0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
2 tayangan76 halaman

Bab Ii

Dokumen ini membahas pengertian dan konsep hasil belajar, yang merupakan perubahan tingkah laku individu sebagai hasil dari proses belajar melalui pengalaman dan latihan. Hasil belajar dapat diukur dalam ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik, serta dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal. Selain itu, dokumen ini juga menjelaskan karakteristik mata pelajaran ekonomi dan tujuannya dalam mendidik siswa untuk memahami dan memecahkan masalah ekonomi.

Diunggah oleh

citya.permata12
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
2 tayangan76 halaman

Bab Ii

Dokumen ini membahas pengertian dan konsep hasil belajar, yang merupakan perubahan tingkah laku individu sebagai hasil dari proses belajar melalui pengalaman dan latihan. Hasil belajar dapat diukur dalam ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik, serta dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal. Selain itu, dokumen ini juga menjelaskan karakteristik mata pelajaran ekonomi dan tujuannya dalam mendidik siswa untuk memahami dan memecahkan masalah ekonomi.

Diunggah oleh

citya.permata12
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd

15

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Landasan Teori

2.1.1. Hasil Belajar

[Link]. Pengertian Hasil Belajar

Djamarah (2008: 4) mengemukakan bahwa Belajar adalah suatu

aktivitas mental atau psikis yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan

lingkungan yang menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengetahuan,

pemahaman, keterampilan, dan nilai sikap. Maka dapat dikatakan bahwa

belajar adalah kegiatan mental yang berhubungan dengan lingkungan

sekitarnya yang dapat mengubah intelektual.

Fudyartanto (2007: 150) yang menyatakan bahwa belajar adalah

perubahan tingkah laku melalui pengalaman dan latihan. belajar adalah

membawa perubahan-perubahan dalam tingkah laku dari organisme.

Purwanto (2014: 84), berpendapat bahwa belajar adalah setiap perubahan

yang relatif menetap dalam tingkah laku yang terjadi sebagai suatu hasil

dari latihan atau pengalaman. Selanjutnya Syah (2017: 61), mengemuka-

kan bahwa belajar ialah perubahan yang relatif menetap yang terjadi dalam

segala macam tingkah laku suatu organisme sebagai hasil pengalaman.

Dari beberapa pengertian tersebut, dapat diketahui bahwa belajar adalah

proses perubahan keseluruhan tingkah laku individu yang relatif menetap

sebagai hasil dari latihan dan pengalaman. Pengertian ini dapat dipandang

sebagai pengertian belajar secara luas.


16

Belajar adalah kegiatan yang dilakukan oleh seseorang agar memiliki

kompetensi berupa keterampilan dan pengetahuan yang diperlukan.

Belajar juga dapat dipandang sebagai suatu proses elaborasi dalam upaya

pencarian makna yang dilakukan oleh individu. Proses belajar pada

dasarnya dilakukan untuk meningkatkan kompetensi persona (Pribadi,

2009: 6). Selanjutnya Djamarah dan Bahri (2012: 12) mendefinisikan

belajar sebagai proses dimana tingkah laku ditimbulkan atau diubah melalui

latihan atau pengalaman.

Kedua pendangan ahli di atas menunjukkan bahwa belajar

merupakan suatu proses perubahan tingkah laku sebagai upaya

meningkatkan kompetensi melalui latihan dan pengalaman. Selain itu

kegiatan belajar merupakan aktivitas yang paling pokok dalam keseluruhan

proses pendidikan di sekolah, hal ini berati bahwa berhasil tidaknya

pencapaian tujuan pendidikan banyak tergantung pada bagaimana proses

belajar itu berlangsung.

Menurut Suryabrata (2018: 237) bahwa belajar adalah suatu

perubahan tingkah laku pada diri individu sebagai hasil dari suatu

pengalaman. Dalam pengalaman itu banyak subyek belajar yang

menggunakan indranya. Sebagai hasilnya ditetapkan perubahan tingkah

laku dalam subyek belajar yang bersifat posistif

Hasil belajar adalah hasil terakhir dari proses belajar sebagai proses

perwujudan segala upaya yang telah dilakukan selama proses belajar

mengajar berlangsung. Sementara itu pencapaian hasil belajar lebih sering

dikaitkan dengan nilai perolehan siswa setelah proses belajar mengajar


17

dan evaluasi yang diberikan. Winkel (2017: 161) menjelaskan bahwa hasil

belajar yang dicapai oleh siswa mengakibatkan perubahan dalam bidang

pengetahuan atau pemahaman, bidang keterampilan dan sikap.

Menurut Jihad dan Haris (2018: 14) bahwa hasil belajar adalah

kemampuan yang diperoleh anak setelah melalui kegiatan belajar. Belajar

itu sendiri merupakan suatu proses dari seseorang yang berusaha untuk

memperoleh suatu bentuk perubahan perilaku yang relatif menetap. Dalam

kegaitan pembelajaran atau kegiatan intruksional, biasanya guru

menetapkan tujuan belajar. Siswa yang berhasil dalam belajar adalah yang

berhasil mencapai tujuan-tujuan pembelajaran atau tujuan instruksional.

Conklin (2015: 154) menyatakan bahwa hasil belajar dapat

dikelompokkan ke dalam dua macam yaitu pengetahuan dan keterampilan.

Pengetahuan terdiri dari empat kategori yaitu (1) pengetahuan tentang

fakta; (2) pengetahuan tentang prosedural; (3) pengetahuan tentang

konsep; dan (4) pengetahuan tentang prinsip. Sedangkan keterampilan

juga terdiri dari empat kategori, yaitu (1) keterampilan untuk berpikir atau

keterampilan kognitif; (2) ketampilan untuk bertindak atau keterampilan

motorik; (3) keterampilan bereaksi atau bersikap; dan (4) keterampilan

berinteraksi.

Hasil belajar diperoleh dengan cara melakukan evaluasi atau

penilaian yang merupakan tindak lanjut atau cara untuk mengukur tingkat

penguasaan siswa terhadap materi pelajaran. Kemajuan hasil belajar siswa

tidak saja diukur dari tingkat penguasaan ilmu pengetahuan tetapi juga

sikap dan keterampilan. Dengan demikian penilaian hasil belajar siswa


18

mencakup segala hal yang dipelajari di sekolah, baik itu menyangkut

pengetahuan, sikap dan keterampilan.

Hasil belajar adalah segala sesuatu yang menjadi milik siswa

sebagai akibat dari kegiatan belajar yang dilakukannya. Menurut Hamalik

(2018: 28) bahwa hasil-hasil belajar adalah pola-pola perbuatan, nilai-nilai,

pengertian-pengertian dan sikap-sikap, serta apersepsi dan abilitas. Dari

kedua pernyataan tersebut dapat disimpulkan bahwa pengertian hasil

belajar adalah perubahan tingkah laku siswa secara nyata setelah

dilakukan proses pembelajaran yang sesuai dengan tujuan pengajaran.

Setelah melalui pembelajaran, maka siswa diharapkan dapat mencapai

tujuan belajar yang disebut sebagai hasil belajar yaitu kemampuan yang

dimiliki siswa setelah menjalani proses belajar.

Tujuan setiap proses pembelajaran adalah diperolehnya hasil yang

optimal. Dengan optimalisasi proses pembelajaran tersebut diharapkan

para peserta didik dapat meraih hasil belajar yang optimal dan memuaskan

(Setyadi, 2012: 160). Untuk mendukung tercapainya keberhasilan yang

baik bagi siswa, salah satunya adalah dengan belajar. Keberhasilan dan

kegagalan belajar ditandai dengan prestasi yang muncul setelah

melakukan suatu usaha pembelajaran.

Kualitas pendidikan erat hubungannya dengan hasil belajar. Hasil

belajar yang dicapai setiap siswa tidaklah sama, ada yang mencapai hasil

tinggi, sedang, dan rendah. Setiap aktivitas yang dilakukan oleh seseorang

tentu ada faktor-faktor yang mempengaruhinya, baik yang cenderung

mendorong maupun yang menghambat serta faktor-faktor baik itu eksternal


19

maupun internal. Demikian juga yang dialami dalam memperoleh hasil

belajar.

Pencapaian hasil belajar yang tinggi dipengaruhi oleh banyak faktor.

Sebagaimana diungkapkan oleh Slameto (2010: 54): Faktor-faktor yang

mempengaruhi hasil belajar banyak jenisnya, tetapi dapat digolongkan

menjadi dua golongan saja, yaitu faktor intern dan faktor ekstern. Faktor

intern adalah faktor yang ada di dalam diri individu yang sedang belajar,

sedangkan faktor ekstern adalah faktor yang ada di luar indvidu.

Sebagaimana yang telah dijelaskan dalam kutipan Slameto di atas bahwa

hasil belajar siswa dapat dipengaruhi oleh dua faktor yaitu faktor dari dalam

indvidu siswa dan faktor dari luar indvidu siswa. Faktor dari dalam indvidu

siswa meliputi faktor psikologis antara lain kemandirian belajar, minat,

kecerdasan, bakat, motvasi, disiplin belajar, dan lain-lain. Sedangkan faktor

dari luar indvidu siswa misalnya meliputi lingkungan alam dan lingkungan

sosial serta instrument yang berupa kurikulum, program, sarana, fasilitas

dan juga guru (Slameto, 2010: 54).

Hasil belajar seseorang pada dasarnya dipengaruhi oleh berbagai

faktor yang saling terkait satu dengan yang lain. Sehingga tidak ada faktor

tunggal yang secara otomatis dan berdiri sendiri mempengaruhi dan

menentukan hasil belajar seseorang. Seperti kelengkapan sumber belajar

yang merupakan faktor eksternal dalam diri siswa dan kemandirian siswa

yang merupakan faktor internal dari dalam diri siswa.

Kusnandar (2017: 15) menjelaskan bahwa hasil belajar merupakan

hal yang dapat dipandang dari dua sisi yaitu hasil belajar merupakan
20

tingkat perkembangan mental lebih baik bila dibandingkan pada saat

sebelum belajar, tingkat perkembangan mental tersebut pada jenis-janis

rana kognitif, afektif, dan psikomotor. sedangkan hasil belajar merupakan

saat terselesaikannya bahan pelajaran.

Hasil belajar merupakan hal yang tidak dapat dipisahkan dari

kegiatan belajar, karena kegiatan belajar merupakan proses, sedangkan

hasil merupakan hasil dari proses belajar. Memahami pengertian hasil

belajar secara garis besar harus bertitik tolak kepada pengertian

belajar itu sendiri. Untuk itu para ahli mengemukakan pendapatnya yang

berbeda-beda sesuai dengan pandangan yang mereka anut. Namun

dari pendapat yang berbeda itu dapat kita temukan satu titik

persamaan bahwasannya hasil belajar adalah suatu hasil yang dicapai

oleh siswa selama mengikuti proses belajar mengajar yang dapat diukur

dengan tinggi rendahnya nilai dalam suatu bidang studi.

Baharuddin (2017: 15-16) mengemukakan bahwa hasil belajar

ditandai dengan adanya: a) Perubahan tingkah laku (change behavior). Ini

berarti, bahwa hasil dari belajar hanya dapat diamati dari tingkah laku,

yaitu adanya perubahan tingkah laku, dari tidak tau menjadi tau, dari tidak

terampil menjadi terampil. Tanpa mengamati tingkah laku hasil belajar kita,

tidak akan dapat mengetahui hasil belajar. b) Perubahan perilaku (relative

permanent). Ini berarti, bahwa perubahan tingkah laku yang terjadi karena

belajar untuk waktu tertentu akan tetap atau tidak berubah-ubah. Tetapi

perubahan tingkah laku tersebut tidak akan terpancang seumur hidup. c)

Perubahan tingkah laku tidak harus segera diamati pada saat proses
21

belajar sedang berlangsung, perubahan perilaku tersebut bersifat

potensial. d) Perubahan tingkah laku merupakan hasil latihan atau

pengalaman. e) Pengalaman atau latihan itu dapat memberi penguatan.

Sesuatu yang memperkuat itu akan memberikan semangat atau dorongan

untuk mengubah tingkah laku.

Arifah (2012: 65) hasil dari proses belajar yang dilakukan oleh siswa

adalah hasil yang dapat diukur dalam proses evaluasi atau dengan kata

lain hasil belajar siswa. Jadi hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan

yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajarnya. Hasil

belajar tiga macam hasil belajar yaitu: a) Keterampilan dan kebiasaan, b)

Pengetahuan dan Pengertian, c) Sikap dan cita-cita.

Arifah (2012: 66) berpendapat bahwa pada evaluasi hasil belajar,

ranah penilaian mencakup tiga hal, yaitu kognitif, afektif dan psikomotorik.

Beberapa aspek yang dapat dilihat dari hasil belajar yang dicapai oleh

siswa antara lain: a) perubahan pengetahuan, sikap dan perilaku siswa

setelah menyelesaikan pengalaman belajarnya, b) kualitas dan kuantitas

penguasaan tujuan instruksional oleh para siswa, c) jumlah siswa yang

dapat mencapai tujuan instruksional minimal dari jumlah intruksional yang

harus dicapai, d) hasil belajar tahan lama diingat dan dapat digunakan

sebagai dasar dalam mempelajari bahan berikutnya. Masing-masing jenis

hasil belajar tersebut dapat diisi dengan bahan yang telah ditetapkan

dalam kurikulum. Meski demikian dalam sistem pendidikan Indonesia,

rumusan hasil belajar siswa terbagi dalam tiga ranah yaitu kognitif, afektif

dan psikomotor. Hasil belajar setiap siswa tidak sama ada yang tinggi,
22

sedang, dan ada yang rendah. Hal ini dipengaruhi oleh beberapa faktor,

yang pada garis besarnya dapat datang dari dalam dan dari luar diri siswa

yang sedang belajar.

Berdasarkan pendapat para ahli tentang hasil belajar maka terlihat

adanya perbedaan pemahaman, namun intinya sama yaitu hasil belajar

merupakan capaian dari suatu kegiatan belajar. Untuk itu maka hasil

belajar adalah hasil dari suatu kegiatan yang telah dikerjakan, diciptakan,

menyenangkan hati, yang diperoleh melalui kerja tekun dan ulet, baik

secara individual maupun kelompok dalam bidang kegiatan tertentu.

[Link]. Hasil Belajar Ekonomi

Ekonomi merupakan ilmu tentang prilaku dan tindakan manusia

untuk memenuhi kebutuhan hidupnya yang banyak, bervariasi dan

berkembang dengan sumber daya yang ada melalui pilihan-pilihan kegiatan

produksi, konsumsi dan distribusi. Mankiw (2013: 3) mengemukakan

bahwa ilmu ekonomi pada dasarnya adalah studi tentang bagaimana

masyarakat mengelola sumber-sumber daya yang selalu terbatas atau

langkah. Kelangkaan artinya sumber-sumber daya yang ditawarkan oleh

setiap masyarakat kepada segenap warganya selalu kurang dan tidak

sebanyak dari yang sebenarnya diinginkan.

Budimansyah (2013: 1) menjelaskan bahwa Ilmu ekonomi

merupakan ilmu atau seni tentang upaya manusia untuk memenuhi

kebutuhan hidupnya yang banyak, bervariasi dan berkembang dengan


23

sumber daya yang ada melalui pilihan kegiatan produksi, konsumsi, dan

distribusi.

Fungsi mata pelajaran ekonomi adalah mengembangkan

kemampuan siswa untuk berekonomi, dengan cara mengenal berbagai

kenyataan dan peristiwa ekonomi, memahami konsep dan teori serta

berlatih dalam memecahkan masalah ekonomi yang terjadi di lingkungan

masyarakat.

Adapun tujuannya adalah: 1) Membekali siswa sejumlah konsep

ekonomi untuk mengetahui dan mengerti peristiwa dan masalah ekonomi

dalam kehidupan sehari-hari, terutama yang terjadi di lingkungan

individu/rumah tangga, masyarakatdan negara, 2) Membekali siswa

sejumlah konsep ekonomi yang diperlukan untuk mendlami ilmu ekonomi

pada jenjang selanjutnya, 3) Membekali siswa nilai-nilai serta etika ekonomi

dan memiliki jiwa wirausaha, 4) Meningkatkan kemampuan

berkompetisidan bekerjasama dalam masyarakat majemuk, baik dalam

skala nasional, maupun skala internasional.

Setiap mata pelajaran tentu mempunyai karakteristik yang khas.

Demikian pula mata pelajaran ekonomi. Adapun karakteristik mata

pelajaran ekonomi adalah sebagai berikut: 1) Mata pelajaran Ekonomi

berangkat dari fakta atau gejala ekonomi yang nyata, 2) Mata pelajaran

Ekonomi mengembangkan teori-teori untuk menjelaskan fakta secara

rasional, 3) Analisis yang digunakan dalam ilmu ekonomi adalah metode

pemecahan masalah, 4) Inti dari mata pelajaran ekonomi adalah memilih

altrnatif yang terbaik, 5) Secara umum subyek dalam ekonomi dapat dibagi
24

ke dalam beberapa cara , yang paling terkenal adalah mikro ekonomi dan

makro ekonomi, 6) Materi Akuntansi berupa pokok-pokok bahasan dari

pengertian Akuntansi secara umum, pencatatan transaksi keuangan,

penyusunan laporan keuangan, baik perusahaan jasa, dagang, maupun

manufaktur (Nurrochim, 2014: 3 ).

Menurut Ekowati (2008: 13) Adapun karakteristik mata pelajaran

ekonomi adalah (1) Ilmu ekonomi berangkat dari fakta atau gejala

ekonomi yang nyata. Kenyataan menunjukkan bahwa kebutuhan

manusia tidak terbatas sedangkan sumber-sumber ekonomi sebagai

alat untuk memenuhi kebutuhan yang jumlahnya terbatas, (2) Ilmu

ekonomi mengembangkan teori-teori untuk menjelaskan fakta secara

rasional. Agar manusia mampu membaca dan menjelaskan gejala-

gejala ekonomi secara sistematis, maka disusunlah konsep dan teori

ekonomi menjadi bangunan ilmu ekonomi. Selain mempunyai

persyaratan sistematis, ilmu ekonomi juga memenuhi persyaratan

keilmuan yang lain yaitu obyektif dan mempunyai tujuan yang jelas, (3)

Umumnya, analisis yang digunakan dalam ilmu ekonomi adalah

metode pemecahan masalah. Metode pemecahan masalah cocok

digunakan dalam analisis ekonomi sebab obyek dalam ilmu ekonomi

adalah permasalahan dasar ekonomi. Permasalahan dasar tersebut yaitu

barang apa yang harus diproduksi, bagaimana cara memproduksi dan

untuk siapa barang diproduksi. Ketiga permasalahan dasar tersebut pada

intinya berangkat dari adanya kelangkaan sumber- sumber


25

ekonomi, (4) Inti dari ilmu ekonomi adalah memilih alternatif yang terbaik.

Untuk mencapai kemakmuran manusia mempunyai banyak pilihan

kegiatan. Namun, dari sekian banyak pilihan kegiatan tersebut dapat

dianalisis secara ekonomi sehingga dapat ditentukan alternatif pilihan

mana yang paling optimal baik secara kualitatif maupun kuantitatif. Ilmu

ekonomi dapat digunakan untuk menentukan alternatif pilihan kegiatan

ekonomi yang terbaik, (5) Lahirnya ilmu ekonomi karena adanya

kelangkaan sumber pemuas kebutuhan manusia. Apabila sumber

ekonomi keberadaannya melimpah (tidak langka), maka ilmu ekonomi

tidak diperlukan lagi bagi kehidupan manusia.

Pembelajaran ekonomi di SMA ditekankan pada pencapaian standar

kompetensi dan kompetensi dasar yang telah ditetapkan dalam kurikulum

tingkat satuan pendidikan. Standar kompetensi yang harus dicapai siswa

dalam belajar ekonomi di SMA adalah (1) memahami masalah ekonomi

dalam kaitannya dengan kebutuhan manusia, kelangkaan, dan sistem

ekonomi, (2) memahami konsep ekonomi dalam kaitannya dengan

kegiatan ekonomi konsumen dan produsen, (3) memahami masalah

ekonomi dalam kaitannya dengan permintaan, penawaran, harga

keseimbangan, dan pasar, (4) memahami kebijakan pemerintah dalam

bidang ekonomi, (5) memahami produk domestik bruto, produk domestik

regional bruto, pendapatan nasional bruto, dan pendapatan nasional, (6)

memahami konsumsi, dan investasi, dan (7) memahami uang dan

perbankan (Dalimunthe, dkk., 2007: viii).


26

Pembelajaran ekonomi kelas XI semester pertama diarahkan pada

materi tentang (1) ketenagakerjaan dan pembangunan, (2) APBN, APBD,

dan kebijakan fiskal, (3) mengenal pasar modal, dan (4) perdagangan

internasional dan neraca pembayaran. Oleh karena 4 pokok bahasan ini

adalah materi satu semester maka peneliti hanya melihat hasil belajar pada

satu pokok bahasan terakhir yaitu perdagangan internasional dan neraca

pembayaran dengan empat sub pokok bahasan yaitu (1) perdagangan

internasional, (2) valuta asing dan Negara pembayaran, (3) kebijakan

perdagangan internasional, dan (4) devisa dan alat pembayaran

internasional (Feryanto, ddk., 2013: 80 – 89).

Berdasarkan pendapat para ahli di atas, maka yang dimaksud

dengan hasil belajar ekonomi dalam penelitian ini adalah tingkat

penguasaan materi ekonomi yang dicapai siswa setelah mengikuti proses

pembelajaran ekonomi di semester Ke dua kelas XI SMA Jurusan IPS

pada sub pokok bahasan: (1) perdagangan internasional, (2) valuta asing

dan necara pembayaran, (3) kebijakan perdagangan internasional, dan (4)

devisa dan alat pembayaran internasional.

2.2. Minat Belajar

2.2.1. Pengertian Minat Belajar

Minat merupakan salah satu aspek psikis yang dapat mendorong

manusia mencapai tujuan. Seseorang yang memiliki minat terhadap suatu

objek, cenderung memberikan perhatian atau merasa senang yang lebih

besar kepada objek tersebut. Namun, apabila objek tersebut tidak


27

menimbulkan rasa senang, maka orang itu tidak akan memiliki minat atas

objek tersebut. Oleh karena itu, tinggi rendahnya perhatian atau rasa

senang seseorang terhadap objek dipengaruhi oleh tinggi rendahnya minat

seseorang tersebut.

Minat adalah kecenderungan yang menetap dalam subjek untuk

merasa tertarik pada bidang atau hal tertentu dan merasa senang

berkecimpung dalam bidang itu (Winkel, 2016: 30). Adanya suatu

ketertarikan yang sifatnya tetap di dalam diri subjek atau seseorang yang

sedang mengalaminya atas suatu bidang atau hal tertentu dan adanya

rasa senang terhadap bidang atau hal tersebut, sehingga seseorang

mendalaminya.

Minat adalah kesadaran seseorang, bahwa suatu objek, seseorang,

suatu soal atau suatu situasi mengandung sangkut-paut dengan dirinya

(Witherington, 2013: 135) merupakan suatu kesadaran yang ada

pada diri seseorang tentang hubungan dirinya dengan segala sesuatu

yang ada di luar dirinya. Hal-hal yang ada di luar diri seseorang,

meskipun tidak menjadi satu, tetapi dapat berhubungan satu dengan

yang lain karena adanya kepentingan atau kebutuhan yang bersifat

mengikat.

Minat mempunyai peranan yang sangat penting dalam

perkembangan belajar siswa. Siswa yang menaruh minat pada suatu

bidang tertentu, maka akan berusaha lebih keras dalam menekuni bidang

tersebut dibanding siswa yang tidak menaruh minta. Menurut Slameto


28

(2010: 121) minat adalah kecenderungan yang tetap untuk

memperhatikan dan mengenang beberapa kegiatan. Kegiatan yang

diminati siswa, diperhatikan terus-menerus yang disertai rasa senang dan

diperoleh rasa kepuasan. Lebih lanjut dijelaskan minat adalah suatu rasa

suka dan ketertarikan pada suatu hal atau aktivitas, tanpa ada yang

menyuruh. Selanjutnya Suryabrata (2018: 109) menjelaskan bahwa minat

adalah kecenderungan dalam diri individu untuk tertarik pada sesuatu

objek atau menyenangi sesuatu. Minat adalah sesuatu pemusatan

perhatian yang tidak disengaja yang terlahir dengan penuh kemauannya

dan yang tergantung dari bakat dan lingkungan. Kedua pendapat tersebut

memiliki persamaan yang melihat minat sebagai suatu kecenderungan

individu untuk tertarik pada suatu objek minat.

Menurut Sabri (2015: 84) minat adalah kecenderungan untuk selalu

memperhatikan dan mengingat sesuatu secara terus-menerus, minat kali

ini erat kaitannya dengan perasaan senang, karena itu dapat dikatakan

minat itu terjadi karena perasaan senang terhadap sesuatu, orang yang

minta terhadap sesuatu, berarti ia sikapnya senang terhadap sesuatu.

Selanjutnya Syah (2017: 136) menjelaskan bahwa minat adalah

kecenderungan dan kegairahan yang tinggi atau keinginan yang besar

terhadap sesuatu. Jika kita cermati kedua ahli tersebut memiliki

pandangan yang sama mengenai minat yaitu kecenderungan yang tinggi

terhadap suatu objek yang diminati. Menurut Sardiman (2016: 76) minat

adalah suatu kondisi yang terjadi apabila seseorang melihat ciri-ciri atau
29

arti sementara situasi, yang dihubungkan dengan keinginan-keinginan

atau kebutuhan-kebutuhannya sendiri.

Minat mengarahkan perbuatan kepada suatu tujuan dan merupakan

dorongan bagi perbuatan tersebut. Dalam diri manusia terdapat dorongan-

dorongan (motif-motif) yang mendorong manusia untuk berinteraksi

dengan dunia luar, motif menggunakan dan menyelidiki dunia luar

(manipulate and exploring motives). Dari manipulasi dan eksplorasi yang

dilakukan terhadap dunia luar itu, lama-kelamaan timbullah minat terhadap

sesuatu tersebut. Apa yang menarik minat seseorang mendorongnya

untuk berbuat lebih giat dan lebih baik (Purwanto, 2017: 56). Minat mampu

memberikan dorongan kepada seseorang untuk berinteraksi dengan

dunia luar yang sekiranya menarik untuk diketahui, menjadikannya

memiliki semangat tinggi untuk mengetahui sesuatu yang telah menarik

hatinya.

Minat bukanlah merupakan sesuatu yang dimiliki oleh seseorang

begitu saja, melainkan merupakan sesuatu yang dapat dikembangkan

(Singer, 2009: 93). Minat yang telah ada dalam diri seseorang bukanlah

ada dengan sendirinya, namun ada karena adanya pengalaman dan usaha

untuk mengembangkannya.

Minat dapat timbul karena daya tarik dari luar dan juga datang dari

hati sanubari. Minat yang besar terhadap sesuatu merupakan modal yang

besar artinya untuk mencapai atau memperoleh benda atau tujuan yang

diminati itu. Minat belajar yang besar cenderung menghasilkan hasil yang

tinggi, sebaliknya minat belajar yang kurang akan menghasilkan hasil


30

yang rendah (Dalyono, 2016: 56-57). Dalam usaha untuk memperoleh

sesuatu, diperlukan adanya minat. Besar kecilnya minat yang dimiliki akan

sangat berpengaruh terhadap hasil yang akan diperoleh. Secara

sederhana, minat (interest) berarti kecenderungan dan kegairahan yang

tinggi atau keinginan yang besar terhadap sesuatu (Syah, 2017: 152).

Minat merupakan suatu dorongan yang kuat dalam diri seseorang terhadap

sesuatu. Minat dapat timbul dengan sendirinya, yang ditengarai dengan

adanya rasa suka terhadap sesuatu.

Minat mempunyai peranan yang sangat penting dalam

perkembangan belajar siswa. Siswa yang menaruh minat pada suatu

bidang tertentu, maka akan berusaha lebih keras dalam menekuni bidang

tersebut dibanding siswa yang tidak menaruh minta. Minat adalah

kecenderungan yang tetap untuk memperhatikan dan mengenang

beberapa kegiatan. Kegiatan yang diminati siswa, diperhatikan terus-

menerus yang disertai rasa senang dan diperoleh rasa kepuasan. Lebih

lanjut dijelaskan minat adalah suatu rasa suka dan ketertarikan pada suatu

hal atau aktivitas, tanpa ada yang menyuruh.

Menurut Syah (2010:136) dalam buku Psikologi Pendidikan dengan

Pendekatan Baru menerangkan bahwa minat adalah kecenderungan dan

kegairahan yang tinggi atau keinginan yang besar terhadap sesuatu. Minat

pada dasarnya adalah penerimaan akan suatu hubungan antara diri

sendiri dengan suatu di luar diri, semakin kuat atau dekat hubungan

tersebut, maka semakin besarnya. Minat besar sekali pengaruhnya

terhadap kegiatan seseorang sebab dengan minat ia akan melakukan


31

sesuatu yang diminatinya. Sebaliknya tanpa minat seseorang tidak

mungkin melakukan sesuatu. Dengan kata lain minat merupakan

penyebab seseorang mengerjakan sesuatu yang diinginkannya. Minat

belajar dapat kita definisikan sebagai ketertarikan dan kecenderungan

yang tetap untuk memperhatikan dan terlibat dalam aktivitas belajar

karena menyadari pentingnya atau bernilainya hal yang ia pelajari

Shaleh dan Wahab (2014:263) menjelaskan bahwa minat juga

diartikan sebagai suatu kecenderungan untuk memberikan perhatian dan

bertindak terhadap orang, aktivitas atau situasi yang menjadi objek dari

minat tersebut dengan disertai perasaan senang. Dalam batasan tersebut

terkandung suatu pengertian bahwa di dalam minat ada pemusatan

perhatian subjek, ada usaha (untuk mendekati, mengetahui, memiliki,

menguasai dan berhubungan) dari subjek yang dilakukan dengan

perasaan senang, ada daya penarik dari objek.

Pendapat Muhson (2009: 132) yang menyatakan bahwa jika minat

belajar siswa dapat dibangkitkan, kemudian seluruh perhatiannya dapat

dipusatkan kepada bidang studi yang dipelajarinya, keadaan kelas dapat

menjadi tenang, dengan demikian proses belajar dapat berlangsung

dengan baik dan siswa pun dapat mencapai tujuan belajar sebagaimana

yang diharapkan. Sutikno (2017:15) berpendapat bahawa Minat

merupakan kecenderungan yang tetap untuk memperhatikan dan

mengenang beberapa kegiatan.

Dalam penyelenggaraan proses belajar dikelas ada beberapa teori

atau pandangan belajar yang diterapkan oleh sekolah dalam hal ini
32

seorang pendidik. Salah satunya adalah teori atau pandangan belajar

konstruktivisme. Teori belajar konstruktivisme menekankan bahwa

pengetahuan kita itu adalah konstruksi (bentukan) kita sendiri. Dalam hal

ini proses pembelajaran berpusat pada siswa sebagai subjek belajar.

Secara sederhana aliran konstruktivisme beranggapan bahwa

pengetahuan kita merupakan konstruksi dari kita yang mengetahui

sesuatu. Pengetahuan itu bukanlah suatu fakta yang tinggal ditemukan,

melainkan suatu perumusan yang diciptakan orang yang sedang

mempelajarinya. Jadi seseorang yang belajar itu membentuk pengertian.

Sardiman (2011: 37-38) menjelaskan bahwa, Dalam pandangan

teori konstuktivisme, belajar merupakan proses aktif dari si subjek untuk

merekonstruksi makna, sesuatu entah itu teks, kegiatan dialog,

pengalaman fisik dan lain-lain. Belajar merupakan proses

mengasimilasikan dan menghubungkan pengalaman atau bahan yang

dipelajarinya dengan pengertian yang sudah dimiliki, sehingga

pengertiannya menjadi berkembang. Jadi, menurut teori konstruktivisme,

belajar adalah kegiatan yang aktif dimana si subjek belajar membangun

sendiri pengetahuannya. Sesuai dengan prinsip-prinsip tersebut, maka

proses mengajar yang dilaksanakan oleh guru bukanlah kegiatan

memindahkan pengetahuan dari guru ke subjek belajar/siswa, tetapi suatu

kegiatan yang memungkinkan subjek belajar merekonstruksi sendiri

pengetahuannya

Berdasarkan pandangan teori konstruksivisme diatas maka siswa

yang minat belajarnya tinggi aktif dalam menemukan pengetahuan. Siswa


33

tidak bergantung secara dominan pada guru dalam menemukan

pengetahuan. Siswa memiliki antusiasme yang tinggi dalam kegiatan

pembelajaran. Siswa yang minat belajarnya tinggi memiliki perasaan

senang dalam belajar, memiliki perhatian yang besar, ketertarikan dan

keterlibatan yang tinggi dalam setiap aktivitas pembelajaran dikelas.

Menurut Sardiman (2009: 76) minat adalah suatu kondisi yang

terjadi apabila seseorang melihat ciri-ciri atau arti sementara situasi, yang

dihubungkan dengan keinginan-keinginan atau kebutuhan-kebuutuhannya

sendiri. Minat adalah kecenderungan yang mengarahkan manusia

terhadap bidang-bidang yang ia sukai dan tekuni tanpa adanya

keterpaksaan dari siapapun. Minat pula yang mengarahkan manusia

untuk berhasil dalam berbagai hal atau bidang yang ia sukai dan

tekuni. Seseorang yang mempunyai minat terhadap suatu hal atau

bidang tertentu, maka ia akan senantiasa mengarahkan dirinya terhadap

bidang tersebut dan senang menekuninya dengan sungguh- sungguh

tanpa adanya paksaan.

Minat pada dasarnya adalah minat adalah rasa lebih suka dan

ketertarikan pada satu hal atau aktivitas, tanpa ada yang menyuruh. Minat

dapat didekspresikan melalui pernyataan yang menunjukkan bahwa siswa

lebih menyukai suatu hal dari pada hal lainnya, dan dapat

dimanifestasikan melalui partisipasi dalam suatu aktivitas (Djaali, 2017:

121).

Penerimaan akan suatu hubungan diri sendiri dengan sesuatu di

luar diri. Semakin kuat atau dekat hubungan tersebut, semakin besar
34

minatnya. Adanya hubungan seseorang dengan sesuatu di luar dirinya,

dapat menimbulkan rasa ketertarikan, sehingga tercipta adanya

penerimaan. Dekat maupun tidak hubungan tersebut akan mempengaruhi

besar kecilnya minat yang ada.

Minat adalah gejala psikologis yang menunjukkan bahwa minat

adanya pengertian subjek terhadap objek yang menjadi sasaran karena

objek tersebut menarik perhatian dan menimbulkan perasaan senang

sehingga cenderung kepada objek tersebut (Admin, 2010: 127). Adanya

ketertarikan seseorang terhadap sesuatu karena sesuatu tersebut

mampu menimbulkan perasaan senang, dan perasaan senang ini

merupakan salah satu indikator dari minat.

Secara sederhana minat (interest) berarti kecenderungan dan

kegairahan yang tinggi atau keinginan yang besar terhadap sesuatu

(Baharudin, 2017: 24). Keinginan seseorang yang begitu besar terhadap

sesuatu menimbulkan kegairahan yang besar terhadap sesuatu tersebut.

Minat adalah sumber motivasi yang mendorong seseorang untuk

melakukan apa yang ingin dilakukan ketika bebas memilih. Ketika

seseorang menilai bahwa sesuatu akan bermanfaat, maka akan menjadi

berminat, kemudian hal tersebut akan mendatangkan kepuasan. Ketika

kepuasan menurun maka minatnya juga akan menurun. Sehingga minat

tidak bersifat permanen, tetapi minat bersifat sementara atau dapat

berubah-ubah (Hurlock, 2009: 192). Minat merupakan dorongan untuk

melakukan sesuatu sesuai dengan keinginan yang nantinya dapat


35

mendatangkan kepuasan, yang mana kepuasan itu akan mempengaruhi

kadar minat seseorang.

Suatu aktivitas akan dilakukan atau tidak sangat bergantung pada

minat seseorang terhadap aktivitas tersebut. Di sini nampak bahwa minat

merupakan motivator yang kuat untuk melakukan suatu aktivitas

(Sandjaya, 2015: 76). Minat memungkinkan seseorang untuk melakukan

suatu aktivitas, karena minat merupakan dorongan yang paling kuat dari

dalam diri seseorang. Besar kecilnya minat, akan sangat berpengaruh

terhadap aktivitas seseorang.

Minat adalah bentuk dari motivasi intrinsik. Pengaruh positif minat

akan membuat seseorang tertarik untuk bereksperimen seperti merasakan

kesenangan, kegembiraan dan kesukaan (Ormrod, 2013: 90). Minat

merupakan dorongan dari dalam diri seseorang yang mampu

membuat seseorang ingin merasakan hal-hal yang menyenangkan.

Seseorang yang memiliki minat terhadap apa yang dipelajari lebih dapat

mengingatnya dalam jangka panjang dan menggunakannya kembali

sebagai sebuah dasar untuk pembelajaran di masa yang akan datang

(Ormrod, 2013: 65). Dengan adanya minat, mampu memperkuat ingatan

seseorang terhadap apa yang telah dipelajarinya, sehingga dapat

dijadikan sebagai fondasi seseorang dalam proses pembelajaran di

kemudian hari.

Minat merupakan kecenderungan seseorang yang berasal dari luar

maupun dalam sanubari yang mendorongnya untuk merasa tertarik


36

terhadap suatu hal sehingga mengarahkan perbuatannya kepada suatu

hal tersebut dan menimbulkan perasaan senang.

Indikator minat ada 4 (empat) yaitu: a. perasaan senang, b.

ketertarikan, c. perhatian, dan d. keterlibatan (Safari, 2013: 98). Masing-

masing indikator tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:

1. Perasaan Senang

Seorang siswa yang memiliki perasaan senang atau suka terhadap

suatu mata pelajaran, maka siswa tersebut akan terus mempelajari ilmu

yang disenanginya. Tidak ada perasaan terpaksa pada siswa untuk

mempelajari bidang tersebut.

2. Ketertarikan Siswa

Berhubungan dengan daya gerak yang mendorong untuk cenderung

merasa tertarik pada orang, benda, kegiatan atau bisa berupa

pengalaman afektif yang dirangsang oleh kegiatan itu sendiri.

3. Perhatian Siswa

Perhatian merupakan konsentrasi atau aktivitas jiwa terhadap

pengamatan dan pengertian, dengan mengesampingkan yang lain

dari pada itu. Siswa yang memiliki minat pada objek tertentu, dengan

sendirinya akan memperhatikan objek tersebut.

4. Keterlibatan Siswa

Ketertarikan seseorang akan suatu objek yang mengakibatkan orang

tersebut senang dan tertarik untuk melakukan atau mengerjakan

kegiatan dari objek tersebut.


37

Minat terhadap sesuatu ada karena pengaruh dari dua faktor, yaitu

faktor internal dan eksternal.

1. Faktor Internal

Faktor internal adalah sesuatu yang membuat seseorang berminat

karena faktor dari dalam diri individu. Minat yang timbul karena faktor

internal indikatornya dapat dilihat dari pemusatan perhatian,

keingintahuan, motivasi, dan kebutuhan (Syah, 2011: 152).

Perhatian sangatlah penting dalam mengikuti kegiatan dengan baik,

dan hal ini akan berpengaruh pula terhadap minat siswa dalam

belajar. Perhatian dalam belajar yaitu pemusatan atau konsentrasi dari

seluruh aktivitas seseorang yang ditujukan kepada sesuatu atau

sekumpulan objek belajar (Suryabrata, 2008:14). Siswa yang aktivitas

belajarnya disertai dengan perhatian yang intensif akan lebih sukses serta

hasilnya akan lebih tinggi. Orang menaruh minat pada suatu aktivitas akan

memberikan perhatian yang besar, tidak segan mengorbankan waktu

dan tenaga demi aktivitas tersebut.

Keingintahuan adalah perasaan atau sikap yang kuat untuk

mengetahui sesuatu; dorongan kuat untuk mengetahui lebih

banyak tentang sesuatu. Suatu perasaan yang muncul dalam diri

seseorang yang mendorong orang tersebut ingin mengetahui sesuatu.

Motivasi adalah perubahan energi dalam diri seseorang yang

ditandai dengan timbulnya perasaan dan reaksi untuk mencapai tujuan

(Donald dalam Hamalik, 2018: 158). Motivasi adalah sesuatu yang

kompleks. Motivasi akan menyebabkan terjadinya suatu perubahan


38

energi yang ada pada diri manusia, sehingga akan bergayut dengan

persoalan gejala kejiwaan, perasaan dan juga emosi, untuk kemudian

bertindak atau melakukan sesuatu.

Kebutuhan (motif) yaitu keadaan dalam diri pribadi seorang siswa

yang mendorongnya untuk melakukan aktivitas-aktivitas tertentu guna

mencapai suatu tujuan (Suryabrata, 2018: 70). Kebutuhan ini hanya dapat

dirasakan sendiri oleh seorang individu. Seseorang tersebut melakukan

aktivitas belajar karena ada yang mendorongnya. Dalam hal ini motivasi

sebagai dasar penggeraknya yang mendorong seseorang untuk belajar.

Dan minat merupakan potensi psikologis yang dapat dimanfaatkan

untuk menggali motivasi bila seseorang sudah termotivasi untuk

belajar, maka akan melakukan aktivitas belajar dalam rentangan waktu

tertentu.

2. Faktor Eksternal

Faktor eksternal adalah sesuatu yang membuat seseorang

berminat dikarenakan adanya pengaruh dari luar dirinya seperti dorongan

dari orang tua, dorongan dari sesama siswa, tersedianya prasarana dan

sarana atau fasilitas, dan keadaan lingkungan. Keempat faktor ini menjadi

faktor pendukung dari timbulnya minat terhadap sesuatu objek.

Menurut Hurlock (2009: 117) bahwa minat dibagi menjadi tiga

aspek, yaitu: a) aspek kognitif, b) aspek afektif, dan c) aspek psikomotor.

Ketiga aspek tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:

a. Aspek Kognitif
39

Aspek kognitif didasari pada konsep perkembangan di masa anak-

anak mengenai hal-hal yang menghubungkannya dengan minat. Minat

pada aspek kognitif berpusat seputar pertanyaan, apakah hal yang diminati

akan menguntungkan? Apakah akan mendatangkan kepuasan?

Ketika seseorang melakukan suatu aktivitas, tentu mengharapkan

sesuatu yang akan didapat dari proses suatu aktivitas tersebut.

Sehingga seseorang yang memiliki minat terhadap suatu aktivitas

akan dapat mengerti dan mendapatkan banyak manfaat dari suatu

aktivitas yang dilakukannya. Jumlah waktu yang dikeluarkan pun

berbanding lurus dengan kepuasan yang diperoleh dari suatu aktivitas

yang dilakukan sehingga suatu aktivitas tersebut akan terus dilakukan.

b. Aspek Afektif

Aspek afektif atau emosi yang mendalam merupakan konsep yang

menampakkan aspek kognitif dari minat yang ditampilkan dalam sikap

terhadap aktivitas yang diminatinya. Seperti aspek kognitif, aspek afektif

dikembangkan dari pengalaman pribadi, sikap orang tua, siswa, dan

kelompok yang mendukung aktivitas yang diminatinya. Seseorang akan

memiliki minat yang tinggi terhadap suatu hal karena kepuasan dan

manfaat yang telah didapat-kannya, serta mendapat penguatan

respon dari orang tua, siswa, kelompok, dan lingkungannya, maka

seseorang tersebut akan fokus pada aktivitas yang diminatinya.

Dan akan memiliki waktu-waktu khusus atau memiliki frekuensi yang

tinggi untuk melakukan suatu aktivitas yang diminatinya tersebut.

c. Aspek Psikomotor
40

Aspek psikomotor lebih mengorientasikan pada proses tingkah laku

atau pelaksanaan, sebagai tindak lanjut dari nilai yang didapat melalui

aspek kognitif dan diinternalisasikan melalui aspek afektif sehingga

mengorganisasi dan diaplikasikan dalam bentuk nyata melalui aspek

psikomotor. Seseorang yang memiliki minat tinggi terhadap suatu hal akan

berusaha mewujudkannya sebagai pengungkapan ekspresi atau tindakan

nyata dari keinginannya.

Kriteria minat seseorang digolongkan menjadi tiga kategori, yaitu:

rendah, jika seseorang tidak menginginkan objek tertentu. Sedang, jika

seseorang menginginkan objek minat akan tetapi tidak dalam waktu

segera. Dan tinggi, jika seseorang menginginkan objek minat dalam waktu

segera (Nursalam, 2013: 89). DiVesta dan Thompson (1970) menjelaskan

bahwa minat terbentuk melalui identifikasi. Prosesnya bermula sejak

individu mencari perhatian dari orang yang disukainya seperti orang tua,

guru atau yang lainnya dan sebagai konsekuensinya ia berusaha untuk

dapat menjadi seperti mereka. Pada tahap peniruan ini sering individu

mempelajari inti peran baru hanya dengan sedikit usaha. Keberhasilan

dalam peran tiruan tersebut akan menjadi faktor yang mempengaruhi

berkembangnya minat terhadap peran baru yang berbeda dari peran

sebelumnya.

Beberapa ahli telah mencoba mengklasifikasikan minat berdasarkan

pendekatan yang berbeda satu sama lain, sehingga minat dapat

dikatagorikan seperti berikut ini.


41

Minat diklasifikasikan menjadi empat jenis berdasarkan bentuk

pengekspresian dari minat, antara lain: a. expressed interest, b.

manifest interest, c. tested interest, dan d. inventoried interest (Suhartini,

2011: 25). Ketiga jenis minat tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:

a. Expressed interest, minat yang diekspresikan melalui verbal yang

menunjukkan apakah seseorang itu menyukai atau tidak menyukai

suatu objek atau aktivitas.

b. Manifest interest, minat yang disimpulkan dari keikutsertaan individu

pada suatu kegiatan tertentu.

c. Tested interest, minat yang disimpulkan dari tes pengetahuan atau

keterampilan dalam suatu kegiatan.

d. Inventoried interest, minat yang diungkapkan melalui inventori minat

atau daftar aktivitas dan kegiatan yang sama dengan pernyataan.

Minat digolongkan menjadi tiga jenis berdasarkan sebab-musabab

atau alasan timbulnya minat, yaitu: a. Minat Volunter, b. Minat Involunter,

dan c. Minat Nonvolunter (Surya, 2017: 122). Ketiga jenis minat tersebut

dapat dijelaskan sebagai berikut:

1) Minat Volunter adalah minat yang timbul dari dalam diri siswa

tanpa adanya pengaruh dari luar.

2) Minat Involunter adalah minat yang timbul dari dalam diri siswa

dengan adanya pengaruh situasi yang diciptakan oleh siswa.

3) Minat Nonvolunter adalah minat yang timbul dari dalam diri siswa

secara paksa atau dihapuskan.


42

Minat dikatagorikan menjadi tiga katagori berdasarkan sifatnya,

yaitu: (a) Minat personal, (b) Minat situsional, dan (c) Minat psikologikal

(Krapp dalam Suhartini, 2011: 23), yaitu sebagai berikut:

a. Minat Personal

Merupakan minat yang bersifat permanen dan relatif stabil yang

mengarah pada minat khusus mata pelajaran tertentu. Minat personal

merupakan suatu bentuk rasa senang ataupun tidak senang, tertarik

tidak tertarik terhadap mata pelajaran tertentu. Minat ini biasanya tumbuh

dengan sendirinya tanpa pengaruh yang besar dari rangsangan eksternal.

b. Minat Situsional

Merupakan minat yang bersifat tidak permanen dan relatif berganti-

ganti, tergantung rangsangan eksternal. Rangsangan tersebut misalnya

dapat berupa metode mengajar siswa, penggunaan sumber belajar dan

media yang menarik, suasana kelas, serta dorongan keluarga. Jika minat

situsional dapat dipertahankan sehingga berkelanjutan secara jangka

panjang, minat situsional akan berubah menjadi minat personal atau minat

psikologis siswa. Semua ini tergantung pada dorongan atau rangsangan

yang ada.

c. Minat Psikologikal

Merupakan minat yang erat kaitannya dengan adanya interaksi

antara minat personal dengan minat situsional yang terus-menerus dan

berkesinambungan. Jika siswa memiliki pengetahuan yang cukup tentang

suatu mata pelajaran, dan memiliki kesempatan untuk mendalaminya

dalam aktivitas yang terstruktur di kelas atau pribadi (di luar kelas) serta
43

mempunyai penilaian yang tinggi atas mata pelajaran tersebut maka dapat

dinyatakan bahwa siswa tersebut memiliki minat psikologikal.

Minat belajar adalah kecenderungan yang mengarahkan siswa

terhadap bidang-bidang yang ia sukai dan tekuni tanpa adanya

keterpaksaan dari siapapun untuk meningkatkan kualitasnya dalam hal

pengetahuan, keterampilan, nilai, sikap, minat, apresiasi, logika berpikir,

komunikasi, dan kreativitas. Minat belajar merupakan ketertarikan atau

kesenangan pada suatu pelajaran sehingga dapat menimbulkan

perubahan perilaku pada diri siswa yang relatif tetap untuk lebih

memperhatikan dan mengingat secara terus menerus yang diikuti

rasa senang untuk memperoleh suatu kepuasan dalam mencapai tujuan

pembelajaran. Selain itu, beberapa ahli berpendapat mengenai definisi

minat belajar sebagai berikut.

Minat belajar adalah kecenderungan dan kegairahan yang tinggi

atau keinginan yang besar terhadap sesuatu (Syah, 2011: 136 ) .

Sedangkan menurut Marimba (2010: 79) minat belajar adalah

kecenderungan jiwa kepada sesuatu, karena kita merasa ada

kepentingandengan sesuatu itu, pada umumnya disertai dengan perasaan

senang akan sesuatu itu. Mempertegas pendapat tersebut adalah

Shalahuddin (2010: 95) mengemukakan bahwa minat belajar adalah

perhatian yang mengandung unsur-unsur perasaan. Dengan begitu

minat belajar, sangat menentukan sikap yang menyebabkan

seseorang aktif dalam suatu pekerjaan, atau dengan kata lain, minat

belajar dapat menjadi sebab dari suatu kegiatan.


44

Menurut Crow dan Crow dalam Abor (2013: 112) bahwa minat

belajar atau interest biasa berhubungan dengan daya gerak yang

mendorong kita untuk cendrung atau merasa tertarik pada orang, benda,

kegiatan, ataupun bisa berupa pengalaman yang efektif yang

dirangsang oleh kegiatan itu sendiri.

Dari pengertian minat belajar tersebut dapat diambil kesimpulan

bahwa minat belajar akan timbul apabila mendapatkan rangsangan dari

luar. Dan kecenderungan untuk merasa tertarik pada suatu bidang

bersifat menetap dan merasakan perasaan yang senang apabila ia

terlibat aktif didalamnya. Perasaan senang ini timbul dari lingkungan atau

berasal dari objek yang menarik

Hamalik (2018: 158) berpendapat bahwa minat adalah perubahan

energi dalam diri seseorang yang ditandai dengan timbulnya perasaan dan

reaksi untuk mencapai tujuan. Tanpa adanya tujuan, orang tidak akan

berminat untuk berbuat sesuatu. Seorang siswa melakukan kegiatan

belajar selalu mempunyai tujuan mengapa ia melakukan kegiatan belajar

tersebut. Oleh karena itu, minat merupakan faktor penting dalam kegiatan

belajar. Adanya minat diharapkan dapat memperoleh hasil yang

memuaskan dalam setiap kegiatan.

Hamalik (2018: 110) yang menyatakan bahwa belajar tanpa adanya

minat kiranya sulit untuk mencapai keberhasilan secara optimal. Hal ini

juga didukung oleh pendapat Dalyono, (2016: 57) yang menyatakan bahwa

kuat lemahnya minat seseorang turut mempengaruhi keberhasilan belajar.


45

Oleh karena itu dalam kegiatan belajar, minat dalam belajar perlu

diusahakan terutama yang berasal dari

dalam diri dengan cara senantiasa memikirkan masa depan yang penuh

tantangan dan harus dihadapi untuk mencapai cita-cita senantiasa

memasang tekad bulat dan selalu optimis bahwa cita-cita dapat dicapai

dengan belajar.

Dalam kegiatan proses pembelajaran, minat merupakan aspek yang

sangat penting, hal ini dikarenakan (a) motivasi (minat) memberi semangat

terhadap seorang peserta didik dalam kegiatan-kegiatan belajarnya, (b)

motivasi (minat) perbuatan merupakan pemilih dari tipe kegiatan-kegiatan

dimana seseorang berkeinginan untuk melakukannya, dan (c) motivasi

(minat) juga memberi petunjuk pada tingkah laku (Rusyan, dkk., 2009: 96-

97).

Sependapat dengan Rusyan, Sardiman, (2016: 83) mengemukakan

ciri-ciri seseorang yang memiliki minat tinggi dalam belajar yaitu berupa; (1)

Tekun dalam menghadapi tugas (dapat bekerja terus menerus dalam waktu

yang lama, tidak pernah berhenti sebelum selesai), (b) Ulet menghadapi

kesulitan ridak (tidak lekas putus asa), (c) Menunjukkan minat terhadap

bermacam-macam masalah, (d) Lebih senang bekerja mandiri, (e) Cepat

bosan pada tugas-tugas yang rutin (hal-hal yang berifat mekanis, berulang-

ulang begitu saja sehingga kurang kreatif), (f) Dapat mempertahankan

pendapatnya (kalau sudah yankin akan sesuatu), (g) Tidak mudah

melepaskan hal yang diyakini itu, dan (h) Senang mencari dan

memecahkan maslah soal-soal.


46

Tingkah laku siswa ketika mengikuti proses belajar mengajar dapat

mengindikasikan akan ketertarikan siswa tersebut terhadap pelajaran itu

atau sebaliknya, ia merasa tidak tertarik dengan pelajaran tersebut.

Ketertarikan siswa inilah yang merupakan salah satu tanda-tanda minat

belajar. Menurut Sabri (2015: 84) minat belajar adalah kecenderungan

untuk selalu memperhatikan dan mengingat sesuatu secara terus menerus,

minat belajar ini erat kaitannya dengan perasaan senang, karena itu dapat

dikatakan minat belajar itu terjadi karena sikap senang kepada sesuatu,

orang yang berminat belajar kepada sesuatu berarti ia sikapnya senang

kepada sesuatu. Dengan demikian maka minat belajar sangat menentukan

sikap yang menyebabkan seseorang aktif dalam suatu pekerjaan belajar,

atau dengan kata lain, minat belajar dapat menjadi sebab dari suatu

kegiatan beloajar.

Minat belajar dipengaruhi oleh kesehatan fisik dan kondisi

mental (Hapsari, 2017: 43). Lebih lanjut dapat dijelaskan, siswa yang

kondisi kesehatannya mengalami gangguan tidak akan memiliki keinginan

untuk belajar, karena seluruh potensi tubuhnya digunakan untuk menahan

rasa sakit yang diderita. Demikian pula dengan kesehatan mental, yang

secara langsung akan mengganggu minat belajar. Perasaan benci, sakit

hati atau kecewa terhadap guru akan menghambat minat belajar siswa.

Tidak jarang siswa enggan belajar matematika, hanya karena ia tidak

suka dengan perilaku dan cara mengajar guru matematika. Beberapa

siswa menjadi enggan belajar matematika hanya karena guru yang

tadinya ia kagumi menegur perilakunya yang kurang baik, atau saat siswa
47

mendapat nilai yang kurang baik dalam ulangan.

Menurut Barokah (2011: 90) minat belajar ada beberapa indikator

siswa yang memiliki minat belajar yang tinggi hal ini dapat dikenali

melalui proses belajar dikelas maupun dirumah yaitu: (a) Perasaan

Senang, artinya seorang siswa yang memiliki perasaan senang atau suka

terhadap pelajaran, maka ia harus terus mempelajari ilmu yang

berhubungan dengan IPS. Sama sekali tidak ada perasaan terpaksa

untuk mempelajari bidang tersebut; (b) Ketertarikan Siswa artinya

berhubungan dengan daya gerak yang mendorong siswa untuk

cenderung merasa tertarik pada orang, benda, kegiatan, atau bisa

berupa pengalaman efektif yang dirangsang oleh kegiatan itu sendiri; (c)

Perhatian dalam belajar artinya adanya perhatian juga menjadi salah satu

indikator minat. Perhatian merupakan konsentrasi atau aktifitas jiwa kita

terhadap pengamatan, pengertian, dan sebagainya dengan

mengesampingkan yang hal lain. Seseorang yang memiliki minat pada

objek tertentu maka dengan sendirinya dia akan memperhatikan objek

tersebut. Misalnya, seorang siswa menaruh minat terhadap pelajaran,

maka ia berusaha untuk memperhatikan penjelasan dari siswanya; (d)

Bahan Pelajaran dan Sikap Siswa yang Menarik artinya tidak semua

siswa menyukai suatu bidang studi pelajaran karena faktor minatnya

sendiri. Ada yang mengembangkan minatnya terhadap bidang pelajaran

tersebut karena pengaruh dari siswanya, teman sekelas, bahan pelajaran

yang menarik. Walaupun demikian lama-kelamaan jika siswa mampu

mengembangkan minatnya yang kuat terhadap mata pelajaran


48

niscayaia bisa memperoleh hasil yang berhasil sekalipun ia tergolong

siswayang berkemampuan rata- rata; (e) Keterlibatan Siswa artinya

ketertarikan seseorang akan sesuatu obyek yang mengakibatkan orang

tersebut senang dan tertarik untuk melakukan atau mengerjakan kegiatan

dari obyek tersebut; dan (f) Manfaat dan fungsi mata pelajaran artinya

adanya manfaat dan fungsi pelajaran juga merupakan salah satu

indikator minat. Karena setiap pelajaran mempunyai manfaat dan fungsi

yang berbeda-beda maka minat siswa terhadap mata pelajaran juga berbeda-

beda.

Surya (2007: 46) menyampaikan beberapa langkah untuk

meningkatan minat belajar diantaranya dengan menggugah rasa

kebutuhan anak akan pentingnya [Link] dalam menggugah

tentang kebutuhan akan belajar dapat dilakukan dengan membangun

dialog dan pendekatan personal, mengembangkan komunikasi kondusif

dengan anak. Dalam kontek ini orang tua atau guru sebaiknya tidak

hadir dengan mengitervensi atau mendikte tetapi hadir dengan memberi

dukungan dan Minat untuk berada pada jalur yang tepat sebagai seorang

pelajar.

Menurut djamarah (2011: 166) minat adalah kecenderungan yang

menetap untuk memperhatikan dan mengenang beberapa aktivitas.

Seseorang yang berminat terhadap aktivitas akan memperhatikan aktivitas

itu secara konsisten dengan rasa senang. Minat sebagai kesukaan

terhadap kegiatan melebihi kegiatan lainnya. ini berarti minat berhubungan

dengan nilai-nilai yang membuat seseorang mempunyai pilihan dalam


49

hidupnya. Kegiatan yang diminati seseorang dan diperhatikan secara terus-

menerus yang disertai dengan rasa senang.

Menurut Kamisa (2017: 370) minat adalah sesuatu yang pribadi dan

berhubungan erat dengan sikap. Minat dan sikap merupakan dasar bagi

prasangka dan minat juga penting dalam mengambil keputusan. minat

dapat menyebabkan seseorang giat melakukan menuju ke sesuatu yang

telah menarik minatnya. Gunarso (2015: 68) mengatakan minat diawali

dengan kesadaran menerima sesuatu rangsangan dan ia menerimanya

secara pasif dan apabila telah dirangsang berkali-kali maka ia mungkin

akan menerimanya secara aktif. setelah ia menerimanya secara aktif, baru

akan timbul keinginan untuk bereaksi terhadap rangsangan tersebut guna

memuaskan dirinya sendiri.

Dari pendapat-pendapat yang dikemukakan oleh para ahli di atas,

dapat disimpulkan bahwa minat belajar adalah suatu dorongan atau

kegairahan yang tinggi dari siswa dalam hal pemusatan perhatian terhadap

kegiatan belajar melalui interaksi dengan lingkungannya dan akan

menimbulkan perubahan perilaku.

2.2.2. Indikator Minat Belajar

Menurut Slameto (2010 :58) siswa yang berminat dalam belajar

mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:

a. Mempunyai kecenderungan yang tetap untuk memperhatikan dan

mengenang sesuatu yang dipelajari secara terus menerus.

b. Ada rasa suka dan senang pada sesuatu yang diminati.


50

c. Memperoleh suatu kebanggaan dan kepuasan pada sesuatu yang

diminati. Ada rasa keterikatan pada sesuatu aktivitas-aktivitas yang

diminati.

d. Lebih menyukai suatu hal yang menjadi minatnya daripada yang

lainnya.

e. Dimanifestasikan melalui partisipasi pada aktivitas dan kegiatan.

Menurut Barokah (2011: 90) minat belajar ada beberapa indikator

siswa yang memiliki minat belajar yang tinggi hal ini dapat dikenali

melalui proses belajar dikelas maupun dirumah yaitu:

a. Perasaan Senang

Seorang siswa yang memiliki perasaan senang atau suka terhadap

pelajaran ekonomi, maka ia harus terus mempelajari ilmu

yang berhubungan dengan ekonomi. Sama sekali tidak ada perasaan

terpaksa untuk mempelajari bidang tersebut.

b. Ketertarikan Siswa

Berhubungan dengan daya gerak yang mendorong siswa untuk

cenderung merasa tertarik pada orang, benda, kegiatan, atau

bisa berupa pengalaman efektif yang dirangsang oleh kegiatan itu

sendiri.

c. Perhatian dalam Belajar

Adanya perhatian juga menjadi salah satu indikator minat. Perhatian

merupakan konsentrasi atau aktifitas jiwa kita terhadap pengamatan,

pengertian, dan sebagainya dengan mengesampingkan yang hal

lain. Seseorang yang memiliki minat pada objek tertentu maka


51

dengan sendirinya dia akan memperhatikan objek tersebut. Misalnya,

seorang siswa menaruh minat terhadap pelajaran ekonomi, maka ia

berusaha untuk memperhatikan penjelasan dari siswanya. Tidak

semua siswa menyukai suatu bidang studi pelajaran karena faktor

minatnya sendiri. Ada yang mengembangkan minatnya terhadap

bidang pelajaran tersebut karena pengaruh dari guru, teman sekelas,

dan bahan pelajaran yang menarik. Walaupun demikian lama-

kelamaan jika siswa mampu mengembangkan minatnya yang kuat

terhadap mata pelajaran niscaya ia bisa memperoleh hasil yang

berhasil sekalipun ia tergolong siswa yang berkemampuan rata- rata.

Sebagaimana dikemukakan oleh Brown dalam Imran (2006: 88)

bahwa tertarik pada mata pelajaran, artinya tidak membenci atau

bersikap acuh tak acuh, tertarik kepada mata pelajaran yang

diajarkan, mempunyai antusias yang tinggi serta mengendalikan

perhatiannya terutama kepada siswa, ingin selalu bergabung dalam

kelompok kelas, ingin identitas dirinya diketahui oleh orang lain,

tindakan kebiasaan dan moralnya selalu dalam control diri, selalu

mengingat pelajaran dan mempelajarinya kembali, dan selalu

terkontrol oleh lingkungannya.

d. Keterlibatan Siswa

Ketertarikan seseorang akan sesuatu obyek yang mengakibatkan

orang tersebut senang dan tertarik untuk melakukan atau

mengerjakan kegiatan dari obyek tersebut.


52

Berdasarkan pengertian di atas maka dapat disimpulkan

bahwa Minat belajar adalah kecenderungan yang mengarahkan siswa

terhadap bidang-bidang yang ia sukai dan tekuni tanpa adanya

keterpaksaan dari siapapun untuk meningkatkan kualitasnya dalam hal

pengetahuan, keterampilan, nilai, sikap, minat, apresiasi, logika berpikir,

komunikasi, dan kreativitas. Merupakan ketertarikan atau kesenangan

pada suatu pelajaran sehingga dapat menimbulkan perubahan perilaku

pada diri siswa yang relatif tetap untuk lebih memperhatikan dan

mengingat secara terus menerus yang diikuti rasa senang untuk

memperoleh suatu kepuasan dalam mencapai tujuan pembelajaran.

2.1.3. Disiplin Belajar

[Link]. Pengertian Disiplin

Konsep disiplin berkaitan dengan tata tertib, aturan, atau norma

dalam kehidupan bersama yang melibatkan orang banyak. Menurut

Moeliono (2013: 208) bahwa disiplin adalah ketaatan (kepatuhan) kepada

peraturan tata tertib, aturan, atau norma, dan lain sebagainya. Dengan

demikian disiplin siswa adalah ketaatan (kepatuhan) dari siswa kepada

aturan, tata tertib atau norma di sekolah yang berkaitan dengan kegiatan

belajar mengajar.

Dari pengertian tersebut, disiplin siswa dalam belajar atau disiplin

belajar dapat dilihat dari ketaatan (kepatuhan) siswa terhadap aturan (tata

tertib) yang berkaitan dengan kegiatan belajar mengajar di sekolah, yang

meliputi waktu masuk sekolah dan keluar sekolah, kepatuhan siswa dalam
53

berpakaian, kepatuhan siswa dalam mengikuti kegiatan sekolah, dan lain

sebagainya. Semua aktifitas siswa yang dilihat kepatuhannya adalah

berkaitan dengan aktifitas belajar di sekolah.

Atmodiwirio (2000: 235) bahwa (1) disiplin adalah setiap usaha

mengkoordinasikan perilaku seseorang pada masa yang akan datang

dengan menggunakan hukum dan ganjaran; (2) disiplin sebagai suatu

bentuk ketaatan dan pengendalian diri erat hubungannya rasionalisme,

sadar, tidak emosional; (3) disiplin adalah suatu sikap mental yang

menggambarkan persesuaian antara tingkah laku dan perbuatan/ucapan

dengan kaidah-kaidah yang berlaku sebagai bangsa, negara dengan

dilkitasi keikhlasan dan tanggung jawab; dan (4) disiplin sebagai suatu

sikap, perbuatan untuk selalu mentaati tata tertib. Disiplin adalah sikap

mental yang tercermin dalam perbuatan, tingkah laku seseorang, kelompok

atau masyarakat berupa kepatuhan atau ketaatan terhadap peraturan-

peraturan, dan ketentuan-ketentuan yang ditetapkan Pemerintah atau etik,

norma dan kaidah yang berlaku dalam masyarakat untuk tujuan tertentu.

Torrance dan Strom dalam Sahertian (2001: 24), menyatakan bahwa

disiplin merupakan kontrol bagi tingkah laku individu, yang diperbolehkan

atau tidak oleh lingkungannya. Selanjtunya Ravianto (2014: 78)

menyatakan bahwa disiplin adalah sikap kejiwaan seseorang atau

sekelompok orang senantiasa berkehendak unutk mengikuti atau mematuhi

keputusan yang telah diputuskan.

Sahertian (2014: 129) menyatakan bahwa “discipline refers

fundamentally to the principle that each organism learns in some degree to


54

control it self so as to conform to rhe foreces around it with which it has

experiences”. Dari pengertian ini terkandung beberapa unsur yaitu: (1)

berisi moral yang mengatur tata kehidupan, (2) pengembangan ego

dengan segala masalah intrinsic yang mengharuskan orang untuk

menentukan pilihan, (3) pertumbuhan kekuatan untuk memberi jawaban

terhadap setiap aturan yang disampaikan, dan (4) penerimaan otoritas

tambahan uang membantu seseorang untuk membentuk kemampuan dan

keterbatasan hidup.

Disiplin adalah suatu sikap dan perilaku yang tercipta melalui proses

pembinaan melalui keluarga, pendidikan dan pengalaman atau pengenalan

dari keteladanan lingkungannya. Disiplin membuat seseorang mengenal

dan mengetahui hal-hal apa yang seharusnya dilakukan, yang wajib

dilakukan, yang boleh dilakukan, dan apa yang tak sepatutnya dilakukan.

Melalui disiplin maka akan terbentuk suatu kondisi yang terwujud dalam

serangkaian perilaku yang menunjukkan nilai-nilai ketaatan, kepatuhan,

kesetiaan, keteraturan dan atau ketertiban. Karena sudah menyatu dengan

diri seseorang, maka sikap atau perbuatan yang dilakukan bukan lagi

dirasakan sebagai beban, bahkan sebaliknya akan merupakan suatu

beban jika tidak berbuat sesuai aturan yang ada. Nilai-nilai kepatuhan

menjadi bagian dari perilaku hidupnya, secara langsung akan berdampak

terhadap perilaku organisasi yang dimiliki oleh seseorang.

Ravianto (2014: 78) menyatakan bahwa disiplin adalah sikap

kejiwaan seseorang atau sekelompok orang yang senantiasa berkehendak

unutk mengikuti atau mematuhi keputusan yang telah diputuskan. Kedua


55

pendapat menunjukkan perbedaan dalam mengartikan disiplin yaitu ada

melihat disiplin sebagai control bagi tingkah laku individu dan ada yang

melihat disiplin sebagai sikap pribadi seseorang atau sekelompok orang

untuk selalu menaatau keputusan yang telah ditetapkan.

Chester (2014: 129) menyatakan bahwa terdapat beberapa unsur

yang terkandung disiplin dengan segala masalah intrinsik yang

mengharuskan orang untuk menentukan pilihan, (3) pertumbuhan

kekuatan untuk memberi jawaban terhadap setiap aturan yang

disampaikan, dan (4) penerimaan otoritas tambahan uang membantu

seseorang untuk membentuk kemampuan dan keterbatasan hidup.

Disiplin adalah suatu sikap dan perilaku yang tercipta melalui proses

pembinaan melalui keluarga, pendidikan dan pengalaman atau pengenalan

dari keteladanan lingkungannya. Disiplin membuat seseorang mengenal

dan mengetahui hal-hal apa yang seharusnya dilakukan, yang wajib

dilakukan, yang boleh dilakukan, dan apa yang tak sepatutnya dilakukan.

Melalui disiplin maka akan terbentuk suatu kondisi yang terwujud dalam

serangkaian perilaku yang menunjukkan nilai-nilai ketaatan, kepatuhan,

kesetiaan, keteraturan dan atau ketertiban. Karena sudah menyatu dengan

diri seseorang, maka sikap atau perbuatan yang dilakukan bukan lagi

dirasakan sebagai beban, bahkan sebaliknya akan merupakan suatu

beban jika tidak berbuat sesuai aturan yang ada. Nilai-nilai kepatuhan

menjadi bagian dari perilaku hidupnya, secara langsung akan berdampak

terhadap perilaku organisasi yang dimiliki oleh seseorang.


56

Disiplin lahir, tumbuh dan berkembang dari sikap seseorang di

dalam sistem nilai budaya yang telah ada di dalam masyarakat, sehingga

unsur pokok pembentukan disiplin adalah sikap yang ada dalam diri

seseorang dan sistem nilai budaya yang berlaku di masyarakat. Sikap

tersebut merupakan unsur yang hidup dalam diri seseorang yang harus

mampu bereaksi terhadap lingkungannya dan terwujud dalam bentuk

tingkah laku atau pemikiran, sistem nilai budaya merupakan bagian dari

budaya yang berfungsi sebagai petunjuk atau pedoman atau penuntun bagi

kelakuan manusia.

Siagian (2013: 67) mengemukakan bahwa berdasarkan ruang

lingkup dari nilai budaya, maka disiplin dapat dibedakan atas tiga tingkatan,

yaitu: (a) Disiplin pribadi sebagai perwujudan disiplin yang lahir dari

kepatuhan atas aturan-aturan yang mengatur perilaku individu, (b) Disiplin

kelompok sebagai perwujudan disiplin yang lahir dari sikap taat, patuh

terhadap aturan-aturan (hukum) dan norma-norma yang berlaku pada

kelompok atau bidang-bidang kehidupan manusia, (c) Disiplin nasional

yakni wujud disiplin yang lahir dari sikap patuh yang ditunjukkan oleh

seluruh lapisan masyarakat terhadap aturan, nilai yang berlaku secara

nasional.

Disiplin adalah sikap patuh terhadap peraturan yang berlaku, sikap

disiplin sangat penting dalam kegiatan belajar mengajar di sekolah. Sikap

tersebut dapat menciptakan suasana belajar yang nyaman dan kondusif

untuk belajar, dengan bersikap disiplin siswa dapat mencapai tujuan

belajar. Sikap disiplin merupakan salah satu faktor yang dapat


57

mempengaruhi prestasi belajar. Apabila seorang siswa memiliki sikap

disiplin dalam kegiatan belajarnya, maka kepatuhan dan ketekunan

belajarnya akan terus meningkat sehingga membuat prestasi belajar

meningkat juga. Jadi apabila siswa memiliki sikap disiplin yang tinggi dalam

kegiatan belajar tentunya prestasi belajar yang diperoleh menjadi baik.

Sebaliknya jika siswa tidak memiliki sikap disiplin dalam belajar maka

kegiatan belajarnya tidak terencana dengan baik sehingga kegiatan

belajarnya tidak teratur dan membuat hasil belajar menurun (Pribadi, 2009:

1-2).

Rochim (2014: 5) menyatakan bahwa disiplin adalah suatu kondisi

yang tercipta dan terbentuk melalui proses dari serangkaian perilaku yang

menunjukkan nilai-nilai ketaatan pada keteraturan dan ketertiban, dalam

memperoleh ilmu. Pendapat ini menjelaskan bahwa disiplin itu berisikan

nilai-nilai ketaatan pada tata tertib.

Menurut Joko (2008: 24) bahwa istilah disiplin sebagai kepatuhan

dan ketaatan yang muncul karena adanya kesadaran dan dorongan dalam

diri orang itu. Alasan pentingnya kedisiplinan belajar bagi siswa seperti

yang dikemukakan Tulus (2004: 37) bahwa kedisiplinan belajar merupakan

jalan bagi siswa untuk sukses dalam belajar dan kelak ketika bekerja. Dari

beberapa pendapat tentang kedisiplinan belajar tersebut, maka dapat

disimpulkan bahwa kedisiplinan belajar merupakan kesadaran untuk

mengendalikan diri agar bersungguh-sungguh dalam belajar, sehingga

belajar akan penuh dengan kesadaraan, tanpa paksaan serta terciptanya


58

lingkungan belajar yang kondusif untuk mencapai hasil belajar yang

maksimal.

Dari beberapa pengertian tentang disiplin tersebut di atas maka

terdapat tiga inti disiplin, yaitu: sikap mental merupakan unsur atau aspek

utama dari disiplin; pengetahuan tentang sistem aturan, perilaku, norma,

kriteria; dan Standar perilaku yang menunjukkan kesungguhan, pengertian,

dan kesadaran untuk mentaati segala apa yang ada dalam aturan. Ketiga

aspek tersebut mendasari seseorang untuk bisa melaksanakan disiplin.

Dimana pelaksanaan disiplin seseorang akan berjalan secara bertahap

disesuaikan dengan kemampuan untuk beradaptasi, dan situasi serta

kondisi lingkungan kerjanya.

Menurut Tu’u (2014: 31) disiplin adalah suatu kondisi yang tercipta

dan terbentuk melalui proses dari serangkaian perilaku yang menunjukan

nilai-nilai ketaatan, kepatuhan, kesetiaan, keteraturan dan keterikatan.

Selanjutnya Rachman (2009: 32) menyatakan disiplin sebagai upaya

mengendalikan diri dan sikap mental individu atau masyarakat dalam

mengembangkan kepatuhan dan ketaatan terhadap peraturan dan tata

tertib berdasarkan dorongan dan kesadaran yang muncul dari dalam

hatinya. Pendapat Tu’u dan Rachman memiliki perbedaan karena Tu’u

melihat disiplin dari aspek nilai-nilai ketaatan dan kepatuhan terhadap

aturan, sedangkan Rachman melihat disiplin dari aspek upaya individu dan

masyarakat mengendalikan diri untuk mengembangkan sikap kepatuhan

dan ketaatan terhadap peraturan dan tata tertib.


59

Mangkunegara (2012: 129) mengemukakan bahwa dalam lembaga

pendidikan terdapat dua bentuk disiplin yaitu: (1) disiplin preventif dan (2)

disiplin korektif.

1). Disiplin yang bersifat preventif

Adalah usaha untuk menggerakkan semua elemen lembaga

pendidikan untuk mengikuti dan mematuhi aturan-aturan dan tata tertib

yang telah digariskan oleh sekolah. Tujuan dasarnya adalah untuk

menggerakkan peserta didik berdisiplin diri. Dengan cara preventif peserta

didik dapat memelihara dirinya terhadap aturan dan tata tertib. Pimpinan

mempunyai tanggung jawab dalam membangun sistem organisasi di

sekolah. Begitu juga guru dan siswa harus dan wajib mengetahui,

memahami semua aturan dan tata tertib yang ada dalam lembaga

pendidikan.

Disiplin preventif merupakan suatu sistem yang berhubungan

dengan kebutuhan prestasi untuk semua bagian sistem yang ada dalam

lembaga pendidikan di sekolah (guru, siswa dan staf tata usaha). Jika

sistem aturan dan tata tertib, maka diharapkan akan lebih mudah

menegakkan disiplin.

2). Disiplin yang bersifat korektif

Suatu usaha mengerakkan dalam menyatukan peraturan dan

mengarahkan untuk tetap mematuhi peraturan sesuai dengan pedoman

yang berlaku pada organisasi lembaga pendidikan di sekolah. Pada disiplin

korektif perlu diberikan sanksi sesuai dengan peraturan yang berlaku.

Tujuan pemberian sanksi adalah untuk memperbaiki perilaku guru atas


60

pelanggaran aturan dan tata tertib, memelihara peraturan yang berlaku,

dan memberikan pelajaran kepada pelanggar.

Pengenaan sanksi korektif diterapkan dengan memperhatikan tiga

hal: (1) guru yang dikenakan sanksi harus diberitahu pelanggaran atas

kesalahan apa yang telah diperbuatnya, (2) guru yang bersangkutan diberi

kesempatan membela diri. (3) Dalam hal pengenaan sanksi terberat seperti

pemberhentian pihak sekolah atau dinas terkait (pemerintah) perlu

menjelaskannya secara tepat.

Hurlock (2009: 84) menyatakan bahwa disiplin terdiri dari empat

unsur yaitu: peraturan, hukuman, penghargaan dan konsistensi. Peraturan

yaitu pola yang ditetapkan untuk tingkah laku. Pola itu dapat ditetapkan

oleh orang tua, guru atau teman bermain. Tujuan peraturan adalah untuk

menjadikan anak lebih bermoral dengan membekali pedoman perilaku

yang disetujui dalam situasi tertentu. Setiap individu memiliki tingkat

pemahaman yang berbeda. Hal ini disebabkan oleh tingkat perkembangan

individu yang berbeda meskipun usianya sama. Oleh karena itu dalam

memberikan peraturan harus melihat usia individu dan tingkat pemahaman

masing – masing individu.

Hukuman sanksi yang diberikan karena melanggar ketetapan

hukuman berarti menjatuhkan hukuman pada seseorang karena suatu

kesalahan perlawanan atau pelanggaran sebagai ganjaran atau

pembalasan. Penghargaan merupakan setiap bentuk penghargaan untuk

suatu hasil yang baik. Penghargaan tidak harus berbentuk materi tetapi

dapat berupa kata – kata pujian, senyuman atau tepukan di punggung.


61

Banyak orang yang merasa bahwa penghargaan itu tidak perlu dilakukan

karena bisa melemahkan anak untuk melakukan apa yang dilakukan. Sikap

guru yang menganggap enteng terhadap hal ini menyebabkan anak

merasa kurang termotivasi untuk belajar. Oleh karena itu guru harus sadar

tentang betapa pentingnya memberikan penghargaan atau ganjaran

kepada anak khususnya jika mereka berhasil. Bentuk penghargaan harus

disesuaikan dengan perkembangan anak. Bentuk penghargaan yang efektif

adalah penerimaan sosial dengan diberi pujian. Namun dalam

penggunaannya harus dilakukan secara bijaksana dan mempunyai nilai

edukatif, sedangkan hadiah dapat diberikan sebagai penghargaan untuk

perilaku yang baik dan dapat menambah rasa harga diri anak; dan

Konsistensi berarti tingkat keseragaman atau stabilitas. Konsistensi

tidak sama dengan ketetapan dan tiada perubahan. Dengan demikian

konsistensi merupakan suatu kecenderungan menuju kesamaan. Disiplin

yang konstan akan mengakibatkan tiadanya perubahan untuk menghadapi

kebutuhan perkembangan yang berubah. Mempunyai nilai mendidik yang

besar yaitu peraturan yang konsisten bisa memacu proses belajar anak.

Dengan konsitensi anak akan terlatih dan terbiasa dengan segala yang

tetap sehingga mereka akan termotivasi untuk melakukan hal yang benar

dan menghindari hal yang salah.

[Link]. Disiplin Belajar

Disiplin belajar adalah hal yang sangat diperlukan bagi setiap siswa

dalam belajar sehingga tujuan belajar akan lebih mudah tercapai. Sanjaya
62

(2015: 9) mengemukakan bahwa disiplin belajar adalah serangkaian

perilaku seseorang yang menunjukan ketaatan dan kepatuhan terhadap

peraturan, tata tertib norma kehidupan yang berlaku karena didorong

adanya kesadaran dari dalam dirinya untuk mencapai tujuan belajar yang

diinginkan.

Dengan disiplin yang muncul karena kesadaran diri, siswa berhasil

dalam belajarnya. Sebaliknya siswa yang kerap kali melanggar ketentuan

sekolah pada umumnya akan terganggu optimalisasi potensi dan

prestasinya. Tanpa disiplin yang baik, suasana sekolah dan kelas menjadi

kurang kondisif bagi kegiatan pembelajaran. Orang tua senantiasa

berharap di sekolah anak-anak dibiasakan dengan norma-norma, nilai

kehidupan, dan disiplin. Dengan demikian anak-anaknya dapat menjadi

individu yang teratur, tertib dan disiplin.

Disiplin siswa dalam belajar atau Disiplin belajar siswa merupakan

hal yang sangat penting, karena jika disiplin tersebut telah tertanam dalam

diri anak, maka ia akan berusaha untuk belajar secara teratur, kontinue,

dan juga sesuai dengan peraturan-peraturan yang ada, sehingga akan

tercapai sebuah prestasi dalam belajar.

Menurut Tu’u, (2014: 37) bahwa beberapa alasan tentang

pentingnya disiplin dalam belajar, yaitu:

1. Dengan disiplin yang muncul kesadaran diri untuk belajar lebih baik.

Siswa yang memiliki kesadaran untuk belajar akan memperoleh

keberhasilan dalam belajarnya. Sebaliknya siswa yang kerapkali


63

melanggar ketentuan sekolah seperti sering terhambat cenderung untuk

gagal dalam belajar.

2. Tanpa disiplin yang baik, suasana sekolah dan kelas menjadi kurang

kondusif bagi kegiatan pembelajaran. Secara positif, disiplin

memberikan dukungan bagi berlansungnya proses pembelajaran.

3. Disiplin dapat membiasakan siswa untuk mengikuti atau mematuhi

norma-norma, nilai kehidupan dan berbagai peraturan, sehingga siswa

menjadi individu yang tertib, teratur dan disiplin.

4. Disiplin merupakan jalan bagi siswa untuk sukses dalam belajar dan

pada saat bekerja. Kesadaran pentingnya norma, aturan, kepatuhan

dan ketaatan merupakan prasyarat kesuksesan seseorang dalam

bekerja.

Tumbuhnya sikap disiplin bukan merupakan peristiwa mendadak

yang tiba-tiba saja terjadi pada siswa. Disiplin pada diri seseorang tidak

dapat tumbuh tanpa adanya campur tangan dari guru dan harus dilakukan

secara bertahap. Penanaman disiplin yang dimulai dari kecil pada

lingkungan keluarga seperti bangun pagi, merapikan tempat tidur dan

mandi mempunyai dampak yang sangat besar pada saat anak mulai keluar

dan berada pada situasi yang tingkat disiplinnya lebih keras dan kaku.

Disiplin terjadi dan terbentuk sebagai hasil dari dampak proses pembinaan

cukup panjang yang dilakukan sejak dari keluarga dan berlanjut dalam

pendidikan di sekolah sebagai tempat penting bagi pengembangan disiplin

seseorang.
64

Penerapan disiplin di sekolah sangat terlihat jelas dan tegas, hal ini

terlihat pada tata tertib yang diberlakukan dan disertai dengan sanksi-

sanksi pada setiap pelanggaran tata tertib. Peraturan yang ada di sekolah

berlaku untuk guru dan siswa kemudian dipatuhi secara konsisten dan

konsekuen.

Tata tertib yang dibuat dan disepakati bersama antara guru dan

siswa akan membuat siswa merasa bahwa tata tertib tersebut bukan suatu

paksaan dari pihak lain tetapi merupakan aturan yang dibuat sendiri,

sehingga siswa lebih mudah untuk menerima dan mematuhi tata tertib

tersebut. Jadi tata tertib yang dirancang dan dipatuhi dengan baik akan

memberi pengaruh bagi terciptanya sekolah sebagai lingkungan pendidikan

yang kondusif bagi kegiatan pembelajaran.

Cara Menumbuhkan disiplin siswa dalam belajar atau disiplin

belajar, adalah sebgai berikut:

1. Keteraturan dalam belajar. Keteraturan merupakan unsur pokok dalam

pelaksanaan disiplin belajar, karena dengan belajar yang teratur siswa

akan menemukan sendiri cara belajar yang baik dan tentunya akan

berpengaruh terhadap efektivitas belajar siswa. Hal ini sebagaimana

pendapat The Liang Gie, bahwa keteraturan dalam belajar merupakan

salah satu unsur disiplin yang ikut menentukan keberhasilan dalam

proses belajar mengajar.

2. Konsentrasi. Konsentrasi merupakan pemusatan pikiran terhadap

susuatu dengan mengesampingkan semua masalah yang tidak

berhubungan. Untuk itu, jika seorang siswa akan mengkonsentrasikan


65

dirinya dalam kegiatan belajar, maka ia harus berusaha memusatkan

pikirannya terhadap satu pelajaran yang sedang dihadapinya, dan ia

harus berusaha mengesampingkan semua hal yang tidak berhubungan

dengan proses belajar yang akan dihadapi.

3. Tertib dalam belajar. Tertib dalam belajar adalah apabila seorang siswa

menyusun tata tertib dalam belajar sehingga siswa dapat belajar

dengan tertib, kontinue, dan konsisten sesuai dengan tata tertib yang

telah dibuatnya.

4. Tertib dalam menggunakan perpustakaan. Tidak ada kegiatan belajar

yang dapat dilakukan tanpa membaca dan sumber bacaan adalah buku.

Dalam menggunakan buku, anak harus mencintai dan menganggap

buku sebagai sahabat. Seseorang dapat mencintai buku-buku dan

mereka senantiasa merupakan sahabat yang abadi.

5. Pengelompokkan waktu. Salah satu yang dihadapi anak adalah

penggunaan waktu dalam belajar. Banyak anak yang mengeluh

kekurangan waktu untuk belajar, tetapi sebenarnya anak kurang

memiliki keteraturan dan disiplin untuk menggunakan waktu secara

efektif dan efisien.

6. Penjatahan waktu. Untuk belajar secara teratur setiap hari harus

mempunyai rencana kegiatan. Banyak anak yang membuang waktu

untuk memikirkan mata pelajaran, karena kebingungan apa yang

sebaiknya dipelajari. Sehingga hal ini akan membuang waktu secara

sia-sia (Sujanto, 2010: 26).


66

Ada 4 faktor dominan yang mempengaruhi dan membentuk disiplin,

yaitu:

1. Kesadaran diri. Merupakan pemahaman diri bahwa disiplin dianggap

penting sebagai kebaikan dan keberhasilan diri, selain itu kesadaran diri

menjadi motif yang sangat berpengaruh bagi terwujudnya disiplin.

2. Pengikutan dan ketaatan. Sebagai langkah penerapan dan praktik atas

peraturan yang mengatur perilaku individu. Hal ini sebagai kelanjutan

dari adanya kesadaran diri yang dihasilkan oleh kemampuan dan

kemauan diri yang kuat. Tekanan dari luar dirinya sebagai upaya

mendorong, menekan dan memaksa agar disiplin diterapkan dalam diri

seseorang sehingga peraturan-peraturan dapat diikuti dan dipraktikkan.

3. Alat pendidikan. Sebagai sarana untuk mempengaruhi, mengubah,

membina dan membentuk perilaku yang sesuai dengan nilai-nilai yang

ditentukan.

4. Hukuman. Sebagai upaya untuk menyadarkan, mengoreksi dan

meluruskan yang salah sehingga orang kembali pada perilaku yang

sesuai dengan harapan (Tu`u, 2014: 48).

Dari keempat faktor disiplin di atas yang memegang peranan yang

sangat penting adalah kesadaran diri, dimana disiplin tersebut harus benar-

benar berasal dari pemahaman diri akan pentingnya disiplin yang akan

berdampak positif bagi kelancaran dalam menuju keberhasilan cita-citanya.

Kesadaran diri ini terwujud dalam kegigihan dan kerja keras untuk

menunjang peningkatan dan pengembangan prestasi yang positif.


67

Disiplin dalam belajar bagi siswa merupakan keharusan bagi siswa

yang ingin memperoleh prestasi belajar yang memuaskan. Disiplin belajar

kaitannya dengan ketertiban dalam melakukan aktivitas siswa, dimana

siswa diharapkan dapat mengerahkan energinya untuk belajar secara

kontinu, melakukan belajar dengan kesungguhan dan tidak membiarkan

waktu luang serta patuh terhadap peraturan yang ada di lingkungan belajar.

Selain empat faktor disiplin yang dominan, masih ada beberapa

faktor lain yang berpengaruh pada pembentukan disiplin individu, yaitu:

1. Teladan.

Perbuatan dan tindakan kerapkali lebih besar pengaruhnya

dibandingkan dengan kata-kata. Dalam hal ini siswa lebih mudah

meniru apa yang mereka lihat (dianggap baik dan patut ditiru) daripada

dengan apa yang mereka dengar. Lagi pula, hidup manusia banyak

dipengaruhi peniruan-peniruan terhadap apa yang dianggap baik dan

patut ditiru.

2. Lingkungan berdisiplin.

Lingkungan sangat besar pengaruhnya. Apabila berada di lingkungan

yang berdisiplin, seseorang dapat terbawa oleh lingkungan tersebut.

Hal ini menunjukkan bahwa manusia mampu beradaptasi dengan

lingkungannya sehingga dapat mempertahankan hidupnya.

3. Latihan berdisiplin.

Disiplin dapat dicapai dan dibentuk melalui proses latihan dan

kebiasaan, artinya dengan melakukan disiplin secara berulang-ulang

dan membiasakannya dalam praktik disiplin sehari-hari yang menjadi


68

suatu kebiasaan yang tidak dapat ditinggalkan. Dengan latihan dan

membiasakan diri, disiplin tidak akan menjadi suatu beban yang dirasa

sangat memberatkan bagi siswa terutama dalam melaksanakan segala

kegiatan yang berhubungan dengan belajar (Tu`u, 2014: 49).

Disiplin individu di atas merupakan disiplin yang berasal dari dalam

diri siswa dimana semua siswa diberi kesempatan untuk melakukan apa

saja yang dikehendaki dengan melihat keadaan disekelilingnya dan pada

akhirnya siswa dapat menentukan suatu perilaku yang berarti bagi dirinya

dalam hal pencapaian prestasi yang lebih baik. Disiplin yang baik adalah

disiplin yang timbul karena adanya kesadaran dari dalam diri sendiri, bukan

karena terpaksa, sehingga diperlukan adanya usaha untuk menumbuhkan

sikap disiplin tersebut.

Menurut Sulistiyowati (2011: 3) ada cara yang dapat digunakan siswa

agar dapat belajar dengan baik, yaitu seorang siswa harus mempunyai

sikap disiplin dalam belajar. Adapun disiplin yang diharapkan adalah

sebagai berikut:

1. Disiplin dalam menepati jadwal pelajaran.

Apabila seorang siswa mempunyai jadwal kegiatan belajar, maka ia

harus menepati jadwal yang telah dibuatnya.

2. Disiplin dalam mengatasi godaan yang akan menunda waktu belajar baik

di rumah maupun di sekolah.

Godaan yang datang pada seorang siswa pada saat waktu belajar

sangat banyak. Hal tersebut membutuhkan kemauan dan kemampuan

siswa untuk dapat mengatasi segala macam godaan yang datang


69

tersebut baik pada saat waktu belajar di sekolah maupun pada waktu

belajar di rumah. Godaan yang datang pada waktu belajar misalnya

adalah ajakan untuk bermain dari teman, menonton acara televisi, dan

sebagainya.

3. Disiplin terhadap diri sendiri

Disiplin diri harus selalu dimunculkan pada diri siswa, karena dengan

disiplin diri akan menumbuhkan kemauan dan semangat belajar siswa

baik di sekolah maupun di rumah. Yang harus selalu ditanamkan oleh

setiap individu siswa, karena meskipun mempunyai rencana belajar

yang baik akan tetap menjadi rencana kalau tidak ada disiplin diri.

4. Menjaga kondisi fisik agar selalu sehat dan fit

Disiplin dalam menjaga kondisi fisik sangat penting bagi siswa, karena

dengan kondisi fisik yang baik tentu akan dapat mendukung aktivitas

sehari-hari dari siswa yang bersangkutan. Salah satu cara untuk

menjaga kondisi fisik agar tetap terjaga dengan baik adalah makan

secara teratur dan mengkonsumsi makanan yang bergizi serta berolah

raga secara teratur.

Disiplin dalam belajar harus dimiliki oleh setiap siswa, sehingga

dapat menjadi suatu kebiasaan yang selalu melekat pada diri setiap siswa.

Dengan demikian akan terbentuk suatu etos belajar yang baik. Belajar yang

dilakukan oleh siswa tidak lagi dirasakan sebagai beban, akan tetapi sudah

dianggap sebagai suatu kebutuhan dalam hidupnya.

Disiplin belajar pada siswa memberi kontribusi positif terhadap

pencapaian hasil belajarnya. Seorang siswa yang memiliki disiplin belajar


70

yang tinggi akan dapat belajar dengan baik yang ditunjukkan oleh sikapnya

dalam belajar yang sungguh-sungguh dan sadar akan tugas dan

tanggungjawabnya sebagai pelajar, terarah dan teratur sehingga sangat

dimungkinkan dapat mencapai hasil belajar yang terbaik. Disiplin belajar

sebagai faktor internal siswa (faktor psikologis) dapat mempengaruhi hasil

belajar siswa. Hal ini sesuai dengan apa yang dikemukakan oleh Sardiman

(2006: 154) bahwa disiplin belajar harus ditanamkan dan dimiliki oleh tiap-

tiap individu, karena sekalipun mempunyai rencana belajar yang baik, akan

tetap tinggal rencana kalau tidak ada disiplin.

Dengan demikian peran disiplin belajar pada siswa sangat besar

pengaruhnya terhadap hasil belajarnya. Hal ini dikarenakan dengan

adanya disiplin belajar, seorang siswa akan mampu mengkondisikan

dirinya untuk belajar sesuai dengan tugasnya sebagai seorang pelajar.

Dengan disiplin, maka rasa malas, rasa enggan dapat di atasi, hal ini dapat

meningkatkan kualitas belajarnya, sehingga memungkinkan siswa

memperoleh hasil belajar yang baik.

Ciri-ciri dari disiplin belajar siswa menurut Sardiman (2016: 155)

adalah sebagai berikut: (1) Kesadaran dalam mentaati peraturan dan tata

tertib sekolah, (2) Menyelesaikan tugas tepat waktu, (3) Tepat waktu dalam

belajar, (4) Keteraturan dalam belajar, dan (5) Belajar dengan sungguh-

sungguh. Untuk memperjelas kelima indikator di atas, maka masing masing

indikator tersebut dapat diuraikan sebagai berikut:

1. Kesadaran dalam mentaati peraturan dan tata tertib sekolah


71

Peraturan dan tata-tertib merupakan sesuatu yang digunakan untuk

mengatur perilaku yang diharapkan terjadi pada diri siswa. Peraturan

menunjuk pada patokan atau standar yang sifatnya umum yang harus

dipenuhi siswa seperti misalnya peraturan tentang kehadiran siswa,

peraturan tentang jam istirahat, peraturan tentang kondisi yang harus

dipenuhi siswa di dalam kelas pada waktu pelajaran sedang berlangsung

seperti: mendengarkan dengan baik pelajaran yang disampaikan guru,

tidak bicara tanpa seizin guru, tidak makan atau minum pada saat KBM,

tidak meninggalkan kelas tanpa seizin guru dan sebagainya. Tata-tertib

menunjuk pada patokan atau standar untuk aktifitas khusus misalnya:

penggunaan pakaian seragam, penggunaan laboratorium, mengikuti

upacara bendera, pembayaran SPP dan sebagainya (Arikunto, 2010: 122 -

123).

Faktor-faktor pembentukan disiplin belajar menurut Joko (2018: 25)

yang pertama adalah kesadaran diri sebagai pemahaman diri bahwa

disiplin belajar dianggap penting bagi kebaikan dan keberhasilan dirinya.

Selain itu kesadaran diri menjadi motif yang sangat kuat terwujudnya

disiplin belajar. Kedua, pengikutan dan ketaatan sebagai langkah

penerapan dan praktik atas peraturan-peraturan yang mengatur perilaku

individu. Ketiga, alat pendidikan untuk mempengaruhi, mengubah, dan

membentuk perilaku yang sesuai dengan nilai-nilai yang ditentukan atau

diajarkan. Keempat, hukuman sebagai upaya menyadarkan, mengoreksi

dan meluruskan yang salah sehingga orang kembali pada perilaku yang

sesuai dengan harapan. Kelima, teladan yang berupa perbuatan dan


72

tindakan kerap kali lebih besar pengaruhnya dibandingkan dengan kata-

kata. Keenam, disiplin belajar seseorang dapat juga dipengaruhi oleh

seseorang. Faktor-faktor pembentukan disiplin belajar jujur yang terakhir

adalah disiplin belajar dapat dicapai dan dibentuk melalui proses latihan

dan kebiasaan

Faktor penting untuk dapat memberlakukan peraturan dan tata-tertib

sekolah adalah disiplin. Sementara itu untuk dapat berdisiplin seorang

siswa membutuhkan adanya kesadaran dari dalam dirinya untuk mematuhi

segala peraturan dan tata-tertib sekolah.

Disiplin siswa dalam menjalankan peraturan dan tata-tertib sekolah

sangat mendukung proses belajar siswa. Dengan menjalankan peraturan

dan tata-tertib sekolah, seorang siswa tidak akan mendapat masalah di

sekolah dan belajarnyapun akan berjalan dengan lancar. Lain halnya jika ia

melakukan pelanggaran atas peraturan atau tata-tertib sekolah ia akan

berurusan dengan Bapak/Ibu guru untuk menerima sanksi atas

pelanggaran yang dilakukannya yang tentunya akan menyita waktu

belajarnya.

Sebagai ilustrasi dari pelanggaran atas peraturan dan tata tertib

sekolah adalah ketika siswa datang ke sekolah terlambat, ia akan

mengalami kerugian berupa ketinggalan dalam menerima materi pelajaran

dan juga akan menerima sanksi dari guru sebagai hukuman atas

pelanggaran yang dilakukannya yang tentunya akan berdampak kurang

baik terhadap belajarnya. Demikian halnya dengan masalah membolos,

ketika siswa membolos maka ia akan mengalami kerugian yang lebih besar
73

daripada terlambat masuk sekolah karena ia sama sekali tidak dapat

menerima materi atau pelajaran yang disampaikan oleh Bapak/Ibu guru di

sekolah dan juga akan menerima sanksi atas pelanggaran yang

dilakukannya.

Untuk mematuhi seluruh peraturan dan tata-tertib sekolah

sebenarnya bukanlah sesuatu yang sulit, karena peraturan dan tata-tertib

sekolah dibuat untuk dapat dilaksanakan oleh siswa. Tidak mungkin

peraturan dan tata-tertib sekolah dibuat untuk tidak dapat dilaksanakan

oleh siswa. Untuk dapat melaksanakan peraturan dan tata-tertib sekolah

yang penting adalah niat dan kesadaran untuk selalu taat dan patuh

terhadap seluruh peraturan dan tata-tertib yang ada, karena hal tersebut

pasti akan berdampak positif terhadap kemajuan belajarnya.

2. Menyelesaikan tugas tepat waktu

Menyelesaikan tugas merupakan salah satu rangkaian kegiatan

dalam belajar, yang dilakukan baik di dalam maupun di luar jam sekolah.

Tujuan dari pemberian tugas menurut Ahmadi (2017: 61) biasanya untuk

memantapkan pengetahuan yang telah diterima, mengaktifkan anak dalam

belajar, membiasakan anak giat belajar dan memupuk rasa tanggung

jawab. Dengan adanya tugas yang diberikan oleh guru pada siswa,

seorang siswa diharapkan akan dapat lebih paham terhadap mata

pelajaran yang disampaikan di sekolah. Agar siswa berhasil dalam belajar,

maka ia harus dapat mengerjakan setiap tugas yang diberikan dengan

sebaik-baiknya, baik dalam proses pengerjaannya maupun

pengumpulannya, karena seringkali tugas yang dikumpulkan melebihi


74

batas akhir pengumpulan tugas akan dapat mengurangi nilai yang

diberikan. Dalam mengerjakan tugas dari guru (PR) hendaknya tidak

ditunda-tunda karena dengan menunda-nunda pekerjaan seringkali

membuat kita menjadi malas untuk mengerjakannya.

3. Tepat waktu dalam belajar

Menurut Slameto (2013: 77) Pada permulaan belajar sering

dirasakan kelambatan, keengganan bekerja dan kalau perasaan itu kuat,

belajar sering diundurkan, malahan tak dikerjakan. Kelambatan itu dapat di

atasi dengan suatu perintah kepada diri sendiri untuk memulai pekerjaan itu

tepat pada waktunya. Belajar merupakan tugas dan kewajiban bagi

seorang pelajar. Sebagai seorang pelajar, siswa hendaknya dapat

menggunakan waktu yang dimilikinya dengan seefisien dan seefektif

mungkin, karena waktu yang telah berlalu akan hilang dan tidak pernah

akan kembali lagi. Oleh karena itu siswa hendaknya sadar dan dapat

memanfaatkan waktu yang ada untuk belajar digunakan hanya untuk

belajar. Untuk memudahkan siswa dalam belajar, hendaknya ia membuat

jadual belajar untuk membatasi kegiatan lain yang tidak berguna yang

dapat mengganggu aktivitas belajarnya. Orang tua disini mempunyai peran

yang penting dalam menegakkan disiplin anak dalam belajar terutama

mengenai waktu belajar siswa di rumah. Orang tua dapat melakukan

pengawasan terhadap aktivitas belajar anak ketika belajar di rumah.

Apabila anak tidak belajar, orang tua harus dapat mengetahui dan

mengingatkannya untuk belajar.

4. Keteraturan dalam belajar


75

Sulistiyowati (2011: 40) mengatakan biasakan belajar dan jangan

kamu mencoba untuk meninggalkan belajar, karena ilmu itu bergantung

pada orangnya bisa jadi tetap dan bisa jadi semakin bertambah lantaran

selalu dipelajari terus menerus. Keteraturan dalam belajar merupakan

usaha untuk menghasilkan atau memperoleh hasil belajar yang optimal.

Dengan belajar secara teratur setiap hari kita dapat terus menerus

menyerap materi pelajaran yang sedang kita pelajari, sehingga

pengetahuan yang kita dapatkan senantiasa terus bertambah. Dengan

belajar secara teratur setiap hari baik mengulang pelajaran yang telah

diberikan maupun menyiapkan materi untuk keesokan harinya akan

membuat penguasaan materi siswa menjadi lebih baik, karena dengan

selalu mengulang pelajaran yang telah diterimanya akan membuat

pemahaman siswa menjadi lebih baik. Demikian juga dengan selalu belajar

menyiapkan materi yang akan disampaikan keesokan harinya dapat

membantu belajar siswa, karena siswa menjadi lebih siap dalam menerima

materi dan akan membuat penerimaannya menjadi lebih baik.

Jadi keteraturan dalam belajar sangat penting bagi siswa, karena

dengan belajar secara teratur memungkinkan siswa dapat meningkatkan

penguasaan materi pelajaran yang sedang dipelajarinya, sehingga siswa

dapat meraih prestasi belajar yang optimal.

5. Belajar dengan sungguh-sungguh

Untuk meraih prestasi belajar yang optimal, seorang siswa

hendaknya belajar dengan sungguh-sungguh. Menurut Slameto (2013:78)

bahwa biasanya orang yang ingin belajar atau bekerja sungguh-sungguh


76

harus bertekad, jangan meninggalkan tempat duduknya selama 40 menit,

apapun yang terjadi.

Seorang siswa dalam belajar harus dapat mengendalikan diri untuk

tetap belajar ketika waktunya belajar dan tidak menggunakannya untuk

aktivitas yang lain. Ketika belajar di rumah seorang siswa banyak menemui

godaan yang dapat mengganggu belajarnya dan bahkan dapat

membuatnya tidak belajar seperti bermain, melihat acara televisi dan

sebagainya. Disamping hal tersebut seringkali siswa dihadapkan pada

kesulitan-kesulitan dalam menyerap dan memahami materi pelajaran yang

dipelajarinya dan bila hal tersebut tidak terpecahkan dapat membuatnya

kesal dan putus asa. Untuk itu maka siswa hendaknya menanamkan tekad

pada dirinya untuk bersungguh-sungguh dalam belajar, niscaya kesulitan-

kesulitan yang ada dapat dipecahkan sedikit demi sedikit meskipun materi

yang dipelajari cukup sulit.

Hurlock (2009: 93) membagi tiga cara menanamkan disiplin belajar

pada anak yaitu: 1) teknik disiplin otoriter, 2) teknik disiplin permisif dan 3)

teknik disiplin demokratis. Penerapan disiplin yang paling efektif bagi

remaja adalah disiplin demokratis karena remaja telah mampu berfikir

analitis, mereka tahu perbuatan yang baik dan yang buruk serta mampu

mengungkapkan pendapatnya. Oleh karena itu, dalam penelitian ini, untuk

meningkatkan disiplin siswa, khususnya disiplin belajar, yaitu dengan teknik

demokratis. Teknik ini dilakukan dengan memberikan penjelsan–penjelsan,

pengertian yang dilakukan melalui pemberian layanan pembelajan. Melalui

pemberian layanan ini siswa akan lebih mampu mengarahkan diri,


77

mengedalikan diri, serta memiliki kesadaran diri dalam hal belajar. Dengan

teknik demokratis siswa mampu melakukan hal yang benar tanpa ada yang

mengawasi.

Disiplin belajar berkaitan erat dengan kepatuhan siswa terhadap

peraturan yang berlaku di sekolah tempatnya belajar. Siswa harus memiliki

kesadaran untuk mematuhi peraturan dalam kegiatan belajar, tanpa

adanya paksaan dari pihak lain. Adapun kepatuhan terhadap peraturan

secara sadar merupakan modal utama untuk menghasilkan suatu sikap

yang positif dan produktif, positif artinya sadar akan tujuan yang akan

dicapai sedangkan produktif adalah selalu melakukan kegiatan yang

bermanfaat. Siswa yang terbiasa belajar teratur baik di rumah maupun di

sekolah maka otaknya akan terlatih setiap hari. Seringnya daya pikir

mendapat latihan maka akan menyebabkan ketajaman daya pikir sehingga

siswa mudah menerima pelajaran.

Disiplin belajar pada siswa mencakup disiplin belajar di rumah dan

di sekolah. Siswa yang disiplin dalam belajar baik di rumah maupun di

sekolah akan berperilaku sesuai dengan peraturan yang ada dan akan

menunjukkan ketaatan dan keteraturan dalam kegiatan belajarnya.

1) Disiplin belajar di sekolah

Setiap sekolah memiliki peraturan dan tata tertib yang harus

dilaksanakan dan dipatuhi oleh semua siswa. Peraturan yang dibuat di

sekolah merupakan kebijakan sekolah yang tertulis dan berlaku sebagai

satkitar untuk tingkah laku siswa sehingga siswa mengetahui batasan–

batasan dalam bertingkah laku. Dalam disiplin terkandung pula ketaatan


78

dan mematuhi segala peraturan dan tanggung jawab misalnya disiplin

belajar. Dalam hal ini sikap patuh siswa ditunjukkan pada peraturan yang

telah ditetapkan. Siswa yang disiplin belajar akan menunjukkan ketaatan

dan keteraturan terhadap kegiatan belajarnya serta taat terhadap peraturan

yang ada di sekolah.

Menurut Yamin (2011: 17) disiplin belajar mencakup setiap macam

pengaruh yang ditunjukkan untuk membantu peserta didik agar dia dapat

memahami dan menyesuaikan diri dengan tuntutan lingkungannya dan

juga penting tentang cara menyelesaikan tuntutan yang mungkin ingin

ditunjukkan peserta didik terhadap lingkungannya. Lebih lanjut Yamin

(2011: 18) menyatakan disiplin belajar timbul dari kebutuhan untuk

mengadakan keseimbangan antara apa yang ingin dilakukan oleh individu

dan apa yang diinginkan individu dari orang lain sampai batas-batas

tertentu dan memenuhi tuntutan orang lain dari dirinya sesuai dengan

kemampuan yang dimilikinya.

Disiplin belajar merupakan bentuk pelatihan yang menghasilkan suatu

karakter atau perilaku khusus yang menghasilkan perkembangan moral,

fisik dan mental untuk tujuan tertentu. Menurut Saintifika (2011: 62) disiplin

belajar adalah predisposisi (kecenderungan) suatu sikap mental untuk

mematuhi aturan, tata tertib, dan sekaligus mengendalikan diri,

menyesuaikan diri terhadap aturan-aturan yang berasal dari luar sekalipun

yang mengekang dan menunjukkan kesadaran akan tanggung jawab

terhadap tugas dan kewajiban.


79

Menurut Cicik (2010: 32) disiplin belajar adalah kepatuhan siswa

dalam mengikuti proses belajar mengajar, ketaatan siswa dalam menaati

jam belajar dengan serangkaian kegiatan misalnya mencatat,

memperhatikan, membaca, membawa buku dan peralatan sekolah, agar

senantiasa dapat mengalami perubahan perilakunya sebagai hasil

pergaulannya setelah berinteraksi dengan lingkungannya.

Berdasarkan pengertian disiplin belajar dari beberapa ahli di atas

maka dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud disiplin belajar adalah

kepatuhan siswa dalam mengikuti proses pembelajaran, ketaatan siswa

pada tata tertib dan ketaatan siswa dalam menaati jam belajar yang

menunjukkan kesadaran akan tanggungjawab terhadap tugas dan

kewajiban.

Menurut Arikunto (2009: 57) dalam penelitian mengenai disiplin

membagi tiga macam indikator disiplin, yaitu: 1) perilaku disiplin di dalam

kelas, 2) perilaku disiplin di luar kelas di lingkungan sekolah, dan 3)

perilaku kedsiplinan di rumah. Tu’u (2014) dalam penelitian mengenai

disiplin sekolah (belajar) mengemukakan bahwa indikator yang

menunjukkan pergeseran/perubahan hasil belajar siswa sebagai kontribusi

mengikuti dan menaati peraturan sekolah adalah meliputi: dapat mengatur

waktu belajar di rumah, rajin dan teratur belajar, perhatian yang baik saat

belajar di kelas, dan ketertiban diri saat belajar di kelas. Sedangkan

menurut Krisyanto (2010: 19) agar seorang siswa dapat belajar dengan

baik ia harus bersikap disiplin, terutama disiplin dalam hal-hal sebagai

berikut: disiplin dalam menepati jadwal belajar, disiplin dalam mengatasi


80

semua godaan yang akan menunda-nunda waktu belajar, disiplin terhadap

diri sendiri untuk dapat menumbuhkan kemauan dan semangat belajar baik

di sekolah seperti menaati tata tertib, maupun disiplin di rumah seperti

teratur dalam belajar, disiplin dalam menjaga kondisi fisik agar selalu sehat

dan fit dengan cara makan yang teratur dan bergizi serta berolahraga

secara teratur.

Dengan memperhatikan pendapat para ahli di atas maka dapat

disimpulkan bahwa pengertian disiplin belajar adalah kepatuhan siswa

dalam mengikuti proses pembelajaran di kelas, ketaatan siswa pada tata

tertib sekolah/kelas dan ketaatan siswa dalam menaati jam belajar di

rumah, dengan serangkaian kegiatan mencatat, memperhatikan,

membaca, membawa buku dan peralatan sekolah, agar senantiasa dapat

mengalami perubahan perilaku sebagai hasil pengalamannya setelah

berinteraksi dengan lingkungan. Salah satu prinsip yang harus dipenuhi

dalam kegiatan belajar adalah disiplin belajar, baik disiplin yang

berlangsung di rumah, di dalam kelas maupun di luar kelas.

Mengacu pada berbagai pendapat di atas, maka disiplin belajar

siswa dalam penelitian ini mencakup:

1) Perilaku disiplin belajar di dalam kelas, dengan indikator (1)

memperhatikan guru pada saat menjelaskan pelajaran (mencatat,

memperhatikan, membaca buku pelajaran), (2) mengerjakan tugas yang

diberikan guru (3) membawa peralatan belajar (buku tulis, alat tulis,

buku paket), (4) absensi (kehadiran di sekolah/kelas).


81

2) Perilaku disiplin belajar di luar kelas di lingkungan sekolah dengan

indikator : memanfaatkan waktu luang/istirahat untuk belajar (membaca

buku di perpustakaan, berdiskusi/bertanya dengan teman tentang

pelajaran yang kurang dipahami).

3) Perilaku disiplin belajar di rumah, dengan indikator sebagai berikut: (1)

memiliki jadwal belajar, (2) mengerjakan pekerjaan rumah (PR) yang

diberikan guru.

Dalam melaksanakan kegaiatan belajar siswa diwajibkan untuk

melaksanakan hal-hal sebagai berikut: (1) Mendapatkan pelayanan

pendidikan sesuai dengan bakat, minat dan kemampuannya; (2)

Mendapatkan beasiswa bagi yang berprestasi yang orang tuanya tidak

mampu membiayai pendidikannya; (3) Menyediakan semua peralatan

belajar yang diperlukan; (4) Menyelesaikan program pendidikan sesuai

dengan kecepatan belajar masing–masing dan tidak menyimpang dari

ketentuan batas waktu yang ditetapkan; (5) Menjaga norma–norma

pendidikan untuk menjamin keberlangsungan proses dan keberhasilan

pendidikan (Depdiknas, 2013: 10).

2) Disiplin Belajar di Rumah

Di lingkungan keluarga siswa juga harus mulai diterapkan disiplin

sedini mungkin karena keluarga merupakan lingkungan sosial paling kecil

dan lingkungan pertama bagi individu yang memegang peranan penting

dalam pembentukan disiplin. Kondisi keluarga yang buruk dan cara

penanaman disiplin belajar yang salah dan pengaruh lingkungan yang

buruk akan menghasilkan individu yang tidak disiplin. Oleh karena itu orang
82

tua mempunyai tanggung jawab yang besar dalam meletakkan dan

mengembangkan disiplin individu. Namun demikian, pihak sekolah dan

masyarakat juga bertanggung jawab dalam mengembangkan dan

membentuk disiplin pada individu.

Peraturan, hukuman, konsisten, dan penghargaan perlu ditegakkan

oleh orang tua untuk membentuk disiplin pada individu. Individu yang

memiliki disiplin diri akan mempunyai disiplin pula dalam belajarnya, baik di

rumah maupun di sekolah. Apabila di rumah individu yang disiplin dalam

belajar akan taat pula pada peraturan yang ditegakkan di rumah.

Berdasarkan uraian di atas, maka cara menamkan disiplin yang

paling tepat digunakan oleh orang tua dan guru adalah disiplin demokratis.

Pada disiplin ini didasari falsafah bahwa disiplin bertujuan mengembangkan

kendali atas perilaku sendiri sehingga dapat melakukan apa yang benar,

meskipun tidak ada penjaga yang mengancam dengan hukuman bila

melakukan sesuatu yang tidak dibenarkan. Pengendalian internal atas

perilaku ini adalah hasil usaha anak untuk berperilaku menurut cara yang

benar dengan member penghargaan.

Kepatuhan akan tata tertib sangat penting dalam kehidupan

bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Sikap disiplin akan membentuk

pola hidup yang teratur, tertib, harmonis dan seimbang. Sebaliknya tanpa

sikap disiplin maka setiap orang akan bertindak semaunya tanpa

memperhatikan kepentingan orang lain tidak ada keinginan untuk belajar

dan malas, yang akhirnya akan menimbulkan kekacauan dan ketidak

teraturan. Sikap disiplin akan dapat tumbuh dan berkembang dengan baik
83

apabila berdasarkan atas kesadaran diri sendiri. Disiplin yang tidak

bersumber dari hati nurani akan menghasilkan disiplin yang lemah dan

tidak akan bertahan lama. Disiplin yang tumbuh atas kesadaran diri, yang

demikian itu yang diharapkan tertanam dalam diri seseorang.

Menurut Gordon (2016: 9) tujuan membentuk sikap disiplin pada anak

sangatlah penting dalam rangka: (a) Membantu anak untuk menjadi

matang pribadinya dan mengembangkan dari sifat-sifat ketergantungan

sehingga ia mampu berdiri sendiri atas tanggung jawab sendiri; (b)

Membantu anak untuk mengatasi, mencegah timbulnya masalah-masalah

disiplin dan berusaha untuk menciptakan situasi yang tertib bagi kegiatan

pembelajaran dimana mereka mentaati segala peraturan yang telah di

tetepkan. Diharapkan sikap disiplin dapat merupakan bantuan kepada

siswa agar mereka mampu berdiri sendiri.

Menurut Gunarsa (2012: 64) mengemukakan bahwa fungsi disiplin

adalah untuk mengajar mengendalikan diri dengan mudah menghormati

dan mentaati otoritas. Otoritas akan menyebabkan siswa belajar menekan

kesenangan-kesenangan dan mendahulukan kewajiban belajar serta

usaha-usaha untuk masa depan. Disiplin perlu dalam mendidik siswa

supaya siswa mudah: (a) Melaksanakan pengetahuan dan pengertian

sosial antara lain mengenal baik milik orang lain; (b) Mengerti dan segera

menurut untuk menjalankan kewajiban dan secara langsung mengerti

larangannya; (c) Mengerti tingkah laku baik dan buruk; (d) Belajar

mengendalikan kegiatan dan berbuat tanpa merasa terancam oleh


84

hukuman; (e) Mengorbankan kesenangan diri tanpa peringatan dari orang

lain; dan (f) Mencapai prestasi belajar yang baik.

Hurlock (2009: 79) menyatakan bahwa ada beberapa fungsi dari

disiplin yaitu: (a) Mendidik seseorang (siswa) bahwa perilaku individu harus

diatur sesuai dengan tata tertib norma yang berlaku; (b) Mengarahkan

seseorang agar mampu beradaptasi dengan lingkungan; dan (c) Sebagai

pedoman dalam mengontrol dirinya sehingga ia mengetahui apakah

perbuatanya sesuai norma yang berlaku atau tidak. Selanjutnya Hurlock

(2009: 82) menjelaskan bahwa indikator disiplin belajar adalah sebagai

berikut: (1) Disiplin belajar disekolah memiliki indikator sebagai berikut: (a)

Patuh dan taat terhadap taat tertib belajar di sekolah, (b) Persiapan belajar,

(c) Perhatian terhadap kegiatan pembelajaran, (d) Menyelesaikan tugas

pada waktunya, dan (2) indikator disiplin belajar di rumah adalah sebagai

berikut: (a) Mempunyai rencana atau jadwal belajar, (b) Belajar dalam

tempat dan suasana yang mendukung, (c) Ketaatan dan keteraturan dalam

belajar, dan (d) Perhatian terhadap materi pelajaran

Bagi anak yang berdisiplin dan sudah menyatu dalam dirinya, sikap

dan perbuatan disiplin yang dilakukan bukan lagi dirasakan sebagai suatu

beban, sebaliknya akan merupakan beban bila anak tersebut tidak

melakukan disiplin, karena disiplin telah menyatu menjadi bagian dari

perilaku dalam kehidupan sehari–hari. Untuk mendorong anak agar disiplin

dalam melaksanakan kegiatan belajar, memerlukan beberapa cara antara

lain:
85

Pengawasan langsung dan tidak langsung; Pengawasan

langsung dan tidak langsung. Pengawasan langsung misalnya, melalui

pemantauan kegiatan belajar di dalam kelas, pemantauan yang

dilakukan di rumah oleh orang tua, pemeriksaan fisik dan kesehatan,

serta kegiatan organisasi di sekolah. Pengawasan tidak langsung

misalnya, dengan memberikan tugas–tugas di rumah dan melalui

evaluasi belajarnya atau ualangan harian.

Pembinaan dapat dilaksanakan dengan jalan memberikan

bimbingan di dalam kelas, memberikan contoh teladan yang berupa sikap

dan perbuatan yang baik dari pendidik, orang tau maupun lingkungan anak

tersebut. Pemberian pembinaan pengembangan bakat atau potensi yang

ada dalam diri anak dan juga memberikan penghargaan apabila anak

tersebut menunjukkan prestasinya atau memberikan hukuman apabila

anak melanggar ketentuan atau tata tertib.

Peningkatkan disiplin belajar siswa dapat dilakukan melalui

pembinaan yaitu dengan memberikan layanan pembelajaran dalam bidang

bimbingan pribadi. Melalui layanan pembelajaran diharapkan disiplin

belajar siswa dapat meningkat dan lebih baik.

Indikator disiplin belajar menurut Perquin dan Gufron (2015: 48)

adalah tingkah laku atau perbuatan kearah tertib yaitu:

a. Disiplin dalam hubungannya dengan waktu belajar. Didalam

mengikuti kegiatan belajar mengajar di sekolah sebaiknya siswa harus

bisa tepat waktu, artinya mereka harus datang ke sekolah dan masuk

ruang kelas tepat pada waktunya atau sesuai jadwal yang sudah di
86

tetapkan. Siswa yang datang tepat waktu ke sekolah akan lebih siap

menerima pelajaran yang akan disampaikan oleh guru. Kesiapan dalam

menerima pelajaran tersebut akan membuat siswa mudah untuk

menerima materi yang diajarkan. Tentunya tidak hanya siswa saja yang

harus datang tepat waktu, namun guru juga harus bisa menyesuaikan.

Selain tepat waktu dalam mengikuti pelajaran di sekolah siswa

hendaknya membuat jadwal waktu belajar di rumah. Ketika di rumah

aktivitas siswa tidak hanya belajar misalnya membantu orang tua.

Sehingga siswa harus pintar mengatur waktu, maka jadwal ini

membantu mengatur waktu belajar siswa.

b. Disiplin yang ada hubunganya dengan tempat belajar. Ketika siswa

belajar di sekolah tentunya mereka membutuhkan tempat yang aman

dan nyaman, agar mereka dapat mengikuti proses belajar mengajar

dengan baik. Hal tersebut sudah kewajiban pihak sekolah untuk

menyediakan sarana tersebut. Rasa aman dan nyaman dapat tercipta

bukan hanya karena bangunan yang bagus saja tetapi juga bagaimana

cara siswa merawat ruang kelas mereka. Selain ruang kelas lingkungan

sekitar sekolah juga sangat mempengaruhi dalam kelancaran proses

belajar mengajar, sedangkan belajar di rumah juga perlu tempat yang

aman dan nyaman, untuk itu orang tua harus menyediakan sarana dan

prasarana yang memadai misal ruang belajar yang lengkap dengan

meja, kursi, dan penerangan yang cukup.

c. Disiplin yang ada hubungannya dengan norma atau aturan dalam

belajar. Setiap sekolah pasti memiliki tata tertib atau peraturan yang
87

harus ditaati oleh semua siswa dengan kesadaran hati, artinya sejak

pertama kali siswa masuk di lembaga pendidikan tersebut berarti siswa

telah siap dengan segala aktivitas yang ada di lembaga tersebut.

Aktivitas tersebut termasuk mentaati tata tertib atau peraturan yang

ada. Saat siswa berada di lingkungan keluarga atau masyarakat

tentunya peraturan yang ditetapkan telah berbeda dan menjadi

keharusan bagi siswa untuk dapat menyesuaikan. Pada intinya

dimanapun lingkungan siswa itu berada harus bisa menyesuaikan diri

untuk mematuhi norma atau peraturan yang berlaku.

Dari uraian di atas maka dapat diketahui anak yang disiplin belajar

akan tampak dalam perilaku sebagai berikut: (a) Datang ke sekolah tepat

waktu dan mengikuti proses belajar mengajar sesuai jadwal yang ada; (2)

Belajar pada tempat yang telah disediakan agar tidak terganggu dan

mengganggu orang lain; (3) Selalu mentaati peraturan yang telah

ditetapkan di lingkungan sekolah.

Disiplin belajar dalam penelitian ini dirinci menjadi dua sub-variabel

yaitu disiplin belajar di sekolah dan disiplin belajar di rumah. Dari masing –

masing sub-variabel dibuat indicator yang selanjutnya dari indicator

tersebut dikembangkan menjadi pernyataan – pernyataan.

Berdasarkan pengertian di atas, maka disiplin belajar dalam

penelitian ini adalah sikap siswa yang terbentuk melalui proses dari

serangkaian perilaku yang menunjukkan nilai–nilai ketaatan, dan

keteraturan berdasarkan acuan nilai moral individu untuk memperoleh

perubahan tingkah laku yang mencakup perubahan pola pikir, sikap, dan
88

tindakan yang sesuai dengan Standar norma. Disiplin belajar dalam

penelitian ini diukur melalui indikator: (1) kesadaran dalalm menaati aturan

dan tata tertib sekolah, (2) menyelesaikan tugas tepat waktu, (3) datang

belajar tepat waktu, (4) teratur dalam belajar, dan (5) belajar dengan

sungguh-sungguh.

2.2. Penelitian Relevan

Sardini (2013) yang berjudul pengaruh minat belajar terhadap hasil

belajar pelajaran ekonomi siswa kelas XI ekonomi MAN Pontianak yang

menemukan adanya pengaruh yang positif dan signifikan antara minat

belajar dengan hasil belajar pelajaran ekonomi.

Muspa, (2010) yang berjudul hubungan minat belajar dengan hasil

belajar siswa pada mata pelajaran ekonomi di SMP Negeri 1 Kecamatan

Napabalano, menemukan hubungan positif ekonomi yang signifikan antara

minat belajar terhadap hasil belajar mata pelajaran di SMP Negeri 1

Kecamatan Napabalano. Temuan ini menunjukkan bahwa semakin tinggi

tingkat minat belajar guru maka semakin tinggi pula kinerjanya, dan

sebaliknya semakin rendah minat belajar maka semakir rendah pula hasil

belajar SMP Negeri 1 Kecamatan Napabalano. Besarnya kontribusi hasil

belajar terhadap minat belajar adalah 65,90% dan sisanya 43,10%

ditentukan oleh faktor lain.

Rivin dan Purwanto, (2015), yang berjudul Hubungan antara Minat

Belajar Siswa Dengan Prestasi Belajar Mata Pelajaran Mengelola

Sistem Kearsipan Kelas XI Program Keahlian Administrasi Perkantoran


89

SMK YPE Sawunggalih Kutoarjo menemukan adanya hubungan yang

positif dan signifikan antara minat belajar siswa dengan prestasi belajar

dengan harga rx1y sebesar 0,304.

Hanudin (2017) dalam penelitiannya yang berjudul Hubungan

Perhatian Orang Tua Dan Minat Belajar dengan Hasil Belajar IPS pada

Siswa Kelas V Sd Negeri Di Kecamatan Wawotobi Kebupaten Konawe

menemukan adanya hubungan positif dan signifikan antara minat belajar

siswa dengan hasil belajar IPS siswa di SD Negeri se Kecamatan

Wawotobi sehingga untuk meningkatkan hasil belajar IPS siswa di SD

Negeri se Kecamatan Wawotobi maka, selain mengintensifkan perhatian

orang tua terhadap proses belajar anak, maka upaya lain yang perlu

dilakukan guru dan orang tua adalah meningkatkan minat belajar siswa.

Bakti (2017) yang berjudul Hubungan Motivasi dan Disiplin dengan

Hasil Belajar IPS Pada SMP Negeri di Kecamatan Abuki dan Tongauna

Kabupaten Konawe menemukan adanya hubungan positif yang sangat

signifikan antara disiplin belajar siswa dengan hasil belajar siswa di SMP

negeri di kecamatan Abuki dan kecamatan Tongauna seperti ditunjukkan

koefisien korelasi sebesar 0,445 dan determinasi sebesar 0,2070 yang

berarti 20,70% variasi yang terjadi pada hasil belajar siswa dapat dijelaskan

oleh variasi disiplin belajar siswa. semakin tinggi disiplin siswa dalam

belajar, maka semakin tinggi hasil belajar siswa, sebaliknya semakin

rendah disiplin siswa dalam belajar, maka semakin rendah hasil belajar

siswa di SMP negeri di kecamatan Abuki dan kecamatan Tongauna.


90

Penelitian Lambiye (2018) yang berjudul hubungan minta belajar

dan gaya belajar dengan hasil belajar ekonomi siswa SMA negeri

Kabupaten Konawe Kepulauan, menemukan adanya hubungan yang positif

dan signifikan antara minat belajar siswa dengan hasil belajar ekonomi

siswa SMA negeri Kabupaten Konawe Kepulauan seperti ditunjukkan oleh

koefisien korelasi (ry1) sebesar 0,260 dengan koefisien determinasi (r2y1)

sebesar 0,067 yang berarti kontribusi minat belajar ekonomi terhadap hasil

belajar siswa di SMA Negeri Kabupaten Konawe Kepulauan adalah

sebesar 6,70%.

Berdasarkan beberapa penelitian relevan tersebut maka peneliti

berpendapat bahwa penelitian ini penting dilakukan dalam upaya

mengungkap hubungan antara minat belajar dan disiplin belajar dengan

hasil belajar ekonomi siswa di SMA negeri Kabupaten Konawe Selatan

bahagian Timur, baik hubungan secara sendiri-sendiri maupun secara

bersama-sama. Walaupun ada beberapa penelitian yang relevan dengan

penelitian ini tetapi penelitian ini bukan merupakan duplikasi dari bebrapa

penelitian relevan seperti yang diuraikan di atas. Dilihat dari tempat

penelitian dan responden penelitian maka penelitian ini berbeda dengan

beberapa penelitian relevan di atas.

Anda mungkin juga menyukai