0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan2 halaman

Judul: Alamat Yang Salah, Hati Yang Benar: Genre

Maya menerima surat-surat salah alamat dari pengirim bernama 'A' yang berisi puisi tentang rindu. Ia mulai membalas surat-surat tersebut dan akhirnya menemui pengirim, Pak Aris, yang mengungkapkan bahwa surat-surat itu adalah cara untuk mengenang istrinya, Laras. Pertemuan itu juga mempertemukan Maya dengan cucu Pak Aris, Reno, yang memiliki buku langka yang dicari Maya.

Diunggah oleh

Muhammad iqbal
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan2 halaman

Judul: Alamat Yang Salah, Hati Yang Benar: Genre

Maya menerima surat-surat salah alamat dari pengirim bernama 'A' yang berisi puisi tentang rindu. Ia mulai membalas surat-surat tersebut dan akhirnya menemui pengirim, Pak Aris, yang mengungkapkan bahwa surat-surat itu adalah cara untuk mengenang istrinya, Laras. Pertemuan itu juga mempertemukan Maya dengan cucu Pak Aris, Reno, yang memiliki buku langka yang dicari Maya.

Diunggah oleh

Muhammad iqbal
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

Judul: Alamat yang Salah, Hati yang Benar

Genre: Romansa / Slice of Life

Selama satu tahun terakhir, apartemen nomor 4B milik Maya selalu menerima surat yang salah
alamat. Surat-surat itu terbungkus amplop cokelat muda dengan tulisan tangan yang rapi namun
sedikit gemetar. Pengirimnya selalu sama: seseorang yang hanya menuliskan inisial "A" di
pojok bawah.

Awalnya, Maya hanya menumpuk surat-surat itu di meja lobi. Namun, rasa penasaran
mengalahkannya. Ia membuka satu. Isinya bukan tagihan atau iklan, melainkan puisi pendek
tentang aroma hujan dan rasa rindu pada seseorang bernama "Laras".

Maya merasa bersalah, tapi ia juga merasa terhibur. Tanpa sadar, ia mulai membalas surat-surat
itu. Ia menyelipkan balasannya di kotak pos tua di ujung jalan, alamat yang tertera di amplop
pengirim. Ia bercerita tentang harinya yang melelahkan di kantor, tentang kopi yang terlalu pahit,
dan tentang bagaimana puisi-puisi "A" membuatnya merasa tidak sendirian di kota yang bising
ini.

Suatu sore, Maya memutuskan untuk menemui sang pengirim. Ia pergi ke alamat di kotak pos
itu—sebuah rumah kecil dengan taman bunga yang terawat namun sunyi.

Di teras rumah, duduk seorang kakek tua bernama Pak Aris. Ia sedang memegang salah satu
surat balasan dari Maya.

"Maafkan saya, Pak," ucap Maya pelan. "Saya yang selama ini membalas surat Anda. Saya tahu
itu salah alamat, tapi..."

Pak Aris tersenyum lembut. "Aku tahu, Nak. Istriku, Laras, sudah tiada lima tahun lalu. Menulis
surat adalah caraku menjaga ingatanku tentangnya tetap hidup. Dan balasan-balasanmu... itu
membuatku merasa seolah dunia masih punya waktu untuk mendengarkan cerita orang tua
sepertiku."

Saat mereka sedang berbincang, seorang pria muda muncul dari dalam rumah membawa nampan
teh. "Kakek, siapa tamu kita?"

Pria itu bernama Reno, cucu Pak Aris. Saat mata mereka bertemu, Maya melihat buku yang
dipegang Reno di kantong jaketnya—sebuah novel klasik yang sangat langka, buku yang sama
yang sedang Maya cari selama berbulan-bulan.

"Ternyata," bisik Pak Aris sambil menyesap tehnya, "surat-surat itu mungkin memang salah
alamat, tapi mereka tidak pernah salah tujuan."

Anda mungkin juga menyukai