PENGENALAN ALAT UKUR PANJANG (A0)
AURA LATIFA AL-AKHFA
5016251122/A0/11 SEPTEMBER 2025
DEPARTEMEN TEKNIK GEOMATIKA
FAKULTAS TEKNIK SIPIL, PERENCANAAN DAN KEBUMIAN
INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER SURABAYA
ABSTRAK
Kata kunci:
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pengukuran merupakan bagian penting dalam berbagai kegiatan sehari-hari yang
memerlukan penentuan ukuran atau panjang suatu benda secara akurat. Untuk
mendapatkan hasil pengukuran yang tepat, diperlukan alat ukur yang sesuai. Dalam
kehidupan sehari-hari maupun di berbagai bidang seperti penjahit, pekerja bangunan,
pengukur tanah, pembuat kunci, hingga industri, penggunaan alat ukur sangat
membantu dalam memastikan hasil kerja yang sesuai dengan standar yang diharapkan.
Misalnya, seorang penjahit mengukur kain agar pakaian yang dibuat sesuai dengan
ukuran, sedangkan pekerja bangunan memastikan bahan memiliki panjang yang tepat.
Oleh karena itu, pengenalan alat ukur menjadi hal yang mendasar untuk mendukung
keberhasilan berbagai aktivitas pengukuran.
Pengenalan alat ukur seperti mistar, jangka sorong, dan mikrometer sekrup
memiliki peranan penting dalam menyelesaikan berbagai permasalahan pengukuran,
terutama ketika ketelitian menjadi kebutuhan utama. Alat-alat ini memungkinkan
pengukuran panjang, diameter, atau ketebalan benda. Dengan memahami fungsi dan
cara penggunaan ketiga alat ini, seseorang dapat melakukan pengukuran secara efektif
serta menghitung ketidakpastian pengukuran untuk menghasilkan data yang lebih dapat
dipercaya. Alat ukur tidak hanya penting dalam dunia akademik untuk praktikum, tetapi
juga sangat berguna dalam berbagai bidang ilmu dan teknologi yang memerlukan hasil
pengukuran yang teliti dan akurat
1.2 Rumusan Masalah
Rumusan masalah yang muncul pada praktikum ini adalah bagaimana cara
menentukan nilai suatu besaran panjang, khususnya diameter suatu benda,
menggunakan berbagai alat ukur dan bagaimana cara menghitung nilai
ketidakpastian pengukuran dengan berbagai alat ukur panjang?
1.3 Tujuan
Tujuan praktikum ini adalah untuk mengukur besaran panjang, terutama diameter
suatu benda, dengan menggunakan beberapa alat ukur panjang, serta untuk
menghitung nilai ketidakpastian pengukuran yang terjadi pada setiap alat tersebut.
BAB II
DASAR TEORI
2.1 Besaran
Dalam fisika, Besaran merupakan hal dasar karena semua hal yang diukur berawal
darinya. Besaran adalah segala sesuatu yang dapat diukur, mempunyai nilai yang dapat
dinyatakan dengan angka, dan memiliki satuan tertentu. Besaran dibedakan menjadi
besaran pokok dan besaran turunan. Besaran pokok merupakan besaran yang berdiri
sendiri, contohnya panjang, massa, waktu, suhu, arus listrik, kuat cahaya, dan jumlah
zat. Besaran turunan diperoleh dari kombinasi besaran pokok, seperti luas yang berasal
dari hasil kali dua besaran panjang, dan kecepatan yang merupakan hasil bagi jarak
dengan waktu (Lubis, 2008). Pengelompokan ini memudahkan dalam merumuskan
hukum fisika. Pemahaman tentang besaran menjadi fondasi bagi setiap perhitungan dan
eksperimen dalam fisika.
2.2 Satuan
Dalam fisika, setiap besaran harus disertai satuan agar dapat dibandingkan dan
digunakan secara ilmiah. Sistem satuan yang digunakan secara luas adalah Sistem
Internasional (SI), yang ditetapkan melalui standar yang bersifat tetap serta dapat
dipakai secara global melalui kesepakatan internasional (Halliday & Resnick, 2011,
p.2). Satuan berfungsi sebagai penjelasan dari arti suatu besaran (Lubis, 2008, p.1).
Sistem ini berbasis pada meter (m), kilogram (kg), dan sekon (s), sehingga dikenal juga
dengan sebutan sistem MKS (Fazely, 2015, p.16). Keunggulan SI adalah sifatnya yang
desimal sehingga mempermudah konversi antar satuan (Lubis, 2008, p.2). Selain SI,
ada pula sistem CGS (centimeter, gram, second) dan FPS (foot, pound, second), namun
dalam penelitian ilmiah SI lebih dominan digunakan (Fazely, 2015, p.16). Melalui SI,
hasil pengukuran dapat diakui dan diterima secara universal.
2.3 Pengukuran
Setiap penelitian ilmiah selalu melibatkan pengukuran untuk memperoleh hasil yang
dapat dipercaya. Pengukuran adalah proses membandingkan suatu besaran dengan
standar yang sudah ditetapkan sebelumnya (Lubis, 2008, p.1). Tujuan dari proses ini
adalah mendapatkan data berbentuk angka yang bisa diproses lebih lanjut untuk
memahami fenomena alam. Agar hasil pengukuran dapat dipertanggungjawabkan,
maka metode dan langkah-langkah yang digunakan harus sesuai dengan standar ilmiah.
Hasil pengukuran harus konsisten, objektif, dan bisa diulang kembali dalam kondisi
yang sama (Nurlina, 2016, p.2). Selain itu, pengukuran yang baik selalu menyertakan
informasi mengenai ketidakpastian yang terjadi. Dengan demikian, pengukuran tidak
hanya memberikan angka, tetapi juga menunjukkan seberapa akurat dan dapat
diandalkan hasil tersebut.
2.4 Alat ukur : penggaris, jangka sorong, mikrometer sekrup
Alat ukur dipakai untuk menentukan nilai suatu besaran dengan ketelitian tertentu.
Penggaris merupakan alat ukur paling sederhana, dengan skala terkecil biasanya 1 mm
(Nurlina, 2016, pp.2–3).
Untuk mengukur dengan presisi lebih tinggi, digunakan jangka sorong yang dapat
membaca panjang, diameter, dan kedalaman hingga 0,1 mm (Nurlina, 2016, pp.2–3).
Mikrometer sekrup digunakan untuk pengukuran yang lebih teliti lagi, misalnya
ketebalan kawat, dengan ketelitian 0,01 mm (Nurlina, 2016, pp.3–4).
Setiap alat ukur memiliki tingkat ketelitian yang berbeda sehingga menunjukkan
bahwa pemilihan alat ukur harus disesuaikan dengan kebutuhan eksperimen. Semakin
teliti alat ukur yang dipakai, semakin baik pula kualitas data yang diperoleh.
2.5 Kalibrasi
Supaya hasil yang diberikan alat sesuai dengan standar, dilakukan kalibrasi. Kalibrasi
adalah proses penyesuaian dan pemeriksaan kembali alat ukur terhadap standar yang
berlaku untuk menjamin keakuratannya. Proses ini dilakukan dengan cara
membandingkan bacaan alat ukur dengan standar acuan yang berlaku secara
internasional. Tanpa adanya kalibrasi, alat ukur berpotensi menghasilkan kesalahan
sistematis yang menyebabkan data menyimpang dari nilai seharusnya (Hughes & Hase,
2010, p.6). Contoh sederhana dapat dilihat pada penggaris logam yang digunakan pada
suhu berbeda dengan suhu kalibrasinya, sehingga terjadi pemuaian atau penyusutan dan
menghasilkan hasil ukur yang tidak akurat. Oleh karena itu, sebelum digunakan dalam
eksperimen, alat ukur sebaiknya diperiksa dan dikalibrasi untuk mengurangi deviasi
yang bersifat tetap. Dengan demikian, kalibrasi berperan penting dalam meningkatkan
akurasi data serta menjaga keakuratan hasil eksperimen.
2.6 Ketidakpastian Pengukuran
Ketidakpastian menunjukan batas sejauh mana hasil pengukuran dapat dipercaya.
Setiap hasil pengukuran selalu mengandung ketidakpastian karena tidak ada
pengukuran yang benar-benar mutlak (Nurlina, 2016, pp.3–4). Ketidakpastian dapat
berasal dari dua sumber utama, yaitu kesalahan acak dan kesalahan
[Link] acak terjadi karena keterbatasan alat atau kondisi alat, sedangkan
kesalahan sistematis muncul dari prosedur atau karakteristik alat yang menyebabkan
pergeseran nilai hasil ukur. Salah satu cara untuk mengurangi pengaruh ketidakpastian
adalah dengan melakukan pengukuran berulang kali dan menganalisis hasilnya secara
statistik. Dengan demikian, pelaporan hasil pengukuran harus selalu menyertakan
ketidakpastian agar dapat dievaluasi dan dipercaya secara ilmiah. (Hughes & Hase,
2010)
BAB III
METODOLOGI
3.1 Alat dan Bahan
Pada praktikum pengenalan alat ukur ini diperlukan beberapa alat dan bahan sebagai
berikut. Pertama, Mistar digunakan untuk mengukur panjang dengan ketelitian sekitar 1
mm dan lebih tepat diterapkan pada benda berukuran besar. Mikrometer sekrup
dimanfaatkan untuk menentukan diameter benda kecil dengan tingkat ketelitian 0,01
mm sehingga hasilnya sangat presisi. Jangka sorong memiliki kegunaan lebih luas
karena mampu mengukur panjang, diameter luar, diameter dalam, serta kedalaman
dengan ketelitian 0,1 mm. Sedangkan manik-manik dipilih sebagai objek uji karena
bentuknya sederhana, praktis, dan mudah diukur dengan semua jenis alat ukur tersebut.
3.2 Skema Alat
Berikut adalah skema alat yang digunakan pada praktikum pengenalan alat ukur.
3.3 Langkah Kerja (+ diagram alir)
Berikut adalah beberapa Langkah kerja yang dilakukan pada praktikum ini. Pertama,
diameter manik-manik diukur dengan mikrometer sekrup. Kedua, pengukuran
dilakukan oleh orang yang berbeda. Ketiga, pengukuran dilakukan 5 kali. Keempat,
data yang didapat dituliskan pada table data. Kelima, Langkah 1-4 diulangi dengan
menggunakan jangka sorong dan mistar.
BAB IV
ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN
4.1 Analisis Data
4.2 Analisis Perhitungan
4. 3 Grafik
4.4 Pembahasan (4.3)
BAB V
KESIMPULAN
DAFTAR PUSTAKA
TUGAS PENDAHULUAN
LEMBAR LAPORAN SEMENTARA
LAMPIRAN