0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
13 tayangan5 halaman

Bahan Ajar Cinta Rupiah

Dokumen ini menjelaskan tentang cinta rupiah, sejarah uang rupiah, desain, syarat dan karakteristik uang rupiah, serta proses pembuatan dan pengamanan uang rupiah. Cinta rupiah mencakup merawat, mengenali, dan menjaga uang rupiah untuk mencegah kejahatan uang palsu. Selain itu, dijelaskan juga tentang peran Bank Indonesia dalam pengaturan dan penerbitan uang rupiah serta upaya pencegahan pemalsuan uang.

Diunggah oleh

ansellmapravda
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
13 tayangan5 halaman

Bahan Ajar Cinta Rupiah

Dokumen ini menjelaskan tentang cinta rupiah, sejarah uang rupiah, desain, syarat dan karakteristik uang rupiah, serta proses pembuatan dan pengamanan uang rupiah. Cinta rupiah mencakup merawat, mengenali, dan menjaga uang rupiah untuk mencegah kejahatan uang palsu. Selain itu, dijelaskan juga tentang peran Bank Indonesia dalam pengaturan dan penerbitan uang rupiah serta upaya pencegahan pemalsuan uang.

Diunggah oleh

ansellmapravda
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

Pertemuan 1

Lampiran 1. Bahan Ajar


A. Pengertian Cinta Rupiah
Cinta rupiah merupakan cara atau kemampuan masyarakat dalam mengenal karakteristik
dan desain rupiah, memperlakukan rupiah secara tepat, menjaga dirinya dari kejahatan uang
palsu. Cinta rupiah dapat dilakukan dengan mengenali, merawat, dan menjaga rupiah.
Berikut beberapa poin penting dalam cinta rupiah:
1. Merawat rupiah (5 Jangan/ 5J)
a. Jangan dilipat
b. Jangan dicoret
c. Jangan distapler
d. Jangan diremas
e. Jangan dibasahi
2. Mengenali rupiah (3D)
a. Dilihat
b. Diraba
c. Diterawang
3. Menjaga rupiah: menyimpan uang dengan baik (menggunakan dompet agar tidak
terlipat atau hilang) untuk menjaga kualitas dan memperpanjang masa edar
4. Menukar uang rusak: masyarakat dapat menukar uang yang rusak atau lusuh ke Bank
Indonesia atau bank terdekat.

B. Sejarah Uang Rupiah [Link]


uang-indonesia/
Video youtube [Link]
Rupiah atau Rupiah Indonesia merupakan mata uang resmi yang berlaku di Indonesia. Mata
uang ini diatur dan dicetak oleh BI (Bank Indonesia) dengan kode 4217 IDR. Pada awal
kemerdekaan, Indonesia belum menggunakan mata uang rupiah melainkan mata uang ORI
(Oeang Republik Indonesia). ORI hanya memiliki waktu peredaran selama 4 tahun yakni
pada tahun 1945-1949. Namun, peredaran mata uang ORI secara resmi baru dimulai pada
30 oktober 1946, yang kemudian pada tanggal tersebut diperingati sebagai hari keuangan
nasional. Mata uang ORI ini dicetak setiap hari pukul 7 pagi hingga 10 malam sejak Januari
1946. Awalnya, pencetakan dilakukan di Jakarta yang kemudian dipindahkan ke
Yogyakarta, surakarta, malang, dan ponorogo.

ORI mengalami kesulitan peredaran di beberapa daerah yang masih diduki belanda yakni
jawa barat dan sumatra. Karena hal tersebut, para tokoh daerah mengusulkan agar tiap
daerah mengeluarkan mata uang sendiri. Akhirnya pada masa itu terdapat 21 jenis mata uang
dan 27 jenis ORIDA di Indonesia. Jenis-jenis ORIDA meliputi surat-surat bon, surat tanda
penerimaan uang, tanda pembayaran yang sah, dan ORIDA berbentuk mandat. Penggunaan
ORI dan ORIDA hanya berlaku sampai 1 Januari 1950 dan kemudian dilanjutkan dengan
penerbiatan uang Rupiah Indonesia Serikat.
Hasil dari salah satu kesepakatan Konferensi Meja Bundar (KMB) adalah pengakuan
kedaulatan Indonesia oleh belanda pada 27 desember 1949. Setelah itu, negara federal
Republik Indonesia serikat (RIS) dibentuk. Pada masa itu, Belanda mengusulkan
menjadikan uang NICA sebagai satu-satunya alat pembayaran sah, tetapi Sri Sultan
Hamengkubuwono menolaknya, sehingga dilakukan survei atas usulan Belanda untuk
mengukur preferensi masyarakat Indonesia terhadap ORI dan NICA. Hasil survei
menunjukkan masyarakat lebih memilih ORI, yang mendorong pemerintah menetapkan
mata uang bersama berupa uang federal Republik Indonesia Serikat (RIS). Pada 27 Maret
1950, penukaran ORI dan ORIDA dengan uang baru RIS dimulai oleh De Javasche Bank,
namun masa berlaku uang RIS hanya singkat hingga 17 Agustus 1950 saat Negara Kesatuan
Republik Indonesia (NKRI) terbentuk kembali.

Setelah pembubaran Republik Indonesia Serikat pada 17 Agustus 1950, rupiah ditetapkan
sebagai mata uang tunggal NKRI. Pada Desember 1951, De Javasche Bank dinasionalisasi
menjadi Bank Indonesia (BI) sebagai bank sentral, dengan 1 Juli 1953 ditetapkan sebagai
hari lahirnya BI sesuai Undang-Undang Pokok Bank Indonesia tahun 1953, di mana BI
mengambil alih fungsi De Javasche Bank dan mulai menerbitkan uang Rupiah sebagai alat
pembayaran sah. Terdapat dua jenis uang Rupiah yang sah di wilayah Republik Indonesia,
yaitu yang diterbitkan Pemerintah RI (melalui Kementerian Keuangan) untuk kertas dan
logam bernilai kurang dari Rp 5, serta yang diterbitkan BI untuk kertas bernilai Rp 5 ke atas.
Antara 1952 dan 1953, BI mengeluarkan serangkaian uang kertas baru mulai dari pecahan
Rp 1 hingga Rp 100.

C. Desain rupiah [Link]


uang-rupiah-dari-masa-ke-masa
a. Uang rupiah orde baru
Menampilkan seri Sudirman, mata uang Indonesia yang dikeluarkan pada masa Orde
Baru tersebut terdiri dari 11 nilai pecahan: Rp1.00, Rp2½.00, Rp5.00, Rp10.00,
Rp25.00, Rp50.00, Rp100.00, Rp500.00, Rp1.000 Rp5.000 dan Rp10.000.
Ditandatangani oleh Gubernur Bank Indonesia Radius Prawiro dan Direktur BI
Soeksmono B Martokoesoemo, emisi tahun 1968 kemudian mulai diedarkan pada
tanggal 8 Januari 1968.
b. Uang rupiah (1975)
Di tahun ini, desain uang rupiah kembali mendapatkan perubahan. Gambar yang
terdapat di nominal satu dengan yang lainnya terlihat berbeda-beda. Salah satu
contohnya adalah terdapat gambar Pangeran Diponegoro di nominal Rp1.000, gambar
nelayan di nominal Rp5.000, gambar Candi Borobudur pada pecahan Rp10,000. Pada
masa ini, uang yang dirilis dan diedarkan tersebut ditandatangani oleh Gubernur BI
Rachmat Saleh dan Direktur BI Soeksmono B Martokoesoemo.
c. Uang rupiah (1992)
Didominasi oleh warna merah, hijau, biru, dan campuran violet dan warna lainnya, mata
uang ini dengan pecahan dan gambar yang berbeda—sama seperti edisi sebelumnya.
Di pecahan Rp100.00 terdapat gambar uang Perahu Phinisi, Rp500.00 dengan gambar
uang Orangutan, Rp1.000 dengan gambar uang Danau Toba dan Rp5.000 dengan
gambar uang Alat Musik Sasando. Pada pecahan yang cukup besar, nominal nilai uang
Rp10.000 hadir dengan gambar uang Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan Rp20.000
dengan gambar uang Cendrawasih merah. Selain itu, bahan yang digunakan serta
pengamanan pun sudah lebih baik dari sebelumnya.
d. Uang rupiah (1993)
Bank Indonesia juga turut menampilkan nominal 50.000 dengan gambar Presiden
Soeharto dicetak pada bagian depan. Untuk menurunkan ancaman dari banyaknya uang
palsu yang mulai beredar dengan pesat, kertas yang dibuat dari plastik polymer tersebut
ditambahkan pengaman berupa “holografis” gambar Soeharto.
e. Uang rupiah (Orde Reformasi)
Di masa orde reformasi ini, desain uang kertas tampil lebih variatif dan lebih berwarna
dibanding sebelumnya. Pengaplikasian gambar yang berbeda di setiap nominal
memudahkan masyarakat untuk membedakan nilai uang dengan cepat. Pecahan dengan
nominal tertinggi, Rp100.000, juga turut dihadirkan di masa ini. Beberapa desain
mungkin akan mengingatkan para pembaca dengan masa kecil mereka. Gambar ikonik
di masa ini adalah pecahan Rp50.000 dengan gambar Ngurah Rai dan pecahan
Rp100.000 dengan gambar Bung Karno dan Bung Hatta yang digunakan hingga saat
ini. Terdapat juga logo plastik merah di dalam uang kertas tersebut.
f. Uang rupiah (2016)
Uang emisi 2016 menampilkan desain yang lebih baik dari sebelumnya. Uang dalam
tampilan baru yang diluncurkan dengan menampilan rangkaian warna yang cantik,
beserta gambar pahlawan nasional yang ditetapkan sesuai dengan keputusan presiden:
mulai dari gambar Tjut Meutia, Frans Kaisiepo, hingga gambar Ir. H. Djuanda
Kartawidjaya dengan nuansa biru yang kental.

Desain uang rupiah terbaru (TE 2022), menonjolkan pahlawan nasional di bagian
depan, serta pemandangan alam dan tari tradisional di bagian belakang, dengan fitur
keamanan lebih canggih dan warna lebih cerah.
• Warna & Ukuran: Warna lebih kontras dan tajam, serta terdapat selisih ukuran
antar pecahan (semakin kecil nominal, semakin pendek ukurannya) untuk
memudahkan tunanetra.
• Keamanan: Menggunakan teknologi benang pengaman (microlines), cora (warna
berubah), dan tinta khusus (UV) untuk mencegah pemalsuan.
• Gambar: Menampilkan kebhinekaan dengan pahlawan dan keindahan alam dari
berbagai daerah, termasuk Papua (Frans Kaisiepo).

D. Syarat uang dan karakteristik uang rupiah


[Link]
a. Syarat uang [Link]
1. Diterima secara umum (acceptability): kegunaannya harus diterima sebagai alat
tukar, penimbun kekayaan, atau pembayar utang.
2. Nilainya stabil (stability of value): nilai uang tidak naik turun (fluktuatif) supaya
orang-orang mau menggunakannya sebagai alat tukar
3. Mudah disimpan (storable): uang harus memiliki bentuk fisik yang tidak terlalu
besar atau mudah dilipat
4. Jumlahnya stabil: jumlah uang yang beredar harus stabil artinya tidak berlebihan
atau kekurangan. Karena jika persediaan uang yang beredar tidak cukup maka
pertumbuhan perekonomian juga akan terhambat.
5. Mudah dibawa (divisibility): uang harus ringan dan mudah dibawa
6. Tidak mudah rusak (durability): uang harus tahan lama dan tidak mudah rusak.
Kualitas fisik uang harus awet dan tahan lama tidak mudah robek, pecah, luntur atau
rusak

b. Karakteristik uang rupiah [Link]


uang-rupiahmu-asli-yuk-kenali-ciri-keaslian-uang-rupiah/
1. Terdapat benang pengaman seperti dianyam pada uang kertas pecahan Rp. 100.000,
Rp. 50.000, dan Rp. 20.000
2. Terdapat gambar bunga yang akan berubah warna jika dilihat dari sudut pandang
berbeda pada pecahan Rp. 100.000, Rp. 50.000, dan Rp. 20.000
3. Pada sisi depan terasa kasar apabila diraba pada gambar utama pahlawan, lambang
garuda dan angka nominal pecahan uang
4. Pada sisi belakang, terasa kasar pada bagian gambar pemandangan alam dan tarian
5. Sisi kiri dan kanan uang rupiah terdapat garis kasar sebagai kode tuna netra (blind
code)
6. Bila diterawang, ada tanda air (watermark) berupa gambar pahlawan dan juga
electrotype
7. Gambar saling isi (rectoverso) berupa logo bank Indonesia yang dapat dilihat secara
utuh jika diterawang ke arah cahaya.

E. Pembuatan, dan pengamanan uang rupiah


a. Pembuatan uang rupiah
[Link]
Pembuatan uang rupiah merupakan proses ketat yang dilakukan oleh Perum Peruri atas
pesanan Bank Indonesia (BI), dengan pengamanan berlapis untuk mencegah
pemalsuan. BI merencanakan jumlah cetakan berdasarkan kebutuhan ekonomi,
menyediakan bahan baku berkualitas seperti kertas berbasis kapas yang telah lolos uji
lab, sementara Peruri menangani produksi di pabrik Karawang seluas 202 hektar
dengan penjagaan ketat dan standar operasional tinggi.

b. Pengamanan uang rupiah


Pencegahan dan penanggulangan uang palsu tidak dapat diserahkan sepenuhnya kepada
Bank Indonesia dan Polri. Sesuai dengan amanat Undang-Undang No. 7 Tahun 2011
tentang mata uang, pemberantasan uang rupiah palsu dilakukan oleh suatu badan yakni
Badan Koordinasi Pemberantasan Rupiah Palsu atau BOTASUPAL. Badan ini terdiri
dari gabungan 5 unsur yaitu Badan Intelijen Negara, Kepolisian Negara Republik
Indonesia, Kejaksaan Agung, Kementerian Keuangan dan Bank Indonesia. Namun
demikian, keberhasilan penganggulangan kejahatan pemalsuan uang Rupiah tidak
dapat dilepaskan dari peran serta seluruh komponen masyarakat, khususnya perbankan
dan pelaku usaha.
1. Dasar Hukum
a. KUHP Pasal 244: Membuat atau memalsu uang kertas/uang logam. Ancaman:
Penjara seumur hidup atau penjara sementara maksimal 15 tahun.
b. KUHP Pasal 245: Mengedarkan, menawarkan, menyimpan, atau memasukkan
ke Indonesia uang palsu dengan maksud [Link]: Penjara
maksimal 15 tahun.
c. KUHP Pasal 246: Mengurangi nilai uang asli (contoh: memotong uang logam
untuk diambil bahannya). Ancaman: Penjara maksimal 4 tahun.
d. Undang-Undang No. 7 Tahun 2011 tentang Mata Uang: memperkuat
kewenangan BI dan mengatur lebih detail tentang larangan:merusak, memalsu,
atau meniru uang Rupiah, serta menolak pembayaran dengan Rupiah yang sah
di Indonesia.
e. Peraturan Bank Indonesia: Mengatur teknis pengedaran, penarikan, dan
pemusnahan uang.

Anda mungkin juga menyukai