Aku terbaring di atas kasur busa yang tak pernah membuat punggungku nyaman, menatap
langit-langit kamar yang samar karena satu-satunya sumber cahaya hanya dari pantulan monitor
laptopku yang kubiarkan menyala sembari memutar kumpulan lagu Jason Mraz. Mataku hanya
terbelalak kosong. Entah, kurasa karena terlalu banyak masalah yang kuhadapi akhir-akhir ini
membuat otakku lelah. Di ruangan berukuran 3x3 meter ini, satu-satunya ruangan dimana aku
bisa sedikit melepaskan semua lelah dan beban pikiranku. Mungkin kebanyakan orang berpikir
bahwa hidupku tak ada masalah mengingat aku memang tak pernah kehilangan senyum dan
selalu menemui mereka dengan wajah ceria. Aku hanya tertawa, membuat banyolan dan
lawakan, bahkan aku lebih sering mengusili kawan-kawanku di setiap keseharianku di luar sana.
Yah, aku memang sengaja melakukan itu karena orang lain tak perlu tahu dengan apa yang
terjadi dengan pribadiku, benar kan? Dunia hanya akan menertawaimu begitu tahu apa yang
tengah kau hadapi.
Smartphone yang tergeletak tak jauh dari laptopku tiba-tiba berdering. Aku hanya
meliriknya, tak ada niat sama sekali untuk menerima panggilan itu. Toh, setelah tak dihiraukan
beberapa kali pun akhirnya si penelepon juga pasti akan menyerah. Belum reda dering
smartphone mengganggu, di luar kamar terdengar suatu perdebatan hebat. Aku hanya menghela
napas panjang. Entah apa yang ada dipikirannya, aku rasa seorang perempuan tak perlu bermain
hingga larut malam, apalagi jika kau keluar dengan seorang pria. Setidaknya jam 9 malam adalah
batas terakhir kau bisa masuk gerbang. Smartphoneku tak lagi berdering. Aku meraihnya enggan.
Pertengkaran di luar kamar masih terdengar sengit.
“Goblok, siapa suruh pulang setengah 12?” gumamku setelah melihat jam pada
smartphoneku.
Jariku menggeser pola-pola membingungkan untuk membuka kunci layar smartphone.
Maklum, aku tipe orang overprotektif dengan hal yang berbau privasi, jadi aku tak membiarkan
siapapun dengan mudah mengotak-atik smartphoneku. Lima misscall dari “mantan” terpampang
rapi di history panggilanku. Helaan nafasku semakin panjang. Beberapa pesan dari beberapa
mesengger pun tersusun rapi di kolom notifikasiku. Aku mengeceknya satu persatu. Njir,
kebanyakan hanya dari promo iklan tak jelas, pesan dari provider dan…. dari Nisa. Nisa itu
semacam wanita yang sedikit banyak mewarnai hari-hariku, meskipun faktanya dia hanya akan
menghubungiku saat ada maunya saja. Entah siapa yang sebenarnya dipermainkan, dia atau aku,
but at least dia sedikit berguna untuk jadi penghibur di waktu kosongku.
“Beibii… lagi apa?”
Sebuah pesan manis yang bisa membuat pria single mana pun akan mabuk kepayang,
apalagi jika kalian sudah bertemu dan bertatap muka langsung dengan wanita imut dan manis itu.
Jika pikachu berevolusi jadi manusia, mungkin Nisa salah satunya.
Aku masih berpikir untuk membalas chatnya atau tidak. Sedangkan “mantan”ku di sana
mungkin tengah menunggu telpon balasan setelah panggilannya kuacuhkan.
“ Masa bodo!!” ujarku geram sembari melemparkan smartphoneku ke sisi lain kasur.
Otakku terlalu kacau untuk merespon seluruh hiruk pikuk menjemukan ini. Debat di luar
sana mulai mereda setelah ayahku turun tangan medinginkan suasana. Perlahan, aku hanya
mendengar sayup-sayup gerutuan ibuku yang sesekali ditimpali tenang oleh ayahku. Aku
beranjak keluar, mengambil sebotol air dingin dari dalam kulkas untuk persiapan sebelum tidur.
Mataku mengamati, mencari-cari makanan yang bisa kubawa ke dalam kamar. Dongkol tiba-tiba
menyeruak dalam hati saat aku tak menemukan apel yang selalu kusediakan dalam fruit
container. Aku ingin tahu keparat mana yang mengambil buahku tanpa ijin. Namun, alih-alih
meluapkan rasa dongkol, helaan napas panjang jadi pilihan alternatifku. Ini sudah larut, aku tak
ingin membangkitkan lagi suasana gaduh seperti tadi. Dengan cepat aku meraih sebotol air
dingin dan menutup pintu kulkas dengan sedikit keras. Tak ada respon dari ibu atau ayahku,
entah karena mereka sedang sibuk mengobrol atau apa, aku hanya langsung beranjak kembali ke
dalam kamar. Dan, dalam kegelapan ruang pengap diselimuti kesenyapan malam, aku kembali
merebahkan tubuhku, menunggu lelap.
*********************************************************************
“ Tama, kau apakan video wedding pak Anton?” hardik Lyla menyadarkanku dari lamunan.
Aku hanya menatap wajah yang tengah memerah itu dengan tatapan malas. Hidung Lyla
kembang kempis menahan emosi. Aku tak begitu “ngeh” dengan apa yang dimaksud wanita
berkacamata tebal itu.
“Hei!!! Tak bisakah kau sedikit serius menanggapiku?” protesnya.
“Apa maumu?” tanyaku singkat.
Lyla menyeret kursi yang tak jauh dari tempat bediri, duduk memposisikan diri dengan
wajah yang masih memerah.
“Apa kau ada masalah denganku, hah?” hardiknya tegas.
“Apa maksudmu?”
“Video wedding pak Anton, bukankah kau yang mengerjakan grading warna dan efek
cinematicnya? Tega sekali kau merusak warnanya!!”
Aku diam sejenak, mencoba mengingat-ingat kembali pekerjaan-pekerjaan yang ada
sangkut pautnya dengan wanita aneh itu. Aku berdecak sembari beranjak pergi meninggalkan
Lyla yang hanya melongo melihatkku pergi begitu saja.
“Bukan aku yang mengerjakan! Tanya Adi!” ujarku malas.
“HEI!! TUNGGU!!” ujarnya berang, bereaksi sedikit lebih lambat setlah menerima
tanggapan dingin dariku.
Kakiku terus melangkah tanpa menghiraukan suara lantang itu. Aku terlalu malas untuk
terlibat perang mulut dan argumen dengan wanita itu. Sambil terus mengomel kakinya
melangkah mengikuti ke mana arah kakiku melangkah.