1.
PENDAHULUAN
Eks Rumah Sakit Kadipolo merupakan rumah sakit tertua ketiga di Kota Surakarta setelah RS
Jebres dan RS Mengkubumen. Rumah sakit ini didirikan pada tahun 1915 dengan fungsi awal sebagai
apotek yang dikelola oleh Dr. Radjiman dengan di atasi langsung oleh Raja Keraton Surakarta yaitu
Sri Susuhan Pakubuwono X (1893-1939). Pada tahun yang sama Dr. Radjiman mengusulkan untuk
mendirikan rumah sakit yang pada awalnya hanya dikhususkan untuk para abdi dalem, tetapi lambat
laun dibuka untuk umum dikarenakan kondisi masyarakat yang pada saat itu membutuhkan
pertolongan lebih. Hingga pada tahun 1960, pihak keraton menyerahkan sepenuhnya hak bangunan
dan tenaga kerja kepada Pemerintah Daerah Surakarta karena masalah finansial, selama pengelolaan
Pemerintah Daerah Surakarta hanya mampu mengelola hingga tahun 1977 dan mengakibatkan
bangunan rumah sakit kosong selama tiga tahun. Kemudian pada tahun 1977-1982 rumah sakit diubah
fungsi sebagai Sekolah Perawat Kesehatan (SPK), tetapi perubahan fungsi tersebut hanya bertahan
sebentar mengharuskan bangunan kosong lagi pada tahun 1982-1985, yang kemduian pada tahun 1985
fungsi bangunan digantikan lagi dengan fungsi yang baru yaitu sebagai markas klub sepak bola Arseto.
Perubahan fungsi tersebut bertahan cukup lama, tetapi setelah klub sepak bola Arseto terpaksa bubar
pada tahun 1998, bangunan rumah sakit menjadi tidak terawat dan tidak berpenghuni hingga saat ini.
Keberadaan bangunan sebuah bangunan heritage sangat penting dalam keberlanjutan
sebuah kota yang berkembang. Namun, terkadang keberadaan bangunan tersebut dikorbankan untuk
digantikan dengan bangunan baru yang dinilai lebih modern dan kekinian, alasan penggantian
bangunan tersebut seringkali dengan dasar bangunan sudah tidak layak pakai dan tidak produktif.
Tetapi hal-hal tersebut sekarang sudah dibatasi oleh pemerintah dengan adanya peraturan yang
mengatur tentang keberadaan bangunan cagar budaya sehingga hanya menyisakan pilihan untuk
bangunan menjadi terbengkalai. Pemanfaatan kembali bangunan cagar budaya yang sudah terbengkalai
seperti eks Rumah Sakit Kadipolo menjadi sebuah bangunan yang hidup kembali secara fungsi yang
bisa berguna untuk masyarakat umum merupakan sebuah cara untuk menciptakan image baru yang
positif dari bangunan eks Rumah Sakit Kadipolo yang sudah lama terbengkalai. Penghidupan bangunan
dengan fungsi baru yaitu creative hub menjadi salah satu cara untuk bisa membantu lingkungan sekitar
serta masyarakat kota mengembangkan kualitas hidup terutama melalui ekonomi kreatif.
Berdasarkan Surat Keputusan Walikota Surakarta No.646/1-2/1/2013 tentang Bangunan Cagar
Budaya (BCB) yang berada di Kota Surakarta yang salah satu isinya menyebutkan bahwa eks Rumah
Sakit Kadipolo merupakan salah satu bangunan cagar budaya. Sehingga dalam perlu diambil langkah
yang strategis sebagai bentuk preservasi bangunan cagar budaya tersebut. Pengambilan langkah
preservasi ini tidak hanya sekedar membiarkan bangunan tetap berdiri sebagai mana aslinya, tetapi
juga perlu langkah yang terkait dengan keberlanjutannya. Seperti yang diatur pada pasal 83 UU RI
6
1. PENDAHULUAN
Eks Rumah Sakit Kadipolo merupakan rumah sakit tertua ketiga di Kota Surakarta setelah RS
Jebres dan RS Mengkubumen. Rumah sakit ini didirikan pada tahun 1915 dengan fungsi awal sebagai
apotek yang dikelola oleh Dr. Radjiman dengan di atasi langsung oleh Raja Keraton Surakarta yaitu
Sri Susuhan Pakubuwono X (1893-1939). Pada tahun yang sama Dr. Radjiman mengusulkan untuk
mendirikan rumah sakit yang pada awalnya hanya dikhususkan untuk para abdi dalem, tetapi lambat
laun dibuka untuk umum dikarenakan kondisi masyarakat yang pada saat itu membutuhkan
pertolongan lebih. Hingga pada tahun 1960, pihak keraton menyerahkan sepenuhnya hak bangunan
dan tenaga kerja kepada Pemerintah Daerah Surakarta karena masalah finansial, selama pengelolaan
Pemerintah Daerah Surakarta hanya mampu mengelola hingga tahun 1977 dan mengakibatkan
bangunan rumah sakit kosong selama tiga tahun. Kemudian pada tahun 1977-1982 rumah sakit diubah
fungsi sebagai Sekolah Perawat Kesehatan (SPK), tetapi perubahan fungsi tersebut hanya bertahan
sebentar mengharuskan bangunan kosong lagi pada tahun 1982-1985, yang kemduian pada tahun 1985
fungsi bangunan digantikan lagi dengan fungsi yang baru yaitu sebagai markas klub sepak bola Arseto.
Perubahan fungsi tersebut bertahan cukup lama, tetapi setelah klub sepak bola Arseto terpaksa bubar
pada tahun 1998, bangunan rumah sakit menjadi tidak terawat dan tidak berpenghuni hingga saat ini.
Keberadaan bangunan sebuah bangunan heritage sangat penting dalam keberlanjutan
sebuah kota yang berkembang. Namun, terkadang keberadaan bangunan tersebut dikorbankan untuk
digantikan dengan bangunan baru yang dinilai lebih modern dan kekinian, alasan penggantian
bangunan tersebut seringkali dengan dasar bangunan sudah tidak layak pakai dan tidak produktif.
Tetapi hal-hal tersebut sekarang sudah dibatasi oleh pemerintah dengan adanya peraturan yang
mengatur tentang keberadaan bangunan cagar budaya sehingga hanya menyisakan pilihan untuk
bangunan menjadi terbengkalai. Pemanfaatan kembali bangunan cagar budaya yang sudah terbengkalai
seperti eks Rumah Sakit Kadipolo menjadi sebuah bangunan yang hidup kembali secara fungsi yang
bisa berguna untuk masyarakat umum merupakan sebuah cara untuk menciptakan image baru yang
positif dari bangunan eks Rumah Sakit Kadipolo yang sudah lama terbengkalai. Penghidupan bangunan
dengan fungsi baru yaitu creative hub menjadi salah satu cara untuk bisa membantu lingkungan sekitar
serta masyarakat kota mengembangkan kualitas hidup terutama melalui ekonomi kreatif.
Berdasarkan Surat Keputusan Walikota Surakarta No.646/1-2/1/2013 tentang Bangunan Cagar
Budaya (BCB) yang berada di Kota Surakarta yang salah satu isinya menyebutkan bahwa eks Rumah
Sakit Kadipolo merupakan salah satu bangunan cagar budaya. Sehingga dalam perlu diambil langkah
yang strategis sebagai bentuk preservasi bangunan cagar budaya tersebut. Pengambilan langkah
preservasi ini tidak hanya sekedar membiarkan bangunan tetap berdiri sebagai mana aslinya, tetapi
juga perlu langkah yang terkait dengan keberlanjutannya. Seperti yang diatur pada pasal 83 UU RI
6
1. PENDAHULUAN
Eks Rumah Sakit Kadipolo merupakan rumah sakit tertua ketiga di Kota Surakarta setelah RS
Jebres dan RS Mengkubumen. Rumah sakit ini didirikan pada tahun 1915 dengan fungsi awal sebagai
apotek yang dikelola oleh Dr. Radjiman dengan di atasi langsung oleh Raja Keraton Surakarta yaitu
Sri Susuhan Pakubuwono X (1893-1939). Pada tahun yang sama Dr. Radjiman mengusulkan untuk
mendirikan rumah sakit yang pada awalnya hanya dikhususkan untuk para abdi dalem, tetapi lambat
laun dibuka untuk umum dikarenakan kondisi masyarakat yang pada saat itu membutuhkan
pertolongan lebih. Hingga pada tahun 1960, pihak keraton menyerahkan sepenuhnya hak bangunan
dan tenaga kerja kepada Pemerintah Daerah Surakarta karena masalah finansial, selama pengelolaan
Pemerintah Daerah Surakarta hanya mampu mengelola hingga tahun 1977 dan mengakibatkan
bangunan rumah sakit kosong selama tiga tahun. Kemudian pada tahun 1977-1982 rumah sakit diubah
fungsi sebagai Sekolah Perawat Kesehatan (SPK), tetapi perubahan fungsi tersebut hanya bertahan
sebentar mengharuskan bangunan kosong lagi pada tahun 1982-1985, yang kemduian pada tahun 1985
fungsi bangunan digantikan lagi dengan fungsi yang baru yaitu sebagai markas klub sepak bola Arseto.
Perubahan fungsi tersebut bertahan cukup lama, tetapi setelah klub sepak bola Arseto terpaksa bubar
pada tahun 1998, bangunan rumah sakit menjadi tidak terawat dan tidak berpenghuni hingga saat ini.
Keberadaan bangunan sebuah bangunan heritage sangat penting dalam keberlanjutan
sebuah kota yang berkembang. Namun, terkadang keberadaan bangunan tersebut dikorbankan untuk
digantikan dengan bangunan baru yang dinilai lebih modern dan kekinian, alasan penggantian
bangunan tersebut seringkali dengan dasar bangunan sudah tidak layak pakai dan tidak produktif.
Tetapi hal-hal tersebut sekarang sudah dibatasi oleh pemerintah dengan adanya peraturan yang
mengatur tentang keberadaan bangunan cagar budaya sehingga hanya menyisakan pilihan untuk
bangunan menjadi terbengkalai. Pemanfaatan kembali bangunan cagar budaya yang sudah terbengkalai
seperti eks Rumah Sakit Kadipolo menjadi sebuah bangunan yang hidup kembali secara fungsi yang
bisa berguna untuk masyarakat umum merupakan sebuah cara untuk menciptakan image baru yang
positif dari bangunan eks Rumah Sakit Kadipolo yang sudah lama terbengkalai. Penghidupan bangunan
dengan fungsi baru yaitu creative hub menjadi salah satu cara untuk bisa membantu lingkungan sekitar
serta masyarakat kota mengembangkan kualitas hidup terutama melalui ekonomi kreatif.
Berdasarkan Surat Keputusan Walikota Surakarta No.646/1-2/1/2013 tentang Bangunan Cagar
Budaya (BCB) yang berada di Kota Surakarta yang salah satu isinya menyebutkan bahwa eks Rumah
Sakit Kadipolo merupakan salah satu bangunan cagar budaya. Sehingga dalam perlu diambil langkah
yang strategis sebagai bentuk preservasi bangunan cagar budaya tersebut. Pengambilan langkah
preservasi ini tidak hanya sekedar membiarkan bangunan tetap berdiri sebagai mana aslinya, tetapi
juga perlu langkah yang terkait dengan keberlanjutannya. Seperti yang diatur pada pasal 83 UU RI
6
1. PENDAHULUAN
Eks Rumah Sakit Kadipolo merupakan rumah sakit tertua ketiga di Kota Surakarta setelah RS
Jebres dan RS Mengkubumen. Rumah sakit ini didirikan pada tahun 1915 dengan fungsi awal sebagai
apotek yang dikelola oleh Dr. Radjiman dengan di atasi langsung oleh Raja Keraton Surakarta yaitu
Sri Susuhan Pakubuwono X (1893-1939). Pada tahun yang sama Dr. Radjiman mengusulkan untuk
mendirikan rumah sakit yang pada awalnya hanya dikhususkan untuk para abdi dalem, tetapi lambat
laun dibuka untuk umum dikarenakan kondisi masyarakat yang pada saat itu membutuhkan
pertolongan lebih. Hingga pada tahun 1960, pihak keraton menyerahkan sepenuhnya hak bangunan
dan tenaga kerja kepada Pemerintah Daerah Surakarta karena masalah finansial, selama pengelolaan
Pemerintah Daerah Surakarta hanya mampu mengelola hingga tahun 1977 dan mengakibatkan
bangunan rumah sakit kosong selama tiga tahun. Kemudian pada tahun 1977-1982 rumah sakit diubah
fungsi sebagai Sekolah Perawat Kesehatan (SPK), tetapi perubahan fungsi tersebut hanya bertahan
sebentar mengharuskan bangunan kosong lagi pada tahun 1982-1985, yang kemduian pada tahun 1985
fungsi bangunan digantikan lagi dengan fungsi yang baru yaitu sebagai markas klub sepak bola Arseto.
Perubahan fungsi tersebut bertahan cukup lama, tetapi setelah klub sepak bola Arseto terpaksa bubar
pada tahun 1998, bangunan rumah sakit menjadi tidak terawat dan tidak berpenghuni hingga saat ini.
Keberadaan bangunan sebuah bangunan heritage sangat penting dalam keberlanjutan
sebuah kota yang berkembang. Namun, terkadang keberadaan bangunan tersebut dikorbankan untuk
digantikan dengan bangunan baru yang dinilai lebih modern dan kekinian, alasan penggantian
bangunan tersebut seringkali dengan dasar bangunan sudah tidak layak pakai dan tidak produktif.
Tetapi hal-hal tersebut sekarang sudah dibatasi oleh pemerintah dengan adanya peraturan yang
mengatur tentang keberadaan bangunan cagar budaya sehingga hanya menyisakan pilihan untuk
bangunan menjadi terbengkalai. Pemanfaatan kembali bangunan cagar budaya yang sudah terbengkalai
seperti eks Rumah Sakit Kadipolo menjadi sebuah bangunan yang hidup kembali secara fungsi yang
bisa berguna untuk masyarakat umum merupakan sebuah cara untuk menciptakan image baru yang
positif dari bangunan eks Rumah Sakit Kadipolo yang sudah lama terbengkalai. Penghidupan bangunan
dengan fungsi baru yaitu creative hub menjadi salah satu cara untuk bisa membantu lingkungan sekitar
serta masyarakat kota mengembangkan kualitas hidup terutama melalui ekonomi kreatif.
Berdasarkan Surat Keputusan Walikota Surakarta No.646/1-2/1/2013 tentang Bangunan Cagar
Budaya (BCB) yang berada di Kota Surakarta yang salah satu isinya menyebutkan bahwa eks Rumah
Sakit Kadipolo merupakan salah satu bangunan cagar budaya. Sehingga dalam perlu diambil langkah
yang strategis sebagai bentuk preservasi bangunan cagar budaya tersebut. Pengambilan langkah
preservasi ini tidak hanya sekedar membiarkan bangunan tetap berdiri sebagai mana aslinya, tetapi
juga perlu langkah yang terkait dengan keberlanjutannya. Seperti yang diatur pada pasal 83 UU RI
6
1. PENDAHULUAN
Eks Rumah Sakit Kadipolo merupakan rumah sakit tertua ketiga di Kota Surakarta setelah RS
Jebres dan RS Mengkubumen. Rumah sakit ini didirikan pada tahun 1915 dengan fungsi awal sebagai
apotek yang dikelola oleh Dr. Radjiman dengan di atasi langsung oleh Raja Keraton Surakarta yaitu
Sri Susuhan Pakubuwono X (1893-1939). Pada tahun yang sama Dr. Radjiman mengusulkan untuk
mendirikan rumah sakit yang pada awalnya hanya dikhususkan untuk para abdi dalem, tetapi lambat
laun dibuka untuk umum dikarenakan kondisi masyarakat yang pada saat itu membutuhkan
pertolongan lebih. Hingga pada tahun 1960, pihak keraton menyerahkan sepenuhnya hak bangunan
dan tenaga kerja kepada Pemerintah Daerah Surakarta karena masalah finansial, selama pengelolaan
Pemerintah Daerah Surakarta hanya mampu mengelola hingga tahun 1977 dan mengakibatkan
bangunan rumah sakit kosong selama tiga tahun. Kemudian pada tahun 1977-1982 rumah sakit diubah
fungsi sebagai Sekolah Perawat Kesehatan (SPK), tetapi perubahan fungsi tersebut hanya bertahan
sebentar mengharuskan bangunan kosong lagi pada tahun 1982-1985, yang kemduian pada tahun 1985
fungsi bangunan digantikan lagi dengan fungsi yang baru yaitu sebagai markas klub sepak bola Arseto.
Perubahan fungsi tersebut bertahan cukup lama, tetapi setelah klub sepak bola Arseto terpaksa bubar
pada tahun 1998, bangunan rumah sakit menjadi tidak terawat dan tidak berpenghuni hingga saat ini.
Keberadaan bangunan sebuah bangunan heritage sangat penting dalam keberlanjutan
sebuah kota yang berkembang. Namun, terkadang keberadaan bangunan tersebut dikorbankan untuk
digantikan dengan bangunan baru yang dinilai lebih modern dan kekinian, alasan penggantian
bangunan tersebut seringkali dengan dasar bangunan sudah tidak layak pakai dan tidak produktif.
Tetapi hal-hal tersebut sekarang sudah dibatasi oleh pemerintah dengan adanya peraturan yang
mengatur tentang keberadaan bangunan cagar budaya sehingga hanya menyisakan pilihan untuk
bangunan menjadi terbengkalai. Pemanfaatan kembali bangunan cagar budaya yang sudah terbengkalai
seperti eks Rumah Sakit Kadipolo menjadi sebuah bangunan yang hidup kembali secara fungsi yang
bisa berguna untuk masyarakat umum merupakan sebuah cara untuk menciptakan image baru yang
positif dari bangunan eks Rumah Sakit Kadipolo yang sudah lama terbengkalai. Penghidupan bangunan
dengan fungsi baru yaitu creative hub menjadi salah satu cara untuk bisa membantu lingkungan sekitar
serta masyarakat kota mengembangkan kualitas hidup terutama melalui ekonomi kreatif.
Berdasarkan Surat Keputusan Walikota Surakarta No.646/1-2/1/2013 tentang Bangunan Cagar
Budaya (BCB) yang berada di Kota Surakarta yang salah satu isinya menyebutkan bahwa eks Rumah
Sakit Kadipolo merupakan salah satu bangunan cagar budaya. Sehingga dalam perlu diambil langkah
yang strategis sebagai bentuk preservasi bangunan cagar budaya tersebut. Pengambilan langkah
preservasi ini tidak hanya sekedar membiarkan bangunan tetap berdiri sebagai mana aslinya, tetapi
juga perlu langkah yang terkait dengan keberlanjutannya. Seperti yang diatur pada pasal 83 UU RI
6
1. PENDAHULUAN
Eks Rumah Sakit Kadipolo merupakan rumah sakit tertua ketiga di Kota Surakarta setelah RS
Jebres dan RS Mengkubumen. Rumah sakit ini didirikan pada tahun 1915 dengan fungsi awal sebagai
apotek yang dikelola oleh Dr. Radjiman dengan di atasi langsung oleh Raja Keraton Surakarta yaitu
Sri Susuhan Pakubuwono X (1893-1939). Pada tahun yang sama Dr. Radjiman mengusulkan untuk
mendirikan rumah sakit yang pada awalnya hanya dikhususkan untuk para abdi dalem, tetapi lambat
laun dibuka untuk umum dikarenakan kondisi masyarakat yang pada saat itu membutuhkan
pertolongan lebih. Hingga pada tahun 1960, pihak keraton menyerahkan sepenuhnya hak bangunan
dan tenaga kerja kepada Pemerintah Daerah Surakarta karena masalah finansial, selama pengelolaan
Pemerintah Daerah Surakarta hanya mampu mengelola hingga tahun 1977 dan mengakibatkan
bangunan rumah sakit kosong selama tiga tahun. Kemudian pada tahun 1977-1982 rumah sakit diubah
fungsi sebagai Sekolah Perawat Kesehatan (SPK), tetapi perubahan fungsi tersebut hanya bertahan
sebentar mengharuskan bangunan kosong lagi pada tahun 1982-1985, yang kemduian pada tahun 1985
fungsi bangunan digantikan lagi dengan fungsi yang baru yaitu sebagai markas klub sepak bola Arseto.
Perubahan fungsi tersebut bertahan cukup lama, tetapi setelah klub sepak bola Arseto terpaksa bubar
pada tahun 1998, bangunan rumah sakit menjadi tidak terawat dan tidak berpenghuni hingga saat ini.
Keberadaan bangunan sebuah bangunan heritage sangat penting dalam keberlanjutan
sebuah kota yang berkembang. Namun, terkadang keberadaan bangunan tersebut dikorbankan untuk
digantikan dengan bangunan baru yang dinilai lebih modern dan kekinian, alasan penggantian
bangunan tersebut seringkali dengan dasar bangunan sudah tidak layak pakai dan tidak produktif.
Tetapi hal-hal tersebut sekarang sudah dibatasi oleh pemerintah dengan adanya peraturan yang
mengatur tentang keberadaan bangunan cagar budaya sehingga hanya menyisakan pilihan untuk
bangunan menjadi terbengkalai. Pemanfaatan kembali bangunan cagar budaya yang sudah terbengkalai
seperti eks Rumah Sakit Kadipolo menjadi sebuah bangunan yang hidup kembali secara fungsi yang
bisa berguna untuk masyarakat umum merupakan sebuah cara untuk menciptakan image baru yang
positif dari bangunan eks Rumah Sakit Kadipolo yang sudah lama terbengkalai. Penghidupan bangunan
dengan fungsi baru yaitu creative hub menjadi salah satu cara untuk bisa membantu lingkungan sekitar
serta masyarakat kota mengembangkan kualitas hidup terutama melalui ekonomi kreatif.
Berdasarkan Surat Keputusan Walikota Surakarta No.646/1-2/1/2013 tentang Bangunan Cagar
Budaya (BCB) yang berada di Kota Surakarta yang salah satu isinya menyebutkan bahwa eks Rumah
Sakit Kadipolo merupakan salah satu bangunan cagar budaya. Sehingga dalam perlu diambil langkah
yang strategis sebagai bentuk preservasi bangunan cagar budaya tersebut. Pengambilan langkah
preservasi ini tidak hanya sekedar membiarkan bangunan tetap berdiri sebagai mana aslinya, tetapi
juga perlu langkah yang terkait dengan keberlanjutannya. Seperti yang diatur pada pasal 83 UU RI