Skripsi Rima
Skripsi Rima
Disusun Oleh :
Rima Adelia 2203010561
1
BAB I
PENDAHULUAN
Penggunaan kendaraan bermotor saat ini sudah menjadi bagian dari kebutuhan utama
masyarakat, tidak hanya untuk keperluan pribadi tetapi juga untuk mendukung berbagai
kegiatan usaha dan industri. Seiring dengan meningkatnya aktivitas tersebut, kebutuhan akan
perawatan kendaraan juga semakin diperhatikan. Salah satu bentuk perawatan yang sangat
penting adalah penggunaan oli pelumas. Oli berfungsi untuk melumasi komponen mesin,
mengurangi gesekan, membantu menjaga suhu mesin, serta mencegah kerusakan yang dapat
Selain kendaraan pribadi, kendaraan operasional dengan beban kerja berat seperti
mobil heavy duty (HD) yang digunakan di sektor pertambangan juga memiliki kebutuhan oli
yang jauh lebih spesifik. Kendaraan tambang umumnya bekerja dalam kondisi ekstrem,
seperti medan berat, beban angkut besar, serta waktu operasional yang panjang. Kondisi
tersebut menuntut penggunaan oli dengan kualitas tinggi agar mesin tetap bekerja secara
optimal dan tidak mudah mengalami kerusakan. Oleh karena itu, pemilihan oli untuk
Seiring dengan meningkatnya kebutuhan akan oli, industri pelumas kendaraan juga
mengalami perkembangan yang cukup pesat. Banyak perusahaan yang menawarkan berbagai
jenis oli dengan keunggulan dan klaim masing-masing. Persaingan antar perusahaan pelumas
pun semakin ketat, baik untuk segmen kendaraan umum maupun kendaraan berat. Kondisi ini
membuat konsumen, termasuk perusahaan tambang, menjadi lebih selektif dalam memilih oli
yang digunakan, karena kesalahan dalam memilih produk dapat berdampak besar pada
2
PT Indo Jaya Perkasa Lubricant merupakan salah satu perusahaan yang bergerak di
bidang distribusi dan pemasaran oli pelumas yang berlokasi di Jalan A. Yani Km 1 No. 91,
Perusahaan ini dikenal memasarkan produk oli yang banyak digunakan untuk kendaraan
heavy duty (HD), khususnya mobil tambang. Dengan fokus pada segmen kendaraan berat, PT
Indo Jaya Perkasa Lubricant memiliki karakteristik pasar yang berbeda dibandingkan
Dalam menghadapi persaingan di pasar oli kendaraan berat, PT Indo Jaya Perkasa
Lubricant tidak hanya dituntut untuk menyediakan produk, tetapi juga harus mampu
meyakinkan konsumen bahwa oli yang ditawarkan memiliki kualitas yang sesuai dengan
kebutuhan operasional kendaraan tambang. Kualitas produk menjadi salah satu faktor utama
yang dipertimbangkan oleh konsumen, karena oli untuk kendaraan HD harus mampu bekerja
dalam tekanan tinggi, suhu ekstrem, serta durasi penggunaan yang lama.
Selain kualitas produk, citra merek juga menjadi faktor penting dalam menarik minat
beli konsumen. Dalam konteks kendaraan tambang, citra merek sering kali berkaitan dengan
keandalan, ketahanan, dan kepercayaan. Konsumen cenderung memilih merek oli yang sudah
memiliki reputasi baik dan dianggap mampu menjaga performa mesin kendaraan berat. Citra
merek yang positif dapat memberikan rasa aman bagi konsumen dalam menggunakan
produk, terutama untuk kendaraan yang memiliki nilai investasi tinggi seperti mobil tambang.
dipengaruhi oleh bagaimana konsumen menilai kualitas produk yang digunakan serta
bagaimana citra merek perusahaan terbentuk di benak mereka. Jika kualitas oli yang
digunakan terbukti mampu mendukung kinerja kendaraan HD dengan baik dan citra merek
perusahaan dinilai positif, maka minat beli konsumen akan cenderung meningkat.
3
Sebaliknya, jika kualitas produk dirasa kurang atau citra merek belum kuat, hal tersebut dapat
menurunkan minat beli konsumen meskipun produk ditawarkan dengan harga yang
kompetitif.
secara lebih mendalam faktor-faktor yang memengaruhi minat beli konsumennya, khususnya
terkait kualitas produk dan citra merek. Pemahaman ini penting agar perusahaan dapat
menyusun strategi pemasaran dan pengembangan produk yang lebih sesuai dengan
Oleh karena itu, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Analisis
Pengaruh Kualitas Produk dan Citra Merek terhadap keputusan pembelian Oli di PT
Indo Jaya Perkasa Lubricant Banjarmasin.” Penelitian ini diharapkan dapat memberikan
gambaran yang jelas mengenai bagaimana kualitas produk dan citra merek memengaruhi
minat beli konsumen, khususnya pada segmen kendaraan HD dan tambang, serta dapat
menjadi bahan pertimbangan bagi perusahaan dalam meningkatkan daya saing dan kinerja
1. Apakah kualitas produk berpengaruh terhadap keputusan pembelian oli di pt. indo
2. Apakah citra merek berpengaruh terhadap keputusan pembelian oli di pt. indo jaya
4
1.3 Tujuan penelitian
2. Untuk mengetahui citra merek berpengaruh terhadap keputusan pembelian oli di pt.
3. Untuk mengetahui kualitas produk dan citra merek berpengaruh terhadap keputusan
1. Manfaat Teoritis
pemasaran, khususnya mengenai pengaruh kualitas produk dan citra merek terhadap
keputusan pembelian. Selain itu, hasil penelitian ini dapat mendukung dan memperkuat teori-
2. Manfaat Praktis
Sebagai bahan pertimbangan dalam meningkatkan kualitas produk dan memperkuat citra
c. Bagi Penulis
5
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Kualitas merupakan konsep terpenting dalam menciptakan suatu produk. Produk yang
berkualitas adalah produk yang diterima oleh pelanggan sesuai dengan kebutuhan dan
keinginan pelanggan. Menurut Kotler (2009:54) produk adalah segala sesuatu yang dapat
ditawarkan ke dalam pasar untuk diperhatikan, dimiliki, dipakai atau dikonsumsi sehingga
dapat memuaskan keinginannya atau kebutuhannya. Oleh karena itu perusahaan harus
mengerti apa yang menjadi kebutuhan dan keinginan konsumen. Menurut Kotler dan
Armstrong (2011:258): “Product quality stands the ability of a product to perform its
function. It is includes the product’s overall durability, reliability, precision, ease of operation
and repair, and other value attributes. Some of these attributes can be measured objectively.
From a marketing point of view, however, quality should be measured in term of buyer’s
perception.” Dapat diartikanbahwa kualitas suatu produk adalah kemampuan yang bisa
dinilai dari suatu produk didalam menjalankan fungsinya, yang merupakan suatu gabungan
dari daya tahan, keandalan, ketepatan, kemudahan pemeliharaan serta atribut-atribut lainnya
dari suatu produk. Dari segi pemasar kualitas harus diukur dari sudut penglihatan dan
tanggapan pembeli terhadap kualitas itu sendiri. Dalam hal ini selera pribadi sangat
mempengaruhi. Oleh karena itu secara umum dalam mengelola kualitas produk, harus sesuai
dengan kegunaan yang diharapkan. Menurut Kotler (2012: 432) suatu produk dapat
dievaluasi melalui 5 tingkatan produk, yaitu: 1. Core benefit, namely the fundamental service
of benefit that the consumer is really buying, maksudnyabahwacore benefit (manfaat inti),
yaitu manfaat utama yang diinginkan oleh seorang konsumen dalam membeli suatu produk.
6
2. Generic product, namely a basic version of the product, maksudnyabahwa generic product
(produk dasar) yaitu gambaran fisik pada suatu produk 3. Expected product, namely a set of
attributes and conditions that buyers normally expected and agree to purchase that product,
maksudnyabahwa produk yang diharapkan, yaitu sejumlah atribut dan keadaan yang
umumnya diharapkan dan disetujui oleh pembeli pada saat membeli produk tersebut. 4.
Augmented product, namely one that includes additional service and benefits that company’ s
offer from competitor’s offers, maksudnyabahwa manfaat tambahan produk, yaitu suatu
produk yang dapat membedakan produk tersebut dengan produk pesaing. 5. Potential
product, namely all of the augmentations and transformations that this product might
ultimately undergo in the future, maksudnyabahwa potensi produk, yaitu perluasan perubahan
yang mungkin dialami oleh suatu produk di masa yang akan datang. Menurut Akbar (2012:
6), indikator yang digunakan untuk mengukur kualitas produk antara lain : 1. Kemudahan
Menurut (AMILIA, 2017) kualitas dari suatu produk menjadi bagian dari
acuanpositioning paling utama teruntuk pemasar. Kinerja produk atau jasa dipengaruhi
secaralangsung oleh kualitas produk, sehingga kualitas secara tegas diidentifikasikan melalui
nilai dan kepuasan konsumen. Bagi sebuah perusahaan, produk mempunyai peranyangsangat
penting karena perusahaan tidak mampu menjalankan usahanya tanpa adanyasebuah produk.
Maka pembuatan suatu produk akan lebih baik jika ditempatkanpadaminat pasar atau selera
maupun kebutuhan pembeli. Dipaparkan dalam(Philip Kotler, 2008) mutu produk ialah
yang diungkapkan maupun tersirat. Adapun menurut Siemens kualitas adalah keadaan ketika
konsumen dari produk tersebut kembali namunproduk tersebut tidak kembali (Philip Kotler,
2008). Sementara menurut (Anggraeni &Soliha, 2020) Kualitas barang adalah pentingnya
nilai yang berpacu pada pelanggansehingga dapat disimpulkan jika pelayanan atau produk
7
penjual telah memenuhi ataumelebihi asumsi dari pelanggan artinya penjual tersebut telah
memberikan kualitas dari produknya. Kualitas produk dalam kerangka ISO 9000
didefinisikan sebagai “ciri dankarakter menyeluruh dari suatu produk atau jasa yang
berarti bahwa kita harusdapat mengidentifikasikan ciri dan karakter produk yang
berhubungan dengan mutudankemudian membuat suatu dasar tolok ukur dan cara
Menurut Kotler and Armstrong arti dari kualitas produk adalah “the ability of a product
to perform its functions, it includes the product’s overall durability, reliability, precision, ease
of operation and repair, and other valued attributes” yang artinya kemampuan sebuah produk
ketepatan, kemudahan pengoperasian dan reparasi produk juga atribut produk lainnya.
Menurut Tjiptono (2009: 54) kualitas produk mempunyai hubungan yang sangat erat dengan
sikap konsumen, dimana kualitas produk memberikan suatu dorongan kepada konsumen
untuk menjalin ikatan yang kuat dengan perusahan. Dengan adanya kualitas produk yang
baik inilah yang akan membuat para konsumen puas dan percaya. Konsumen akan membeli
produk kalau mereka tertarik dan merasa cocok, karena itu produk harus disesuaikan dengan
keinginan ataupun kebutuhan pembeli agar pemasaran produk berhasil (Hayati, 2015:50).
Kualitas produk adalah salah satu faktor yang mempengaruhi keputusan pembelian.
Sebuah perusahaan harus memperhatikan kualitas produk yang diciptakannya, karena kualitas
produk merupakan suatu faktor penting yang mempengaruhi keputusan para konsumen dalam
melakukan pembelian sebuah produk atau jasa. Semakin baik kualitas suatu produk, maka
akan semakin meningkat minat para konsumen untuk membeli produk tersebut. Dengan
memberikan kualitas produk yang baik, sebuah perusahaan dapat lebih unggul dibandingkan
para pesaingnya. Oleh karena itu sebuah perusahaan harus dapat memahami keinginan
8
konsumen sehingga dapat menciptakan produk dengan kualitas yang baik dan sesuai dengan
quality) adalah karateristik produk atau jasa yang bergantung pada kemampuannya untuk
Menurut Kotler (2012) kualitas produk adalah kemampuan sebuah produk dalam
kemudahan pengoperasian, dan reparasi produk juga atribut produk lainnya. Kualitas produk
merupakan salah satu faktor penentu keputusan pembelian karena kualitas produk yang baik
akan menciptakan, mempertahankan dan menjadikan konsumen loyal. Menurut Riyono dan
Gigih Erlik Budiharja (2016) kualitas produk adalah segala sesuatu yang dapat ditawarkan ke
pasar untuk mendapatkan perhatian, dibeli, dipergunakan atau dikonsumsi yang dapat
memuaskan keinginan atau kebutuhan. Pembuatan produk lebih baik diorientasikan pada
keinginan pasar atau selera konsumen. Produk yang dirancang perusahaan harus memiliki
kualitas yang baik, serta wajib dikomunikasikan secara terus menerus kepada konsumen. Hal
ini harus dilakukan agar produk tetap berada didalam ingatan konsumen bahkan menjadi
pilihan utama konsumen. Satu-satunya atribut yang sulit ditiru adalah merek yang kuat.
Perusahaan atau produk yang memiliki merek yang kuat cederung lebih mudah memenuhi
kebutuhan dan keinginan sesuai dengan persepsi konsumen. Perusahaan tersebut juga akan
lebih mudah menempatkan (positioning) produk yang lebih baik di benak konsumen
(Rangkuty, 2014).
9
2.1.2 Citra Merek
Menurut Kotler dan Amstrong (2012) citra merek adalah apa yang konsumen pikirkan
dan rasakan ketika mendengar atau melihat nama suatu merek. Image konsumen yang
pembelian. Brand yang lebih baik juga menjadi dasar untuk membangun citra perusahaan
yang positif. Citra merek adalah penilaian konsumen terhadap merek tersebut dalam
sebuah pasar. Penciptaan tersebut dapat tercipta berdasarkan pengalaman pribadi maupun
mendengar reputasinya dari orang lain atau media (Sangadji dan Sopiah, 2013).
terhadap perusahaan atau produknya. Citra dipengaruhi oleh banyak faktor yang di luar
kontrol perusahaan. Citra yang efektif akan berpengaruh terhadap tiga hal yaitu :
pertama, memantapkan karakter produk dan usulan nilai. Kedua, menyampaikan karakter
itu dengan cara yang berbeda sehingga tidak dikacaukan dengan karakter pesaing.
Ketiga, memberikan kekuatan emosional yang lebih dari sekadar citra mental. Supaya
bisa berfungsi citra harus disampaikan melalui setiap sarana komunikasi yang tersedia
Menurut P. Kotler & Keller (2018) Citra merek adalah persepsi dan keyakinan yang
dipegang oleh konsumen, seperti yang di cerminkan asosiasi yang tertanam dalam
ingatan konsumen, yang selalu di ingat pertama kali saat mendengar slogan dan tertanam
di benak konsumennya. Menurut Xian (2011) berpendapat bahwa brand image terdiri
dari tiga komponen yakni: Corporate Image (Citra Perusahaan), User Image (Citra
Menurut Alma (2013:147) merek atau cap adalah suatu tanda atau simbol yang
memberikan identitas suatu barang/jasa tertentu yang dapat berupa kata-kata, gambar
10
atau kombinasi keduanya. Merek merupakan salah satu faktor penting dalam kegiatan
pemasaran karena kegiatan memperkenalkan dan menawarkan produk atau jasa tidak
terlepas dari merek yang dapat diandalkan. Kartajaya (2009:121) mendefinisikan merek
adalah asset yang menciptakan value bagi pelanggan dengan meningkatkan kepuasan dan
menghargai kualitas. Kotler dan Keller (2012:274) menyatakan citra merek adalah cara
masyarakat menganggap merek secara aktual. Agar citra dapat tertanam dalam pikiran
dan kontak merek yang tersedia. Citra merek merupakan persepsi masyarakat terhadap
perusahaan atau produknya. Menurut Tjiptono (2011:112) brand image adalah deskripsi
pendukung terbentuknya Brand Image dalam keterkaitannya dengan asosiasi merek yaitu
(Keller, 2003): keunggulan asosiasi merek, kekuatan asosiasi merek, dan keunikan
asosiasi merek.
Citra merek adalah persepsi masyarakat terhadap perusahaan atau produknya. Yang
pada akhirnya, citra merek tetap memegang peranan penting terhadap keputusan
tanggapan berbedaberbeda terhadap citra perusahaan atau merek. Citra dipengaruhi oleh
beberapa faktor yang di luar kontrol perusahaan. Citra yang efektif akan berpengaruh
terhadap tiga hal yaitu memantapkan karakter produk dan usulan nilai, lalu
menyampaikan karakter itu dengan cara yang berbeda sehingga tidak dikacaukan dengan
karakter pesaing, kemudian memberikan kekuatan emosional yang lebih dari sekedar
citra merek.
Citra merek merupakan representasi dari keseluruhan persepsi terhadap merek dan
dibentuk dari informasi dan pengetahuan terhadap merek itu. Citra terhadap merek
berhubungan dengan sikap yang berupa keyakinan dan preferensi terhadap suatu merek.
11
Konsumen yang memiliki citra yang positif terhadap suatu merek akan lebih
memungkinkan untuk melakukan pembelian (Buchari, 2004). Citra merek (brand image)
memiliki beberapa fungsi, di antaranya sebagai pintu masuk pasar (market entry), sumber
nilai tambah produk (source of added product value), penyimpan nilai perusahaan
(corporate store of value), dan kekuatan dalam penyaluran produk (channel power). Citra
merek juga memungkinkan perusahaan untuk mengembangkan merek dari satu pasar
produk ke pangsa pasar lain melalui perluasan merek (Aaker, 1989; Aaker & Keller,
1990; Boush & Loken, 1991; Tauber, 1988). Strategi ekstensi merek (brand extension)
telah menjadi semakin menarik sebagai cara untuk mengurangi biaya yang luar biasa dari
Dipaparkan oleh Kotler dalam (Aldoko, Suharyono, & Yuliyanto, 2016) keputusan
pembelian ialah membeli merek yang sangat diminati, namun dua komponenbisa
terdapat di antara tujuan pembelian dan pilihan pembelian. Bisa dikatakan, setiapindividu
memiliki metode pengambilan keputusan yang nyaris serupa. Meski begitu, terdapat
antaranya adalah usia, karakter, pendapatan, serta gaya hidup. Seperti yangdijelaskan
oleh Peter dan Olson dalam (Asrizal & Muhammad, 2018) beranggapanbahwa pilihan
suatu pilihan di sekitar dua praktik elektif dan memilih salahsatunya. Singkatnya,
keputusan elektif untuk mencapai pemikiran kritis tertentu. (PhilipKotler & Kevin Lane
12
Untuk memutuskan suatu pembelian biasanya konsumen melalui beberapa tahap
terlebih dahulu yaitu (Kotler, 2016) : a. Pengenalan Masalah: proses pembelian dimulai
ketika pembeli menyadari suatu masalah atau kebutuhan yang dipicu oleh rangsangan
internal atau eksternal. Dengan rangsangan internal, salah satu dari kebutuhan normal
seseorang-rasa lapar, haus, seks-naik ke tingkat maksimum dan menjadi doorngan ; atau
mobil baru tetangga atau melihat iklan televisi untuk liburan ke Hawai, yang memicu
terbatas. Kita dapat membedakan antara dua tingkat keterlibatan dengan pencarian.
Keadaan pencarian yang lebih rendah disebut perhatian tajam. Pada tingkat ini seseorang
hanya menjadi lebih reseptif terhadap informasi tentang suatu produk. Pada tingkat
berikutnya, seseorang dapat memasuki pencarian informasi aktif, mencari bahan bacaan,
menelpon teman, melakukan kegiatan online, dan mengunjungi toko untuk mempelajari
produk tersebut.
c. Evaluasi Alternatif: Beberapa konsep dasar yang akan membantu kita memahami
konsumen mencari manfaat tertentu dari solusi produk. Ketiga, konsumen melihat
merek dalam kumpulan pilihan. Konsumen mungkin juga membentuk maksud untuk
membeli merek yang paling disukai. Dalam melaksanakan maksud pembelian, konsumen
13
dapat membentuk lima subkeputusan merek (merek A), penyalur (penyalur 2), Kuantitas
(satu komputer), waktu (akhir minggu) dan metode pembayaran (kertu kredit).
menyenangkan tentang merek lain dan waspada terhadap informasi yang mendukung
keputusannya. Kita juga dapat membedakan peran yang dimainkan orang dalam
keputusan pembelian (Sunyoto & Admojo, 2014): a. Pencetus ide (initiator) : Orang yang
pertama kali mengusulkan untuk membeli produk atau jasa tertentu . b. Pemberi
pembelian.
konsumen mengenai preferensi atas merek-merek yang ada di dalam kumpulan pilihan.
Proses keputusan pembelian terdiri dari lima tahap yaitu pengenalan masalah, pencarian
Sekarang ini sering di temukan produk atau jasa yang beredar di pasaran tidak memiliki
strategi pemasaran terutama strategi kualitas produk dan citra merek yang baik. Para
produsen yang menjual produk tanpa melihat kualitas produk biasanya hanya ingin
pembelian adalah semua pilihan yang mungkin untuk memecahkan persoalan itu dan
14
2.2 Tinjauan Empiris
terkait dengan kualitas produk dan citra merek. Melihat masalah dan judul penelitian
yang akan diteliti, maka diperlukan pemaparan penelitian terdahulu guna memperkaya
tahun
tersebut berpengaruh
terhadap keputusan
15
2 ANIEK FATLAHAH PENGARUH Hasil penelitian berdasarkan Uji
KEPUTUSAN
PEMBELIAN
MINUMAN
FRESTEA
16
4 Rizky Agung PENGARUH Hasil penelitian ini menunjukan
SEMARANG
KEPUTUSAN
PEMBELIAN
SMARTPHONE
IPHONE PADA
MAHASISWA
UNIVERSITAS
PANCASILA.
17
2.3 Kerangka berpikir
atau lebih. Berdasarkan konsep pendapat tersebut. Dalam penelitian ini, akan
elemen berikut:
Kualitas produk
(X1)
Keputusan Pembelian
(Y1)
Citra Merek
(X2)
2.4 Hipotesis
keputusan pembelian
18
BAB III
METODE PENELITIAN
asosiatif kausal. Metode kuantitatif digunakan karena penelitian ini bertujuan untuk
antara variabel independen dengan variabel dependen. Dalam penelitian ini, variabel
independen terdiri dari kualitas produk (X1) dan citra merek (X2), sedangkan
Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan sejauh mana kualitas produk dan citra
Tempat penelitian ini berlokasi di Jalan A. Yani Km 1 No. 91, Sungai Baru,
3.3.1 Populasi
Menurut Sugiyono (2019), populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas
objek atau subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh
19
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh konsumen PT Indo Jaya Perkasa Lubricant
Banjarmasin yang pernah membeli dan menggunakan produk oli yang dipasarkan oleh
perusahaan tersebut.
3.3.2 Sampel
Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut.
Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah purposive sampling,
1. Konsumen yang pernah membeli oli di PT Indo Jaya Perkasa Lubricant Banjarmasin
Variabel penelitian adalah suatu atribut atau sifat atau nilai dari orang atau kegiatan
yang mempunyai variasi tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian
1. Variabel Independen
Variabel independen atau variabel bebas merupakan variabel yang mempengaruhi atau
20
variabel independen pada penelitian ini adalah kualitas produk (X1) dan citra merek
(X2).
2. Variabel Dependen
Variabel dependen atau variabel terikat merupakan variabel yang dipengaruhi atau yang
menjadi akibat, karena adanya variabel bebas (Sugiono:2017:39). Yang menjadi variabel
Kualitas produk dan citra merek akan digunakan sebagai variabel bebas serta
keputusan pembelian sebagai variabel terikat dalam penelitian ini. Hasil penelitian ini
akan memberikan informasi yang diperlukan untuk dimasa yang kan datang.
dalam penelitian ini, salah satu syarat yang harus dijelaskan terlebih dahulu adalah
operasional variabel, karena hubungan antara setiap variabel dapat diuji dengan mengacu
kepada operasional variabel. Variabel operasional disebut variabel yang dalam setiap
penelitian selalu dibatasi dengan pengertiannya secara operasional, dan dapat digunakan
Variabel yang akan dibahas pada penelitian ini yaitu kualitas produk dan citra merek
dan keputusan pembellian yang akan dipaparkan dalam sebuah tabel di bawah ini:
Operasional
21
fungsinya sesuai tahan, kejelasan
konsumen keseluruhan
PT Indo Jaya
Perkasa Lubricant
kepuasan pasca
pembelian
Menurut Sugiyono (2019) instrumen penelitian adalah suatu alat yang digunakan
untuk mengukur fenomena alam maupun sosial yang diamati. Penelitian ini menggunakan
data interval, yaitu dengan skala likert. Skala likert menurut Sugiyono (2019) digunakan
untuk mengukur sikap, pendapat, dan persepsi seseorang atau sekelompok orang tentang
fenomena sosial. Dengan skala likert, maka variabel yang akan diukur dijabarkan menjadi
indikator variabel. Responden diminta mengisi daftar pernyataan. Jumlah kategori dalam
skala likert sebanyak lima dan pernyataan yang menghasilkan jawaban setuju hingga sangat
tidak setuju.
22
3.6 Teknik Pengumpulan Data
Dalam penelitian ini akan menggunakan sumber data dan informasi yang diperoleh
1. Data primer Data primer adalah data informasi yang diperoleh dari tangan pertama
yang dikumpulkan secara langsung dari sumbernya. Data primer ini adalah data yang paling
asli dalam karakter dan tidak mengalami perlakuan statistik apa pun. Untuk mendapatkan
data primer, peneliti harus melakukan pengumpulan data informasi secara langsung melalui
teknik observasi, wawancara, diskusi terfokus, dan penyebaran kuesioner. Sumber data yang
dipakai peneliti adalah sumber data primer, data primer didapat melalui angket(kuesioner)
sebagai penelitian
3. Data sekunder
Data kutipan Zefti (2019:111) data sekunder adalah data yang didapatkan secara tidak
langsung dari objek penelitian. Data sekunder yang diperoleh adalah dari sebuah situs
internet. Ataupun dari sebuah referensi yang sama dengan apa yang sedang diteliti oleh
penulis. Teknik pengumpulan data merupakan suatu cara yang ditempuh dan alat-alat
yang digunakan dapat terkumpul oleh peneliti dalam mengumpulkan datanya, sehingga
data yang diharapkan dapat terkumpul dan benar-benar relevan dengan fenomena
suatu prosedur yang sistematis dan standar untuk memperoleh data yang diperlukan.
Dalam penelitian ini peneliti menggunakan teknik pengumpulan data sebagai berikut:
a. Kuesioner
Kuesioner adalah merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara
23
dijawabnya. Kuesioner merupakan teknik pengumpulan data yang efisien bila peneliti tahu
dengan pasti variabel yang akan diukur dan tahu apa yang bisa diharapkan dari responden.
Selain itu, kuesioner juga cocok digunakan bila jumlah responden cukup besar dan tersebar di
wilayah yang luas. Kuesioner dapat berupa pertanyaan, pernyataan tertutup atau terbuka,
dapat diberikan kepada responden secara langsung atau dikirim melalui pas atau internet
(Sugiono:2024:219)
Pengujian yang dipakai dalam penelitian ini adalah kuesioner yang berisi daftar
pertanyaan. Metode pengumpulan data kuesioner dalam penelitian ini adalah dengan
menggunakan metode Likert. Menurut Sugiono (2016:228). Skala Likert digunakan untuk
mengukur sikap, pendapat, dan persepsi seseorang atau kelompok orang tentang renomena
sosial. Skala Likert digunakan untuk mengukur sikap, pendapat, dan persepsi seseorang atau
5 Sangat Setuju
4 Setuju
3 Netral
2 Tidak Setuju
1 SangatTidak Setuju
24
[Link] Uji Validitas
uji validitas adalah menunjukkan sejauh mana suatu alat dapat digunakan untuk
mengukur uji validitas jika r hitung > r tabel. Untuk menguji apakah tiap instrumen
benar-benar mampu mengungkap faktor yang akan diukur atau konsistensi internal
tiap item alat ukur dalam mengukur suatu faktor. Jika r hitung lebih besar dari r tabel
dan nilai r positif, maka butir pertanyaan dikatakan valid. Menurut Sugiono
(2017:121). “Instrumen yang valid berarti alat ukur yang digunakan untuk
mendapatkan data itu valid. Valid berarti instrumen tersebut dapat digunakan untuk
mengukur apa yang seharusnya diukur” Sebagai tambahan pendapat dari Sugiono
(2017:133) berpendapat tentang uji validitas suatu kuesioner “Syarat minimum untuk
dianggap memenuhi syarat adalah kalau r 0,3”. Jadi kalau korelasi antara butir
dengan skor total kurang dari 0,3, maka butir dalam instrumen tersebut dinyatakan
tidak valid. Uji validitas dilakukan pada data yang telah dikumpulkan dari 75
pelanggan oli pt. indo jaya perkasa lubricant. Pengumpulan data dari 75 responden
penelitian. Adapun uji validitas ini dilakukan dengan menggunakan SPSS dan
Uji reliabilitas dilakukan terhadap pertanyaan yang sudah valid untuk menentukan
seberapa konsisten hasil pengukuran apabila gejala yang sama diukur dua kali atau
lebih dengan alat ukur yang sama. Menurut Sugiono (2017:130) yang berpendapat
tentang uji reliabilitas menyatakan bahwa uji reliabilitas adalah sejauh mana hasil
pengukuran dengan menggunakan objek yang sama, akan menghasilkan data yang
sama. Adapun menurut pendapat lain seperti Ghozali dalam Ida & Musyarofah
(2021) menyatakan bahwa reliabilitas adalah alat untuk mengukur suatu kuesioner
25
yang merupakan indikator dari perubah atau konstruk. Suatu kuesioner dikatakan
reliabel atau handal jika jawaban seseorang terhadap pernyataan adalah konsisten
atau stabil dari waktu ke waktu. Reliabilitas suatu tes merujuk kepada derajat
reliabilitas yang tinggi adalah pengukuran yang dapat menghasilkan data yang
reliabel. Tinggi rendahnya suatu reliabilitas, menurut secara empirik ditunjukkan oleh
suatu angka yang disebut dengan nilai koefisien reliabilitas. Reliabilitas yang tinggi
reliabilitas yang dianggap sudah cukup memuaskan jika > 0.70. Jika nilai alpha >0.70
artinya reliabilitas mencukupi, sementara jika nilai alphe >0.80 ini mensugestikan
seluruh item reliabel dan seluruh butir instrumen tes secara konsisten memiliki
reliabilitas yang kuat. Atau, ada pula yang memaknakannya sebagai berikut: jika
alpha >0.90 maka reliabilitas sempurna. Jika alpha antara 0.70 - 0.90 maka
reliabilitas tinggi. Jika alpha ada diantara 0.50 - 0.70 maka tingkat reliabilitasnya
moderat. Jika aplha berada mengukur reliabilitas suatu konstruk dengan indikator
bantuan SPSS.
Analisis regresi linear berganda digunakan untuk mengetahui besarnya pengaruh kualitas
Y=a+b1X1+b2X2+e
26
[Link] Uji Hipotesis
1. Uji t (Parsial)
dependen.
2. Uji F (Simultan)
variabel dependen.
dependen
27
DAFTAR PUSTAKA
[Link]
[Link]
[Link]
[Link]
[Link]
[Link]
[Link]
[Link]
[Link]
[Link]?1654327443=&response-content-
disposition=inline%3B+filename%3DPengaruh_Citra_Merek_Terhadap_Keputusan.p
df&Expires=1766767311&Signature=Syk1FFqaxIljxty0jhV4KJi1SvCv2TWTdPwAn9x
tvfy1IwqZEDoz3K5PWEFC5Qy7ka7C5uAfQWe5hVZr1bJ0aWZQ68HE-
d9GOUw9X60fFl~65tPhbNzmjVMW4mlp2zkRj1pNhNJXPicnY7vpX5aN6lmUZ96-
KLg0mkbGsnTUTzh6LulRLhN6CkV8TF8bOz9G7X46FnBBek-vH9uGrR-
IxH2UBMPm309-
qzfJAd1a5d2krSvtxmfDi0ULGMfdkz8T4wXNhyi2HhBuSYgxM1vpXe4~XKqMWSw1
EqU~7pIJm3NepEotHAs0XwTWKFH2fSxJ3QFEozIgFqmvaWdFkYiyUQ__&Key-
Pair-Id=APKAJLOHF5GGSLRBV4ZA
[Link]
[Link]
28