CGP Angkatan 6 dari Kota Depok
Assalamualaikum [Link].
Hallo .., Salam Guru Penggerak, Salam Bahagia
Perkenalkan nama saya Titik Sunarsih CGP Angkatan 6 dari Kota Depok.
Ijinkan saya untuk memaparkan hasil Koneksi Antar Materi Modul 3.3 tentang
Pengelolaan Program yang Berdampak Positif pada Murid.
Kutipan
Kreativitas hanyalah menghubungkan berbagai hal. Ketika Anda bertanya
kepada orang-orang kreatif bagaimana mereka melakukan sesuatu, mereka
merasa sedikit bersalah karena mereka tidak benar-benar melakukannya,
mereka hanya melihat sesuatu. Sesuatu itu tampaknya jelas bagi mereka
setelah beberapa saat. Itu karena mereka dapat mengkoneksikan
pengalaman yang mereka miliki dan mensintesis halhal baru.”
“Steve Jobs”
Tujuan Khusus :
CGP dapat melakukan koneksi antar materi yang telah dipelajari dari modul-
modul sebelumnya untuk membuat sintesa pemahaman tentang program
sekolah yang berdampak pada murid.
1. Bagaimana perasaan Anda setelah mempelajari modul ini?
Perasaan
Perasaan Saya dalam mempelajari Modul 3.3 dengan materi Pengelolaan
Program yang Berdampak Positip pada Murid, adalah sangat Bahagia, karena
mendapatkan ilmu yang sangat bermanfaat. Program yang berdampak
positip pada murid sangat didambakan oleh sekolah, karena pada dasarnya
seluruh sekolah adalah untuk mendidik murid menjadi lebih baik, sehingga
program sekolah sudah selayaknya berdampak positip bagi murid.
Sebelum saya mempelajari modul ini, di sekolah selama ini melaksanakan
program dengan menyesuaikan pengelolaan keuangan yang sesuai dengan
rancangan yang disetujui, bukan pada kebutuhan yang semestinya murid
dapatkan, namun setelah mempelajari modul ini saya menjadi tergerak
bahwa program sekolah tidak seluruhnya harus menggunakan aset finansial.
Namun justru menggerakkan atau mengembangkan aset yang ada, dan
dapat dikembangkan dengan semaksimal mungkin tanpa harus memaksakan
diri untuk penggunaan finansial sekolah.
Keterkaitan dengan proses belajar
Secara pribadi selama ini saya seorang guru Bimbingan Konseling sudah
melaksanakan assessment kebutuhan murid, namun dalam pelaksanaan
yang berpihak pada murid belum bersinergi secara keseleruhan, masih
banyak guru yang mengedepankan pengetahuan sehingga perlu adanya
berbagi ilmu tentang pembelajran yang berpihak pada murid. Saya ingin
melaksanakan pelayanan yang berbasis kebutuhan murid, dengan adanya
program berdampak pada murid ini maka angan angan saya terealisasikan
bahwa pelayanan pada murid dapat dimaksimalkan dengan bersinergi pada
program sekolah yang berdampak pada murid.
Emosi pengalaman belajar
Selama ini banyak ide dan gagasan saya untuk dapat mengembangkan
potensi anak dengan bakat minat anak, namun selalu terbentur dengan
kegiatan yang bukan termasuk dalam rencana sekolah atau pendanaan
sekolah, sehingga rasa kecewa terjadi, namun dengan adanya mengikuti PGP
ini saya semangat untuk menggerakkan program yang sesuai dengan impian
anak dan berharap dapat berkolaborasi dengan seluruh warga sekolah tanpa
harus dengan mengeluarkan banyak biaya namun dengan asset yang ada
disekolah untuk dioptimalkan.
Dalam memberikan pelayanana atau pembelajaran di kelas sering mengalami
kekecewaan dengan ditemukan siswa yang pasif atau tidak semangat
belajar. Perlu adanya penyegaran dalam pemberian pembelajaran yang
sesuai dengan kemampuan murid atau gaya belajar murid, karena karakter
murid berbeda dan kemaampuannya pun berbeda.
Keterkaitan dengan kompetensi diri
Nilai dan peran guru penggerak sangat dibutuhkan dalam mengelola sebuah
program yang berdampak pada murid. Adanya keinginan diri yang tergerak,
bergerak dan menggerakkan komunitas sekolah untuk membuat program
yang berdampak pada murid. CGP hendaknya selalu melaksananakan nilai
dan peran sebagai guru penggerak yang dapat menciptakan kepemimpinan
Murid. Dalam Guru penggerak melakukan yang terbaik untuk murid, hal ini
dapat mendorong saya terus belajar untuk mendorong kepemimpinan murid
dan menciptakan profil pelajar Pancasila.
Sebagai seorang guru perlu pengembangan diri untuk selalu mengikuti
perkembangan jaman, untuk dapat memberikan pembelajaran pada murid
sesuai dengan keberpihakan ada murid. Terutama saya seorang guru BK
harus dapat menggali bakat minat dan juga potensi murid untuk dapat
mengembangkan potensinya agar selalu mengembangkan budaya positif,
dan juga dapat tercipta kepemimpinan murid dan profil pelajar Pancasila.
2. Apa intisari yang Anda dapatkan dari modul ini?
Inti sari modul 3.3 ini adalah
A. Student Agency (Kepemimpinan Murid)
Peran guru adalah mendampingi murid dalam mengembangakan potensi .
Empat sifat inti dari human agency adalah “IVAR”. IVAR yaitu I – Intensi =
Kesengajaan (intentionality), V – Visi = Pemikiran ke depan (forethought), A –
Aksi = Kereaktifan-diri (self-reactiveness), R – Refleksi = Kereflektifan-diri
(self-reflectiveness).
Kepemimpinan murid adalah tentang murid yang bertindak secara aktif, dan
membuat keputusan serta pilihan yang bertanggung jawab, daripada hanya
sekedar menerima apa yang ditentukan oleh orang lain. Ketika murid
menunjukkan agency dalam pembelajaran mereka sendiri, yaitu ketika
mereka berperan aktif dalam memutuskan apa dan bagaimana mereka akan
belajar, maka mereka cenderung menunjukkan motivasi yang lebih besar
untuk belajar dan lebih mampu menentukan tujuan belajar mereka sendiri.
Saat murid menjadi pemimpin dan mengambil peran aktif dalam proses
pembelajaran mereka sendiri, maka hubungan yang tercipta antara guru
dengan murid akan mengalami perubahan, karena hubungannya akan
menjadi bersifat kemitraan, dengan bantuan peran dari seluruh guru.
B. Menumbuhkembangkan Kepemimpinan Murid
Saat murid menjadi pemimpin dalam proses pembelajaran mereka sendiri,
maka mereka sebenarnya memiliki suara (voice), pilihan (choice), dan
kepemilikan (ownership) dalam proses pembelajaran mereka.
Implementasi Student Agency terlihat saat murid mendemonstrasikan
“student agency” ketika mereka mampu mengarahkan pembelajaran mereka
sendiri, membuat pilihan-pilihan, menyuarakan opini, mengajukan
pertanyaan dan mengungkapkan rasa ingin tahu, berpartisipasi dan
berkontribusi pada komunitas belajar, mengkomunikasikan pemahaman
mereka kepada orang lain, dan melakukan tindakan nyata sebagai hasil
proses belajarnya.
C. Kepemimpinan Murid dan Profil Pelajar Pancasila
Dalam student agency disebut juga sebagai “kepemimpinan murid” meliputi
Voice(suara), Choice (Pilihan), dan Ownership (Kepemilikan). Student Agency
ini dilaksanakan maka dapat menciptakan profil pelajar Pancasila.
Dalam profil pelajar Pancasila meliputi 6 dimensi yaitu
Beriman dan bertaqwa pada Tuhan YME dan berakhlak Mulia, Berkebinekaan
global, gotong royong, mandiri, bernalar kritis dan kreatif. Keenam dimensi ini
sebenarnya sudah sering diimplementasikan dalam lingkungan Pendidikan.
Perlu pengembangan Kembali pada murid akan implementasi dalam
kehidupan sehari-hari. Pembentukan profil pelajar Pancasila inilah perlu
adanya kolaborasi dari seluruh warga dan lingkungan untuk menciptakannya.
Diharapkan Program sekolah semuanya mencerminkan dimensi dalam profil
pelajar Pancasila.
3. Apa keterkaitan yang dapat Anda lihat antara Modul ini dengan
modul-modul sebelumnya?
Keterkaitan modul 3.3 dengan modul sebelumnya
Koneksi modul 3.3 dengan modul 1.1
Program yang berdampak Positip pada murid haruslah dilaksanakan atas
dasar filosofi KHD, yaitu melalui filosofi Ki Hajar Dewantara tentang
“menumbuhkan padi” bahwa dalam mewujudkan pembelajaran yang
berpusat pada murid, saya sebagai guru sudah memulai mencoba
merencanakan program yang mampu membangun ekosistem yang
mendukung pembelajaran murid sehingga mampu mengembangkan segala
potensi murid sesuai dengan kodratnya. Guru adalah fasilitator dalam
menuntun murid untuk dapat memberikan pembelajaran pada murid
sehingga mempunyai dampak positip pada murid.
Koneksi modul 3.3 dengan modul 1.2
Sebagai seorang guru, saya mencoba memahami nilai dan peran guru
penggerak, sehingga berharap nantinya mampu memainkan peran saya
sebagai agen perubahan, dengan senantiasa berperan aktif serta berupaya
menggerakkan ekosistem sekolah guna tercapainya pengelolaan program
sekolah yang berdampak pada murid untuk menumbuhkembangkan student
agency, dan menciptakan profil palajar Pancasila.
Koneksi modul 3.3 dengan modul 1.3
Dalam pembuatan program yang berdampak pada murid tidak terlepas dari
VISI sekolah. Dalam menerapkan visi guru penggerak, saya berupaya
merancang sebuah program atau kegiatan pembelajaran disekolah yang
tentunya murid menjadi pertimbangan utama saya, dengan harapan program
yang saya rancang dapat mendorong bertumbuhkembangnya kepemimpinan
murid (student agency), dimana salah satu perancangan program yang saya
buat menggunakan model inkuiri apresiatif dengan tahapan BAGJA.
Program yang berdampak pada murid inilah untuk mewujudkan VISI sekolah
dengan prakarsa perubahan yang sesuai dengan aset sekolah yang ada
untuk menciptakan profil pelajar Pancasila.
Baca Juga Dinamika politik Anies Baswedan
Koneksi modul 3.3 dengan modul 1.4
Dalam mengelola program yang berdampak positif bagi murid maka perlu
ditunjang dengan adanya budaya positif di sekolah sehingga program-
program yang dijalankan dapat berjalan dengan baik dan berkesinambungan
sehingga mampu menciptakan kepemimpinan murid (student agency), dan
profil pelajar Pancasila.
Koneksi modul 3.3 dengan modul 2.1
Dalam mewujudkan student agency maka pengelolaan program yang
berdampak pada murid harus mampu mengakomodir segala perbedaan
kebutuhan belajar murid mulai dari kesiapan, minat, dan profil belajar murid.
Perbedaan karakter anak inilah yang menjadi dasar dalam pemberian layanan
yang sesuai dengan kebutuhan anak. Dengan adanya perbedaan maka akan
memunculkan rasa keingintahuan, dan mempunyai ide gagasan serta
kepemilikan. Sehingga pembelajaran berdiferensiasi juga memunculkan
peran aktif, mengungkapkan pendapat, merefleksikan dan menghasilkan
produk dalam pembelajarannya. Hal ini juga sudah mencerminkan
implementasi dalam Student Agency.
Koneksi modul 3.3 dengan modul 2.2
Dalam merencanakan program yang berdampak pada murid, perlu
mengintegrasikan pembelajaran sosial dan emosional di dalamnya. Hal ini
dimaksudkan untuk menempatkan murid pada kesadaran penuh
(minfulness). Ketika murid sudah fokus, maka ia akan tenang, berempati,
termotivasi dan memiliki sikap tanggung jawab dalam menjalankan program
sehingga student agency akan tercipta.
Koneksi modul 3.3 dengan modul 2.3
Coaching sangat penting dilakukan sebagai langkah untuk menggali segala
potensi dan mengembangkan keaktifan murid sehingga ia akan mampu
untuk menemukan sendiri solusi atas permasalahan yang ia hadapi ketika
melaksanakan program sekolah yang berdampak pada murid untuk itu sikap
kreatif, inovatif dan kritis dari murid sangat diharapkan agar tercipta
kepemimpinan murid (student agency). Begitu juga dengan impian dan
harapan anak yang di dapat melalui coaching dengan anak semuanya akan
tersalurkan melalui program yang berdampak positip pada murid.
Koneksi modul 3.3 dengan modul 3.1
Dalam perancangan dan pembuatan program sekolah haruslah yang berpihak
pada murid, dan dapat dipertanggungjawabkan. Agar keputusan yang kita
ambil bersifat efektif dan efisien terkait rancangan program yang ingin
dilaksanakan tentunya keputusan tersebut harus memperhatikan 3 prinsip
berpikir, 4 paradigma pengambilan keputusan dan melakukan 9 langkah
pengajuan dan pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran. Hal
itu tentu saja untuk mengantisipasi ketika ada dilema etika ataupun bujukan
moral dalam penyelenggaraan kegiatan yang berdampak positif pada murid.
Koneksi modul 3.3 dengan modul 3.2
Dalam perencanaan dan pelaksanaan program yang berdampak pada murid
hendaknya menggunakan pendekatan berbasis aset sehingga dalam
melaksanakan program tersebut kita dapat memaksimalkan segala potensi
yang ada di sekolah. Dengan memaksimalkan segala potensi maka dapat
dipastikan program yang direncanakan akan berjalan dengan baik dan
berkesinambungan untuk menumbuhkan kepemimpinan murid (student
agency).
4. Setelah melihat keterkaitan antara modul ini dengan modul-modul
lainnya jelaskanlah perspektif Anda tentang program yang
berdampak positif pada murid. Bagaimana seharusnya program-
program atau kegiatan sekolah harus direncanakan, dilaksanakan,
dan dievaluasi agar program-program tersebut dapat berdampak
positif pada murid?
Setelah mempelajari modul ini prespektif kedepan akan program adalah
program yang berdampak positip pada murid, yaitu program yang
mengedepankan kepemimpinan murid, dengan menggunakan aset yang ada
disekolah sesuai dengan keputusan bersama yang mewujudkan visi sekolah.
Program seharusnya dibuat atas dasar impian dan harapan murid,
menggunakan aset yang ada disekolah untuk dioptimalkan. Program ini
melibatkan anak dan anak aktif langsung dalam merencanakan melaksanakan
dan mengevaluasi program. Semua bentuk program akan menciptakan
student agency dan menciptakan profil pelajar Pancasila.
Contoh program saya tentang program yang berdampak pada murid adalah
pengembangan literasi sekolah. Literasi yang selama ini dikembangkan masih
bersifat paksaan. Dalam satu tempat dikumpulkan diwajibkan membaca dan
merangkum. Hal ini sangat membosankan bagi para murid. Berdasarkan
impian murid, maka saya merencanakan literasi yang menyenangkan dengan
Program PILPEN ( pilihan Pendengar) yaitu program yang bersifat ko-
kurikuler yang dilaksankan saat istirahat dengan tidak mengganggu aktifitas
mereka dalam beristirahat. Dengan bekerjasama seluruh warga sekolah.
Pelaksanaannya adalah siswa dan guru menulis apa yang menjadi ide mereka
atau gagasan mereka dan sesuai dengan pilihan mereka mau Bahasa
Indonesia, inggris, atau sunda. Dan dalam penyiaraan di ruang osis nantinya
saat istirahat dilakukan oleh anak murid langsung sesuai dengan jadwalnya,
dengan dibantu oleh guru yang piket pula. Adapun evaluasinya setiap
minggunya oleh pembina osis. Dan setiap bulannya dirapikan seluruh ide
yang ditulis dalam bentuk buku dan ditaruh di perpustakaan sebagai hasil
literasi sekolah.
Kegiatan ini melibatkan murid berperan aktif dalam merencanakan dan
melaksanakan program. Saat proses pembuatan program juga murid
dilibatkan, dalam pelaksanaan program murid berperan aktif, dan saat
evaluasi murid diikut sertakan.
Rangkuman dari Materi modul 3.3 sesuai rubrik penilaian
A. Pemikiran reflektif terkait pengalaman belajar
1. Pengalaman/materi pembelajaran yang baru saja diperoleh
Pengalaman yang saya peroleh
Murid adalah aset manusia yang sangat berharga dalam proses
pembelajaran. Harapan dan keinginan guru sebagai fasilitator adalah
memunculkan potensi murid sesuai dengan minat dan bakatnya supaya
merangsang mereka untuk bersemangat dalam proses belajarnya sehingga
tumbuh tanggung jawab dengan apa yang mereka yakini. Selama ini saya
masih berfikir bahwa guru yang memegang kendali terhadap proses
pembelajaran murid, persepsi itulah yang menjadikan proses pembelajaran
seolah-olah dipaksakan anak harus mengikuti perintah guru, apa program
sekolah, sehingga muncul semacam keterpaksaan pada diri murid
mengerjakan penugasan yang diberian oleh guru.
Dalam modul 3.3 ini saya semakin memahami bahwa murid kita dapat
melakukan aktifitas pembelajaran lebih dari sekedar menerima perintah dari
guru. Murid secara alami adalah seorang pengamat, penjelajah, penanya,
yang memiliki rasa ingin tahu atau minat terhadap berbagai hal. Lewat rasa
ingin tahu serta interaksi dan pengalaman mereka dengan orang lain dan
lingkungan sekitarnya, mereka kemudian membangun sendiri pemahaman
tentang diri mereka, orang lain, lingkungan sekitar, maupun dunia yang lebih
luas. Sebenarnya murid juga memiliki kemampuan untuk mengambil bagian
atau peranan dalam proses belajar mereka sendiri. Setelah mempelajari
modul ini saya bertekad dengan merancang pembelajaran yang mampu
memberikan kesempatan kepada murid untuk mengembangkan potensinya
dalam mengelola pembelajaran mereka sendiri, sehingga potensi
kepemimpinannya dapat berkembang dengan baik. Saya juga akan membuat
Program yang berdampak pada murid sesuai impian murid.
2. Emosi-emosi yang dirasakan terkait pengalaman belajar
Pengalaman dalam proses pembelajaran setelah membaca dan memahami
berbagai modul dari pelatihan guru penggerak ini terutama pada modul 3.3
saya merasakan banyak sekali perubahan, terutama paradigma berfikir saya
sebagai seorang guru, ada rasa yang berbeda pada diri saya, muncul
keyakinan dan percaya diri saya tentang peran dan fungsi saya sebagai
seorang guru, guru adalah seorang seorang fasilitator sekaligus mitra belajar
bagi murid. Melalui modul ini pula saya semakin memahami bahwa tugas guru
bukan hanya sekedar memberikan materi kepada murid, tapi bagaimana
seorang guru mampu menggali, merancang, menemukan setiap potensi dari
setiap murid dikelasnya, kelas yang tercipta harus menyenangkan.
Melalui “student agency” murid menjadi mampu mengarahkan pembelajaran
mereka sendiri, membuat pilihan-pilihan, menyuarakan opini, mengajukan
pertanyaan dan mengungkapkan rasa ingin tahu, berpartisipasi dan
berkontribusi pada komunitas belajar, mengkomunikasikan pemahaman
mereka kepada orang lain, dan melakukan tindakan nyata sebagai hasil
proses belajarnya. Sehingga keinginan belajar berdasarkan kesadaran bukan
paksaan. Program yang selama ini terlaksana juga belum memenuhi impian
murid, namun dengan mengikuti PGP dalam modul ini saya ingin membuat
program yang berdampak pada murid, dengan berkolaborasi dengan seluruh
warga sekolah.
3. Apa yang sudah baik berkaitan dengan keterlibatan murid dalam
proses belajar
Baca Juga Penerapan Teknologi Sistem Hidroponik Pada Kelompok
"Pendawa Tani" di [Link] Pulang, [Link] [Link] [Link]
Selama mempelajari modul-modul dari guru penggerak ini banyak hal baru
yang sudah saya terapkan dalam proses pembelajaran di kelas, saya sudah
mengurangi peran saya sebagai leader utama dikelas terutama memaksakan
kehendak saya dikelas, dulu saya sering beranggapan bahwa anak harus
memahami apa mau saya, sekarang dengan pemahaman baru setelah
menyelesaikan materi pada modul 3.3 ini saya sudah mulai berkolaborasi
dengan murid dalam menciptakan kelas yang membahagiakan mereka,
bagaimana menciptakan kelas-kelas yang dicintai murid, bagaimana murid
mulai membuat proyek-proyek yang mereka mereka mau sesuai dengan
bakat dan potensi mereka, sementara peran saya adalah sebagai fasilitator
dan mitra belajar mereka dengan memberikan mereka tantangan, menjadi
motivator dan juga kontroling pada proses pembelajaran yang
diselenggarakan, diantara berbagai program yang saya buat bersama mereka
adalah proyek bisa berbentuk poster, pembuatan video naratif materi,
berbagi cerita inspiratif pembelajaran, dan lain sebagainya.
4. Apa yang perlu diperbaiki terkait dengan keterlibatan murid dalam
proses belajar
Beberapa hal yang masih perlu diperbaiki terkait dengan keterlibatan murid
dalam proses belajar adalah saya harus merancang dan menemukan ide-ide
baru yang disukai murid sehingga murid dapat lebih kreatif, inovatif, dan
tidak bosan dengan berbagai program yang selama ini sudah berjalan, saya
juga harus terus konsisten dalam menumbuhkan voice, choice dan
ownership (Student Agency) murid dengan melibatkan mereka dalam
pengelolaan program yang berdampak pada murid. Program yang dibuat
harus sesuai impian murid, sehingga tercipta kepemimpinan murid dan profil
pelajar Pancasila.
5. Implikasi terhadap kompetensi dan kematangan diri pribadi
Implikasi terhadap kompetensi dan kematangan diri pribadi saya adalah saya
semakin terlatih dan bertambah keyakinan untuk mampu merancang
berbagai program yang berdampak positip pada murid dan berpihak pada
kepemimpinan murid melalui berbagai penguatan materi yang telah saya
dapatkan dan pelajari baik dari modul di LMS, pemahaman oleh fasilitator,
pengajar praktik, dan instruktur serta informasi pada ruang kolaborasi
dengan rekan sejawat. Implementasi materi dalam PGP akan sangat berguna
badi diri sendiri dan sekolah untuk mengembangkan potensi yang ada. Dari
kegiatan PGP selalu ada aksinyata, maka kegiatan inilah bukti dalam
implementasi kegiatan PGP di lingkungan saya bekerja.
B. Analisis untuk implementasi dalam konteks CGP
1. Pertanyaan kritis yang muncul setelah mempelajari modul 3.3
Bagaimana merancang sebuah program yang dapat mendorong murid untuk
menumbuhkembangkan Kepemimpinan murid ( Student Agency) dalam
proses pembelajaran di kelas ?
Bagaimana merancang program sekolah yang dapat menumbuhkembangkan
kepemimpinan murid (Student Agency) yang berdapak positip pada murid,
dengan menggunakan aset yang ada dan mampu menciptakan profil pelajar
Pancasila?
Bagaimana cara pelaksanaan program agar seluruh ekosistem sekolah dapat
terlibat dalam pengelolaan program yang berdampak positip pada murid
untuk menciptakan kepemimpinan murid dan profil pelajar Pancasila ?
2. Wawasan (insight) baru
Pengalaman belajar yang dialami oleh murid di dalam kelas akan membentuk
serta mempengaruhi karakter serta kepribadiannya, jadi sudah selayaknya
guru mampu merancang pembelajaran yang memfasilitasi lingkungan belajar
murid sehingga tujuan pendidikan sesuai filosofi Ki Hajar Dewantara dapat
terwujud. Lingkungan belajar sangat berperan dalam
menumbuhkembangkan kepemimpinan murid. Komunitas yang mendukung
kepemimpinan murid akan memahami bahwa sesungguhnya setiap murid
memiliki voice, choice dan ownership dalam proses pembelajarannya,
sehingga untuk menumbuhkembngkan student agency maka murid perlu
dilibatkan dalam perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi berbagai program
sekolah. Seluruh guru dapat memanfaatkan setiap asset atau kekuatan yang
ada disekolah untuk merancang program yang mendorong tumbuhnya
kepemiminan murid dengan menetapkan pendekatan inquiri apresiatif
menggunakan tahapan BAGJA, baik untuk program pembelajaran di kelas
maupun program sekolah.
3. Analisis tantangan
Tantangan dalam kelas
Tantangan yang mungkin saya alami ketika merancang suatu program yang
berdampak pada kepemimpinan murid adalah mendapati kelas yang
cenderung pasif saat kegiatan KBM, murid jarang berani berpendapat
maupun menyampaikan ide atau gagasannya. Sering yang terjasi mendapati
kelas yang anak-anaknya cenderung pasif dalam kegiatan pembelajaran.
Kurang kurang percaya diri ketika mengungkapkan pendapat, kurang berani
ketika tampil di depan teman temannya.
Tantangan di sekolah
Ketiga program yang berdampak pada murid perlu membutuhkan kolaborasi
dengan banyak rekan sejawat, belum tentu mendapatkan respon positip,
karena kesibukan dari masing masing guru. Keterbatasan akan sarana
pendukung karena Gedung yang belum memenuhi syarat akan
terselenggaranya program sekolah, karena adanya kelas pagi dan sore.
Pendukung secara finansial saat pelaksanaan program, yang berbasis proyek,
sangat berpengaruh.
4. Alternatif solusi terhadap tantangan
Dalam Kelas
Adapun langkah yang akan saya ambil sebagai alternatif solusi adalah
menggunakan cara pendekatan yang berbeda kepada kelas yang cenderung
pasif saat pembelajaran, misalnya dengan memberikan pertanyaan yang
memantik untuk murid supaya muncul rasa ingin tau dan juga memberikan
tantangan proyek kepada murid sehingga terpacu motivasinya. Memberikan
kesepakatan di awal saat akan melaksanakan pembelajaran, dan memberikan
kesiapan belajar sebelumnya agar murid paham apa yang akan dipelajari
nanti dan di praktekkan. Hal lain yang akan saya lakukan misalnya dengan
memberikan kesempatan kepada siswa menuliskan ide/gagasannya lewat
tulisan bagi beberapa murid yang memang memiliki masalah dengan
kepercayaan dirinya ketika harus berbicara didepan umum secara langsung
atau berpendapat. Dan menanyakan perasaan ketika akan melaksanakan
pembelajaran.
Selain itu juga dapat dilakukan dengan membuat keyakinan kelas sehingga
budaya positif disekolah tumbuh dengan baik guna mendukung
keberlangsungan program kelas yang telah direncanakan.
Tantangan Sekolah
Menanamkan budaya positip di sekolah dan memberikan sosialisasi program
pada seluruh warga sekolah dengan memberikan kesempatan rekan untuk
berperan sesuai potensi masing masing. Menggunakan aset yang ada untuk
dapat mengembangkan program sekolah dengan rasa gotong royong demi
keberpihakan pada murid dan menciptakan kepemimpinan murid dan profil
pelajar Pancasila. Bekerjasama dengan orang tua murid dan Lembaga lain
untuk dapat memberikan bantuan atau donator pada sekolah akan peduli
Pendidikan untuk dapat mendukung program sekolah yang berdampak
positip pada murid.
5. Gambaran rencana implementasi (praktik)
Sebagai gambaran rencana implementasi (praktik) dari penerapan modul 3.3
ini adalah saya akan merancang pembelajaran yang yang dapat mendorong
murid untuk menumbuhkembangkan voice, choice dan ownership dalam
proses pembelajarannya. Diantara beberapa program yang saya rencanakan
adalah program PILPEN. Program ini adalah sebuah program kokurikuler
yang memiliki tujuan untuk mengembangkan literasi sekolah dalam
kemampuan siswa membaca dan menulisa tanpa keterpaksaan namun
literasi yang menyenangkan. Dalam prosesnya murid dapat memilih Bahasa
yang mereka kuasai baik Bahasa Indonesia, inggris, atau sunda dengan
menuliskan ide gagasan adalam bentuk artikel, puisi ataupun pantun dan
motivasi serta curhatan mereka, dan dikumpulkan di kotak yang disediakan di
depan ruang osis, untuk di siarkan saat istirahat oleh petugas sesuari
jadwalnya. Program ini pula merupakan salah satu program yang diusulkan
murid saat diajak merancang program yang berdasarkan aset yang dipunyai
sekolah. Aset yang diambil adalah aset manusia dan ast fisik yaitu ruang osis
dan pengeras suara yang ada di kelas dimanfaatkan secara optimal dengan
Program PILPEN untuk menciptakan kepemimpinan siswa melalui Voice,
Choise, dan Ownership, dengan dibantu guru Bahasa dan dibawah
pengawasan pembina osis. Dalam kegiatan PILPEN ini setiap siswa
mempuyai ide gagasannya, sesuai pilihan bahasanya, dan aktif ikut serta
dalam kegiatan. Hal ini dapat menumbuhkan rasa kepemimpinan murid dan
menciptakan profil pelajar Pancasila yang kreatif, gotong royong, mandiri,
berkebinekaan global dan nalar kritis, serta selalu beriman bertaqwa pada
Tuhan YME dan berakhlak mulia, karena diselipin dengan kata kata untuk nilai
nilai kebajikan atau pesan moral setiap harinya. PILPEN ( PIlihan Pendengar)
adalah implementasi literasi yang menyenangkan.
Baca Juga PKKMB FKIP Universitas Pakuan Mencetak Generasi Unggul untuk
Indonesia Maju
C. Membuat keterhubungan
1. Pengalaman masa lalu
Pada saat saya masih SMA pelajaran Bahasa Inggris saya setiap sebulan
seklai mendapatkan tugas untuk implementasi conversation di Borobudur
mencaru bule atau orang asing yang dapat diajak komunikasi Bahasa inggris
dan mendapatkan alamat serta tanda tanda tangannya. Hal ini sangat berat
bagi saya karena harus banyak mengeluarkan uang ke area wisata dan juga
tantangan dalam percakapan menggunakan Bahasa inggris. Namun karena
dukungan orang tua dan teman sekelompok saya mampu melewatinya,
bahkan menjadi sebuah kesenangan tersendiri sampai akhirnya terbiasa ke
area wisata untuk pengembangan diri sehingga mempunyai kelompok atau
komunitas di luar sekolah,walaupun membutuhkan fianansial yang lebih.
Ternyata guru jaman dulu sudah menggunakan metode yang luar biasa,
memanfaatkan aset lingkungan yang ada, sekitar candi Borobudur. Namun
masih berupa perintah dari guru untuk menyelesaikan tuga. Dan juga saat
kegiatan mata pelajaran lainnya guru sering mengajak keluar didaerah sekitar
yang ada, sehingga sering belajar di luar ruangan supaya tidak bosan didalam
kelas. Dan adanya pementasan seni setiap akhir semester kita wajib tampil
sesuai dengan potensi masing masing. Saya selalu tampil menari dan
bernyanyi karena hobby. Kesemuanya ini memberikan rasa tanggungjawab,
mandiri, kreatif, gotong rotong, dan juga berani serta percaya diri pada
masing masing murid.
Dulu guru adalah satu satunya sumber dalam Pendidikan
2. Penerapan di masa mendatang
Saya akan berusaha menciptakan dan merancang pembelajaran yang
berdampak bagi murid-murid dikelas. Saya akan selalu mencoba melibatkan
murid dalam setiap pengambilan keputusan belajarnya. Mendengarkan suara,
memberikan pilihan-pilihan dan menumbuhkan kepemilikan pada diri murid
sehingga pengalaman-pengalaman belajar yang mereka alami sesuai dengan
kemampuannya, terutama secara finansial, dan memberikan alternatif untuk
mereka pilih sesuai potensi dan kemampuannya.
Program sekolah juga demikian, seriap merancang, melaksanakan dan
mengevaluasi murid terlibat. Sehingga program sekolah untuk mewujudkan
visi sekolah yang berdampak positip bagi murid dengan mewujudkan
kepemimpinan murid, dan mampu menciptakan profil pelajar Pancasila,
sesuai mimpi dan harapan murid.
Melaksanakan Pembelajaran yang menyenangkan dengan mengikuti
perkembangan jaman. Menuntun murid dengan mengikuti sesuai kodrat
alamnya. Pendidikan untuk menuntun Murid agar terselamatkan, Bahagia dan
dapat diterima sebagai anggota masyarakat.
3. Konsep atau praktik baik yang dilakukan dari modul lain yang telah
dipelajari (koneksi antar materi dengan modul sebelumnya)
Koneksi modul 3.3 dengan modul 1.1
Program yang berdampak Positip pada murid haruslah dilaksanakan atas
dasar filosofi KHD, yaitu melalui filosofi Ki Hajar Dewantara tentang
“menumbuhkan padi” bahwa dalam mewujudkan pembelajaran yang
berpusat pada murid, saya sebagai guru sudah memulai mencoba
merencanakan program yang mampu membangun ekosistem yang
mendukung pembelajaran murid sehingga mampu mengembangkan segala
potensi murid sesuai dengan kodratnya. Guru adalah fasilitator dalam
menuntun murid untuk dapat memberikan pembelajaran pada murid
sehingga mempunyai dampak positip pada murid.
Koneksi modul 3.3 dengan modul 1.2
Sebagai seorang guru, saya mencoba memahami nilai dan peran guru
penggerak, sehingga berharap nantinya mampu memainkan peran saya
sebagai agen perubahan, dengan senantiasa berperan aktif serta berupaya
menggerakkan ekosistem sekolah guna tercapainya pengelolaan program
sekolah yang berdampak pada murid untuk menumbuhkembangkan student
agency, dan menciptakan profil palajar Pancasila.
Koneksi modul 3.3 dengan modul 1.3
Dalam pembuatan program yang berdampak pada murid tidak terlepas dari
VISI sekolah. Dalam menerapkan visi guru penggerak, saya berupaya
merancang sebuah program atau kegiatan pembelajaran disekolah yang
tentunya murid menjadi pertimbangan utama saya, dengan harapan program
yang saya rancang dapat mendorong bertumbuhkembangya kepemimpinan
murid (student agency), dimana salah satu perancangan program yang saya
buat menggunakan model inkuiri apresiatif dengan tahapan BAGJA.
Program yang berdampak pada murid inilah untuk mewujudkan VISI sekolah
dengan prakarsa perubahan yang sesuai dengan aset sekolah yang ada.
Koneksi modul 3.3 dengan modul 1.4
Dalam mengelola program yang berdampak positif bagi murid maka perlu
ditunjang dengan adanya budaya positif di sekolah sehingga program-
program yang dijalankan dapat berjalan dengan baik dan berkesinambungan
sehingga mampu menciptakan kepemimpinan murid (student agency), dan
profil pelajar Pancasila.
Koneksi modul 3.3 dengan modul 2.1
Dalam mewujudkan student agency maka pengelolaan program yang
berdampak pada murid harus mampu mengakomodir segala perbedaan
kebutuhan belajar murid mulai dari kesiapan, minat, dan profil belajar murid.
Perbedaan karakter anak inilah yang menjadi dasar dalam pemberian layanan
yang sesuai dengan kebutuhan anak. Dengan adanya perbedaan maka akan
memunculkan rasa keingintahuan, dan mempunyai ide gagasan serta
kepemilikan. Sehingga pembelajaran berdiferensiasi juga memunculkan
peran aktif, mengungkapkan pendapat, merefleksikan dan menghasilkan
produk dalam pembelajarannya. Hal ini juga sudah mencerminkan
implementasi dalam Student Agency.
Koneksi modul 3.3 dengan modul 2.2
Dalam merencanakan program yang berdampak pada murid, perlu
mengintegrasikan pembelajaran sosial dan emosional di dalamnya. Hal ini
dimaksudkan untuk menempatkan murid pada kesadaran penuh
(minfulness). Ketika murid sudah fokus, maka ia akan tenang, berempati,
termotivasi dan memiliki sikap tanggung jawab dalam menjalankan program
sehingga student agency akan tercipta.
Koneksi modul 3.3 dengan modul 2.3
Coaching sangat penting dilakukan sebagai langkah untuk menggali segala
potensi dan mengembangkan keaktifan murid sehingga ia akan mampu
untuk menemukan sendiri solusi atas permasalahan yang ia hadapi ketika
melaksanakan program sekolah yang berdampak pada murid untuk itu sikap
kreatif, inovatif dan kritis dari murid sangat diharapkan agar tercipta
kepemimpinan murid (student agency). Begitu juga dengan impian dan
harapan anak yang di dapat melalui coaching dengan anak semuanya akan
tersalurkan melalui program yang berdampak positip pada murid.
Koneksi modul 3.3 dengan modul 3.1
Dalam perancangan dan pembuatan program sekolah haruslah yang berpihak
pada murid, dan dapat dipertanggungjawabkan. Agar keputusan yang kita
ambil bersifat efektif dan efisien terkait rancangan program yang ingin
dilaksanakan tentunya keputusan tersebut harus memperhatikan 3 prinsip
berpikir, 4 paradigma pengambilan keputusan dan melakukan 9 langkah
pengajuan dan pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran. Hal
itu tentu saja untuk mengantisipasi ketika ada dilema etika ataupun bujukan
moral dalam penyelenggaraan kegiatan yang berdampak positif pada murid.
Koneksi modul 3.3 dengan modul 3.2
Dalam perencanaan dan pelaksanaan program yang berdampak pada murid
hendaknya menggunakan pendekatan berbasis aset sehingga dalam
melaksanakan program tersebut kita dapat memaksimalkan segala potensi
yang ada di sekolah. Dengan memaksimalkan segala potensi maka dapat
dipastikan program yang direncanakan akan berjalan dengan baik dan
berkesinambungan untuk menumbuhkan kepemimpinan murid (student
agency).
4. Informasi yang didapat dari orang atau sumber lain di luar bahan ajar
PGP
Informasi lain yang saya dapatkan selain dari PGP adalah melalui kegiatan
literasi yang saya lakukan diantaranya pada Platform Merdeka Mengajar
maupun berbagai buku sumber lainnya di perpustakaan, teman sejawat,
media sosial.
Guru diharapkan mencetak masa depan pendidikan. Sedikit perubahan yang
guru lakukan dapat berdampak luas dan tumbuhnya harapan baru bagi
pendidikan. Guru bergerak Indonesia Maju.
Guru Penggerak haruslah Tergerak, Bergerak dan Menggerakkan seluruhnya
untuk kemajuan pendidikan di Indonesia, demi menciptakan kepemimpinan
murid, dan profil pelajar Pancasila.
Demikian paparan dari saya, semoga bermanfaat Salam Guru Penggerak,
Salam Bahagia. Maju Pendidikan Indonesia. Wassalamu’alaikum [Link]. (*)