Tantangan Pengajaran Bahasa Indonesia di Era
Digital
Oleh: Muhammad Salihin
Bahasa Indonesia memiliki peran penting sebagai alat komunikasi nasional dan identitas
budaya bangsa. Dalam era globalisasi dan perkembangan teknologi digital yang pesat, tantangan
dalam pengajaran Bahasa Indonesia semakin kompleks. Teknologi telah mengubah pola belajar
siswa dan cara pengajaran, namun tidak selalu memberikan dampak positif.
Salah satu tantangan utama adalah distraksi teknologi, di mana penggunaan gadget,
media sosial, dan konten digital sering kali mengalihkan perhatian siswa dari pembelajaran.
Selain itu, era digital juga ditandai dengan menurunnya minat baca. Siswa cenderung lebih
menyukai konten singkat dan visual yang berlimpah di media sosial daripada membaca buku
atau teks panjang, yang berakibat pada rendahnya kemampuan literasi.
Di sisi lain, tidak semua guru siap menghadapi perubahan ini. Keterbatasan dalam
menguasai teknologi pendidikan membuat proses pembelajaran Bahasa Indonesia terasa kurang
menarik dan kurang relevan dengan kebutuhan zaman. Situasi ini mengancam efektivitas
pengajaran dan pembelajaran Bahasa Indonesia di sekolah
Sebagai upaya untuk menghadapi tantangan tersebut, diperlukan strategi inovatif yang
memanfaatkan teknologi sebagai alat bantu pembelajaran, meningkatkan minat baca siswa, serta
memberdayakan guru dalam menggunakan media digital. Strategi ini diharapkan mampu
menjaga kualitas pembelajaran Bahasa Indonesia sekaligus menjawab tantangan era digital.
Tujuan Penulisan
1. Mengetahui hambatan utama dalam pembelajaran Bahasa Indonesia di era digital.
2. Mengetahui dampak distraksi teknologi dan kurangnya minat baca terhadap proses belajar
Bahasa Indonesia.
3. Mengetahui strategi yang efektif untuk mengatasi hambatan dalam pengajaran Bahasa
Indonesia di era digital.
A. Hambatan Utama dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia di Era Digital
1. Terlalu sering penggunaan bahasa asing
Penggunaan bahasa asing yang berlebihan Penggunaan bahasa asing yang berlebihan
Berbagai risiko yang diakibatkan oleh penggunaan bahasa asing yang berlebihan dalam
komunikasi digital dan kehidupan sehari-hari. Penggunaan bahasa Indonesia di kalangan
generasi muda semakin berkurang.
Pandangan bahwa menggunakan bahasa asing lebih keren dan cerdas dibandingkan
menggunakan bahasa Indonesia muncul karena budaya dan bahasa asing yang masuk ke
dalam komunikasi tidak tersaring dan diminimalkan dengan baik. Ketika bahasa asing
semakin banyak digunakan dalam komunikasi sehari-hari, misinformasi pun merajalela.
Sebagian masyarakat Indonesia lebih tertarik menggunakan bahasa asing dibandingkan
membangun Indonesia.
2. Karakter Peserta Didik
Kepribadian peserta didik Demikian pula peserta didik masa kini adalah. Kami memiliki
beragam kebutuhan berdasarkan kebutuhan nyata. Oleh karena itu, mempelajari C
menjadi sebuah tantangan yang luar biasa. Solusi Melestarikan Bahasa Indonesia di Era
Digital Terlepas dari segala kesulitan yang ada, masih ada beberapa cara untuk mencegah
penggunaan bahasa Indonesia sebagai bahasa asing dalam komunikasi digital.
Memberikan pembelajaran bahasa Indonesia yang menarik dan mengajak generasi muda.
Penggunaan bahasa Indonesia yang tepat dan benar dalam kehidupan sehari-hari
khususnya dalam komunikasi tatap muka dan digital. Mendorong penyebaran bahasa
Indonesia tidak hanya di kalangan masyarakat lokal tetapi juga di kalangan orang asing
yang tinggal di Indonesia, agar semakin banyak masyarakat yang berbahasa Indonesia.
Terutama dengan menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar melalui media
massa dan aplikasi yang sering digunakan oleh banyak generasi muda dan masyarakat
umum. 1
3. Penggunaan Singkatan dan Bahasa Gaul
Pada platform media sosial seperti Twitter, Instagram, dan WhatsApp, penggunaan
singkatan dan bahasa gaul telah menjadi tren yang populer. Hal ini dapat mempengaruhi
pemahaman dan penggunaan Bahasa Indonesia yang baik dan benar. Penggunaan
singkatan yang terlalu berlebihan dapat menyulitkan orang lain dalam memahami pesan
yang disampaikan. 2
4. Kesalahan berbahasa
Dalam era digital menghadapi berbagai tantangan yang melibatkan penggunaan
singkatan, emoji, perubahan kebijakan media sosial, multilingualisme, dan komunikasi
lintas budaya. Kesalahan berbahasa yang muncul akibat tantangan-tantangan tersebut
dapat memberikan dampak negatif terhadap kualitas komunikasi di media sosial3
1
Manurung, Anastasya M., et al. “Pentingnya Pemertahanan Bahasa Indonesia Di Era Digital The
Importance of Maintaining the Indonesian Language in the Digital Era.” Jurnal Intelek Insan Cendikia 1.4 (2024):
456-461
2
Nuraini Kabeakan. “Problematika Bahasa Indonesia dalam Era Digital: Tantangan dan Solusinya.”
Kompasiana, 2024. [Link]
bahasa-indonesia-dalam-era-digital-tantangan-dan-solusinya.
3
Nababan, Wiwik Romauli, et al. “Tantangan Bahasa di Era Digital Terhadap Kesalahan Berbahasa Dalam
Komunikasi Media Sosial.” Jurnal Bahasa Daerah Indonesia 1.3 (2024).
B. Dampak distraksi teknologi dan kurangnya minat baca terhadap proses belajar Bahasa
Indonesia.
Distraksi teknologi dan kurangnya minat baca memiliki dampak signifikan terhadap proses
belajar Bahasa Indonesia. Berikut adalah beberapa dampaknya:
1. Penurunan Kemampuan Membaca dan Menulis
a. Distraksi Teknologi: Penggunaan smartphone yang intens dapat mengurangi minat
membaca buku di perpustakaan dan menurunkan konsentrasi pada materi bacaan,
yang berdampak negatif pada kemampuan membaca dan menulis siswa.
b. Kurangnya Minat Baca: Rendahnya minat baca di kalangan remaja dipengaruhi oleh
kurangnya dorongan dari diri sendiri dan rendahnya perhatian terhadap buku serta
manfaat membaca. 4
2. Pemahaman Bahasa yang Dangkal
Ketergantungan pada teknologi, seperti penggunaan gawai, dapat menyebabkan
rendahnya minat baca siswa, yang berimplikasi pada pemahaman bahasa yang kurang
mendalam.5
3. Penurunan Kemampuan Menulis Kritis dan Kreatif
Distraksi digital dapat menghambat motivasi belajar mahasiswa, mengganggu
fokus dan konsentrasi, yang pada akhirnya mempengaruhi kemampuan menulis kritis dan
kreatif.6
4. Kesulitan Memahami Budaya Bahasa Indonesia
Minimnya budaya literasi pada siswa di era digital dapat membatasi akses
pendidikan dan pemahaman terhadap nilai-nilai budaya yang terkandung dalam bahasa,
sehingga menghambat pemahaman budaya Bahasa Indonesia.
5. Kualitas Belajar yang Menurun.7
Kemajuan teknologi internet memiliki dampak signifikan terhadap rendahnya
minat belajar siswa, yang berimplikasi pada penurunan kualitas belajar secara
keseluruhan.8
C. strategi yang efektif untuk mengatasi hambatan dalam pengajaran Bahasa Indonesia di
era digital
1. Manfaatkan teknologi
Gunakan teknologi sebagai alat untuk meningkatkan interaktivitas, relevansi, dan
fleksibilitas pembelajaran. Misalnya, dengan menggunakan konferensi video seperti
Zoom dan Microsoft Teams, papan tulis virtual, dan kuis online.
2. Gabungkan pendekatan tradisional dan teknologi
4
Heriady, anhar, “DAMPAK INTENSITAS PENGGUNAAN SMARTPHONE TERHADAP MINAT BACA PESERTA
DIDIK.” Jurnal Risalah Addariya. (2023).
5
Oktalinda, Wahyu Rani, and Yona Primadesi. “HUBUNGAN PENGGUNAAN GAWAI TERHADAP MINAT
BACA SISWA SMA NEGERI 2 SOLOK SELATAN.” Jurnal Review Pendidikan dan Pengajaran (JRPP) 7.2 (2024): 5300-
5308.
6
Lestari, Sri, Yunisca Nurmalisa, and Ana Mentari. “Pengaruh Literasi Digital dan Minat Baca Terhadap
Motivasi Belajar Generasi Z.” HEMAT: Journal of Humanities Education Management Accounting and Transportation
1.1 (2024): 22-30.
7
"Minimnya Budaya Literasi pada Siswa di Era Digital, Ini 5 Dampak Negatifnya." Universitas
Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida), 29 April 2024. Diakses dari [Link]
budaya-literasi/.
8
Hanum, Juwita, Azura Afiyah Arief Silalahi, and Gilang Mahardhika. “Pengaruh Perkembangan Teknologi
Internet Terhadap Minat Belajar Siswa.” Tarbiyah: Jurnal Ilmu Pendidikan dan Pengajaran 2.1 (2023): 129-133.
Menggabungkan pendekatan tradisional dengan inovasi teknologi dapat membuat
pembelajaran lebih menarik, efektif, dan inklusif.9
3. Pendekatan Pembelajaran Inovatif
Mengadopsi metode seperti blended learning (kombinasi pembelajaran tatap
muka dan daring), project-based learning (proyek berbasis pembelajaran), dan flipped
classroom (materi dipelajari di rumah, diskusi di kelas) dapat meningkatkan keterlibatan
siswa.
4. Pengembangan Literasi Digital
Membekali siswa dengan keterampilan literasi digital, seperti penelusuran
informasi yang kritis dan produksi konten digital, penting untuk mempersiapkan mereka
menghadapi tantangan di era digital.
5. Pemanfaatan Media Sosial Edukatif
Platform seperti Edmodo atau Google Classroom dapat digunakan untuk berbagi
materi dan berinteraksi dengan siswa di luar kelas, memperkuat pembelajaran dan
komunikasi. 10
6. Peningkatan Motivasi dan Keterlibatan Siswa
Menggunakan konten multimedia yang menarik dan relevan dapat memotivasi
siswa dan membuat pembelajaran lebih menyenangkan.11
Daftar Pustaka
Dea Kartika. “Strategi Pembelajaran Bahasa Indonesia yang Efektif dalam Era Digital.”
Kompasiana, 2024. Diakses dari
[Link]
pembelajaran-bahasa-indonesia-yang-efektif-dalam-era-digital.
Hanum, Juwita, Azura Afiyah Arief Silalahi, dan Gilang Mahardhika. “Pengaruh Perkembangan
Teknologi Internet Terhadap Minat Belajar Siswa.” Tarbiyah: Jurnal Ilmu Pendidikan dan
Pengajaran 2.1 (2023): 129-133.
Heriady, Anhar. “DAMPAK INTENSITAS PENGGUNAAN SMARTPHONE TERHADAP
MINAT BACA PESERTA DIDIK.” Jurnal Risalah Addariya. (2023).
Kartika, Dea. “Strategi Pembelajaran Bahasa Indonesia yang Efektif dalam Era Digital.”
Kompasiana, 2024. Diakses dari [Link]
9
Dea Kartika. “Strategi Pembelajaran Bahasa Indonesia yang Efektif dalam Era Digital.” Kompasiana, 2024.
Diakses dari [Link]
10
Strategi Pembelajaran Bahasa dan Sastra di Era Digital.” Program Studi S2 Pendidikan Bahasa dan Sastra,
Universitas Negeri Surabaya (Unesa), 2024. Diakses dari
[Link]
11
Dea Kartika. “Strategi Pembelajaran Bahasa Indonesia yang Efektif dalam Era Digital.” Kompasiana, 2024.
Diakses dari [Link]
bahasa-indonesia-yang-efektif-dalam-era-digital.
Kabeakan, Nuraini. “Problematika Bahasa Indonesia dalam Era Digital: Tantangan dan
Solusinya.” Kompasiana, 2024. Diakses dari
[Link]
problematika-bahasa-indonesia-dalam-era-digital-tantangan-dan-solusinya.
Lestari, Sri, Yunisca Nurmalisa, dan Ana Mentari. “Pengaruh Literasi Digital dan Minat Baca
Terhadap Motivasi Belajar Generasi Z.” HEMAT: Journal of Humanities Education
Management Accounting and Transportation 1.1 (2024): 22-30.
Manurung, Anastasya M., et al. “Pentingnya Pemertahanan Bahasa Indonesia Di Era Digital The
Importance of Maintaining the Indonesian Language in the Digital Era.” Jurnal Intelek
Insan Cendikia 1.4 (2024): 456-461.
Nababan, Wiwik Romauli, et al. “Tantangan Bahasa di Era Digital Terhadap Kesalahan
Berbahasa Dalam Komunikasi Media Sosial.” Jurnal Bahasa Daerah Indonesia 1.3
(2024).
Oktalinda, Wahyu Rani, dan Yona Primadesi. “HUBUNGAN PENGGUNAAN GAWAI
TERHADAP MINAT BACA SISWA SMA NEGERI 2 SOLOK SELATAN.” Jurnal
Review Pendidikan dan Pengajaran (JRPP) 7.2 (2024): 5300-5308.
“Minimnya Budaya Literasi pada Siswa di Era Digital, Ini 5 Dampak Negatifnya.” Universitas
Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida), 29 April 2024. Diakses dari [Link]
dampak-negatif-darurat-budaya-literasi/.
“Strategi Pembelajaran Bahasa dan Sastra di Era Digital.” Program Studi S2 Pendidikan Bahasa
dan Sastra, Universitas Negeri Surabaya (Unesa), 2024. Diakses dari
[Link]
sastra-di-era-digital.
Riwayat Penulis
Muhammad Salihin, lahir di amuntai 1 Desember 2003, penulis memulai Pendidikan nya di SDN
Murung Padang dan lulus pada tahun 2014, kemudian melanjutkan ke Ponpes Nurul Muttaqien
hingga lulus tahun 2017, pada jenjang menengah penullis menempuh Pendidikan di Ponpes
Nurul Muttaqien dan lulus tahun 2020/2021, sekarang lanjut berkuliah di STIQ Rakha Amuntai
hingga saat ini.