PEMERINTAH KABUPATEN BANGGAI
UPT RUMAH SAKIT UMUM DAERAH
Jalan Imam Bonjol No. 14 Telp. (0461) 21820
Luwuk - 94712
KEPUTUSAN DIREKTUR UPT RSUD KABUPATEN BANGGAI
Nomor :
TENTANG
MANAJEMEN FASILITAS DAN KESELAMATAN
UPT RSUD KABUPATEN BANGGAI
DIREKTUR UPT RUMAH SAKIT UMUM DAERAH KABUPATEN BANGGAI
Menimbang : a. Bahwa untuk mendukung terwujudnya Visi dan Misi UPT RSUD Kab. Banggai serta
dalam rangka mengahadapi tuntutan akan pelayanan kesehatan yang berkualitas serta
mengutamakan keselamatan pasien, antisipasi situasi kondisi yang sangat dinamis
baik internal maupun eksternal maka perlu adanya kebijakan manajemen fasilitas dan
keselamatan sebabagai pedoman dalam pelaksanaan pelayanan di UPT RSUD
Kabupaten Banggai
b. Bahwa untuk kepentingan tersebut diatas, maka perlu di terbitkan Surat Keputusan
Direktur UPT RSUD Kabupaten Banggai
Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1970 Nomor 1,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 2918);
2. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 44 Tahun 2009 tentang
Rumah Sakit
3. Undang-UndangNomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 39,
Tambahan Lembaran negaraNomor 4729);
4. Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1997 Nomor 116,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4431);
5. Undang-UndangNomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437)
sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 12
Tahun 2008 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor
32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 59, TambahanLembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 4844);
Undang-UndangNomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan (Lembaran
6.
Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 144, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5063);
7. Peraturan Menteri Kesehatan No. 269/Menkes/Per/III/2008 tentang
Keselamatan dan Kesehatan Kerja
8. Permenkes No. 24 tahun 2016 tentang persyaratan Teknik bangunan
dan prasarana Rumah Sakit
MEMUTUSKAN
Menetapkan : KEPUTUSAN DIREKTUR UPT RUMAH SAKIT UMUM DAERAH
KABUPATEN BANGGAI TENTANG MANAJEMEN FASILITAS DAN
KESELAMATAN
Kesatu : Memberlakukan Kebijakan Manajemen Fasilitas Dan
Keselamatan sebagaimana dalam terlampir dalam Keputusan
ini
Kedua : Segala biaya yang timbul akibat diterbitkannya Keputusan ini
dibebankan pada anggaran Rumah Sakit
Ketiga : Keputusan ini mulai berlaku sejak tanggal di tetapkan
dengan ketentuan
Keempat : Surat Keputusan ini berlaku sejak tanggal ditetapkannya
dengan ketentuan apabila di kemudian hari terdapat
kesalahan akan di perbaharui sebagaimana
mestinya.
Ditetapkan di : Luwuk
Pada Tanggal :
Direktur UPT RSUD Kab. Banggai,
dr. H. Yusran Kasim, ME
NIP : 1630529 199803 1 001
LAMPIRAN KEPUTUSAN DIREKTUR UPT RSUD KABUPATEN BANGGAI
Nomor :
Tanggal :
KEBIJAKAN MANAJEMEN FASILITAS DAN KESELAMATAN
I. KEPEMIMPINAN DAN PERENCANAAN
1. Rumah Sakit mematuhi peraturan perundang-undangan yang berlaku dan ketentuan tentang
pemeriksaan fasilitas.
2. Rumah Sakit menyediakan fasilitas yang aman, berfungsi dan supportif bagi pasien, keluarga,
staf dan pengunjung.
3. Rumah Sakit menerapkan manajemen fasilitas dan keselamatan yang efektif meliputi
perencanaan, pendidikan dan pemantauan yang multi disiplin meliputi :
a. Merencanakan ruang, peralatan dan sumber daya yang dibutuhkan agar aman dan efektif untuk
menunjang pelayanan klinis yang diberikan
b. Seluruh staf dididik tentang fasilitas, cara mengurangi risiko, dan bagaimana memonitor
dan melaporkan situasi yang menimbulkan risiko.
c. Kriteria kinerja digunakan untuk mengevaluasi sistem yang penting dan untuk
mengidentifikasi perbaikan yang diperlukan.
d. Unit non hospital (Cafetaria atau Toko) juga mematuhi rencana manajemen
dan keselamatan fasilitas, sebagai berikut
e. Rencana keselamatan dan keamanan
f. Rencana penanganan bahan berbahaya
g. Rencana manajemen emergensi
h. Rencana pengamanan/penanggulangan kebakaran
4. Rumah Sakit menetapkan rencana induk atau rencana tahunan untuk mengelola risiko terhadap
pasien, keluarga, pengunjung dan staf meliputi :
a. Keselamatan dan keamanan
Keselamatan : Suatu tingkatan keadaan tertentu dimana gedung, halaman/ground
dan peralatan rumah sakit tidak menimbulkan bahaya atau risiko bagi pasien, staf dan
pengunjung
Keamanan : Proteksi dari kehilangan, pengrusakan dan kerusakan, atau akses serta
penggunaan oleh mereka yang tidak berwenang
b. Bahan berbahaya : penanganan, penyimpanan, dan penggunaan bahan radioaktif
dan bahan berbahaya lainnya harus dikendalikan dan limbah bahan berbahaya dibuang secara
aman
c. Manajemen Emergensi Tanggapan terhadap wadah, bencana dan keadaan emergensi
direncanakan dan efektif
d. Pengamanan kebakaran properti dan penghuninya dilindungi dari kebakaran dan asap
e. Peralatan medis peralatan dipilih, dipilihara dan digunakan sedekian rupa untuk mengurangi
risiko
f. Sistem utilitas Listrik, air dan sistem pendukung lainnya dipelihara untuk meminimalkan risiko
kegagalan pengoperasian
Rencana tersebut ditulis dan di up to date yang merefeksikan keadaan sekarang
atau keadaan terkini dalam lingkungan rumah sakit. Ada proses untuk mereview
dan mengupdate.
5. Komite risiko fasilitas/lingkungan yang kompeten mengawasi perencanaan dan pelaksanaan
program untuk mengelola risiko dilingkungan pelayanan
Program pengawasan meliputi :
a. Merencanakan semua aspek dari program
b. Melaksanakan program
c. Mendidik staf
d. Memonitor dan mengevaluasi uji coba program
e. Melakukan evaluasi dan revisi program secara berkala
f. Memberikan laporan tahunan ke badan pengelola tentang pencapaian program
g. Menyelenggarakan pengorganisasian dan pengelolaan secara konsisten dan terus menerus
6. Rumah Sakit membuat monitoring yang menyediakan data insiden, cidera dan kejadian
lainnya yang mendukung perencanaan dan pengurangan risiko lebih lanjut.
II. KESELAMATAN DAN KEAMANAN FASILITAS
1. Rumah Sakit merencanakan dan melaksanakan program untuk memberikan keselamatan
dan keamanan lingkungan fisik
2. Rumah Sakit melakukan pemeriksaan seluruh gedung pelayanan pasien dan mempunyai rencana
untuk mengurangi risiko yang nyata serta menyediakan fasilitas fisik aman bagi pasien, keluarga,
staf dan pengunjung
3. Untuk menjamin keamanan, semua staf, pengunjung, vendor / pedagang dan lainnya di rumah sakit
diidentifikasi dan diberi tanda pengenal (badge) yang sementara atau tetap atau langkah identifikasi
lain, juga seluruh area yang seharusnya aman, seperti ruang perawatan bayi baru lahir, yang aman
dan dipantau.
4. Rumah Sakit merencanakan dan menganggarkan untuk meningkatkan atau mengganti sistem,
bangunan atau komponen berdasarkan hasil inspeksi terhadap fasilitas dan tetap mematuhi
peraturan perundangan;
5. Rumah Sakit menganalisa situasi, dengan melihat sumber daya yang kita miliki, sumber dana yang
tersedia dan bahan potensial apa yang mengancam keselamatan dan keamanan bekerja di rumah
sakit;
6. Memonitor, mengendalikan , mengevaluasi dan merencanakan pengembangan K3 Rumah Sakit
dilaksanakan oleh kepanitiaan yang disebut Panitia Keselamatan dan Kesehatan Kerja Rumah
Sakit (PK3RS);
7. Melaksanakan sosialisasi keselamatan dan keamanan kerja kepada seluruh karyawan dalam
bentuk pelatihan, leaflet, poster, penyuluhan dan lain – lain;
8. Dalam melaksanakan tugasnya setiap petugas wajib mematuhi ketentuan dalam K3
(Keselamatan dan Kesehatan Kerja), termasuk penggunaan alat pelindung diri (APD), serta selalu
mengacu pada pencegahan dan pengendalian infeksi;
9. Seluruh staf RS harus bekerja sesuai dengan standar profesi, pedoman/panduan dan standar
prosedur opersional yang berlaku, serta sesuai dengan etika profesi dan etika RS yang berlaku.
III. PENGELOLAAN BAHAN DAN LIMBAH BERBAHAYA DAN BERACUN (B3)
1. Rumah Sakit mempunyai rencana tentang inventaris, penanganan, penyimpanan
dan penggunaan bahan berbahaya serta pengendalian dan pembuangan bahan
dan limbah berbahaya;
2. Rumah Sakit mengidentifikasi dan mengendalikan secara aman bahan dan limbah
berbahaya sesuai rencana
3. Identifikasi dan pengendalian bahan berbahaya dan limbah diproses untuk :
a. Inventarisasi bahan dan limbah berbahaya,
b. Penanganan, penyimpanan dan penggunaan bahan berbahaya,
c. Pelaporan dan investigasi dari tumpahan, paparan (exporuse) dan insiden lainnya
d. Pembuangan limbah berbahaya yang benar sesuai dengan SPO yang ada,
e. Peralatan dan prosedur perlindungan yang benar pada saat penggunaaan,
ada tumpahan (spill) atau paparan (exposure.
f. Pendokumentasian meliputi izin dan perizinan / lisensi atau ketentuan persyaratan
lainnya
g. Pemasangan label yang benar pada bahan dan limbah berbahaya.
4. Rumah Sakit memastikan bahwa setiap badan usaha yang menggunakan bahan – bahan
berbahaya harus mempunyai lembar data pengaman;
5. Setiap bahan berbahaya dan beracun (B3) pada wadah atau kemasan harus dicantumkan
penandaan yang meliputi nama dagang, bahan aktif, isi berat netto, kalimat peringatan
dan tanda atau simbol bahaya;
6. Rumah Sakit memastikan bahwa bahan berbahaya dan beracun tersebut terpisah dari
bahan – bahan lain dan jauh dari api;
7. Rumah Sakit harus mengetahui sifat dan karakteristik dari penanganan, penyimpanan dan
penggunaan B3 tersebut yang meliputi:
1. Identifikasi Potensial Bahaya
a. Identifikasi dan penilaian resiko dilaksanakan oleh petugas yang berkompeten
(Petugas terkait, Gudang, Laboratorium, radiologi dan Apotik)
b. Penentuan penanganan bahan / material dilaksanakan secara manual atau mekanis
ditetapkan berdasarkan hasil identifikasi
2. Sistem Pengangkutan, Penyimpanan Dan Pembuangan
a. Sistem pengangkutan bahan material yang diterima untuk pemindahan dari
pengangkutan ke dalam gudang dilakukan secara manual yang dilaksanakan dengan
perlakuan yang benar guna menghindari tumpahan atau ceceran.
b. Pemindahan ini dilakukan dengan tenaga manusia dengan mempergunakan alat
bantu troli. Pemindahan secara mekanis pada umumnya tidak dilakukan mengingat
berat bahan yang diangkut tidaklah terlalu berat.
c. Penyimpanan
Untuk penyimpanan bahan kimia harus dipersiapkan tempat khusus menurut
spesifikasi (jenis)
Penyimpanan Bahan – bahan kimia tidak dibenarkan dicampur dengan bahan lainnya
(Gudang / penempatan harus terpisah dari bahan lain) dilengkapi dengan label B3
dan MSDS yang sesuai
Setiap bahan material yang disimpan didalam gudang diberi label yang jelas sesuai
dengan spesifikasi, khusus dengan bahan – bahan B3 harus diberi label peringatan
yang jelas untuk diketahui bahaya dari masing – masing bahan dan cara
penanganan.
3. Pemindahan Dan Penggunaan
a. Dalam pengambilan bahan material dari gudang untuk dipergunakan di lokasi kerja
harus memperhatikan aspek K3 (menghindari tumpahan, kebocoran, ceceran dan
kerusakan) sesuai dengan petunjuk pedoman teknis yang berlaku
b. Petugas pelaksana yang menangani pemindahan dan penggunaan harus
memperhatikan aspek K3 dan harus mengenakan APD, alat bantu yang memadai
dan apabila terjadi tumpahan atau ceceran pada saat pemindahan harus ditangani
sesuai dengan instruksi kerja dan pedoman kerja yang berlaku.
4. Pengendalian Barang – Barang Rusak Dan kadaluwarsa
Bahan – bahan yang diindentifikasi telah mengalami kerusakan dan kadaluwarsa
ditempatkan di tempat yang aman secara khusus, tidak dapat dipergunakan, tercatat
dan penanganannya harus sesuai dengan instruksi kerja
5. Pembuangan Dan Penyimpanan
Barang bekas yang dinyatakan tidak dapat dipergunakan lagi harus disimpan sesuai
ketentuan yang berlaku, ditempatkan secara khusus dan tercatat agar tidak
dipergunakan lagi.
a. Khusus wadah bekas bahan B3 harus di beri label dengan jelas sesuai sifat bahan
tersebut (beracun, iritasi, korosif dan lain – lain)
b. Wadah bekas bahan kimia cair disimpan dan tidak dibenarkan dipakai untuk
kegiatan lain
c. Penanganan limbah padat dan limbah cair sesuai dengan Peraturan Perundangan
yang berlaku (Peraturan Lingkungan Hidup).
d. Melaksanakan sosialisasi penanganan, penyimpanan dan penggunaan bahan
berbahaya dan beracun (B3) kepada seluruh karyawan dalam bentuk pelatihan,
penyuluhan dan lain – lain;
e. Dalam melaksanakan tugasnya setiap petugas wajib mematuhi ketentuan dalam K3
(Keselamatan dan Kesehatan Kerja), termasuk penggunaan alat pelindung diri (APD),
serta selalu mengacu pada pencegahan dan pengendalian infeksi;
f. Seluruh staf RS harus bekerja sesuai dengan standar profesi, pedoman/panduan
dan standar prosedur opersional yang berlaku, serta sesuai dengan etika profesi,
etika RS dan etiket RS yang berlaku.
IV. PROTEKSI KEBAKARAN
1. Rumah Sakit melaksanakan program untuk memastikan bahwa seluruh penghuni
di rumah sakit aman dari kebakaran, asap dan kedaruratan lainnya
2. Rumah Sakit menjamin penghuni rumah sakit tetap aman sekalipun terjadi kebakaran atau
asap dengan melaksanakan program antara lain :
Pencegahan kebakaran melalui pengurangan risiko kebakaran, seperti penyimpanan
dan penanganan secara aman bahan mudah terbakar, termasuk gas medik,
seperti oksigen
Bahaya yang terkait dengan setiap pembangunan didalam atau berdekatan dengan
bangunan yang dihuni pasien
Jalan keluar yang aman dan tidak terhalang bila terjadi kebakaran
Sistem peringatan dini, sistem deteksi dini, seperti, deteksi asap (smoke detector), alarm
kebakaran, dan patroli kebakaran, dan
Mekanisme penghentian/supresi (suppression) seperti selang air, supresan kimia
(chemical suppressants) atau sistem penyeburan (spinkler).
3. Rumah Sakit secara teratur melakukan uji coba pengamanan kebakaran dan asap, meliputi
setiap peralatan yang terkait untuk deteksi dini dan penghentian (suppression) dan
mendokumentasikan hasilnya.
4. Rencana pengamanan kebakaran rumah sakit mengidentifikasi :
Frekuensi pemeriksaan, uji coba dan pemeliharaan sistem perlindungan
dan pengamanan kebakaran, sesuai ketentuan
Rencana evakuasi yang aman dari fasilitas bila terjadi kebakaran atau ada asap
Proses untuk melakukan uji coba semua bagian dari rencana, dalam jangka waktu
12 bulan
Pendidikan yang perlu bagi staf untuk dapat melindungi secara efektif
dan mengevakuasi pasien bila terjadi kedaruratan dan
Partisipasi semua staf dalam uji coba pengamanan kebakaran sekurang-kurangnya
setahun sekali.
5. Seluruh pemeriksaan, uji coba dan pemeriksaan didokumentasikan
LARANGAN MEROKOK
- Rumah sakit membuat larangan merokok dengan menggunakan stiker – stiker
disetiap lantai dan membuat larangan merokok diperaturan Rumah Sakit;
- Rumah Sakit menyusun dan mengimplenmentasikan kebijakan larangan merokok
terhadap pasien, keluarga, staf dan pengunjung tanpa terkecuali;
- Rumah sakit secara teratur melakukan monitoring larangan merokok kepada setiap
pasien, keluarga, staf dan pengunjung yang kedapatan merokok disekitar lingkungan
Rumah Sakit. Lingkungan Rumah Sakit adalah semua Ruang Unit Kerja yang ada
di dalam batas Pagar Rumah Sakit;
- Bagi pasien, keluarga, staf dan pengunjung yang kedapatan merokok akan diberikan
pengarahan dan masukan oleh bagian security Rumah Sakit;
- Rumah Sakit Melindungi kesehatan masyarakat, sudah seharusnya bebas dari asap
rokok karena asap rokok dapat menimbulkan penyakit yang fatal dan penyakit yang
dapat menurunkan kualitas hidup akibat penggunaan rokok;
- Tempat kerja adalah tiap ruangan atau lapangan, tertutup atau terbuka, bergerak
atau tetap dimana tenaga kerja bekerja, atau yang sering dimasuki tenaga kerja untuk
keperluan suatu usaha dan dimana terdapat sumber-sumber bahaya.
V. PERALATAN MEDIS
A. Pengadaan Alat Medis
1. Rumah Sakit merencanakan dan mengimplementasikan program untuk pengadaan alat
medis untuk menjamin ketersediaan dan berfungsi / layak pakainya peralatan medis
tersebut;
2. Fasilitas yang rusak atau sudah tidak dapat diperbaiki kembali segera dimutasi kebagian
logistik dan dibuat berita acara pergantian barang oleh bagian teknisi medis;
3. Untuk penambahan (pengadaan) alat medis baru disebabkan oleh:
Adanya alat baru yang diperlukan pada pelayanan medis
Kurangnya fasilitas alat medis yang diperlukan, sehingga mengajukan penambahan alat
medis yang baru kepada direktur bidang.
Direktur bidang melakukan koordinasi dengan unit kerja untuk menentukan spesifikasi
alat yang ingin diadakan.
Direktur bidang mengajukan permohonan kepada direktur utama melalui direktur Adm &
Keuangan untuk pengadaan alat medis yang baru.
4. Untuk penggantian alat yang lama:
Pergantian alat medis harus diajukan oleh pengguna kepada direktur bidang yang
menyatakan bahwa alat tersebut sudah tidak layak pakai tidak dapat dipergunakan lagi.
Mengajukan permohonan pergantian alat yang lama oleh pengguna kepada direktur
bidang masing-masing.
Direktur bidang memanggil pengguna alat untuk rapat menentukan spesifikasi alat.
Direktur bidang mengajukan permohonan kepada direktur utama melalui direktur adm
& keuangan.
5. Setiap pergantian dan pengadaan barang yang dilakukan pencatatan ke inventaris alat
masing – masing bagian.
B. Pemeliharaan Alat Medis
1. Rumah Sakit merencanakan dan mengimplementasikan program untuk pemeriksaan, uji
coba dan pemeliharaan peralatan medis dan mendokumentasikan hasilnya. Untuk
menjamin ketersediaan dan berfungsi / layak pakainya peralatan medis, rumah sakit:
Melakukan inventarisasi peralatan medis
Melakukan pemeriksaan peralatan medis secara teratur
Melakukan uji coba peralatan medis sesuai dengan penggunaan dan ketentuaannya
Melaksanakan pemeliharaan preventif.
2. Rumah Sakit mengumpulkan data hasil monitoring terhadap program manajemen peralatan
medis. Data tersebut digunakan dalam menyusun rencana kebutuhan jangka panjang
rumah sakit untuk peningkatan dan penggantian peralatan;
3. Setiap kerusakan pada fasilitas rumah sakit segera dibuat memo permintaan perbaikan
barang atau memo permintaan pergantian barang;
4. Fasilitas yang sudah tidak dapat diperbaiki kembali segera dimutasi kebagian logistik
dan dibuat berita acara pergantian barang oleh bagian teknisi;
5. Pemeriksaan hasil uji coba dan setiap kali pemeliharaan didokumentasikan.
6. Pengadaan dan pergantian alat medis dilaksanakan oleh bagian logistik, bekerja sama
dengan bagian teknisi medis;
7. Setiap pergantian dan pengadaan barang yang dilakukan pencatatan ke inventaris alat
masing – masing bagian;
8. Untuk melaksanakan koordinasi dan evaluasi wajib dilaksanakan rapat rutin bulanan
minimal satu bulan sekali;
9. Laporan intern dan ekstern dilakukan setiap bulan
C. Penggunaan Produk dan Peralatan yang dalam proses penarikan
1. Rumah Sakit mempunyai sistem penarikan kembali produk/peralatan;
2. Rumah Sakit mempunyai proses identifikasi, penarikan dan pengembalikan atau
pemusnahan produk dan peralatan medis yang ditarik oleh pihak pabrik atau supplair;
3. Rumah Sakit membuat prosedur yang mengatur penggunaan setiap produk atau peralatan
yang ditarik kembali;
4. Pengendalian dalam penggunaan barang – barang rusak dan kadaluarsa harus diidentifikasi
secara benar, barang yang sudah rusak atau kadaluarsa disimpan ditempat yang aman
secara khusus, tidak dipergunakan, tercatat dan penanganannya harus sesuai dengan
instruksi kerja;
5. Pemeliharaan alat medis merupakan suatu upaya yang dilakukan agar peralatan kesehatan
tersebut dapat bertahan lebih lama;
6. Untuk melaksanakan koordinasi dan evaluasi wajib dilaksanakan rapat rutin bulanan
minimal satu bulan sekali;
7. Laporan intern dan ekstern dilakukan setiap bulan.
VI. SISTEM UTILITAS
1. Air minum dan listrik yang tersedia 24 jam sehari, tujuh hari seminggu, melalui sumber
reguler atau alternatif, untuk memenuhi kebutuhan utama asuhan pasien
2. Rumah Sakit memiliki proses emergensi untuk melindungi penghuni rumah sakit dari
kejadian terganggunya, terkontaminasi atau kegagalan sistem pengadaan air minum dan
listrik
3. Rumah Sakit melakukan uji coba sistem emergensi dari air minum dan listrik secara teratur
sesuai dengan sistem dan hasilnya didokumentasikan
Untuk menghadapi keadaan emergensi tersebut, rumah sakit :
Mengidentifikasi peralatan, sistem dan tempat yang potensial menimbulkan risiko
tertinggi terhadap pasien dan staf (sebagai contoh, mengidentifikasi area yang
memerlukan pencahayaan, pendinginan, alat pendukung hidup / life support,
dan air bersih untuk membersihkan dan mensterilkan perbekalan)
Melakukan asesmen dan meminimalisasi risiko dari kegagalan sistem pendukung
di tempat-tempat tersebut
Merencanakan sumber darurat listrik dan air bersih untuk tempat tersebut
dan kebutuhannya
Melakukan uji coba ketersediaan dan keandalan sumber darurat listrik dan air
Mendokumentasikan hasil uji coba
Memastikan bahwa pengujian alternatif sumber air dan listrik dilakukan
minimal/sekurang-kurangnya setiap tahun atau lebih sering jika diharuskan oleh
peraturan perundangan atau kondisi sumber listrik dan air.
Kondisi sumber listrik dan air yang mengharuskan peningkatan frekuensi pengujian
meliputi:
Perbaikan berulang dari sistem air
Seringnnya kontaminasi terhadap sumber air
Jaringan listrik yang tidak bisa diandalkan dan
Padamnya listrik yang tak terduga dan berulang
4. Rumah Sakit melakukan identifikais sistem listrik, limbah, ventilasi, gas medis
dan sistem kunci lainnya secara teratur diperiksa, dipelihara, dan bila perlu ditingkatkan
untuk menghindari bahaya.
5. Rumah Sakit mempunyai proses sistem pemeriksaan yang teratur dan melakukan
pencegahan dan pemeliharaan lainnya. Selama uji coba, perhatian ditujukan
pada komponen kritis (sebagai contoh, swiches dan relays) dari sistem tersebut.
6. Sumber listrik emergensi dan cadangan diuji coba dalam lingkungan yang direncanakan
dan mensimulasikan beban aktual yang dibutuhkan. Peningkatan dilakukan sesuai
kebutuhan, misalnya penambahan pelayanan listrik diarea yang punya peralatan baru.
7. Petugas atau otoritas yang ditetapkan memonitor mutu air secara teratur.
Rumah Sakit menyusun proses pemantauan kualitas air secara teratur, meliputi
pemeriksaan biologis/biological air yang digunakan untuk hemodialis.
Pemantauan dapat dilakukan oleh staf yang ditunjuk oleh rumah sakit, seperti staf
dari laboratorium klinis atau oleh otoritas kesehatan masyarakat atau pemilik air dari
luar rumah sakit yang dinilai kompeten untuk menjalankan pemeriksaan ini.
8. Rumah Sakit mengumpulkan data hasil monitoring program manajemen sistem
utiliti/pendukung.
Data tersebut digunakan untuk merencanakan kebutuhan jangka panjang rumah sakit
untuk peningkatan atau penggantian sistem utiliti/pendukung.
Pemantauan sistem yang esensial/penting membantu rumah sakit mencegah
terjadinya masalah dan menyediakan informasi yang diperlukan untuk membuat
keputusan dalam perbaikan sistem dan dalam merencanakan peningkatan atau
penggantian sistem utiliti/pendukung. Data hasil monitoring didokumentasikan.
VII. PENANGANAN KEDARURATAN DAN BENCANA
1. Rumah sakit membuat rencana dan program penanganan kedaruratan dan program
menanggapi bila terjadi kedaruratan komunitas, wadah dan bencana alam atau bencana
lainnya.
Rencana tersebut berisikan proses untuk :
a. Menetapkan jenis, kemungkinan dan konsekuensi dari bahaya, ancaman
dan kejadian
b. Menetapkan peran rumah sakit dalam kejadian tersebut
c. Strategi komunikasi pada kejadian
d. Pengelolaan sumber daya pada waktu kejadian, termasuk alternatif tempat pelayanan
e. Pengelolaan kejadian klinis pada waktu kejadian, termasuk alternatif tempat
pelayanan
f. Identifikasi dan penugasan peran dan tanggungjawab staf pada waktu kejadian
g. Proses untuk mengelola keadaan darurat/kedaruratan bila terjadi pertentangan antara
tanggung jawab staf secara pribadi dengan tanggungjawab rumah sakit dalam hal
penugasan staf untuk pelayanan pasien.
2. Rumah sakit melakukan uji coba/simulasi penanganan/menanggapi kedaruratan, wadah
dan bencana
Rencana kesiapan menghadapi bencana diujicoba melalui :
Uji coba tahunan seluruh rencana penanggulangan bencana baik secara internal
maupun sebagai bagian dan dilakukan bersama dengan masyarakat atau
Uji coba sepanjang tahun terhadap elemen kritis dari c) sampai dengan g) dari
rencana tersebut
3. Bila rumah sakit mengalami bencana secara nyata, mengaktifasi rencana yang ada, dan
setelah itu diberi pengarahan yang tepat, dan situasi ini digambarkan setara dengan uji
coba tahunan.
VIII. Konstruksi dan Renovasi
Rumah Sakit adalah institusi yang menyelenggarakan pelayanan Kesehatan perorangan
secara paripurna yang menyediakan pelayanan rawat inap, rawat jalan dan gawat darurat
dan memberikan Pelayanan Kesehatan semua jenis penyakit – penyakit dari yang
bersifat dasar sampai dengan sub spesialistik. Konstruksi adalah suatu kegiatan
membangun sarana maupun prasarana atau bisa juga diartikan sebagai bangunan atau
satuan infrastruktur pada sebuah area atau pada beberapa area. Renovasi adalah
perbaikan, pembaharuan, peremajaan, penyempurnaan Fasilitas. Pengubahan desain
agar lebih nyaman dan cocok pada ruang lahan dan bangunan.
2. Jenis bahaya Konstruksi
a. Membentur
Kecelakaan yang selalu timbul akibat pekerja yang bergerak terkena atau bersentuhan
dengan beberapa objek contohnya : terkena sudut atau bagian yang tajam, menabrak
pipa-pipa
b. Jatuh dari ketinggian
Kecelakaan ini banyak terjadi dari tingkat yang lebih tinggi ketingkat yang lebih rendah
contohnya : jatuh dari tangga atau atap, tergelincir, tersandung
c. Pekerjaan yang terlalu berat
Kecelakaan ini timbul akibat pekerjaan yang terlalu berat yang dilakukan pekerja
seperti mengangkat, menaikkan, menarik benda atau material diluar batas kemampuan
d. Terkena aliran listrik
Luka yang ditimbulkan dari kecelakaan ini terjadi akibat sentuhan anggota badan
dengan alat atau perlengkapan yang mengandung listrik
3. Sebab kecelakaan konstruksi dan pencegahannya
a. Faktor Manusia
Pencegahan :
Pemilihan tenaga kerja
Pelatihan sebelum mulai kerja
Pembinaan dan pengawasan selama kegiatan berlangsung
b. Faktor Lingkungan
Gangguan-gangguan dalam bekerja, misalnya suara bising yang berlebihan dapat
mengakibatkan terganggunya konsentrasi pekerja
Debu atau material beracun, mengganggu Kesehatan kerja sehingga menurunkan
efektivitas kerja
Pencegahaannya dianjurkan menggunakan penutup telinga dan masker
pada pekerja
c. Faktor Teknis
Disebabkan kondisi teknis dan metoda kerja yang tidak memenuhi standar
keselamatan
Pencegahan :
Perencanaan kerja yang baik
Pemeliharaan dan perawatan peralatan
Pengawasan dan pengujian peralatan kerja
Penggunaan metode dan teknik konstruksi yang aman
IX. PELATIHAN
A. PERENCANAAN
1. UPT Rumah Sakit Umum Daerah Kab. Banggai menetapkan Sumber Daya Manusia (Bagian
Medis & Keperawatan, Bagian Penunjang Medis, Bagian Administrasi & Keuangan) dengan
berbagai kompetensi.
2. Rumah Sakit menetapkan pendidikan, keterampilan, pengetahuan dan persyaratan lain bagi
seluruh staf atau dalam menetapkan jumlah staf atau perpaduan staf yang mendukung Visi,
Misi, Tujuan, Nilai – Nilai serta Motto UPT Rumah Sakit Umum Daerah Kab. Banggai .
B. ORIENTASI DAN PENDIDIKAN
1. Seluruh staf, baik klinis maupun non klinis diberikan orientasi tentang rumah sakit.
2. Departemen/unit kerja atau unit dimana mereka ditugaskan memberikan orientasi tentang
tugas tanggung jawab staf yang spesifik saat menjadi staf UPT Rumah Sakit Umum Daerah
Kab. Banggai .
Adapun orientasi staf tersebut meliputi:
- Peraturan Rumah Sakit
- Patien Safety
- Prosedur di Rumah Sakit
- Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI)
- Keselamatan Kerja
- Kebakaran dan Kewaspadaan Bencana Rumah sakit (K3RS) Kebijakan Rumah Sakit
dan lain – lain.
C. STAF MEDIS
1. Menetapkan Keanggotaan Staf Medis
- Rumah Sakit mempunyai proses yang efektif untuk mengumpulkan, memverifikasi,
mengevaluasi kredesial/bukti-bukti keahlian/kelulusan (izin/lisensi, pendidikan, pelatihan,
kompetensi dan pengalaman).
- Staf Medis yang diizinkan untuk memberikan asuhan pasien tanpa supervisi.
Staf medis memberikan pelayanan preventif, kuratif, restorative, bedah, rehabilitatif atau
pelayanan medis lain atau pelayanan gigi kepada pasien atau yang memberikan
pelayanan interpretative kepada pasien seperti patologi, radiologi, atau pelayanan
laboratorium tanpa memandang klasifikasi penugasan oleh rumah sakit.
- Rumah Sakit membuat status kepegawaian, kontrak atau kerjasama lain dengan individu
untuk memberikan pelayanan asuhan pasien.
2. Penetapan Kewenangan Klinis
Keputusan tentang pemberian kewenangan tersebut ditetapkan sebagai berikut :
- Rumah Sakit memilih proses yang di standardisir untuk mengidentifikasi pelayanan klinis
bagi setiap individu.
- Pemberian kewenangan / privilege terhadap staf medis juga mempertimbangkan surat /
berkas dari tempat praktek atau kerja sebelumnya, dari sejawat seprofesi, penghargaan
dan sumber informasi lainnya.
- Setiap tiga tahun, rumah sakit mencari dan menggunakan informasi tentang area
kompetensi umum dari praktisi klinis berikut: asuhan pasien, pengetahuan medis/klinis,
pembelajaran dan peningkatan berbasis praktek, Keterampilan hubungan antar
manusia/interpersonal dan komunikasi, profesionallisme, praktek berbasis sistem
3. Monitoring Berkelanjutan (Ongoing Monitoring) dan Evaluasi Anggota Staf Medis
- Rumah Sakit menetapkan proses berkelanjutan terstandardisir (ongoing) untuk
mengevaluasi sesuai kualitas dan keamanan pelayanan pasien yang diberikan oleh setiap
staf medis.
- Rumah Sakit menetapkan kriteria yang digunakan dalam melakukan evaluasi terhadap
praktek professional secara berkelanjutan meliputi : review terhadap prosedur-prosedur
operatif dan klinis lain serta hasilnya, pola penggunaan darah dan obat-
obatan/kefarmasian, permintaan untuk pemeriksaan /tes dan prosedur/tindakan, pola
lama dirawat (length-of-stay), data morbiditas dan mortalitas, pemanfaatan praktisi
terhadap konsultasi dan spesialis, kriteria lain yang relevan
sebagaimana ditentukan oleh rumah sakit.
D. STAF KEPERAWATAN
- Rumah Sakit merekrut tenaga keperawatan yang kompeten untuk memberikan asuhan
keperawatan secara profesional, bermutu yang menerapkan standar keselamatan pasien.
- Rumah Sakit mengumpulkan & memferifikasi semua kredensial tenaga keperawatan
sekurang – kurangnya meliputi : berkas pendidikan & pelatihan, surat tanda registrasi
(STR), surat izin kerja (SIK), bukti kompetensi terbaru, sertifikat pelatihan & pendidikan
spesialisasi atau pendidikan lanjutan.
E. PRAKTISI PELAYANAN KESEHATAN LAINNYA
- Rumah Sakit mempunyai standar prosedur untuk mengumpulkan, memverifikasi
dan mengevaluasi kredensial staf kesehatan professional lainnya (izin, pendidikan,
pelatihan, dan pengalaman).
- Rumah Sakit memperkerjakan atau mengizinkan profesional kesehatan lain yang
kompeten (Bidan, Asisten Operasi, Farmasi, Teknisi Farmasi, Bagian Gizi, Radiologi, dll)
untuk memberikan asauhan dan pelayanan yang bermutu kepada pasien dan
berpartisipasi dalam proses asuhan pasien serta keselamatan pasien.
Direktur UPT RSUD Kab. Banggai,
dr. H. Yusran Kasim, ME
NIP : 19630529 199803 1 001