0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
2 tayangan15 halaman

Bab Ii

Dokumen ini membahas tentang motivasi belajar, termasuk pengertian, macam-macam, fungsi, dan indikator motivasi belajar. Selain itu, juga dijelaskan tentang pembelajaran pengelasan, yang mencakup aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik, serta metode pembelajaran yang efektif seperti metode demonstrasi. Keseluruhan informasi bertujuan untuk meningkatkan motivasi dan efektivitas belajar siswa dalam mata pelajaran pengelasan.

Diunggah oleh

Dhiren Awdiassoleh
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
2 tayangan15 halaman

Bab Ii

Dokumen ini membahas tentang motivasi belajar, termasuk pengertian, macam-macam, fungsi, dan indikator motivasi belajar. Selain itu, juga dijelaskan tentang pembelajaran pengelasan, yang mencakup aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik, serta metode pembelajaran yang efektif seperti metode demonstrasi. Keseluruhan informasi bertujuan untuk meningkatkan motivasi dan efektivitas belajar siswa dalam mata pelajaran pengelasan.

Diunggah oleh

Dhiren Awdiassoleh
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. Deskripsi Teoritik

1. Motivasi Belajar

a. Pengertian Motivasi Belajar

Pengertian Motivasi Menurut Hamzah B. Uno (2011:1) motivasi


merupakan dorongan yang terdapat dalam diri seseorang untuk berusaha
mengadakan perubahan tingkah laku yang lebih baik dalam memenuhi
kebutuhannya. Dengan demikian, motivasi mengubah tingkah laku seorang
individu dari yang belum baik menjadi lebih baik lagi, sehingga kebutuhan
yang diperlukan akan terpenuhi. Seorang individu dalam melakukan
aktivitasnya tidak lagi bergantung pada orang lain tetapi dorongan dari diri
sendiri.

Selain itu menurut Sugihartono (2013:20) mengartikan motivasi


sebagai suatu kondisi yang menyebabkan atau menimbulkan perilaku tertentu
dan yang memberi arah dan ketahanan pada tingkah laku tersebut.
Berdasarkan pendapat yang dikemukakan oleh Sugihartono maka motivasi
dapat menjadi pedoman seseorang untuk ketahanan pada tingkah laku tertentu.

Menurut Djamarah (2008:16) Motivasi adalah suatu perubahan energi


di dalam pribadi seseorang yang ditandai dengan timbulnyaafektif (perasaan)
dan reaksi untuk mencapai tujuan.

Berdasarkan pengertian motivasi menurut beberapa ahli dapat


disimpulkan bahwa motivasi merupakan dorongan seseorang untuk
melakukan sesuatu yang akan dicapainya dan menjadi pedoman seseorang ke
arah yang lebih baik dan menjadi ketahanan tingkah laku seseorang.

Menurut Hamdani (2011) belajar adalah suatu proses usaha yang


dilakukan seseorang untuk memperoleh perubahan tingkah laku yang baru

1
secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi
dengan lingkungannya.

Selain itu menurut pendapat Sugihartono (2013:74) yang


mengemukakan belajar merupakan suatu proses perubahan tingkah laku
sebagai hasil interaksi individu dengan lingkungannya dalam memenuhi
kebutuhan hidupnya.

Kemudian menurut Hamalik (2015:37) belajar adalah memperoleh


pengetahuan, belajar adalah latihan-latihan pembentukan kebiasaan secara
otomatis dan seterusnya.

Hal tersebut diperkuat menurut pendapat Irham dkk (2013:116) belajar


merupakan sebuah proses yang dilakukan individu untuk memperoleh
pengetahuan dan pengalaman baru yang diwujudkan dalam bentuk perubahan
tingkah laku yang relatif permanen.

Dari beberapa pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa belajar


ternyata tidak hanya mencakup bagaimana seseorang mengubah tingkah laku
dengan lingkungannya tetapi lebih luas lagi yaitu dapat meningkatkan
pengetahuan, keterampilan dan nilai sikap seseorang menjadi tinggi. Belajar
dalam hal ini dapat mengubah seseorang dari awalnya tidak mengetahui
menjadi tahu dengan nilai-nilai sikap yang terdapat di lingkungannya sehingga
dapat menjadi yang lebih baik dengan memiliki pengetahuan dan keterampilan
yang mendukung seseorang untuk mencapai tujuan yang diinginkan

Pengertian Motivasi Belajar Menurut pendapat A.M Sardiman


(2011:75) motivasi belajar dikatakan sebagai keseluruhan daya penggerak di
dalam diri siswa yang menimbulkan kegiatan belajar, yang menjamin
kelangsungan dari kegiatan belajar dan yang memberikan arah pada kegiatan
belajar, sehingga tujuan yang dikehendaki oleh subjek belajar itu dapat
tercapai.

Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa motivasi belajar


adalah dorongan baik dari internal maupun eksternal seseorang untuk
2
melakukan aktivitas belajar. Seseorang ketika sudah melakukan aktivitas
belajar dengan motivasi maka akan lebih mudah dalam melakukannya,
sehingga akan lebih mudah untuk mencapai tujuannya.

b. Macam-macam Motivasi Belajar

Macam-macam motivasi belajar terdapat dua motivasi, yaitu motivasi


intrinsik dan motivasi ekstrinsik, berikut uraiannya:

a) Motivasi Intrinsik

Menurut A.M. Sardiman (2007: 89) motivasi intrinsik


adalah motif-motif yang menjadi aktif atau berfungsinya tidak
perlu dirangsang dari luar karena dalam diri setiap individu
sudah ada dorongan untuk melakukan sesuatu. Seorang siswa
yang memiliki motivasi intrinsik pasti akan rajin dalam belajar,
karena tidak memerlukan dorongan dari luar. Siswa melakukan
belajar karena ingin mencapai tujuan untuk mendapatkan
pengetahuan, nilai dan keterampilan. Dalam proses belajar,
siswa yang mempunyai motivasi intrinsik dapat terlihat dari
belajarnya. Aktivitas belajar dimulai dan diteruskan
berdasarkan suatu dorongan yang ada di dalam dirinya dan
akan terkait dengan belajarnya. Seorang siswa merasa butuh
dan mempunyai keinginan untuk belajar sehinggadapat
mencapai tujuan belajar, bukan karena hanya ingin suatu pujian
atau ganjaran.

b) Motivasi Ekstrinsik

Menurut A.M Sardiman (2007: 90) adalah motif– motif


yang aktif dan berfungsinya karena adanya perangsang dari
luar. Motivasi ekstrinsik apabila dilihat dari segi tujuannya,
tidak secara langsung bergayut pada esensi yang dilakukan.
Motivasi estrinsik dapat juga dikatakan sebagai bentuk
motivasi di dalam aktivitas belajar yang dimulai dan ditentukan
3
berdasarkan dorongan dari luar. Kesimpulannya, bahwa
dorongan ekstrinsik dapat meningkatkan motivasi belajar
seseorang

c. Fungsi Motivasi Belajar

Menurut A. M. Sardiman (2011: 85) fungsi motivasi belajar, sebagai


berikut:

a) Mendorong manusia untuk berbuat, yaitu sebagai penggerak dari


setiap kegiatan yang akan dikerjakan.

b) Menentukan arah perbuatan, yaitu ke arah tujuan yang ingin


dicapai. Dengan demikian, motivasi dapat memberikan arah dan
kegiatan yang harus dikerjakan sesuai tujuannya.

c) Menyeleksi atau menentukan perbuatan-perbuatan yang harus


dikerjakan guna mencapai tujuan, dengan menyisikan perbuatan
yang tidak bermanfaat bagi tujuan.

Fungsi motivasi belajar menurut M. Ngalim Purwanto (2007: 72) yaitu


menggerakan, mengarahkan, dan menopang tingkah laku manusia dalam
aktivitas belajar. Berdasarkan pemaparan mengenai fungsi motivasi belajar
menurut beberapa ahli dapat disimpulkan bahwa fungsi motivasi belajar
adalah untuk menggerakan, mengarahkan, dan menopang seseorang untuk
mencapai tujuan pendidikan, khususnya siswa dalam mencapai tujuan belajar.
Seorang siswa yang memiliki motivasi belajar maka akan bergerak untuk lebih
maju karena dapat merasakan fungsi dari motivasi belajar.

d. Indikator Motivasi Belajar

Motivasi belajar dapat dilihat baik dari dalam maupun luar siswa
berdasarkan indikator atau ciri-ciri yang nampak pada siswa. Menurut
Sardiman (2011: 83) mengemukakan terdapat ciri-ciri motivasi belajar yaitu:
1) Tekun menghadapi tugas (dapat bekerja terus menerus dalam waktu yang
lama, tidak pernah berhenti sebelum selesai). 2) Ulet menghadapi kesulitan

4
(tidak lekas putus asa). 3) Minat terhadap bermacam-macam masalah (minat
untuk sukses). 4) Lebih senang bekerja mandiri. 5) Cepat bosan pada tugas-
tugas yang rutin (hal-hal yang bersifat mekanis, berulang-ulang begitu saja,
sehingga kurang kreatif). 6) Tidak mudah melepas hal yang diyakini. 7) Dapat
mempertahankan pendapatnya (kalau sudah yakin akan sesuatu). 8) Senang
mencari dan memecahkan soal-soal.

2. Motivasi Belajar Pengelasan

Menurut kurikulum dan silabus, mata pelajaran Pengelasan Las Listrik


(SMAW) memiliki beberapa kompetensi dasar yang harus dicapai oleh peserta
didik yaitu : a) Menerapkan teori pengelasan pelat dengan pelat berbagai
posisi menggunakan las busur manual. b) Melakukan pengelasan plat dengan
pelat pada sambungan sudut dan tumpul posisi di bawah tangan, posisi
mendatar beserta posisi vertikal dengan las busur manual (SMAW).
Setelah itu komptensi ini dianalisis untuk menentukan strategi
pembelajaran sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai. Berikut beberapa
teori belajar agar pesera didik motivasi belajarnya meningkat. Hal tersebut
dibedakan menjadi tiga kawasan atau aspek, yakni kawasan atau aspek :
a. Aspek Kognitif
Menurut Dr. Hamzah B. Uno (2011:35), Kawasan kognitif
adalah kawasan yang membahas tujuan pembelajaran berkenaan
dengan proses mental yang berawal dari tingkat pengetahuan
sampai ke tingkat yang lebih tinggi yakni evaluasi. Kawasan
kognitif ini terdiri atas 6 (enam) tingkatan yang secara hirarkis
berurut dari yang paling rendah (pengetahuan) sampai yang paling
tinggi (evaluasi). Kawasan kognitif ini terdiri dari 6 tingkatan yaitu
: pengetahuan (knowledge), pemahaman (comprehension),
penerapan (applikation), analisis (analysis), sintesis (synthesis),
evaluasi (evaluation).

5
Berdasarkan definisi diatas dapat disimpulkan bahwa kawasan
atau aspek kognitif merupakan salah satu dari tujuan pembelajaran
yang mencangkup kemampuan intelektual, proses mental dan
pengetahuan yang harus dicapai peserta didik setelah proses
pembelajaran selesai. Sehingga menggunakan metode demonstrasi
dapat mudah dipahami oleh peserta didik sebab pengetahuan
didapatkan dari pengajar yang mendemonstrasikan materi ini.

Tujuan pembelajaran Pengelasan Las Listrik (SMAW) ini memiliki


kompetensi dalam ranah kognitif yaitu :

 Siswa dapat menjelaskan penggunaan komponen las busur


manual (SMAW)

 Siswa dapat menjelaskan karakteristik jenis material bahan

 Siswa dapat mengidentifikasi teknik beserta pelaksanaan


pengelasan

 Siswa dapat menyebutkan komponen alat pelindung diri

b. Aspek Afektif
Menurut Dr. Hamzah B. Uno (2011:37), aspek afektif adalah
suatu domain yang berkaitan dengan sikap, nilai-nilai interes,
apresiasi (penghargaan) dan penyesuaian perasaan sosial.
Berdasarkan definisi diatas dapat disimpulkan bahwa kawasan
atau aspek afektif adalah kemampuan yang berkaitan dengan jiwa
seseorang dan sikap prilaku. Sehingga sikap yang diajarkan oleh
pengajar dapat dicontoh oleh peserta didik.

Tujuan pembelajaran Pengelasan Las Listrik (SMAW) ini memiliki


kompetensi dalam ranah afektif yaitu :

 Siswa dapat berperilaku yang baik/sopan santun sesama siswa

6
 Siswa dapat menjaga keselamatan diri sendiri beserta
komponen peralatan las

 Siswa dapat membersihkan hasil pengelasan sesuai spesifikasi


dengan menggunakan perkakas tangan.

c. Aspek psikomotorik
Menurut Dr. Hamzah B. Uno (2011:38), aspek psikomotor
mencangkup tujuan yang berkaitan dengan keterampilan (skill)
yang bersifat manual atau motorik. Selain itu menurut Muhibbin
Syah, (2014: 117) mengungkapkan keterampilan adalah kegiatan
yang berhubungan dengan urat-urat syaraf dan otot-otot
(neuromuscular) yang lazimnya tampak dalam kegiatan jasmaniah
seperti menggambar, menulis, mengetik, olah raga, dan sebagainya
Berdasarkan definisi diatas dapat disimpulkan bahwa kawasan
atau aspek psikomotor adalah kemampuan yang mengenai
ketrampilan seseorang yang dapat diperbaiki tiap orangnya.
Tujuan pembelajaran dalam ranah ini peserta didik dapat
mengoperasikan komponen-komponen las busur manual dan dapat
mengelas dengan menggunakan las SMAW dengan berbagai
macam posisi, sudut beserta sambungan. Sehingga aspek ini dapat
muncul karena peserta didik melihat dan mendengarkan apa yang
diperagakan oleh pengajar, maka metode demonstrasi sangat cocok
dalam pembelajaran ini.

3. Pembelajaran Pengelasan

Untuk mencapai kompetensi pada mata pelajaran Pengelasan Las


Listrik yang mencangkup aspek kognitif, afektif dan psikomorik maka
kompetensi tersebut dapat dicapai dengan menerapkan strategi
pembelajaran. Menurut Suyadi (2013:17) strategi pembelajaran adalah

7
sebagai kegiatan yang dilakukan guru untuk memfasilitasi(guru sebagai
fasilitator) peserta didik agar tujuan pembelajaran tercapai. Dari pendapat
ahli tersebut dapat dijelaskan bahwa strategi pembelajaran merupakan cara
yang digunakan dan dipakai oleh pengajar untuk menyampakan materi
pembelajaran.

Dari uraian tersebut maka dipilihlah metode pembelajaran, metode


pembelajaran merupakan suatu cara atau upaya yang dilakukan oleh
pengajar agar proses belajar-mengajar pada siswa tercapai sesuai dengan
tujuan. Metode pembelajaran ini sangat penting di lakukan agar proses
belajar mengajar tersebut nampak menyenangkan dan tidak membuat para
siswa tersebut suntuk. Sehingga metode pada hakikatnya adalah baik dan
dapat digunakan untuk menyajikan berbagai mata pelajaran. Metode
pembelajaran pada mata pelajaran pegelasan yaitu metode demonstrasi
karena metode ini sangat sesuai dengan peserta didik sehingga tertarik.
Selain itu juga pengajar memberi contoh simulasi praktek dan diselingi
dengan panduan cara kerja maka metode demonstrasi dapat diterapkan
dalam pembelajaran pengelasan didalam kelas.

4. Metode Demonstrasi

Menurut Abdul Majid (2013:197) metode demonstrasi adalah


petunjuk tentang proses terjadinya suatu peristiwa atau benda sampai
pada penampilan tingkah laku yang dicontohkan agar dapat diketahui
dan dipahami oleh peserta didik secara nyata. Selain itu menurut
Miftahul Huda (2015:231) megemukakan bahwa demonstrasi/peragaan
merupakan salah satu strategi mengajar dimana guru memperlihatkan
suatu benda asli, benda tiruan, atau suatu proses dari materi yang
diajarkan kepada seluruh siswa. Dari uraian tersebut dapat disimpulkan
bahwa metode demonstrasi yaitu suatu cara pengajar untuk memberikan
informasi kepada peserta didik dengan cara peragaan langsung dan
penjelasan secara lisan.
8
Miftahul Huda (2015:232) mengemukakan sepuluh kelebihan
dari strategi demonstrasi, antara lain: 1) membuat pengajaran menjadi
lebih jelas dan lebih konret; 2) memusatkan perhatian siswa; 3) lebih
mengarahkan proses belajar siswa pada materi yang sedang dipelajari; 4)
lebih melekatkan pengalaman dan kesan sebagai hasil pembelajaran
dalam diri siswa; 5) membuat siswa lebih memahami apa yang
dipelajari; 6) membuat proses pengajaran menjadi lebih menarik; 7)
merangsang siswa untuk aktif mengamati dan menyesuaikan antara teori
dengan dengan kenyataan; 8) membantu siswa memahami dengan jelas
jalannya suatu proses atau kerja suatu benda; 9) memudahkan berbagai
jenis penjelasan; dan 10) memperbaiki kesalahan-kesalahan yang terjadi
dari hasil ceramah melalui pengamatan dan contoh konkret dengan
menhadirkan objek sebenarnya.

Selain itu Abdul Majid (2013;199) mengemukakan tiga kelebihan


dari metode demonstrasi yaitu 1) melalui metode demonstrasi, terjadinya
verbalisme akan dapat dihindari karena siswa disuruh langsung
memperhatikan bahan pelajaran yang dijelaskan; 2) proses pembelajaran
akan lebih menarik karena siswa tak hanya mendengar, tetapi juga
melihat peristiwa yang terjadi; dan 3) dengan cara mengamati secara
langsung, siswa akan memiliki kesempatan untuk membandingkan
antara teori dan kenyataan. Dengan demikian siswa akan lebih meyakini
kebenaran materi pembelajaran.

Adapun kekurangan pembelajaran dengan metode demonstrasi


yaitu 1) tidak semua benda dapat didemonstrasikan dalam pembelajaran;
2) peserta didik yang memiliki kemampuan daya tangkap rendah sulit
untuk memperhatikan; 3)apabila pengajar tidak memiliki penguasaan
materi maka yang didemontrasikan sulit dipahami.

Kemudian dalam menerapkan metode demonstrasi dalam


pembelajaran ada langkah-langkah yang harus dilakukan. Menurut

9
Abdul Majid (2013:198-199) ada 2 tahap dalam menerapkan metode
demonstrasi ini, antara lain:

a) Tahap persiapan

Pada tahap persiapan ada beberapa hal yang harus dilakukan:

1) Menuruskan tujuan yang harus dicapai oleh siswa setelah


proses demonstrasi berakhir

2) Menyiapkan garis besar langkah-langkah demonstrasi yang


akan dilakukan

3) Melakukan uji coba demonstrasi

b) Tahap pelaksanaan
1) Langkah pembukaan
Sebelum demonstrasi dilakukan ada beberapa hal yang harus
diperhatikan, diantaranya:
 Mengatur tempat duduk yang memungkinkan semua
siswa dapat memerhatikan dengan jelas apa yang
didemonstrasikan.
 Mengemukakan tujuan apa yang harus dicapai oleh siswa.
 Mengemukakan tugas-tugas apa yang harus dilakukan
oleh siswa, misal siswa ditugaskan untuk mencatat hal-hal
yang dianggap penting dari pelaksanaan demonstrasi.
2) Langkah pelaksanaan demonstrasi
 Mulailah demonstrasi dengan kegiatan-kegiatan yang
merangsang siswa untuk berfikir, misal melalui
pertanyaan-pertanyaan yang mengandung teka-teki
sehingga mendorong siswa untuk tertarik memerhatikan
demonstarsi.
 Ciptakan suasana yang menyejukkan dengan menghindari
suasana yang menegangkan. Yakinlah bahwa semua
siswa mengikuti jalannya demonstrasi dengan
memerhatikan reaksi seluruh siswa. Berikan kesempatan
10
kepada siswa untuk secara aktif memikirkan lebih lanjut
sesuai dengan apa yang dilihat dari proses demonstrasi
ini.
c) Langkah mengahkiri demonstrasi
Apabila demonstarsi selesai dilakukan, proses
pembelajaran perlu diakhiri dengan memberikan pertanyaan
kemballi mengenai hambatan pembelajaran tersebut dan pengajar
memotivasi peserta didik agar tetap tekun dalam belajar.

5. Penerapan Metode Demonstrasi Untuk Meningkatkan Motivasi


Belajar Pengelasan
Metode demonstrasi dalam pembelajaran proses las busur manual
adalah pengajar memberikan contoh praktek didepan peserta didik lalu
menjelaskan dari penggunaan komponen sampai alat pelindung diri.
Sehingga diharapkan peserta didik mengerti penggunaan komponen
maupun alat pelindung diri, menentukan bahan dan posisi pengelasan yang
tepat. Metode ini diterapkan bertujuan untuk membangun sikap,
ketrampilan serta psikomotorik yang terdapat pada setiap peserta didik.
Langkah tersebut dilakukan agar peserta didik pada waktu praktek dapat
melakukan dengan baik dari segi pengetahuan maupun prakteknya.
Sehingga peserta didik akan tertarik dalam pembelajaran tersebut
kemudian motivasi belajarnya akan meningkat.

B. Kajian Penelitian Yang Relevan

1. Penelitian Rizal Andi Prasetyo (2013) dalam Penelitian Pendidikan dan


Teknologi Kejuruan yang berjudul “Penerapan Metode Demonstrasi
Untuk Meningkatkan Motivasi Belajar Dan Prestasi Belajar Mata
Pelajaran Menggunakan Alat-Alat Ukur (Measuring Tool’s) Siswa Kelas
X Smk Boedi Oetomo Cilacap Tahun 2012/2013” bahwa Setelah siswa

11
diberi tindakan, yaitu diajar dengan pembelajaran demontrasi model siklus
belajar, maka nilai rata-rata siswa meningkat seperti terlihat dibawah ini:

Berdasarkan hasil penelitian terlihat bahwa motivasi belajar meningkat


dari pre test siklus I, II dan III. Hasil penelitian, setelah diterapkan metode
pembelajaran demontrasi model siklus belajar ini, motivasi belajar siswa
meningkat secara signifikan. Sementara itu nilai motivasi belajar dengan
menggunakan metode ceramah juga terus meningkat dari pre test, siklus I,
II dan III meskipun peningkatannya tidak begitu sigifikan. Penggunaan
metode cermah sampai pada siklus III mempunyai nilai rata-rata motivasi
belajar sebesar 2,41 atau dalam kategori sedang. Berdasarkan gambar di
atas dapat disimpulakan bahwa metode demontrasi lebih baik untuk
meningkatkan motivasi belajar mata pelajaran menggunakan alat-alat
ukur.

2. Penelitian Masnur Sibarani, Endang Uliyanti, Sri Buwono (2012) dalam


Penelitian Pendidikan dan Teknologi Kejuruan yang berjudul
“Peningkatan Motivasi Belajar Melalui Metode Demonstrasi Ilmu
Pengetahuan Alam Kelas Iv Sdn 24 Sungai Raya” bahwa Pembelajaran
dengan menggunakan metode demonstrasi untuk meningkatkan motivasi

12
belajar siswa pada pembelajaran IPA di kelas IV SDN 24 Sungai Raya hal
ini dapat dilihat dari peningkatan motivasi belajar siswa. Perencanaan
diawali pelaksanaan pembelajaran yang disesuiakan dengan materi
pembelajaran dengan menyiapkan media pembelajaran yang sesuai dengan
karakteristik anak sekolah dasar. Proses pembelajaran dengan
menggunakan metode demonstrasi yaitu dengan menggunakan media
pembelajaran siswa dapat meningkatkan motivasi belajar pada
pembelajaran IPA di kelas IV SDN 24 Sungai Raya. Peningkatan motivasi
belajar siswa dengan menggunkan metode demonstrasi pada pembelajaran
IPA di kelas IV SDN 24 Sungai Raya., yaitu motivasi instrinsik rata-rata
sebelum pelaksanaan tindakan 48,12% pada siklus I dan naik menjadi
65,63% pada siklus II. Motivasi ekstrinsik rata-rata sebelum pelaksanaan
tindakan kelas sebesar 44,53% pada siklus I dan 73,42% pada siklus II

Berdasarkan hasil penelitian di atas menunjukkan bahwa metode


pembelajaran demonstrasi dapat meningkatkan motivasi belajar apabila
ditetapkan sesuai prosedur didalam kelas. Terdapat persamaan objek
antara peneliti yang relevan dengan penelitian ini yaitu meneliti motivasi
belajar. Adapun perbedaannya yaitu pada mata pelajaran yang diteliti,
penelitian yang relevan pertama meneliti mata pelajaran Menggunakan
Alat ukur sedangkan penelitian yang relevan kedua mata pelajaran Ilmu
Pengeahuan Alam.

C. Kerangka Pikir

Berdasarkan deskripsi teori dan kajian penelitian yang relevan yang sudah
dikemukakan secara rinci di muka maka dapat disampaikan kerangka pikir
sebagai berikut :
1. Dengan menerapkan Metode Demonstrasi dalam mata pelajaran Pengelasan
Las Listrik pengajar dapat memberikan contoh praktek didepan peserta didik
lalu menjelaskan dari penggunaan komponen sampai alat pelindung diri.
Sehingga diharapkan peserta didik mengerti penggunaan komponen maupun
13
alat pelindung diri, menentukan bahan dan posisi pengelasan yang tepat.
Metode ini diterapkan bertujuan untuk membangun sikap, ketrampilan serta
psikomotorik yang terdapat pada setiap peserta didik.
2. Jadi, dengan menerapkan Metode Demonstrasi dalam proses
pembelajaran menjadi lebih dimengerti dan maksimal. Materi yang
disampaikan pengajar lebih efektif, menarik, dan menyenangkan
karena dalam penyampaian materi pengajar tidak putus asa untuk
menekankan akan keberhasilan peserta didik. Dalam pembelajaran
tersebut pengajar memiliki wiwawa untuk dicontoh oleh peserta didik,
selain itu pengajar disegani pengajar juga dapat ditiru kemudian
peserta didik akan termotivasi dalam mata pelajaran tersebut. Sehingga
dapat meningkatkan motivasi belajar Pengelasan Las Lisrik siswa
kelas XI Teknik Pemesinan.

D. Hipotesis Penelitian
Berdasarkan kerangka pikir yang sudah dikemukakan di atas, maka dapat
dituliskan hipotesis penelitian sebagai berikut:
1. Metode Demonstrasi meningkatkan motivasi belajar siswa.

14
Daftar Pustaka

A.M., Sardiman.2011. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: PT Raja


Persada.

Abdul, Majid. 2013. Strategi pembelajaran. Bandung; PT. Remaja Rosdakarya.

Djamarah. 2008. Psikologi Belajar edisi 2. Jakarta: Rineka Cipta.

Sugihartono. 2013. Psikologi Pendidikan. Yogyakarta: Yogyakarta Press

Hamzah B. Uno. 2011. Teori Motivasi dan Pengukurannya. Jakarta: Bumi


Aksara.

Hamdani. [Link] Belajar Mengajar. [Link] Setia.

Hamalik, [Link] dan [Link] Aksara

Irham, Muhammad & A.W [Link] dan [Link]


Ruzz Media.

Purwanto,[Link]-prinsipdan Teknik Evaluasi [Link]:


PT Remaja Rosdakarya.

[Link] Pembelajaran Pendidikan Karakter. [Link]


Rosdakarya

Muhibbin Syah. 2014. Psikologi Pendidikan Dengan Pendekatan Baru. Bandung:


PT Remaja Rosdakarya.

Miftahul, Huda. 2015. Model-model pengajaran dan pembelajaran. Yogyakarta:

Pustaka Pelajar.

15

Anda mungkin juga menyukai