0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan20 halaman

Bab Ii

Dokumen ini membahas pengaruh model pembelajaran Discovery Learning terhadap kemampuan berpikir kreatif siswa dalam materi bangun ruang sisi datar. Model ini menekankan partisipasi aktif siswa dalam menemukan pengetahuan melalui eksplorasi dan eksperimen, yang diharapkan dapat meningkatkan kreativitas dan pemahaman siswa. Langkah-langkah dalam model ini mencakup stimulasi, identifikasi masalah, pengumpulan data, pengolahan data, verifikasi, dan generalisasi.

Diunggah oleh

adetiyas
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan20 halaman

Bab Ii

Dokumen ini membahas pengaruh model pembelajaran Discovery Learning terhadap kemampuan berpikir kreatif siswa dalam materi bangun ruang sisi datar. Model ini menekankan partisipasi aktif siswa dalam menemukan pengetahuan melalui eksplorasi dan eksperimen, yang diharapkan dapat meningkatkan kreativitas dan pemahaman siswa. Langkah-langkah dalam model ini mencakup stimulasi, identifikasi masalah, pengumpulan data, pengolahan data, verifikasi, dan generalisasi.

Diunggah oleh

adetiyas
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN DISCOVERY LEARNING TERHADAP

KEMAMPUAN BERFIKIR KREATIF SISWA PADA MATERI BANGUN RUANG SISI


DATAR

Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah


PENELITIAN KUANTITATIF

Dosen : Dr. Nurwiani, M. Si.

Oleh :

1. INDA SARI (251003)


2. ERINGGA DWI NUR I. (251014)
3. RR ADETIYAS FARA ULIL M (251010)

PASCA SARJANA

PROGRAM STUDI MAGISTER PENDIDIKAN MATEMATIKA

UNIVERSITAS PGRI JOMBANG

2025
BAB II
KAJIAN TEORI

A. Model Pembelajaran Discovery Learning


1. Pengertian Model Pembelajaran Discovery Learning
Model pembelajaran adalah suatu proses planning yang digunakan
sebagai pedoman atau panduan dalam proses pembelajaran. Selanjutnya model
pembelajaran juga merupakan salah satu bentuk pendekatan yang digunakan dalam
rangka membentuk perubahan sikap dan perilaku peserta didik agar dapat
meningkatkan motivasi dalam proses pembelajaran. Selanjutnya konsep model
pembelajaran sangat erat sekali kaitannya dengan gaya dan strategi belajar peserta
didik dalam meningkatkan prestasi dan hasil belajar (Ponidi dkk., 2021). Model
pembelajaran juga mengacu pada pendekatan (approach) pembelajaran yang akan
digunakan, termasuk di dalamnya tujuan-tujuan yang akan dicapai dalam
pembelajaran, tahap-tahap atau sintaks dalam kegiatan pembelajaran, lingkungan
pembelajaran serta manajemen kelas. Dengan demikian model pembelajaran adalah
prosedur atau pola sistematis yang digunakan sebagai pedoman atau panduan untuk
mencapai tujuan pembelajaran di dalamnya terdapat pendekatan, strategi, teknik,
metode, bahan, media dan alat pembelajaran.
Bagi seorang guru/pendidik dalam memahami suatu konsep model
pembelajaran sangatlah penting karena model pembelajaran efektif digunakan dalam
meningkatkan kualitas kegiatan belajar mengajar, karena pada kegiatan pembelajaran
peserta didik dituntut agar dapat berperan secara aktif dalam pembelajaran serta
diharapkan dapat menggunakan kemampuan berpikir tingkat tinggi, mengasah
kekompakan dan kerja sama dalam sebuah tim/kelompok.
Kata discovery secara bahasa berasal dari kata dalam Bahasa Inggris yang
memiliki arti penemuan (Kokasih, 2014). Pembelajaran discovery learning
merupakan model pembelajaran yang efektif dan menyenangkan menuntut
partisipasi aktif peserta didik, baik itu dalam perencanaan, pelaksanaan, maupun
penilaian. Maka dari itu, diperlukan lingkungan kondusif untuk memfasilitasi rasa
ingin tahu peserta didik. Lingkungan ketika peserta didik dapat melakukan
eksplorasi, penemuan-penemuan baru yang belum dikenal dan pemahaman yang
mirip dengan yang sudah diketahui dinamakan lingkungan discovery learning.
Dengan adanya partisipasi aktif, siswa memiliki kesempatan yang lebih besar untuk
mengingat dan memahami materi pelajaran daripada hanya mendengarkan dan
menonton secara pasif.
Model discovery learning adalah salah satu model yang memungkinkan
tumbuhnya daya inovasi dan kreativitas peserta didik, sebab terbuka peluang peserta
didik untuk menjadi subjek atau berperan serta dalam pembelajaran. Peserta didik
tidak lagi menjadi objek sebagaimana pembelajaran model terdahulu yang
didominasi oleh guru atau pembelajaran berbasis guru. Selanjutnya dalam proses
pembelajaran ini guru tidak menyajikan bahan ajar sampai akhir atau tuntas tetapi
memberi kesempatan kepada peserta didik materi-materi untuk terlibat dalam
melakukan berbagai kegiatan misalnya menghimpun informasi, membandingkan,
mengategorikan, menganalisis, mengintegrasikan bahan serta membuat kesimpulan-
kesimpulan. Cara seperti ini diharapkan akan melahirkan peserta didik yang kreatif,
inovatif bahkan dapat memasukkan kearifan lokal yang dapat memberi penguatan
karakter mahasiswa. Oleh karena itu memberi indikasi bahwa esensi dari model
discovery learning sesungguhnya ingin mengubah kegiatan belajar mengajar yang
teacher oriented (berpusat pada guru) menjadi student oriented (berpusat pada siswa)
(Bruner, 2014; Castronova, 2002).
Discovery learning adalah model pembelajaran yang mengutamakan
siswa untuk aktif menemukan sendiri pengetahuan melalui observasi dan
eksperimen, yang dikemukakan oleh beberapa ahli seperti Jerome Bruner yang
memperkenalkan konsepnya, M. Hosnan yang menyebutkan tujuannya adalah agar
hasil belajar lebih tahan lama karena ditemukan sendiri, dan Sanjaya yang
menekankan bahwa materi pelajaran dicari dan ditemukan sendiri oleh peserta didik.
ada beberapa pendapat menurut para ahli, diantaranya:
1) Jerome Bruner:
Mengemukakan bahwa proses belajar terbaik adalah saat siswa secara aktif terlibat
dalam menemukan pengetahuan sendiri, tanpa diberi informasi final secara langsung.
2) M. Hosnan:
Mendefinisikan discovery learning sebagai model untuk mengembangkan cara belajar
aktif, di mana siswa menemukan dan menyelidiki sendiri, sehingga hasil yang
diperoleh lebih setia dan tahan lama dalam ingatan.
3) Sanjaya:
Menyatakan bahwa discovery learning adalah model pembelajaran di mana siswa
mencari dan menemukan bahan pelajaran melalui berbagai kegiatan yang mereka
lakukan sendiri.
4) Russefendi:
Berpendapat bahwa metode ini menekankan pada kemampuan peserta didik untuk
menemukan pengetahuan baru.

Berdasarkan dari beberapa pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa Model


pembelajaran discovery learning adalah suatu kegiatan menemukan pengetahuan
sendiri, tanpa diberi informasi final secara langsung. untuk mengembangkan cara belajar
aktif siswa sehingga hasil yang diperoleh tidak hanya suatu ingatan melainkan
pemahaman yang bersifat tahan lama.

2. Langkah-Langkah Model Pembelajaran Discovery Learning


Menurut Kemdikbud(2015), langkah-langkah model pembelajaran Discovery
Learning adalah (1) Stimulasi (pemberian rangsangan), (2) Identifikasi Masalah
(pernyataan/perumusan masalah), (3) Pengumpulan Data, (4) Pengolahan Data, (5)
Pembuktian (verifikasi), dan (6) Menarik Kesimpulan (generalisasi). Model ini
mendorong siswa untuk menemukan konsep atau prinsip sendiri melalui eksplorasi dan
pemecahan masalah.
Langkah-langkah pembelajaran discovery learning menurut Khoirul Anam
adalah sebagai berikut:
1) Identifikasi kebutuhan peserta didik.
2) Seleksi pendahuluan terhadap prinsip-prinsip, pengertian konsep dan generalisasi
yang akan dipelajari.
3) Mengajukan masalah-masalah dan tugas-tugas.
4) Membantu memperjelas atas masalah yang diajukan.
5) Mempersiapkan susunan kelas adan alat-alat yang diperlukan.
6) Membantu peserta didik mengumpulkan informasi/data.
7) Melakukan analisis serta mengidentifikasi.
Berdasarkan langkah-langkah diatas, dalam penelitian dengan model
Discovery Learning mengambil langkah-langkah pembelajaran yang dijabarkan
Syafaruddin karena langkah-langkah yang digunakan lebih jelas dan terperinci.
Tahapan-tahapan proses pembelajaran dengan model discovery learning adalah sebagai
berikut:
1) Menyajikan pertanyaan atau masalah
2) Membuat hipotesis
3) Merancang percobaan
4) Melakukan diskusi untuk memperoleh informasi
5) Mengumpulkan dan menganalisis data
6) Membuat Kesimpulan
Eggen dan Kauchak juga mengemukakan tahapan tahapan dalam proses
pembelajaran mengunakan model discovery learning, tahapan tersebut adalah
sebagai berikut:
TABEL II.1
LANGKAH- LANGKAH PEMBELAJARAN DISCOVERY LEARNING

Fase Perilaku Guru


1. Menyajikan pertanyaan atau masalah Guru membimbing siswa untuk
mengidentifikasi masalah dan masalah
dituliskan dipapan tulis. Guru membagi
siswa dalam kelompok.
2. Membuat Hipotesis Guru memberikan kesempatan pada
siswa untuk memberikan pendapat
dalam Membentuk hipotesis yang
relevan dengan permasalahan dan
memprioritaskan hipotesis mana yang
menjadi prioritas pendidikan
3. Merancang Percobaan Guru memberikan kesempatan
pada siswa untuk menentukan
langkah-langkah yang sesuai
dengan hipotesis yang akan
dilakukan. Guru membimbing
siswa mengurutkan langkah-
langkah pemecahan masalah
4. Melakukan diskusi untuk Guru membimbing siswa
memperoleh informasi mendapatkan informasi
melalui diskusi.
5. Mengumpulkan dan menganalisis Guru memberi kesempatan pada tiap
data kelompok untuk menyampaikan hasil
pengolahan data yang terkumpul.
6. Membuat kesimpulan Guru membimbing siswa dalam
membuat kesimpulan

Selain itu, Mulyasa menyatakan bahwa discovery learning merupakan


model pembelajaran untuk menemukan sesuatu yang bermakna dalam
pembelajaran yang dilakukan dengan prosedur sebagai berikut:
1) Stimulus (Stimulation), pada kegiatan ini guru memberikan stimulant, dapat
berupa bacaan, gambar, dan cerita sesuai dengan materi pembelajaran yang
akan dibahas, sehingga siswa mendapat pengalaman belajar melalui kegiatan
membaca, mengamati situasi, atau melihat gambar.
2) Identifikasi masalah (Problem Statement) pada tahap ini, siswa diharuskan
menemukan permasalahan apa saja yang dihadapi dalam pembelajaran,
mereka diberikan pengalaman untuk menanya, mengamati, mencari informasi,
dan mencoba merumuskan masalah.
3) Pengumpulan data (Data collecting), pada tahap ini siswa diberikan
pengalaman mencari dan mengumpulkan data atau informasi yang dapat
digunakan untuk menemukan alternative pemecahan masalah yang dihadapi.
4) Pengolahan data (Data processing). Kegiatan mengolah data akan melatih
siswa untuk mencoba mengeksplorasi kemampuan konseptualnya untuk
diaplikasikan pada kehidupan nyata, sehingga kegiatan ini juga akan melatih
keterampilan berfikir logis dan aplikatif.
5) Verifikasi (Verification), tahap ini mengarahkan siswa untuk mengecek
kebenaran dan keabsahan hasil pengolahan data, melalui berbagai kegiatan,
antara lain bertanya kepada teman, berdiskusi, dan mencari berbagai sumber
yang relevan, serta mengasosiasikannya, sehingga menjadi satu kesimpulan.
6) Generalisasi (Generalization), pada kegiatan ini siswa digiring untuk
mengeneralisasikan hasil simpulannya pada suatu kejadian atau permasalahan
yang serupa, sehingga kegiatan ini juga dapat melatih pengetahuan metakonisi
siswa.
Berdasarkan pendapat para ahli diatas, maka langkah-langkah
pembelajaran discovery learning yang peneliti gunakan menurut mulyasa yaitu:
1) Stimulus (Stimulation), pada kegiatan ini guru memberikan stimulant, dapat
berupa bacaan, gambar, dan cerita sesuai dengan materi pembelajaran yang
akan dibahas, sehingga siswa mendapat pengalaman belajar melalui kegiatan
membaca, mengamati situasi, atau melihat gambar.
2) Identifikasi masalah (Problem Statement), pada tahap ini, siswa diharuskan
menemukan permasalahan apa saja yang dihadapi dalam pembelajaran, mereka
diberikan pengalaman untuk menanya, mengamati, mencari informasi, dan
mencoba merumuskan masalah.
3) Pengumpulan data (Data collecting),pada tahap ini siswa diberikan pengalaman
mencari dan mengumpulkan data atau informasi yang dapat digunakan untuk
menemukan alternatif pemecahan masalah yang dihadapi.
4) Pengolahan data (Data processing). Kegiatan mengolah data akan melatih
siswa untuk mencoba mengeksplorasi kemampuan konseptualnya untuk
diaplikasikan pada kehidupan nyata, sehingga kegiatan ini juga akan melatih
keterampilan berfikir logis dan aplikatif..
5) Verifikasi (Verification), tahap ini mengarahkan siswa untuk mengecek
kebenaran dan keabsahan hasil pengolahan data, melalui berbagai kegiatan,
antara lain bertanya kepada teman, berdiskusi, dan mencari berbagai sumber
yang relevan, serta mengasosiasikannya, sehingga menjadi satu kesimpulan.
6) Generalisasi (Generalization), pada kegiatan ini siswa digiring untuk
mengeneralisasikan hasil simpulannya pada suatu kejadian atau permasalahan
yang serupa, sehingga kegiatan ini juga dapat melatih pengetahuan metakonisi
siswa.

3. SINTAKS MODEL PEMBELAJARAN DISCOVERY LEARNING

Dalam pembelajaran discovery learning, guru berperan penting sebagai


pembimbing untuk memeberikan kesempatan kepada siswa agar lebih aktif terlibat dalam
kegiatan belajar mengajar. Dalam menyiapakan model pembelajaran ini, maka guru harus
mengetahui Langkah kerja atau sintaks model discovery learning dalam pembelajaran
penemuan adalah

Tabel II.2

SINTAKS MODEL PEMBELAJARAN DISCOVERY LEARNING

Langkah Kerja Aktivitas Guru Aktivitas siswa


Stimulus Guru melakukan aktivitas Siswa dihadapkan pada sesuatu
(stimulation) pembelajaran dengan yang menimbulkan pertanyaan
mengajukan pertanyaan, atau bingung, kemudian
anjuran, membaca buku dan dilanjutkan untuk tidak memberi
aktivitas belajar lainnya yang generalisasi atau Kesimpulan agar
mengarah pada persiapan timbul keinginan untuk
dalam pemecahan masalah menyelidiki sendiri
atau problem Stimulasi pada tahapan ini
berfungsi untuk menyiapkan
kondisi atau situasi interaksi
belajar yang dapat
mengembangkan dan membantu
siswa dalam mengeksplorasi
materi pembelajaran.
Identifikasi Masalah Guru memberi kesempatan Permasalahan yang dipilih
(problem statement) kepada siswa untuk selanjutnya harus dirumuskan
mengidentifikasi dan dalam bentuk pertanyaan atau
mengelompokkan sebanyak pernyataan bermasalah, yakni
mungkin agenda-agenda pernyataan sebagai jawaban
masalah yang relevan dan sementara atas pertanyaan yang
sesuai dengan materi diajukan.
pembelajaran, kemudian salah
satunya dipilih dan dirumuskan
dalam bentuk hipotesis atau
jawaban sementara atas
pertanyaan masalah).
Pengumpulan data Ketika eksplorasi berlangsung Tahapan ini berfungsi untuk
(data Collection) guru juga memberi kesempatan Menjawab pertanyaan atau
kepada siswa untuk membuktikan benar tidaknya
mengumpulkan informasi yang dugaan sementara atau hipotesis.
relevan, dan sesuai sebanyak- Dengan demikian siswa diberi
banyaknya untuk membuktikan kesempatan untuk
benar atau tidaknya hipotesis mengumpulkan (collection)
atau dugaan tersebut. berbagai informasi yang sesuai
dan relevan, membaca literartur
terkait, mengamati objek dan
fenomena, wawancara dengan
naras umber, melakukan uji coba
sendiri dan sebagainya

Pengolahan data Guru melakukan bimbingan Pengolahan dan analisis data


(Data Processing) dan arahan pada saat siswa merupakan kegiatan mengolah data
melakukan pengolahan dan dan informasi baik melalui
analisis data. wawancara, observasi, dan
sebagainya kemudian ditafsirkan.
Semua informasi hasil
bacaan,wawancara,observasi dan
sebagainya semuanya
diolah ,diacak ,diklasifikasikan ,dik
elompokkan ditabulasi bahkan bila
perlu dihitung dengan cara tertentu
serta ditafsirkan pada Tingkat
kepercayaan tertentu.
Verifikasi Verifikasi bertujuan agar Siswa melakukan pemeriksaan
(Verification) proses pembelajar akan secara cermat dan teliti untuk
berjalan dengan baik, kreatif membuktikan benar atau tidaknya
dan inovatif jika guru hipotesis dan dugaan sementara
memberikan kesempatan yang ditetapkan dengan temuan
kepada siswa untuk yang dihubungkan dengan hasil
menemukan suatu konsep, pengolahan dan analisis data.
teori, aturan atau pemahaman
dan penge- tahuan melalui
contoh-contoh yang dijumpai
dalam kehidupan sehari-hari.
Generalisasi Pada tahapan ini proses Berdasarkan hasil verifikasi maka
(Generalization) menarik sebuah kesimpulan dirumuskan prinsip-prinsip umum
yang dapat dijadikan prinsip yang mendasar generalisasi dan
atau acuan umum dan berlaku kesimpulan.
untuk semua kejadian atau
masalah yang sama, dengan
memperhatikan hasil
verifikasi.

B. BERPIKIR KREATIF
1. PENGERTIAN BERPIKIR KREATIF
Salah satu aspek keterampilan berpikir tingkat tinggi atau HOTS (Higher
Order Thinking Skills) adalah Berpikir Kreatif. Setiap orang memiliki pemikiran
kreatif yang berbeda ketika menghadapi masalah. Pemikiran kreatif juga berkaitan
dengan pengetahuan yang dimiliki oleh seseorang sehubungan dengan ide atau usaha
kreatif yang disajikan.
Menurut Howard Gardner dari Sani, diperlukan dua jenis pengetahuan untuk
membangkitkan kreativitas, yaitu: 1) pengalaman yang mendalam dan fokus pada
studi khusus yang menjadikan seseorang menjadi ahli, 2) menggabungkan elemen
dengan cara baru. Jadi, seseorang yang kreatif harus memiliki pengetahuan yang luas
(beberapa bidang ilmu) dan penguasaan yang mendalam dalam satu atau dua bidang
(ahli).
Plucker et al., mendefinisikan oleh kreativitas sebagai berikut. Creativity is
the interaction among aptitude, process and environment by which an individual or
group produces a perceptible product that is both novel and useful as defined within
a social context. Plucker menjelaskan bahwa kreativitas adalah interaksi
keterampilan, proses, dan lingkungan di mana individu atau kelompok menghasilkan
produk yang terlihat, baik yang baru dan berguna seperti yang didefinisikan oleh
konteks sosial.
Menurut Torrance dalam Sani, berfikir kreatif adalah cara baru dalam melihat
dan mengerjakan sesuatu yang memuat empat aspek yaitu fluency (kefasihan),
flexybility (keluwesan), originality (keaslian), dan elaboration (keterincian).
Sehingga dapat disimpulkan bahwa suatu ide atau produk bukanlah merupakan ide
atau gagasan yang orisinal, melainkan ide atau produk tersebut telah melalui proses
kreativitas.
Glas, Young & Balli (Bergili, 2015:2) berfikir kreatif merupakan seluruh
rangkaian kegiatan kognitif yang digunakan individu dalam menghadapi masalah
dari suatu kondisi sehingga mereka mencoba menggunakan imajinasi, kecerdasan,
wawasan dan ide-ide ketika mereka menghadapi suatu situasi/ masalah tersebut.
Kreatif atau kreativitas bisa dikatakan sebuah kategori berpikir tingkat atas dan
merupakan bagian kognitif pada tingkat bepikir C4, C5 dan C6 yaitu analisis,
evaluasi dan pencipta (membuat sebuah karya), kemampuan berpikir kreatif suatu
pemikiran untuk menghasilkan inovasi baru yang dituangkan dalam sebuah ideide
atau gagasan yang diaplikasikan langsung dalam penyelesaian suatu masalah yang
terjadi, baik itu di sekolah maupun di masyarakat.
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa berfikir kreatif adalah seluruh
rangkaian kegiatan kognitif yang digunakan individu dalam menghadapi masalah
dari suatu kondisi sehingga mereka mencoba menggunakan imajinasi, kecerdasan,
wawasan dan ide-ide baru ketika mereka menghadapi suatu situasi/ masalah yang
mencakup empat aspek yaitu fluency (kefasihan), flexybility (keluwesan), originality
(keaslian), dan elaboration (keterincian)

2. Langkah Pengembangan Kemampuan Berpikir Kreatif


Menurut Tarlina dan Afriansyah (2016) untuk mengembangkan kemampuan
berpikir kreatif siswa, hendaknya harus memberikan suasana belajar yang demokratis
sehingga dapat merangsang siswa untuk aktif. Setiap siswa perlu diberi kebebasan
untuk mengemukakan ide dan solusinya
Ketika siswa dihadapkan secara langsung pada permasalahan dapat memicu
siswa untuk memiliki kemampuan berpikir kreatif. Permasalahan yang menguji
penalaran siswa adalah suatu sistem pembelajaran yang sangat bermanfaat untuk
meningkatkan kemampuan berpikir kreatif. Saat seseorang menggunakan
kemampuan berpikir kreatif untuk memecahkan permasalahan, pemikiran yang
berbeda mencetuskan berbagai ide untuk memecahkan masalah. Sejalan dengan
Munandar mengatakan bahwa berpikir kreatif disebut juga dengan berpikir divergen,
yaitu kemampuan berpikir seseorang dalam memberikan beraneka ragam
kemungkinan jawaban yang sesuai dengan informasi yang diberikan. Orang yang
dapat dikatakan kreatif adalah orang yangdapat menghasilkan cara yang berbeda dari
orang lain
Menurut teori Wallas terdapat empat tahap berpikir kreatif dalam
menyelesaikan masalah, yaitu:
1) Persiapan, dalam hal ini individu mencoba berpikir, mencari solusi, dan
berdiskusi.
2) Inkubasi, individu seolah-olah lepas daripermasalahan yang sedang dihadapinya.
3) Iluminasi, munculnya suatu gagasan baru.
4) Verifikasi, pada bagian ini seseorang akan menguji ide atau kreasi barunya.
Kemampuan tahap berpikir kreatif dapat terlaksana jika pembelajaran
matematika menegaskan aspek peningkatan kemampuan berpikir kreatif yang
mampu mengarahkan siswa dalam menggantikan informasi dan beberapa ide.
Apabila kemampuan berpikir kreatif tidak dilatih, maka kreativitas siswa dalam
pembelajaran matematika tidak dapat berkembang bahkan tidak dapat terbentuk
dengan baik. Dengan meningkatnya kemampuan berpikir kreatif dalam pembelajaran
matematika akan memberikan ruang yang luas bagi perkembangan kemampuan
siswa seperti mengasah bakat dan kemampuan hingga memberi kepuasan kepada
siswa terhadap keberhasilannya yang sudah tercapai.

3. INDIKATOR KEMAMPUAN BERPIKIR KREATIF


Kemampuan bepikir kreatif memiliki beberapa indikator. Hasil dari
kemampuan berpikir kreatif membentuk suatu perilaku. Menurut Rudyanto perilaku
berpikir kreatif yaitu:
TABEL II.3
INDIKATOR KEMAMPUAN BERPIKIR KREATIF

Indikator Kemampuan Berpikir Kreatif Perilaku Kemampuan Berpikir Kreatif


Kelancaran (fluency) a) Mampu membuat beberapa jawaban yang
bermakna.
b) Arus pemikiran lancer
Kerincian (elaboration) a) Memperluas suatu gagasan.
b) Kemampuan merinci detail-detail
tertentu.
c) Mengembangkan, menambah, dan mem-
perkaya suatu gagasan
Fleksibilitas (flexibility) a) Mampu membuat jawaban maupun
pertanyaan dari sudut pandang yang
berbeda.
b) Mampu menyampaikan ide dari arah
yang berbeda
Orisinalitas (originality) Banyaknya variasi dalam memberikan
jawaban yang berbeda dari yang lain yang
jarang diberikan

Menurut Silver (dalam Cintia) menyatakan indikator kemampuan berpikir


kreatif sebagai berikut:
a) Fluence yaitu kemampuan menciptakan ide dan dapat menjelaskan jawaban secara
lancar. Siswa dapat memunculkan berbagai gagasan yang dipahaminya dalam
waktu singkat.
b) Flexibility yaitu kemampuan menciptakan ide bervariasi. Selain itu, siswa mampu
menyelesaikan masalah dengan alternatif yang berbeda dan dari beberapa sudut
pandang.
c) Originality yaitu kemampuan menghasilkan ide baru. Kemudian siswa dapat
mengutarakan ide yang tidak terpikirkan oleh orang lain, serta dapat menjelaskan
dengan cara yang berbeda dan unik.
d) Elaboration yaitu kemampuan mengembangkan ide sehingga dihasilkan ide
secara rinci. Siswa mampu mengembangkan, menguraikan, maupun merinci suatu
ide yang nantinya akan terlihat menarik.

Menurut Guildford (dalam Mulyati) mengatakan, Indikator kemampuan


berpikir kreatif sebagai berikut:
a) Kepekaan (problem sensitivity) yaitu kemampuan menemui, mengetahui serta
merespons pernyataan, situasi dan masalah.
b) Kelancaran (fluency) yaitu kemampuan untuk menciptakan ide secara luas.
c) Keluwesan (flexibility) yaitu kemampuan untuk mengutarakan jawaban yang
bervariasi dan pemecahan masalah.
d) Keaslian (originality) yaitu kemampuan untuk mengutarakan jawaban yang asli
dan jarang diberikan kebanyakaan orang.
e) Elaborasi (elaboration) yaitu kemampuan memperbanyak suatu masalah sehingga
menjadi lengkap, lalu merincinya secara detail yang di dalamnya berupa tabel,
grafik, gambar, model, dan kata- kata.

Berdasarkan kajian teori di atas maka peneliti memilih indicator kemampuan berpikir
kreatif menurut Rudyanto yang terdiri dari 4 aspek yaitu Kelancaran (fluency), Kerincian
(elaboration), Fleksibilitas (flexibility), Orisinalitas (originality)

C. MATERI BANGUN RUANG SISI DATAR


Kelompok bangun ruang sisi datar adalah bangun ruang yang sisinya
berbentuk datar (tidak lengkung). Coba soba amati dinding sebuah gedung dengan
permukaan sebuah bola. Dinding gedung adalah contoh sisi datar dan permukaan sebuah
bola adalah contoh sisi lengkung. Jika sebuah bangun ruang memiliki satu saja sisi
lengkung maka ia tidak dapat dikelompokkan menjadi bangun ruang sisi datar. Sebuah
bangun ruang sebanyak apapun sisinya jika semuanya berbentuk datar maka ia disebut
dengan bangun ruang sisi datar.
Ada banyak sekali bangun ruang sisi datar mulai yang paling sederhana seperti
kubus, balok, limas sampai yang sangat kompleks seperti limas segi banyak atau bangun
yang menyerupai kristal. Namun demikian kali ini kita akan membahas spesifik tentang
bangun ruang kubus, balok, limas, dan prisma.
Volum adalah Ukuran ruang yang dapat diisi oleh suatu bangun ruang. Konsep
umumnya adalah luas alas dikalikan dengan tinggi. Sedangkan Luas Permukaan adalah
Total seluruh luas dari semua sisi yang menyelimuti sebuah bangun ruang. Untuk bangun
sisi datar, luas permukaannya dihitung dengan menjumlahkan luas dari setiap sisi
datarnya. Materi volume dan luas permukaan bangun sisi datar meliputi kubus, balok,
prisma, dan limas. Rumus dasar volume adalah Luas Alas x Tinggi, sementara luas
permukaan adalah jumlah seluruh luas sisi-sisinya. Beberapa rumus pentingnya adalah
sebagai berikut:
1. Kubus
 Volume kubus (V )=s3 (dengan s = Panjang rusuk)
 Luas permukaan Kubus ( L)=6 s2

2. Balok
 Volume balok ( V )= p × l×t
 Luas Permukaan Balok (L)=2( pl+ pt+¿)

Dengan p=Panjang ,l=lebar , t=tinggi

3. Prisma

 Volume
Prisma ( V )=Luas Alas ×t ( tinggi )
 Luas Permukaan Prisma ( L )=2 × Luas alas+luas selimut , dengan
selimut=keliling alas ×tinggi
4. Limas
1
 Volume Limas ( V )= × Luas alas ×tinggi (t)
3
 Luas Permukaan limas ( L )=Luas alas+ Luas selimut

D. Kaitan Model Pembelajaran Discovery Learning Terhadap Kemampuan


Berfikir Kreatif
Model discovery learning dan berpikir kreatif memiliki kaitan erat karena
discovery learning mendorong siswa untuk aktif menemukan pengetahuan, yang
secara langsung melatih keterampilan berpikir kreatif seperti kemampuan
memecahkan masalah, keluwesan (flexibility), dan kelancaran (fluency). Model ini
berpusat pada siswa, memungkinkan mereka bereksperimen dan mengolah informasi
secara mandiri, berbeda dari model konvensional yang terpusat pada guru.
Adapun Mekanisme kaitan discovery learning dengan kemampuan berpikir
adalah sebagai berikut:
 Siswa sebagai penemu pengetahuan: Dalam discovery learning, siswa tidak
hanya menerima informasi, tetapi mencari, menyelidiki, dan menemukan sendiri
jawaban atau solusi untuk suatu masalah. Proses ini secara alami menuntut
mereka untuk berpikir di luar kebiasaan dan menghasilkan ide-ide baru.
 Peningkatan keterampilan kreatif: Tahapan dalam discovery
learning memberikan kesempatan bagi siswa untuk melatih indikator berpikir
kreatif secara bertahap.
o Keluwesan (Flexibility): Siswa dilatih untuk melihat masalah dari berbagai
sudut pandang, tidak hanya satu cara penyelesaian.
o Kelancaran (Fluency): Siswa didorong untuk menghasilkan banyak ide atau
solusi terkait suatu masalah.
o Kemampuan memecahkan masalah: Siswa dilatih untuk mandiri dan
memperkuat pemahaman mereka dengan cara menemukan solusi sendiri, yang
merupakan inti dari berpikir kreatif.
 Pembelajaran yang bermakna: Model ini berpusat pada siswa (student-centered),
membuat pembelajaran lebih bermakna karena siswa lebih aktif dan terlibat
dalam proses penemuan, daripada hanya menghafal.
Dengan demikian, model pembelajaran Discovery learning diharapkan
menjadi salah satu alternatif pembelajaran yang dapat membantu siswa dalam
mengembangkan kemampuan berfikir kreatif siswa. Model pembelajaran yang efektif
untuk meningkatkan kemampuan berpikir kreatif karena prosesnya yang
menempatkan siswa sebagai agen aktif dalam pencarian pengetahuan. Melalui model
ini, siswa secara intrinsik mengembangkan kemampuan mereka untuk berpikir secara
fleksibel, lancar, dan inovatif dalam memecahkan masalah.

E. Penelitian Relevan
Penelitian relevan dilakukan dengan maksud digunakan untuk menguji
hipotesis, mengukur dan mengkaji hubungan antar variabel, memprediksi fenomena,
serta menghasilkan kesimpulan yang dapat digeneralisasi ke populasi yang lebih luas.
Selain itu, penelitian relevan juga berfungsi sebagai acuan, perbandingan, dan
landasan teori untuk penelitian yang sedang dilakukan agar hasil akhir menjadi lebih
valid dan signifikan, dengan membandingkan penelitian sebelumnya dengan
penelitian saat ini. menghindari duplikasi pada desain temuan peneliti. Kemudian
untuk menunjukan keaslian peneliti bahwa topik yang diteliti belum perna diteliti oleh
peneliti terdahulu, makan sangat membantu peneliti dalam memilih dan menetapkan
desain penelitian yang sesuai karena peneliti memperoleh gambaran desain penelitian
yang sesuai dengan gambaran dan perbandingan desain yang telah dilaksanakan.
Adapun penelitian- penelitian tersebut adalah sebagai berikut :

a. Dalam penelitian Emi Sohilait dengan judul penelitian “Pengaruh Model discovery
Learning Terhadap Kemapuan Berfikir Kreatif Matematis Siswa” Berdasarkan
hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa model discovery learning ber
pengaruh signifikan terhadap kemampuan berpikir kreatif matematis siswa.

b. Dalam Penelitian Adrianus Mayos Marung, dkk dengan judul “Pengaruh


Pembelajaran discovery Lerannig dan Kemampuan Berfikir Kreatif Terhadap
Hasil Belajar Matematika Siswa Kleas VII SMP Negeri 1 Kewapante” kesimpulan
bahwa terdapat pengaruh model pembelajaran discovery learning dan kemampuan
berpikir kreatif terhadap hasil belajar matematika Kelas VII SMP Negeri 1
kewapante sesuai pengujian hipotesis data yang dilakukan dengan rumus uji
independent sample t-test, dan dengan bantuan aplikasi SPSS versi 22 diperoleh
nilai sig.(2-tailed) yaitu 0,000 lebih kecil dari level signifikan 0,05.32

Adapun persamaan penelitian yang dilakukan peneliti dengan penelitian


Emi Sohilait dan Adrianus Mayos Marung yaitu sama-sama menggunakan model
pembelajaran Discovery Learning. Pada penelitian ini peneliti menggunakan satu
variabel bebas, satu variabel terikat dan satu variabel moderator. Adapun
perbedaannya yaitu terletak pada materi dan lokasi penelitian. Melihat keberhasilan
yang dilakukan penelitian sebelumnya dan menerapkan model Discovery Learning
maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Pengaruh Model
Pembelajaran Discovery Learning Terhadap Kemampuan Berpikir Kreatif Materi
Bangun Ruang Sisi Datar pada Siswa kelas IX di SMPN 5 Jombang”

F. Konsep Operasional
1. Model Pembelajaran Discovery Learning
Model Discovery Learning sebagai variabel bebas yang mempengaruhi
kemampuan komunikasi matematis. Adapun model langkah-langkah discovery
learning yang digunakan dalam penelitian yaitu:
a. Tahap Persiapan
1. Guru memilih materi yang akan disajikan.
2. Guru membuat Modul ajar
3. Guru menginformasikan tujuan pembelajaran
b. Tahap pelaksanaan
Pendahuluan (10 menit)
1) Guru mengucapkan salam dan meminta siswa untuk memimpin doa
sebelum memulai kelas.
2) Guru mengecek kehadiran peserta didik dan mengintruksikan peseta didik
untuk menyiapkan perlengkapan dan peralatan belajar yang diperlukan
3) Guru memberikan motivasi kepada peserta didik berkaitan dengan materi.
4) Guru menyampaikan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai dengan
menggunakan model pembelajaran Discovery Learning.
5) Guru membagi peserta didik dengan banyak anggota 4-5 orang dan
membagikan Lembar Aktivitas Siswa (LAS) kepada tiap kelompok.

Kegiatan inti (60 menit)

7) Guru memgkondisikan siswa untuk membaca sumber belajar dan


mengarahkan peserta didik menentukan permasalahan yang terkait dengan
materi yang dipelajari.(Tahap Stimulation)
8) Guru meminta tiap kelompok untuk mengamati Lembar Aktivitas Siswa
(LAS) yang diberikan. (Tahap Identifikasi Masalah)
9) Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengidentifikasi
sebanyak mungkin masalah yang terkait dengan materi yang dipelajari.
10) Guru meminta siswa mengidentifikasi masalah dalam bentuk pertanyaan
atau merumuskan hipotesis
11) Guru membimbing dan memberikan kesempatan kepada siswa untuk
mnegumpulkan berbagai sumber atau informasi mengenai materi yang akan
dipelajari yang relevan sebagai bahan unutuk menganalisis dalam
menjawab pertanyaan atau hipotesis. (Tahap Pengumpulan Data)
12) Guru mengarahkan siswa unutk mengeksplorasi kemampuan pengetahuan
konseptualnya berdasarkan sumber yang diperoleh. (Tahap Pengelolahan
Data)
13) Guru meminta siswa untuk memeriksa kembali dengan teliti untuk
membuktikan benar atau tidaknya hipotesi yang mereka buat bersama
teman sekolmpoknya. (Tahap Pembuktian)
14) Guru membimbing siswa menarik kesimpulan berupa konsep tentang
materi yang dipelajari. (Tahap Kesimpulan)
15) Guru meminta masing-masing dari kelompok untuk mempersiapkan hasil
diskusi kelompoknya dan perwakilan satu kelompok untuk
mempresentasikan hasil diskusinya didepan kelas.
16) Guru memberikan kesempatan kelompok lain untuk memberikan
tanggapan dari hasil presentasi kelompok penyaji kegiatan akhir (10 menit)
17) Guru memberikan soal tes secara individu tentang materi yang telah
dipelajari.
18) Guru memberikan waktu kepada siswa mengerjakan soal yang telah
diberikan.
19) Guru meminta siswa untuk mengumpulkan lembar jawaban
20) Guru menutup pelajaran dan memberikan salam

2. Kemampuan Berfikir Kreatif

Pada penelitian ini kemampuan berpikir kreatif yang dianalisis meliputi


4 indikator kemampuan berpikir kreatif seperti diuraikan dalam table berikut ini

TABEL II.4
TABEL PENERAPAN INDIKATOR BERPIKIR KREATIF

Indikator Perilaku kemampuan Berpikir Kreatif


Fluency a) Mampu membuat beberapa jawaban yang bermakna.
(Kelancaran/ b) Arus pemikiran lancer
kefasihan)
Elaboration a) Memperluas suatu gagasan.
(Elaboration) b) Kemampuan merinci detail-detail tertentu.
c) Mengembangkan, menambah, dan memperkaya suatu gagasan
Flexibility a) Mampu membuat jawaban maupun pertanyaan dari sudut
(Keluwesan) pandang yang berbeda.
b) Mampu menyampaikan ide dari arah yang berbeda

Originality a) Banyaknya variasi dalam memberikan jawaban yang berbeda


(Kebaruan) dari yang lain yang jarang
diberikan.

G. Hipotesis
Berdasarkan kajian teori yang telah dibahas di atas maka peneliti
menyimpulkan hipotesis sebagai berikut:
a. Ha: Terdapat pengaruh model pembelajaran discovery learning terhadap
kemampuan berpikir kreatif siswa pada materi bangun ruang sisi datar.
b. H0: Tidak terdapat pengaruh model pembelajaran discovery learning terhadap
kemampuan berpikir kreatif siswa pada materi bangun ruang sisi datar.

Anda mungkin juga menyukai