0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan28 halaman

Daftarsingkatan

Dokumen ini membahas tentang pentingnya program Keluarga Berencana (KB) di Indonesia, yang bertujuan untuk mengurangi angka kematian ibu dan bayi serta meningkatkan kesejahteraan keluarga. Data menunjukkan pertumbuhan populasi yang signifikan dan kebutuhan yang belum terpenuhi untuk kontrasepsi di negara berkembang. Penulis tertarik untuk melakukan penelitian tentang asuhan kebidanan pada metode KB suntik di Puskesmas Meninting.

Diunggah oleh

ckim54428
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan28 halaman

Daftarsingkatan

Dokumen ini membahas tentang pentingnya program Keluarga Berencana (KB) di Indonesia, yang bertujuan untuk mengurangi angka kematian ibu dan bayi serta meningkatkan kesejahteraan keluarga. Data menunjukkan pertumbuhan populasi yang signifikan dan kebutuhan yang belum terpenuhi untuk kontrasepsi di negara berkembang. Penulis tertarik untuk melakukan penelitian tentang asuhan kebidanan pada metode KB suntik di Puskesmas Meninting.

Diunggah oleh

ckim54428
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

i

DAFTARSINGKATAN

WHO :World Health Organization


PBB :Perserikatan Bangsa Bangsa
PKB :Perkumpulan Keluarga Berencana
PKBI :Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia
BKKBN :Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional
IUD :Intra Uterine Device
MOU :Metode Operasi Wanita
MOP :Metode Operasi Pria
PUS :Pasangan Usia Subur
AKI :Angka Kematian Ibu
AKB :Angka Kematian Bayi
KH :Kelahiran Hidup
SDGS :Sustainable Deopelopment Goals
BAK :Buang Air Kecil
BAB :Buang Air Besar
BB :Berat Badan
BBL :Bayi Baru Lahir
DJJ :Denyut Jantung Janin
DTT :Desinfeksi Tingkat Tinggi
TD :Tekanan Darah
HPHT :Hari Pertama Haid Terakhir
TTP :TafsiranTanggal Persalinan
KIE :Komunikasi, Informasi, Edukasi
LILA :Lingkar Lengan Atas
LTA :Laporan Tugas Akhir
SUPAS :Survei Penduduk Antar Sensus
MKJP :Metode Kontrasepsi Jangka Panjang
1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Menurut PBB , penduduk dunia saat ini berjumlah 7,6 [Link] ini
diperkirakan akan menanjak hingga 9,8 milliar pada tahun 2050. Demikian
laporan Departemen Populasi Divisi urusan sosial dan ekonomi Perserikatan
Bangsa- Bangsa (PBB) pada Juni 2017.
Berdasarkan data yang disampaikan oleh Menteri Dalam Negeri
(Mendagri) RITjahjo Kumolo, jumlah penduduk Indonesia per 31 desember2015
yakni 182.588.494 jiwa. Sedangkan penduduk Indonesia per 30 juni 2016
sebanyak 257.912.349 jiwa. Maka dalam satu tahun penduduk Indonesia
bertambah sekitar 4 juta jiwa , sebagaimana dikatakan Kepala BKKBN Pusat
[Link] [Link] juli 2017 jumlah penduduk Indonesia lebih dari
262 juta jiwa.
Pencapaian kesehatan ibu diIndonesia masih rendah karena AKI dan AKB
masih cukup [Link] Survey Penduduk Antar Sensus ( SUPAS)
menunjukkan AKI sebanyak 305 per 100.000 KH , dan jumlah AKB 22,23 per
1000KH. (Kemenkes, 2017). Berdasarkan profil kesehatan kabupaten/kota
propinsi Sumatera Utara sebanyak 239 per [Link] AKBdi Sumut
4 per 1.000KH. (Profil Sumut,2016).
Menurut World Health Organization (WHO) (2016) penggunaan
kontrasepsi meningkat dari 54% pada tahun 2014 dan 60,3% pada tahun 2016.
Secara regional, proporsi pasangan usia subur 15-49 tahun melaporkan
penggunaan kontrasepsi modern telah meningkat minimal 6 tahun [Link]
Afrika dari 23,6% menjadi 27,6% ,di Asia telah meningkat dari 60,9% menjadi
61,6% sedangkan di Amerika Latin dan Karibia naik sedikit dari 66,0% menjadi
66,7%.Diperkirakan 225 juta perempuan dinegara-negara berkembang ingin
menunda atau menghentikan kesuburan tapi tidak menggunakan metode
[Link] yang belum terpenuhi untuk kontrasepsi masih terlalu
tinggi.
2

Keluarga Berencana (KB) memungkinkan pasangan usia subur untuk


mengantisipasi kelahiran,mencapai jumlah anak yang mereka inginkan,dan
mengatur jarak waktu kelahiran [Link] ini dapat dicapai melalui penggunaan
metode kontrasepsi dan tindakan infertilitas.
Dari latar belakang diatas maka penulis tertarik untuk melakukanpenulisan
dengan judul “Asuhan Kebidanan Pada Ny.Y” dengan Keluarga Berencana KB
Suntik di Puskesmas Meninting.
3

BAB II
TINJAUANPUSTAKA

2.1 Keluarga Berencana


2.1.1 Konsep Dasar Keluarga Berencana
A. Pengertian
Program Keluarga Berencana menurut UU No 10 tahun 1992 (tentang
perkembangan kependudukan dan pembangunan keluarga sejahtera) adalah
upaya peningkatan kepedulian dan peran serta masyarakat melalui
pendewasaan usia perkawinan (PUP), pengaturan kelahiran, peningkatan
kesejahteraan keluarga kecil, bahagia dan sejahtera (Setiyaningrum,2015).
Keluarga berencana adalah tindakan yang membantu pasangan suami istri
untuk menghindari kehamilan yang tidak diinginkan, mendapatkan kelahiran
yang memang sangat diinginkan, mengatur interval diantara kehamilan,
mengontrol waktu saat kelahiran dalam hubungan dengan umur suami istri
telah menentukan jumlah anak dalam keluarganya (Suratun, 2013).
B. Tujuan Program KB
Tujuan umum untuk 5 tahun kedepan mewujudkan visi dan misi
program KB yaitu membangun kembali dan melestarikan pondasi yang kokoh
bagi pelaksana program KB dimasa yang datang untuk mencapai keluarga KB
berkualitas tahun 2015.
Sedangkan tujuan khusus program KB adalah meningkatkan
kesejahteraan ibu dan anak serta mewujudkan keluarga kecil yang bahagia dan
sejahtera melalui pengendalian kelahiran dan pengendalian pertumbuhan
penduduk indonesia, terciptanya penduduk yang berkualitas, sumber daya
manusia yang bermut dan meningkatkan kesejahteraan keluarga.
C. Sasaran Program KB
Sasaran program KB dibagi menjadi 2 yaitu sasaran langsung adalah
Pasangan Usia Subur (PUS) yang bertujuan untuk menurunkan tingkat
kelahiran dengan cara penggunaan kotrasepsi secara berkelanjutan dan sasaran
tidak langsung pelaksana dan pengelola KB, dengan tujuan menurunkan tingkat
kelahiran melalui pendekatan kebijaksanaan kependudukan terpadu dalam
rangka mencapai keluarga yang berkualitas dan keluarga sejahtera
(Setiyaningrum,2019).
4
D. Metode Kontrasepsi
Menurut Kemenkes, (2013) Terdapat beberapa pilihanmetode kontrasepsi
yang dapat digunakan setelah persalinan karena tidak menganggu proses
menyusui. Berikut penjelasan mengenai metode tersebut :
I. MetodeAmenorea Laktasi (MAL)
Metode Amenorea Laktasi adalah kontrasepsi yang mengandalkan
pemberian Air Susu Ibu (ASI) secara ekslusif, artinya hanya diberikan ASI
tanpa tambahan makanan atau minuman apa pun lainnya. MAL akan efektif
jika digunakan dengan benar selama 6 bulan pertama melahirkan dan belum
mendapatkan haid setelah melahirkan serta memberikan ASI secara ekslusif
(Pusdiknakes, 2014).Selain itu, adabeberapahal yangperlu diperhatikan agar
efektivitas MAL optimal menurut Kemenkes 2013 :
1. Ibu harus menyusui secara penuh atau hampir penuh
2. Perdarahan pasca 56 hari pascasalin dapat diabaikan (belum
dianggaphaid)
3. Bayi menghisap payudara secara langsung
4. Menyusui dimulai dari setengah sampai satu jam setelah bayi lahir
5. Kolostrum diberikan kepada bayi
6. Pola menyusui ondem and (menyusui setiap saat bayi membutuhkan)
dan dari kedua payudara
7. Sering menyusui selama 24 jam termasuk malam hari
8. Hindari jarak antar menyusui lebih dari 4 jam
II. Alat Kontrasepsi Dalam Rahim (AKDR)
AKDR merupakan pilihan kontrasepsi pacapersalinan yang aman dan
efektif untuk ibu yang ingin menjarangkan atau membatasi kehamilan. AKDR
dapat dipasang segera setelah bersalin maupun dalam jangka waktu tertentu.
Meskipun angka ekspulsi pada pemasangan AKDR segera pasca
persalinan lebih tinggi dibandingkan teknik pemasangan masa interval (lebih4
5

minggu setelah persalinan), angka ekspulsi dapat diminimalisasi bila:


Pemasangan dilakukan dalam waktu 10 menit setelah melahirkan plasenta,
AKDR ditempatkan cukup tinggi pada fundus uteri, pemasangan dilakukan
oleh tenaga terlatih khusus.
Keuntungan pemasangan AKDR segera setelah lahir (pascapersalinan)
antara lain: biaya lebih efektif dan terjangkau, lebih sedikit keluhan perdarahan
dibandingkan dengan pemasangan setelah beberapa hari/minggu, tidak perlu
mengkhawatirkan kemungkinan untuk hamil selama menyusui dan AKDR pun
tidak mengganggu produksi air susu dan ibu yang menyusui, mengurangiangka
ketidakpatuhan pasien.
Namun demikian terdapat beberapa resiko dan hal-hal yang harus
diwaspadai saat pemasangannya yaitu : dapat terjadi robekan dinding rahim,
ada kemungkinan kegagalan pemasangan, kemungkinan terjadi infeksi setelah
pemasangan AKDR (pasien harus kembali jika ada demam, bau amis/anyir
sesarea cairan vaginan dan sakit perut terus menerus.
AKDR juga dapat dipasang setelah persalinan dengan seksio sesarea.
Angka sekpulsi pada pemasangan setelah seksio sesarea kurang lebih sama
dengan pada pemasangan interval.
III. Implan
1. Implanberisiprogrestin, dantidakmenggangguproduksiASI
2. Bila menyusui antara 6 minggu sampai 6 bulan pascapersalinan,
pemasangan implan dapat dilakukan setiap saat tanpa kontrasepsi lain bila
menyusui penuh (full breastfedding)
3. Bilasetelah6minggumelahirkandantelahterjadihaid,pemasangandapat
dilakukan kapan saja tetapi menggunakan kontrasepsi lain atau jangan
melakukan hubungan seksual selama 7 hari
4. Masa pakai dapat mencapai 3 tahun (3-keto-desogestrel) hingga 5 tahun
(levonogestrel).
6

IV. Suntik
1. Suntikan progestin tidak mengganggu produksi ASI
2. Jika ibu tidak menyusui, suntikan dapat dimulai setelah 6 minggu
persalinan
3. Jika ibu menggunakan MAL, suntikan dapat ditunda sampai 6 bulan
4. Jika ibu tidak menyusui, dan sudah lebih dari 6 minggu pascapersalinan,
atau sudah dapat haid, suntikan dapat dimulai setelah yakin tidak ada
kehamilan.
5. Injeksi diberikan setiap 2 bulan (depo noretisteron enatat) atau 3 bulan
(medroxiprogesteron asetat).
a. Suntikan Progrestin
Suntik Progestin akan mencegah ovulasi, mengentalkan lendir
serviks sehingga menurunkan kemampuan penetrasi sperma, menjadikan
selaput lendir rahim tipis dan atrofi, menghambat transportasi gamet oleh
tuba.
Keuntungan pengunaan Suntik Progestin, pencegahan kehamilan
jangka panjang, tidak berpengaruh pada hubungan suami istri, tidak
mengandung estrogren, tidak memiliki pengaruh terhadap ASI, dapat
digunakan oleh perempuan usia > 35 tahun sampai pramenopouse,
membantu mencegah kanker endometrium dan kehamilan ektopik
Keterbatasan penggunaan Suntik Progestin, sering ditemukan
gangguan haid seperti siklus haid yang memendek atau memanjang,
perdarahanyang banyak atau sedikit, perdarahan tidak teratur atau
perdarahan bercak (spotting), tidak dapat dihentikan sewaktu – waktu
sebelum suntikan berikutnya, penambahan berat badan, tidak menjamin
terhadap perlindungan penularan IMS, Hep B/ HIV, terlambatnya kembali
kesuburan setelah penghentian pemakaian, penggunaan jangka panjang
dapat menimbulkan kekeringan pada vagina, menurunkan libido,gangguan
emosi ( jarang ), sakit kepala, jerawat.
7

VI. Kondom
Kondom merupakan jenis kontrasepsi penghalang mekanik. Kondom
mencegah kehamilan dan infeksi penyakit kelamin dengan cara menghentikan
spermauntuk masukke dalam [Link] priadapat terbuatdaribahan latex
(karet), polyurethane (plastik), sedangkan kondom wanita terbuat dari
polyurethane. Efektivitas kondom pria antara 85-98 % sedangkan efektivitas
kondom wanita antara 79-95%.
VII. Kontrasepsi Sterilisasi
Kontrasepsi mantap pada wanita atau MOW (Metode Operasi Wanita)atau
tubektomi yaitutindakan pengikatan dan pemotongan saluran telur agar sel telur
tidak dapat dibuahi oleh sperma. Kontrasepsi mantap pada pria atau MOP
(MetodeOperasiPria)atauvasektomi yaitutindakanpengikatandan pemotongan
saluran benih agar sperma tidak keluar dari buah zakar.

2.1.2 Asuhan Keluarga Berencana


A. Konselingkontrasepsi
I. Pengertian
Konseling adalah proses yang berjalan dan menyatu dengan semua
aspek pelayanan keluarga berencana dan bukan hanya informasi yang
diberikan dan dibicrakan pada satu kali kesempatan yakni pada saat
pemberian pelayanan.
II. TujuanAkseptor
a. Meningkatkanpenerimaan
yang benar, diskusi bebas dengan cara mendengarkan, berbicara dan
berkomunikasi non verbal untuk meningkatkan penerimaan KB oleh pasien,
b. MenjalinPilihanYangCocok
Konselingmenjaminbahwapetugasdanklienakanmemilihcarayang terbaik
yang sesuai dengan keadaan kesehatan dan kondisi klien.
8

c. Menjaminpenggunaancara yangefektif
Konseling yang efektif diperlukan agar klien mengetahui bagaimana
menggunakan cara KB yang benar, dan bagaimana mengatasi informasi
yang keliru dan isu-isu tentang cara tersebut.
d. Menjaminkelangsunganyanglebihlama
Kelangsungan pemakaian cara KB akan lebih baik bila klien ikut
memilih cara tersebut, mengetahui bagaimana cara kerjanya dan bagaimana
mengatasi efek sampingnya (Handayani,2010).
III. Langkah-langkahkonseling
Asuhan keluarga berencana menurut kemenkes RI dalam buku
sakupelayanan kesehatan ibu di fasilitas kesehatan dasar dan rujukan (2013).
Prinsip pelayanan kontrasepsi saat ini adalah memberikan kemandirian pada ibu
dan pasangan untuk memilih metode yang diinginkan (dapat dilihat pada tabel
2.1). Pemberi pelayanan berperan sebagai konselor dan fasilitator, sesuai
langkahlangkah berikut:
a. Jalinkomunikasiyangbaikdenganibu
Beri salam kepada ibu, tersenyum, perkenalkan diri anda. Gunakan
komunikasi verbal dan non-verbal sebagi awal interaksi dua arah. Tanya ibu
tentang identitas dan keinginannya pada kunjungan ini.
b. Nilailahkebutuhan dankondisi ibu
Tanyakan tujuan ibu berkontrasepsi dan jelaskan pilihan metode yang
dapat digunakan untuk tujuan tersebut. Tanyakan juga apa ibu sudahmemikirkan
pilihan metode tertentu.
9

Tabel2.5
Pilihan Metode Kontrasepsi BerdasarkanTujuan Pemakaiannya

UrutanprioritasFase menunda Fase Fasetidakhamil lagi


kehamilan menjarangkan (anak >3)
kehamilan
1 Pil AKDR Steril
2 AKDR Suntikan AKDR
3 Kondom Minipil Implant
4 Implant Pil Suntikan
5 Suntikan Implant Kondom
6 Kondom Pil
Sumber:Kemenkes RI,[Link],halaman232.
Kemudian menurut Handayani (2010) ada 6 langkah yang sudah dikenal
dengan kata kunci SATU TUJU yaitu :
1. SA: Sapadan Salam
Sapa dan salam klien secara terbuka dan sopan, berikan perhatian
sepenuhnya , berbicara ditempat yang nyaman serta terjamin privasinya.
2. T: Tanya
Tanyakan kepada klien informasi tentang dirinya, bantu klien untuk
berbicaramengenaipengalamankeluargaberencanadankesehatanreproduksinya,
tujuan, kepentingan, harapan, serta keadaan kesehatan dan kehidupankeluarganya.
3. U: Uraikan
Uraikan kepada klien mengenai pilihannya dan beritahu apa pilihan
reproduksi yang paling mungkin, termasuk pilihan beberapa jenis kontrasepsi.
4. Tu : Bantu
Bantulah klien menentukan pilihannya, bantulah klien berfikir mengenai apa
yang paling sesuai dengan keadaan dan kebutuhannya.
5. J :Jelaskan
Jelaskan secara lengkap bagaimana menggunakan kontrasepsi pilihannya
setelah klien memilih jenis kontrasepsinya, jika diperlukan perlihatkan alat/obat
kontrasepsinya, jelakan cara penggunaannya.
10

6. U: Kunjungan Ulang
Bicarakan dan buatlah perjanjian kapan klien akan kembali untuk
melakukan pemeriksaan atau permintaan kontrasepsi jika dibutuhkan. Perlu juga
selalu mengingatkan klien untuk kembali apabila terjadi suatu masalah.

IV. PersetujuanTindakanMedis(InformedConsent)
Kontrasepsi yang dipilih memerlukan tindakan medis, surat persetujuan
tindakan medis diperlukan. Informed Consent adalah persetujuan yang diberikan
oleh klien atau keluarganya atas dasar informasi dan penjelasan mengenai
tindakan medis yang akan dilakukan terhadap klien tersebut.
Tindakan medis yang mengandung resiko harus dengan persetujuantertulis
yang ditandatangani oleh yang berhak memberikan persetujuan, yaituklien yang
bersangkutan dalam keadaan sadar dan sehat mental. Sesudah calon peserta dan
pasangannya menandatangani in formed consent pelayanan kontrasepsi baru
dilakukan. Pada halaman belakang lembar persetujuan tindakan medis terdapat
catatan tindakan dan pernyataan oleh dokter/bidan/perawat yang melakukan
tindakan (Affandi,2011).

B. Asuhan kebidanan pada akseptorKB


Dokumentasi adalah kebidanan pad ibu / akseptor keluarga berencana(KB)
merupakan bentuk catatan dari asuhan kebidanan yang diberikan pada ibu yang
akan melaksanakan pemakian KB atau calon akseptor KB, sepertipil, suntik
, implant, metode operassipria(MOP) danlainsebagainya.
Beberapa teknik penulisan dalam dokumentasi asuhan kebidanan pada akseptor
KB antara lain :
1. Mengumpulkan Data
Data yang dikumpulkan pada akseptor antara lain identitas pasien, keluhan
utama tentang keinginan menjadi akseptor , riwayat kesehatan sekarang, riwayat
kesehtana dahulu , riwayat kesehatan keluarga , riwayat menstruasi (bagi akseptor
wanita), riwayat perkawinan, riwayat KB, riwayat obsestri, keadaan psikologis,
pola kebiasaan sehari-hari ;riwayat sosial, budaya,dan ekonomi
2. Melakukan intrepestasi data
Interprestasi data dasar yang akan dilakukan adalah berasal dari beberapa
data yang ditemukan pada saat pengkajian ibu/akseptor KB.
11
3. Melakukan identifikasi diagnosis atau masalah potensial dan mengantisipai
penanganannya.
Beberapa hasil dari interprestasi data dasar dapat digunakan dalam
mengidentifikasi diagnosis atau masalah potensial kemungkinanan sehingga
ditemukan beberapa diagnosis atau masalah potensial ibu atau akseptor KB seperti
ibu ingin menjadi akseptor KB pil dengan antisipasi masalah potensial , seperti
potensial terjadinya peningkatan berat badan , potensial fluor albus meningkat ,
obesitas , mual dan pusing.
4. Menetapkan kebutuhan terhadap tindakan segera atau masalah potensial pada
ibu atau akseptor KB
Langkah ini dilakukan untuk mengantisipasi dan melakukan konsultasi dan
kolaborasi dengan kesehatan lain berdasarkan kondisi pasien seperti kebutuhan
KIE ( komunikasi, informasi dan edukasi )
5. Menyusunrencanaasuhanyangmenyeluruh
Rencana asuhan menyeluruh pada ibu atau akseptor KB yang dilakukan
sebagaimana contoh berikut : apabila ibu adalah akseptor KB pil , maka jelaskan
tentang pengertian dan keuntungan KB pil , anjurkan menggunakan pil secara
teratur dan anjurkan untuk periksa secara dini bila ada keluhan.
6. Melaksankanperencanaan
Pada tahap ini dilakukan rencana asuhan kebidanan menyeluruh yang
dibatasi oleh standar asuhan kebidanan pada ibu / akseptor KB
7. Evaluasi
Evaluasi pada ibu / akseptor KB dapat menggunakan bentuk SOAP
sebagai berikut:
12

S : Data subjektif , berisi tentang data dari pasien melalui anamesis


(wawancara) yang merupakan ungkapan langsung tentang keluhan atau
masalah KB
O : Data objektif , data yang diapat dari hasil observasi melalui pemeriksaaan
fisik sebelum atau selama pemakaian KB
A : Analisis dan interprestasi , berdasarkan data yang terkumpul kemudian
dibuat kesimpulan meliputi diagnosis , antisipassi diagnosis atau masalah
potensial , serta perlu tidaknya tindakan segera
P : Perencanaan , merupakan rencana dari tindakan yang akan diberikan
termasuk asuhan mandiri , kolaborasi , tes diagnosis atau laboratorium , serta
konseling untuk tindak lanjut .

2.2 PendokumentasianKebidanan
A. VARNEY
MenurutHelenVarney,prosesmanajemenkebidananterdiridari7langkah
yang berurutan yaitu :
I. Langkah I:Pengumpulandatadasar
Pada langkah ini, kegiatan yang dilakukan adalah pengkajian dengan
mengumpulkan semua data yang diperlukan untuk mengevaluasi klien secara
lengkap. Data yang dikumpulakan antar lain:
a. Keluhanpasien
b. Riwayatkesehatanklien
c. Pemeriksaanfisiksecaralengkapsesuaidengankebutuhan
d. Meninjaucatatanterbaru ataucatatansebelumnya
e. Meninjaudata laboratorium.
Pada langkah ini, dikumpulkan semua informasi yang akurat dari semua
sumber yang berkaitan dengan kondisi klien. Pada langkah ini, bidan
mengumpulkan data dasar awal secara lengkap.
II. Langkah II:Interpretasi datadasar
Pada langkah ini, kegiatan yang dilakukan adalah menginterpretasikan
semua data dasar yang telah dikumpulkan sehIngga ditemukan diagnosis atau
13

masalah. Diagnosis yang dirmuskan adalah diagnosis dalam lingkup praktik


kebidanan yang tergolong pada nomenklatur standart diagnosis, sedangkan perihal
yang berkaitan dengan penglaman klien ditemukan dari hasil pengkajian.
III. Langkah IIl: Identifikasi diagosis/Masalahpotensial
Pada langkah ini, kita mengidentifikasi masalah atau diagnosis potensial
lain berdasarkan rangkaian diagnosis dan masalah yang sudah
[Link] temuan tersebut, bidan dapat melakukan antisipasiagar
diagnosis/maslah tersebut tidak terjadi. Selain itu, bidan harus siap-siap apabila
diagnosis atau masalah tersebut benar-benar terjadi. Contoh diagnosis/masalah
potensial :
a. Potensial perdarahan postpartum, apabila diperoleh data ibu hami kembar,
poli hidramnion, hamil besar akiat menderita diabetes.
b. Kemungkinan distosia bahu, apabila data yang ditemukan adalah kehamilan
besar.
IV. Langkah IV : Identifikasi kebutuhan yang memerlukan penanganan segera
Pada langkah ini, yang dilakukan bidan adalah mengidentifikasi perlunya
tindakan segera oleh bidan atau dokter untuk dikonsultasikan atau ditangani
bersama dengan anggota tim kesehatan lain sesuai dengan kondisi klien. Ada
kemungkinan,data yangkitaperolehmemerlukan tindakan yangsegeradilakukan
oleh bidan, sementara kondisi yang lain masih bisa menunggu beberapa waktu
lagi. Contohnya pada kasus-kasus kegawat daruratan kebidanan, seperti
perdarahan yang memerlukan tindakan KBI dan KBE.
V. LangkahV:Perencanaanasuhanyangmenyeluruh
Pada langkah ini, direncanakan asuhan yang menyeluruh yang ditentukan
berdasarkan langkah-langkah sebelumnya. Rencana asuhanyang menyeluruh tidak
hanya meliputi hal yang sudah teridentifikasi dari kondisi klien dan setiap masalah
yang berkaitan, tetapi dilihat juga dari apa yang akan diperkirakan terjadi
selanjutnya, apakah dibutuhkan konseling dan apakah perlu merujuk klien. Setiap
asuhan yang direncanakan harus disetujui oleh kedua belah pihak, yaitu bidan dan
pasien.
14

VI. Langkah VI:Pelaksanaan


Pada langkah ke enam ini, kegiatan yang dilakukan adalah melaksanakan
rencana asuhan yang sudah dibuat pada langkah ke-5 secara aman dan efisie.
Kegiatan ini bisa dilakukan oleh bidan atau anggota tim kesehatan yang lain. Jika
bidan tidak melakukan sendiri, bidan tetap memikul tanggung jawab untuk
mengarahkan pelaksanaannya. Dalam situasi ini, bidan harus berkolaborasi
dengan tim kesehatan lain atau dokter. Dengan demikian, bidan harus bertanggung
jawab atas terlaksananya rencana asuhan yang menyeluruh yang telah dibuat
bersama tersebut.
VII. Langkah VII:Evaluasi
Pada langkah terakhir ini, yang dilakukan oleh bidan adalah :
a. Melakukan evaluasi keefektifan asuhan yang sudah diberikan, yang
mencakup pemenuhan kebutuhan, untuk menilai apakah sudah benar-benar
terlaksana/tepenuhi sesuai dnegan kebutuhan yang telah teridentifikasi dalam
masalah dan diagnosis.
b. Mengulang kembali dari awal kembali stiap asuhan yang tidak afektif
untuk megetahui mengapa proses manajemen ini tidak efektif. (Mangkuji, dkk
2013)

B. SOAPIER
Dalam metode SOAPIER ,S adalah data subjektif, O adalah data objektif,
A adalah analysis/assessment, P adalah Planing, I adalah Implementation, E
adalah evaluation,dan R adalah Revised/Reassessment
S : Berhubungan dengan masalah dari sudut pandangpasien. ekspresi
pasien mengenai ke kawatiran dan keluhan yang dicatat atau ringkasan yang akan
berhubungan langsung dengan diagnosis,data subjektif ini nantinya akan
menguatkan diagnosis yang disusun.
O : merupakan pendokumentasian hasil observasi yang jujur,hasil
pemeriksaan fisik pasien ,pemeriksaan laboratorium/pemeriksaan diagnostic
[Link] medic dan informasi dari keluarga atau orang lain dapat
dimasukkan dalam data objektif ini sebagai data penunjang. data ini akan
15

memberikan bukti gejala klinis pasien dan fakta yang berhubungan dengan
diagnosis.
A : merupakan pendokumentasian hasil analisis dan interpretasi
( kesimpulan) dari data subjektif dan [Link] data adalah melakukan
interpretasi data yang telah dikumpulkan, mencakup :diagnosis/masalah
kebidanan,diagnosis/masalahpotensial serta perlunya anntisipasi
diagnosis/masalah potensial dan tindakan segera.
P : membuat rencanaasuhan saat ini dan yang akan [Link]
disusun berdasarkan hasil analisis dan interpretasi data, rencana asuhan ini
bertujuan untuk mengusahakan tercapainya kondisi pasien seoptimal mungkin dan
mempertahankan [Link] asuhan ini harus bisa mencapaicriteria
tujuan yang ingin dicapai dalam batas waktu tertentu.
I : pelaksanaan asuhan sesuai dengan rencana yang telah disusun sesuai
dengan keadaan dan dalam rangka mengatasi masalah [Link]
harus disetujui oleh pasien,kecuali apabila tindakan tidak dilaksanakan akan
membahayakan keselamatan [Link] mungkin pasien harus dilibatkan
dalam implementasi ini.
E : tafsiran dari efek tindakan yang telah diambil untuk menilai efektifitas
asuhan/ hasil pelaksanaan [Link] analisis hasil yang telah dicapai
dan merupakan focus ketepatan nilai tindakan/asuhan, jika criteria tuhjuan tidak
tercapai,proses evaluasi ini dapat menjadi dasar untuk mengembangkan tindakan
alternative sehingga tercapai tujuan yang diharapkan.
R : revisi mencerminkan perubahan rencana asuhan dengan cepat,
memperhatikan hasil evaluasi, serta implementasi yang telah dilakukan. hasil
evaluasi dapat dijadikan petunjuk perlu tidaknya melakukan perbaikan/atau
perubahan intervensi dan maupun perlu tidaknya melakukan tindakan kolaborasi
baru atau [Link] yang harus diperhatikan dalam revisi ini adalah pencapaian
target dalam waktu yang tidak lama.
16

C. SOAPIE
Dalam metode SOAPIE ,S adalah data subjektif,O adalah data objektif,A
adalah analisis/assessment,P adalah planning,I adalah implementation dan eadalah
evaluation.
S :Data subjektif ini berhubungan dengan masalah dari sudut pandang
[Link] pasien mengenai kekawatiran dan keluhannya yang dicatat
sebagai kutipan langsung atau ringkasan yang akan berhubungan
langsungdengan diagnosis.
O : data objektif merupakan pendokumentasian hasil observasi yang jujur,
hasil pemeriksaan fisik pasien, pemeriksaan laboratorium dan pemeriksaan
diagnostik lain.
A : merupakan pendokumentasian hasil analisis dan interpretasi
( kesimpulan) dari data subjektif dan [Link] data adalah melakukan
interpretasi data yang telah dikumpulkan, mencakup: diagnosis/masalah
kebidanan,diagnosis/masalahpotensial serta perlunya anntisipasi
diagnosis/masalah potensial dan tindakan segera.
P : membuat rencana asuhan saat ini dan yang akan datang. rencana
asuhan disusun berdasarkan hasil analisis dan interpretasi data, rencana asuhan ini
bertujuan untuk mengusahakan tercapainya kondisi pasien seoptimal mungkin dan
mempertahankan kesejahteraannya. rencana asuhan ini harus bisa
mencapaicriteria tujuan yang ingin dicapai dalam batas waktu tertentu.
I : pelaksanaan asuhan sesuai dengan rencana yang telah disusun sesuai
dengan keadaan dan dalam rangka mengatasi masalah pasien. pelaksanaan
tindakan harus disetujui oleh pasien,kecuali apabila tindakan tidak dilaksanakan
akan membahayakan keselamatan [Link] mungkin pasien harus
dilibatkan dalam implementasi ini.
E : tafsiran dari efek tindakan yang telah diambil untuk menilai efektifitas
asuhan/hasil pelaksanaan tindakan. evaluasi berisi analisis hasil yang telahdicapai
dan merupakan fokus ketepatan nilai tindakan/asuhan,jika criteria tuhjuan tidak
tercapai,proses evaluasi ini dapat menjadi dasar untuk mengembangkan tindakan
alternative sehingga tercapai tujuan yang diharapkan.
17

D. SOAP
S : Berhubungan dengan masalah dari sudut pandang [Link]
pasien mengenai ke kawatiran dan keluhan yang dicatat atau ringkasan yang akan
berhubungan langsung dengan diagnosis,data subjektif ini nantinya akan
menguatkan diagnosis yang disusun.
O : merupakan pendokumentasian hasilobservasiyang jujur,hasil
pemeriksaan fisik pasien ,pemeriksaan laboratorium/pemeriksaan diagnostic
[Link] medic dan informasi dari keluarga atau orang lain dapat
dimasukkan dalam data objektif ini sebagai data [Link] ini akan
memberikan bukti gejala klinis pasien dan fakta yang berhubungan dengan
diagnosis.
A : merupakan pendokumentasian hasil analisis dan interpretasi
( kesimpulan) dari data subjektif dan objektif. analisis data adalah melakukan
interpretasidata yangtelah dikumpulkan, mencakup:
diagnosis/masalahkebidanan, diagnosis/masalah potensialserta perlunya
anntisipasi diagnosis/masalah potensial dan tindakan segera.
P : membuat rencanaasuhan saat ini dan yang akan datang. rencana asuhan
disusun berdasarkan hasil analisis dan interpretasi data, rencana asuhan ini
bertujuan untuk mengusah akan tercapainya kondisi pasien seoptimal mungkindan
mempertahankan kesejahteraannya. rencana asuhan ini harus bisa mencapai
criteria tujuan yang ingin dicapai dalam batas waktu [Link] planning ini
juga harus mencantumkan evaluation/evaluasi, yaitu tafsiran dari efek tindakan
yang telah diambil untuk menilai efektifitas asuhan/hasil pelaksanaan
[Link] berisi analisis hasil yang telah dicapai dan merupakan focus
ketepatan nilai tindakan atau asuhan. (Muslihatun,2010)
Menurut Kepmenkes no. 938/menkes/sk/viii/2007 tentang standar asuhan
kebidanan Pencatatan dilakukan segera setelah melaksanakan asuhan pada
formulirNyang tersedia (Rekam Medis/KMS/Status Pasien/Buku KIA).Ditulis
dalam bentuk catatan perkembangan SOAP.
S adalah data subyektif, mencatat hasil anamnesa.O adalah data obyektif,
mencatat hasil pemeriksaan. Aadalah hasil analisa, mencatat diagnosa dan
18

masalah kebidanan. P adalah penatalaksanaan, mencatat seluruh perencanaan dan


penatalaksanaan yang sudah dilakukan seperti tindakan antisipatif, tindakan
segera, tindakan secara komprehensif; penyuluhan, dukungan, kolaborasi,
evaluasi/follow up dan rujukan.( Permenkes 2007 ). Dalam Laporan Tugas Akhir
ini penulis memilih memakai pendokumentasian dengan metode SOAP
19
20
21
22
23
24
25
26
27

Anda mungkin juga menyukai