Modul Penuntun Praktikum Rangkaian Listrik
MODUL 1 - 6
RANGKAIAN LISTRIK
Disusun oleh :
Budi Herdiana, S.T.,M.T.
Tim Dosen Teknik Elektro
Laboratorium Pengukuran Listrik
JURUSAN TEKNIK ELEKTRO
FAKULTAS TEKNIK DAN ILMU KOMPUTER
UNIVERSITAS KOMPUTER INDONESIA
2017
Modul Penuntun Praktikum Rangkaian Listrik
PERCOBAAN 1
Hukum Ohm pada Rangkaian Seri-Paralel
I. TUJUAN
Mempelajari hubungan antara tegangan dan kuat arus yang
mengalir dalam sebuah rangkaian yang dipengaruhi oleh perubahan
nilai resistansinya.
II. TEORI
Hukum Ohm, yang menyatakan bahwa “untuk suatu konduktor
logam pada suhu konstan, perbandingan antara perbedaan potensial
Δ V antara dua titik dari konduktor dengan arus listrik I yang melalui
konduktor tersebut adalah konstan”. Konstan ini disebut tahanan
listrik (hambatan) R dari konduktor antara dua titik. Jadi hukum Ohm
bisa dinyatakan sebagai:
V merupakan beda tegangan (beda potenssial), I adalah arus yang
lewat pada penghantar dan R hambatan dari penghantar.
Persamaan (1) menunjukkan bahwa Hukum Ohm berlaku jika
hubungan antara V dan I adalah linier.
Hukum ini diformulasikan oleh ahli fisika Jerman, George Ohm
(1787-1854), ternyata berlaku dengan ketelitian yang
mencengangkan terhadap konduktor pada cakupan harga ΔV, I dan
suhu yang luas . Prinsip Ohm ini adalah besarnya arus listrik yang
mengalir melalui sebuah penghantar metal pada rangkain, Ohm
menentukan sebuah persamaan yang simple menjelaskan hubungan
antara tegangan, arus dan hambatan yang saling hubungan. Tetapi
Modul Penuntun Praktikum Rangkaian Listrik
beberapa zat terutama semi-konduktor , tidak mengikuti hukum Ohm.
Sebuah grafik menunjukkan hubungan antara V dan I yang diberikan
hukum Ohm menghasilkan garis lurus sebagaimana ditunjukkan
gambar ini.
Gambar 1. Garis Linieritas Hukum Ohm
Dari persamaan yang di atas, kelihatan sekali bahwa R (hambatan)
dinyatakan dalam satuan SI sebagai Volt/ampere atau m2kg s-1C-2
dan disebut Ohm (Ω). Jadi satu Ohm adalah tahanan suatu
konduktor yang dilewati arus satu ampere ketika perbedaan
potensialnya dijaga satu volt di ujung-ujung konduktor tersebut. Arus
dinyatakan dengan Ampere, bersimbol I. Tegangan dinyatakan
dengan volt, bersimbol V atau E (Alonso, 1979:76-77).
Hukum Ohm menggambarkan bagaimana arus, tegangan, dan
tahanan berhubungan. Hukum Ohm dapat diterapkan dalam
rangkaian tahanan seri. Yang dimaksud dengan rangkaian tahanan
seri adalah tahanan dihubungkan ujung ke ujung atau dalam suatu
rantai. Untuk mencari arus yang mengalir pada rangkaian seri
dengan tahanan lebih dari satu , diperlukan jumlah total nilai
tahanan-tahanan tersebut. Hal ini dapat dimengerti karena setiap
tahanan yang ada pada rangkaian seri akan memberikan hambatan
bagi arus untuk mengalir (Hayt, 1991 )
Modul Penuntun Praktikum Rangkaian Listrik
III. ALAT UKUT & KOMPONEN YANG DIGUNAKAN
Power supply DC
Multitester Digital
Bread board
Kabel konektor
Resistor
IV. PROSEDUR PERCOBAAN
4.1 Hukum OHM Rangkaian Seri
a. Susunlah rangkaian seperti gambar 2 berikut ini:
Vin
Gambar 2. Rangkaian Resistansi Seri
b. Kemudian ukurlah arus (I) dan tegangan (V) dengan multimeter.
Selanjutnya hitung nilai resistansi (R) dan daya (P) rangkainnya
sesuai tabel-1 di bawah ini.
Tabel-1 Hasil Pengukuran Rangkaian Seri
Perhitungan Daya (Watt)
No Vin I V R 2
(Volt) V 2
VxI I xR
R
1 2
2 4
3 6
4 8
Modul Penuntun Praktikum Rangkaian Listrik
5 10
c. Kemudian gunakan simulasi untuk mengukur arus (I) dan
tegangan (V) dengan multimeter. Selanjutnya hitung nilai
resistansi (R) dan daya (P) sesuai tabel-2 di bawah ini.
Tabel-2 Hasil Simulasi Rangkaian Seri
Perhitungan Daya (Watt)
No Vin I V R 2
(Volt) V 2
VxI I xR
R
1 2
2 4
3 6
4 8
5 10
IV.2 Hukum OHM Rangkaian Paralel
a. Susunlah rangkaian seperti pada gambar 3 berikut ini:
I2
I1
Vin R1 R2
Gambar 3. Rangkaian Resistansi Paralel
Modul Penuntun Praktikum Rangkaian Listrik
b. Kemudian ukurlah arus dan tegangan rangkaian parallel ini
dengan multimeter. Selanjutnya hitung masing-masing nilai
resistansinya dan daya rangkainnya sesuai tabel-3 di bawah ini.
Tabel-3 hasil pengukuran Rangkaian Paralel
Perhitungan Daya (Watt)
Vin
I1 I2 VR1 VR2 R1 R2 2
(Volt) V 2
Vx I tot I x R ek
R ek
10
c. Kemudian gunakan simulasi untuk mengukur arus-arus
rangkaian (I1 dan I2) dan tegangan (VR1 dan VR2). Selanjutnya
hitung nilai resistansi (R1 dan R2) dan daya (P) rangkaiannya
sesuai tabel-4 di bawah ini.
Tabel-4 Hasil Simulasi Rangkaian Paralel
Perhitungan Daya (Watt)
Vin
I1 I2 VR1 VR2 R1 R2 2
(Volt) V 2
Vx I tot I x R ek
R ek
Modul Penuntun Praktikum Rangkaian Listrik
10
V. PERTANYAAN PENDAHULUAN
1. Jelaskan menurut pendapat sudara tentang analisis grafik
kelinieraitasan seperti yang diperlihatkan gambar 1 di atas!
2. Jelaskan pernyataan Hukum OHM terhadap sebuah rangkaian listrik!
VI. PERTANYAAN SETELAH PRAKTIKUM
a. Buatlah grafik kelinieritasannya untuk masing-masing tabel hasil
pengukuran sesuai contoh gambar 1 diatas.
b. Analisa data-data hasil pengukuran dan simulasi yang diperoleh pada
percobaan ini
c. Berikanlah kesimpulan dari seluruh percobaan pada modul ini
Modul Penuntun Praktikum Rangkaian Listrik
PERCOBAAN 2
HUKUM TEGANGAN & ARUS KIRCHOFF
I. TUJUAN PRAKTIKUM
Memiliki kemampuan menganalisa rangkaian menggunakan hukum Arus
Kirchoff (KCL)
Memiliki kemampuan menganalisa rangkaian menggunakan hukum
Tegangan Kirchoff (KVL)
II. TEORI DASAR
2.1. Hukum Kirchoff Tegangan
Hukum tegangan kirchoff menyatakan bahwa jumlah aljabar tegangan
adalah nol atau tegangan yang diberikan pada suatu rangkaian tertutup sama
dengan penjumlahan tegangan pada masing – masing komponen rangkaian.
Beberapa tegangan merupakan sebuah tegangan sumber sedangkan yang
lainnya merupakan tegangan yang melalaui suatu kamponen pasif yang
dinamakan sebagai tegangan jatuh (voltage drop). Hukum KVL ini juga berlaku
untuk rangkaian yang digerakan oleh sumber-sumber konstan, DC dan lain-
lain. Secara umum persamaan matematis dari hukum KVL ini digambarkan
sebagai berikut,
N
∑ V n=0
n=1
Modul Penuntun Praktikum Rangkaian Listrik
N
∑ V n=V A +V 1+V 2+V 3 =0
n=1 ………………………………………………………..(1)
Jika persamaan 1 di atas, kita aplikasikan pada suatu rangkaian loop seperti
yang ditunjukan seperti gambar 1 berikut ini,
Gambar 1.
Jika kita perhaatikan gambar 1 di atas, maka nilai kenaikan tegangan yang
teramati untuk arah – arah yang berasal dari tanda – ke + sedangkan untuk
menunjukan tegangan jatuh arahnya berasal dari arah + ke -. Sedangkan untuk
suatu penempatan tegangan sumber yang diperlihatkan oleh gambar 2 berikut
ini dapat dinyatakan persamaannya senagai berikut,
Gambar 2
Dari gambar 2 di atas dapat diturunkan persamaan loop rangkaian sebagai
berikut:
−V A +V 1 +V B +V 2 +V 3 =0
Modul Penuntun Praktikum Rangkaian Listrik
−V A +iR 1 +V B +iR 3 +iR 3 =0
V A −V B=i( R1 +R 2 +R 3 ) ………………………………………………………………(2)
2.2. Hukum Arus Kirchoff ( KCL)
Jika dua atau lebih elemen rangkaian dihubungkan hasilnya adalah suatu
sambungan yang dinamakan simpul (node). Sambungan antara dua elemen
dinamakan simpul sederhana dan disini tidak terjadi pembagian arus. Untuk
sambungan dari tiga atau lebih elemen dinamakan simpul utama dan disini
terjadi pembagian arus. Karena itu hukum arus Kirchoff (KCL) menyatakan
bahwa jumlah aljabar dari arus di sebuah simpul adalah nol atau dengan kata
lain penjumlahan arus yang masuk ke satu simpul sama dengan penjumlahan
arus yang meninggalkan simpul tersebut. Gambar 3 berikut ini menunjukan
suatu simpul arus yang dapat menunjukan rumus persamaan KCL dari suatu
rangkaian bercabang.
Gambar 3
Dari gambar 3 diata, maka nilai arus percabangan dapat ditentukan sebesar,
i 1−i 2 + i3 −i 4 −i5 =0
Modul Penuntun Praktikum Rangkaian Listrik
i 1 +i 3 =i 2 +i 4 +i 5
…………………………………………………………………………..(3)
Untuk rangkaian tertutup yang mempunyai loop lebih dari satu (multiloop
circuit), arus yang mengalir pada masing-masing loop dihitung dengan
menggunakan Hukum Kirchoff seperti yang ditunjukkan gambar 4 berikut ini:
Gambar 4 Rangkain Multiloop
Dari gambar 4 ini dapat dirumuskan arus untuk masing-masing loop yaitu
sebesar:
Menurut hukum Kirchoff
Sedangkan arus untuk masing-masing loop dari rangkaian gambar 4 ini
dinyatakan sebesar:
Modul Penuntun Praktikum Rangkaian Listrik
III. PERLENGKAPAN PRAKTIKUM
Tegangan sumber DC
Multimeter digital atau analog
Resistor : 1 K, 2K2, 3K3
Dioda Silikon & Germanium (1 buah)
Program simulasi (MULTISIM atau yang relevan)
IV. LANGKAH – LANGKAH PERCOBAAN
4.1. Percobaan 1: Rangkaian Seri
a. Susunlah rangkaian seperti gambar 5 berikut ini:
Vin
Gambar 5
b. Kemudian ukurlah nilai-nilai tegangan dan arus rangkaian sesuai yang
tertera pada tabel-1 (nilai R1 dan R2 dapat ditentukan praktikan).
Tabel-1 Hasil Pengukuran Rangkaian Seri
Modul Penuntun Praktikum Rangkaian Listrik
Vin Hasil Pengukuran Hasil Perhitungan
(Volt)
VR1 VR2 IA IB IC VR1 VR2 IA IB IC
2
4
6
8
10
Hasil Simulasi
Vin
(Volt) VR1 VR2 IA IB IC
2
4
6
8
10
4.2. Percobaan 2 : Rangkaian Multiloop (Superposisi)
a. Susunlah rangkaian seperti gambar 6 berikut ini :
Gambar 6
b. Tentukan sendiri oleh praktikan nilai R1, R2 dan R3 sesuai kebutuhan.
c. Kemudian tentukan nilai arus rangkaian sesuai dengan data tabel-2 yang
diberikan di bawah ini.
Modul Penuntun Praktikum Rangkaian Listrik
Tabel-2 Hasil pengukuran Rangkaian Multiloop
V1 V2 Pengukuran Simulasi Perhitungan
(Volt) (Volt) I1 I2 I I1 I2 I I1 I2 I
5 5
5 10
10 5
V. TUGAS PENDAHULUAN
Perhatikan gambar rangkaian berikut ini:
Gambar 7
Modul Penuntun Praktikum Rangkaian Listrik
Dari gambar 7 diatas, tentukan arus I1, I2 dan I dengan mengasumsikan
nilai resistansi masing-masing R1 = R2 = 10 KΩ dan R3 =1 KΩ.
PERCOBAAN 3
Teorema Thevenin & Norton
I. TUJUAN PRAKTIKUM
Setiap praktikan (peserta praktikum) diharapkan mampu menambah
pengetahuan terkait dengan teorema Thevenin & Norton
Setiap Praktikan mampu menganalisis & menerapkan teorema thevenin
& Norton pada berbagai jenis rangkaian listrik searah
II. TEORI DASAR
2.1. Teorema Thevenin
Teorema Thevenin menyatakan bahwa sembarang jaringan linier yang
terdiri atas sumber tegangan dan resistansi, jika dipandang dari sembarang 2
simpul dalam jaringan tersebut dapat digantikan oleh resistansi ekivalen R TH
yang diserikan dengan sumber tegangan ekivalen VTH.
Modul Penuntun Praktikum Rangkaian Listrik
(a) (b)
Gambar 2.1. Rangkaian ekivalen Thevenin
RTH merupakan resistansi yang melihat ke simoul a dan b dengan semua
sumber tegangan internal digantikan oleh hubung singkat. VTH adalah tegangan
Thevenin yang akan muncul di simpul a dan b juka tidak ada beban yang
dihubungkan padanya. Oleh karena itu tegangan Thevenin disebut juga
sebagai tegangan rangkaian terbuka. Penggunaan teorema thevenin ini sangat
menyerderhanakan perhitungan – perhitungan dalam banyak situasi dimana
jaringannya dihubungkan pada jaringan eksternal yang terus berubah. Analisa
rangkaian dasar Thevenin ditunjukan seperti rangkaian berikut ini,
(a) (b)
Gambar 2.2. Rangkaian ekivalen Thevenin
Dari rangkaian pada gambar 2.2 di atas, maka dapat tentukan resistansi
Thevenin (RTH) sebesar,
R 1 R2
RTh =
R 1 + R2 ………………………………………..(2.1)
R2
V Th = x V in
R 1 + R2 …………………………………...(2.2)
Transfer daya maksimum dari rangkaian Thevenin berdasarkan persamaan
(2.1) dan (2.2) diperoleh sebesar:
Modul Penuntun Praktikum Rangkaian Listrik
V Th 2
P= | | x RL
R Th +R L ………………………….(2.3)
2.2. Teorema Norton
Teorema Norton menyatakan bahwa sembarang jaringan yang
dihubungkan ke terminal a dan b dapat digantikan dengan sumber arus tunggal
IN yang parallel dengan resistansi tunggal RN, yang digambarkan seperti berikut
ini:
Gambar 2.3. Rangkaian ekivalen Norton
Dari gambar rangkaian Norton diatas, nilai RN dapat ditentukan sebesar,
R 1 R2
R N=
R1 + R 2 ………………………………………………(2.4)
Arus Norton dapat ditentukan sebesar,
V
IN=
R N …………………………………………………...(2.5)
III. PERLENGKAPAN PRAKTIKUM
Multimeter analog/digital
Tegangan sumber DC
Resistor : 1K, 1K2, 1K5, 3K3, 4K7, 5K6, 6K8, 8K6, 10K (3 buah)
Program Simulasi EWB
IV. LANGKAH – LANGKAH PRAKTIKUM
4.1. Percobaan 1 : Rangkaian dengan beban RL (metoda biasa)
a. Buat rangkaian seperti gambar 2.4 berikut ini :
Modul Penuntun Praktikum Rangkaian Listrik
Gambar 2.4.
b. Dengan menggunakan multimeter, ukurlah arus beban (IL) dan
tegangan beban (VL) melalui tahanan beban RL sesuai tabel 2.1
c. Kemudian lakukan perhitungan secara teoritis untuk menentukan nilai
arus beban (IL) dan tegangan beban (VL).
d. Lakukan juga simulasi rangkaian untuk menentukan nilai-nilai sesuai
tabel-1
e. Setelah percobaan dilakukan, isikan hasil percobaannya ke dalam
tabel-1 di bawah ini.
Tabel 1 Hasil Pengukuran rangkaian biasa
Hasil Hasil Hasil Simulasi
Beban
Pengukuran Perhitungan EWB
Vin
( RL) IL VL IL VL IL VL
1K
4K7
12 Volt 6K8
8K6
10K
4.2. Percobaan 2 : Rangkaian Thevenin dengan beban RL
Modul Penuntun Praktikum Rangkaian Listrik
a. Rancanglah sebuah rangkaian pengganti Thevenin dari rangkaian
gambar 2.4 di atas kemudian diubah ke rangkaian pengganti Thevenin-
nya seperti yang ditunjukan gambar 2.5 berikut ini:
Rth
Vth
RL
Gambar 2.5 Rangkaian pengganti Thevenin
b. Setelah perhitungan nilai tegangan thevenin (VTh) ini diperoleh, masukan
ke dalam tabel 2.2, kemudian ukurlah arus beban IL dan tegangan
beban VL untuk harga- harga beban RL yang tertera sesuai tabel 2.2
c. Lakukan simulasi rangkaiannya untuk menentukan nilai-nilai sesuai
tabel-2
d. Lakukan juga perhitungan secara teoritis daya beban PL yang diserap
oleh masing-masing beban RL.
e. Setalah percobaan dilakukan, isikan hasilnya ke dalam table-2. berikut
ini:
Tabel 2.2 Hasil pengukuran rangkaian pengganti Thevenin
Beban Hasil Pengukuran Hasil Perhitungan Hasil Simulasi
VTh
( RL) IL VL IL VL IL VL
………. 1K
4K7
6K8
8K6
10K
Modul Penuntun Praktikum Rangkaian Listrik
V. TUGAS PENDAHULUAN
Perhatikan rangkaian dibawah ini.
Dari rangkaian diatas, tentukan :
a. Tegangan pengganti Thevenin (VTh)
b. Tahanan pengganti Thevenin ( RTh)
c. Simulasikan dengan program software EWB rangkaian di atas.
Bandingkan hasilnya dengan hasil perhitungan.
Modul Penuntun Praktikum Rangkaian Listrik
PERCOBAAN 4
TANGGAPAN SETIMBANG DAN SUDUT FASA DARI
SISTEM ORDE SATU
I. TUJUAN PRAKTIKUM
Mampu memahami hubungan arus dan tegangan pada system orde
satu.
Ma mpu memahami respon frekuensi rangkaian orde satu
Mempu melakukan pengukuran sudut fasa.
II. TEORI DASAR
2.1. Analisis Phasor
Phasor adalah sebuah besaran yang memiliki besaran dan arah sudut
yang dapat berubah terhadap waktu. Panjang phasor mewakili besaran
maksimum bentuk gelombang sinusiodal bersangkutan sedangkan sudut
terhadap sumbu mendatar memperlihatkan sudut fase-nya. Umumnya phasor
acuan itu dapat berupa pkasor mendatar yang bersesuaian dengan 0o.
Gambar 3.1. Sudut fasa yang mendahului dan yang terlambat.
Modul Penuntun Praktikum Rangkaian Listrik
Selanjutnya dalam kaitan dengan sudur fasa ini, nilai impedansi Z dari
rangkaian perlu ditentukn sbagai acuan bagi sifat rangkaian yang akan
dianalisis. Impedansi Z didrfinisikan sebagai perbandingnan antara phasor
tegangan terhadap phasor arus. Impedansi adalah sebuah kuantitas kompleks
yang memiliki satuan OHM. Setiap komponen yang terlibat didalam suatu
rangkaian seperti nilai inductor L, kapasitor C yang tanggapan terhadap
frekuensi sinyal masukan dapat dinyatakan seperi persamaan-persamaan
berikut ini.
Komponen Tegangan Fasa Impedansi
R V = R.I 0 Z=R
1 1
C V= - 900 Xc=
jωC x I jωC
L + 900 XL= jωL
2.2. Pengukuran Fasa
Perbandingan fasa dari 2 sinyal yang memiliki frekuensi sama dapat
dilakukan dengan menggunakan tombol dual trace pada osiloskop dengan
langkah-langkah berikut :
a. Hubungkan probe osiloskop sehingga ch-1 pada sumber tegangan input dan
ch-2 pada resistor.
b. Set skala vertical ch-1 dan ch-2 sehingga tiap gelombang kira-kira berukuran
sama dan set skala horizontal untuk mendapatkan display gelombang sedikit
lebih dari 1 periode.
Modul Penuntun Praktikum Rangkaian Listrik
c. Gunakan pengontrol posisi vertical untuk mentanahkan dan membawa
gelombang ke tengah secara vertical.
d. Catat apakah sinyal mendahului atau datang setelah sinyal referensi.
III. PERLENGKAPAN PRAKTIKUM
Multmeter analog atau digital
Tegangan sumber DC
Osiloskop
Generator sinyal
Kapasitor : 100 nF, 10 nF
Resistor : 1 K, 2K2, 3K3, 4K7
Variabel Resistor: 10 K, 100 K
Variabel Kapasitor: (nilainya disesuaikan dengan yang ada di
pasaran)
IV. LANGKAH-LANGKAH PRAKTIKUM
4.1. Percobaan 1: Rangkaian RC Seri Orde Satu
a. Buat rangkaian seperti gambar 3.2 berikut ini dengan tegangan input
sebesar 3 Vpp dari input sinyal generator.
Gambar 3.2 Rangkaian RC Serial
b. Hidupkan saklar S, Kemudian gunakan kanal 1 osiloskop untuk
menentukan Vs, VR dan Vc sesuai isian tabel-1 dengan mengatur sinyal
input sinus dari generator sinyal dengan tegangan puncak ke puncak
sebesar 3 Vpp dan frekuensi sesuai tabel-1 berikut ini :
Modul Penuntun Praktikum Rangkaian Listrik
Tabel-1 Hasil pengukuran rangkaian RC seri
frekuens
Vs VR Vc
No i
(Hz)
(Vpp) (Vpp) (Vpp) I= | |
VR
R
ZC =| |VC
I V S =√ V 2R +V 2C
1 500
2 1000
3 2000
4 5000
5 10000
6 20000
7 50000
8 100000
9 200000
10 500000
4.2. Percobaan 2 : Pengukuran Diagram Fasor (sudut fase)
a. Rancang rangkaian sesuai gambar 3.2 di atas.
b. Kemudian letakan posisi GROUND probe pada osiliskop pada titik positif
Vc, kanal 1 osiloskop letakan pada titik positif V R & kanal 2 letakan pada
titik negatif Vc seperti yang ditunjukkan gambar 3.3 di bawah ini:
Modul Penuntun Praktikum Rangkaian Listrik
XSC1
Ext Trig
+
_
A B
+ _ + _
1.5kΩ
C1
Vs 100nF
1.5 Vpk
0 Hz
0°
Gambar 3.3 Pengukuran Sudut fase
c. Selanjutnya atur frekuensi input sesuai nilai yang tercantum pada tabel-
2, kemudian ukurlah beda fasa dan masukan hasilnya ke dalam tabel-2.
Tabel-2 Hasil pengukuran sudut fase Rangkaian RC Seri
Frekuensi φ Gambar bentuk Phase
No
(Hz) (…0 )
1 700
2 1000
3 2000
4 5000
5 10000
6 20000
7 50000
8 100000
Modul Penuntun Praktikum Rangkaian Listrik
9 200000
10 500000
4.3 Percobaan 3: Rangkaian RL Seri Orde Satu
a. Buat rangkaian seperti gambar 3.4 berikut ini dengan tegangan input
sebesar 3 Vpp dari input sinyal generator.
1.5kΩ
Vs L 100mH
1.5 Vpk
0 Hz
0°
Gambar 3.4 Rangkaian RL Seri
b. Hidupkan saklar S, Kemudian gunakan kanal 1 osiloskop untuk
menentukan Vs, VR dan VL sesuai isian tabel-3 dengan mengatur sinyal
input sinus dari generator sinyal dengan tegangan puncak ke puncak
sebesar 3 Vpp dan frekuensi sesuai tabel-3 berikut ini :
Tabel-3 Hasil pengukuran rangkaian RL seri
No frekuensi
(Hz)
Vs
(Vpp)
VR
(Vpp)
VL
(Vpp)
| |
I=
VR
R
V S =√ V 2R +V 2L
Modul Penuntun Praktikum Rangkaian Listrik
Z L=| |VL
I
1 500
2 1000
3 2000
4 5000
5 10000
6 20000
7 50000
8 100000
9 200000
10 500000
4.4. Percobaan 4 : Pengukuran Sudut Fase Rangkaian RL Seri
a. Rancang rangkaian sesuai gambar 3.2 di atas.
b. Kemudian letakan posisi GROUND probe pada osiliskop pada titik positif
Vc, kanal 1 osiloskop letakan pada titik positif VR & kanal 2 letakan pada
titik negatif Vc seperti yang ditunjukkan gambar 3.3 di bawah ini:
Modul Penuntun Praktikum Rangkaian Listrik
XSC1
Ext Trig
+
_
A B
+ _ + _
1.5kΩ
Vs L 100mH
1.5 Vpk
0 Hz
0°
Gambar 3.3 Pengukuran Sudut fase
c. Selanjutnya atur frekuensi input sesuai nilai yang tercantum pada tabel-
4, kemudian ukurlah beda fasa dan masukan hasilnya ke dalam tabel-4.
Tabel-4 Hasil pengukuran sudut fase Rangkaian RL Seri
Frekuensi φ Gambar bentuk Phase
No
(Hz) (…0 )
1 700
2 1000
3 2000
4 5000
5 10000
Modul Penuntun Praktikum Rangkaian Listrik
6 20000
7 50000
8 100000
9 200000
10 500000
V. TUGAS PENDAHULUAN
Perhatikan rangkaian RC berikut ini :
Dari gambar di atas, tentukan :
a. Arus total (I)
b. VR
Modul Penuntun Praktikum Rangkaian Listrik
c. VC
PERCOBAAN 5
TANGGAPAN TANGGA EKSPONENSIAL
RANGKAIAN RC
I. TUJUAN PRAKTIKUM
Praktikan mampu memahami karakteristik saat proses pengisian dan
pengosongan energi pada kapasitor
Praktikan mampu menggambarkan kurva tanggapan eksponensial saat
proses pengisian dan pengosongan pada kapasitor
Praktikan mampu mengukur, menghitung dan mensimulasikan proses
pengisian dan pengosongan pada kapasitor.
Modul Penuntun Praktikum Rangkaian Listrik
II. TEORI DASAR
Pada dasarnya kapasitor dapat menyimapan muatan dan berfungsi
sebagai elemen memori singkat. Jika sebuah kapasitor diisi oleh sebuah
sumber tegangan konstan, maka tegangan pada kapasitor akan naik secara
linier terhadap waktu seperti yang ditunjukan oleh gambar 1. berikut ini:
R
S
Vin C
(a) (b)
Gambar 1. Proses pengisian kapasitor: (a). Rangkaian, (b). Kurva Tanggapan
Eksponensial saat Pengisian
Sehingga dari grafik pengisian kapasitor di atas, maka secara matematika
dituliskan sebagai berikut:
Sedangkan nilai arus saat proses pengisian di kapasitor selama t detik
dinyatakan sebesar:
Dimana RC menunjukan konstanta waktu saat proses pengisian sedang
berlangsung yang besarnya dinyatakan sebesar:
Modul Penuntun Praktikum Rangkaian Listrik
ԏ = RC
Apabila kapasitor diberi muatan melalui sebuah resistor dengan sebuah
sumber tegangan konstan pada awalnya tida ada muatan yang tersimpan
dalam kapasitor artinya tegangan V pada kapasitor sama dengan nol. Apabila
kapasitor mulai terisi, tegangan pada kapasitor akan naik, akibatnya arus yang
mengisi kapasitor akan berkurang seperti yang ditunjukan gambar 2 berikut ini:
Gambar 2. Kurva tanggapan eksponensial arus saat pengisian kapasitor
Kapasitor akan terisi dengan kecepatan lebih lambat dimana ini kemungkinan
terjadi karena kapasitas kapasitor semakin besar, maka dampaknya pengisian
dan pengosongan kapasitor akan menjadi lebih lama.
III. PERLENGKAPAN PRAKTIKUM
Power Supply DC
Multimeter digital ( 2 buah)
Stopwatch
Kapasitor : 100 µF, 470 µF (2 buah)
Resistor : 1KΩ (2 buah)
Breadboad
Kabel konektor
Modul Penuntun Praktikum Rangkaian Listrik
IV. LANGKAH – LANGKAH PRAKTIKUM
4.1. Percobaan 1: Pengisian Kapasitor
a. Susunlah rangkaian seperti gambar 3 berikut ini:
S1 Ammeter
R + -
0.000 A
Voltmeter
Vin 12 V +
0.000 V
-
C
Gambar 3. Rangkaian Tanggapan Tanggap Eksponensial RC Seri
b. Pastikan sebelum mengukur proses pengisian kapasitor, posisi saklar
S1 dalam keadaan terbuka (OFF) dan pastikan tegangan di kapasitor
bernilai nol serta siapkan stopwatch sebelumnya.
c. Kemudian kemudian pasang nilai R dan C sesuai nilai yang tertera pada
tabel-1.
d. Selanjutnya amati tegangan kapasitor Vc(t) dan arus Ic(t)
Tabel -1 Hasil Pengamatan Pengisian Kapasitor
Vin R C Stopwatch Pengukuran Simulasi Perhitungan
(detik) Vc(t) Ic(t) Vc(t) Ic(t) Vc(t) Ic(t)
12 V 1 KΩ 100 µF 10
20
40
60
Modul Penuntun Praktikum Rangkaian Listrik
80
100
120
10
20
40
12 V 1 KΩ 470 µF 60
80
100
120
4.2. Percobaan 2 : Pengosongan kapasitor
a. Susun kembali rangkaian seperti gambar 3 diatas SEBELUMNYA
b. Pastikan sebelum mengukur proses pengosongan kapasitor, posisi
saklar S1 dalam keadaan tertutup (ON) dengan mempersipakan
stopwatch sebelumnya.
c. Kemudian saklar S1 dibuka, selanjutnya ukurlah tegangan dan arus di
kapasitor C serta masukan data hasil pengukurannya ke dalam tabel-2.
Tabel -2. Hasil Pengamatan Pengosongan Kapasitor
Vin R C Stopwatch Pengukuran Simulasi Perhitungan
(detik) Vc(t) Ic(t) Vc(t) Ic(t) Vc(t) Ic(t)
Modul Penuntun Praktikum Rangkaian Listrik
10
20
40
12 V 1 KΩ 100 µF 60
80
100
120
10
20
40
12 V 1 KΩ 470 µF 60
80
100
120
V. TUGAS PENDAHULUAN
Dari rangkaian RC berikut ini, kita asumsikan R = 1K dan C = 1 uF dengan
tegangan masukan berupa pulsa dengan tinggi Vo dan durasi t.
Tentukan i dan v pada saat :
Modul Penuntun Praktikum Rangkaian Listrik
a. Vo = 10 Volt saat t = 5 mS
b. Vo = 10 Volt saat t = 10 mS
VI. TUGAS SETELAH PRAKTIKUM (LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM)
a. Masukan data-data hasil pengukuran, simulasi dan perhitungan ke
dalam tabel-tabel pengamatan
b. Analisa hasil data-data pengamatan tersebut untuk masing-masing
percobaan (analisa perhitungan WAJIB dimasukan dalam laporan akhir)
c. Buat kurva/grafik karakteristik saat pengisian dan pengosongan
kapasitor berdasarkan data-data yang diperoleh
d. Buat kesimpulan dari percobaan ini
Modul Penuntun Praktikum Rangkaian Listrik
PERCOBAAN 6
TANGGAPAN TANGGA DARI SISTEM ORDE SATU
DALAM RANGKAIAN RLC
I. TUJUAN PRAKTIKUM
a. Mampu menganalisa memahami hubungan arus serta tegangan dalam
sistem orde satu
b. Mampu menjelaskan karakteristik respons tanggan dalam rangkaian
RLC
II. TEORI DASAR
Arus dalam suatu rangkaian seri yang mengandung resistansi, reaktansi
induktif dan reaktansi kapasitif ditentukan oleh impedansi menyeluruh
gabungan elemen tersebut dan tegangan yang diberikan. Arus I sama dalam
rangkaian seri R, XL dan XC karena ketiga komponen ini dihubung seri
sehingga jatuh tegangan pada setiap elemen diperoleh dengan hukum OHM
yang besarnya sebagai berikut :
VR = I x R (6.1)
VL = I X L (6.2)
VC = I X C (6.3)
tegangan pada resistansi sefase dengan arus yang melalui resistansi tersebut,
sedangkan tegangan pada induktansi mendahului arus sebesar 900. Untuk
tegangan pada kapasitor, tegangan tertinggal dari arus sebesar 900.
Modul Penuntun Praktikum Rangkaian Listrik
Gambar 1. Sudut Fase Rangkaian RLC Orde Satu
Apabila XL > XC, maka rangkaiannya akan berupa rangkaian induktif dimana
VL > VC dan arus I terlambat terhadap VTotal yaitu sebesar:
VTotal = √ V 2R +(V L−V C )2 (6.4)
V L−V C XL
θ=arctan
VR = R (6.5)
Sedangkan jika XC lebih besar dari XL, maka rangkaiannya akan berupa
rangkaian kapasitif diman VC > VL dan arus I mendahului terhadap V total,
VTotal = √ V 2R +(V C −V L )2 (6.6)
V C −V L XC
θ=arctan −
VR = R (6.7)
Untuk suatu impedansi total dari rangkaian RLC ini dapat ditentukan sebagai
berikut:
Z=√ R 2 +( X L−X C )2 (6.8)
Z=√ R 2 +( X C −X L )2 (6.9)
Modul Penuntun Praktikum Rangkaian Listrik
1
Dimana: XL = ωL ; XC = ωC
III. PERLENGKAPAN PRAKTIKUM
Sumber Tegangan AC dan DC
Osiloskop
Generator sinyal
Kapasitor : 100 nF (2 buah)
Resistor : 1K, 2K2. 22K ( 2 buah)
Induktor : 1 H, 10 H, 100 mH ( 1buah)
IV. LANGKAH-LANGKAH PRAKTIKUM
4.1. Percobaan 1: Mengukur Tegangan pada RLC Seri & Resonansi
a. Susunlah rangkaian seperti gambar berikut ini :
Gambar 2 Rangkaian RLC
b. Atur generator sinyal sebagai sumber sinyal sinusoidal pada tegangan
masukan sebesar 1,5 Vmak dengan frekuensi 100 Hz s/d 3000 Hz.
c. Kemudian tentukan VS, VC, VL,VR, I dan Z sesuai tabel pengamatan-1
berikut ini
Modul Penuntun Praktikum Rangkaian Listrik
Tabel -1: Hasil pengamatan tanggapan tangga rangkaian RLC
N Frekuensi
VS
VL VR Vc
I=| |VR
R | |
Z=
VS
I
(Volt V S =√ V 2R +(V L−V C )2
o (Hz) (Volt) (Volt) (Volt) (Ampere
) (Ω)
)
1 100
2 500
3 1000
4 1500
5 2000
6 2500
7 3000
8 4000
4.2. Percobaan 2: Mengukur Diagram Fasor (beda fasa)
a. Susun rangkaian seperti gambar 5.1 di atas.
b. Kemudian sambungkan GROUND probe osiloskop pada titik positif Vc.
Selanjutnya kanal 1 osiloskop sambungkan pada titik positif VL & kanal
2 disambungkan pada titik negatif Vc.
Modul Penuntun Praktikum Rangkaian Listrik
c. Kemudian isikan hasilnya pada tabel pengamatan-2 dengan mengubah-
ubah frekuensi masukan generator sinyal sesuai dengan nilai frekuensi
yang tercantum pada tabel.
d. Acuan beda fasa 00 diplot pada Vc.
Tabel pengamatan-2:
Frekuensi φ CL Gambarkan bentuk
No
(Hz) (0) beda fasa-nya
1 100
2 300
3 500
4 1000
5 5000
6 10.000
7 20.000
e. Kemudian sambungkan GROUND probe osilskop pada titik positif VL.
Selanjutnya kanal 1 osiloskop sambungkan pada titik positif VR & kanal 2
disambungkan pada titik negatif VL.
f. Kemudian isikan hasilnya pada tabel pengamatan-2 dengan mengubah-
ubah frekuensi masukan generator sinyal sesuai dengan nilai frekuensi
yang tercantum pada tabel.
g. Acuan beda fasa 00 diplot pada VR.
Modul Penuntun Praktikum Rangkaian Listrik
Tabel pengamatan-3:
Frekuensi φ LR Gambarkan bentuk
No
(Hz) (0) beda fasa-nya
1 100
2 300
3 500
4 1000
5 5000
6 10.000
7 20.000
V. TUGAS PENDAHULUAN
Perhatikan rangkaian RLC berikut ini:
Dari gambar di atas, tentukan:
a. Jatuh Tegangan pada R, L & C
b. Sudut fase rangkaian
c. Sifat rangkaian
Modul Penuntun Praktikum Rangkaian Listrik
VI. TUGAS SETELAH PRAKTIKUM (LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM)
e. Masukan data-data hasil pengukuran, simulasi dan perhitungan ke
dalam tabel-tabel pengamatan
f. Analisa hasil data-data pengamatan tersebut untuk masing-masing
percobaan (analisa perhitungan WAJIB dimasukan dalam laporan akhir)
g. Buat kurva/grafik karakteristik tanggapan frekuensi terhadap tegangan
kapasitor ( fin vs Vc ) sesuai isian tabel-1 di atas
h. Buat kesimpulan dari percobaan ini