Di sebuah kota yang tidak terlalu besar namun juga tidak bisa
disebut kecil, hiduplah seorang pria bernama Arka. Kota itu
dipenuhi dengan suara-suara yang tidak pernah benar-benar
berhenti: deru kendaraan di pagi hari, percakapan samar di
warung kopi, suara azan yang menggema dari masjid tua di
sudut jalan, dan gemerisik daun yang jatuh di sore hari. Kota
itu seperti bernapas, dan setiap orang di dalamnya adalah
bagian dari napas tersebut, termasuk Arka.
Arka bukanlah orang yang istimewa dalam arti yang biasa
dipahami orang. Ia tidak kaya, tidak terkenal, dan tidak pula
memiliki bakat yang membuatnya menonjol di tengah
keramaian. Namun, seperti kebanyakan manusia, ia memiliki
sesuatu yang jauh lebih kompleks daripada sekadar label-
label itu: ia memiliki pikiran yang tak pernah berhenti
bertanya, hati yang sering kali bimbang, dan ingatan yang
terkadang terasa lebih berat daripada kenyataan.
Sejak kecil, Arka sering merasa bahwa waktu berjalan
dengan cara yang aneh. Ketika ia masih duduk di bangku
sekolah dasar, satu hari terasa seperti satu minggu.
Menunggu bel pulang berbunyi adalah perjuangan yang
melelahkan, dan setiap jam pelajaran terasa seperti keabadian
kecil yang harus ia lalui. Namun, seiring bertambahnya usia,
waktu mulai berperilaku berbeda. Hari-hari berlalu tanpa
terasa, minggu-minggu meluncur begitu saja, dan tiba-tiba ia
mendapati dirinya berdiri di ambang usia dewasa tanpa
benar-benar mengerti bagaimana ia sampai di sana.
Suatu sore, saat matahari mulai turun dan langit berubah
menjadi perpaduan warna jingga dan ungu, Arka duduk di
bangku taman yang sudah agak usang. Ia sering datang ke
tempat itu ketika pikirannya terasa terlalu penuh. Taman itu
tidak terlalu ramai, hanya beberapa anak kecil yang berlarian
dan sepasang lansia yang berjalan perlahan sambil
berbincang.
Arka memandangi langit, lalu tanpa sadar bertanya dalam
hati, “Apa sebenarnya yang sedang kita kejar?”
Pertanyaan itu bukanlah hal baru baginya. Ia sudah sering
memikirkannya, terutama ketika melihat orang-orang di
sekitarnya tampak begitu sibuk. Ada yang mengejar karier,
ada yang mengejar uang, ada yang mengejar pengakuan, dan
ada juga yang hanya mencoba bertahan hidup dari hari ke
hari. Namun, di balik semua itu, Arka merasa ada sesuatu
yang sering kali terlewat: makna.
Ia teringat pada ayahnya, seorang pria sederhana yang
bekerja sebagai pegawai kantor selama lebih dari tiga puluh
tahun. Ayahnya selalu bangun pagi, berangkat sebelum
matahari benar-benar tinggi, dan pulang saat hari sudah
gelap. Hidupnya tampak seperti rutinitas yang tidak pernah
berubah. Namun, setiap malam, ayahnya selalu
menyempatkan diri untuk duduk bersama keluarga, bercerita
tentang hal-hal kecil, dan tertawa dengan tulus.
Suatu hari, ketika Arka masih remaja, ia pernah bertanya
kepada ayahnya, “Ayah tidak bosan melakukan hal yang
sama setiap hari?”
Ayahnya tersenyum, lalu menjawab dengan tenang, “Bosan
itu pasti ada. Tapi hidup bukan soal menghindari bosan.
Hidup itu soal menemukan alasan untuk tetap berjalan,
meskipun kadang terasa monoton.”
Jawaban itu dulu terasa sederhana, bahkan mungkin terlalu
sederhana. Namun, semakin Arka bertambah dewasa,
semakin ia menyadari bahwa kata-kata itu menyimpan
kedalaman yang tidak mudah dipahami.
Di taman itu, Arka menghela napas panjang. Ia merasa
seperti berada di persimpangan yang tidak jelas. Ia sudah
bekerja selama beberapa tahun, memiliki penghasilan yang
cukup untuk hidup sederhana, dan tidak memiliki masalah
besar yang harus dihadapi. Namun, justru karena semuanya
“cukup baik”, ia merasa ada sesuatu yang hilang.
“Apakah ini saja?” pikirnya. “Apakah hidup memang hanya
seperti ini?”
Pertanyaan itu menggantung di benaknya seperti awan yang
tidak kunjung bergerak.
Di sisi lain kota, seorang wanita bernama Lila juga sedang
bergulat dengan pikirannya sendiri. Lila adalah seorang
seniman yang bekerja sebagai ilustrator lepas. Hidupnya
tidak terikat pada jam kantor seperti kebanyakan orang,
namun justru karena itu, ia sering merasa terombang-ambing.
Ia mencintai pekerjaannya. Menggambar adalah cara baginya
untuk memahami dunia. Setiap garis yang ia buat, setiap
warna yang ia pilih, adalah bagian dari dirinya. Namun, ada
kalanya ia merasa bahwa passion saja tidak cukup. Tagihan
tetap harus dibayar, kebutuhan tetap harus dipenuhi, dan
dunia tidak selalu menghargai seni seperti yang ia harapkan.
Suatu malam, Lila duduk di depan meja kerjanya yang penuh
dengan kertas dan alat gambar. Ia menatap sebuah ilustrasi
yang belum selesai. Gambar itu seharusnya menggambarkan
kebahagiaan, namun entah mengapa, ia merasa ada kesedihan
yang tersembunyi di dalamnya.
“Mungkin karena aku sendiri belum benar-benar bahagia,”
gumamnya.
Ia teringat pada masa kecilnya, ketika menggambar adalah
sesuatu yang ia lakukan tanpa beban. Saat itu, ia tidak
memikirkan apakah gambarnya bagus atau tidak, apakah
orang lain akan menyukainya atau tidak. Ia hanya
menggambar karena ia ingin.
Namun, seiring waktu, hal itu berubah. Sekarang, setiap
karya terasa seperti harus memenuhi ekspektasi—baik dari
klien, dari orang lain, maupun dari dirinya sendiri.
Lila menutup matanya sejenak. Ia mencoba mengingat
kembali perasaan sederhana itu, perasaan ketika ia
menggambar hanya untuk dirinya sendiri. Namun, kenangan
itu terasa seperti sesuatu yang jauh, hampir tidak bisa
disentuh.
Kembali ke taman, Arka masih duduk di bangku yang sama.
Hari mulai gelap, dan lampu-lampu taman mulai menyala. Ia
melihat seorang anak kecil yang terjatuh saat berlari, lalu
bangkit kembali dengan cepat tanpa menangis. Anak itu
kemudian kembali berlari, seolah-olah jatuh tadi tidak pernah
terjadi.
Arka tersenyum kecil.
“Kenapa kita tidak bisa seperti itu lagi?” pikirnya.
Seiring bertambahnya usia, manusia tampaknya menjadi
semakin takut untuk jatuh. Setiap kesalahan terasa lebih
berat, setiap kegagalan terasa lebih memalukan, dan setiap
risiko terasa lebih menakutkan. Padahal, ketika masih kecil,
jatuh hanyalah bagian dari proses.
Mungkin, pikir Arka, masalahnya bukan pada dunia yang
berubah, tetapi pada cara manusia melihatnya.
Hari-hari berikutnya berlalu seperti biasa. Arka kembali ke
rutinitasnya, begitu juga dengan Lila. Namun, sesuatu telah
berubah, meskipun mereka belum sepenuhnya menyadarinya.
Suatu kebetulan terjadi beberapa minggu kemudian. Arka dan
Lila bertemu di sebuah kafe kecil yang terletak di sudut kota.
Kafe itu tidak terlalu ramai, dengan dekorasi sederhana dan
musik yang diputar pelan di latar belakang.
Arka datang untuk sekadar minum kopi dan menghabiskan
waktu, sementara Lila datang untuk mencari suasana baru
untuk menggambar.
Mereka duduk di meja yang bersebelahan tanpa saling
mengenal. Namun, karena suatu hal kecil—sebuah buku yang
terjatuh dari meja Lila—percakapan pun dimulai.
“Maaf,” kata Lila sambil mengambil bukunya.
“Tidak apa-apa,” jawab Arka.
Keheningan sejenak terjadi, namun kemudian Arka berkata,
“Buku apa itu?”
Lila melihat buku di tangannya, lalu tersenyum. “Kumpulan
esai tentang kehidupan. Agak berat, tapi menarik.”
Arka mengangguk. “Kedengarannya seperti sesuatu yang
membuat kita berpikir terlalu banyak.”
Lila tertawa kecil. “Mungkin. Tapi kadang kita memang
perlu berpikir terlalu banyak, supaya kita sadar bahwa kita
tidak tahu apa-apa.”
Percakapan itu berlanjut. Mereka berbicara tentang banyak
hal—tentang pekerjaan, tentang mimpi, tentang ketakutan,
dan tentang harapan. Tanpa disadari, waktu berlalu begitu
cepat.
Arka merasa seperti menemukan seseorang yang memahami
apa yang selama ini ia rasakan, sementara Lila merasa seperti
menemukan seseorang yang bisa mendengarkan tanpa
menghakimi.
“Menurutmu, apa arti hidup?” tanya Arka tiba-tiba.
Lila terdiam sejenak. Ia tidak langsung menjawab.
“Aku tidak tahu,” katanya akhirnya. “Dan mungkin kita
memang tidak perlu tahu secara pasti.”
Arka mengernyit. “Maksudnya?”
Lila menatap ke luar jendela, lalu berkata, “Mungkin hidup
bukan tentang menemukan satu jawaban besar. Mungkin
hidup itu tentang mengumpulkan banyak jawaban kecil, yang
masing-masing hanya masuk akal pada waktunya.”
Kata-kata itu membuat Arka berpikir.
Sejak pertemuan itu, Arka dan Lila mulai sering bertemu.
Mereka tidak selalu membicarakan hal-hal besar. Kadang
mereka hanya duduk bersama dalam diam, menikmati kopi
dan suasana.
Namun, dari kebersamaan itu, mereka mulai melihat hidup
dengan cara yang sedikit berbeda.
Arka mulai menyadari bahwa mungkin ia tidak perlu
memiliki semua jawaban sekarang. Bahwa kebingungan
bukanlah sesuatu yang harus dihindari, melainkan sesuatu
yang bisa diterima sebagai bagian dari perjalanan.
Lila, di sisi lain, mulai mencoba menggambar tanpa terlalu
memikirkan hasil. Ia mulai kembali pada hal-hal sederhana
yang dulu membuatnya mencintai seni.
Perubahan itu tidak terjadi secara drastis. Tidak ada momen
besar yang tiba-tiba mengubah segalanya. Namun, sedikit
demi sedikit, mereka mulai merasa lebih ringan.
Suatu hari, mereka kembali ke taman tempat Arka biasa
duduk.
“Ini tempat favoritmu?” tanya Lila.
Arka mengangguk. “Di sini aku sering merasa lebih tenang.”
Mereka duduk di bangku yang sama. Matahari mulai
terbenam, menciptakan pemandangan yang indah.
“Aku dulu sering berpikir bahwa aku harus menemukan
tujuan besar dalam hidup,” kata Arka. “Sesuatu yang
membuat semuanya terasa berarti.”
“Dan sekarang?” tanya Lila.
Arka tersenyum kecil. “Sekarang aku mulai berpikir bahwa
mungkin hidup itu sendiri sudah cukup berarti, tanpa harus
dipaksakan menjadi sesuatu yang besar.”
Lila mengangguk. “Aku suka itu.”
Mereka terdiam sejenak, menikmati suasana.
“Menurutmu,” kata Lila kemudian, “apa hal paling sederhana
yang bisa membuat seseorang bahagia?”
Arka berpikir sejenak. “Mungkin… merasa bahwa dirinya
cukup.”
Lila tersenyum.
Dan di saat itu, tanpa mereka sadari, mereka telah
menemukan sesuatu yang selama ini mereka cari—bukan
jawaban yang pasti, bukan makna yang besar, tetapi sebuah
pemahaman sederhana bahwa hidup tidak harus selalu
dimengerti untuk bisa dijalani.
Hari-hari terus berlalu. Kota itu tetap bernapas seperti biasa.
Orang-orang tetap sibuk dengan urusan masing-masing.
Namun, bagi Arka dan Lila, ada sesuatu yang telah berubah.
Mereka tidak lagi merasa harus mengejar sesuatu yang tidak
jelas. Mereka tidak lagi merasa bahwa hidup harus selalu
memiliki arah yang pasti.
Sebaliknya, mereka mulai belajar untuk hadir—benar-benar
hadir—di setiap momen yang mereka jalani.
Dan mungkin, pada akhirnya, itulah yang paling penting.
Bukan tentang seberapa jauh kita melangkah, atau seberapa
tinggi kita mencapai sesuatu, tetapi tentang bagaimana kita
menjalani setiap langkah itu.
Karena waktu akan terus berjalan, dengan atau tanpa kita
sadari. Dan satu-satunya hal yang benar-benar kita miliki
adalah saat ini.
Saat ini, yang sering kali kita abaikan.
Saat ini, yang sebenarnya adalah hidup itu sendiri.