0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan13 halaman

Document 9

Penelitian ini menguji pengaruh metode Student Teams Achievement Division (STAD) terhadap hasil belajar matematika siswa kelas V di MIS Yapis Al Falah, dengan menggunakan metode pre-eksperimen dan melibatkan 15 siswa. Hasil menunjukkan bahwa terdapat pengaruh signifikan dari metode STAD, dengan nilai signifikansi 0.000 dan t hitung 7.897 yang lebih besar dari t tabel 2.14, serta peningkatan skor pre-test dari 64 menjadi 78 pada post-test. Dengan demikian, metode STAD terbukti efektif dalam meningkatkan hasil belajar matematika siswa.

Diunggah oleh

tondiagus838
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan13 halaman

Document 9

Penelitian ini menguji pengaruh metode Student Teams Achievement Division (STAD) terhadap hasil belajar matematika siswa kelas V di MIS Yapis Al Falah, dengan menggunakan metode pre-eksperimen dan melibatkan 15 siswa. Hasil menunjukkan bahwa terdapat pengaruh signifikan dari metode STAD, dengan nilai signifikansi 0.000 dan t hitung 7.897 yang lebih besar dari t tabel 2.14, serta peningkatan skor pre-test dari 64 menjadi 78 pada post-test. Dengan demikian, metode STAD terbukti efektif dalam meningkatkan hasil belajar matematika siswa.

Diunggah oleh

tondiagus838
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

Jurnal Dirosah Islamiyah

Volume 3 Nomor 2 (2021) 166-179 P-ISSN 2656-839x E-ISSN 2716-4683


DOI: 10.17467/jdi.v3i2.351

Pengaruh Metode Pembelajaran Student Teams Achivement


Divisions (STAD) terhadap Hasil Belajar Matematika Siswa
Madrasah Ibtidaiyah

Agus Suryana
Fakultas Tarbiyah IAIN Laa Roiba
suryaagus2012@[Link]

Agus Sugianto
Fakultas Tarbiyah IAIN Laa Roiba
[Link]@[Link]

Ayu Bahari
Fakultas Tarbiyah IAIN Laa Roiba
[Link].@[Link]

ABSTRACT
This study aims to examine the effect of the Student Teams Achievement Division (STAD)
method on the mathematics learning outcomes of grade V students at MIS Yapis Al Falah,
Bojonggede District. This study used a pre-experimental method with a pre-post test design, while
the sample of this study consisted of 15 grade V students. The results showed that there was an
effect of the Student Teams Achievement Division (STAD) method on the Mathematics learning
outcomes of class V students as seen from the results of the grades. sig 0.000 <0.05 so also
obtained tcount = 7.897 while t table = 2.14. Then t count> ttable (-7,897> 2.14) and it can be
concluded that there is an effect of the STAD method on the Mathematics learning outcomes of
class V students at MIS Yapis Al Falah.

Keyword: STAD method, learning outcomes, Mathematics

ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh metode Student Teams
Achievement Division (STAD) terhadap hasil belajar matematika siswa kelas V di MIS
Yapis Al Falah Kecamatan Bojonggede, Kab. Bogor. Penelitian ini menggunakan
metode pre-eksperimen dengan pre-post test desain, sedangkan sampel penelitian ini
sebanyak 15 siswa kelas V. Hasil penelitian menunjukan bahwa terdapat pengaruh
metode student teams achievement division (STAD) terhadap hasil belajar
Matematika siswa kelas V yang terlihat dari hasil nilai sig 0.000 <0.05 begitu juga
diperoleh thitung = 7,897 sedangkan ttabel = 2,14. Maka thitung > ttabel (7,897 > 2,14) dapat
disimpulkan bahwa terdapat pengaruh dari metode STAD terhadap hasil belajar
Matematika siswa kelas V di MIS Yapis Al Falah. Begitu juga terdapat peningkatan
hasil skor pre-test Matematika siswa sebesar 64 menjadi 78 pada skor post-test.
Dengan demikian terdapat pengaruh metode STAD terhadap hasil belajar Matematika
siswa.

Keyword: metode STAD, hasil belajar, Matematika

166 | Volume 3 Nomor 2 2021


Jurnal Dirosah Islamiyah
Volume 3 Nomor 2 (2021) 166-179 P-ISSN 2656-839x E-ISSN 2716-4683
DOI: 10.17467/jdi.v3i2.351

PENDAHULUAN

Pendidikan pada dasarnya adalah usaha sadar untuk menumbuh-


kembangkan potensi sumber daya manusia peserta didik dengan cara mendorong
dan memfasilitasi kegiatan belajar mereka. Secara detail, dalam undang-undang RI
Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Bab 1 Pasal 1 (1)
pendidikan didefinisikan sebagai usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan
suasana belajar dan proses belajar agar peserta didik secara aktif mengembangkan
potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri,
kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya,
masyarakat, bangsa dan negara. Dalam hal ini tentu saja diperlukan adanya
pendidikan yang profesional terutama guru di sekolah-sekolah dasar dan menengah
dan dosen di perguruan tinggi (Syah, 2015). Belajar adalah kegiatan yang berproses
dan merupakan unsur yang sangat fundamental dalam penyelenggaraan setiap jenis
dan jenjang pendidikan. Ini berarti, bahwa berhasil atau gagalnya pencapaian tujuan
pendidikan amat bergantung pada proses belajar yang dialami siswa baik ketika ia
berada di sekolah maupun di lingkungan rumah atau keluarganya sendiri (Syah,
2015). Ada empat unsur utama proses belajar-mengajar, yakni tujuan-bahan-metode
dan alat serta penilaian. Tujuan sebagai arah dari proses belajar-mengajar pada
hakikatnya adalah rumusan tingkah laku yang diharapkan dapat dikuasai oleh siswa
setelah menerima atau menempuh pengalaman belajarnya.

Salah satu tugas yang harus dilaksanakan oleh guru di sekolah ialah
memberikan pelayanan kepada para siswa atau anak didik yang selaras dengan
tujuan sekolah. Dalam keseluruhan proses pendidikan guru merupakan faktor utama
yang bertugas mendidik. Guru memegang berbagai jenis peranan yang mau tidak mau
harus dilaksanakan. Dan guru harus bertanggung jawab atas hasil kegiatan belajar
anak melalui interaksi belajar mengajar, guru merupakan faktor yang memengaruhi
berhasil tidaknya proses belajar dan karenanya guru harus menguasai prinsip-
prinsip belajar. Di samping menguasai materi yang akan diajarkan, guru harus
mampu menciptakan situasi dan kondisi belajar yang sebaik-baiknya (Kompri, 2016).

Pengetahuan mengenai matematika diperoleh setelah individu tersebut


melalui proses belajar. Sementara itu, dalam bahasa Belanda matematika diistilahkan
dengan wiskunde yang berarti ilmu pasti. Pengertian tersebut mengandung makna
bahwa matematika hanya menghendaki satu jawaban yang benar. Kebenaran
matematika harus dapat dibuktikan secara empiris dan bersifat universal. Dalam
artian kebenaran matematika harus berlaku untuk seluruh wilayah di dunia ini
(PLPG, 2011). Matematika sangat berkaitan dalam kehidupan sehari-hari maka dari
itu siswa sangat dianjurkan untuk mempelajarinya. Maka penting dalam
pembelajaran matematika, proses belajar harus diutamakan agar dapat
meningkatkan tahap pembelajaran matematika selanjutnya. Matematika itu
berkaitan dan merupakan jawaban yang pasti tidak bisa dikira-kira, walaupun

167 | Volume 3 Nomor 2 2021


Jurnal Dirosah Islamiyah
Volume 3 Nomor 2 (2021) 166-179 P-ISSN 2656-839x E-ISSN 2716-4683
DOI: 10.17467/jdi.v3i2.351

dengan rumus yang berbeda atau cara-cara yang berbeda dalam penghitungan tetapi
hasilnya tetap akan sama.

Tujuan belajar Matematika di sekolah memegang peranan penting. Siswa


memerlukan matematika untuk memenuhi kebutuhan praktis dan memecah isi dan
berat; dapat mengumpulkan, mengolah, menyajikan dan menafsirkan data; dapat
menggunakan kalkulator dan komputer. Selain itu, manfaat matematika yaitu agar
mampu mengikuti pelajaran matematika lebih lanjut; membantu memahami bidang
lain seperti fisika, kimia, arsitektur, farmasi, geografi ekonomi, dan sebagainya; agar
siswa dapat berpikir dengan logis, kritis dan praktis, beserta berpikir dengan positif
dan lebih kreatif.

Kendala siswa dalam belajar matematika di sekolah salah satunya situasi dan
kondisi siswa dalam kelas, terlihat banyak siswa yang kurang memperhatikan
penjelasan guru. Beberapa siswa yang asyik mengobrol dengan teman sebangku,
sibuk memainkan alat tulis dan ada juga siswa yang suka berjalan-jalan di kelas. Ini
memperlihatkan ketidakfokusan siswa pada mata pelajaran matematika.

Untuk mencapai nilai yang sesuai dengan Ketuntasan Kriteria Minimal (KKM),
guru maupun siswa harus melakukan kegiatan pembelajaran dengan baik.
Keberhasilan dalam mencapai nilai sesuai KKM merupakan harapan dari semua guru.
Ketercapaian KKM ataupun keberhasilan proses pembelajaran bergantung para
peran serta atau partisipasi siswa di dalam proses pembelajaran dan peran serta dari
guru sebagai fasilitator dalam proses pembelajaran.

Dalam pembelajaran matematika dibutuhkan pemahaman konsep yang baik


dan benar sebagai dasar untuk pengembangan materi lebih lanjut. Hal ini sangat
dipengaruhi oleh faktor model pembelajaran yang digunakan. Pembelajaran yang
pasif akan menghambat kreativitas atau pola pikir peserta didik dalam memahami
suatu konsep pembelajaran. Oleh karena itu dalam proses pembelajaran matematika
peserta didik dituntut benar-benar aktif, sehingga daya ingat peserta didik tentang
apa yang telah dipelajari akan lebih baik. Suatu konsep akan mudah dipahami dan
diingat oleh peserta didik apabila konsep tersebut disajikan melalui prosedur dan
langkah-langkah yang tepat, jelas dan menarik. Keaktifan peserta didik merupakan
salah satu faktor yang mempengaruhi keberhasilan dalam belajar. Dengan
pembelajaran matematika yang diaplikasikan dengan metode STAD siswa dapat lebih
aktif dalam belajar matematika dikarenakan metode ini sangat mudah dan siswa
dapat membuat tim dalam pembelajaran dan saling membantu terhadap teman-
teman mereka untuk mempaparkan hasil yang mereka peroleh dari hasil tim mereka,
dan guru akan mengulas dan mengevaluasi kembali pemahaman siswa dari materi
matematika yang disampaikan dalam menggunakan metode STAD.

Melalui model pembelajaran guru dapat membantu peserta didik


mendapatkan informasi, ide, keterampilan, cara berpikir, dan mengekspresikan ide.
Model pembelajaran berfungsi pula sebagai pedoman bagi para perancang

168 | Volume 3 Nomor 2 2021


Jurnal Dirosah Islamiyah
Volume 3 Nomor 2 (2021) 166-179 P-ISSN 2656-839x E-ISSN 2716-4683
DOI: 10.17467/jdi.v3i2.351

pembelajaran dan para guru dalam merancangkan aktivitas belajar mengajar


(Suprijono,2015). Guru yang menggunakan STAD, juga mengacu kepada belajar
kelompok siswa, menyajikan informasi akademik baru kepada siswa setiap minggu
menggunakan presentasi verbal atau teks (Hamdayama,2014). Metode Student
Teams Achievement Division (STAD) memudahkan guru untuk mengajarkan siswa
agar memahami pelajar tersebut serta dapat membagikan ilmu yang mereka dapat
kepada teman-teman kelompoknya yang belum memahaminya. Dengan demikian
perlu diteliti efektivitas metode STAD dalam meningkatkan hasil belajar siswa.
Adapun tujuan penelitian adalah untuk menguji pengaruh penerapan metode Student
Teams Achievement Divisions (STAD) Terhadap Hasil Belajar Matematika Siswa.

TINJAUAN TEORI
Hasil Belajar Matematika
Hasil belajar merupakan penguasaan ilmu pengetahuan yang diungkapkan
dalam bentuk perubahan perilaku yang harus dicapai oleh siswa selama belajar di
sekolah, yang menyangkut aspek kognitif, psikomotor dan afektif (Sinar, 2018).
Menurut Bloom seperti dikutip Arifin (2016) hasil belajar mencakup tiga ranah yaitu
kognitif, afektif, dan psikomotor, sedangkan ranah kognitif terdiri atas kemampuan
pengetahuan, pemahaman, penerapan, analisis, sintesis, dan evaluasi. Proses
pembelajaran yang baik bukan parsial tapi holistik, dan bukan hanya menekankan
pada ranah kognitif atau pengetahuan saja tetapi juga harus semua ranah yaitu afeksi,
kognisi dan psikomotorik sehingga akan menghasilkan peserta didik yang paripurna.
Hasil belajar juga merupakan hasil dari suatu interaksi tindak belajar dan
tindak mengajar. Dari sisi guru, tindak mengajar diakhiri dengan evaluasi hasil belajar
baik dengan ulangan maupun tes. Sedangkan dari sisi siswa, hasil belajar merupakan
berakhirnya pembelajaran dalam periode tertentu dan merupakan puncak dari
proses belajar (Dimyati & Mudjiono, 2013). Hasil belajar diartikan juga sebagai
kemampuan yang diperoleh individu setelah proses belajar berlangsung, yang dapat
memberikan perubahan tingkah laku baik pengetahuan, pemahaman, sikap dan
keterampilan siswa sehingga menjadi lebih baik dari sebelumnya (Purwanto, 2002).
Jadi yang dimaksud hasil belajar di sini adalah hasil seseorang setelah mereka
menyelesaikan belajar dari sejumlah mata pelajaran dengan dibuktikan melalui hasil
tes yang terbentuk nilai hasil belajar. Penyelesaian belajar ini bisa berbentuk hasil
satu sub pokok bahasan, maupun beberapa pokok bahasan yang dilakukan dalam
satu test, yang merupakan hasil usaha sungguh–sungguh dan penuh tanggung jawab
untuk mencapai perubahan prestasi belajar siswa. Sedangkan belajar merupakan
perubahan perilaku yang dipengaruhi oleh berbagai aspek lingkungan. Oleh karena
itu nilai tes sebagai bukti hasil belajar merupakan perwujudan prestasi yang
dituangkan dalam bentuk kemampuan hasil belajar. Tes ini diberikan kepada siswa
untuk dijawab sesuai dengan tingkat kemampuannya, sehingga hasilnya dijadikan
ukuran kemampuan siswa.
Dengan demikian hasil tes yang tertuang dalam bentuk nilai hasil belajar
tersebut merupakan perwujudan prestasi yang telah dicapai setelah mereka

169 | Volume 3 Nomor 2 2021


Jurnal Dirosah Islamiyah
Volume 3 Nomor 2 (2021) 166-179 P-ISSN 2656-839x E-ISSN 2716-4683
DOI: 10.17467/jdi.v3i2.351

melakukan aktivitas belajar sesuai dengan target yang telah ditentukan (Sinar, 2008).
Dari beberapa penjelasan tentang hasil belajar dapat disimpulkan bahwa hasil belajar
adalah suatu hasil yang dapat dilihat dari perubahan sebelumnya dari beberapa tes
yang dilakukan, yang mana hasil tersebut merupakan ukuran kemampuan siswa.
Indikator utama hasil belajar siswa adalah sebagai berikut: 1. Keterampilan daya
serap terhadap bahan pembelajaran yang diarahkan, baik secara individual maupun
kelompok. Ukuran keterampilan daya serap biasanya dilakukan dengan penetapan
kriteria ketuntasan belajar minimal (KKM); dan 2. Perilaku yang digariskan dalam
tujuan pembelajaran dicapai oleh siswa, baik secara individual maupun kelompok.
Indikator dalam hasil belajar Matematika kelas V yaitu suatu pemahaman siswa
dalam menentukan jaring-jaring berbagai bangun ruang sederhana, indikator
pembelajarannya mengetahui jaring-jaring balok dan menggambar jaring-jaring
balok.

Metode Student Teams Achievement Division (STAD)


Menurut Ahmad metode pembelajaran adalah suatu pengetahuan tentang cara-
cara belajar yang dipergunakan oleh guru atau instruktur. Pengertian lain
mengatakan bahwa metode pembelajaran merupakan teknik penyajian yang dikuasai
oleh guru untuk mengajar atau menyajikan pembelajaran kepada siswa di dalam
kelas baik secara individu ataupun secara kelompok, agar pelajaran dapat diserap,
dipahami, dan dimanfaatkan oleh siswa dengan baik (Darmadi, 2017). Metode
pembelajaran adalah cara yang digunakan untuk mengimplementasikan rencana
yang sudah disusun dalam bentuk kegiatan nyata dan praktis untuk mencapai tujuan
pembelajaran (Arifin & Murtadho, 2016).
Menurut Slavin pembelajaran Student Teams Achievement Divisions (STAD)
merupakan salah satu dari tipe pembelajaran kooperatif yang paling sederhana,
sehingga tipe ini dapat digunakan oleh guru-guru yang baru mulai menggunakan
pembelajaran kooperatif (Afandi et al., 2013).
Metode pembelajaran Student Teams Achievement Division (STAD) dikembangkan
oleh Robert Slavin dan teman-temannya di Universitas John Hopkins Amerika Serikat,
dan merupakan pendekatan pembelajaran kooperatif yang paling sederhana. Guru
yang menggunakan STAD, juga mengacu kepada belajar kelompok siswa, menyajikan
informasi akademik baru kepada siswa setiap minggu menggunakan presentasi
verbal atau teks. Siswa dalam suatu kelas tertentu dipecah menjadi kelompok dengan
anggota 4-5 orang. Setiap kelompok harus heterogen, terdiri atas laki-laki dan
perempuan, berasal dari berbagai suku, memiliki kemampuan tinggi, sedang dan
rendah. Anggota tim menggunakan lembar kegiatan atau perangkat pembelajaran
yang lain untuk menuntaskan materi pembelajaran dan kemudian saling membantu
satu sama lain untuk memahami bahan pembelajaran melalui tutorial, kuis satu sama
lain dan atau melakukan diskusi. Secara individual, setiap minggu atau setiap dua
minggu siswa diberi kuis. Kuis itu diskor, dan tiap individu diberi skor perkembangan.
Skor perkembangan ini tidak berdasarkan pada skor mutlak siswa, tetapi
berdasarkan pada berapa jauh skor itu melampaui rata-rata skor yang lalu. Setiap

170 | Volume 3 Nomor 2 2021


Jurnal Dirosah Islamiyah
Volume 3 Nomor 2 (2021) 166-179 P-ISSN 2656-839x E-ISSN 2716-4683
DOI: 10.17467/jdi.v3i2.351

minggu pada suatu lembar penilaian singkat atau dengan cara lain, diumumkan tim-
tim dengan skor tertinggi, siswa yang mencapai skor sempurna pada kuis-kuis itu.
Karakteristik STAD adalah sebagai berikut.
1. Tujuan kognitif: informasi akademik sederhana.
2. Tujuan sosial: kerja kelompok dan kerja sama.
3. Struktur tim: kelompok belajar heterogen dengan 4-5 orang anggota
4. Pemilihan topik pelajaran, biasanya oleh guru
5. Tugas utama: siswa dapat menggunakan lembar kegiatan dan saling membantu
untuk menuntaskan materi belajaranya.
6. Penilaian: tes mingguan (Hamdayama, 2014).

Menurut Ramafrizal & Somadi (2018), model pembelajaran STAD lebih


mementingkan sikap partisipasi peserta didik dalam rangka mengembangkan
potensi kognitif dan afektif. Kelebihan STAD antara lain:
1. Relatif mudah penerapannya.
2. Mampu memotivasi peserta didik dalam mengembangkan potensi individu
terutama
3. kreativitas dan tanggungjawab dalam mengangkat citra kelompoknya.
4. Melatih peserta didik untuk bekerja sama dan saling tolong dalam kelompok.
5. Peserta didik mampu meyakinkan dirinya dan orang lain bahwa tujuan yang
ingin
6. dicapai bergantung pada kinerja mereka, bukanlah karena keberuntungan
7. Peserta didik lebih mampu berkomunikasi verbal dan nonverbal dalam
bekerjasama.
8. Meningkatkan keakraban peserta didik.

Pembelajaran STAD perlu dilakukan secara sistematis. Langkah–langkah penerapan


pembelajaran kooperatif STAD adalah sebagai berikut:
1. Guru menyampaikan materi pembelajaran atau permasalahan kepada siswa
sesuai kompetensi dasar yang akan dicapai.
2. Guru memberikan tes/kuis kepada setiap siswa secara individu sehingga akan
diperoleh skor awal.
3. Guru membentuk beberapa kelompok. Setiap kelompok terdiri atas 4–5 siswa
dengan kemampuan yang berbeda–beda (tinggi, sedang dan rendah). Jika
mungkin, anggota kelompok berasal dari ras, budaya, suku yang berbeda serta
kesetaraan gender.
4. Bahan materi yang telah dipersiapkan didiskusikan dalam kelompok untuk
mencapai kompetensi dasar. Pembelajaran kooperatif tipe STAD, biasanya
digunakan untuk penguatan pemahaman materi.
5. Guru memfasilitasi siswa dalam membuat rangkuman, mengarahkan, dan
memberikan penegasan pada materi pembelajaaran yang telah dipelajari.
6. Guru memberikan tes/kuis kepada setiap siswa secara individual.

171 | Volume 3 Nomor 2 2021


Jurnal Dirosah Islamiyah
Volume 3 Nomor 2 (2021) 166-179 P-ISSN 2656-839x E-ISSN 2716-4683
DOI: 10.17467/jdi.v3i2.351

7. Guru memberikan penghargaan pada kelompok berdasarkan perolehan nilai


peningkatan hasil belajar individual dari skor dasar ke skor kuis berikutnya
(Hamdayama, 2014).

Pembelajaran metode STAD perlu mengikuti langkah-langkah yang benar agar


pembelajaran tersebut sesuai dengan metode STAD. Menurut Slavin dalam Afandi
(2010) belajar kooperatif tipe STAD melalui 5 tahap yang meliputi:
1. Presentasi kelas
Materi dalam STAD pertama-tama diperkenalkan dalam presentasi di dalam
kelas. Ini merupakan pengajaran langsung seperti yang sering kali dilakukan,
atau diskusi pelajaran yang dipimpin oleh guru. Bedanya presentasi kelas
dengan pengajaran biasa hanyalah bahwa presentasi tersebut haruslah
benar-benar fokus pada unit STAD. Dengan cara ini siswa akan menyadari
bahwa mereka harus benar-benar memberi perhatian penuh selama
presentasi kelas, karena dengan demikian akan sangat membantu mereka
mengerjakan kuis-kuis.
2. Tim
Tim terdiri dari empat atau lima siswa yang mewakili bagian dari seluruh
kelas dalam hal kinerja akademik, jenis kelamin, ras dan etnik. Fungsi utama
dari tim ini adalah memastikan bahwa semua anggota tim benar-benar
belajar, dan untuk mempersiapkan anggotanya untuk bisa mengerjakan kuis
dengan baik. Setelah itu guru menyampaikan materi, tim berkumpul untuk
mempelajari lembar kegiatan. Pembelajaran itu melibatkan pembahasan
permasalahan bersama, membandingkan jawaban, dan mengoreksi tiap
kesalahan pemahaman apabila anggota tim ada yang membuat kesalahan.
3. Kuis
Setelah guru mempresentasikan materi dan praktik tim atau kerja kelompok,
para siswa akan mengerjakan kuis individual. Para siswa tidak diperbolehkan
untuk saling membantu dalam mengerjakan kuis. Sehingga, setiap siswa
bertanggung jawab secara individual untuk memahami materinya.
4. Skor Kemajuan Individual
Gagasan di balik skor kemajuan individual adalah untuk memberikan kepada
setiap siswa tujuan kinerja yang akan dapat dicapai apabila mereka bekerja
lebih giat dan memberikan kinerja yang lebih baik daripada sebelumnya. Tiap
siswa diberikan skor “awal”, yang diperoleh dari rata-rata kinerja siswa
tersebut sebelumnya dalam mengerjakan kuis yang sama. Siswa selanjutnya
akan mengumpulkan poin untuk tim mereka berdasarkan tingkat kenaikan
skor kuis mereka dibandingkan dengan skor awal mereka.
5. Rekognisi Tim
Tim akan mendapatkan sertifikat atau bentuk penghargaan yang lain apabila
skor rata-rata mereka mencapai kriteria tertentu.

Kerangka Berpikir

172 | Volume 3 Nomor 2 2021


Jurnal Dirosah Islamiyah
Volume 3 Nomor 2 (2021) 166-179 P-ISSN 2656-839x E-ISSN 2716-4683
DOI: 10.17467/jdi.v3i2.351

Metode STAD adalah metode pembelajaran yang sederhana, dalam


pembelajaran penting adanya suatu metode untuk memudahkan siswa dalam belajar.
Maka dalam metode STAD terdapat kelompok di mana dalam kelompok tersebut
harus tercampur yaitu tidak boleh memilih-milih harus sama rata. Dalam kelompok
harus ada kerja sama, yakni kerjasama antar siswa dalam kelompok untuk mencapai
tujuan pembelajaran. Dalam penerapan metode STAD guru selalu memantau murid-
murid dalam kelompoknya, dan guru harus dapat menyajikan metode ini seefektif
mungkin agar dalam penerapan pembelajaran metode STAD ini tidak adanya
kebosanan pada siswa. Para guru pasti lebih mengetahui metode metode yang sesuai
dalam pembelajarannya untuk meningkatkan hasil belajar siswa.
Belajar adalah sebagai suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk
memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai
hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya. Pada dasarnya
belajar adalah tahapan perubahan perilaku yang relatif positif sebagai suatu interaksi
terhadap lingkungan yang melibatkan proses kognitif.
Dalam proses pembelajaran akan terlihat hasil pembelajaran yang diperoleh
dari beberapa tes dan evaluasi lainnya. Hasil belajar sangat penting untuk mengetahui
seberapa berkembangnya atau perubahan yang telah siswa capai dari hasil belajar
sebelumnya. Untuk meningkatkan pembelajaran siswa selanjutnya maka perlu ada
hasil belajar. Dengan demikian, jika metode pembelajaran Student Teams
Achievement Division (STAD) berpengaruh positif terhadap hasil belajar siswa, maka
hasil pembelajaran siswa akan meingkat dan diduga terdapat hubungan antara
metode Student Teams Achievement Division(STAD) dengan hasil belajar matematika.
Bagan yang menunjukkan keadaan awal dalam belajar siswa, adanya
perlakuan/pemecahan masalah sampai dengan keadaan akhir di mana hasil belajar
matematika semakin meningkat.

Keadaan Awal Perlakuan (Treatment) Keadaan Akhir

• Hasil Belajar Matematika • Penerapan Metode STAD • Hasil Belajar Matematika


Rendah • Pemberian Motivasi Meningkat
• Motivasi rendah kepadda siswa • Siswa lebih aktif dalam
• Metode mengajar tidak • Memberikan apresiasi pembelajaran Matematika
variatif atau rekognisi • Berkembangnya minat
• Siswa kurang aktif dalam • Membuat Kuis yang siswa dalam belajar
tugas kelompok menarik dan Matematika
• Tidak adanya rekognisi/ menyenangkan
penghargaan dalam
pembelajaran

Gambar 1. Model Kerangka Berpikir Penerapan Metode STAD

METODE PENELITIAN
Penelitian ini dilakukan di Madrasah Ibtidaiyah (MI) Yapis Al-Falah yaitu
lembaga pendidikan formal yang berada di bawah naungan Departemen Agama yang
beralamat di MIS Yapis Al Falah Bojonggede Bogor. Waktu penelitian dilakukan
selama 4 bulan dari Maret sampai dengan Agustus 2020.

173 | Volume 3 Nomor 2 2021


Jurnal Dirosah Islamiyah
Volume 3 Nomor 2 (2021) 166-179 P-ISSN 2656-839x E-ISSN 2716-4683
DOI: 10.17467/jdi.v3i2.351

Peneliti menggunakan metode pre-eksperimental desain dengan rancangan


pre-post test di kelas V dengan 15 orang siswa. Peneliti memberikan pre-test
Matematika pada siswa lalu mengajar dengan metode STAD, setelah mengajar
beberapa kali pertemuan kemudian siswa diberikan lagi post-test Matematika.

Variabel penelitian terdiri dari variabel bebas (independent variable) yaitu


variabel ini juga sering disebut sebagai variabel stimulus, predictor, antecedent.
Variabel bebas merupakan variabel yang mempengaruhi atau yang menjadi sebab
perubahan atau timbulnya variabel terikat (dependent variable). Variabel bebas
dalam penelitian ini adalah Metode STAD. Adapun desain atau konstalasi
penelitiannya sebagai berikut:

O1 X O2
O1 = Nilai pre test Matematika (sebelum diberi perlakuan)
O2 = Nilai post test Matematika (setelah diberi perlakuan)
X = Kelompok yang diberi perlakuan (diajar dengan metode
STAD)

Instrumen penelitian adalah suatu alat yang digunakan untuk mengukur


fenomena alam maupun sosial yang diamati (Suryana, 2012). Instrumen penelitian
menggunakan tes pilihan ganda berjumlah 20 butir soal. Instrumen ini diberikan pada
saat pre-test dan post-test pembelajaran dengan metode STAD. Indikator tes hasil
belajar Matematika kelas V terdiri dari mengidentifikasi bangun ruang sederhana,
membedakan jaring-jaring ruang sederhana, memahami jaring-jaring bangun kubus
dan balok.
Analisis data penelitian menggunakan analisis statistik deskriptif dan statistik
inferensial dengan bantuan SPSS IBM 25. Statistik deskriptif untuk mengetahui
varians, standar deviasi dan rerata hasil belajar Matematika pada saat pre dan post
tes sedangkan uji inferensial dengan uji t digunakan untuk menguji pengaruh Metode
STAD terhadap hasil belajar Matematika siswa kelas V.

HASIL DAN PEMBAHASAN


Deskripsi Data Pre dan Post-Tes Hasil Belajar Matematika

Berdasarkan hasil data pre-test hasil belajar Matematika sebelum diajar


Metode STAD, didapatkan rentang skor empirik antara 50 sampai dengan 85, dengan
rata-rata pre-test 64 dan post-test 78. Terlihat ada peningkatan skor tes sebelum dan
setelah diajar dengan metode STAD. Perhitungan selengkapnya data pre-test dan pos-
test sebagai berikut:

Paired Samples Statistics


Std. Error
Mean N Std. Deviation Mean

174 | Volume 3 Nomor 2 2021


Jurnal Dirosah Islamiyah
Volume 3 Nomor 2 (2021) 166-179 P-ISSN 2656-839x E-ISSN 2716-4683
DOI: 10.17467/jdi.v3i2.351

Pair 1 pretest 63.6667 15 10.08299 2.60342


postest 77.6667 15 7.98809 2.06252

Sebelum diuji dengan uji t data diukur dulu normalitasnya baik untuk data
pre-test dan post-test. Hasil uji normalitas dengan uji Kolmogorov-Smirnov untuk
data pre-test menunjukkan data termasuk katagori normal dengan kriteria nilai
signifikansi 0,200 > 0,05. Data lengkap hasil perhitungan uji normalitas adalah
sebagai berikut:

Tests of Normality
Kolmogorov-Smirnova Shapiro-Wilk
Statist
ic df Sig. Statistic df Sig.
pretest .135 15 .200 * .938 15 .364
*. This is a lower bound of the true significance.
a. Lilliefors Significance Correction

Begitu juga uji normalitas Kolmogorov-Smirnov untuk data post-test


menujukkan data termasuk ke dalam data normal dengan kriteria nilai signifikansi
0,200 > 0,05 dan perhitungan lengkapnya sebagai berikut.

Tests of Normality
Kolmogorov-Smirnova Shapiro-Wilk
Statistic df Sig. Statistic df Sig.
postest .148 15 .200* .944 15 .431
*. This is a lower bound of the true significance.
a. Lilliefors Significance Correction

Setelah data penelitian terpenuhi syarat normalitasnya maka dilanjutkan


dengan uji t untuk menguji apakah terdapat perbedaan signifikan antara nilai hasil
belajar Matematika antara sebelum diajar dengan metode STAD dan setelah diajar
dengan metode STAD. Hasil perhitungan uji t nya adalah sebagai berikut.

Paired Samples Test

Paired Differences t df

175 | Volume 3 Nomor 2 2021


Jurnal Dirosah Islamiyah
Volume 3 Nomor 2 (2021) 166-179 P-ISSN 2656-839x E-ISSN 2716-4683
DOI: 10.17467/jdi.v3i2.351

95% Confidence
Interval of the
Std. Difference
Std. Error Sig. (2-
Mean Deviation Mean Lower Upper tailed)

Pair pretest - 6.86607 1.77281 -17.80230 -10.19770 -7.897 14 .000


1 - 14.00000
postest

Hasil uji signifikansi sig 0.000 <0.05 dan hasil pengujian uji t diperoleh thitung = -
7,897 sedangkan ttabel = 2,14. Maka thitung > ttabel (-7,897 > 2,14) dapat disimpulkan
bahwa terdapat pengaruh antara metode STAD terhadap hasil belajar siswa mata
pelajaran Matematika kelas V di MIS Yapis Al Falah.

Pembahasan

Berdasarkan hasil analisis data dalam penelitian diketahui bahwa rata-rata


skor pre-test dalam mata pelajaran matematia MIS Yapis Al Falah 63,67 (64),
sedangkan rata-rata skor post-test dalam pelajaran matematika adalah 77,67 (78)
maka adanya peningkatan hasil belajar Matematika sebelum dan setelah diajar
metode STAD. Begitu juga hasil uji signifikansi sig 0.000 <0.05 dan hasil pengujian uji
t diperoleh thitung = -7,897 sedangkan ttabel = 2,14. Maka thitung > ttabel (-7,897 > 2,14)
dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh antara metode STAD terhadap hasil
belajar siswa mata pelajaran Matematika kelas V di MIS Yapis Al Falah.

Efektivitas metode STAD tersebut sejalan dengan konsep bahwa


pembelajaran kooperatif model STAD ini membuat siswa memiliki peluang untuk
berdiskusi dalam kelompok kelasnya sehingga tercipta suasana belajar yang lebih
aktif, efektif dan menyenangkan (Kusumawardani, Siswanto, & Purnamasari, 2018).
Selain itu metode STAD juga mampu memberikan suasana agar siswa termotivasi
dan saling membantu dalam memahami sebuah materi pelajaran dan saling
membantu dalam menyelesaikan masalah (Kusumawardani et al., 2018). Model
pembelajaran kooperatif tipe student membantu satu sama lain untuk menguasai
pengetahuan atau keterampilan yang diajarkan guru (Rusman, 2013). Teams
achievement division (STAD) adalah salah satu model pembelajaran yang dapat
meningkatkan hasil belajar. Pada dasarnya model cooperative learning
dikembangkan untuk mencapai tiga tujuan pembelajaran yaitu meningkatkan hasil
belajar akademik, penerimaan terhadap perbedaan individu, dan pengembangan
keterampilan sosial (Prastya, 2017). Model pembelajaran tipe STAD merupakan salah
satu model pembelajaran kooperatif yang sederhana dan merupakan model yang
sesuai bagi para guru yang baru menggunakan pendekatan kooperatif serta adanya
penilaian dalam bentuk kuis yang akan memberikan penghargaan pada individu

176 | Volume 3 Nomor 2 2021


Jurnal Dirosah Islamiyah
Volume 3 Nomor 2 (2021) 166-179 P-ISSN 2656-839x E-ISSN 2716-4683
DOI: 10.17467/jdi.v3i2.351

maupun kelompok secara seimbang. Model pembelajaran kooperatif tipe STAD


menekankan proses pembelajaran dilakukan dalam kelompok kooperatif, terjadi
saling kerjasama antara yang satu dengan lain, bisa saling bertukar pikiran, berbagi
tangungjawab, bisa saling memahami antara yang satu dengan yang lain, sehingga
dapat mempengaruhi keterampilan sosial yang dimilikinya (Suandi, Sahmawa, &
Sariyasa, 2013). Selain itu, hal-hal yang membuat metode STAD mempengaruhi hasil
belajar siswa adalah adanya kerjasama antara guru dan siswa untuk lebih giat dalam
mencapai tujuan pembelajaran dan guru lebih berusaha lebih baik untuk
menciptakan suasana kelas yang menyenangkan, aktif dan kreatif sehingga materi
yang diajarkan dapat dipahami oleh siswa.

KESIMPULAN DAN SARAN

Berdasarkan hasil penelitian tersebut maka dapat ditarik kesimpulan sebagai


berikut: Terdapat peningkatan hasil belajar Matematika antara sebelum dan setelah
diajar dengan Metode STAD dimana rata-rata pre-test sebesar 64 dan post-test
sebesar 78. Berdasarkan uji hipotesis yang menghasilan nilai thitung > ttabel yaitu thitung =
7,897 dan ttabel = 2,14 begitu juga nilai sig 0.000 <0.05 yang menunjukkan terdapat
pengaruh metode STAD terhadap hasil belajar Matematika.

Dengan demikian guru dapat menggunakan metode STAD sebagai salah satu
metode belajar alternatif untuk meningkatkan hasil belajar Matematika siswa, juga
agar siswa mampu termotivasi dan meningkat kerjasamanya. Begitu juga pihak
sekolah perlu mendorong guru-gurunya untuk menerapkan berbagai metode variatif
di antaranya metode STAD dalam pelajaran Matematika sehingga siswa lebih mudah
memahami pelajaran tersebut. Bagi peneliti lain perlu diteliti efektivitas metode
STAD dalam meningkatkan variabael-variabel psikologi siswa seperti motivasi,
efikasi diri, kepercayaan diri dan semangat belajar siswa.

DAFTAR PUSTAKA

Afandi, M. & Irawan, D. (2013). Pembelajaran Kooperatif Tipe Student Teams Achivement
Division Di Sekolah Dasar. Semarang: Unissula Press.

Afandi, M., Chamalah, E, & Wardani, O.P. (2013). Model dan Metode Pembelajaran Di Sekolah.
Semarang: Unissula Press.

Darmadi. (2017). Pengembangan Model Pembelajaran dalam Dinamika Belajar Siswa,


Yogyakarta: Deepublish.

Dimyati dan Mudjiono (2013). Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta.

Hamdayama, J. (2014). Model dan Metode Pembelajaran Kreatif dan Berkarakter.


Bogor: Ghalia Indonesia.

177 | Volume 3 Nomor 2 2021


Jurnal Dirosah Islamiyah
Volume 3 Nomor 2 (2021) 166-179 P-ISSN 2656-839x E-ISSN 2716-4683
DOI: 10.17467/jdi.v3i2.351

Kompri (2016). Motivasi Belajar Perspektif Guru dan Siswa. Bandung: Remaja
Rosdakarya.

Kusumawardani, N., Siswanto, J. dan Purnamasari, V. (2018). Pengaruh Model


Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD Berbantuan Media Poster terhadap Hasil Belajar
Peserta Didik. Jurnal Ilmiah Sekolah Dasar, 2(2), 170-174.
[Link]

PLPG PGSD FIP UNJ (2011). Modul Pendidikan Dan Latihan Profesi Guru Sekolah
Dasar. Jakarta: Universitas Negeri Jakarta.

Prastya, D. (2017). Peningkatan Hasil Belajar IPA melalui Penerapan Model Pembelajaran
Cooperative Tipe Student Teams Achivement Division (STAD) pada Siswa Kelas V
Sekolah Dasar. EduHumaniora Jurnal Pendidikan Dasar, 9(2), 99-108.
[Link]

Purwanto, M. (2002). Psikologi Pendidikan, Bandung: Remaja Rosda Karya.

Sinar. (2018). Metode Active Learning - Upaya Peningkatan Keaktifan dan Hasil Belajar Siswa.
Yogyakarta: Deepublish.

Suprijono, A (2015). Cooperative Learning. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2015.

Suryana, A. Analisis Instrumen Skripsi Mahasiswa STAI Al-Hidayah Bogor Tahun


2005-2010, Edukasi Islami: Jurnal Pendidikan Islam, Vol 1, No 02, 2012.

Suandi, M.S., Lasmawan, W., & Sariyasa, S. (2013). Pengaruh Model Pembelajaran
Kooperatif Tipe STAD Terhadap Hasil Belajar IPS dan Keterampilan Sosial Siswa Kelas
V SD Negeri 1 Jerowaru Lombok Timur. e-Journal Program Pascasarjana Universitas
Pendidikan Ganesha Program Studi Pendidikan Dasar, 3.

Suryana, Y.R. & Somadi, T.J. (2018). Kajian Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD
(Student Teams Achievement Division) dalam Upaya Meningkatkan Efektifitas Proses
Belajar Mengajar Akuntansi. Oikos: Jurnal Kajian Pendidikan Ekonomi dan Ilmu
Ekonomi, 2(2), 133-145.

Syah, M. (2015). Psikologi Belajar. Jakarta: Rajawali Pers.

178 | Volume 3 Nomor 2 2021

Anda mungkin juga menyukai