LAPORAN PENDAHULUAN
APENDISITIS
1. Konsep Apendisitis
Definisi Apendisitis adalah radang pada usus buntu atau dalam bahasa latinnya
appendiks vermivormis, yaitu suatu organ yang berbentuk memanjang dengan panjang 6-9
cm dengan pangkal terletak pada bagian pangkal usus besar bernama sekum yang terletak
pada perut kanan bawah (Handaya, 2020). Apendisitis adalah peradangan akibat infeksi
pada usus buntu atau umbai cacing (apendiks). Apendisitis adalah inflamasi saluran usus
yang tersembunyi dan kecil yang berukuran sekitar 4 inci yang buntu pada ujung sekum
(Rosdahl dan Mary T. Kowalski, 2019).
Apendisitis merupakan keadaan inflamasi dan obstruksi pada apendiks vermiformis.
Apendiks vermiformis yang disebut dengan umbai cacing atau lebih dikenal dengan nama
usus buntu, merupakan kantung kecil yang buntu dan melekat pada sekum (Nurfaridah,
2019).
2. Etiologi
Penyebab dari apendisitis adalah adanya obstruksi pada lamen apendikeal oleh
apendikolit, tumor apendiks, hiperplasia folikel limfoid submukosa, fekalit (material garam
kalsium, debris fekal), atau parasit EHistolytica. (Katz dalam muttaqin, & kumala sari,
2019).
Selain itu apendisitis juga bisa disebabkan oleh kebiasaan makan makanan rendah
serat sehingga dapat terjadi konstipasi. Konstipasi akan menaikkan tekanan intrasekal yang
mengakibatkan terjadinya sumbatan fungsional apendiks dan meningkatnya pertumbuhan
kuman flora kolon.
3. Klasifikasi
Apendisitis dibagi menjadi 2, antara lain sebagai berikut :
1) Apendisitis akut
Peradangan pada apendiks dengan gejala khas yang memberi tanda setempat.
Gejala apendisitis akut antara lain nyeri samar dan tumpul merupakan nyeri visceral di
saerah epigastrium disekitar umbilikus. Keluhan ini disertai rasa mual muntah dan
penurunan nafsu makan. Dalam beberapa jam nyeri akan berpindah ke titik McBurney.
Pada titik ini, nyeri yang dirasakan menjadi lebih tajam dan lebih jelas letaknya
sehingga merupakan nyeri somatik setempat (Hidayat dalam Mardalena,Ida 2019)
2) Apendisitis Kronis
Apendisitis kronis baru bisa ditegakkan apabila ditemukan tiga hal yaitu pertama,
pasien memiliki riwayat nyeri pada kuadran kanan bawah abdomen selama paling
sedikit tiga minggu tanpa alternatif diagnosa lain. Kedua, setelah dilakukan
apendiktomi, gejala yang dialami pasien akan hilang. Ketiga, secara histopatologik
gejala dibuktikan sebagai akibat dari inflamasi kronis yang aktif atau fibrosis pada
apendiks (Santacroce dan Craig dalam Mardalena, Ida 2019)
4. Manifestasi Klinis
Beberapa manifestasi klinis yang sering muncul pada apendisitis antara lain sebagai berikut :
1) Nyeri samar (nyeri tumpul) di daerah epigastrium disekitar umbilikus atau
periumbilikus. Kemudian dalam beberapa jam, nyeri beralih ke kuadaran kanan bawah
ke titik Mc Burney (terletak diantara pertengahan umbilikus dan spina anterior ileum)
nyeri terasa lebih tajam.
2) Bisa disertai nyeri seluruh perut apabila sudah terjadi perionitis karena kebocoran
apendiks dan meluasnya pernanahan dalam rongga abdomen
3) Mual
4) Muntah
5) Nafsu makan menurun
6) Konstipasi
7) Demam
(Mardalena 2017 ; Handaya, 2019)
5. Patofisiologi
Apendisitis terjadi karena disebabkan oleh adanya obstruksi pada lamen apendikeal
oleh apendikolit, tumor apendiks, hiperplasia folikel limfoid submukosa, fekalit (material
garam kalsium, debris fekal), atauparasit E-Histolytica. Selain itu apendisitis juga bisa
disebabkan oleh kebiasaan makan makanan yang rendah serat yang dapat menimbulkan
konstipasi. Kondisi obstruktif akan meningkatkan tekanan intraluminal 9 dan peningkatan
perkembangan bakteri. Hal ini akan mengakibatkan peningkatan kongesti dan penurunan
perfusi pada dinding apendiks yang berlanjut pada nekrosis dan inflamasi apendiks. Pada
fase ini penderita mengalami nyeri pada area periumbilikal. Dengan berlanjutnya pada
proses inflamasi, akan terjadi pembentukan eksudat pada permukaan serosa apendiks. Ketika
eksudat ini berhubungan dengan perietal peritoneum, maka intensitas nyeri yang khas akan
terjadi (Santacroce 2020).
Dengan berlanjutnya proses obstruksi, bakteri akan berproliferasi dan meningkatkan
tekanan intraluminal dan membentuk infiltrat pada mukosa dinding apendiks yang ditandai
dengan ketidaknyamanan pada abdomen. Adanya penurunan perfusi pada dinding akan
menimbulkan iskemia dan nekrosis serta diikuti peningkatan tekanan intraluminal, juga akan
meningkatkan risiko perforasi dari apendiks. Pada proses fagositosis terhadap respon
perlawanan terhadap bakteri ditandai dengan pembentukan nanah atau abses yang
terakumulasi pada lumen apendiks.
Berlanjutnya kondisi apendisitis akan meningkatkan resiko terjadinya perforasi dan
pembentukan masa periapendikular. Perforasi dengan cairan inflamasi dan bakteri masuk ke
rongga abdomen kemudian akan memberikan respon inflamasi permukaan peritoneum atau
terjadi peritonitis. Apabila perforasi apendiks disertai dengan abses, maka akan ditandai
dengan gejala nyeri lokal akibat akumulasi abses dan kemudian akan memberikan respons
peritonitis. Gejala yang khas dari perforasi apendiks adalah adanya nyeri hebat yang tiba-
tiba datang pada abdomen kanan bawah (Tzanaki, 2020).
Material Hiperplasia folikel Parasite E- Kebiasaan rendah Fekalit (material garam
apendikolit limfoid Histolytica serat dan konstipasi kalsium, debris fekal)
submukosa
Peningkatan tekanan intraluminal &
Iskemia & nekrosis dinding Obstruksi pada lumen
peningkatan perkembangan bakteri
disertai peningkatan tekanan apendiks
intraluminal
Peningkatan kongesti dan
Apendisitis nekrosis &
penurunan perfusi dinding apendiks
supuratf
Perforasi masa
periapendikular peritonitis
APENDESITIS KRONIS
Intervensi bedah
apendektomi Respon lokal saraf terhadap
inflamasi Respon Sistemik Gangguan
gasointestinal
Pre operatif Pasca operatif Nyeri Akut
Peningkatan suhu Mual, muntah,
tubuh kembung,diare,
anoreksia
Respon psikologis Kerusakan
mis interpretasi jaringan pasca Hipertermia
perawatan dan bedah
penatalaksanaan Asupan nutrisi
pengobatan tidak adekuat
Port de entree Perubahan Pola nutrisi pasca
pasca bedah bedah Defisit Nutrisi
Ansietas
Risiko infeksi
6. Komplikasi
Komplikasi bisa terjadi apabila adanya keterlambatan dalam penanganannya. Adapun jenis
komplikasi menurut (LeMone, 2016) diantaranya sebagai berikut:
1) Perforasi apendiks
Perforasi adalah pecahnya apendiks yang berisi nanah sehingga bakteri menyebar ke
rongga perut. Perforasi dapat diketahui dengan gambaran klinis seperti suhu tubuh lebih
dari 38,50C dan nyeri tekan pada seluruh perut yang timbul lebih dari 36 jam sejak
sakit.
2) Peritonitis
Peritonitis adalah peradangan peritoneum (lapisan membran serosa rongga abdomen).
Komplikasi ini termasuk komplikasi berbahaya yang dapat terjadi dalam bentuk akut
maupun kronis
3) Abses
Abses adalah peradangan pada spendiks yang berisi nanah. Teraba massa lunak di
kuadran kanan bawah atau daerah pelvis.
7. Pemeriksaan Penunjang
1) Pemeriksaan Laboratorium
Kenaikan sel darah putih (Leukosit) hingga 10.000 – 18.000/mm3. Jika terjadi
peningkatan yang lebih, maka kemungkinan apendiks sudah mengalami perforasi
2) Pemeriksaan Radiologi
a. Foto polos perut dapat memperlihatkan adanya fekalit (jarang membantu)
b. Ultrasonografi (USG) Pemeriksaan USG dilakukan untuk menilai inflamasi dari
apendiks
c. CT – Scan Pemeriksaan CT – Scan pada abdomen untuk mendeteksi apendisitis dan
adanya kemungkinan perforasi.
d. C – Reactive Protein (CRP) C – Reactive Protein (CRP) adalah sintesis dari reaksi
fase akut oleh hati sebagai respon dari infeksi atau inflamasi. Pada apendisitis
didapatkan peningkatan kadar CRP
(Mutaqqin, Arif & Kumala Sari 2019)
8. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan pada penderita apendisitis yaitu dengan tindakan pembedahan/Apendiktomi
1) Pengertian Apendiktomi
Apendiktomi adalah intervensi bedah untuk melakukan pengangkatan bagian
tubuh yang mengalami masalah atau mempunyai penyakit. Apendiktomi dapat
dilakukan dengan dua metode pembedahan yaitu pembedahan secara terbuka/
pembedahan konveksional (laparotomi) atau dengan menggunakan teknik laparoskopi
yang merupakan teknik pembedahan minimal infasif 12 dengan metode terbaru yang
sangat efektif (Berman& kozier, 2012 dalam Manurung, Melva dkk, 2019).
Laparoskopi apendiktomi adalah tindakan bedah invasive minimal yang paling
banyak digunakan pada apendisitis akut. Tindakan ini cukup dengan memasukkan
laparoskopi pada pipa kecil (trokar) yang dipasang melalui umbilikus dan dipantau
melalui layar monitor. Sedangkan Apendiktomi terbuka adalah tindakan dengan cara
membuat sayatan pada perut sisi kanan bawah atau pada daerah Mc Burney sampai
menembus peritoneum.
2) Tahap Operasi Apendiktomi
1. Tindakan sebelum operasi
a. Observasi pasien
b. Pemberian cairan melalui infus intravena guna mencegah dehidrasi dan
mengganti cairan yang telah hilang
c. Pemberian analgesik dan antibiotik melalui intravena
d. Pasien dipuasakan dan tidak ada asupan apapun secara oral
e. Pasien diminta melakukan tirah baring
2. Tindakan Operasi
a. Perawat dan dokter menyiapkan pasien untuk tindakan anastesi sebelum
dilakukan pembedahan
b. Pemberian cairan intravena ditujukan untuk meningkatkan fungsi ginjal adekuat
dan menggantikan cairan yang telah hilang.
c. Aspirin dapat diberikan untuk mengurangi peningkatan suhu.
d. Terapi antibiotik diberikan untuk mencegah terjadinya infeksi.
3. Tindakan pasca operasi
a. Observasi TTV
b. Sehari pasca operasi, posisikan pasien semi fowler, posisi ini dapat mengurangi
tegangan pada luka insisi sehingga membantu mengurangi rasa nyeri
c. Sehari pasca operasi, pasien dianjurkan untuk duduk tegak ditempat tidur
selama 2 x 30 menit. Pada hari kedua pasien dapat berdiri tegak dan duduk
diluar kamar
d. Pasien yang mengalami dehidrasi sebelum pembedahan diberikan cairan
melalui intravena. Cairan peroral biasanya diberikan bila pasien dapat
mentoleransi
e. Dua hari pasca operasi, diberikan makanan saring dan pada hari berikutnya
dapat diberikan makanan lunak.
KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN
1. Pengkajian
Pengkajian pada pasien post operasi apendiktomi menurut (Bararah & Jauhar, 2019 dalam
saputro, 2018) ; mutaqqin & kumala sari, (2019) antara lain :
1) Data umum pasien
Meliputi nama pasien, umur (remaja - dewasa), jenis kelamin (Laki – laki lebih berisiko
daripada perempuan), suku bangsa, pekerjaan, pendidikan, alamat, tanggal masuk
rumah sakit dan diagnosa medis.
2) Keluhan utama
Pasien dengan post operasi apendiktomi biasanya merasakan nyeri pada luka
insisi/operasi
3) Riwayat penyakit sekarang
Riwayat penyakit sekarang dikaji dimulai dari keluhan yang dirasakan pasien sebelum
masuk rumah sakit,ketika mendapatkan perawatan di rumah sakit sampai
dilakukannyapengkajian. Pada pasien post operasi apendiktomi biasanya didapatkan
adanya keluhan seperti nyeri pada luka insisi operasi. Keluhan nyeri dikaji
menggunakan PQRST : P (provokatif), yaitu faktor yang mempengaruhi berat atau
ringannya nyeri. Q (Quality), yaitu kualitas dari nyeri, seperti apakah rasa tajam, tumpul
atau tersayat. R (Region), yaitu daerah / lokasi perjalanan nyeri.S (Severity), yaitu skala/
keparahan atau intensitas nyeri.T (Time), yaitu lama/waktu serangan atau frekuensi
nyeri
4) Riwayat kesehatan dahulu
Dalam hal ini yang perlu dikaji atau di tanyakan pada klien tentang penyakit apa saja
yang pernah di derita, riwayat operasiserta tanyakan apakah pernah masuk rumah sakit
sebelumnya.
5) Riwayat penyakit keluarga
Tanyakan pada pasien mengenai riwayat penyakit keluarga seperti (Diabetes Melitus,
Hipertensi, Asma) dan penyakit menular
6) Riwayat Psikososial
Pada pasien post operasi apendiktomi didapatkan kecemasan akan nyeri hebat atau
akibat respons pembedahan. Pada beberapa pasien juga didapatkan mengalami
ketidakefektifan koping berhubungan dengan perubahan peran dalam keluarga
7) Pola sehari-hari
a. Nutrisi
Nafsu makan menurun dan porsi makan menjadi kurang
b. Eliminasi
Alvi : Kadang terjadi diare/ konstipasi pada awal post operasi
Urine : Pada pasien post operasi apendiktomi mengalami penurunan haluaran
urin.
c. Tidur/istirahat
Pola tidur dapat terganggu maupun tidak terganggu, tergantung bagaimana toleransi
klien terhadap nyeri yang dirasakannya.
d. Personal Hygiene
Upaya untuk menjaga kebersihan diri cenderung kurang
e. Aktivitas
Biasanya pasien post operasi apendiktomi mengalami kelemahan
8) Pemeriksaan fisik
a. Keadaan umum
Keadaan umum klien mulai saat pertama kali bertemu dengan klien dilanjutkan
mengukur tanda-tanda vital. Pada pasien post operasi apendiktomi mencapai
kesadaran penuh setelah beberapa jam kembali dari ruang operasi
b. Tanda-tanda vital
Tanda-tanda vital (tekanan darah, nadi, respirasi, suhu) umumnya pasien
mengalami takikardi, peningkatan tekanan darah, dapat juga terjadi hipotensi
c. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan Kepala
Kebersihan kepala, warna rambut, tidak ada kelainan bentuk kepala, tidak ada
nyeri tekan
Pemeriksaan Muka
Pasien nampak meringis menahan nyeri pada luka bekas operasi. tidak ada nyeri
tekan, tidak ada edema.
Pemeriksaan Mata
Keadaan pupil isokor, palperbra dan refleks cahaya tidak ada gangguan,
konjungtiva tidak anemis
Pemeriksaan Hidung
Bersih, tidak terdapat polip, tidak ada nyeri tekan, tidak terdapat nafas cuping
hidung
Pemeriksaan Mulut
Mukosa bibir kering karena adanya pembatasan masukan oral, mengamati bibir
ada tidaknya kelainan kogenital (bibir sumbing), sianosis atau tidak,
pembengkakkan atau tidak, lesi atau tidak, amati adanya stomatitis pada mulut
atau tidak, amati jumlah dan bentuk gigi, gigi berlubang, warna, plak, dan
kebersihan [Link] terdapat nyeri tekan atau tidak pada pipi dan mulut
bagian dalam
Pemeriksaan Telinga
Pada klien post operasi apendiktomi fungsi pendengaran tidak mengalami
gangguan, inspeksi bentuk dan kesimetrisan telinga, kebersihan telinga
Pemeriksaan Thorak
- Paru-paru
Inspeksi : Pergerakan dada simetris, Pasien post operasi apendiktomi akan
mengalami penurunan dan peningkatan frekuensi nafas
Palpasi : Kaji ada tidaknya nyeri tekan, vokal fremitus sama antara kanan
dan kiri. Perkusi : Terdengar sonor
Auskultasi : Normalnya terdengar vasikuler pada kedua paru, tidak terdapat
suara tambahan
- Jantung
Inspeksi : Ictus cordis tidak nampak
Palpasi : Ictus cordis teraba di ICS 4 & 5 mid clavicula sinistra.
Perkusi : Normalnya terdengar pekak
Auskultasi : Normalnya terdengar tunggal suara jantung pertama dan suara
jantung kedua.
Abdomen
Inspeksi : Terdapat luka bekas operasi tertutup kasa, bentuk dan ukuran
luka, terlihat mengencang (distensi).
Auskultasi : Bising usus menurun
Palpasi : Terdapat nyeri tekan pada abdomen bekas operasi
Perkusi : Kaji suara apakah timpani atau hipertimpani
Ekstremitas
Secara umum klien post operasi apendiktomi dapat mengalami kelemahan
karena tirah baring pasca operasi. Kekakuan otot akan berangsur membaik
seiring dengan peningkatan toleransi aktivitas klien.
Integritas kulit
Terdapat luka sayatan pada bekas operasi, warna kulit, kelembaban, akral
hangat, CRT (Capilary Refil Time) < 2 detik, turgor kulit menurun
9) Pemeriksaan Penunjang
- Pemeriksaan darah rutin : untuk mengetahui adanya peningkatan leukosit yang
merupakan tanda adanya infeksi.
- Pemeriksaan foto abdomen : untuk mengetahui adanya komplikasi pasca
pembedahan
2. Analisa data
Data yang telah dikumpulkan dari data subjektif dan data objektif kemudian dianalisa
untuk menentukan masalah klien. Analisa merupakan proses intelektual yang meliputi
kegiatan menyeleksi data, mengklarifikasi, mengelompokkan data, mengaitkan dan
menentukan kesenjangan informasi, membandingkan dengan standar, menginterprestasikan
serta akhirnya membuat diagnosa keperawatan( Herdman dan Kamitsuru, 2019).
3. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keparawatan yang muncul pada pasien post operasi apendiktomi menurut
(Standar Diagnosa Keperawatan Indonesia: Tim Pokja SDKI DPP PPNI, 2016) antara lain:
1) Nyeri akut b.d peningkatan kongesti dan penurunan perfusi pada dinding apendik
2) Defisit nutrisi b.d ketidakmampuan mengabsorbsi makanan
4. Intervensi Keperawatan
No Diagnosa SLKI SIKI
Keperawatan (Standar Luaran Keperawatan (Standar Intervensi
Indonesia) Keperawatan Indonesia)
1 Nyeri Akut Tingkat Nyeri (L.08066) Manajemen Nyeri (I.08238)
(D.0077)
Observasi:
Nyeri akut b.d agen Setelah diberikan intervensi selama
pencedera 1x24 jam, maka di harapkan Periksa Identifikasi lokasi,
fisiologis (iskemia) Tingkat Nyeri klien dapat karakteristik, durasi,
menurun, dengan kriteria hasil: frekuensi, kualitas, intensitas
Keluhan nyeri menurun nyeri
Meringis menurun Identifikasi skala nyeri
Sikap protektif menurun Idenfitikasi respon nyeri non
Gelisah menurun verbal
Kesulitan tidur menurun Identifikasi faktor yang
Muntah menurun memperberat dan
Mual menurun memperingan nyeri
Frekuensi nadi membaik Identifikasi pengetahuan dan
Pola napas membaik keyakinan tentang nyeri
Tekanan darah membaik Identifikasi pengaruh budaya
Nafsu makan membaik terhadap respon nyeri
Pola tidur membaik Identifikasi pengaruh nyeri
pada kualitas hidup
Monitor keberhasilan terapi
komplementer yang sudah
diberikan
Monitor efek samping
penggunaan analgetik
Terapeutik
Hitung Berikan Teknik
nonfarmakologis untuk
mengurangi nyeri (mis:
TENS, hypnosis, akupresur,
terapi music, biofeedback,
terapi pijat, aromaterapi,
Teknik imajinasi terbimbing,
kompres hangat/dingin,
terapi bermain)
Kontrol lingkungan yang
memperberat rasa nyeri (mis:
suhu ruangan, pencahayaan,
kebisingan)
Fasilitasi istirahat dan tidur
Pertimbangkan jenis dan
sumber nyeri dalam
pemilihan strategi
meredakan nyeri
Edukasi
Anjurkan Jelaskan penyebab,
periode, dan pemicu nyeri
Jelaskan strategi meredakan
nyeri
Anjurkan memonitor nyeri
secara mandiri
Anjurkan menggunakan
analgesik secara tepat
Ajarkan Teknik
farmakologis untuk
mengurangi nyeri
Kolaborasi
Kolaborasi pemberian
analgesik
2 Defisit nutrisi Status Nutrisi (L.03030) Manajemen Nutrisi (I.03119)
(D.0019)
Tujuan: setelah dilakukan Observasi
Defisit Nutrisi intervensi keperawatan 1X 24 jam Identifikasi status nutrisi
berhubungan diharapkan status nutrisi membaik. Identifikasi alergi dan
dengan intoleransi makanan
ketidakmampuan Kriteria hasil: Identifikasi makanan yang
mengabsorbsi 1. Nafsu makan membaik disukai
nutrient (intake 2. Berat badan membaik Identifikasi kebutuhan
tidak 3. Bising usus dalam rentang kalori dan jenis nutrien
adekuat/output normal Identifikasi perlunya
berlebihan dan 4. Nyeri abdomen menurun penggunaan selang
absorbsi nasogastrik
berkurang) Monitor asupan makanan
Monitor berat badan
Monitor hasil pemeriksaan
laboratorium
Terapeutik
Lakukan oral hygiene
sebelum makan, jika perlu
Fasilitasi menentukan
pedoman diet (mis:
piramida makanan)
Sajikan makanan secara
menarik dan suhu yang
sesuai
Berikan makanan tinggi
serat untuk mencegah
konstipasi
Berikan makanan tinggi
kalori dan tinggi protein
Berikan suplemen
makanan, jika perlu
Hentikan pemberian makan
melalui selang nasogastik
jika asupan oral dapat
ditoleransi
Edukasi
Ajarkan posisi duduk, jika
mampu
Ajarkan diet yang
diprogramkan
Kolaborasi
Kolaborasi pemberian
medikasi sebelum makan
(mis: Pereda nyeri,
antiemetik), jika perlu
Kolaborasi dengan ahli gizi
untuk menentukan jumlah
kalori dan jenis nutrien
yang dibutuhkan, jika perlu
5. Implementasi Keperawatan
Menurut Pangkey (2021), tahap yang keempat pada proses dokumentasi keperawatan
adalah implementasi yaitu pelaksanaan dari rencana asuhan keperawatan yang telah disusun
dalam fase perencanaan. Hal ini terdiri dari aktivitas perawat dalam membantu pasien
mengatasi masalah kesehatan dan juga untuk mencapai hasil yang diharapkan. Perawat juga
mendelegasikan beberapa intervensi keperawatan kepada pasien. Implementasi keperawatan
harus fokus kepada kebutuhan pasien, komunikasi terapeutik, faktor-faktor yang
mempengaruhi kebutuhan perawatan.
6. Evaluasi Keperawatan
Evaluasi merupakan tahap akhir dari proses keperawatan, dimana pada dokumentasi
ini akan membandingkan secara sistematis dan tidak terencana tentang kesehatan pada
pasien dengan tujuan yang telah diformulasikan dengan kenyataan yang dialami oleh pasien
dan melibatkan tenaga kesehatan lainnya.