METODE PENELITIAN SOSIAL/BISNIS
Prof. Dr. Drs. Ahmad Hidayat, MS
LANDASAN TEORI DAN
PENGAJUAN HIPOTESIS
Setelah masalah Penelitian dirumuskan, maka Langkah kedua dalam proses Penelitian (kuantitatif) adalah mencari
teori-teori, konsep-konsep dan generalisasi-generalisasi hasil Penelitian yang dapat dijadikan sebagai landasan
teoritis untuk melaksanakan Penelitian. Landasan teori perlu ditegakkan agar Penelitian itu mempunyai dasar yang
kokoh, dan bukan sekedar perbuatan coba-coba (trial and error). Adanya landasan teoritis ini merupakan ciri
bahwa Penelitian itu merupakan cara ilmiah untuk mendapatkan data.
Teori adalah alur logika atau penalaran, yang merupakan seperangkat konsep, definisi, dan proposisi yang
disusun secara sistematis. Secara umum teori mempunyai tiga fungsi yaitu, Menjelaskan (explanation),
meramalkan (prediction), dan pengendalian (control).
Dalam kaitannya dengan Penelitian, maka fungsi teori yang pertama digunakan untuk memperjelas dan
mempertajam ruang lingkup variabel yang akan diteliti. Fungsi teori yang kedua (prediksi atau pemandu untuk
menemukan fakta) adalah untuk merumuskan hipotesis dan Menyusun instrumen Penelitian, karena pada dasarnya
hipotesis itu merupakan pernyataan yang bersifat prediktif. Fungsi teori yang ketiga adalah (control) digunakan
untuk mencandra/membahas hasil Penelitian, dan selanjutnya digunakan untuk memberi saran dalam upaya
pemecahan masalah.
Dalam landasan teori perlu dikemukakan deskripsi teori, dan kerangka berfikir, sehingga selanjutnya dapat
dirumuskan hipotesis dan instrument Penelitian.
A. Deskripsi Teori
Deskripsi teori paling tidak berisi tentang penjelasan terhadap variabel-variabel yang diteliti, melalui
pendefisian, dan uraian yang lengkap dan mendalam dari berbagai referensi, sehingga ruang lingkup,
kedudukan dan prediksi terhadap hubungan antar variabel yang akan diteliti menjadi lebih jelas dan terarah.
Teori yang dideskripsikan dalam proposal maupun laporan penelitian dapat digunakan sebagai indikator apakah
peneliti menguasai teori dan konteks yang diteliti atau tidak.
Berikut langkah-langkah untuk dapat melakukan pendeskripsian teori adalah:
1. Tetapkan nama variabel yang diteliti, dan jumlah variabelnya.
2. Mencari sumber-sumber bacaan (buku,kamus,ensiklopedia,jurnal ilmia,laporan
penelitian,sekripsi,tesis,disertasi) yang sebanyak-banyaknya dan relevan
3. Lihatlah daftar isi setiap buku, dan pilih topik yang relevan dengan setiap variabel yang akan diteliti.
4. Cari definisi setiap variabel yang akan diteliti pada setiap sumber bacaan, bandingkan antara satu sumber
dengan umber yang lain, dan pilih definisi yang sesuai dengan penelitian yang akan diadakan.
5. Baca seluruh isi topik buku yang sesuai dengan variabel yang akan diteliti, lakukan analisa, renungkan, dan
buatlah rumusan dengan bahasa sendiri tentang isi setiap sumber data yang dibaca.
6. Deskripsikan teori-teori yang telah dibaca dari berbagai sumber ke dalam bentuk tulisan dengan bahasa
sendiri. Sumber-sumber bacaan yang dikutip atau yang digunakan sebagai landasan untuk mendeskripsikan
teori harus dicantumkan.
B. Kerangka Berfikir
Kerangka berfikir menurut para ahli :
Uma Sekaran dalam bukunya Business Research (1992) mengemukakan bahwa, kerangka berfikir merupakan model
konseptual tentang bagaimana teori berhubungan dengan berbagai factor yang telah diidentifikasi sebagai masalah yang
penting.
Menurut Sapto Haryoko (1999), kerangka berpikir adalah suatu penelitian yang menggunakan dua variabel atau lebih dalam
prakteknya. Sehingga kerangka berpikir itu berisi mengenai variabel-variabel yang akan dibahas di dalam penelitian. Variabel
itu lantas dijelaskan di dalam tulisan.
Seorang peneliti harus menguasai teori-teori ilmiah sebagai dasar bagi argumentasi dalam menyusun kerangka pemikiran
yang membuahkan hipotesis. Kerangka pemikiran ini merupakan penjelasan sementara terhadap gejala-gejala yang menjadi
obyek permasalahan. (Suriasumantri, 1986).
Kriteria utama agar suatu kerangka pemikiran bisa menyakinkan sesama ilmuwan, adalah alur-alur pikiran yang logis
dalam membangun suatu kerangka berfikir yang membuahkan kesimpulan yang berupa hipotesis.
Jadi kerangka berfikir merupakan sintesa tentang hubungan antar variabel yang disusun dari berbagai teori yang telah
dideskripsikan.
Proses Kerangka Berfikir Untuk Merumuskan Hipotesis
Berdasarkan gambar tersebut dapat diberi penjelasan sebagai berikut Langkah-langkah dalam menyusun kerangka
permikiran yang selanjutnya membuahkan hipotesis :
1. Menetapkan variabel yang diteliti
Untuk menentukan kelompok teori apa yang perlu dikemukakan dalam menyusun kerangka berfikir untuk
pengajuan hipotesis, maka harus ditetapkan terlebih dulu variabel penelitiannya. Berapa jumlah variabel yang diteliti,
dan apakah nama setiap variabel, merupakan titik tolak untuk menentukan teori yang akan dikemukakan.
2. Membaca Buku dan Hasll Penelitian (HP)
Setelah variabel ditentukan, maka langkah berikutnya adalah membaca buku-buku dan hasil penelitian yang
relevan. Buku-buku yang dibaca dapat berbentuk buku teks, ensiklopedia, dan kamus. Hasil penelitian yang dapat
dibaca adalah, laporan penelitian, jurnal ilmiah, Skripsi, Tesis, dan Disertasi.
3. Deskripsi Teori dan Hasil Penelitian (HP)
Dari buku dan hasil penelitian yang dibaca akan dapat dikemukakan teori-teori yang berkenaan dengan variabel
yang diteliti. Seperti telah dikemukakan, deskripsi teori berisi tentang, definisi terhadap masing-masing variabel yang
diteliti, uraian rinci tentang ruang lingkup setiap variabel, dan kedudukan antara variabel satu dengan yang lain dalam
konteks penelitian itu.
4. Analisis Kritis terhadap Teori dan Hasil Penelitian
Pada tahap ini peneliti melakukan analisis secara kritis terhadap teori-teori dan hasil
penelitian yang telah dikemukakan. Dalam analisis ini peneliti akan mengkaji apakah teori-teori
dan hasil penelitian yang telah ditetapkan itu betul-betul sesuai dengan obyek penelitian atau
tidak, karena sering terjadi teori-teori yang berasal dari luar tidak sesuai untuk penelitian di
dalam negeri.
5. Analisis Komparatif Terhadap Teori dan Hasil Penelitian
Analisis komparatif dilakukan dengan cara membandingkan antara teori satu dengan teori
yang lain, dan hasil penelitian satu dengan penelitian yang lain. Melalui analisis komparatif ini
peneiiti dapat memadukan antara teori satu dengan teori yang lain, atau mereduksi bila
dipandang terlalu luas.
6. Sintesa kesimpulan
Melalui analisis kritis dan komparatif terhadap teori-teori dan hasil penelitian yang relevan
dengan semua variabel yang diteliti, selanjutnya peneliti dapat rnelakukan sintesa atau
kesirnpulan sernentara. Perpaduan sintesa antara variabel satu dengan variabel yang lain akan
menghasilkan kerangka berfikir yang selanjutnya dapat digunakan untuk merumuskan hipotesis.
C. Hipotesis
Perumusan hipotesis Penelitian merupakan Langkah ketiga dalam Penelitian.
Setelah Peneliti mengemukakan landasan teori dan kerangka berfikir.
Hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap rumusan masalah
Penelitian, oleh karena itu rumusan masalah Penelitian biasanya disusun dalam
bentuk kalimat pertanyaan. Dikatakan sementara karena jawaban yang diberikan
baru didasarkan pada teori yang relevan, belum didasarkan pada fakta-fakta
empiris yang diperoleh melalui pengumpulan data.
Tujuan dari hipotesis diantaranya, Memberikan penjelasan sementara tentang
gejala, Memudahkan perluasan pengetahuan dalam bidang tertentu, memberikan
pernyataan hubungan yang dapat diuji, memberikan arah penelitian, memberikan
kerangka untuk laporan penelitian.
Hipotesis dibedakan menjadi 2 jenis yaitu hipotesis penelitian dan hipotesis
statistik. Hipotesis penelitian adalah dugaan sementara atas suatu hal yang
berbentuk pernyataan. Sedangkan hipotesis statistik adalah dugaan sementara
atas kumpulan data statistik dari penelitian.
Terdapat 2 macam hipotesis Penelitian yaitu, hipotesis kerja dan hipotesis nol.
Hipotesis kerja dinyatakan dalam kalimat positif dan hipotesis nol dinyatakan dalam
kalimat negatif.
Dalam hipotesis statistik juga terdapat 2 macam hipotesis yaitu, hipotesis kerja
dan hipotesis alternatif (hipotesis alternatif tidak sama dengan hipotesis kerja).
dalam kegiatan Penelitian yang diuji lebih dulu adalah hipotesis Penelitian
terutama pada hipotesis kerjanya, bila Penelitian tersebut akan membuktikan
apakah hasil pengujian hipotesis itu signifikan atau tidak maka diperlukan hipotesis
statistik. Teknik yang digunakan untuk menguji hipotesis statistis adalah statistik
inferensial. Statistik yang bekerja dengan data populasi adalah statistik deskriptif.
Dalam hipotesis statistik, yang diuji adalah hipotesis nol, karena Peneliti tidak
berharap ada perbedaan antara sampel dan populasi atau statistik dan parameter.
1. Bentuk-bentuk Hipotesis
Bentuk-bentuk hipotesis sangat berkaitan dengan rumusan masalah penelitian. Terdapat
tiga bentuk-bentuk dalam hipotesis yaitu :
a. Hipotesis deskriptif, merupakan jawaban sementara terhadap masalah deskriptif yang
berkenaan dengan variabel mandiri baik satu variabel atau lebih.
Contoh 1:
Rumusan masalah deskriptif : Berapa daya tahan lampu pijar merk X?
Hipotesis deskriptif :
Ho : Daya tahan lampu pijar merk X adalah 600 jam.
Ha : Daya tahan lampu pijar merk X tidak sama dengan 600 jam.
Hipotesis Statistik :
Ho : = 600
Ha : 600
[Link] Komparatif, merupakan jawaban sementara terhadap rumusan
masalah komparatif (perbandingan). Membandingkan dua populasi/sampel yang
berbeda namun dalam variabel yang sama atau membandingkan dua kejadian yang
berbeda waktu namun variabel sama.
Contoh 1:
Rumusan masalah komparatif : Bagaimanakah prestasi belajar mahasiswa
jurusan matematika dengan prestasi belajar mahasiswa jurusan ilmu komputer?
Hipotesis deskriptif :
Ho : Tidak terdapat perbedaan prestasi belajar mahasiswa jurusan matematika
dengan prestasi belajar mahasiswa jurusan ilmu komputer
Ha : Terdapat perbedaan prestasi belajar mahasiswa jurusan matematika dengan
prestasi belajar mahasiswa jurusan ilmu computer.
Hipotesis Statistik :
Ho : 1 = 2
Ha : 1 2
C. Hipotesis Asosiatif, merupakan jawaban sementara terhadap rumusan
masalahyang menanyakan hubungan antara dua atau lebih variabel.
Contoh 1:
Rumusan masalah asosiatif : Adakah hubungan antara motivasi belajar
dengan prestasi belajar?
Hipotesis deskriptif :
Ho : Tidak terdapat hubungan antara motivasi belajar dengan prestasi
belajar.
Ha : Terdapat hubungan antara motivasi belajar dengan prestasi belajar.
Hipotesis Statistik :
Ho : = 0
Ha : 0
2. Paradigma Penelitian, Rumusan Masalah dan Hipotesis
Pada bab 2 telah disampaikan paradigma Penelitian, dengan paradigma
Penelitian, peneliti dapat menggunakan sebagai pemandu untuk merumuskan
masalah, hipotesis, dan selanjutnya dapat digunakan untuk panduan dalam
pengumpulan data dan analisis.
pada setiap paradigma Penelitian minimal terdapat satu rumusan masalah
Penelitian, yaitu masalah deskriptif. Berikut contoh soal judul Penelitian, paradigma,
rumusan masalah, dan hipotesis Penelitian.
a. Judul Penelitian :
Hubungan antara gaya kepemimpinan manager perusahaan dengan
prestasi kerja karyawan. (gaya kepemimpinan adalah variabel independen
(X) dan prestasi kerja variabel dependen (Y).
B. Paradigma Penelitiannya, adalah :
1
C. Rumusan Masalah
1. Seberapa baik gaya kepemimpinan manager yang ditampilkan? (bagaimana X?);
2. Seberapa baik prestasi kerja karyawan? (adakah hubungan antara X dan Y?) a dan
b adalah masalah deskriptif.
3. Adakah hubungan yang positif dan signifikan antara gaya kepemimpinan manager
dengan prestasi kerja karyawan? (adakah hubungan antara X dan Y?). Butir ini
merupakan masalah asosiatif.
4. Bila sampel penelitiannya golongan I, II, dan III, maka rumusan masalah
komparatifnya adalah :
1. Adakah perbedaan persepsi antara karyawan golongan I, II, dan III tentang
gaya kepemimpinan manager?
2. Adakah perbedaan persepsi antara pegawai golongan I, II, dan III tentang
prestasi kerja karyawan?
D. Rumusan hipotesis Penelitian
a) Gaya kepemimpinan yang ditampilkan manager (X) ditampilkan kurang baik, dan nilainya paling
tinggi 60% dari kriteria yang diharapkan.
b) Prestasi kerja karyawan (Y) kurang memuaskan, dan nilainya paling tinggi 65.
c) Terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara gaya kepemimpinan manager dengan prestasi
kerja karyawan, artinya makin baik kepemimpinan manager, maka akan semakin baik prestasi
kerja karyawan.
d) Terdapat perbedaan persepsi tentang gaya kepemimpinan antara Golongan I, II, dan III.
e) Terdapat perbedaan persepsi tentang prestasi kerja antara Golongan I, II, dan III
Untuk bisa diuji dengan statistik, maka data yang didapatkan harus diangkakan. Untuk bisa di
angkakan, maka diperlukan instrument yang memiliki skala pengukuran. Untuk judul diatas ada dua
instrumen yaitu instrumen gaya kepemimpinan dan prestasi kerja pegawai.
untuk judul penelitian yang berisi dua variabel independen atau lebih, rumusan masalah penelitiannya
akan lebih banyak, demikian juga rumusan hipotesisnya (lihat bagian paradigma penelitian) dan dibagian
analisis data.
3. Karakteristik Hipotesis yang baik
a) Merupakan dugaan terhadap keadaan variabel mandiri, perbandingan keadaan variabel pada
berbagai sampel, dan merupakan dugaan tentang hubungan antara 2 variabel/lebih.
b) Dinyatakan dalam kalimat yang jelas, sehingga tidak menimbulkan berbagai penafsiran
c) Dapat diuji dengan data yang dikumpulkan dengan metode-metode ilmiah.