15
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Landasan Teori
2.1.1. Hasil Belajar
[Link]. Pengertian Hasil Belajar
Djamarah (2008: 4) mengemukakan bahwa Belajar adalah suatu
aktivitas mental atau psikis yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan
lingkungan yang menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengetahuan,
pemahaman, keterampilan, dan nilai sikap. Maka dapat dikatakan bahwa
belajar adalah kegiatan mental yang berhubungan dengan lingkungan
sekitarnya yang dapat mengubah intelektual.
Fudyartanto (2007: 150) yang menyatakan bahwa belajar adalah
perubahan tingkah laku melalui pengalaman dan latihan. belajar adalah
membawa perubahan-perubahan dalam tingkah laku dari organisme.
Purwanto (2014: 84), berpendapat bahwa belajar adalah setiap perubahan
yang relatif menetap dalam tingkah laku yang terjadi sebagai suatu hasil
dari latihan atau pengalaman. Selanjutnya Syah (2017: 61), mengemuka-
kan bahwa belajar ialah perubahan yang relatif menetap yang terjadi dalam
segala macam tingkah laku suatu organisme sebagai hasil pengalaman.
Dari beberapa pengertian tersebut, dapat diketahui bahwa belajar adalah
proses perubahan keseluruhan tingkah laku individu yang relatif menetap
sebagai hasil dari latihan dan pengalaman. Pengertian ini dapat dipandang
sebagai pengertian belajar secara luas.
16
Belajar adalah kegiatan yang dilakukan oleh seseorang agar memiliki
kompetensi berupa keterampilan dan pengetahuan yang diperlukan.
Belajar juga dapat dipandang sebagai suatu proses elaborasi dalam upaya
pencarian makna yang dilakukan oleh individu. Proses belajar pada
dasarnya dilakukan untuk meningkatkan kompetensi persona (Pribadi,
2009: 6). Selanjutnya Djamarah dan Bahri (2012: 12) mendefinisikan
belajar sebagai proses dimana tingkah laku ditimbulkan atau diubah melalui
latihan atau pengalaman.
Kedua pendangan ahli di atas menunjukkan bahwa belajar
merupakan suatu proses perubahan tingkah laku sebagai upaya
meningkatkan kompetensi melalui latihan dan pengalaman. Selain itu
kegiatan belajar merupakan aktivitas yang paling pokok dalam keseluruhan
proses pendidikan di sekolah, hal ini berati bahwa berhasil tidaknya
pencapaian tujuan pendidikan banyak tergantung pada bagaimana proses
belajar itu berlangsung.
Menurut Suryabrata (2018: 237) bahwa belajar adalah suatu
perubahan tingkah laku pada diri individu sebagai hasil dari suatu
pengalaman. Dalam pengalaman itu banyak subyek belajar yang
menggunakan indranya. Sebagai hasilnya ditetapkan perubahan tingkah
laku dalam subyek belajar yang bersifat posistif
Hasil belajar adalah hasil terakhir dari proses belajar sebagai proses
perwujudan segala upaya yang telah dilakukan selama proses belajar
mengajar berlangsung. Sementara itu pencapaian hasil belajar lebih sering
dikaitkan dengan nilai perolehan siswa setelah proses belajar mengajar
17
dan evaluasi yang diberikan. Winkel (2017: 161) menjelaskan bahwa hasil
belajar yang dicapai oleh siswa mengakibatkan perubahan dalam bidang
pengetahuan atau pemahaman, bidang keterampilan dan sikap.
Menurut Jihad dan Haris (2018: 14) bahwa hasil belajar adalah
kemampuan yang diperoleh anak setelah melalui kegiatan belajar. Belajar
itu sendiri merupakan suatu proses dari seseorang yang berusaha untuk
memperoleh suatu bentuk perubahan perilaku yang relatif menetap. Dalam
kegaitan pembelajaran atau kegiatan intruksional, biasanya guru
menetapkan tujuan belajar. Siswa yang berhasil dalam belajar adalah yang
berhasil mencapai tujuan-tujuan pembelajaran atau tujuan instruksional.
Conklin (2015: 154) menyatakan bahwa hasil belajar dapat
dikelompokkan ke dalam dua macam yaitu pengetahuan dan keterampilan.
Pengetahuan terdiri dari empat kategori yaitu (1) pengetahuan tentang
fakta; (2) pengetahuan tentang prosedural; (3) pengetahuan tentang
konsep; dan (4) pengetahuan tentang prinsip. Sedangkan keterampilan
juga terdiri dari empat kategori, yaitu (1) keterampilan untuk berpikir atau
keterampilan kognitif; (2) ketampilan untuk bertindak atau keterampilan
motorik; (3) keterampilan bereaksi atau bersikap; dan (4) keterampilan
berinteraksi.
Hasil belajar diperoleh dengan cara melakukan evaluasi atau
penilaian yang merupakan tindak lanjut atau cara untuk mengukur tingkat
penguasaan siswa terhadap materi pelajaran. Kemajuan hasil belajar siswa
tidak saja diukur dari tingkat penguasaan ilmu pengetahuan tetapi juga
sikap dan keterampilan. Dengan demikian penilaian hasil belajar siswa
18
mencakup segala hal yang dipelajari di sekolah, baik itu menyangkut
pengetahuan, sikap dan keterampilan.
Hasil belajar adalah segala sesuatu yang menjadi milik siswa
sebagai akibat dari kegiatan belajar yang dilakukannya. Menurut Hamalik
(2018: 28) bahwa hasil-hasil belajar adalah pola-pola perbuatan, nilai-nilai,
pengertian-pengertian dan sikap-sikap, serta apersepsi dan abilitas. Dari
kedua pernyataan tersebut dapat disimpulkan bahwa pengertian hasil
belajar adalah perubahan tingkah laku siswa secara nyata setelah
dilakukan proses pembelajaran yang sesuai dengan tujuan pengajaran.
Setelah melalui pembelajaran, maka siswa diharapkan dapat mencapai
tujuan belajar yang disebut sebagai hasil belajar yaitu kemampuan yang
dimiliki siswa setelah menjalani proses belajar.
Tujuan setiap proses pembelajaran adalah diperolehnya hasil yang
optimal. Dengan optimalisasi proses pembelajaran tersebut diharapkan
para peserta didik dapat meraih hasil belajar yang optimal dan memuaskan
(Setyadi, 2012: 160). Untuk mendukung tercapainya keberhasilan yang
baik bagi siswa, salah satunya adalah dengan belajar. Keberhasilan dan
kegagalan belajar ditandai dengan prestasi yang muncul setelah
melakukan suatu usaha pembelajaran.
Kualitas pendidikan erat hubungannya dengan hasil belajar. Hasil
belajar yang dicapai setiap siswa tidaklah sama, ada yang mencapai hasil
tinggi, sedang, dan rendah. Setiap aktivitas yang dilakukan oleh seseorang
tentu ada faktor-faktor yang mempengaruhinya, baik yang cenderung
mendorong maupun yang menghambat serta faktor-faktor baik itu eksternal
19
maupun internal. Demikian juga yang dialami dalam memperoleh hasil
belajar.
Pencapaian hasil belajar yang tinggi dipengaruhi oleh banyak faktor.
Sebagaimana diungkapkan oleh Slameto (2010: 54): Faktor-faktor yang
mempengaruhi hasil belajar banyak jenisnya, tetapi dapat digolongkan
menjadi dua golongan saja, yaitu faktor intern dan faktor ekstern. Faktor
intern adalah faktor yang ada di dalam diri individu yang sedang belajar,
sedangkan faktor ekstern adalah faktor yang ada di luar indvidu.
Sebagaimana yang telah dijelaskan dalam kutipan Slameto di atas bahwa
hasil belajar siswa dapat dipengaruhi oleh dua faktor yaitu faktor dari dalam
indvidu siswa dan faktor dari luar indvidu siswa. Faktor dari dalam indvidu
siswa meliputi faktor psikologis antara lain kemandirian belajar, minat,
kecerdasan, bakat, motvasi, disiplin belajar, dan lain-lain. Sedangkan faktor
dari luar indvidu siswa misalnya meliputi lingkungan alam dan lingkungan
sosial serta instrument yang berupa kurikulum, program, sarana, fasilitas
dan juga guru (Slameto, 2010: 54).
Hasil belajar seseorang pada dasarnya dipengaruhi oleh berbagai
faktor yang saling terkait satu dengan yang lain. Sehingga tidak ada faktor
tunggal yang secara otomatis dan berdiri sendiri mempengaruhi dan
menentukan hasil belajar seseorang. Seperti kelengkapan sumber belajar
yang merupakan faktor eksternal dalam diri siswa dan kemandirian siswa
yang merupakan faktor internal dari dalam diri siswa.
Kusnandar (2017: 15) menjelaskan bahwa hasil belajar merupakan
hal yang dapat dipandang dari dua sisi yaitu hasil belajar merupakan
20
tingkat perkembangan mental lebih baik bila dibandingkan pada saat
sebelum belajar, tingkat perkembangan mental tersebut pada jenis-janis
rana kognitif, afektif, dan psikomotor. sedangkan hasil belajar merupakan
saat terselesaikannya bahan pelajaran.
Hasil belajar merupakan hal yang tidak dapat dipisahkan dari
kegiatan belajar, karena kegiatan belajar merupakan proses, sedangkan
hasil merupakan hasil dari proses belajar. Memahami pengertian hasil
belajar secara garis besar harus bertitik tolak kepada pengertian
belajar itu sendiri. Untuk itu para ahli mengemukakan pendapatnya yang
berbeda-beda sesuai dengan pandangan yang mereka anut. Namun
dari pendapat yang berbeda itu dapat kita temukan satu titik
persamaan bahwasannya hasil belajar adalah suatu hasil yang dicapai
oleh siswa selama mengikuti proses belajar mengajar yang dapat diukur
dengan tinggi rendahnya nilai dalam suatu bidang studi.
Baharuddin (2017: 15-16) mengemukakan bahwa hasil belajar
ditandai dengan adanya: a) Perubahan tingkah laku (change behavior). Ini
berarti, bahwa hasil dari belajar hanya dapat diamati dari tingkah laku,
yaitu adanya perubahan tingkah laku, dari tidak tau menjadi tau, dari tidak
terampil menjadi terampil. Tanpa mengamati tingkah laku hasil belajar kita,
tidak akan dapat mengetahui hasil belajar. b) Perubahan perilaku (relative
permanent). Ini berarti, bahwa perubahan tingkah laku yang terjadi karena
belajar untuk waktu tertentu akan tetap atau tidak berubah-ubah. Tetapi
perubahan tingkah laku tersebut tidak akan terpancang seumur hidup. c)
Perubahan tingkah laku tidak harus segera diamati pada saat proses
21
belajar sedang berlangsung, perubahan perilaku tersebut bersifat
potensial. d) Perubahan tingkah laku merupakan hasil latihan atau
pengalaman. e) Pengalaman atau latihan itu dapat memberi penguatan.
Sesuatu yang memperkuat itu akan memberikan semangat atau dorongan
untuk mengubah tingkah laku.
Arifah (2012: 65) hasil dari proses belajar yang dilakukan oleh siswa
adalah hasil yang dapat diukur dalam proses evaluasi atau dengan kata
lain hasil belajar siswa. Jadi hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan
yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajarnya. Hasil
belajar tiga macam hasil belajar yaitu: a) Keterampilan dan kebiasaan, b)
Pengetahuan dan Pengertian, c) Sikap dan cita-cita.
Arifah (2012: 66) berpendapat bahwa pada evaluasi hasil belajar,
ranah penilaian mencakup tiga hal, yaitu kognitif, afektif dan psikomotorik.
Beberapa aspek yang dapat dilihat dari hasil belajar yang dicapai oleh
siswa antara lain: a) perubahan pengetahuan, sikap dan perilaku siswa
setelah menyelesaikan pengalaman belajarnya, b) kualitas dan kuantitas
penguasaan tujuan instruksional oleh para siswa, c) jumlah siswa yang
dapat mencapai tujuan instruksional minimal dari jumlah intruksional yang
harus dicapai, d) hasil belajar tahan lama diingat dan dapat digunakan
sebagai dasar dalam mempelajari bahan berikutnya. Masing-masing jenis
hasil belajar tersebut dapat diisi dengan bahan yang telah ditetapkan
dalam kurikulum. Meski demikian dalam sistem pendidikan Indonesia,
rumusan hasil belajar siswa terbagi dalam tiga ranah yaitu kognitif, afektif
dan psikomotor. Hasil belajar setiap siswa tidak sama ada yang tinggi,
22
sedang, dan ada yang rendah. Hal ini dipengaruhi oleh beberapa faktor,
yang pada garis besarnya dapat datang dari dalam dan dari luar diri siswa
yang sedang belajar.
Berdasarkan pendapat para ahli tentang hasil belajar maka terlihat
adanya perbedaan pemahaman, namun intinya sama yaitu hasil belajar
merupakan capaian dari suatu kegiatan belajar. Untuk itu maka hasil
belajar adalah hasil dari suatu kegiatan yang telah dikerjakan, diciptakan,
menyenangkan hati, yang diperoleh melalui kerja tekun dan ulet, baik
secara individual maupun kelompok dalam bidang kegiatan tertentu.
[Link]. Hasil Belajar Ekonomi
Ekonomi merupakan ilmu tentang prilaku dan tindakan manusia
untuk memenuhi kebutuhan hidupnya yang banyak, bervariasi dan
berkembang dengan sumber daya yang ada melalui pilihan-pilihan kegiatan
produksi, konsumsi dan distribusi. Mankiw (2013: 3) mengemukakan
bahwa ilmu ekonomi pada dasarnya adalah studi tentang bagaimana
masyarakat mengelola sumber-sumber daya yang selalu terbatas atau
langkah. Kelangkaan artinya sumber-sumber daya yang ditawarkan oleh
setiap masyarakat kepada segenap warganya selalu kurang dan tidak
sebanyak dari yang sebenarnya diinginkan.
Budimansyah (2013: 1) menjelaskan bahwa Ilmu ekonomi
merupakan ilmu atau seni tentang upaya manusia untuk memenuhi
kebutuhan hidupnya yang banyak, bervariasi dan berkembang dengan
23
sumber daya yang ada melalui pilihan kegiatan produksi, konsumsi, dan
distribusi.
Fungsi mata pelajaran ekonomi adalah mengembangkan
kemampuan siswa untuk berekonomi, dengan cara mengenal berbagai
kenyataan dan peristiwa ekonomi, memahami konsep dan teori serta
berlatih dalam memecahkan masalah ekonomi yang terjadi di lingkungan
masyarakat.
Adapun tujuannya adalah: 1) Membekali siswa sejumlah konsep
ekonomi untuk mengetahui dan mengerti peristiwa dan masalah ekonomi
dalam kehidupan sehari-hari, terutama yang terjadi di lingkungan
individu/rumah tangga, masyarakatdan negara, 2) Membekali siswa
sejumlah konsep ekonomi yang diperlukan untuk mendlami ilmu ekonomi
pada jenjang selanjutnya, 3) Membekali siswa nilai-nilai serta etika ekonomi
dan memiliki jiwa wirausaha, 4) Meningkatkan kemampuan
berkompetisidan bekerjasama dalam masyarakat majemuk, baik dalam
skala nasional, maupun skala internasional.
Setiap mata pelajaran tentu mempunyai karakteristik yang khas.
Demikian pula mata pelajaran ekonomi. Adapun karakteristik mata
pelajaran ekonomi adalah sebagai berikut: 1) Mata pelajaran Ekonomi
berangkat dari fakta atau gejala ekonomi yang nyata, 2) Mata pelajaran
Ekonomi mengembangkan teori-teori untuk menjelaskan fakta secara
rasional, 3) Analisis yang digunakan dalam ilmu ekonomi adalah metode
pemecahan masalah, 4) Inti dari mata pelajaran ekonomi adalah memilih
altrnatif yang terbaik, 5) Secara umum subyek dalam ekonomi dapat dibagi
24
ke dalam beberapa cara , yang paling terkenal adalah mikro ekonomi dan
makro ekonomi, 6) Materi Akuntansi berupa pokok-pokok bahasan dari
pengertian Akuntansi secara umum, pencatatan transaksi keuangan,
penyusunan laporan keuangan, baik perusahaan jasa, dagang, maupun
manufaktur (Nurrochim, 2014: 3 ).
Menurut Ekowati (2008: 13) Adapun karakteristik mata pelajaran
ekonomi adalah (1) Ilmu ekonomi berangkat dari fakta atau gejala
ekonomi yang nyata. Kenyataan menunjukkan bahwa kebutuhan
manusia tidak terbatas sedangkan sumber-sumber ekonomi sebagai
alat untuk memenuhi kebutuhan yang jumlahnya terbatas, (2) Ilmu
ekonomi mengembangkan teori-teori untuk menjelaskan fakta secara
rasional. Agar manusia mampu membaca dan menjelaskan gejala-
gejala ekonomi secara sistematis, maka disusunlah konsep dan teori
ekonomi menjadi bangunan ilmu ekonomi. Selain mempunyai
persyaratan sistematis, ilmu ekonomi juga memenuhi persyaratan
keilmuan yang lain yaitu obyektif dan mempunyai tujuan yang jelas, (3)
Umumnya, analisis yang digunakan dalam ilmu ekonomi adalah
metode pemecahan masalah. Metode pemecahan masalah cocok
digunakan dalam analisis ekonomi sebab obyek dalam ilmu ekonomi
adalah permasalahan dasar ekonomi. Permasalahan dasar tersebut yaitu
barang apa yang harus diproduksi, bagaimana cara memproduksi dan
untuk siapa barang diproduksi. Ketiga permasalahan dasar tersebut pada
intinya berangkat dari adanya kelangkaan sumber- sumber
25
ekonomi, (4) Inti dari ilmu ekonomi adalah memilih alternatif yang terbaik.
Untuk mencapai kemakmuran manusia mempunyai banyak pilihan
kegiatan. Namun, dari sekian banyak pilihan kegiatan tersebut dapat
dianalisis secara ekonomi sehingga dapat ditentukan alternatif pilihan
mana yang paling optimal baik secara kualitatif maupun kuantitatif. Ilmu
ekonomi dapat digunakan untuk menentukan alternatif pilihan kegiatan
ekonomi yang terbaik, (5) Lahirnya ilmu ekonomi karena adanya
kelangkaan sumber pemuas kebutuhan manusia. Apabila sumber
ekonomi keberadaannya melimpah (tidak langka), maka ilmu ekonomi
tidak diperlukan lagi bagi kehidupan manusia.
Pembelajaran ekonomi di SMA ditekankan pada pencapaian standar
kompetensi dan kompetensi dasar yang telah ditetapkan dalam kurikulum
tingkat satuan pendidikan. Standar kompetensi yang harus dicapai siswa
dalam belajar ekonomi di SMA adalah (1) memahami masalah ekonomi
dalam kaitannya dengan kebutuhan manusia, kelangkaan, dan sistem
ekonomi, (2) memahami konsep ekonomi dalam kaitannya dengan
kegiatan ekonomi konsumen dan produsen, (3) memahami masalah
ekonomi dalam kaitannya dengan permintaan, penawaran, harga
keseimbangan, dan pasar, (4) memahami kebijakan pemerintah dalam
bidang ekonomi, (5) memahami produk domestik bruto, produk domestik
regional bruto, pendapatan nasional bruto, dan pendapatan nasional, (6)
memahami konsumsi, dan investasi, dan (7) memahami uang dan
perbankan (Dalimunthe, dkk., 2007: viii).
26
Pembelajaran ekonomi kelas XI semester pertama diarahkan pada
materi tentang (1) ketenagakerjaan dan pembangunan, (2) APBN, APBD,
dan kebijakan fiskal, (3) mengenal pasar modal, dan (4) perdagangan
internasional dan neraca pembayaran. Oleh karena 4 pokok bahasan ini
adalah materi satu semester maka peneliti hanya melihat hasil belajar pada
satu pokok bahasan terakhir yaitu perdagangan internasional dan neraca
pembayaran dengan empat sub pokok bahasan yaitu (1) perdagangan
internasional, (2) valuta asing dan Negara pembayaran, (3) kebijakan
perdagangan internasional, dan (4) devisa dan alat pembayaran
internasional (Feryanto, ddk., 2013: 80 – 89).
Berdasarkan pendapat para ahli di atas, maka yang dimaksud
dengan hasil belajar ekonomi dalam penelitian ini adalah tingkat
penguasaan materi ekonomi yang dicapai siswa setelah mengikuti proses
pembelajaran ekonomi di semester Ke dua kelas XI SMA Jurusan IPS
pada sub pokok bahasan: (1) perdagangan internasional, (2) valuta asing
dan necara pembayaran, (3) kebijakan perdagangan internasional, dan (4)
devisa dan alat pembayaran internasional.
2.2. Minat Belajar
2.2.1. Pengertian Minat Belajar
Minat merupakan salah satu aspek psikis yang dapat mendorong
manusia mencapai tujuan. Seseorang yang memiliki minat terhadap suatu
objek, cenderung memberikan perhatian atau merasa senang yang lebih
besar kepada objek tersebut. Namun, apabila objek tersebut tidak
27
menimbulkan rasa senang, maka orang itu tidak akan memiliki minat atas
objek tersebut. Oleh karena itu, tinggi rendahnya perhatian atau rasa
senang seseorang terhadap objek dipengaruhi oleh tinggi rendahnya minat
seseorang tersebut.
Minat adalah kecenderungan yang menetap dalam subjek untuk
merasa tertarik pada bidang atau hal tertentu dan merasa senang
berkecimpung dalam bidang itu (Winkel, 2016: 30). Adanya suatu
ketertarikan yang sifatnya tetap di dalam diri subjek atau seseorang yang
sedang mengalaminya atas suatu bidang atau hal tertentu dan adanya
rasa senang terhadap bidang atau hal tersebut, sehingga seseorang
mendalaminya.
Minat adalah kesadaran seseorang, bahwa suatu objek, seseorang,
suatu soal atau suatu situasi mengandung sangkut-paut dengan dirinya
(Witherington, 2013: 135) merupakan suatu kesadaran yang ada
pada diri seseorang tentang hubungan dirinya dengan segala sesuatu
yang ada di luar dirinya. Hal-hal yang ada di luar diri seseorang,
meskipun tidak menjadi satu, tetapi dapat berhubungan satu dengan
yang lain karena adanya kepentingan atau kebutuhan yang bersifat
mengikat.
Minat mempunyai peranan yang sangat penting dalam
perkembangan belajar siswa. Siswa yang menaruh minat pada suatu
bidang tertentu, maka akan berusaha lebih keras dalam menekuni bidang
tersebut dibanding siswa yang tidak menaruh minta. Menurut Slameto
28
(2010: 121) minat adalah kecenderungan yang tetap untuk
memperhatikan dan mengenang beberapa kegiatan. Kegiatan yang
diminati siswa, diperhatikan terus-menerus yang disertai rasa senang dan
diperoleh rasa kepuasan. Lebih lanjut dijelaskan minat adalah suatu rasa
suka dan ketertarikan pada suatu hal atau aktivitas, tanpa ada yang
menyuruh. Selanjutnya Suryabrata (2018: 109) menjelaskan bahwa minat
adalah kecenderungan dalam diri individu untuk tertarik pada sesuatu
objek atau menyenangi sesuatu. Minat adalah sesuatu pemusatan
perhatian yang tidak disengaja yang terlahir dengan penuh kemauannya
dan yang tergantung dari bakat dan lingkungan. Kedua pendapat tersebut
memiliki persamaan yang melihat minat sebagai suatu kecenderungan
individu untuk tertarik pada suatu objek minat.
Menurut Sabri (2015: 84) minat adalah kecenderungan untuk selalu
memperhatikan dan mengingat sesuatu secara terus-menerus, minat kali
ini erat kaitannya dengan perasaan senang, karena itu dapat dikatakan
minat itu terjadi karena perasaan senang terhadap sesuatu, orang yang
minta terhadap sesuatu, berarti ia sikapnya senang terhadap sesuatu.
Selanjutnya Syah (2017: 136) menjelaskan bahwa minat adalah
kecenderungan dan kegairahan yang tinggi atau keinginan yang besar
terhadap sesuatu. Jika kita cermati kedua ahli tersebut memiliki
pandangan yang sama mengenai minat yaitu kecenderungan yang tinggi
terhadap suatu objek yang diminati. Menurut Sardiman (2016: 76) minat
adalah suatu kondisi yang terjadi apabila seseorang melihat ciri-ciri atau
29
arti sementara situasi, yang dihubungkan dengan keinginan-keinginan
atau kebutuhan-kebutuhannya sendiri.
Minat mengarahkan perbuatan kepada suatu tujuan dan merupakan
dorongan bagi perbuatan tersebut. Dalam diri manusia terdapat dorongan-
dorongan (motif-motif) yang mendorong manusia untuk berinteraksi
dengan dunia luar, motif menggunakan dan menyelidiki dunia luar
(manipulate and exploring motives). Dari manipulasi dan eksplorasi yang
dilakukan terhadap dunia luar itu, lama-kelamaan timbullah minat terhadap
sesuatu tersebut. Apa yang menarik minat seseorang mendorongnya
untuk berbuat lebih giat dan lebih baik (Purwanto, 2017: 56). Minat mampu
memberikan dorongan kepada seseorang untuk berinteraksi dengan
dunia luar yang sekiranya menarik untuk diketahui, menjadikannya
memiliki semangat tinggi untuk mengetahui sesuatu yang telah menarik
hatinya.
Minat bukanlah merupakan sesuatu yang dimiliki oleh seseorang
begitu saja, melainkan merupakan sesuatu yang dapat dikembangkan
(Singer, 2009: 93). Minat yang telah ada dalam diri seseorang bukanlah
ada dengan sendirinya, namun ada karena adanya pengalaman dan usaha
untuk mengembangkannya.
Minat dapat timbul karena daya tarik dari luar dan juga datang dari
hati sanubari. Minat yang besar terhadap sesuatu merupakan modal yang
besar artinya untuk mencapai atau memperoleh benda atau tujuan yang
diminati itu. Minat belajar yang besar cenderung menghasilkan hasil yang
tinggi, sebaliknya minat belajar yang kurang akan menghasilkan hasil
30
yang rendah (Dalyono, 2016: 56-57). Dalam usaha untuk memperoleh
sesuatu, diperlukan adanya minat. Besar kecilnya minat yang dimiliki akan
sangat berpengaruh terhadap hasil yang akan diperoleh. Secara
sederhana, minat (interest) berarti kecenderungan dan kegairahan yang
tinggi atau keinginan yang besar terhadap sesuatu (Syah, 2017: 152).
Minat merupakan suatu dorongan yang kuat dalam diri seseorang terhadap
sesuatu. Minat dapat timbul dengan sendirinya, yang ditengarai dengan
adanya rasa suka terhadap sesuatu.
Minat mempunyai peranan yang sangat penting dalam
perkembangan belajar siswa. Siswa yang menaruh minat pada suatu
bidang tertentu, maka akan berusaha lebih keras dalam menekuni bidang
tersebut dibanding siswa yang tidak menaruh minta. Minat adalah
kecenderungan yang tetap untuk memperhatikan dan mengenang
beberapa kegiatan. Kegiatan yang diminati siswa, diperhatikan terus-
menerus yang disertai rasa senang dan diperoleh rasa kepuasan. Lebih
lanjut dijelaskan minat adalah suatu rasa suka dan ketertarikan pada suatu
hal atau aktivitas, tanpa ada yang menyuruh.
Menurut Syah (2010:136) dalam buku Psikologi Pendidikan dengan
Pendekatan Baru menerangkan bahwa minat adalah kecenderungan dan
kegairahan yang tinggi atau keinginan yang besar terhadap sesuatu. Minat
pada dasarnya adalah penerimaan akan suatu hubungan antara diri
sendiri dengan suatu di luar diri, semakin kuat atau dekat hubungan
tersebut, maka semakin besarnya. Minat besar sekali pengaruhnya
terhadap kegiatan seseorang sebab dengan minat ia akan melakukan
31
sesuatu yang diminatinya. Sebaliknya tanpa minat seseorang tidak
mungkin melakukan sesuatu. Dengan kata lain minat merupakan
penyebab seseorang mengerjakan sesuatu yang diinginkannya. Minat
belajar dapat kita definisikan sebagai ketertarikan dan kecenderungan
yang tetap untuk memperhatikan dan terlibat dalam aktivitas belajar
karena menyadari pentingnya atau bernilainya hal yang ia pelajari
Shaleh dan Wahab (2014:263) menjelaskan bahwa minat juga
diartikan sebagai suatu kecenderungan untuk memberikan perhatian dan
bertindak terhadap orang, aktivitas atau situasi yang menjadi objek dari
minat tersebut dengan disertai perasaan senang. Dalam batasan tersebut
terkandung suatu pengertian bahwa di dalam minat ada pemusatan
perhatian subjek, ada usaha (untuk mendekati, mengetahui, memiliki,
menguasai dan berhubungan) dari subjek yang dilakukan dengan
perasaan senang, ada daya penarik dari objek.
Pendapat Muhson (2009: 132) yang menyatakan bahwa jika minat
belajar siswa dapat dibangkitkan, kemudian seluruh perhatiannya dapat
dipusatkan kepada bidang studi yang dipelajarinya, keadaan kelas dapat
menjadi tenang, dengan demikian proses belajar dapat berlangsung
dengan baik dan siswa pun dapat mencapai tujuan belajar sebagaimana
yang diharapkan. Sutikno (2017:15) berpendapat bahawa Minat
merupakan kecenderungan yang tetap untuk memperhatikan dan
mengenang beberapa kegiatan.
Dalam penyelenggaraan proses belajar dikelas ada beberapa teori
atau pandangan belajar yang diterapkan oleh sekolah dalam hal ini
32
seorang pendidik. Salah satunya adalah teori atau pandangan belajar
konstruktivisme. Teori belajar konstruktivisme menekankan bahwa
pengetahuan kita itu adalah konstruksi (bentukan) kita sendiri. Dalam hal
ini proses pembelajaran berpusat pada siswa sebagai subjek belajar.
Secara sederhana aliran konstruktivisme beranggapan bahwa
pengetahuan kita merupakan konstruksi dari kita yang mengetahui
sesuatu. Pengetahuan itu bukanlah suatu fakta yang tinggal ditemukan,
melainkan suatu perumusan yang diciptakan orang yang sedang
mempelajarinya. Jadi seseorang yang belajar itu membentuk pengertian.
Sardiman (2011: 37-38) menjelaskan bahwa, Dalam pandangan
teori konstuktivisme, belajar merupakan proses aktif dari si subjek untuk
merekonstruksi makna, sesuatu entah itu teks, kegiatan dialog,
pengalaman fisik dan lain-lain. Belajar merupakan proses
mengasimilasikan dan menghubungkan pengalaman atau bahan yang
dipelajarinya dengan pengertian yang sudah dimiliki, sehingga
pengertiannya menjadi berkembang. Jadi, menurut teori konstruktivisme,
belajar adalah kegiatan yang aktif dimana si subjek belajar membangun
sendiri pengetahuannya. Sesuai dengan prinsip-prinsip tersebut, maka
proses mengajar yang dilaksanakan oleh guru bukanlah kegiatan
memindahkan pengetahuan dari guru ke subjek belajar/siswa, tetapi suatu
kegiatan yang memungkinkan subjek belajar merekonstruksi sendiri
pengetahuannya
Berdasarkan pandangan teori konstruksivisme diatas maka siswa
yang minat belajarnya tinggi aktif dalam menemukan pengetahuan. Siswa
33
tidak bergantung secara dominan pada guru dalam menemukan
pengetahuan. Siswa memiliki antusiasme yang tinggi dalam kegiatan
pembelajaran. Siswa yang minat belajarnya tinggi memiliki perasaan
senang dalam belajar, memiliki perhatian yang besar, ketertarikan dan
keterlibatan yang tinggi dalam setiap aktivitas pembelajaran dikelas.
Menurut Sardiman (2009: 76) minat adalah suatu kondisi yang
terjadi apabila seseorang melihat ciri-ciri atau arti sementara situasi, yang
dihubungkan dengan keinginan-keinginan atau kebutuhan-kebuutuhannya
sendiri. Minat adalah kecenderungan yang mengarahkan manusia
terhadap bidang-bidang yang ia sukai dan tekuni tanpa adanya
keterpaksaan dari siapapun. Minat pula yang mengarahkan manusia
untuk berhasil dalam berbagai hal atau bidang yang ia sukai dan
tekuni. Seseorang yang mempunyai minat terhadap suatu hal atau
bidang tertentu, maka ia akan senantiasa mengarahkan dirinya terhadap
bidang tersebut dan senang menekuninya dengan sungguh- sungguh
tanpa adanya paksaan.
Minat pada dasarnya adalah minat adalah rasa lebih suka dan
ketertarikan pada satu hal atau aktivitas, tanpa ada yang menyuruh. Minat
dapat didekspresikan melalui pernyataan yang menunjukkan bahwa siswa
lebih menyukai suatu hal dari pada hal lainnya, dan dapat
dimanifestasikan melalui partisipasi dalam suatu aktivitas (Djaali, 2017:
121).
Penerimaan akan suatu hubungan diri sendiri dengan sesuatu di
luar diri. Semakin kuat atau dekat hubungan tersebut, semakin besar
34
minatnya. Adanya hubungan seseorang dengan sesuatu di luar dirinya,
dapat menimbulkan rasa ketertarikan, sehingga tercipta adanya
penerimaan. Dekat maupun tidak hubungan tersebut akan mempengaruhi
besar kecilnya minat yang ada.
Minat adalah gejala psikologis yang menunjukkan bahwa minat
adanya pengertian subjek terhadap objek yang menjadi sasaran karena
objek tersebut menarik perhatian dan menimbulkan perasaan senang
sehingga cenderung kepada objek tersebut (Admin, 2010: 127). Adanya
ketertarikan seseorang terhadap sesuatu karena sesuatu tersebut
mampu menimbulkan perasaan senang, dan perasaan senang ini
merupakan salah satu indikator dari minat.
Secara sederhana minat (interest) berarti kecenderungan dan
kegairahan yang tinggi atau keinginan yang besar terhadap sesuatu
(Baharudin, 2017: 24). Keinginan seseorang yang begitu besar terhadap
sesuatu menimbulkan kegairahan yang besar terhadap sesuatu tersebut.
Minat adalah sumber motivasi yang mendorong seseorang untuk
melakukan apa yang ingin dilakukan ketika bebas memilih. Ketika
seseorang menilai bahwa sesuatu akan bermanfaat, maka akan menjadi
berminat, kemudian hal tersebut akan mendatangkan kepuasan. Ketika
kepuasan menurun maka minatnya juga akan menurun. Sehingga minat
tidak bersifat permanen, tetapi minat bersifat sementara atau dapat
berubah-ubah (Hurlock, 2009: 192). Minat merupakan dorongan untuk
melakukan sesuatu sesuai dengan keinginan yang nantinya dapat
35
mendatangkan kepuasan, yang mana kepuasan itu akan mempengaruhi
kadar minat seseorang.
Suatu aktivitas akan dilakukan atau tidak sangat bergantung pada
minat seseorang terhadap aktivitas tersebut. Di sini nampak bahwa minat
merupakan motivator yang kuat untuk melakukan suatu aktivitas
(Sandjaya, 2015: 76). Minat memungkinkan seseorang untuk melakukan
suatu aktivitas, karena minat merupakan dorongan yang paling kuat dari
dalam diri seseorang. Besar kecilnya minat, akan sangat berpengaruh
terhadap aktivitas seseorang.
Minat adalah bentuk dari motivasi intrinsik. Pengaruh positif minat
akan membuat seseorang tertarik untuk bereksperimen seperti merasakan
kesenangan, kegembiraan dan kesukaan (Ormrod, 2013: 90). Minat
merupakan dorongan dari dalam diri seseorang yang mampu
membuat seseorang ingin merasakan hal-hal yang menyenangkan.
Seseorang yang memiliki minat terhadap apa yang dipelajari lebih dapat
mengingatnya dalam jangka panjang dan menggunakannya kembali
sebagai sebuah dasar untuk pembelajaran di masa yang akan datang
(Ormrod, 2013: 65). Dengan adanya minat, mampu memperkuat ingatan
seseorang terhadap apa yang telah dipelajarinya, sehingga dapat
dijadikan sebagai fondasi seseorang dalam proses pembelajaran di
kemudian hari.
Minat merupakan kecenderungan seseorang yang berasal dari luar
maupun dalam sanubari yang mendorongnya untuk merasa tertarik
36
terhadap suatu hal sehingga mengarahkan perbuatannya kepada suatu
hal tersebut dan menimbulkan perasaan senang.
Indikator minat ada 4 (empat) yaitu: a. perasaan senang, b.
ketertarikan, c. perhatian, dan d. keterlibatan (Safari, 2013: 98). Masing-
masing indikator tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. Perasaan Senang
Seorang siswa yang memiliki perasaan senang atau suka terhadap
suatu mata pelajaran, maka siswa tersebut akan terus mempelajari ilmu
yang disenanginya. Tidak ada perasaan terpaksa pada siswa untuk
mempelajari bidang tersebut.
2. Ketertarikan Siswa
Berhubungan dengan daya gerak yang mendorong untuk cenderung
merasa tertarik pada orang, benda, kegiatan atau bisa berupa
pengalaman afektif yang dirangsang oleh kegiatan itu sendiri.
3. Perhatian Siswa
Perhatian merupakan konsentrasi atau aktivitas jiwa terhadap
pengamatan dan pengertian, dengan mengesampingkan yang lain
dari pada itu. Siswa yang memiliki minat pada objek tertentu, dengan
sendirinya akan memperhatikan objek tersebut.
4. Keterlibatan Siswa
Ketertarikan seseorang akan suatu objek yang mengakibatkan orang
tersebut senang dan tertarik untuk melakukan atau mengerjakan
kegiatan dari objek tersebut.
37
Minat terhadap sesuatu ada karena pengaruh dari dua faktor, yaitu
faktor internal dan eksternal.
1. Faktor Internal
Faktor internal adalah sesuatu yang membuat seseorang berminat
karena faktor dari dalam diri individu. Minat yang timbul karena faktor
internal indikatornya dapat dilihat dari pemusatan perhatian,
keingintahuan, motivasi, dan kebutuhan (Syah, 2011: 152).
Perhatian sangatlah penting dalam mengikuti kegiatan dengan baik,
dan hal ini akan berpengaruh pula terhadap minat siswa dalam
belajar. Perhatian dalam belajar yaitu pemusatan atau konsentrasi dari
seluruh aktivitas seseorang yang ditujukan kepada sesuatu atau
sekumpulan objek belajar (Suryabrata, 2008:14). Siswa yang aktivitas
belajarnya disertai dengan perhatian yang intensif akan lebih sukses serta
hasilnya akan lebih tinggi. Orang menaruh minat pada suatu aktivitas akan
memberikan perhatian yang besar, tidak segan mengorbankan waktu
dan tenaga demi aktivitas tersebut.
Keingintahuan adalah perasaan atau sikap yang kuat untuk
mengetahui sesuatu; dorongan kuat untuk mengetahui lebih
banyak tentang sesuatu. Suatu perasaan yang muncul dalam diri
seseorang yang mendorong orang tersebut ingin mengetahui sesuatu.
Motivasi adalah perubahan energi dalam diri seseorang yang
ditandai dengan timbulnya perasaan dan reaksi untuk mencapai tujuan
(Donald dalam Hamalik, 2018: 158). Motivasi adalah sesuatu yang
kompleks. Motivasi akan menyebabkan terjadinya suatu perubahan
38
energi yang ada pada diri manusia, sehingga akan bergayut dengan
persoalan gejala kejiwaan, perasaan dan juga emosi, untuk kemudian
bertindak atau melakukan sesuatu.
Kebutuhan (motif) yaitu keadaan dalam diri pribadi seorang siswa
yang mendorongnya untuk melakukan aktivitas-aktivitas tertentu guna
mencapai suatu tujuan (Suryabrata, 2018: 70). Kebutuhan ini hanya dapat
dirasakan sendiri oleh seorang individu. Seseorang tersebut melakukan
aktivitas belajar karena ada yang mendorongnya. Dalam hal ini motivasi
sebagai dasar penggeraknya yang mendorong seseorang untuk belajar.
Dan minat merupakan potensi psikologis yang dapat dimanfaatkan
untuk menggali motivasi bila seseorang sudah termotivasi untuk
belajar, maka akan melakukan aktivitas belajar dalam rentangan waktu
tertentu.
2. Faktor Eksternal
Faktor eksternal adalah sesuatu yang membuat seseorang
berminat dikarenakan adanya pengaruh dari luar dirinya seperti dorongan
dari orang tua, dorongan dari sesama siswa, tersedianya prasarana dan
sarana atau fasilitas, dan keadaan lingkungan. Keempat faktor ini menjadi
faktor pendukung dari timbulnya minat terhadap sesuatu objek.
Menurut Hurlock (2009: 117) bahwa minat dibagi menjadi tiga
aspek, yaitu: a) aspek kognitif, b) aspek afektif, dan c) aspek psikomotor.
Ketiga aspek tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:
a. Aspek Kognitif
39
Aspek kognitif didasari pada konsep perkembangan di masa anak-
anak mengenai hal-hal yang menghubungkannya dengan minat. Minat
pada aspek kognitif berpusat seputar pertanyaan, apakah hal yang diminati
akan menguntungkan? Apakah akan mendatangkan kepuasan?
Ketika seseorang melakukan suatu aktivitas, tentu mengharapkan
sesuatu yang akan didapat dari proses suatu aktivitas tersebut.
Sehingga seseorang yang memiliki minat terhadap suatu aktivitas
akan dapat mengerti dan mendapatkan banyak manfaat dari suatu
aktivitas yang dilakukannya. Jumlah waktu yang dikeluarkan pun
berbanding lurus dengan kepuasan yang diperoleh dari suatu aktivitas
yang dilakukan sehingga suatu aktivitas tersebut akan terus dilakukan.
b. Aspek Afektif
Aspek afektif atau emosi yang mendalam merupakan konsep yang
menampakkan aspek kognitif dari minat yang ditampilkan dalam sikap
terhadap aktivitas yang diminatinya. Seperti aspek kognitif, aspek afektif
dikembangkan dari pengalaman pribadi, sikap orang tua, siswa, dan
kelompok yang mendukung aktivitas yang diminatinya. Seseorang akan
memiliki minat yang tinggi terhadap suatu hal karena kepuasan dan
manfaat yang telah didapat-kannya, serta mendapat penguatan
respon dari orang tua, siswa, kelompok, dan lingkungannya, maka
seseorang tersebut akan fokus pada aktivitas yang diminatinya.
Dan akan memiliki waktu-waktu khusus atau memiliki frekuensi yang
tinggi untuk melakukan suatu aktivitas yang diminatinya tersebut.
c. Aspek Psikomotor
40
Aspek psikomotor lebih mengorientasikan pada proses tingkah laku
atau pelaksanaan, sebagai tindak lanjut dari nilai yang didapat melalui
aspek kognitif dan diinternalisasikan melalui aspek afektif sehingga
mengorganisasi dan diaplikasikan dalam bentuk nyata melalui aspek
psikomotor. Seseorang yang memiliki minat tinggi terhadap suatu hal akan
berusaha mewujudkannya sebagai pengungkapan ekspresi atau tindakan
nyata dari keinginannya.
Kriteria minat seseorang digolongkan menjadi tiga kategori, yaitu:
rendah, jika seseorang tidak menginginkan objek tertentu. Sedang, jika
seseorang menginginkan objek minat akan tetapi tidak dalam waktu
segera. Dan tinggi, jika seseorang menginginkan objek minat dalam waktu
segera (Nursalam, 2013: 89). DiVesta dan Thompson (1970) menjelaskan
bahwa minat terbentuk melalui identifikasi. Prosesnya bermula sejak
individu mencari perhatian dari orang yang disukainya seperti orang tua,
guru atau yang lainnya dan sebagai konsekuensinya ia berusaha untuk
dapat menjadi seperti mereka. Pada tahap peniruan ini sering individu
mempelajari inti peran baru hanya dengan sedikit usaha. Keberhasilan
dalam peran tiruan tersebut akan menjadi faktor yang mempengaruhi
berkembangnya minat terhadap peran baru yang berbeda dari peran
sebelumnya.
Beberapa ahli telah mencoba mengklasifikasikan minat berdasarkan
pendekatan yang berbeda satu sama lain, sehingga minat dapat
dikatagorikan seperti berikut ini.
41
Minat diklasifikasikan menjadi empat jenis berdasarkan bentuk
pengekspresian dari minat, antara lain: a. expressed interest, b.
manifest interest, c. tested interest, dan d. inventoried interest (Suhartini,
2011: 25). Ketiga jenis minat tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:
a. Expressed interest, minat yang diekspresikan melalui verbal yang
menunjukkan apakah seseorang itu menyukai atau tidak menyukai
suatu objek atau aktivitas.
b. Manifest interest, minat yang disimpulkan dari keikutsertaan individu
pada suatu kegiatan tertentu.
c. Tested interest, minat yang disimpulkan dari tes pengetahuan atau
keterampilan dalam suatu kegiatan.
d. Inventoried interest, minat yang diungkapkan melalui inventori minat
atau daftar aktivitas dan kegiatan yang sama dengan pernyataan.
Minat digolongkan menjadi tiga jenis berdasarkan sebab-musabab
atau alasan timbulnya minat, yaitu: a. Minat Volunter, b. Minat Involunter,
dan c. Minat Nonvolunter (Surya, 2017: 122). Ketiga jenis minat tersebut
dapat dijelaskan sebagai berikut:
1) Minat Volunter adalah minat yang timbul dari dalam diri siswa
tanpa adanya pengaruh dari luar.
2) Minat Involunter adalah minat yang timbul dari dalam diri siswa
dengan adanya pengaruh situasi yang diciptakan oleh siswa.
3) Minat Nonvolunter adalah minat yang timbul dari dalam diri siswa
secara paksa atau dihapuskan.
42
Minat dikatagorikan menjadi tiga katagori berdasarkan sifatnya,
yaitu: (a) Minat personal, (b) Minat situsional, dan (c) Minat psikologikal
(Krapp dalam Suhartini, 2011: 23), yaitu sebagai berikut:
a. Minat Personal
Merupakan minat yang bersifat permanen dan relatif stabil yang
mengarah pada minat khusus mata pelajaran tertentu. Minat personal
merupakan suatu bentuk rasa senang ataupun tidak senang, tertarik
tidak tertarik terhadap mata pelajaran tertentu. Minat ini biasanya tumbuh
dengan sendirinya tanpa pengaruh yang besar dari rangsangan eksternal.
b. Minat Situsional
Merupakan minat yang bersifat tidak permanen dan relatif berganti-
ganti, tergantung rangsangan eksternal. Rangsangan tersebut misalnya
dapat berupa metode mengajar siswa, penggunaan sumber belajar dan
media yang menarik, suasana kelas, serta dorongan keluarga. Jika minat
situsional dapat dipertahankan sehingga berkelanjutan secara jangka
panjang, minat situsional akan berubah menjadi minat personal atau minat
psikologis siswa. Semua ini tergantung pada dorongan atau rangsangan
yang ada.
c. Minat Psikologikal
Merupakan minat yang erat kaitannya dengan adanya interaksi
antara minat personal dengan minat situsional yang terus-menerus dan
berkesinambungan. Jika siswa memiliki pengetahuan yang cukup tentang
suatu mata pelajaran, dan memiliki kesempatan untuk mendalaminya
dalam aktivitas yang terstruktur di kelas atau pribadi (di luar kelas) serta
43
mempunyai penilaian yang tinggi atas mata pelajaran tersebut maka dapat
dinyatakan bahwa siswa tersebut memiliki minat psikologikal.
Minat belajar adalah kecenderungan yang mengarahkan siswa
terhadap bidang-bidang yang ia sukai dan tekuni tanpa adanya
keterpaksaan dari siapapun untuk meningkatkan kualitasnya dalam hal
pengetahuan, keterampilan, nilai, sikap, minat, apresiasi, logika berpikir,
komunikasi, dan kreativitas. Minat belajar merupakan ketertarikan atau
kesenangan pada suatu pelajaran sehingga dapat menimbulkan
perubahan perilaku pada diri siswa yang relatif tetap untuk lebih
memperhatikan dan mengingat secara terus menerus yang diikuti
rasa senang untuk memperoleh suatu kepuasan dalam mencapai tujuan
pembelajaran. Selain itu, beberapa ahli berpendapat mengenai definisi
minat belajar sebagai berikut.
Minat belajar adalah kecenderungan dan kegairahan yang tinggi
atau keinginan yang besar terhadap sesuatu (Syah, 2011: 136 ) .
Sedangkan menurut Marimba (2010: 79) minat belajar adalah
kecenderungan jiwa kepada sesuatu, karena kita merasa ada
kepentingandengan sesuatu itu, pada umumnya disertai dengan perasaan
senang akan sesuatu itu. Mempertegas pendapat tersebut adalah
Shalahuddin (2010: 95) mengemukakan bahwa minat belajar adalah
perhatian yang mengandung unsur-unsur perasaan. Dengan begitu
minat belajar, sangat menentukan sikap yang menyebabkan
seseorang aktif dalam suatu pekerjaan, atau dengan kata lain, minat
belajar dapat menjadi sebab dari suatu kegiatan.
44
Menurut Crow dan Crow dalam Abor (2013: 112) bahwa minat
belajar atau interest biasa berhubungan dengan daya gerak yang
mendorong kita untuk cendrung atau merasa tertarik pada orang, benda,
kegiatan, ataupun bisa berupa pengalaman yang efektif yang
dirangsang oleh kegiatan itu sendiri.
Dari pengertian minat belajar tersebut dapat diambil kesimpulan
bahwa minat belajar akan timbul apabila mendapatkan rangsangan dari
luar. Dan kecenderungan untuk merasa tertarik pada suatu bidang
bersifat menetap dan merasakan perasaan yang senang apabila ia
terlibat aktif didalamnya. Perasaan senang ini timbul dari lingkungan atau
berasal dari objek yang menarik
Hamalik (2018: 158) berpendapat bahwa minat adalah perubahan
energi dalam diri seseorang yang ditandai dengan timbulnya perasaan dan
reaksi untuk mencapai tujuan. Tanpa adanya tujuan, orang tidak akan
berminat untuk berbuat sesuatu. Seorang siswa melakukan kegiatan
belajar selalu mempunyai tujuan mengapa ia melakukan kegiatan belajar
tersebut. Oleh karena itu, minat merupakan faktor penting dalam kegiatan
belajar. Adanya minat diharapkan dapat memperoleh hasil yang
memuaskan dalam setiap kegiatan.
Hamalik (2018: 110) yang menyatakan bahwa belajar tanpa adanya
minat kiranya sulit untuk mencapai keberhasilan secara optimal. Hal ini
juga didukung oleh pendapat Dalyono, (2016: 57) yang menyatakan bahwa
kuat lemahnya minat seseorang turut mempengaruhi keberhasilan belajar.
45
Oleh karena itu dalam kegiatan belajar, minat dalam belajar perlu
diusahakan terutama yang berasal dari
dalam diri dengan cara senantiasa memikirkan masa depan yang penuh
tantangan dan harus dihadapi untuk mencapai cita-cita senantiasa
memasang tekad bulat dan selalu optimis bahwa cita-cita dapat dicapai
dengan belajar.
Dalam kegiatan proses pembelajaran, minat merupakan aspek yang
sangat penting, hal ini dikarenakan (a) motivasi (minat) memberi semangat
terhadap seorang peserta didik dalam kegiatan-kegiatan belajarnya, (b)
motivasi (minat) perbuatan merupakan pemilih dari tipe kegiatan-kegiatan
dimana seseorang berkeinginan untuk melakukannya, dan (c) motivasi
(minat) juga memberi petunjuk pada tingkah laku (Rusyan, dkk., 2009: 96-
97).
Sependapat dengan Rusyan, Sardiman, (2016: 83) mengemukakan
ciri-ciri seseorang yang memiliki minat tinggi dalam belajar yaitu berupa; (1)
Tekun dalam menghadapi tugas (dapat bekerja terus menerus dalam waktu
yang lama, tidak pernah berhenti sebelum selesai), (b) Ulet menghadapi
kesulitan ridak (tidak lekas putus asa), (c) Menunjukkan minat terhadap
bermacam-macam masalah, (d) Lebih senang bekerja mandiri, (e) Cepat
bosan pada tugas-tugas yang rutin (hal-hal yang berifat mekanis, berulang-
ulang begitu saja sehingga kurang kreatif), (f) Dapat mempertahankan
pendapatnya (kalau sudah yankin akan sesuatu), (g) Tidak mudah
melepaskan hal yang diyakini itu, dan (h) Senang mencari dan
memecahkan maslah soal-soal.
46
Tingkah laku siswa ketika mengikuti proses belajar mengajar dapat
mengindikasikan akan ketertarikan siswa tersebut terhadap pelajaran itu
atau sebaliknya, ia merasa tidak tertarik dengan pelajaran tersebut.
Ketertarikan siswa inilah yang merupakan salah satu tanda-tanda minat
belajar. Menurut Sabri (2015: 84) minat belajar adalah kecenderungan
untuk selalu memperhatikan dan mengingat sesuatu secara terus menerus,
minat belajar ini erat kaitannya dengan perasaan senang, karena itu dapat
dikatakan minat belajar itu terjadi karena sikap senang kepada sesuatu,
orang yang berminat belajar kepada sesuatu berarti ia sikapnya senang
kepada sesuatu. Dengan demikian maka minat belajar sangat menentukan
sikap yang menyebabkan seseorang aktif dalam suatu pekerjaan belajar,
atau dengan kata lain, minat belajar dapat menjadi sebab dari suatu
kegiatan beloajar.
Minat belajar dipengaruhi oleh kesehatan fisik dan kondisi
mental (Hapsari, 2017: 43). Lebih lanjut dapat dijelaskan, siswa yang
kondisi kesehatannya mengalami gangguan tidak akan memiliki keinginan
untuk belajar, karena seluruh potensi tubuhnya digunakan untuk menahan
rasa sakit yang diderita. Demikian pula dengan kesehatan mental, yang
secara langsung akan mengganggu minat belajar. Perasaan benci, sakit
hati atau kecewa terhadap guru akan menghambat minat belajar siswa.
Tidak jarang siswa enggan belajar matematika, hanya karena ia tidak
suka dengan perilaku dan cara mengajar guru matematika. Beberapa
siswa menjadi enggan belajar matematika hanya karena guru yang
tadinya ia kagumi menegur perilakunya yang kurang baik, atau saat siswa
47
mendapat nilai yang kurang baik dalam ulangan.
Menurut Barokah (2011: 90) minat belajar ada beberapa indikator
siswa yang memiliki minat belajar yang tinggi hal ini dapat dikenali
melalui proses belajar dikelas maupun dirumah yaitu: (a) Perasaan
Senang, artinya seorang siswa yang memiliki perasaan senang atau suka
terhadap pelajaran, maka ia harus terus mempelajari ilmu yang
berhubungan dengan IPS. Sama sekali tidak ada perasaan terpaksa
untuk mempelajari bidang tersebut; (b) Ketertarikan Siswa artinya
berhubungan dengan daya gerak yang mendorong siswa untuk
cenderung merasa tertarik pada orang, benda, kegiatan, atau bisa
berupa pengalaman efektif yang dirangsang oleh kegiatan itu sendiri; (c)
Perhatian dalam belajar artinya adanya perhatian juga menjadi salah satu
indikator minat. Perhatian merupakan konsentrasi atau aktifitas jiwa kita
terhadap pengamatan, pengertian, dan sebagainya dengan
mengesampingkan yang hal lain. Seseorang yang memiliki minat pada
objek tertentu maka dengan sendirinya dia akan memperhatikan objek
tersebut. Misalnya, seorang siswa menaruh minat terhadap pelajaran,
maka ia berusaha untuk memperhatikan penjelasan dari siswanya; (d)
Bahan Pelajaran dan Sikap Siswa yang Menarik artinya tidak semua
siswa menyukai suatu bidang studi pelajaran karena faktor minatnya
sendiri. Ada yang mengembangkan minatnya terhadap bidang pelajaran
tersebut karena pengaruh dari siswanya, teman sekelas, bahan pelajaran
yang menarik. Walaupun demikian lama-kelamaan jika siswa mampu
mengembangkan minatnya yang kuat terhadap mata pelajaran
48
niscayaia bisa memperoleh hasil yang berhasil sekalipun ia tergolong
siswayang berkemampuan rata- rata; (e) Keterlibatan Siswa artinya
ketertarikan seseorang akan sesuatu obyek yang mengakibatkan orang
tersebut senang dan tertarik untuk melakukan atau mengerjakan kegiatan
dari obyek tersebut; dan (f) Manfaat dan fungsi mata pelajaran artinya
adanya manfaat dan fungsi pelajaran juga merupakan salah satu
indikator minat. Karena setiap pelajaran mempunyai manfaat dan fungsi
yang berbeda-beda maka minat siswa terhadap mata pelajaran juga berbeda-
beda.
Surya (2007: 46) menyampaikan beberapa langkah untuk
meningkatan minat belajar diantaranya dengan menggugah rasa
kebutuhan anak akan pentingnya [Link] dalam menggugah
tentang kebutuhan akan belajar dapat dilakukan dengan membangun
dialog dan pendekatan personal, mengembangkan komunikasi kondusif
dengan anak. Dalam kontek ini orang tua atau guru sebaiknya tidak
hadir dengan mengitervensi atau mendikte tetapi hadir dengan memberi
dukungan dan Minat untuk berada pada jalur yang tepat sebagai seorang
pelajar.
Menurut djamarah (2011: 166) minat adalah kecenderungan yang
menetap untuk memperhatikan dan mengenang beberapa aktivitas.
Seseorang yang berminat terhadap aktivitas akan memperhatikan aktivitas
itu secara konsisten dengan rasa senang. Minat sebagai kesukaan
terhadap kegiatan melebihi kegiatan lainnya. ini berarti minat berhubungan
dengan nilai-nilai yang membuat seseorang mempunyai pilihan dalam
49
hidupnya. Kegiatan yang diminati seseorang dan diperhatikan secara terus-
menerus yang disertai dengan rasa senang.
Menurut Kamisa (2017: 370) minat adalah sesuatu yang pribadi dan
berhubungan erat dengan sikap. Minat dan sikap merupakan dasar bagi
prasangka dan minat juga penting dalam mengambil keputusan. minat
dapat menyebabkan seseorang giat melakukan menuju ke sesuatu yang
telah menarik minatnya. Gunarso (2015: 68) mengatakan minat diawali
dengan kesadaran menerima sesuatu rangsangan dan ia menerimanya
secara pasif dan apabila telah dirangsang berkali-kali maka ia mungkin
akan menerimanya secara aktif. setelah ia menerimanya secara aktif, baru
akan timbul keinginan untuk bereaksi terhadap rangsangan tersebut guna
memuaskan dirinya sendiri.
Dari pendapat-pendapat yang dikemukakan oleh para ahli di atas,
dapat disimpulkan bahwa minat belajar adalah suatu dorongan atau
kegairahan yang tinggi dari siswa dalam hal pemusatan perhatian terhadap
kegiatan belajar melalui interaksi dengan lingkungannya dan akan
menimbulkan perubahan perilaku.
2.2.2. Indikator Minat Belajar
Menurut Slameto (2010 :58) siswa yang berminat dalam belajar
mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
a. Mempunyai kecenderungan yang tetap untuk memperhatikan dan
mengenang sesuatu yang dipelajari secara terus menerus.
b. Ada rasa suka dan senang pada sesuatu yang diminati.
50
c. Memperoleh suatu kebanggaan dan kepuasan pada sesuatu yang
diminati. Ada rasa keterikatan pada sesuatu aktivitas-aktivitas yang
diminati.
d. Lebih menyukai suatu hal yang menjadi minatnya daripada yang
lainnya.
e. Dimanifestasikan melalui partisipasi pada aktivitas dan kegiatan.
Menurut Barokah (2011: 90) minat belajar ada beberapa indikator
siswa yang memiliki minat belajar yang tinggi hal ini dapat dikenali
melalui proses belajar dikelas maupun dirumah yaitu:
a. Perasaan Senang
Seorang siswa yang memiliki perasaan senang atau suka terhadap
pelajaran ekonomi, maka ia harus terus mempelajari ilmu
yang berhubungan dengan ekonomi. Sama sekali tidak ada perasaan
terpaksa untuk mempelajari bidang tersebut.
b. Ketertarikan Siswa
Berhubungan dengan daya gerak yang mendorong siswa untuk
cenderung merasa tertarik pada orang, benda, kegiatan, atau
bisa berupa pengalaman efektif yang dirangsang oleh kegiatan itu
sendiri.
c. Perhatian dalam Belajar
Adanya perhatian juga menjadi salah satu indikator minat. Perhatian
merupakan konsentrasi atau aktifitas jiwa kita terhadap pengamatan,
pengertian, dan sebagainya dengan mengesampingkan yang hal
lain. Seseorang yang memiliki minat pada objek tertentu maka
51
dengan sendirinya dia akan memperhatikan objek tersebut. Misalnya,
seorang siswa menaruh minat terhadap pelajaran ekonomi, maka ia
berusaha untuk memperhatikan penjelasan dari siswanya. Tidak
semua siswa menyukai suatu bidang studi pelajaran karena faktor
minatnya sendiri. Ada yang mengembangkan minatnya terhadap
bidang pelajaran tersebut karena pengaruh dari guru, teman sekelas,
dan bahan pelajaran yang menarik. Walaupun demikian lama-
kelamaan jika siswa mampu mengembangkan minatnya yang kuat
terhadap mata pelajaran niscaya ia bisa memperoleh hasil yang
berhasil sekalipun ia tergolong siswa yang berkemampuan rata- rata.
Sebagaimana dikemukakan oleh Brown dalam Imran (2006: 88)
bahwa tertarik pada mata pelajaran, artinya tidak membenci atau
bersikap acuh tak acuh, tertarik kepada mata pelajaran yang
diajarkan, mempunyai antusias yang tinggi serta mengendalikan
perhatiannya terutama kepada siswa, ingin selalu bergabung dalam
kelompok kelas, ingin identitas dirinya diketahui oleh orang lain,
tindakan kebiasaan dan moralnya selalu dalam control diri, selalu
mengingat pelajaran dan mempelajarinya kembali, dan selalu
terkontrol oleh lingkungannya.
d. Keterlibatan Siswa
Ketertarikan seseorang akan sesuatu obyek yang mengakibatkan
orang tersebut senang dan tertarik untuk melakukan atau
mengerjakan kegiatan dari obyek tersebut.
52
Berdasarkan pengertian di atas maka dapat disimpulkan
bahwa Minat belajar adalah kecenderungan yang mengarahkan siswa
terhadap bidang-bidang yang ia sukai dan tekuni tanpa adanya
keterpaksaan dari siapapun untuk meningkatkan kualitasnya dalam hal
pengetahuan, keterampilan, nilai, sikap, minat, apresiasi, logika berpikir,
komunikasi, dan kreativitas. Merupakan ketertarikan atau kesenangan
pada suatu pelajaran sehingga dapat menimbulkan perubahan perilaku
pada diri siswa yang relatif tetap untuk lebih memperhatikan dan
mengingat secara terus menerus yang diikuti rasa senang untuk
memperoleh suatu kepuasan dalam mencapai tujuan pembelajaran.
2.1.3. Disiplin Belajar
[Link]. Pengertian Disiplin
Konsep disiplin berkaitan dengan tata tertib, aturan, atau norma
dalam kehidupan bersama yang melibatkan orang banyak. Menurut
Moeliono (2013: 208) bahwa disiplin adalah ketaatan (kepatuhan) kepada
peraturan tata tertib, aturan, atau norma, dan lain sebagainya. Dengan
demikian disiplin siswa adalah ketaatan (kepatuhan) dari siswa kepada
aturan, tata tertib atau norma di sekolah yang berkaitan dengan kegiatan
belajar mengajar.
Dari pengertian tersebut, disiplin siswa dalam belajar atau disiplin
belajar dapat dilihat dari ketaatan (kepatuhan) siswa terhadap aturan (tata
tertib) yang berkaitan dengan kegiatan belajar mengajar di sekolah, yang
meliputi waktu masuk sekolah dan keluar sekolah, kepatuhan siswa dalam
53
berpakaian, kepatuhan siswa dalam mengikuti kegiatan sekolah, dan lain
sebagainya. Semua aktifitas siswa yang dilihat kepatuhannya adalah
berkaitan dengan aktifitas belajar di sekolah.
Atmodiwirio (2000: 235) bahwa (1) disiplin adalah setiap usaha
mengkoordinasikan perilaku seseorang pada masa yang akan datang
dengan menggunakan hukum dan ganjaran; (2) disiplin sebagai suatu
bentuk ketaatan dan pengendalian diri erat hubungannya rasionalisme,
sadar, tidak emosional; (3) disiplin adalah suatu sikap mental yang
menggambarkan persesuaian antara tingkah laku dan perbuatan/ucapan
dengan kaidah-kaidah yang berlaku sebagai bangsa, negara dengan
dilkitasi keikhlasan dan tanggung jawab; dan (4) disiplin sebagai suatu
sikap, perbuatan untuk selalu mentaati tata tertib. Disiplin adalah sikap
mental yang tercermin dalam perbuatan, tingkah laku seseorang, kelompok
atau masyarakat berupa kepatuhan atau ketaatan terhadap peraturan-
peraturan, dan ketentuan-ketentuan yang ditetapkan Pemerintah atau etik,
norma dan kaidah yang berlaku dalam masyarakat untuk tujuan tertentu.
Torrance dan Strom dalam Sahertian (2001: 24), menyatakan bahwa
disiplin merupakan kontrol bagi tingkah laku individu, yang diperbolehkan
atau tidak oleh lingkungannya. Selanjtunya Ravianto (2014: 78)
menyatakan bahwa disiplin adalah sikap kejiwaan seseorang atau
sekelompok orang senantiasa berkehendak unutk mengikuti atau mematuhi
keputusan yang telah diputuskan.
Sahertian (2014: 129) menyatakan bahwa “discipline refers
fundamentally to the principle that each organism learns in some degree to
54
control it self so as to conform to rhe foreces around it with which it has
experiences”. Dari pengertian ini terkandung beberapa unsur yaitu: (1)
berisi moral yang mengatur tata kehidupan, (2) pengembangan ego
dengan segala masalah intrinsic yang mengharuskan orang untuk
menentukan pilihan, (3) pertumbuhan kekuatan untuk memberi jawaban
terhadap setiap aturan yang disampaikan, dan (4) penerimaan otoritas
tambahan uang membantu seseorang untuk membentuk kemampuan dan
keterbatasan hidup.
Disiplin adalah suatu sikap dan perilaku yang tercipta melalui proses
pembinaan melalui keluarga, pendidikan dan pengalaman atau pengenalan
dari keteladanan lingkungannya. Disiplin membuat seseorang mengenal
dan mengetahui hal-hal apa yang seharusnya dilakukan, yang wajib
dilakukan, yang boleh dilakukan, dan apa yang tak sepatutnya dilakukan.
Melalui disiplin maka akan terbentuk suatu kondisi yang terwujud dalam
serangkaian perilaku yang menunjukkan nilai-nilai ketaatan, kepatuhan,
kesetiaan, keteraturan dan atau ketertiban. Karena sudah menyatu dengan
diri seseorang, maka sikap atau perbuatan yang dilakukan bukan lagi
dirasakan sebagai beban, bahkan sebaliknya akan merupakan suatu
beban jika tidak berbuat sesuai aturan yang ada. Nilai-nilai kepatuhan
menjadi bagian dari perilaku hidupnya, secara langsung akan berdampak
terhadap perilaku organisasi yang dimiliki oleh seseorang.
Ravianto (2014: 78) menyatakan bahwa disiplin adalah sikap
kejiwaan seseorang atau sekelompok orang yang senantiasa berkehendak
unutk mengikuti atau mematuhi keputusan yang telah diputuskan. Kedua
55
pendapat menunjukkan perbedaan dalam mengartikan disiplin yaitu ada
melihat disiplin sebagai control bagi tingkah laku individu dan ada yang
melihat disiplin sebagai sikap pribadi seseorang atau sekelompok orang
untuk selalu menaatau keputusan yang telah ditetapkan.
Chester (2014: 129) menyatakan bahwa terdapat beberapa unsur
yang terkandung disiplin dengan segala masalah intrinsik yang
mengharuskan orang untuk menentukan pilihan, (3) pertumbuhan
kekuatan untuk memberi jawaban terhadap setiap aturan yang
disampaikan, dan (4) penerimaan otoritas tambahan uang membantu
seseorang untuk membentuk kemampuan dan keterbatasan hidup.
Disiplin adalah suatu sikap dan perilaku yang tercipta melalui proses
pembinaan melalui keluarga, pendidikan dan pengalaman atau pengenalan
dari keteladanan lingkungannya. Disiplin membuat seseorang mengenal
dan mengetahui hal-hal apa yang seharusnya dilakukan, yang wajib
dilakukan, yang boleh dilakukan, dan apa yang tak sepatutnya dilakukan.
Melalui disiplin maka akan terbentuk suatu kondisi yang terwujud dalam
serangkaian perilaku yang menunjukkan nilai-nilai ketaatan, kepatuhan,
kesetiaan, keteraturan dan atau ketertiban. Karena sudah menyatu dengan
diri seseorang, maka sikap atau perbuatan yang dilakukan bukan lagi
dirasakan sebagai beban, bahkan sebaliknya akan merupakan suatu
beban jika tidak berbuat sesuai aturan yang ada. Nilai-nilai kepatuhan
menjadi bagian dari perilaku hidupnya, secara langsung akan berdampak
terhadap perilaku organisasi yang dimiliki oleh seseorang.
56
Disiplin lahir, tumbuh dan berkembang dari sikap seseorang di
dalam sistem nilai budaya yang telah ada di dalam masyarakat, sehingga
unsur pokok pembentukan disiplin adalah sikap yang ada dalam diri
seseorang dan sistem nilai budaya yang berlaku di masyarakat. Sikap
tersebut merupakan unsur yang hidup dalam diri seseorang yang harus
mampu bereaksi terhadap lingkungannya dan terwujud dalam bentuk
tingkah laku atau pemikiran, sistem nilai budaya merupakan bagian dari
budaya yang berfungsi sebagai petunjuk atau pedoman atau penuntun bagi
kelakuan manusia.
Siagian (2013: 67) mengemukakan bahwa berdasarkan ruang
lingkup dari nilai budaya, maka disiplin dapat dibedakan atas tiga tingkatan,
yaitu: (a) Disiplin pribadi sebagai perwujudan disiplin yang lahir dari
kepatuhan atas aturan-aturan yang mengatur perilaku individu, (b) Disiplin
kelompok sebagai perwujudan disiplin yang lahir dari sikap taat, patuh
terhadap aturan-aturan (hukum) dan norma-norma yang berlaku pada
kelompok atau bidang-bidang kehidupan manusia, (c) Disiplin nasional
yakni wujud disiplin yang lahir dari sikap patuh yang ditunjukkan oleh
seluruh lapisan masyarakat terhadap aturan, nilai yang berlaku secara
nasional.
Disiplin adalah sikap patuh terhadap peraturan yang berlaku, sikap
disiplin sangat penting dalam kegiatan belajar mengajar di sekolah. Sikap
tersebut dapat menciptakan suasana belajar yang nyaman dan kondusif
untuk belajar, dengan bersikap disiplin siswa dapat mencapai tujuan
belajar. Sikap disiplin merupakan salah satu faktor yang dapat
57
mempengaruhi prestasi belajar. Apabila seorang siswa memiliki sikap
disiplin dalam kegiatan belajarnya, maka kepatuhan dan ketekunan
belajarnya akan terus meningkat sehingga membuat prestasi belajar
meningkat juga. Jadi apabila siswa memiliki sikap disiplin yang tinggi dalam
kegiatan belajar tentunya prestasi belajar yang diperoleh menjadi baik.
Sebaliknya jika siswa tidak memiliki sikap disiplin dalam belajar maka
kegiatan belajarnya tidak terencana dengan baik sehingga kegiatan
belajarnya tidak teratur dan membuat hasil belajar menurun (Pribadi, 2009:
1-2).
Rochim (2014: 5) menyatakan bahwa disiplin adalah suatu kondisi
yang tercipta dan terbentuk melalui proses dari serangkaian perilaku yang
menunjukkan nilai-nilai ketaatan pada keteraturan dan ketertiban, dalam
memperoleh ilmu. Pendapat ini menjelaskan bahwa disiplin itu berisikan
nilai-nilai ketaatan pada tata tertib.
Menurut Joko (2008: 24) bahwa istilah disiplin sebagai kepatuhan
dan ketaatan yang muncul karena adanya kesadaran dan dorongan dalam
diri orang itu. Alasan pentingnya kedisiplinan belajar bagi siswa seperti
yang dikemukakan Tulus (2004: 37) bahwa kedisiplinan belajar merupakan
jalan bagi siswa untuk sukses dalam belajar dan kelak ketika bekerja. Dari
beberapa pendapat tentang kedisiplinan belajar tersebut, maka dapat
disimpulkan bahwa kedisiplinan belajar merupakan kesadaran untuk
mengendalikan diri agar bersungguh-sungguh dalam belajar, sehingga
belajar akan penuh dengan kesadaraan, tanpa paksaan serta terciptanya
58
lingkungan belajar yang kondusif untuk mencapai hasil belajar yang
maksimal.
Dari beberapa pengertian tentang disiplin tersebut di atas maka
terdapat tiga inti disiplin, yaitu: sikap mental merupakan unsur atau aspek
utama dari disiplin; pengetahuan tentang sistem aturan, perilaku, norma,
kriteria; dan Standar perilaku yang menunjukkan kesungguhan, pengertian,
dan kesadaran untuk mentaati segala apa yang ada dalam aturan. Ketiga
aspek tersebut mendasari seseorang untuk bisa melaksanakan disiplin.
Dimana pelaksanaan disiplin seseorang akan berjalan secara bertahap
disesuaikan dengan kemampuan untuk beradaptasi, dan situasi serta
kondisi lingkungan kerjanya.
Menurut Tu’u (2014: 31) disiplin adalah suatu kondisi yang tercipta
dan terbentuk melalui proses dari serangkaian perilaku yang menunjukan
nilai-nilai ketaatan, kepatuhan, kesetiaan, keteraturan dan keterikatan.
Selanjutnya Rachman (2009: 32) menyatakan disiplin sebagai upaya
mengendalikan diri dan sikap mental individu atau masyarakat dalam
mengembangkan kepatuhan dan ketaatan terhadap peraturan dan tata
tertib berdasarkan dorongan dan kesadaran yang muncul dari dalam
hatinya. Pendapat Tu’u dan Rachman memiliki perbedaan karena Tu’u
melihat disiplin dari aspek nilai-nilai ketaatan dan kepatuhan terhadap
aturan, sedangkan Rachman melihat disiplin dari aspek upaya individu dan
masyarakat mengendalikan diri untuk mengembangkan sikap kepatuhan
dan ketaatan terhadap peraturan dan tata tertib.
59
Mangkunegara (2012: 129) mengemukakan bahwa dalam lembaga
pendidikan terdapat dua bentuk disiplin yaitu: (1) disiplin preventif dan (2)
disiplin korektif.
1). Disiplin yang bersifat preventif
Adalah usaha untuk menggerakkan semua elemen lembaga
pendidikan untuk mengikuti dan mematuhi aturan-aturan dan tata tertib
yang telah digariskan oleh sekolah. Tujuan dasarnya adalah untuk
menggerakkan peserta didik berdisiplin diri. Dengan cara preventif peserta
didik dapat memelihara dirinya terhadap aturan dan tata tertib. Pimpinan
mempunyai tanggung jawab dalam membangun sistem organisasi di
sekolah. Begitu juga guru dan siswa harus dan wajib mengetahui,
memahami semua aturan dan tata tertib yang ada dalam lembaga
pendidikan.
Disiplin preventif merupakan suatu sistem yang berhubungan
dengan kebutuhan prestasi untuk semua bagian sistem yang ada dalam
lembaga pendidikan di sekolah (guru, siswa dan staf tata usaha). Jika
sistem aturan dan tata tertib, maka diharapkan akan lebih mudah
menegakkan disiplin.
2). Disiplin yang bersifat korektif
Suatu usaha mengerakkan dalam menyatukan peraturan dan
mengarahkan untuk tetap mematuhi peraturan sesuai dengan pedoman
yang berlaku pada organisasi lembaga pendidikan di sekolah. Pada disiplin
korektif perlu diberikan sanksi sesuai dengan peraturan yang berlaku.
Tujuan pemberian sanksi adalah untuk memperbaiki perilaku guru atas
60
pelanggaran aturan dan tata tertib, memelihara peraturan yang berlaku,
dan memberikan pelajaran kepada pelanggar.
Pengenaan sanksi korektif diterapkan dengan memperhatikan tiga
hal: (1) guru yang dikenakan sanksi harus diberitahu pelanggaran atas
kesalahan apa yang telah diperbuatnya, (2) guru yang bersangkutan diberi
kesempatan membela diri. (3) Dalam hal pengenaan sanksi terberat seperti
pemberhentian pihak sekolah atau dinas terkait (pemerintah) perlu
menjelaskannya secara tepat.
Hurlock (2009: 84) menyatakan bahwa disiplin terdiri dari empat
unsur yaitu: peraturan, hukuman, penghargaan dan konsistensi. Peraturan
yaitu pola yang ditetapkan untuk tingkah laku. Pola itu dapat ditetapkan
oleh orang tua, guru atau teman bermain. Tujuan peraturan adalah untuk
menjadikan anak lebih bermoral dengan membekali pedoman perilaku
yang disetujui dalam situasi tertentu. Setiap individu memiliki tingkat
pemahaman yang berbeda. Hal ini disebabkan oleh tingkat perkembangan
individu yang berbeda meskipun usianya sama. Oleh karena itu dalam
memberikan peraturan harus melihat usia individu dan tingkat pemahaman
masing – masing individu.
Hukuman sanksi yang diberikan karena melanggar ketetapan
hukuman berarti menjatuhkan hukuman pada seseorang karena suatu
kesalahan perlawanan atau pelanggaran sebagai ganjaran atau
pembalasan. Penghargaan merupakan setiap bentuk penghargaan untuk
suatu hasil yang baik. Penghargaan tidak harus berbentuk materi tetapi
dapat berupa kata – kata pujian, senyuman atau tepukan di punggung.
61
Banyak orang yang merasa bahwa penghargaan itu tidak perlu dilakukan
karena bisa melemahkan anak untuk melakukan apa yang dilakukan. Sikap
guru yang menganggap enteng terhadap hal ini menyebabkan anak
merasa kurang termotivasi untuk belajar. Oleh karena itu guru harus sadar
tentang betapa pentingnya memberikan penghargaan atau ganjaran
kepada anak khususnya jika mereka berhasil. Bentuk penghargaan harus
disesuaikan dengan perkembangan anak. Bentuk penghargaan yang efektif
adalah penerimaan sosial dengan diberi pujian. Namun dalam
penggunaannya harus dilakukan secara bijaksana dan mempunyai nilai
edukatif, sedangkan hadiah dapat diberikan sebagai penghargaan untuk
perilaku yang baik dan dapat menambah rasa harga diri anak; dan
Konsistensi berarti tingkat keseragaman atau stabilitas. Konsistensi
tidak sama dengan ketetapan dan tiada perubahan. Dengan demikian
konsistensi merupakan suatu kecenderungan menuju kesamaan. Disiplin
yang konstan akan mengakibatkan tiadanya perubahan untuk menghadapi
kebutuhan perkembangan yang berubah. Mempunyai nilai mendidik yang
besar yaitu peraturan yang konsisten bisa memacu proses belajar anak.
Dengan konsitensi anak akan terlatih dan terbiasa dengan segala yang
tetap sehingga mereka akan termotivasi untuk melakukan hal yang benar
dan menghindari hal yang salah.
[Link]. Disiplin Belajar
Disiplin belajar adalah hal yang sangat diperlukan bagi setiap siswa
dalam belajar sehingga tujuan belajar akan lebih mudah tercapai. Sanjaya
62
(2015: 9) mengemukakan bahwa disiplin belajar adalah serangkaian
perilaku seseorang yang menunjukan ketaatan dan kepatuhan terhadap
peraturan, tata tertib norma kehidupan yang berlaku karena didorong
adanya kesadaran dari dalam dirinya untuk mencapai tujuan belajar yang
diinginkan.
Dengan disiplin yang muncul karena kesadaran diri, siswa berhasil
dalam belajarnya. Sebaliknya siswa yang kerap kali melanggar ketentuan
sekolah pada umumnya akan terganggu optimalisasi potensi dan
prestasinya. Tanpa disiplin yang baik, suasana sekolah dan kelas menjadi
kurang kondisif bagi kegiatan pembelajaran. Orang tua senantiasa
berharap di sekolah anak-anak dibiasakan dengan norma-norma, nilai
kehidupan, dan disiplin. Dengan demikian anak-anaknya dapat menjadi
individu yang teratur, tertib dan disiplin.
Disiplin siswa dalam belajar atau Disiplin belajar siswa merupakan
hal yang sangat penting, karena jika disiplin tersebut telah tertanam dalam
diri anak, maka ia akan berusaha untuk belajar secara teratur, kontinue,
dan juga sesuai dengan peraturan-peraturan yang ada, sehingga akan
tercapai sebuah prestasi dalam belajar.
Menurut Tu’u, (2014: 37) bahwa beberapa alasan tentang
pentingnya disiplin dalam belajar, yaitu:
1. Dengan disiplin yang muncul kesadaran diri untuk belajar lebih baik.
Siswa yang memiliki kesadaran untuk belajar akan memperoleh
keberhasilan dalam belajarnya. Sebaliknya siswa yang kerapkali
63
melanggar ketentuan sekolah seperti sering terhambat cenderung untuk
gagal dalam belajar.
2. Tanpa disiplin yang baik, suasana sekolah dan kelas menjadi kurang
kondusif bagi kegiatan pembelajaran. Secara positif, disiplin
memberikan dukungan bagi berlansungnya proses pembelajaran.
3. Disiplin dapat membiasakan siswa untuk mengikuti atau mematuhi
norma-norma, nilai kehidupan dan berbagai peraturan, sehingga siswa
menjadi individu yang tertib, teratur dan disiplin.
4. Disiplin merupakan jalan bagi siswa untuk sukses dalam belajar dan
pada saat bekerja. Kesadaran pentingnya norma, aturan, kepatuhan
dan ketaatan merupakan prasyarat kesuksesan seseorang dalam
bekerja.
Tumbuhnya sikap disiplin bukan merupakan peristiwa mendadak
yang tiba-tiba saja terjadi pada siswa. Disiplin pada diri seseorang tidak
dapat tumbuh tanpa adanya campur tangan dari guru dan harus dilakukan
secara bertahap. Penanaman disiplin yang dimulai dari kecil pada
lingkungan keluarga seperti bangun pagi, merapikan tempat tidur dan
mandi mempunyai dampak yang sangat besar pada saat anak mulai keluar
dan berada pada situasi yang tingkat disiplinnya lebih keras dan kaku.
Disiplin terjadi dan terbentuk sebagai hasil dari dampak proses pembinaan
cukup panjang yang dilakukan sejak dari keluarga dan berlanjut dalam
pendidikan di sekolah sebagai tempat penting bagi pengembangan disiplin
seseorang.
64
Penerapan disiplin di sekolah sangat terlihat jelas dan tegas, hal ini
terlihat pada tata tertib yang diberlakukan dan disertai dengan sanksi-
sanksi pada setiap pelanggaran tata tertib. Peraturan yang ada di sekolah
berlaku untuk guru dan siswa kemudian dipatuhi secara konsisten dan
konsekuen.
Tata tertib yang dibuat dan disepakati bersama antara guru dan
siswa akan membuat siswa merasa bahwa tata tertib tersebut bukan suatu
paksaan dari pihak lain tetapi merupakan aturan yang dibuat sendiri,
sehingga siswa lebih mudah untuk menerima dan mematuhi tata tertib
tersebut. Jadi tata tertib yang dirancang dan dipatuhi dengan baik akan
memberi pengaruh bagi terciptanya sekolah sebagai lingkungan pendidikan
yang kondusif bagi kegiatan pembelajaran.
Cara Menumbuhkan disiplin siswa dalam belajar atau disiplin
belajar, adalah sebgai berikut:
1. Keteraturan dalam belajar. Keteraturan merupakan unsur pokok dalam
pelaksanaan disiplin belajar, karena dengan belajar yang teratur siswa
akan menemukan sendiri cara belajar yang baik dan tentunya akan
berpengaruh terhadap efektivitas belajar siswa. Hal ini sebagaimana
pendapat The Liang Gie, bahwa keteraturan dalam belajar merupakan
salah satu unsur disiplin yang ikut menentukan keberhasilan dalam
proses belajar mengajar.
2. Konsentrasi. Konsentrasi merupakan pemusatan pikiran terhadap
susuatu dengan mengesampingkan semua masalah yang tidak
berhubungan. Untuk itu, jika seorang siswa akan mengkonsentrasikan
65
dirinya dalam kegiatan belajar, maka ia harus berusaha memusatkan
pikirannya terhadap satu pelajaran yang sedang dihadapinya, dan ia
harus berusaha mengesampingkan semua hal yang tidak berhubungan
dengan proses belajar yang akan dihadapi.
3. Tertib dalam belajar. Tertib dalam belajar adalah apabila seorang siswa
menyusun tata tertib dalam belajar sehingga siswa dapat belajar
dengan tertib, kontinue, dan konsisten sesuai dengan tata tertib yang
telah dibuatnya.
4. Tertib dalam menggunakan perpustakaan. Tidak ada kegiatan belajar
yang dapat dilakukan tanpa membaca dan sumber bacaan adalah buku.
Dalam menggunakan buku, anak harus mencintai dan menganggap
buku sebagai sahabat. Seseorang dapat mencintai buku-buku dan
mereka senantiasa merupakan sahabat yang abadi.
5. Pengelompokkan waktu. Salah satu yang dihadapi anak adalah
penggunaan waktu dalam belajar. Banyak anak yang mengeluh
kekurangan waktu untuk belajar, tetapi sebenarnya anak kurang
memiliki keteraturan dan disiplin untuk menggunakan waktu secara
efektif dan efisien.
6. Penjatahan waktu. Untuk belajar secara teratur setiap hari harus
mempunyai rencana kegiatan. Banyak anak yang membuang waktu
untuk memikirkan mata pelajaran, karena kebingungan apa yang
sebaiknya dipelajari. Sehingga hal ini akan membuang waktu secara
sia-sia (Sujanto, 2010: 26).
66
Ada 4 faktor dominan yang mempengaruhi dan membentuk disiplin,
yaitu:
1. Kesadaran diri. Merupakan pemahaman diri bahwa disiplin dianggap
penting sebagai kebaikan dan keberhasilan diri, selain itu kesadaran diri
menjadi motif yang sangat berpengaruh bagi terwujudnya disiplin.
2. Pengikutan dan ketaatan. Sebagai langkah penerapan dan praktik atas
peraturan yang mengatur perilaku individu. Hal ini sebagai kelanjutan
dari adanya kesadaran diri yang dihasilkan oleh kemampuan dan
kemauan diri yang kuat. Tekanan dari luar dirinya sebagai upaya
mendorong, menekan dan memaksa agar disiplin diterapkan dalam diri
seseorang sehingga peraturan-peraturan dapat diikuti dan dipraktikkan.
3. Alat pendidikan. Sebagai sarana untuk mempengaruhi, mengubah,
membina dan membentuk perilaku yang sesuai dengan nilai-nilai yang
ditentukan.
4. Hukuman. Sebagai upaya untuk menyadarkan, mengoreksi dan
meluruskan yang salah sehingga orang kembali pada perilaku yang
sesuai dengan harapan (Tu`u, 2014: 48).
Dari keempat faktor disiplin di atas yang memegang peranan yang
sangat penting adalah kesadaran diri, dimana disiplin tersebut harus benar-
benar berasal dari pemahaman diri akan pentingnya disiplin yang akan
berdampak positif bagi kelancaran dalam menuju keberhasilan cita-citanya.
Kesadaran diri ini terwujud dalam kegigihan dan kerja keras untuk
menunjang peningkatan dan pengembangan prestasi yang positif.
67
Disiplin dalam belajar bagi siswa merupakan keharusan bagi siswa
yang ingin memperoleh prestasi belajar yang memuaskan. Disiplin belajar
kaitannya dengan ketertiban dalam melakukan aktivitas siswa, dimana
siswa diharapkan dapat mengerahkan energinya untuk belajar secara
kontinu, melakukan belajar dengan kesungguhan dan tidak membiarkan
waktu luang serta patuh terhadap peraturan yang ada di lingkungan belajar.
Selain empat faktor disiplin yang dominan, masih ada beberapa
faktor lain yang berpengaruh pada pembentukan disiplin individu, yaitu:
1. Teladan.
Perbuatan dan tindakan kerapkali lebih besar pengaruhnya
dibandingkan dengan kata-kata. Dalam hal ini siswa lebih mudah
meniru apa yang mereka lihat (dianggap baik dan patut ditiru) daripada
dengan apa yang mereka dengar. Lagi pula, hidup manusia banyak
dipengaruhi peniruan-peniruan terhadap apa yang dianggap baik dan
patut ditiru.
2. Lingkungan berdisiplin.
Lingkungan sangat besar pengaruhnya. Apabila berada di lingkungan
yang berdisiplin, seseorang dapat terbawa oleh lingkungan tersebut.
Hal ini menunjukkan bahwa manusia mampu beradaptasi dengan
lingkungannya sehingga dapat mempertahankan hidupnya.
3. Latihan berdisiplin.
Disiplin dapat dicapai dan dibentuk melalui proses latihan dan
kebiasaan, artinya dengan melakukan disiplin secara berulang-ulang
dan membiasakannya dalam praktik disiplin sehari-hari yang menjadi
68
suatu kebiasaan yang tidak dapat ditinggalkan. Dengan latihan dan
membiasakan diri, disiplin tidak akan menjadi suatu beban yang dirasa
sangat memberatkan bagi siswa terutama dalam melaksanakan segala
kegiatan yang berhubungan dengan belajar (Tu`u, 2014: 49).
Disiplin individu di atas merupakan disiplin yang berasal dari dalam
diri siswa dimana semua siswa diberi kesempatan untuk melakukan apa
saja yang dikehendaki dengan melihat keadaan disekelilingnya dan pada
akhirnya siswa dapat menentukan suatu perilaku yang berarti bagi dirinya
dalam hal pencapaian prestasi yang lebih baik. Disiplin yang baik adalah
disiplin yang timbul karena adanya kesadaran dari dalam diri sendiri, bukan
karena terpaksa, sehingga diperlukan adanya usaha untuk menumbuhkan
sikap disiplin tersebut.
Menurut Sulistiyowati (2011: 3) ada cara yang dapat digunakan siswa
agar dapat belajar dengan baik, yaitu seorang siswa harus mempunyai
sikap disiplin dalam belajar. Adapun disiplin yang diharapkan adalah
sebagai berikut:
1. Disiplin dalam menepati jadwal pelajaran.
Apabila seorang siswa mempunyai jadwal kegiatan belajar, maka ia
harus menepati jadwal yang telah dibuatnya.
2. Disiplin dalam mengatasi godaan yang akan menunda waktu belajar baik
di rumah maupun di sekolah.
Godaan yang datang pada seorang siswa pada saat waktu belajar
sangat banyak. Hal tersebut membutuhkan kemauan dan kemampuan
siswa untuk dapat mengatasi segala macam godaan yang datang
69
tersebut baik pada saat waktu belajar di sekolah maupun pada waktu
belajar di rumah. Godaan yang datang pada waktu belajar misalnya
adalah ajakan untuk bermain dari teman, menonton acara televisi, dan
sebagainya.
3. Disiplin terhadap diri sendiri
Disiplin diri harus selalu dimunculkan pada diri siswa, karena dengan
disiplin diri akan menumbuhkan kemauan dan semangat belajar siswa
baik di sekolah maupun di rumah. Yang harus selalu ditanamkan oleh
setiap individu siswa, karena meskipun mempunyai rencana belajar
yang baik akan tetap menjadi rencana kalau tidak ada disiplin diri.
4. Menjaga kondisi fisik agar selalu sehat dan fit
Disiplin dalam menjaga kondisi fisik sangat penting bagi siswa, karena
dengan kondisi fisik yang baik tentu akan dapat mendukung aktivitas
sehari-hari dari siswa yang bersangkutan. Salah satu cara untuk
menjaga kondisi fisik agar tetap terjaga dengan baik adalah makan
secara teratur dan mengkonsumsi makanan yang bergizi serta berolah
raga secara teratur.
Disiplin dalam belajar harus dimiliki oleh setiap siswa, sehingga
dapat menjadi suatu kebiasaan yang selalu melekat pada diri setiap siswa.
Dengan demikian akan terbentuk suatu etos belajar yang baik. Belajar yang
dilakukan oleh siswa tidak lagi dirasakan sebagai beban, akan tetapi sudah
dianggap sebagai suatu kebutuhan dalam hidupnya.
Disiplin belajar pada siswa memberi kontribusi positif terhadap
pencapaian hasil belajarnya. Seorang siswa yang memiliki disiplin belajar
70
yang tinggi akan dapat belajar dengan baik yang ditunjukkan oleh sikapnya
dalam belajar yang sungguh-sungguh dan sadar akan tugas dan
tanggungjawabnya sebagai pelajar, terarah dan teratur sehingga sangat
dimungkinkan dapat mencapai hasil belajar yang terbaik. Disiplin belajar
sebagai faktor internal siswa (faktor psikologis) dapat mempengaruhi hasil
belajar siswa. Hal ini sesuai dengan apa yang dikemukakan oleh Sardiman
(2006: 154) bahwa disiplin belajar harus ditanamkan dan dimiliki oleh tiap-
tiap individu, karena sekalipun mempunyai rencana belajar yang baik, akan
tetap tinggal rencana kalau tidak ada disiplin.
Dengan demikian peran disiplin belajar pada siswa sangat besar
pengaruhnya terhadap hasil belajarnya. Hal ini dikarenakan dengan
adanya disiplin belajar, seorang siswa akan mampu mengkondisikan
dirinya untuk belajar sesuai dengan tugasnya sebagai seorang pelajar.
Dengan disiplin, maka rasa malas, rasa enggan dapat di atasi, hal ini dapat
meningkatkan kualitas belajarnya, sehingga memungkinkan siswa
memperoleh hasil belajar yang baik.
Ciri-ciri dari disiplin belajar siswa menurut Sardiman (2016: 155)
adalah sebagai berikut: (1) Kesadaran dalam mentaati peraturan dan tata
tertib sekolah, (2) Menyelesaikan tugas tepat waktu, (3) Tepat waktu dalam
belajar, (4) Keteraturan dalam belajar, dan (5) Belajar dengan sungguh-
sungguh. Untuk memperjelas kelima indikator di atas, maka masing masing
indikator tersebut dapat diuraikan sebagai berikut:
1. Kesadaran dalam mentaati peraturan dan tata tertib sekolah
71
Peraturan dan tata-tertib merupakan sesuatu yang digunakan untuk
mengatur perilaku yang diharapkan terjadi pada diri siswa. Peraturan
menunjuk pada patokan atau standar yang sifatnya umum yang harus
dipenuhi siswa seperti misalnya peraturan tentang kehadiran siswa,
peraturan tentang jam istirahat, peraturan tentang kondisi yang harus
dipenuhi siswa di dalam kelas pada waktu pelajaran sedang berlangsung
seperti: mendengarkan dengan baik pelajaran yang disampaikan guru,
tidak bicara tanpa seizin guru, tidak makan atau minum pada saat KBM,
tidak meninggalkan kelas tanpa seizin guru dan sebagainya. Tata-tertib
menunjuk pada patokan atau standar untuk aktifitas khusus misalnya:
penggunaan pakaian seragam, penggunaan laboratorium, mengikuti
upacara bendera, pembayaran SPP dan sebagainya (Arikunto, 2010: 122 -
123).
Faktor-faktor pembentukan disiplin belajar menurut Joko (2018: 25)
yang pertama adalah kesadaran diri sebagai pemahaman diri bahwa
disiplin belajar dianggap penting bagi kebaikan dan keberhasilan dirinya.
Selain itu kesadaran diri menjadi motif yang sangat kuat terwujudnya
disiplin belajar. Kedua, pengikutan dan ketaatan sebagai langkah
penerapan dan praktik atas peraturan-peraturan yang mengatur perilaku
individu. Ketiga, alat pendidikan untuk mempengaruhi, mengubah, dan
membentuk perilaku yang sesuai dengan nilai-nilai yang ditentukan atau
diajarkan. Keempat, hukuman sebagai upaya menyadarkan, mengoreksi
dan meluruskan yang salah sehingga orang kembali pada perilaku yang
sesuai dengan harapan. Kelima, teladan yang berupa perbuatan dan
72
tindakan kerap kali lebih besar pengaruhnya dibandingkan dengan kata-
kata. Keenam, disiplin belajar seseorang dapat juga dipengaruhi oleh
seseorang. Faktor-faktor pembentukan disiplin belajar jujur yang terakhir
adalah disiplin belajar dapat dicapai dan dibentuk melalui proses latihan
dan kebiasaan
Faktor penting untuk dapat memberlakukan peraturan dan tata-tertib
sekolah adalah disiplin. Sementara itu untuk dapat berdisiplin seorang
siswa membutuhkan adanya kesadaran dari dalam dirinya untuk mematuhi
segala peraturan dan tata-tertib sekolah.
Disiplin siswa dalam menjalankan peraturan dan tata-tertib sekolah
sangat mendukung proses belajar siswa. Dengan menjalankan peraturan
dan tata-tertib sekolah, seorang siswa tidak akan mendapat masalah di
sekolah dan belajarnyapun akan berjalan dengan lancar. Lain halnya jika ia
melakukan pelanggaran atas peraturan atau tata-tertib sekolah ia akan
berurusan dengan Bapak/Ibu guru untuk menerima sanksi atas
pelanggaran yang dilakukannya yang tentunya akan menyita waktu
belajarnya.
Sebagai ilustrasi dari pelanggaran atas peraturan dan tata tertib
sekolah adalah ketika siswa datang ke sekolah terlambat, ia akan
mengalami kerugian berupa ketinggalan dalam menerima materi pelajaran
dan juga akan menerima sanksi dari guru sebagai hukuman atas
pelanggaran yang dilakukannya yang tentunya akan berdampak kurang
baik terhadap belajarnya. Demikian halnya dengan masalah membolos,
ketika siswa membolos maka ia akan mengalami kerugian yang lebih besar
73
daripada terlambat masuk sekolah karena ia sama sekali tidak dapat
menerima materi atau pelajaran yang disampaikan oleh Bapak/Ibu guru di
sekolah dan juga akan menerima sanksi atas pelanggaran yang
dilakukannya.
Untuk mematuhi seluruh peraturan dan tata-tertib sekolah
sebenarnya bukanlah sesuatu yang sulit, karena peraturan dan tata-tertib
sekolah dibuat untuk dapat dilaksanakan oleh siswa. Tidak mungkin
peraturan dan tata-tertib sekolah dibuat untuk tidak dapat dilaksanakan
oleh siswa. Untuk dapat melaksanakan peraturan dan tata-tertib sekolah
yang penting adalah niat dan kesadaran untuk selalu taat dan patuh
terhadap seluruh peraturan dan tata-tertib yang ada, karena hal tersebut
pasti akan berdampak positif terhadap kemajuan belajarnya.
2. Menyelesaikan tugas tepat waktu
Menyelesaikan tugas merupakan salah satu rangkaian kegiatan
dalam belajar, yang dilakukan baik di dalam maupun di luar jam sekolah.
Tujuan dari pemberian tugas menurut Ahmadi (2017: 61) biasanya untuk
memantapkan pengetahuan yang telah diterima, mengaktifkan anak dalam
belajar, membiasakan anak giat belajar dan memupuk rasa tanggung
jawab. Dengan adanya tugas yang diberikan oleh guru pada siswa,
seorang siswa diharapkan akan dapat lebih paham terhadap mata
pelajaran yang disampaikan di sekolah. Agar siswa berhasil dalam belajar,
maka ia harus dapat mengerjakan setiap tugas yang diberikan dengan
sebaik-baiknya, baik dalam proses pengerjaannya maupun
pengumpulannya, karena seringkali tugas yang dikumpulkan melebihi
74
batas akhir pengumpulan tugas akan dapat mengurangi nilai yang
diberikan. Dalam mengerjakan tugas dari guru (PR) hendaknya tidak
ditunda-tunda karena dengan menunda-nunda pekerjaan seringkali
membuat kita menjadi malas untuk mengerjakannya.
3. Tepat waktu dalam belajar
Menurut Slameto (2013: 77) Pada permulaan belajar sering
dirasakan kelambatan, keengganan bekerja dan kalau perasaan itu kuat,
belajar sering diundurkan, malahan tak dikerjakan. Kelambatan itu dapat di
atasi dengan suatu perintah kepada diri sendiri untuk memulai pekerjaan itu
tepat pada waktunya. Belajar merupakan tugas dan kewajiban bagi
seorang pelajar. Sebagai seorang pelajar, siswa hendaknya dapat
menggunakan waktu yang dimilikinya dengan seefisien dan seefektif
mungkin, karena waktu yang telah berlalu akan hilang dan tidak pernah
akan kembali lagi. Oleh karena itu siswa hendaknya sadar dan dapat
memanfaatkan waktu yang ada untuk belajar digunakan hanya untuk
belajar. Untuk memudahkan siswa dalam belajar, hendaknya ia membuat
jadual belajar untuk membatasi kegiatan lain yang tidak berguna yang
dapat mengganggu aktivitas belajarnya. Orang tua disini mempunyai peran
yang penting dalam menegakkan disiplin anak dalam belajar terutama
mengenai waktu belajar siswa di rumah. Orang tua dapat melakukan
pengawasan terhadap aktivitas belajar anak ketika belajar di rumah.
Apabila anak tidak belajar, orang tua harus dapat mengetahui dan
mengingatkannya untuk belajar.
4. Keteraturan dalam belajar
75
Sulistiyowati (2011: 40) mengatakan biasakan belajar dan jangan
kamu mencoba untuk meninggalkan belajar, karena ilmu itu bergantung
pada orangnya bisa jadi tetap dan bisa jadi semakin bertambah lantaran
selalu dipelajari terus menerus. Keteraturan dalam belajar merupakan
usaha untuk menghasilkan atau memperoleh hasil belajar yang optimal.
Dengan belajar secara teratur setiap hari kita dapat terus menerus
menyerap materi pelajaran yang sedang kita pelajari, sehingga
pengetahuan yang kita dapatkan senantiasa terus bertambah. Dengan
belajar secara teratur setiap hari baik mengulang pelajaran yang telah
diberikan maupun menyiapkan materi untuk keesokan harinya akan
membuat penguasaan materi siswa menjadi lebih baik, karena dengan
selalu mengulang pelajaran yang telah diterimanya akan membuat
pemahaman siswa menjadi lebih baik. Demikian juga dengan selalu belajar
menyiapkan materi yang akan disampaikan keesokan harinya dapat
membantu belajar siswa, karena siswa menjadi lebih siap dalam menerima
materi dan akan membuat penerimaannya menjadi lebih baik.
Jadi keteraturan dalam belajar sangat penting bagi siswa, karena
dengan belajar secara teratur memungkinkan siswa dapat meningkatkan
penguasaan materi pelajaran yang sedang dipelajarinya, sehingga siswa
dapat meraih prestasi belajar yang optimal.
5. Belajar dengan sungguh-sungguh
Untuk meraih prestasi belajar yang optimal, seorang siswa
hendaknya belajar dengan sungguh-sungguh. Menurut Slameto (2013:78)
bahwa biasanya orang yang ingin belajar atau bekerja sungguh-sungguh
76
harus bertekad, jangan meninggalkan tempat duduknya selama 40 menit,
apapun yang terjadi.
Seorang siswa dalam belajar harus dapat mengendalikan diri untuk
tetap belajar ketika waktunya belajar dan tidak menggunakannya untuk
aktivitas yang lain. Ketika belajar di rumah seorang siswa banyak menemui
godaan yang dapat mengganggu belajarnya dan bahkan dapat
membuatnya tidak belajar seperti bermain, melihat acara televisi dan
sebagainya. Disamping hal tersebut seringkali siswa dihadapkan pada
kesulitan-kesulitan dalam menyerap dan memahami materi pelajaran yang
dipelajarinya dan bila hal tersebut tidak terpecahkan dapat membuatnya
kesal dan putus asa. Untuk itu maka siswa hendaknya menanamkan tekad
pada dirinya untuk bersungguh-sungguh dalam belajar, niscaya kesulitan-
kesulitan yang ada dapat dipecahkan sedikit demi sedikit meskipun materi
yang dipelajari cukup sulit.
Hurlock (2009: 93) membagi tiga cara menanamkan disiplin belajar
pada anak yaitu: 1) teknik disiplin otoriter, 2) teknik disiplin permisif dan 3)
teknik disiplin demokratis. Penerapan disiplin yang paling efektif bagi
remaja adalah disiplin demokratis karena remaja telah mampu berfikir
analitis, mereka tahu perbuatan yang baik dan yang buruk serta mampu
mengungkapkan pendapatnya. Oleh karena itu, dalam penelitian ini, untuk
meningkatkan disiplin siswa, khususnya disiplin belajar, yaitu dengan teknik
demokratis. Teknik ini dilakukan dengan memberikan penjelsan–penjelsan,
pengertian yang dilakukan melalui pemberian layanan pembelajan. Melalui
pemberian layanan ini siswa akan lebih mampu mengarahkan diri,
77
mengedalikan diri, serta memiliki kesadaran diri dalam hal belajar. Dengan
teknik demokratis siswa mampu melakukan hal yang benar tanpa ada yang
mengawasi.
Disiplin belajar berkaitan erat dengan kepatuhan siswa terhadap
peraturan yang berlaku di sekolah tempatnya belajar. Siswa harus memiliki
kesadaran untuk mematuhi peraturan dalam kegiatan belajar, tanpa
adanya paksaan dari pihak lain. Adapun kepatuhan terhadap peraturan
secara sadar merupakan modal utama untuk menghasilkan suatu sikap
yang positif dan produktif, positif artinya sadar akan tujuan yang akan
dicapai sedangkan produktif adalah selalu melakukan kegiatan yang
bermanfaat. Siswa yang terbiasa belajar teratur baik di rumah maupun di
sekolah maka otaknya akan terlatih setiap hari. Seringnya daya pikir
mendapat latihan maka akan menyebabkan ketajaman daya pikir sehingga
siswa mudah menerima pelajaran.
Disiplin belajar pada siswa mencakup disiplin belajar di rumah dan
di sekolah. Siswa yang disiplin dalam belajar baik di rumah maupun di
sekolah akan berperilaku sesuai dengan peraturan yang ada dan akan
menunjukkan ketaatan dan keteraturan dalam kegiatan belajarnya.
1) Disiplin belajar di sekolah
Setiap sekolah memiliki peraturan dan tata tertib yang harus
dilaksanakan dan dipatuhi oleh semua siswa. Peraturan yang dibuat di
sekolah merupakan kebijakan sekolah yang tertulis dan berlaku sebagai
satkitar untuk tingkah laku siswa sehingga siswa mengetahui batasan–
batasan dalam bertingkah laku. Dalam disiplin terkandung pula ketaatan
78
dan mematuhi segala peraturan dan tanggung jawab misalnya disiplin
belajar. Dalam hal ini sikap patuh siswa ditunjukkan pada peraturan yang
telah ditetapkan. Siswa yang disiplin belajar akan menunjukkan ketaatan
dan keteraturan terhadap kegiatan belajarnya serta taat terhadap peraturan
yang ada di sekolah.
Menurut Yamin (2011: 17) disiplin belajar mencakup setiap macam
pengaruh yang ditunjukkan untuk membantu peserta didik agar dia dapat
memahami dan menyesuaikan diri dengan tuntutan lingkungannya dan
juga penting tentang cara menyelesaikan tuntutan yang mungkin ingin
ditunjukkan peserta didik terhadap lingkungannya. Lebih lanjut Yamin
(2011: 18) menyatakan disiplin belajar timbul dari kebutuhan untuk
mengadakan keseimbangan antara apa yang ingin dilakukan oleh individu
dan apa yang diinginkan individu dari orang lain sampai batas-batas
tertentu dan memenuhi tuntutan orang lain dari dirinya sesuai dengan
kemampuan yang dimilikinya.
Disiplin belajar merupakan bentuk pelatihan yang menghasilkan suatu
karakter atau perilaku khusus yang menghasilkan perkembangan moral,
fisik dan mental untuk tujuan tertentu. Menurut Saintifika (2011: 62) disiplin
belajar adalah predisposisi (kecenderungan) suatu sikap mental untuk
mematuhi aturan, tata tertib, dan sekaligus mengendalikan diri,
menyesuaikan diri terhadap aturan-aturan yang berasal dari luar sekalipun
yang mengekang dan menunjukkan kesadaran akan tanggung jawab
terhadap tugas dan kewajiban.
79
Menurut Cicik (2010: 32) disiplin belajar adalah kepatuhan siswa
dalam mengikuti proses belajar mengajar, ketaatan siswa dalam menaati
jam belajar dengan serangkaian kegiatan misalnya mencatat,
memperhatikan, membaca, membawa buku dan peralatan sekolah, agar
senantiasa dapat mengalami perubahan perilakunya sebagai hasil
pergaulannya setelah berinteraksi dengan lingkungannya.
Berdasarkan pengertian disiplin belajar dari beberapa ahli di atas
maka dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud disiplin belajar adalah
kepatuhan siswa dalam mengikuti proses pembelajaran, ketaatan siswa
pada tata tertib dan ketaatan siswa dalam menaati jam belajar yang
menunjukkan kesadaran akan tanggungjawab terhadap tugas dan
kewajiban.
Menurut Arikunto (2009: 57) dalam penelitian mengenai disiplin
membagi tiga macam indikator disiplin, yaitu: 1) perilaku disiplin di dalam
kelas, 2) perilaku disiplin di luar kelas di lingkungan sekolah, dan 3)
perilaku kedsiplinan di rumah. Tu’u (2014) dalam penelitian mengenai
disiplin sekolah (belajar) mengemukakan bahwa indikator yang
menunjukkan pergeseran/perubahan hasil belajar siswa sebagai kontribusi
mengikuti dan menaati peraturan sekolah adalah meliputi: dapat mengatur
waktu belajar di rumah, rajin dan teratur belajar, perhatian yang baik saat
belajar di kelas, dan ketertiban diri saat belajar di kelas. Sedangkan
menurut Krisyanto (2010: 19) agar seorang siswa dapat belajar dengan
baik ia harus bersikap disiplin, terutama disiplin dalam hal-hal sebagai
berikut: disiplin dalam menepati jadwal belajar, disiplin dalam mengatasi
80
semua godaan yang akan menunda-nunda waktu belajar, disiplin terhadap
diri sendiri untuk dapat menumbuhkan kemauan dan semangat belajar baik
di sekolah seperti menaati tata tertib, maupun disiplin di rumah seperti
teratur dalam belajar, disiplin dalam menjaga kondisi fisik agar selalu sehat
dan fit dengan cara makan yang teratur dan bergizi serta berolahraga
secara teratur.
Dengan memperhatikan pendapat para ahli di atas maka dapat
disimpulkan bahwa pengertian disiplin belajar adalah kepatuhan siswa
dalam mengikuti proses pembelajaran di kelas, ketaatan siswa pada tata
tertib sekolah/kelas dan ketaatan siswa dalam menaati jam belajar di
rumah, dengan serangkaian kegiatan mencatat, memperhatikan,
membaca, membawa buku dan peralatan sekolah, agar senantiasa dapat
mengalami perubahan perilaku sebagai hasil pengalamannya setelah
berinteraksi dengan lingkungan. Salah satu prinsip yang harus dipenuhi
dalam kegiatan belajar adalah disiplin belajar, baik disiplin yang
berlangsung di rumah, di dalam kelas maupun di luar kelas.
Mengacu pada berbagai pendapat di atas, maka disiplin belajar
siswa dalam penelitian ini mencakup:
1) Perilaku disiplin belajar di dalam kelas, dengan indikator (1)
memperhatikan guru pada saat menjelaskan pelajaran (mencatat,
memperhatikan, membaca buku pelajaran), (2) mengerjakan tugas yang
diberikan guru (3) membawa peralatan belajar (buku tulis, alat tulis,
buku paket), (4) absensi (kehadiran di sekolah/kelas).
81
2) Perilaku disiplin belajar di luar kelas di lingkungan sekolah dengan
indikator : memanfaatkan waktu luang/istirahat untuk belajar (membaca
buku di perpustakaan, berdiskusi/bertanya dengan teman tentang
pelajaran yang kurang dipahami).
3) Perilaku disiplin belajar di rumah, dengan indikator sebagai berikut: (1)
memiliki jadwal belajar, (2) mengerjakan pekerjaan rumah (PR) yang
diberikan guru.
Dalam melaksanakan kegaiatan belajar siswa diwajibkan untuk
melaksanakan hal-hal sebagai berikut: (1) Mendapatkan pelayanan
pendidikan sesuai dengan bakat, minat dan kemampuannya; (2)
Mendapatkan beasiswa bagi yang berprestasi yang orang tuanya tidak
mampu membiayai pendidikannya; (3) Menyediakan semua peralatan
belajar yang diperlukan; (4) Menyelesaikan program pendidikan sesuai
dengan kecepatan belajar masing–masing dan tidak menyimpang dari
ketentuan batas waktu yang ditetapkan; (5) Menjaga norma–norma
pendidikan untuk menjamin keberlangsungan proses dan keberhasilan
pendidikan (Depdiknas, 2013: 10).
2) Disiplin Belajar di Rumah
Di lingkungan keluarga siswa juga harus mulai diterapkan disiplin
sedini mungkin karena keluarga merupakan lingkungan sosial paling kecil
dan lingkungan pertama bagi individu yang memegang peranan penting
dalam pembentukan disiplin. Kondisi keluarga yang buruk dan cara
penanaman disiplin belajar yang salah dan pengaruh lingkungan yang
buruk akan menghasilkan individu yang tidak disiplin. Oleh karena itu orang
82
tua mempunyai tanggung jawab yang besar dalam meletakkan dan
mengembangkan disiplin individu. Namun demikian, pihak sekolah dan
masyarakat juga bertanggung jawab dalam mengembangkan dan
membentuk disiplin pada individu.
Peraturan, hukuman, konsisten, dan penghargaan perlu ditegakkan
oleh orang tua untuk membentuk disiplin pada individu. Individu yang
memiliki disiplin diri akan mempunyai disiplin pula dalam belajarnya, baik di
rumah maupun di sekolah. Apabila di rumah individu yang disiplin dalam
belajar akan taat pula pada peraturan yang ditegakkan di rumah.
Berdasarkan uraian di atas, maka cara menamkan disiplin yang
paling tepat digunakan oleh orang tua dan guru adalah disiplin demokratis.
Pada disiplin ini didasari falsafah bahwa disiplin bertujuan mengembangkan
kendali atas perilaku sendiri sehingga dapat melakukan apa yang benar,
meskipun tidak ada penjaga yang mengancam dengan hukuman bila
melakukan sesuatu yang tidak dibenarkan. Pengendalian internal atas
perilaku ini adalah hasil usaha anak untuk berperilaku menurut cara yang
benar dengan member penghargaan.
Kepatuhan akan tata tertib sangat penting dalam kehidupan
bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Sikap disiplin akan membentuk
pola hidup yang teratur, tertib, harmonis dan seimbang. Sebaliknya tanpa
sikap disiplin maka setiap orang akan bertindak semaunya tanpa
memperhatikan kepentingan orang lain tidak ada keinginan untuk belajar
dan malas, yang akhirnya akan menimbulkan kekacauan dan ketidak
teraturan. Sikap disiplin akan dapat tumbuh dan berkembang dengan baik
83
apabila berdasarkan atas kesadaran diri sendiri. Disiplin yang tidak
bersumber dari hati nurani akan menghasilkan disiplin yang lemah dan
tidak akan bertahan lama. Disiplin yang tumbuh atas kesadaran diri, yang
demikian itu yang diharapkan tertanam dalam diri seseorang.
Menurut Gordon (2016: 9) tujuan membentuk sikap disiplin pada anak
sangatlah penting dalam rangka: (a) Membantu anak untuk menjadi
matang pribadinya dan mengembangkan dari sifat-sifat ketergantungan
sehingga ia mampu berdiri sendiri atas tanggung jawab sendiri; (b)
Membantu anak untuk mengatasi, mencegah timbulnya masalah-masalah
disiplin dan berusaha untuk menciptakan situasi yang tertib bagi kegiatan
pembelajaran dimana mereka mentaati segala peraturan yang telah di
tetepkan. Diharapkan sikap disiplin dapat merupakan bantuan kepada
siswa agar mereka mampu berdiri sendiri.
Menurut Gunarsa (2012: 64) mengemukakan bahwa fungsi disiplin
adalah untuk mengajar mengendalikan diri dengan mudah menghormati
dan mentaati otoritas. Otoritas akan menyebabkan siswa belajar menekan
kesenangan-kesenangan dan mendahulukan kewajiban belajar serta
usaha-usaha untuk masa depan. Disiplin perlu dalam mendidik siswa
supaya siswa mudah: (a) Melaksanakan pengetahuan dan pengertian
sosial antara lain mengenal baik milik orang lain; (b) Mengerti dan segera
menurut untuk menjalankan kewajiban dan secara langsung mengerti
larangannya; (c) Mengerti tingkah laku baik dan buruk; (d) Belajar
mengendalikan kegiatan dan berbuat tanpa merasa terancam oleh
84
hukuman; (e) Mengorbankan kesenangan diri tanpa peringatan dari orang
lain; dan (f) Mencapai prestasi belajar yang baik.
Hurlock (2009: 79) menyatakan bahwa ada beberapa fungsi dari
disiplin yaitu: (a) Mendidik seseorang (siswa) bahwa perilaku individu harus
diatur sesuai dengan tata tertib norma yang berlaku; (b) Mengarahkan
seseorang agar mampu beradaptasi dengan lingkungan; dan (c) Sebagai
pedoman dalam mengontrol dirinya sehingga ia mengetahui apakah
perbuatanya sesuai norma yang berlaku atau tidak. Selanjutnya Hurlock
(2009: 82) menjelaskan bahwa indikator disiplin belajar adalah sebagai
berikut: (1) Disiplin belajar disekolah memiliki indikator sebagai berikut: (a)
Patuh dan taat terhadap taat tertib belajar di sekolah, (b) Persiapan belajar,
(c) Perhatian terhadap kegiatan pembelajaran, (d) Menyelesaikan tugas
pada waktunya, dan (2) indikator disiplin belajar di rumah adalah sebagai
berikut: (a) Mempunyai rencana atau jadwal belajar, (b) Belajar dalam
tempat dan suasana yang mendukung, (c) Ketaatan dan keteraturan dalam
belajar, dan (d) Perhatian terhadap materi pelajaran
Bagi anak yang berdisiplin dan sudah menyatu dalam dirinya, sikap
dan perbuatan disiplin yang dilakukan bukan lagi dirasakan sebagai suatu
beban, sebaliknya akan merupakan beban bila anak tersebut tidak
melakukan disiplin, karena disiplin telah menyatu menjadi bagian dari
perilaku dalam kehidupan sehari–hari. Untuk mendorong anak agar disiplin
dalam melaksanakan kegiatan belajar, memerlukan beberapa cara antara
lain:
85
Pengawasan langsung dan tidak langsung; Pengawasan
langsung dan tidak langsung. Pengawasan langsung misalnya, melalui
pemantauan kegiatan belajar di dalam kelas, pemantauan yang
dilakukan di rumah oleh orang tua, pemeriksaan fisik dan kesehatan,
serta kegiatan organisasi di sekolah. Pengawasan tidak langsung
misalnya, dengan memberikan tugas–tugas di rumah dan melalui
evaluasi belajarnya atau ualangan harian.
Pembinaan dapat dilaksanakan dengan jalan memberikan
bimbingan di dalam kelas, memberikan contoh teladan yang berupa sikap
dan perbuatan yang baik dari pendidik, orang tau maupun lingkungan anak
tersebut. Pemberian pembinaan pengembangan bakat atau potensi yang
ada dalam diri anak dan juga memberikan penghargaan apabila anak
tersebut menunjukkan prestasinya atau memberikan hukuman apabila
anak melanggar ketentuan atau tata tertib.
Peningkatkan disiplin belajar siswa dapat dilakukan melalui
pembinaan yaitu dengan memberikan layanan pembelajaran dalam bidang
bimbingan pribadi. Melalui layanan pembelajaran diharapkan disiplin
belajar siswa dapat meningkat dan lebih baik.
Indikator disiplin belajar menurut Perquin dan Gufron (2015: 48)
adalah tingkah laku atau perbuatan kearah tertib yaitu:
a. Disiplin dalam hubungannya dengan waktu belajar. Didalam
mengikuti kegiatan belajar mengajar di sekolah sebaiknya siswa harus
bisa tepat waktu, artinya mereka harus datang ke sekolah dan masuk
ruang kelas tepat pada waktunya atau sesuai jadwal yang sudah di
86
tetapkan. Siswa yang datang tepat waktu ke sekolah akan lebih siap
menerima pelajaran yang akan disampaikan oleh guru. Kesiapan dalam
menerima pelajaran tersebut akan membuat siswa mudah untuk
menerima materi yang diajarkan. Tentunya tidak hanya siswa saja yang
harus datang tepat waktu, namun guru juga harus bisa menyesuaikan.
Selain tepat waktu dalam mengikuti pelajaran di sekolah siswa
hendaknya membuat jadwal waktu belajar di rumah. Ketika di rumah
aktivitas siswa tidak hanya belajar misalnya membantu orang tua.
Sehingga siswa harus pintar mengatur waktu, maka jadwal ini
membantu mengatur waktu belajar siswa.
b. Disiplin yang ada hubunganya dengan tempat belajar. Ketika siswa
belajar di sekolah tentunya mereka membutuhkan tempat yang aman
dan nyaman, agar mereka dapat mengikuti proses belajar mengajar
dengan baik. Hal tersebut sudah kewajiban pihak sekolah untuk
menyediakan sarana tersebut. Rasa aman dan nyaman dapat tercipta
bukan hanya karena bangunan yang bagus saja tetapi juga bagaimana
cara siswa merawat ruang kelas mereka. Selain ruang kelas lingkungan
sekitar sekolah juga sangat mempengaruhi dalam kelancaran proses
belajar mengajar, sedangkan belajar di rumah juga perlu tempat yang
aman dan nyaman, untuk itu orang tua harus menyediakan sarana dan
prasarana yang memadai misal ruang belajar yang lengkap dengan
meja, kursi, dan penerangan yang cukup.
c. Disiplin yang ada hubungannya dengan norma atau aturan dalam
belajar. Setiap sekolah pasti memiliki tata tertib atau peraturan yang
87
harus ditaati oleh semua siswa dengan kesadaran hati, artinya sejak
pertama kali siswa masuk di lembaga pendidikan tersebut berarti siswa
telah siap dengan segala aktivitas yang ada di lembaga tersebut.
Aktivitas tersebut termasuk mentaati tata tertib atau peraturan yang
ada. Saat siswa berada di lingkungan keluarga atau masyarakat
tentunya peraturan yang ditetapkan telah berbeda dan menjadi
keharusan bagi siswa untuk dapat menyesuaikan. Pada intinya
dimanapun lingkungan siswa itu berada harus bisa menyesuaikan diri
untuk mematuhi norma atau peraturan yang berlaku.
Dari uraian di atas maka dapat diketahui anak yang disiplin belajar
akan tampak dalam perilaku sebagai berikut: (a) Datang ke sekolah tepat
waktu dan mengikuti proses belajar mengajar sesuai jadwal yang ada; (2)
Belajar pada tempat yang telah disediakan agar tidak terganggu dan
mengganggu orang lain; (3) Selalu mentaati peraturan yang telah
ditetapkan di lingkungan sekolah.
Disiplin belajar dalam penelitian ini dirinci menjadi dua sub-variabel
yaitu disiplin belajar di sekolah dan disiplin belajar di rumah. Dari masing –
masing sub-variabel dibuat indicator yang selanjutnya dari indicator
tersebut dikembangkan menjadi pernyataan – pernyataan.
Berdasarkan pengertian di atas, maka disiplin belajar dalam
penelitian ini adalah sikap siswa yang terbentuk melalui proses dari
serangkaian perilaku yang menunjukkan nilai–nilai ketaatan, dan
keteraturan berdasarkan acuan nilai moral individu untuk memperoleh
perubahan tingkah laku yang mencakup perubahan pola pikir, sikap, dan
88
tindakan yang sesuai dengan Standar norma. Disiplin belajar dalam
penelitian ini diukur melalui indikator: (1) kesadaran dalalm menaati aturan
dan tata tertib sekolah, (2) menyelesaikan tugas tepat waktu, (3) datang
belajar tepat waktu, (4) teratur dalam belajar, dan (5) belajar dengan
sungguh-sungguh.
2.2. Penelitian Relevan
Sardini (2013) yang berjudul pengaruh minat belajar terhadap hasil
belajar pelajaran ekonomi siswa kelas XI ekonomi MAN Pontianak yang
menemukan adanya pengaruh yang positif dan signifikan antara minat
belajar dengan hasil belajar pelajaran ekonomi.
Muspa, (2010) yang berjudul hubungan minat belajar dengan hasil
belajar siswa pada mata pelajaran ekonomi di SMP Negeri 1 Kecamatan
Napabalano, menemukan hubungan positif ekonomi yang signifikan antara
minat belajar terhadap hasil belajar mata pelajaran di SMP Negeri 1
Kecamatan Napabalano. Temuan ini menunjukkan bahwa semakin tinggi
tingkat minat belajar guru maka semakin tinggi pula kinerjanya, dan
sebaliknya semakin rendah minat belajar maka semakir rendah pula hasil
belajar SMP Negeri 1 Kecamatan Napabalano. Besarnya kontribusi hasil
belajar terhadap minat belajar adalah 65,90% dan sisanya 43,10%
ditentukan oleh faktor lain.
Rivin dan Purwanto, (2015), yang berjudul Hubungan antara Minat
Belajar Siswa Dengan Prestasi Belajar Mata Pelajaran Mengelola
Sistem Kearsipan Kelas XI Program Keahlian Administrasi Perkantoran
89
SMK YPE Sawunggalih Kutoarjo menemukan adanya hubungan yang
positif dan signifikan antara minat belajar siswa dengan prestasi belajar
dengan harga rx1y sebesar 0,304.
Hanudin (2017) dalam penelitiannya yang berjudul Hubungan
Perhatian Orang Tua Dan Minat Belajar dengan Hasil Belajar IPS pada
Siswa Kelas V Sd Negeri Di Kecamatan Wawotobi Kebupaten Konawe
menemukan adanya hubungan positif dan signifikan antara minat belajar
siswa dengan hasil belajar IPS siswa di SD Negeri se Kecamatan
Wawotobi sehingga untuk meningkatkan hasil belajar IPS siswa di SD
Negeri se Kecamatan Wawotobi maka, selain mengintensifkan perhatian
orang tua terhadap proses belajar anak, maka upaya lain yang perlu
dilakukan guru dan orang tua adalah meningkatkan minat belajar siswa.
Bakti (2017) yang berjudul Hubungan Motivasi dan Disiplin dengan
Hasil Belajar IPS Pada SMP Negeri di Kecamatan Abuki dan Tongauna
Kabupaten Konawe menemukan adanya hubungan positif yang sangat
signifikan antara disiplin belajar siswa dengan hasil belajar siswa di SMP
negeri di kecamatan Abuki dan kecamatan Tongauna seperti ditunjukkan
koefisien korelasi sebesar 0,445 dan determinasi sebesar 0,2070 yang
berarti 20,70% variasi yang terjadi pada hasil belajar siswa dapat dijelaskan
oleh variasi disiplin belajar siswa. semakin tinggi disiplin siswa dalam
belajar, maka semakin tinggi hasil belajar siswa, sebaliknya semakin
rendah disiplin siswa dalam belajar, maka semakin rendah hasil belajar
siswa di SMP negeri di kecamatan Abuki dan kecamatan Tongauna.
90
Penelitian Lambiye (2018) yang berjudul hubungan minta belajar
dan gaya belajar dengan hasil belajar ekonomi siswa SMA negeri
Kabupaten Konawe Kepulauan, menemukan adanya hubungan yang positif
dan signifikan antara minat belajar siswa dengan hasil belajar ekonomi
siswa SMA negeri Kabupaten Konawe Kepulauan seperti ditunjukkan oleh
koefisien korelasi (ry1) sebesar 0,260 dengan koefisien determinasi (r2y1)
sebesar 0,067 yang berarti kontribusi minat belajar ekonomi terhadap hasil
belajar siswa di SMA Negeri Kabupaten Konawe Kepulauan adalah
sebesar 6,70%.
Berdasarkan beberapa penelitian relevan tersebut maka peneliti
berpendapat bahwa penelitian ini penting dilakukan dalam upaya
mengungkap hubungan antara minat belajar dan disiplin belajar dengan
hasil belajar ekonomi siswa di SMA negeri Kabupaten Konawe Selatan
bahagian Timur, baik hubungan secara sendiri-sendiri maupun secara
bersama-sama. Walaupun ada beberapa penelitian yang relevan dengan
penelitian ini tetapi penelitian ini bukan merupakan duplikasi dari bebrapa
penelitian relevan seperti yang diuraikan di atas. Dilihat dari tempat
penelitian dan responden penelitian maka penelitian ini berbeda dengan
beberapa penelitian relevan di atas.