0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan16 halaman

Bab Ii

Dokumen ini membahas tentang model pembelajaran kooperatif, yang menekankan kerja sama antar siswa untuk mencapai tujuan belajar bersama. Unsur-unsur dasar pembelajaran kooperatif meliputi saling ketergantungan positif, interaksi tatap muka, akuntabilitas individual, dan keterampilan sosial. Selain itu, tujuan pembelajaran kooperatif adalah meningkatkan hasil belajar akademik, penerimaan terhadap perbedaan individu, dan pengembangan keterampilan sosial.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan16 halaman

Bab Ii

Dokumen ini membahas tentang model pembelajaran kooperatif, yang menekankan kerja sama antar siswa untuk mencapai tujuan belajar bersama. Unsur-unsur dasar pembelajaran kooperatif meliputi saling ketergantungan positif, interaksi tatap muka, akuntabilitas individual, dan keterampilan sosial. Selain itu, tujuan pembelajaran kooperatif adalah meningkatkan hasil belajar akademik, penerimaan terhadap perbedaan individu, dan pengembangan keterampilan sosial.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB II

KAJIAN TEORITIK DAN PENGAJUAN KONSEPTUAL INTERVENSI


TINDAKAN

A. Acuan Teori Area dan Fokus yang Diteliti


1. Hakikat Model Pembelajaran Kooperatif
a. Definisi Model Pembelajaran Kooperatif
Pembelajaran kooperatif (cooperative learning) merupakan model
pembelajaran yang dikembangkan oleh Robert Slavin dan terus
mengalami perkembangan hingga saat ini. Kooperatif berasal dari kata
kooperasi yang artinya bekerja sama, pembelajaran kooperatif
menekankan kerja sama antara siswa (peer teaching). Menurut Lie
seperti dikutip Made Wena berdasarkan hasil penelitian menunjukkan
bahwa pembelajaran oleh rekan sebaya (peer teaching) melalui
pembelajaran kooperatif ternyata lebih efektif daripada pembelajaran
oleh pengajar.1
Pembelajaran kooperatif menurut Davidson dan Worsham seperti
dikutip Zulfiani adalah model pembelajaran yang sistematis dengan
mengelompokkan siswa untuk tujuan menciptakan pendekatan
pembelajaran yang efektif yang mengintegrasikan keterampilan sosial
yang bermuatan akademis.2 Sedangkan menurut Made Wena,
”pembelajaran kooperatif adalah sistem yang berusaha memanfaatkan
teman sejawat (peer teaching) sebagai sumber belajar, di samping guru
dan sumber belajar lainnya.”3 Model pembelajaran kooperatif
merupakan suatu model pengajaran dimana siswa belajar dalam
kelompok-kelompok kecil yang memiliki tingkat kemampuan berbeda.
Pada intinya, pembelajaran kooperatif menimbulkan saling
ketergantungan antar siswa dalam subjek (materi pelajaran) tertentu.
1
Made Wena, Strategi Pembelajaran Inovatif Kontemporer, (Jakarta: Bumi Aksara,
2009), h. 189
2
Zulfiani, dkk., Strategi Pembelajaran Sains, (Jakarta: Lembaga Penelitian Uin Syarif
Hidayatullah Jakarta, 2009), h. 130
3
Made Wena. [Link]., h. 190

6
7

Dalam hal ini, siswa dituntut untuk saling bekerja sama dan
bertanggung jawab dengan tugasnya. Setiap siswa harus menyadari
bahwa mereka mempunyai peran dan kontribusi yang penting dalam
kelompok.

b. Unsur- Unsur Dasar Pembelajaran Kooperatif


Ada empat elemen yang merupakan ketentuan pokok dalam
pembelajaran kooperatif, yaitu; (1) saling ketergantungan positif; (2)
interaksi tatap muka; (3) akuntabilitas individual; (4) keterampilan
menjalin hubungan antarpribadi. Sedangkan menurut Roger dan David
Johnson dalam Suprijono menambahkan evaluasi proses kelompok
dalam unsur-unsur pembelajaran kooperatif.4
1) Saling Ketergantungan Positif
Dalam pembelajaran kooperatif, keberhasilan kelompok
ditentukan oleh kerja sama antar anggotanya serta tanggung jawab
individu sebagai anggota kelompok. Setiap anggota dalam
kelompok harus menyadari kontribusi mereka di dalam kelompok
untuk mencapai tujuan bersama. Kesadaran para anggota akan
kewajibannya akan menimbulkan hubungan yang saling
membutuhkan dengan anggota lainnya, hal inilah yang disebut
saling ketergantungan positif. Adapun contoh-contoh saling
ketergantungan positif yang terjadi dalam proses pembelajaran
kooperatif; (a) saling ketergantungan dalam mencapai tujuan; (b)
saling ketergantungan dalam menyelesaikan tugas; (c) saling
ketergantungan sumber belajar; (d) saling ketergantungan peran; (e)
saling ketergantungan reward.

2) Interaksi Tatap Muka

4
Agus Suprijono, Cooperatif Learning Teori dan Aplikasi PAIKEM, (Yogyakarta:
Pustaka Pelajar, 2009), h. 58.
8

Interaksi yang terjadi dalam pembelajaran kooperatif haruslah


secara langsung, setiap siswa harus berhadapan untuk menjalin
kerja sama dalam memecahkan masalah atau mendiskusikan materi
pelajaran. Interaksi yang terjadi akan membentuk sinergi yang
berguna untuk seluruh anggota, saling mengutarakan pendapat,
mengisi kekurangan, dan memafaatkan kelebihan.
3) Akuntabilitas Individual
Pembelajaran kooperatif merupakan pembelajaran kelompok
yang menuntut semua anggotanya untuk berkontribusi dalam
kelompok. Keberhasilan kelompok sangat bergantung pada kinerja
dan tanggung jawab setiap siswa. Setiap siswa dalam kelompok
harus menguasai materi secara maksimal, karena hasil belajar
kelompok didasari rata-rata nilai anggota kelompoknya. Kondisi
belajar tersebut dapat menumbuhkan akuntabilitas (tanggung jawab)
siswa kepada kelompoknya agar tercapai keberhasilan.
4) Keterampilan Menjalin Hubungan Antarpribadi
Setiap siswa di dalam kelompok haruslah menjalin komunikasi
dengan siswa lainnya. Hal ini akan memunculkan keterampilan
komunikasi, karena keberhasilan kelompok bergantung pada
kesediaan antar anggotanya untuk mendengarkan dan mengutarakan
pendapat. Selain keterampilan komunikasi, terbentuk pula
keterampilan sosial, karena antar anggota kelompok akan saling
mengkritik ide, mandiri, berbagi, tidak mendominasi, dan
bertoleransi.
5) Evaluasi Proses Kelompok
Kelompok belajar perlu dievalusai oleh pengajar. Evaluasi
yang dilakukan adalah proses kerja kelompok dan hasil kerja sama
agar kelak dapat tercipta kerja sama yang lebih efektif.

c. Ciri-ciri Pembelajaran Kooperatif


9

Pembelajaran kooperatif berbeda dengan pembelajaran


konvensional, adapun ciri-ciri dari pembelajaran kooperatif adalah:
1) Setiap siswa mempunyai peran dalam kelompok, mengemukakan
dan mengutarakan pendapat serta saling melengkapi.
2) Membuat keputusan secara bersama
3) Kelompok siswa terdiri dari siswa-siswa yang memiliki kemampuan
tinggi, sedang, dan rendah. Jika didalam kelas terdapat siswa yang
terdiri dari berbagai ras, suku, agama, budaya, dan jenis kelamin
yang berbeda, maka diupayakan agar dalam setiap kelompok pun
terdapat ras, suku, agama, dan jenis kelamin yang berbeda pula.
4) Penghargaan lebih berorientasi pada kelompok dibanding individu.
5) Guru mengembangkan keterampilan interpersonal kelompok dan
berperan sebagai fasilitator.

d. Tujuan Pembelajaran Kooperatif


Tujuan paling penting dari pembelajaran kooperatif adalah untuk
memberikan para siswa pengetahuan, konsep, kemamupan, dan
pemahaman yang mereka butuhkan agar dapat menjadi anggota
masyarakat yang bahagia dan memberikan kontribusi.5
Tiga konsep penting dalam pembelajaran kooperatif adalah
penghargaan tim, tanggung jawab individu, dan kesempatan sukses
yang sama. Kelompok akan mendapatkan penghargaan apabila
memenuhi atau melampaui kriteria yang ditentukan oleh pengajar.
Kesuksesan kelompok bergantung pada pembelajaran individual dari
semua anggota kelompok. Setiap siswa memberikan kontribusi bagi
kelompoknya, maka setiap siswa mempunyai kesempatan sukses yang
sama dalam kelompoknya.6
Sedangkan menurut Ibrahim dkk. Tujuan pembelajaran kooperatif
mencakup tiga hal, yaitu:
5
Robert E. Slavin, Cooperatif Learning Teori, Riset dan Praktik, (Bandung: Nusa Media,
2009), h. 33.
6
Ibid., h. 10.
10

1) Hasil belajar akademik, selain bertujuan meningkatkan


keterampilan individu diantara kelompoknya, pembelajaran
kooperatif juga bertujuan untuk memperbaiki hasil belajar dan
prestasi siswa. Siswa di dalam kelompok akan saling membantu
menyelesaikan masalah yang diberikan guru dalam suatu pelajaran.
2) Penerimaan terhadap perbedaan individu. Tujuan lain model
pembelajaran kooperatif adalah penerimaan secara luas dari orang-
orang yang berbeda berdasarkan ras, budaya, kelas sosial,
kemampuan, dan ketidakmampuannya. Pembelajaran kooperatif
memberi peluang bagi siswa dari berbagai latar belakang dan
kondisi untuk bekerja dengan saling bergantung pada tugas-tugas
akademik dan melalui struktur penghargaan kooperatif akan belajar
saling menghargai satu sama lain.
3) Pengembangan Keterampilan Sosial. Tujuan penting ketiga dalam
Model pembelajaran kooperatif ialah untuk mengajarkan pada siswa
keterampilan kerjasama dan kolaborasi . keterampilan ini amat
penting untuk di miliki oleh masyarakat dimana banyak kerja orang
dewasa sebagian besar di lakukan dalam organisasi yang saling
bergantung satu sama lain, dan dimana masyarakat secara budaya
semakin beragam.7

e. Sintak Pembelajaran Kooperatif


Tabel 2.1 Langkah-langkah Pembelajaran Kooperatif
Fase-fase Perilaku Guru
Fase 1 : Present goals Menjelaskan tujuan pembelajaran
and set dan mempersiapkan peserta didik
Menyampaikan tujuan siap belajar
dan mempersiapkan
peserta didik

7
Muslimin Ibrahim, dkk, Pembelajaran Kooperatif, (Surabaya: Universitas Negeri
Surabaya, 2000), h. 24
11

Fase 2 : Present Mempresentasikan informasi kepada


information peserta didik secara verbal
Menyajikan informasi
Fase 3 : Organize Memberikan penjelasan kepada
student into learning peserta didik tentang cara
teams pembentukan tim belajar dan
Mengorganisir peserta membantu kelompok melakukan
didik ke dalam tim-tim transisi yang efisien
belajar
Fase 4 : Assist team Membantu tim-tim belajar selama
work and study peserta didik mengerjakan tugasnya
Membantu kerja tim dan
belajar
Fase 5: Test on the Menguji pengetahuan peserta didik
materials mengenai berbagai materi
Mengevaluasi pembelajaran atau kelompok-
kelompok mempresentasikan hasil
kerjanya
Fase 6 : provide Mempersiapkan cara untuk
recognition mengakui usaha dan prestasi
Memberikan pengakuan individu maupun kelompok

f. Model Pembelajaran Student Teams Achievement Divisions (STAD)


Student Teams Achievement Divisions (STAD) merupakan model
pembelajaran kooperatif yang dikembangkan oleh Robert Slavin.
STAD bertujuan untuk memotivasi siswa agar dapat saling mendukung
dan membantu dalam memahami materi yang diajarkan. 8 Siswa yang
bergabung dalam kelompok akan saling berdiskusi mengenai materi
atau mengerjakan soal yang berkaitan dengan materi yang sedang

8
Robert, E. Slavin, [Link]., h. 12.
12

diajarkan. Anggota kelompok hanya boleh saling membantu saat


diskusi, bukan pada saat kuis atau penugasan individu.
Siswa bekerja sama setelah guru menyajikan materi. Siswa bekerja
sama untuk berdiskusi menjawab pertanyaan. Kelompok siswa harus
memastikan bahwa semua anggota kelompok belajar terutama agar
dapat mengerjakan kuis dengan baik. Kelompok siswa terdiri dari 4-5
orang yang ditentukan oleh guru dengan memperhatikan beberapa
faktor diantaranya, kemampuan belajar dan jenis kelamin. Dalam
setiap kelompok terdiri dari siswa berkemampuan tinggi dan
berkemampuan rendah serta orang laki-laki dan orang perempuan.
Secara umum STAD dapat dilaksanakan dengan langkah-langkah
sebagai berikut:
1) Kelas dibagi menjadi beberapa kelompok.
2) Tiap kelompok terdiri dari 4-6 orang yang bersifat heterogen, baik
dari segi kemampuan, jenis kelamin, ras, dan sebagainya.
3) Tiap kelompok diberikan tugas, berupa bahan ajar yang harus
dikerjakan.
4) Guru mendorong siswa untuk mengerjakan tugas dan berdiskusi
dengan teman kelompoknya.
5) Selama proses pembelajaran secara berkelompok, guru berperan
sebagai fasilitator dan motivator.
6) Guru menunjuk kelompok secara acak untuk mempresentasikan
hasil diskusi kepada kelompok lainnya.
7) Guru melakukan evaluasi secara individu.

2. Hakikat Hasil Belajar


a. Definisi Belajar
Menurut Purwanto “belajar merupakan proses dalam diri individu
yang berinteraksi dengan lingkungan untuk mendapatkan perubahan
dalam perilakunya”.9 Sedangkan menurut Winkel dalam Purwanto

9
Purwanto, Evaluasi Hasil Belajar, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2011), h. 38-39
13

belajar merupakan aktivitas mental yang berlangsung dalam interaksi


dengan lingkungan secara aktif sehingga menghasilkan perubahan-
perubahan baik sikap, keterampilan, pengetahuan dan pemahaman.10
Kegiatan belajar di sekolah adalah kegiatan yang didesain untuk
menambah pengetahuan dan pengalaman siswa yang baru. Dengan
belajar, terjadi proses di dalam diri siswa yang akan menghasilkan
perubahan perilaku. Pemahaman ‘belajar’ tidak terlepas dari teori-teori
yang melandasinya. Ada beberapa teori disiplin yang melandasi teori
belajar diantaranya, behaviorisme, kognitivisme, dan konstruktivisme.
Belajar menurut teori behaviorisme adalah proses interaksi antara
stimulus (berupa kegiatan) dengan respon (berupa hasil atau reaksi
yang muncul dapat berupa pikiran, tindakan, atau perasaan).
Pendukung aliran ini adalah Skinner, Watson, dan Pavlov. Sedangkan
teori belajar kognitif lebih menitik beratkan pada proses belajar
dibandingkan hasil belajar. Piaget meyakini bahwa belajar bukan
hanya hubungan stimulus dengan respon namun belajar merupakan
proses aktif untuk mengembangkan pengetahuan baru dan mengaitkan
dengan pengetahuan yang sudah ada. Teori belajar konstruktivisme
meyakini bahwa belajar adalah mengkonstruksi pengetahuan,
pemahaman, dan pengalaman mengenai situasi lingkungan hidup
seseorang.

b. Prinsip Umum Belajar


Prinsip umum belajar menurut teori-teori pembelajaran
behaviorisme, kognitivisme, dan konstruktivisme diantaranya sebagai
berikut:
1) Belajar merupakan bagian dari perkembangan, dengan belajar akan
terjadi perkembangan pada diri seseorang.
2) Belajar berlangsung sepanjang hayat (lifelong learning).

10
Ibid., h. 39.
14

3) Keberhasilan belajar dipengaruhi oleh faktor-faktor bawaan,


lingkungan, dan usaha individu.
4) Belajar mencakup semua aspek kehidupan, kognitif, psikomotorik,
afektif, dan keterampilan hidup (life skill).
5) Kegiatan belajar berlangsung disemua tempat dan waktu, tidak
hanya berlangsung di sekolah, tapi di lingkungan rumah dan
masyarakat.
6) Belajar berlangsung dalam berbagai situasi, formal, informal, dan
nonformal.
7) Belajar yang terencana menuntut motivasi yang tinggi, terkait
dengan tujuan yang akan dicapai.

c. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Belajar


Hasil belajar dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor diantaranya
sebagai berikut:
1) Faktor internal, berasal dari diri siswa itu sendiri, meliputi dua
aspek yaitu aspek fisiologis dan aspek psikologis.
a) Aspek fisiologis, berhubungan dengan keadaan jasmani dan rohani
siswa. Kondisi tubuh, dapat mempengaruhi hasil belajar. Siswa
yang sehat akan lebih mudah mengikuti pelajaran dibandingkan
siswa yang sakit. Siswa yang penglihatannya kurang, akan
kesulitan melihat papan tulis jika tempat duduknya dibagian
belakang. Oleh karena itu, guru juga harus memahami dan
memperhatikan kondisi siswa agar pengetahuan dapat diterima
secara merata.
b) Aspek psikologis, berhubungan dengan intelegensi, sikap, bakat,
minat, dan motivasi siswa. Intelegensi merupakan tingkat
kecerdasan. Sikap adalah gejala internal yang berdimensi afektif
berupa kecenderungan untuk merespon dengan cara yang relatif
terhadap suatu objek atau subjek baik secara positif maupun
negatif. Siswa dapat menunjukkan sikap negatif dengan membolos
15

sekolah, tidak mengerjakan PR atau tawuran. Dan sebaliknya sikap


positif juga dapat ditunjukkan dengan rajin belajar, menjadi juara
kelas, dan lain sebagainya. Seorang guru, dituntut untuk
menunjukkan sikap positif kepada siswa baik saat mengajar atau di
luar sekolah. Bakat (aptitude) siswa merupakan kemampuan
potensial tanpa melalui upaya latihan. Bakat juga mempengaruhi
keberhasilan siswa pada bidang-bidang tertentu. Misalnya seorang
siswa yang berbakat menulis akan lebih mudah mengarang dalam
pelajaran bahasa Indonesia. Minat (interest) adalah keinginan atau
ketertarikan yang besar terhadap sesuatu. Misalnya seorang siswa
menaruh minat pada mata pelajaran biologi, maka dia akan belajar
lebih giat dan hal itu tentu akan berpengaruh terhadap hasil
belajarnya. Motivasi siswa, merupakan dorongan untuk melakukan
sesuatu yang berasal dari dalam dan luar diri siswa. Motivasi
terbagi menjadi dua, motivasi intrinsik dan motivasi ekstrinsik.
Motivasi intrinsik lebih kuat mendorong siswa untuk melakukan
sesuatu.
2) Faktor eksternal, berasal dari luar/lingkungan, meliputi lingkungan
sosial dan nonsosial.
a) Lingkungan sosial, terdiri dari keluarga, guru, teman-teman dan
masyarakat. Interaksi yang terjadi dapat mempengaruhi aktivitas
belajar siswa. Dukungan dan motivasi dari orang tua akan
menimbulkan kegairahan dalam belajar. Tapi sebaliknya,
kekacauan dalam rumah tangga akan mempengaruhi motivasi
belajar siswa.
b) Lingkungan nonsosial, yang dimaksud lingkungan nonsosial
adalah alam dan benda mati di sekitar lingkungan sosial.
Contohnya, rumah, gedung sekolah (sarana dan prasarana),
keadaan cuaca dan lain sebagainya. Keadaan kelas yang kondusif,
16

bersih, dan nyaman, akan memberikan pengaruh positif terhadap


aktivitas belajar siswa.11

d. Definisi Hasil Belajar


Hasil belajar terdiri dari dua kata, “hasil dan belajar”. Hasil
(product) merujuk pada suatu perolehan akibat suatu proses yang
mengakibatkan berubahnya input secara fungsional. Belajar adalah
suatu upaya terjadinya perubahan perilaku pada diri seseorang. Secara
sederhana, belajar menimbulkan perubahan perilaku, dan hasil belajar
adalah perubahan perilaku yang terjadi. Menurut Winkel dalam
Purwanto “hasil belajar adalah perubahan yang mengakibatkan
manusia berubah dalam sikap dan tingkah lakunya.12 Hasil belajar
merupakan perolehan dari proses belajar yang menggambarkan
pengetahuan (kognitif), keterampilan (psikomotorik), dan sikap
(afektif) yang dinyatakan dalam bentuk tingkah laku yang dapat
diamati dan diukur. Pengukuran hasil belajar menggunakan
serangkaian instrumen evaluasi yang baik dan memenuhi syarat.
Menurut Gagne seperti dikutip Tengku Zahara Djaafar, hasil
belajar merupakan kemampuan yang dikategorikan menjadi lima jenis,
yaitu:
1) Informasi verbal (verbal information), yaitu kemampuan siswa
dalam berbahasa baik secara tertulis maupun lisan.
2) Keterampilan intelektual (intellectual skill), kemampuan siswa
untuk membedakan, mengabstraksikan suatu objek,
menghubungkan konsep, menemukan konsep dan memecahkan
masalah.
3) Strategi kognitif (cognitive strategies), kemampuan siswa untuk
mengatur dan mengarahkan aktivitas mentalnya untuk
memecahkan masalah.
11
Muhibin Syah, Psikologi Pendidikan Suatu Pendekatan Baru, (Bandung: Remaja
Rosdakarya, 1995), h.135.
12
Ibid., h. 45.
17

4) Sikap (attitude), kemampuan siswa untuk menolak atau menerima


suatu objek berdasarkan penilaian terhadap objek tersebut.
5) Keterampilan motorik (motoric skill), kemampuan siswa untuk
melakukan olah tubuh secara terpadu dan terkoordinasi.13

e. Ranah Hasil Belajar


Hasil belajar menurut taksonomi Bloom terbagi menjadi tiga ranah
yaitu, ranah kognitif, psikomotorik, dan afektif.
1) Ranah kognitif
Ranah kognitif berkaitan dengan intelektual, terdiri dari
tingkatan rendah ke tinggi; knowledge (C1), comprehension (C2),
application (C3), analysis (C4), yang termasuk dalam lower order
thinking, synthesis (C5) dan evaluation (C6) termasuk dalam
higher order thinking.14 Pada taksonomi Bloom yang telah direvisi
oleh Anderson dan Krathwol terdapat beberapa perubahan,
meliputi: remember (C1), understand (C2), apply (C3), analyze
(C4), evaluate (C5), dan create (C6). Perubahan terutama terdapat
di C6 yaitu create (mencipta) yaitu membuat suatu karya/produk
baru dari pengetahuan yang diperolehnya. Sedangkan pada dimensi
knowledge terdapat empat kategori yaitu,
a) Fakta (factual knowledge) meliputi hal-hal yang harus diketahui
oleh siswa atau berkaitan dengan pemecahan masalah.
b) Konsep (conceptual knowledge) meliputi skema, model, dan hal-
hal yang berhubungan dengan psikologi kognitif.
c) Prosedur (procedural knowledge), prosedur pengetahuan berupa
prosedur atau langkah-langkah melakukan sesuatu seperti
praktikum

13
Tengku Zahara Djaafar, Kontribusi Strategi Pembelajaran Terhadap Hasil Belajar
Siswa, (Jakarta: Universitas Negeri Padang, 2001), h. 82-83.
14
Suyono dan Hariyanto, Belajar dan Pembelajaran: Teori dan Konsep Dasar,
(Bandung: Remaja Rosda Karya, 2011), h. 167-168.
18

d) Metakognitif (metacognitive knowledge), yaitu pengetahuan


tentang pemahaman umum.15
2) Ranah afektif
Ranah afektif berkenaan dengan sikap dan nilai, yang meliputi:
a) penerimaan (receiving), meliputi kesadaran, kemauan menerima
nilai, dan perhatian yang terkendali terhadap stimulus tertentu.16
b) Pemberian respon (responding), meliputi sikap merespon sistem
dan berperan secara aktif, kepuasan, dan kemauan menanggapi,
misalnya bersikap jujur.
c) menilai (valuing), berkaitan dengan penerimaan terhadap suatu
nilai, penghargaan, dan memberi komitmen terhadap nilai
tertentu. Misalnya, jika seseorang mendapat sikap jujur, maka ia
akan melakukan kejujuran juga.17
d) organisasi (organization), berkaitan dengan kemampuan
menghimpun dan mempersatukan nilai yang berbeda,
menyatukan pertentangan, dan memilah yang akan digunakan.
e) karakterisasi (characterization), meliputi karakteristik atau
perilaku internal seseorang yang terorganisasi secara konsisten
dan akan menentukan sikap dan perilaku seseorang dalam
kesehariannya.
3) Ranah psikomotorik
Berkaitan dengan keterampilan fisik/ kemampuan dalam
bertindak. Menurut Bloom dan kawan-kawan aspek pada ranah
psikomotorik terdiri dari,
a) Persepsi (perception), meliputi kemampuan mendiskriminasi
antara dua rangsangan atau lebih artinya menyadari adanya
stimulus, menyeleksi stimulus, dan membedakan stimulus sesuai
ciri khasnya.
15
Evelin Siregar dan Hartini Nara, Teori Belajar dan Pembelajaran, (Bogor: Ghalia
Indonesia, 2010), h. 9.
16
Zulfiani, Tonih Feronika, dan Kinkin Suartini, Strategi Pembelajaran Sains, (Jakarta:
Lembaga Penelitian UIN Jakarta, 2009), h. 67.
17
Evelin Siregar dan Hartini Nara, op. cit., 11
19

b) Kesiapan (set), berkaitan dengan kemampuan untuk memulai


suatu gerakan yang dinyatakan dalam bentuk kesiapan jasmani
dan mental.
c) Gerakan terbimbing (guided response), meliputi kemampuan
melakukan serangkaian gerak dengan anggota tubuh berdasarkan
contoh. Misalnya, siswa dapat mengukur derajat lingkaran
dengan busur sesuai dengan apa yang dicontohkan guru.
d) Gerakan yang terbiasa (mechanical response), kemampuan
melakukan gerak dengan terbiasa, tanpa diberikan contoh atau
bimbingan.
e) Gerakan yang kompleks (complex response), meliputi
kemampuan untuk melakukan keterampilan yang terdiri dari
berbagai komponen secara tepat, efisien, dan
menggabungkannya menjadi suatu keseluruhan gerakan yang
teratur.
f) Penyesuaian pola gerakan (adjustment), berkaitan dengan
kemampuan menyesuaikan pola gerakan sesuai keadaan atau
suatu taraf keterampilan yang mencapai kemahiran.
g) Kreativitas (creativity) berkaitan dengan kemampuan
menghasilkan pola gerakan baru yang dilakukan atas prakarsa
atau inisiatif pribadi.18
Hasil belajar dapat ditentukan oleh berbagai hal, diantaranya
penggunaan strategi atau pendekatan yang digunakan dalam proses
pembelajaran.

B. Hasil Penelitian yang Relevan

18
Sudaryono, Dasar-dasar Evaluasi Pembelajaran, (Yogyakarta: Graha Ilmu, 2012), h.
48-49.
20

Hasil penelitian mengenai penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe


STAD telah dilakukan oleh beberapa peneliti, diantaranya:
Penelitian yang dilakukan oleh Idha Novianti yang berjudul
”Experimentation Cooperative Learning Student Team Achievement Division
(STAD) Type Viewed From Learning Motivation”. Teknik analisis data dalam
penelitian ini menggunakan two-way ANOVA dengan sel yang tidak sama,
analisis prasyarat menggunakan uji Liliefor untuk uji normalitas, Berdasarkan
analisis data yang dilakukan terdapat perbedaan Hasilnya, model pembelajaran
STAD memberikan hasil belajar yang lebih baik dibandingkan dengan model
pembelajaran konvensional pada motivasi tinggi, sedang, atau rendah.19
Penelitian yang dilakukan oleh Mulyati, Sri Anitah, dan Sunardi yang
berjudul “Pengaruh Penggunaan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD
dan Tipe Jigsaw Terhadap Prestasi Belajar Ilmu Pengetahuan Sosial Ditinjau
dari Motivasi Siswa”. Dalam penelitian ini membuktikan bahwa pembelajaran
dengan Model STAD pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial di sekolah
dasar lebih efektif dibandingkan dengan pembelajaran dengan Model Jigsaw.
Hal ini dapat dilihat dari rata-rata nilai siswa jika menggunakan Model STAD
sebesar 81,69, dan jika menggunakan Model Jigsaw sebesar 73,25.20
Penelitian yang dilakukan oleh Haroan Siregar yang berjudul “Penerapan
Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD untuk Meningkatkan Aktivitas
dan Hasil Belajar Siswa Kelas X-1 SMA Negeri 1 Tanjung Pura pada
Pelajaran Kimia”. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aktivitas siswa dalam
proses belajar mengajar pada siklus I dalam penilaian masih rendah mencapai
34%; sedang mencapai 37,77% dan tinggi mencapai 39, 67%. Pada siklus II
aktivitas siswa dalam penilaian rendah mencapai 16,31%, sedang mencapai
36,84% dan tinggi mencapai 46, 84%. Hasil belajar siswa pada siklus I nilai
rata-rata siswa sebesar 71,75 dengan jumlah siswa yang tuntas sebanyak 20
19
Idha Novianty, ”Experimentation Cooperative Learning Student Team Achievement
Division (STAD) Type Viewed From Learning Motivation”, Asian Journal Education and e-
Learning, 1, 2013, pp. 272-276.
20
Mulyati, Sri Anitah, dan Sunardi, “Pengaruh Penggunaan Model Pembelajaran
Kooperatif Tipe STAD dan Tipe Jigsaw Terhadap Prestasi Belajar Ilmu Pengetahuan Sosial
Ditinjau dari Motivasi Siswa”, Jurnal Teknologi Pendidikan dan Pembelajaran, 1, 2013, h. 336-
346.
21

orang (50%) dari total keseluruhan 40 siswa. pada siklus II nilai rata-rata
siswa sebesar 79,22 dengan jumlah siswa yang tuntas sebanyak 32 orang
(80%). Hal ini menunjukkan bahwa model pembelajaran kooperatif tipe
STAD dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa.21

C. Hipotesis Tindakan
Berdasarkan deskripsi teoritis dan kerangka berpikir maka rumusan
hipotesis penelitian ini adalah penggunaan model pembelajaran kooperatif
tipe STAD dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada konsep animalia.

21
Haroan Siregar, “Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD untuk
Meningkatkan Aktivitas dan Hasil Belajar Siswa Kelas X-1 SMA Negeri 1 Tanjung Pura pada
Pelajaran Kimia”, Jurnal Penelitian Tindakan Kelas, 2, 2013, h. 40-52.

Anda mungkin juga menyukai