link] 29
[Link]
Ws = 𝜎𝑒 ∙ 𝑏 ∙ 𝜋 ∙ 𝑚 ∙ 𝑦𝑝 .......................................................................... (2.42)
Keterangan
σe = Nilai batas kelenturan roda gigi (N/mm2 )
[Link] 30
[Link]
2.4 Sambungan
Mesin atau kontruksi terdiri dari beberapa bagian dimana bagian yang satu
dengan yang lain akan disambungkan. Salah satu cara untuk menghubungkan
bagian tersebut adalah dengan cara memberikan sambungan. Sambungan adalah
hasil dari penyatuan beberapa bagian atau kontruksi dengan menggunakan suatu
cara tertentu. Berikut ini adalah jenis – jenis sambungan:
a. Sambungan Tetap
Sambungan tetap ini merupakan jenis sambungan atau cara penyambungan
yang dipakai untuk menghubungkan bagian-bagian dari sebuah kontruksi secara
permanen. Sambungan tetap dapat dilepas dengan menggunakan cara merusak
sambungan tersebut. Contoh sambungan tetap adalah sambungan las. Pengelasan
[Link] 31
[Link]
adalah proses penyambungan dua buah bagian logam atau lebih dengan cara
memanaskan logam tersebut sehingga mencapai titik lebur logam sehingga logam
dapat menyatu dengan menggunakan logam pengisi ataupun tanpa logam pengisi.
Sambungan las termasuk kedalam jenis sambungan tetap karena bersifat permanen.
Jenis – jenis sambungan las adalah sebagai berikut :
1. Butt Joint
Sambungan butt joint adalah jenis sambungan tumpul, dalam aplikasinya
sambungan ini terdapat berbagai macam jenis kampuh atau groove yaitu V
groove (kampuh V), single bevel, J groove, U Groove, Square Groove.
4. Sambungan las memiliki berat sambungan yang lebih ringan berkisar antara
1 – 1,5% dari berat total konstruksi mesin.
5. Luas penampang pada batang atau permukaan komponen tetap utuh karena
tidak perlu dilubangi seperti sambungan paku keling dan ulir, sehingga
kekuatan materialnya lebih kuat.
harus sesuai dengan ukuran baut sehingga beban yang dapat ditahan
oleh baut dapat maksimal.
b) Tap Bolt
Merupakan jenis penyambungan dua buah material atau lebih
dimana salah satu ujung mur mengikat pada material tersebut dan
ujung lainnya diikat dengan baut.
c) Studs
Merupakan jenis penyambungan dua buah material atau lebih
dimana mur diikat langsung pada materi