Kelemahan Problem Solving
Model pembelajaran Problem Solving memiliki sejumlah kelemahan yang perlu diperhatikan
dalam penerapannya di kelas. Salah satu tantangan utamanya adalah kesulitan guru dalam
merancang atau menemukan permasalahan yang benar-benar relevan dengan materi pelajaran
yang sedang dipelajari. Hal ini menjadi kendala karena tidak semua topik pembelajaran memiliki
masalah nyata yang dapat diangkat dengan mudah sebagai bahan diskusi. Selain itu, proses
pembelajaran dengan pendekatan ini cenderung memerlukan waktu yang lebih banyak
dibandingkan dengan metode pembelajaran konvensional. Guru dan siswa harus melalui
beberapa tahapan yang kompleks, mulai dari pengenalan masalah, analisis, hingga pencarian
solusi. Untuk beberapa mata pelajaran tertentu, permasalahan yang diberikan bisa saja
memerlukan sumber daya tambahan, baik dari segi biaya, alat bantu, maupun tenaga
pendukung, yang tidak selalu tersedia di lingkungan sekolah.
Kelemahan lainnya adalah model ini biasanya melibatkan kerja sama dalam kelompok, yang
membuat beberapa siswa mungkin tidak berpartisipasi secara aktif dalam setiap tahap
pembelajaran. Ketika aktivitas pembelajaran terpusat pada diskusi kelompok, siswa yang
cenderung pasif akan kesulitan menyesuaikan diri, apalagi jika permasalahan yang diangkat
cukup kompleks. Akibatnya, mereka menjadi kurang terlibat dalam proses berpikir kritis dan
pemecahan masalah, yang justru merupakan inti dari model pembelajaran ini. Hal ini bisa
menghambat pencapaian tujuan pembelajaran secara merata bagi semua siswa.(Komariyatin &
Dimas, 2022)
Serta ada beberapa kekurangan lain dari Metode pembelajaran Problem Solving memiliki
sejumlah kelemahan yang perlu diperhatikan oleh pendidik dalam proses penerapannya.
menyebutkan beberapa keterbatasan dari metode ini, antara lain:
a) Memerlukan waktu yang cukup lama. Proses pembelajaran dengan pendekatan pemecahan
masalah tidak bisa dilakukan secara singkat karena setiap tahapnya, mulai dari identifikasi
masalah hingga evaluasi solusi, membutuhkan waktu yang cukup panjang. Hal ini membuat
metode ini kurang cocok digunakan dalam kondisi waktu belajar yang terbatas.
b) Melibatkan banyak peserta didik. Dalam penerapannya, metode ini sering dilakukan secara
berkelompok. Keterlibatan banyak siswa dalam satu kelompok dapat menimbulkan tantangan
tersendiri, terutama dalam hal koordinasi dan pemerataan partisipasi dalam diskusi.
c) Tidak semua materi memiliki masalah kontekstual. Tidak semua topik dalam kurikulum dapat
dikaitkan dengan masalah nyata yang dapat dijadikan bahan pemecahan. Hal ini membuat guru
harus lebih selektif dan kreatif dalam memilih materi yang sesuai untuk diterapkan dengan
model ini.
d) Perencanaan harus benar-benar matang. Agar pembelajaran berjalan efektif, guru perlu
melakukan perencanaan yang sistematis dan terstruktur. Tanpa perencanaan yang baik, kegiatan
belajar dengan metode ini bisa menjadi tidak terarah dan membingungkan bagi siswa.
e) Kurang efektif jika siswa pasif. Metode ini menuntut keterlibatan aktif dari semua siswa.
Namun, jika terdapat siswa yang kurang aktif atau pasif dalam diskusi dan kegiatan kelompok,
maka tujuan pembelajaran tidak akan tercapai secara optimal. Siswa yang tidak terlibat akan
kesulitan dalam mengembangkan kemampuan berpikir kritis yang menjadi inti dari metode ini.
(Mubarrod & Abdullah, 2023)
Komariyatin, P., & Dimas, A. (2022). Studi Literatur Efektifitas Model Pembelajaran Problem
Based Learning dan Problem Solving Terhadap Kemampuan Berpikir. Jurnal Wacana
Akademika: Majalah Ilmiah Kependidikan, 6(1), 87–94.
Mubarrod, A. S., & Abdullah, K. (2023). Pengaruh Metode Problem Solving terhadap Hasil
Belajar Matematika Siswa Kelas V di SDN Cengkareng Barat 03 Pagi Jakarta Barat. Jurnal
Cendekia : Jurnal Pendidikan Matematika, 7(1), 432–441.
[Link]