Davin
Davin
PENGOLAHAN MINERAL
MINERAL SAMPLING
Disusun Oleh:
Davin Shoonendya H.I. 3334230001
Rekan Kelompok:
Naisyah Indy Rhamadhani 3334230011
Roby Hafidz Alfareza 3334230040
Kelompok : PM-01
Asisten : Givari Raihan
Tanggal Praktikum : 18 September 2024
Tanggal Penyerahan Laporan : 21 September 2024
MINERAL SAMPLING
(Givari Raihan)
ii
DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL .............................................................................................. i
LEMBAR PENGESAHAN ................................................................................. ii
DAFTAR ISI ........................................................................................................ iii
DAFTAR TABEL ................................................................................................ iv
DAFTAR GAMBAR ............................................................................................ v
DAFTAR LAMPIRAN ....................................................................................... vi
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ................................................................................ 1
1.2 Tujuan Percobaan ........................................................................... 1
1.3 Batasan Masalah ............................................................................. 1
1.4 Sistematika Penulisan ..................................................................... 2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Bijih ................................................................................................ 3
2.2 Mineral ........................................................................................... 4
2.3 Mineral Sampling ........................................................................... 6
2.4 Pengolahan Mineral ......................................................................... 7
2.5 Teknik Sampling ............................................................................. 7
2.6 Faktor-Faktor Sampel ..................................................................... 9
2.3 Mikroskop ..................................................................................... 10
BAB III METODE PERCOBAAN
3.1 Diagram Alir ................................................................................. 13
3.2 Alat dan Bahan ............................................................................. 14
3.2.1 Alat-alat yang Digunakan .................................................... 14
3.2.2 Bahan-bahan yang Digunakan ............................................. 14
3.3 Prosedur Percobaan ...................................................................... 15
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Percobaan ............................................................................. 16
4.2 Pembahasan ................................................................................... 17
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan .................................................................................... 22
5.2 Saran .............................................................................................. 22
DAFTAR PUSTAKA........................................................................................... 23
iii
LAMPIRAN-LAMPIRAN ................................................................................. 24
iv
DAFTAR TABEL
v
DAFTAR GAMBAR
vi
DAFTAR LAMPIRAN
vii
BAB I
PENDAHULUAN
2.1 Bijih
Bijih merupakan sekumpulan mineral yang memiliki satu atau lebih logam
yang dapat diambil secara menguntungkan atau memiliki nilai ekonomis untuk
diproses lebih lanjut dengan teknologi terkini. Bijih dapat mengandung material
tidak berharga yang disebut sebagai gangue yang akan dilepaskan dari mineral
berharganya. Bijih yang baru keluar dari tambang akan melalui beberapa tahapan
transportasi, penyimpanan, pemberian umpan, pencucian bijih, hingga melalui
tahapan menuju pabrik. Bijih yang telah digali akan dibawa oleh truk, namun jika
ukuran bijih terlalu besar maka perlu dilakukan penghancuran. Bijih bersifat
heterogen dan umumnya memiliki ukuran diameter sebesar 1,5 m. Truk yang
mengangkut bijih memiliki kapasitas hingga 200 ton dan pada beberapa kejadian
bijih dapat langsung diangkut untuk menuju proses penghancuran berikutnya tanpa
bantuan truk. Proses pengolahan bijih lainnya dapat ditemukan pada proses
kominusi, sizing, dan konsentrasi [1].
Pada penambangan bijih di bawah tanah akan dilakukan proses pengeboran
dan peledakan, setelahnya bijih akan diangkut ke permukaan. Batuan tambang yang
telah hancur akan lebih mudah diproses ke tahap berikutnya daripada batuan yang
masih berupa bongkahan. Bijih yang menuju pabrik tambang akan membawa
beberapa kandungan berbahaya bagi alat-alat yang terdapat dalam pabrik. Hal
tersebut dapat ditemukan pada besi dan baja yang berukuran besar dapat
menyebabkan kemacetan pada crusher. Salah satu contoh dari crusher adalah jaw
crusher yang berkerja dengan menggunakan fixed jaw sebagai bagian jaw cruher
yang tidak bergerak dan moved jaw sebagai bagian jaw crusher yang dapat
bergerak. Bijih dari pertambangan akan dimasukkan ke dalam jaw crusher dengan
menggerakkan bagian moved jaw dan menghasilkan bentuk bijih yang memiliki
ukuran 6-8 inci [1].
4
2.2 Mineral
Mineral merupakan padatan anorganik dengan sejumlah kandungan logam
berharga yang saling menyatu dengan unsur-unsur penyusun lainnya. Pada
umumnya, mineral dapat ditemukan dalam sebuah batuan yang di dalamnya
tercampur dengan sedikit unsur logam. Apabila mineral mengandung unsur non-
logam maka dikatakan sebagai gangue. Gabungan antara mineral yang mengadung
unsur logam serta non-logam disebut sebagai bijih. Beberapa mineral memiliki
kilap logam seperti galenit, kalkopirit, dan kuprit serta logam yang tidak memiliki
kilap seperti bauksit dan sfalerit [2].
Melalui banyaknya jenis mineral, dapat diambil manfaat dari satu unsur
logamnya seperti kalkopirit dan azurit. Namun, saat bijih memiliki berbagai macam
jenis unsur, maka dapat dipisahkan lebih dari satu unsur logamnya seperti galenit
yang dihasilkan dari logam timbal. Proses pengambilan dan pemanfaatan satu atau
lebih logam disebut sebagai ore dressing. Macam-macam mineral dibagi ke dalam
dua bagian yaitu mineral primer (hipogene) yang merupakan proses pembentukan
dua mineral atau lebih sesaat sebelum pelapukan terjadi dalam waktu yang sama
serta mineral sekunder (supergene) yang merupakan pembentukan mineral melalui
proses pelapukan [2].
Mineral dapat dibedakan melalui sifat fisiknya seperti warna mineral yang
dipengaruhi oleh tempat mineral terbentuk dan pengotor yang terkandung di
dalamnya. Mineral seperti kuarsa, apatit, dan fluorit memiliki warna putih. Saat
apatit mengandung pengotor sulfur maka warnanya akan mengalami perubahan
menjadi kuning transparan. Warna mineral merupakan salah satu sifat fisik mineral
namun cenderung tidak akurat jika digunakan untuk membedakan jenis mineral.
Hal ini dikarenakan mineral yang berlainan jenisnya dapat memiliki warna yang
sama, seperti proustite dan vivianit yang berwarna gelap saat berada di tempat
terang. Lalu, terdapat kilap yang diperlihatkan oleh mineral saat terkena sinar
seperti pada aragonit yang memiliki kilap kaca dan galena yang memiliki kilap
logam. Sifat kekerasan juga tergolong ke dalam sifat fisik mineral. Nilai kekerasan
pada mineral diatur pada skala Mohs. Adapun rentang nilai kekerasan pada skala
Mohs yaitu sebagai berikut [3].
5
digunakan. Endapan dalam suatu mineral akan berwujud batuan beku yang telah
melangsungkan tahap pelapukan kimia dan fisika. Air yang digunakan sebagai
media akan mudah melarutkan mineral dengan bantuan asam karbonat, asam
organik, hingga asam sulfat [2].
pemanfaatan unsur yang dapat digunakan dengan kesempatan yang tidak serupa
dengan unsur lainnya. Probability sampling dibagi lagi ke dalam empat jenis,
diantaranya adalah simple random sampling yang memanfaatkan penggunaan
sampel secara acak dan sederhana. Adapun ketentuan yang berlaku pada simple
random sampling yaitu terdapat kerangka sampling, populasinya bersifat homogen,
dan sebagian besar tidak menyebar secara geografis. Bentuk lainnya yaitu
systematic random sampling yang memanfaatkan penggunaan sampel secara
sistematis dengan ketentuan memeriksa kondisi kerangka populasi, menentukan
nilai jarak, menentukan penomoran yang akan digunakan, dan menentukan
penggunaan anggota sampel selanjutnya. Lalu, terdapat stratified random sampling
yang memanfaatkan penggunaan sampel melalui penarikan yang stratifikasi dengan
syarat menentukan kriteria yang tepat pada lapisan bawah, memecah populasi ke
dalam dua bagian dengan menjadikannya sub-sub populasi, serta menentukan nilai
sampel secara proporsional dan acak. Selajutnya terdapat cluster sampling yang
memanfaatkan penggunaan sampel untuk proses pengambilan secara berkelompok
[6].
Teknik pengambilan sampel lainnya adalah nonprobability sampling yang
prosesnya dilakukan saat tidak terdapat kesempatan untuk daftar yang lengkap pada
populasi yang di analisis. Nonprobability sampling terbagi lagi menjadi purposive
sampling yang memanfaatkan penggunaan sampel melalui pengambilan dengan
sengaja. Prosesnya dilakukan dengan memberikan asumsi bahwa sampel yang
digunakan akan mampu menghasilkan sebuah data yang lengkap. Lalu terdapat
quota sampling yang memanfaatkan penggunaan sampel melalui pemecahan
kelompok populasi menjadi sub-sub populasi. Kemudian terdapat snowball
sampling yang memanfaatkan penggunaan sampel melalui pengambilan sampel
bola salju dengan kuantitas yang semula rendah menjadi meningkat pada berbagai
tahap. Terakhir, terdapat accidental sampling yang memanfaatkan penggunaan
sampel melalui pemilihan secara acak sesuai yang dijumpai saat itu [6].
Penggunaan sampel yang berasal dari populasi pada sampling dibagi
menjadi dua yaitu populasi homogen yang merupakan jenis populasi dengan bentuk
sifat yang setara di setiap unsur penyusunnya. Bentuk lainnya adalah populasi
heterogen merupakan jenis populasi dengan bentuk sifat yang berbeda di setiap
9
unsur penyusunnya. Jika dilihat pada perbedaan yang lain, populasi terbagi menjadi
populasi target yang merupakan jenis populasi yang digunakan berdasarkan
masalah penelitiannya. Lalu terdapat populasi survei yang merupakan jenis
populasi yang digunakan berdasarkan analisis yang sedang dilakukan. Adapun jenis
pengambilan sampel melalui mekanismenya digolongkan ke dalam dua bagian
yaitu hand sampling yang prosesnya dilakukan menggunakan tangan dengan
mencakup grab sampling pada material homogen, bulk sampling, chip sampling,
shovel sampling dengan menggunakan shovel, pipe sampling dengan menggunakan
pipa atau tabung, dan channel sampling, serta mechanical sampling yang
merupakan penggunaan sampel dengan bantuan alat dalam skala besar melalui
perbandingan hand sampling. Teknik pengambilan sampel lainnya dapat ditemukan
pada metode coning dengan pembentukan material secara kerucut dan quartering
dengan membagi material menjadi empat bagian [7].
merupakan pengambilan sampel dapat dilakukan dengan jumlah yang sedikit jika
diketahui populasinya homogen. Jika populasinya tidak homogen, maka
pengambilan sampel dapat dilakukan dalam jumlah yang besar. Dengan demikian,
semakin rendah derajat keseragaman populasi maka semakin besar jumlah sampel
yang harus diambil. Oleh karena itu, semakin kecil derajat keseragaman populasi,
maka semakin besar jumlah sampel yang harus dimanfaatkan. Faktor tenaga, biaya,
dan waktu juga harus diperhatikan, saat penggunaan sampel terlalu besar maka akan
memakan tenaga, biaya, dan waktu yang tidak sedikit. Pemanfaatan sampel yang
terlalu sedikit juga sangat tidak dianjurkan karena tidak mampu mewakili sifat dari
populasinya [6].
2.7 Mikroskop
Mikroskop merupakan sebuah alat yang dimanfaatkan dalam membantu
proses analisis benda dengan ukuran yang tidak dapat dilihat secara langsung.
Mikroskop berasal dari kata mikro yang bermakna kecil dan scopium yang
bermakna melihat atau penglihatan. Mikroskop sederhana pertama kali
dimanfaatkan oleh Antony van Leuwenhoek pada bidang mikrobiologi. Bentuk
mikroskop terus mengalami perkembangan di tahun 1600 oleh Hans dan Z Jansen
yang dikenal sebagai mikroskop ganda. Bentuk mikroskop dilengkapi dengan 2
jenis lensa yaitu lensa okuler yang digunakan dekat dengan mata dan lensa objektif
yang digunakan dekat dengan benda. Lensa cembung digunakan pada roda yang
mengalami perputaran dengan menghasilkan bayangan nyata yang diproyeksikan
pada bagian atas lensa okuler. Lensa okuler digunakan dengan memperbesar
bayangan nyata hingga membentuk bayangan maya. Perbesaran yang dapat
dilakukan pada lensa okuler bernilai 5-15 kali. Pembagian jenis lensa juga dapat di
identifikasikan melalui perbedaan sumber cahaya seperti mikroskop optik dan
mikroskop elektron. Mikroskop optik dipecah kembali menjadi dua jenis yaitu
mikroskop trinokuler yang menggunakan kamera, mikroskop monokuler dengan
satu lensa okuler, dan binokuler dengan dua lensa okuler yang bermanfaat dalam
proses analisis bagian dalam sel. Jika dilihat berdasarkan kesulitan analisisnya,
mikroskop dibagi menjadi mikroskop sederhana dan mikroskop riset [8].
11
Pasir besi dan pasir kuarsa dibuat menjadi kerucut atau coning
Pasir besi dan pasir kuarsa dibagi menjadi empat bagian atau quartering
Pasir besi dan pasir kuarsa dicampur dan dipisahkan dua perempat
bagian secara diagonal
Data Pengamatan
Pembahasan Literatur
Kesimpulan
4.2 Pembahasan
Sampling merupakan proses pengambilan sebagian anggota populasi untuk
dapat dijadikan sebagai sampel dengan mewakili sifat dan karakteristik dari
populasi secara keseluruhan. Pengambilan sampel dilakukan dengan beberapa cara
yang dikenal sebagai teknik sampling. Teknik sampling dibagi ke dalam dua jenis
yaitu probability sampling yang merupakan teknik pengambilan anggota populasi
untuk dapat dijadikan sebagai sampel dengan memberikan kesempatan yang serupa
kepada setiap anggota populasi dan nonprobability sampling yang merupakan
teknik pengambilan anggota populasi untuk dapat dijadikan sebagai sampel dengan
memberikan kesempatan yang tidak serupa kepada setiap anggota populasi.
Probability sampling dibagi lagi ke dalam 4 jenis, diantaranya adalah simple
random sampling yang memanfaatkan penggunaan sampel secara acak dan
sederhana. Adapun ketentuan yang berlaku pada simple random sampling yaitu
terdapat kerangka sampling, populasinya bersifat homogen, dan sebagian besar
tidak menyebar secara geografis. Bentuk lainnya yaitu systematic random sampling
yang memanfaatkan penggunaan sampel secara sistematis dengan ketentuan
memeriksa kondisi kerangka populasi, menentukan nilai jarak, menentukan
penomoran yang akan digunakan, dan menentukan penggunaan anggota sampel
selanjutnya. Lalu, terdapat stratified random sampling yang memanfaatkan
penggunaan sampel melalui penarikan yang stratifikasi dengan syarat menentukan
kriteria yang tepat pada lapisan bawah, memecah populasi ke dalam dua bagian
dengan menjadikannya sub-sub populasi, menentukan nilai sampel secara
proporsional dan acak. Selajutnya terdapat cluster sampling yang memanfaatkan
penggunaan sampel untuk proses pengambilan secara berkelompok. Teknik
pengambilan sampel lainnya adalah nonprobability sampling yang prosesnya
dilakukan dengan tidak memberikan kesempatan yang sama kepada setiap anggota
populasi untuk dapat dijadikan sebagai sampel. Nonprobability sampling terbagi
lagi menjadi accidental sampling yang memanfaatkan penggunaan sampel melalui
pengambilan dengan sengaja dan secara kebetulan. Prosesnya dilakukan dengan
memberikan asumsi bahwa sampel yang digunakan akan mampu menghasilkan
sebuah data yang lengkap. Lalu terdapat quota sampling yang memanfaatkan
17
butir kasar dan halus. Adanya kekurangan juga turut menyertai proses coning and
quartering seperti hasil yang diperoleh kurang presisi. Hal ini disebabkan oleh
adanya perhitungan jumlah butir pasir secara manual tanpa bantuan alat pendukung
yang mampu membaca hasil jumlah butir pasir dengan cepat, sehingga jika peneliti
tidak memiliki ketelitian yang baik maka akan diperoleh nilai persen galat yang
besar. Kekurangan lainnya yaitu waktu yang digunakan tidak akan efisien jika
digunakan untuk menghitung jumlah butiran pasir secara manual.
Prosedur percobaan pada mineral sampling dimulai dengan menyiapkan
pasir besi dan pasir kuarsa sebesar 20 gram untuk masing-masing siever berukuran
-40#+60# dan -60#. Adanya perbedaan ukuan siever yang digunakan bertujuan
untuk membagi pasir besi dan pasir kuarsa ke dalam dua ukuran yang berbeda serta
mampu membedakan pasir yang masih berukuran kasar pada siever -40#+60#
dengan pasir yang masih berukuran halus pada siever -60#. Setelah itu, melakukan
homogenisasi pada pasir besi dan pasir kuarsa. Tujuan penghomogenan ini adalah
agar dapat diketahui jumlah butir pasir besi dan pasir kuarsa pada preparat mika
yang dibantu dengan mikroskop serta membentuk sebuah populasi baru melalui
pencampuran kedua jenis pasir. Campuran kedua pasir dibuat menjadi kerucut dan
ditekan bagian atas permukaannya untuk dibagi menjadi empat bagian sama rata.
Bagian yang saling bersilangan akan disingkirkan dan bagian yang bersilangan
lainnya akan terus diberi perlakuan yang sama atau dikenal sebagai metode coning
and quartering sebanyak sembilan kali. Penggunaan metode coning and quartering
bertujuan untuk memperkecil ukuran sampel yang digunakan agar tidak semakin
banyak kekeliruan atau bias yang diperoleh pada percobaan mineral sampling.
Kemudian menyebarkan sampel pada kotak preparat mika dan menghitung jumlah
pasir besi dan pasir kuarsa dengan menggunakan mikroskop optik. Penggunaan
preparat mika dan mikroskop optik bertujuan untuk dapat mempermudah proses
perhitungan jumlah butir pasir besi dan pasir kuarsa dengan meletakkan benda yang
bersifat mikro di atas kotak preparat mika lalu meratakannya serta menggunakan
mikroskop optik untuk benda yang tidak dapat terlihat oleh mata secara langsung.
Tahapan terakhir yaitu menghitung kadar dari pasir besi dan pasir kuarsa yang
diperoleh.
19
80
60
% Berat
40
20
0
Fraksi -40#+60# Fraksi -60#
Fraksi Ukuran
Hasil persentase galat pada pasir besi adalah 27,1%, sementara pasir kuarsa
memiliki persentase galat sebesar 27,1%. Kedua nilai persentase galat ini
menunjukkan tingkat akurasi yang masih rendah. Sebagai referensi, dalam literatur,
disebutkan bahwa semakin rendah nilai persentase galat, maka semakin baik tingkat
akurasi hasil pengukuran. Hal ini disebabkan karena semakin baik akurasi persen
20
galat yang didapatkan, maka nilai persen galat akan mendekati nilai sebenarnya
atau dapat dikatakan persen galatnya mendekati nilai nol [10].
Adapun faktor-faktor yang memengaruhi percobaan adalah ukuran pasir
yang digunakan, adanya penggunaan siever yang bervariasi yaitu ukuran -40#+60#
dan -60# dapat menyebabkan terbentuknya butiran pasir yang sedikit kasar pada
siever -40#+60# dan butiran yang halus pada -60#. Butiran yang sedikit kasar akan
lebih mudah untuk dipindahkan ke atas kaca preparat mika, sedangkan butiran yang
halus akan lebih mudah terbawa angin dan sulit untuk dipindahkan ke atas kaca
preparat. Terbentuknya butiran yang terlalu halus dapat memungkinkan terjadinya
bentuk sampel yang tidak homogen karena, selain itu dengan butiran pasir yang
terlalu halus juga menyebabkan sulitnya pembacaan jumlah butir pasir pada
mikroskop karena bentuknya yang terlalu kecil dan sulit untuk diletakkan pada grid
preparat. Hal yang sama berlaku pada butiran pasir yang kasar karena antar bagian
butirnya cenderung membentuk tumpukan pasir yang menggunung sehingga sulit
untuk membaca hasil perhitungannya. Ketelitian peneliti juga dibutuhkan saat
proses perhitungan jumlah sampel pasir besi dan pasir kuarsa, jika peneliti tidak
memiliki ketelitian yang cukup tinggi maka hasilnya tidak akan akurat.
Ketidakakuratan tersebut dapat menunjukan kualitas sampel yang buruk. Sampel
yang digunakan dalam sampling dapat dikatakan memiliki kualitas yang baik
apabila memiliki sifat representatif. Representatif merupakan sifat dari suatu
sampel yang mampu mewakili ciri-ciri dan karakteristik dari suatu populasi secara
keseluruhan. Kualitas yang baik dapat diperoleh melalui teknik pengambilan
sampel yang tepat. Proses coning and quartering juga memegang peranan penting
dalam faktor yang dapat memengaruhi pecobaan, dengan metode coning and
quartering yang dilakukan secara tidak tepat dan pembagian antar sampel tidak
merata dapat menyebabkan besarnya persentase galat dari percobaan. Semua faktor
yang terlibat dapat memengaruhi tingkat akurasi sampel pada proses mineral
sampling.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Dari percobaan mineral sampling kali ini mendapatkan kesimpulan sebagai
berikut.
a. Teknik pengambilan sampel dengan menggunakan metode coning dan
quartering yaitu yang pertama coning dengan cara membentuk sampel
hingga kerucut dan selanjutnya, permukaan atasnya di tekan hingga rata.
Kemudian, quartering yaitu melanjutkan coning dengan cara sampel
dibagi menjadi empat bagian yang sama rata lali memisahkan dan
mencampurkan dua perempat secara diagonal pada percobaan kali ini
dilakukan sebanyak 7 kali.
b. Pada percobaan pertama yang menggunakan ayakan dengan fraksi
ukuran -60#, didapatkan persentase berat pasir besi sebesar 52,37% dan
persentase berat pasir kuarsa sebesar 47,63%. Pada percobaan kedua
menggunakan ayakan dengan fraksi ukuran -40#+60, didapatkan
persentase berat pasir besi sebesar 74,73% dan persentase berat pasir
kuarsa sebesar 25,27%.
5.2 Saran
Adapun saran yang dapat diterapkan oleh laboratorium untuk praktikum
selanjutnya adalah sebagai berikut.
a. Menggunakan bahan sampel yang lebih bervariasi
b. Menggunakan metode pengambilan sampel yang lebih bervariasi
c. Menggunakan dua metode sampling yang berbeda untuk mengetahui
metode mana yang paling tepat sehingga menghasilkan sampel yang
representatif.
DAFTAR PUSTAKA
[1] B. A. Wills, Mineral Processing Technology, 7th ed., Oxford: Elsevier Science
& Technology Books, 2006.
[2] Sukandarrumidi, Geologi Mineral Logam, Yogyakarta: Gadjah Mada
University Press, 2018.
[3] S. Mulyaningsih, Kristalografi dan Mineralogi, 1st ed., Akprind Press, 2018.
[4] A. Fauzy, Metode Sampling, Tangerang Selatan: Universitas Terbuka, 2019.
[5] M. C. Fuerstenau and K. N. Han, Principles of Mineral Processing, Colorado:
The Society for Mining, Metallurgy, and Exploration, Inc, 2003.
[6] D. Sinaga, Statistik Dasar, Jakarta Timur: UKI Press, 2014.
[7] F. Ningsih, . Analisis Pengaruh Lama Penggerusan terhadap Resistivitas dan
Kandungan Besi (Fe3O4 ) pada Pasir Besi yang Disintesis di Kabupaten
Bima, Mataram: UIN Mataram, 2019.
[8] l. P. Ramadhani, Pengelolaan Laboratorium, Depok: Yiesa Rich Foundation,
2020.
[9] S. M. B. Respati, "Macam-macam Mikroskop dan Cara Penggunaan," Jurnal
Momentum, vol. Vol. 4, pp. 42-44, 2008.
[10] I. Wulansari, "Galat dalam Pemodelan dan Peramalan," Citizen, vol. 1, no. 3,
p. 159, 2021.
LAMPIRAN A
PERHITUNGAN PERCOBAAN
24
4. Perhitungan % Galat
% berat toritis - % berat percobaan
% Galat = × 100%
% berat teoritis
100-127,1
a. % Galat pasir besi =| | ×100% = 27,1%
100
100-72,9
b. % Galat pasir kuarsa =| | ×100% = 27,1%
100
LAMPIRAN B
JAWABAN PERTANYAAN DAN TUGAS KHUSUS
27
5. Jelaskan fungsi grid pada preparat yang digunakan pada mikroskop optik!
Jawab:
Grid pada preparat mikroskop berperan dalam memberikan dasar
yang stabil untuk menempatkan objek atau sampel yang akan diamati.
Membantu menjaga objek tetap fokus dan memfasilitasi perpindahan objek
untuk menginspeksi berbagai bagian dari sampel. Selain itu grid membantu
membagi area sampel menjadi sejumlah bagian yang lebih kecil dan teratur,
seperti kotak-kotak atau garis-garis. Kotak-kotak atau garis-garis
mempermudah pengamat dalam menyelidiki serta mengukur rincian-rincian
tertentu pada sampel dengan lebih efektif.
29
felspar ortoklas, kuarsa, topaz, korundum, dan berlian. Adapun alat alat
yang digunakan untuk mengukur kekerasan mineral, kuku jari digunakan
untuk menguji mineral yang lunak seperti talk dan gipsum (kekerasan 1-2).
Koin tembaga bisa digunakan untuk menguji mineral dengan kekerasan
sekitar 3, seperti kalsit. Pisau baja atau paku besi pisau baja digunakan untuk
menguji mineral dengan kekerasan antara 3-5 (kalsit hingga apatit). Paku
besi cocok untuk mineral dengan kekerasan lebih dari 5. Kaca jendela atau
pelat kaca digunakan untuk menguji kekerasan mineral antara 6-7 seperti
feldspar ortoklas dan kuarsa, karena kaca memiliki kekerasan sekitar 5,5.
Mineral referensi sering digunakan set mineral standar (dari talk hingga
berlian) untuk membandingkan secara langsung kekerasan sampel dengan
mineral-mineral pada skala Mohs. Mineral referensi sering digunakan set
mineral standar (dari talk hingga berlian) untuk membandingkan secara
langsung kekerasan sampel dengan mineral-mineral pada skala Mohs.
8. Apa nama lain dari pasir besi dan tulis rumus kimianya!
Jawab:
Nama lain dari pasir besi adalah hematit, rumus kimia untuk
hematit adalah Fe2O3.
LAMPIRAN C
GAMBAR ALAT DAN BAHAN
34