0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan47 halaman

Skripsi Rifal Fix

Dokumen ini membahas analisis keselamatan lalu lintas di Kecamatan Sampolawa, Kabupaten Buton Selatan, dengan fokus pada Jalan Pendakian Warope. Penelitian bertujuan untuk mengevaluasi kondisi jalan dan perilaku berkendara masyarakat, serta mengidentifikasi faktor-faktor yang menyebabkan kecelakaan. Hasil diharapkan dapat memberikan informasi berguna bagi mahasiswa dan peneliti selanjutnya dalam bidang keselamatan lalu lintas.

Diunggah oleh

dahlia010776
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan47 halaman

Skripsi Rifal Fix

Dokumen ini membahas analisis keselamatan lalu lintas di Kecamatan Sampolawa, Kabupaten Buton Selatan, dengan fokus pada Jalan Pendakian Warope. Penelitian bertujuan untuk mengevaluasi kondisi jalan dan perilaku berkendara masyarakat, serta mengidentifikasi faktor-faktor yang menyebabkan kecelakaan. Hasil diharapkan dapat memberikan informasi berguna bagi mahasiswa dan peneliti selanjutnya dalam bidang keselamatan lalu lintas.

Diunggah oleh

dahlia010776
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Seiring dengan meningkatnya pembangunan negara di

segala bidang, maka tingkat kehidupan masyarakat juga

semakin membaik. Hal ini menyebabkan kebutuhan akan sarana

transportasi semakin dibutuhkan untuk melakukan segala

macam aktivitas sehari-hari. Salah satu sarana yang paling

banyak digunakan adalah penggunaan kendaraan bermotor

karena kemudahan aksesnya.

Upaya untuk mewujudkan Kecamatan Sampolawa Kabupaten Buton Selatan

saat ini belum didukung dengan trasportasi yang mengutamakan keselamatan

berlalu lintas. Mengutamakan keselamatan lalu lintas sangat penting untuk

dijadikan kebiasaan dalam melakukan pergerakan di Kecamatan Sampolawa

Kabupaten Buton Selatan. Penelitian kali ini bertujuan menganalisis keselamatan

berlalu lintas di Kecamatan Sampolawa Kabupaten Buton Selatan. Berdasarkan

aspek perilaku berkendara warga Kecamatan Sampolawa Kabupaten Buton

Selatan dan kondisi prasarana jalan. Aspek keselamatan berlalu lintas yang di kaji,

difokuskan pada perilaku berkendara dan kondisi prasarana jalan. Berpengaruh

terhadap berkelanjutan dimasa mendatang. Kajian terhadap keselamatan berlalu

lintas penting untuk dilakukan guna mendukung terwujudnya trasportasi. Tanpa

ada upaya mengutamakan keselamatan berlalu lintas dalam kehidupan sehari hari.

1
Meningkatnya pertumbuhan sarana trasportasi ini sangat

sulit diimbangi oleh pertumbuhan prasarana transportasi karena

terbatasnya lahan, maka dengan kenaikan jumlah pemakaian

kendaraan bermotor yang tinggi akan menimbulkan kecelakaan

lalu lintas pada ruas Jalan Pendakian Warope, terutama pada

jam-jam sibuk terjadi gangguan kelancaran lalu-lintas yang

berupa kemacetan lalu-lintas.

Berhubung pendakian Warope Desa Tira sangat curam

dengan tingkat kemiringan ± 24º dengan panjang jalan pendakian Palatiga

± 1000 m. dengan kondisi jalan yang sangat curam, dan rusak serta berkelok-

kelok, hal ini terjadi Yng memicu seringnya terjadi kecelakaan lalu

lintas seperti tabrakan, kecelakaan tunggal dan lainnya.

Kemudian dari pada itu, hal-hal lain yang menjadi pemicu

seringnya terjadi kecelakaan disebabkan pendakian Warope

merupakan akses satu-satunya yang menghubungkan antara

dua Kecamatan yaitu Kecamatan Sampolawa dan Kecamatan

Lapandewa sehingga menimbulkan bangkitan dan tarikan lalu

lintas yang berdampak pada intensitas lalu lintas pada pendakian

tersebut. Meskipun demikian sampai saat ini tindakan dari

pemerintah daerah maupun instansi terkait untuk menangani

keadaan ini belum memuaskan sehingga peneliti merasa perlu

untuk melakukan analisis kinerja ruas jalan pada jalan yang

2
bersangkutan agar dapat menemukan solusi adanya

keselamatan lalu-lintas tersebut.

Oleh karena itu, berdasarkan uraian di atas maka penulisan tertarik untuk

melakukan penelitian dengan judul “Analisa Keselamatan Lalu Lintas di

Kecamatan Sampolawa Kabupaten Buton Selatan ( Studi Kasus di

Pendakian Warope Desa Tira)”.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan diatas, maka penulis

merumuskan masalah di dalam penelitian ini yaitu :

1. Bagaimana keselamatan lalu lintas yang berada di ruas jalan Pendakian

Warope di tinjau dari kelengkapan jalan dan kondisi jalan?

2. Berapa kecepatan rata-rata dalam mengemudikan kendaraan dalam berlalu

lintas di Jalan Pendakian Warope?

1.3 Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian yang ingin di capai dari penelitian ini adalah :

1. Untuk menganalisis keselamatan lalu lintas yang berada di ruas jalan

Pendakian Warope di tinjau dari kelengkapan jalan dan kondisi jalan.

2. Untuk mengetahui kecepatan rata-rata dalam mengemudikan kendaraan

dalam berlalu lintas di Jalan Pendakian Warope.

1.4 Manfaat Penelitian

Manfaat yang diharapkan dalam penelitian ini, antara lain :

3
1. Bagi mahasiswa hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi informasi

tentang analisa keselamatan lalu lintas di Kecamatan Sampolawa Kabupaten

Buton Selatan.

2. Bagi peneliti selanjutnya, hasil penelitian ini dapat memberikan kerangka

pemikiran pada penelitian yang akan datang, khususnya yang berkaitan

dengan keselamatan lalu lintas di Kecamatan Sampolawa Kabupaten Buton

Selatan.

1.5 Batasan Masalah

Batasan permasalahan agar tidak mnyimpang dari tujuan,

maka perlu adanya batasan masalah di dalam penulisan tugas

akhir ini adalah penyajian materi yang dibahas hanya mengenai keselamatan

lalu lintas dan kecepatan lalu lintas pada jalan Pendakian Warope.

4
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Penelitian Terdahulu

Penelitan terdahulu sebagai bahan referensi dalam penelitian ini adalah :

1. Agus Mulyono (2009), penelitian ini mengunakan audit dengan

endikator nilai resiko penenganan defisiensi. Hasil audit keselamatan

jalan menunjukan bahwa beberapa bagian fasilitas jalan berbeda dalam

kategori “bahaya”, dan atau “sengat berbahaya”, yang harus segera

diperbaiki untuk memperkecil potensi terjadinya kecelakaan, yaitu :

(1) aspek geometrik yang meliputi jarak pandang menyiap, posisi evaluasi

bahu jalan terhadap elevasi tepi perkerasan, radius tikungan.

(2) Aspek perkerasan yang meliputi kerusakan berupa alur bekas roda

kendaraan

5
(3) Aspek harmonisasi yang meliputi rambu batas kecepatan di tukungan,

lampu penerangan jalan, dan sinyal sebelum masuk tikungan.

2. Suwardo (2008), dalam jurnal ini menganalisis dan menentukan tingkan

pengaruh serta kontribusi sebagai faktor yang ada terhadap kecelakaan

dengan cara mengidentifikasi faktor – faktor sembarang yang dianggap

dominan. Hal ini cukup rasional bahwa dengan makin banyaknya

pelaku/korban kecelakaan usia produktif menepati prioritas utama (indax

terbesar) maka diperlukan prioritas utama dalam pencegahan dan

penaganan kecelakaan.

3. Isa Asadi (2010), penelitian ini dimkasudkan mengetahui perilaku

pengendara motor di ruas jalan Jendral Sudirman Sungailiat terhadap

kecelakaan lalu lintas. Perilaku pengendara sepeda motor di kecamatan

Sungailiat sangat berpengaru terhadap penurunan angka kecelakaan,

karena dapat dilihat pada data kecelakaan yang terjadi 5 tahun terakhir

dengan menganalisis jumlah sepeda motor, angka kecelakaan,

menunjukan bahwa perilaku pengendara mendapat skor rata – rata adalah

78,56% dan berarti perilaku pengendara sepeda motor di sungailiat di

kategorikan baik.

2.2 Pengertian Lalu Lintas

Menurut Poerwadarminta dalam kamus umum bahasa Indonesia (1993:55).

Menyatakan bahwa lalu lintas adalah berjalan bolak balik, hilir mudik dan perihal

perjalanan dijalan dan sebagainya serta berhubungan antara kedua tempat dengan

6
tempat lainnya. Sedangkan disebutkan dalam undang-undang No.22 tahun 2009,

lalu lintas diartikan sebagai gerak kendaraan dan orang diruang lalu lintas jalan.

Ruang lalu lintas itu sendiri adalah prasarana yang berupa jalan dan fasilitas

pendukung dan diperuntukan bagi gerak pindah kendaraan, orang dan atau barang.

Di dalam lalu lintas memiliki 3 (tiga) sistem komponen yang antara lain adalah

manusia, kendaraan dan jalan yang saling berinteraksi dalam pergerakan

kendaraan.

Manusia

Kendaraan Jalan

Gambar 2.1 Sistem komponen dalam lalu lintas


Sumber : UU Nomor 22 Tahun 2009 tentang lalu lintas dan angkutan jalan
a. Manusia

Manusia merupakan salah satu unsur dalam lalu lintas yang spesifik, artinya

setiap individu mempunyai komponen fisik dasar tertentu dan non fisik

yang barangkali berbeda antara satu dengan yang lainnya. Manusia juga

berperan sebagai pengemudi atau pejalan kaki dan mempunyai keadaan

yang berbeda beda.

b. Kendaraan

Kendaraan digunakan dan atau digerakan oleh manusia atau pengemudi.

Kendaraan berkaitan dengan kecepatan, percepatan, perlambatan, dimensi

dan muatan yang membutuhkan ruang lalu lintas. Menurut Peraturan

Perintah Republik Indonesia tahun 1993 tentang kendaraan dan pengemudi

tanggal yang merupakan turunan dari Undang-Undang tahun 1992 tentang

lalu lintas dan angkutan jalan, jenis kendaraan bermotor di bagi menjadi :

7
1. Sepeda motor

2. Mobil penumpang

3. Mobil bus

4. Mobil barang

5. Kendaraan khusus

c. Jalan

Jalan adalah lintasan yang direncanakan dan di peruntukan kepada

pengguna kendaraan bermotor dan tidak bermotor termasuk pejalan kaki.

Jalan dalam lalu lintas adalah yang digunakan untuk mengalirkan aliran lalu

lintas dengan lancar, aman dank mendukung beban muatan kendaraan.

d. Rambu Lalu Lintas

Rambu Lalu Lintas adalah bagian dari perlengkapan jalan yang memuat

lambang, huruf, angka, kalimat dan atau/ berpaduan diantaranya, yang

digunakan untuk memberikan peringatan, larangan, perintah dan petunjuk

bagi pemakai jalan.

2.1.1 Variasi Arus Lalu Lintas Harian

Tingkat arus lalu lintas bervariasi terhadap hari dalam satu minggu. Variasi

harian dalam satu minggu sangat dipengaruhi oleh kegiatan manusia yang

umumnya mempunyai jadwal yang tetap dalam seminggu. Variasi harian jalan

perkotaan berbeda dengan jalan antar kota, dan jalan menuju tempat rekreasi

berbeda dengan jalan bukan didaerah [Link] penelitian Titi Liani 2007

8
bahwa variasi arus lalu lintas untuk jalan perkotaan, jalan antar kota dan jalan

yang menuju tempat rekreasi adalah sebagai berikut :

a. Untuk jalan perkotaan puncak kesibukan berada pada tengah hari minggu,

yaitu pada hari senin sampai jum’at. Sedangkan untuk hari sabtu dan minggu

arus lalu lintascenderung rendah

b. Untuk jalan antar kota, mempunyai puncak pada akhir hari minggu, yaitu

jum’at, sabtu dan minggu. Sedangkan untuk hari senin sampai kamis arus lalu

lintas cenderung rendah.

c. Untuk jalan yang menuju tempat rekreasi mempunyai variasi arus lalu lintas

sama dengan jalan antar kota yaitu puncakarus berada pada akhir hari minggu

yaitu jum’at, sabtu dan minggu. Dan hari senin sampai kamis arus lalu lintas

cenderung rendah.

2.3 Volume lalu lintas

Data lalu lintas merupakan data utama dari suatu perencanaan lalu lintas

di samping pengaruhnya yang sangat besar terhadap perencanaan bentuk seperti

lebar, aligemen, kelandaian dan sebagainya. Dalam kegiatan dengan tugas akhir

ini data lalu lintas tersebut antara lain mengenai :

1. Klasifikasi kendaraan

2. Volume lalu lintas

Di dalam perencanaan ini jenis kendaraan dalam perhitungan lalu lintas

di klasifikasikan sebagai berikut :

1. Mobil penumpang : mencakup pick up, mikro, station wangon, jeep

2. Bis : mencakup bis besar dan bis kecil

9
3. Truck ringan : mencakup truck dengan 2 as

4. Truck sedang : mencakup truck tangki dengan 3 as

5. Truck berat : mencakup truck tangki gandeng, semi trailer

6. Sepeda motor : semua kendaraan roda dua

7. Kendaraan tidak bermotor : sepeda, becak, kendaraan di tarik hewan.

Konvensi jenis kendaraan terhadap Satuan Mobil Penumpang ( SMP )

dipakai standart peraturan perencanaan Geometrik Jalan Raya tahun 1970 Dirjen

Binamarga.

Volume adalah suatu peubah (variable) yang paling penting pada teknik lalu

lintas , dan pada dasarnya merupakan proses perhitungan yang berhubungan

dengan jumlah gerakan persatuan waktu pada lokasi tertentu, ( Hobbs, 1995 ).

Volume adalah jumlah kendaraan yang melalui satu titik yang tetap pada

jalan dalam satuan waktu. Volume lalu lintas dapat di hitung dengan

menggunakan rumus (Morlok, E.K. 1991) berikut :

V = n/t..........................................................................................(2.1)

Keterangan : V = volume lalu lintas yang melalui satu titik

n = jumlah kendaraan yang melalui titik itu dalam interval

waktu pengamatan

t = waktu pengamatan

2.4 Masalah lalu lintas

Adapun beberapa masalah yang sering ada dalam lalu lintas adalah :

kecepatan. Kecepatan dapat di sebabkan oleh sarana dan prasarana yang masih

terbatas, manajemen lalu lintas yang belum atau tidak berfungsi secara optimal

10
dan semestinya dan beberapa masalah pemanfaatan sebagian ruas jalan yang

mengakibatkan adanya hambatan-hambatan sampai pada jalan yang sering

mengganggu aktifitas dan kenyamanan dalam lalu lintas. Terjadinya kemacetan

pada lalu lintas maka dapat menyebabkan terhambatnya proses aktifitas

masyarakat dalam kehidupan sosial, ekonomi, pendidikan dan lain-lain.

2.5 Teori Keselamatan

Keselamatan berasal dari kata dasar selamat. Menurut kamus besar bahasa

Indonesia selamat adalah terhindar dari bencana, aman sentosa, sejahtera,tidak

kurang suatu apapun, sehat, tidak mendapat gangguan, kerusakan, beruntung,

tercapai maksudnya, tidak gagal (Poerwadarminta, 1976). Keselamatan juga

berarti suatu keadaan aman, dalam suatu kondisi yang aman secara fisik, sosial,

spiritual, finansial, politis, emosional, pekerjaan, psikologis ataupun pendidikan

dan terhindar dari ancaman terhadap faktor-faktor tersebut.

2.5.1. Keselamatan Jalan Raya

Keselamatan jalan raya adalah suatu upaya mengurangi kecelakaan raya

dengan memperhatikan faktor-faktor penyebab kecelakaan, seperti : prasarana,

faktor sekeliling, sarana, manusia dan rambu atau peraturan. Keselamatan jalan

raya merupakan suatu bagian yang tak terpisahkan dari konsep transportasi

berkelanjutan yang menekankan pada prinsip transportasi yang aman, nyaman,

cepat, bersih (mengurangi polusi/pencemaran udara) dan dapat diakses oleh

semua orang dan kalangan, baik oleh para penyandang cacat, anak-anak, ibu

maupun para lanjut usia (Soejachmoen, 2004).

11
Tujuan dari keselamatan jalan raya adalah untuk menekan angka kecelakaan

lalu lintas di indonesia (Soejachmoen, 2004). Hal ini karena dengan rendahnya

angka kecelakaan lalu lintas maka kesejahteraan dan keselamatan bagi mereka di

jalan raya semakin terjamin (Soejachmoen, 2004). Sedangkan fungsi keselamatan

jalan raya adalah untuk menciptakan ketertiban lalu lintas agar setiap orang yang

melakukan kegiatan atau sktivitas di jalan raya dapat berjalan dengan aman

(Soejachmoen, 2004).

Untuk mewujudkan keselamatan jalan raya tersebut langkah pertama yang

harus dilakukan adalah penerapan hirarki pemakaian jalan (Soejachmoen, 2004).

Menurut Soejachmoen (2004) pembagian hirarki ini adalah sebagai berikut :

prioritas utama pengguna jalan harus diberikan kepada pejalan kaki. Artinya

semua pengguna trasportasi lain harus mendahuluhkan kelompok pengguna jalan

ini. Prioritas selanjutnya adalah para pengguna kendaraan tidak bermotor, karena

lebih ramah lingkungan. Prioritas ketiga adalah angkutan umum. Dan yang paling

akhir mendapatkan prioritas adalah kendaraan pribadi.

Menurut penelitian yang dilakukan oleh Andi Rachma (2004) menyatakan

bahwa peningkatan keselamatan jalan raya sangat tergantung kepada ketersediaan

fasilitas jalan. Jalan raya yang baik adalah jalan yang terencana dan dapat

memberikan tingkat keselamatan lalu lintas yang lebih baik, kesalahan penilaian

menjadi lebih kecil, tidak ada konsentrasi kendaraan pada suatu saat atau tidak

kesalahan persepsi di jalan dan dengan demikian terjadinya kecelakaan dapat

dihindari dengan penyediaan lebih banyak ruang dan waktu dalam perancangan

(Patti, 2007). Banyak kecelakaan yang sebenarnya tidak perlu terjadi karena

12
fasilitas yang ada tidak dapat memenuhi kebutuhan dari setiap kelompok pemakai

jalan, khususnya pejalan kaki (Patti, 2007).

Dalam Undang-Undang lalu lintas, yaitu UU No. 14 Tahun 1992 tentang

lalu lintas dan angkutan jalan pasal 22 ayat 1 menyatakan bahwa keselamatan,

kelancaran dan ketertiban lalu lintas dan angkutan jalan ditetapkan ketentuan

mengenai rekayasa dan manejemen lalu lintas. Definisi manajemen lalu lintas

menurut UU No. 14 tahun 1992 adalah suatu kegiatan yang meliputi perencanaan,

pengaturan, pengawasan, dan pengendalian lalu lintas yang bertujuan untuk

keselamatan, keamanan, ketertiban, dan kelancaran lalu lintas.

Menurut UU No. 14 tahun 1992 untuk mendukung pelaksanaan manajemen

lalu lintas ini maka diadakan rekayasa lalu lintas yang meliputi kegiatan

perencanaan, pengadaan, pemasangan, dan pemeliharaan fasilitas kelengkapan

jalan serta rambu - rambu lalu lintas, marka jalan,lampu lalu lintas dan fasilitas

keselamatan lalu lintas.

Menurut Mulyadi dan Nurhats (1997) dalam Sayyidah Rumaidha (2000)

kelancaran dan keselamatan lalu lintas juga dipengaruhi oleh 3 indikator, yaitu:

a. Pengemudi

Mengemudi merupakan pekerjaan yang kompleks. Pekerjaan ini

memerlukan pengetahuan dan kemampuan tertentu karena pada saat yang

sama pengemudi harus menghadapi kendaraan dengan peralatannya dan

menerima pengaruh dan rangsangan dari keadaan sekelilingnya. Kelancaran

dan keselamatan lalu lintas tergantung pada kesiapan daan keterampilan

13
pengemudi dalam menjalankan kendaraannya. Dalam menjalankan tugasnya

pengemudi dipengaruhi oleh 3 faktor, yaitu:

 Faktor eksternal

Kondisi lingkungan yang berbeda - beda mempengaruhi konsentrasi

dan perhatian pengemudi.

 Faktor Internal

Kemampuan mengenal merupakan hal yang pertama diperlukan dan

hal ini berkaitan dengan panca indera. Pengerahuan yang berkaitan

dengan lalu lintas dan kendaraan tidak kalah pentingnya bagi

pengemudi. Kesanggupan dan kecakapan ini dinyatakan dalam bentuk

Surat Izin mengemudi (SIM). Sikap, hal ini biasanya dipengaruhi oleh

kondisi fisik mental dan sikap sangat berpengaruh pada watak dan

tingkah laku mengemudi.

 Kondisi tubuh pengemudi

Kondisi tubuh pengemudi ini akan mempengaruhi ketajaman

penglihatan dan waktu reaksi penerimaan rangsang dari luar.

b. Pejalan kaki

Pejalan kaki merupakan pekerjaan yang sangat sederhana. Dimana elemen

ini tidak menggunakan alat apa pun dalam melakukan aktivitasnya.

Sehingga aktivitasnya hanya dipengaruhi oleh 2 faktor, yaitu:

 Tingkah laku pejalan kaki

Tingkah laku pejalan kaki dapat dilihat dari kecepatan berjalan dan

volume atau kerapatan pejalan kaki. Kecepatan berjalan orang dewasa

14
rata- rata 1,4 meter/detik. Untuk anak kecil kadang kala lebih cepat,

yaitu mencapai 1, 6 meter/detik. Sedangkan yang disebut volume

pejalan kaki adalah orang yang melewati suatu titik tertentu dalam

waktu tertentu. Volume pejalan kaki dapat juga berarti jumlah pejalan

kaki permeter persegi. Suatu jalan digolongkan bebas bila kerapatan 20

ft2/orang atau 1,8 m2/orang. Suatu jalan digolongkan biasa bila

kerapatannya 5 ft2/orang atau 0,46 m2/orang atau dalam 1 m2 terdapat

dua orang. Suatu jalan digolongkan padat bila kerapatannya 2 ft 2/orang

atau 0,18 m2/orang atau dalam 1m2 terdapat 5 orang.

 Tingkah laku penyeberangan

Orang yang menyeberang pada jarak dan kecepatan kendaraan yang

datang diperkirakancukup aman., biasanya berjarak ± 24 meter dengan

kecepatan 15 km/jam. Pejalan kaki atau penyeberang jalan selalu akan

mencari jalan yang mudah dan cepat. Dalam hai ini bila ada 2 macam

penyeberangan yang tersedia, yaitu : peneyeberangan datar sebidang

dan jembatan penyeberangan umumnnya pejalan kaki akan memilih

melewati penyeberangan datar sebidang.

c. Kendaraan

 Jenis dan ukuran kendaraan

15
Jumlah berat maksimum yang diangkut harus disesuaikan dengan jenis

dan ukuran kendaraan agar tidak terjdi hal – hal yang tidak diinginkan

pada saat beroperasi.

 Kondisi Kendaraan dan Pengaruhnya Pada Pengemudi

Meskipun kendaraan telah di desain untuk dipakai sesuai kebutuhan

angkutan barang dan orang, tetapi masih juga terdapat kekurangan yang

dapat berpengaru pada pengemudi antara lain: kendaraan yang tidak

ergonomis (tinggi tempat duduk dan ketinggian lutut dan panjang kaki)

dan keterbatasan pandangan kedepan ataupun pandangan kebelakang.

 Penerangan

Penerangan sangat dibutuhkan untuk perjalanan pada malam hari untuk

melihat jalan, sebagai tanda adanya kendaraan dan memberi isyarat untuk

belok atau berhenti. Lampu penerangan ini meliputi lampu besar/utama,

lampu kecil dan lampu belakang ataupun lampu rem.

 Rem

Perlambatan dapat dicapai dengan peralatan rem dan atau dengan mesin

[Link] empiris dapat dinyatakan bahwa perlambatan kendaraan

penumpang maksimum berkisar antara 22 – 23 km/jam/detik dan

kecpetan 80 km/jam, dan untuk kendaraan berang/truk berkisar 15

km/jam/detik dari kecepatan 30 km/jam. Umumnya perlambatan yang

terjadi kurang melampaui 9 – 10 km/jam/detik. Perlambatan sebesar

12km/jam/detik mesih belum menggangu, tetapi perlambatan sampai 15

km/jam/detik sudah memberikan rata tidak nyaman.

16
Sehingga untuk mendukung penerapan keselamatan di jalan raya maka

pemerintah melalui pihak kepolisian menciptakan suatu program yang dapat

menekan angka kecepatan lalu lintas sehingga keselamatan lalu lintas dapat

terwujud. Program – program keselamatan jalan raya yang telah ada diantaranya

adalah mewajibkan pemakaian hlem bagi pengedara motor dan safety belt bagi

pengendara mobil, mewajibkan pengendara motor untuk menyalakan lampu

sepeda motor di siang hari, melakukan himbaun lewat promosi keselamatan atau

kampanye keselamtan lalu lintas, dan lain – lain.

2.6 Perilaku Pengendara Kendaraan Bermotor

Menurut Marilena Zingale (2008) dalam penelitiannya menyebutkan bahwa

perilaku pengemudi kendaraan tebagi atas dua kelompok, yaitu :

a) Aggressive driving behavior dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu :

- Instrumental Aggression

Adalah perilaku mendahului kendaraan dari jarak yang sempit dan

beresiko untuk terjadinya kecelakaan. Pengemudi melakukan hal

tersebut dengan tujuan hanya untuk mendahului.

- Emotional Aggression

Adalah perilaku mendahului kendaraan dengan jarak yang cukup

tetapi dengan kecepatan yang tinggi dengan tujuan untuk mengejar

kendaraan didepan karena adanya pelecehan yang mengganggu emosi

pengendara (Zingle, 2008).

b) Defensive driving behavSior

17
adalah perilaku pengemudi yang positif, seperti tidak mengendarai

kendaraan (sepeda motor) disamping mobil karena akan sangat berbahaya

ketika mobil akan berpindah jarul ataupun berbelok, memberikan tanda

untuk berbelok, mempertahankan jarak aman dengan kendaraan di depan,

berhenti sebentar sebelum membelok, tidak melanggar lampu merah,

memberikan klakson untuk memperingatkan kendaraan di depan dan

perilaku positif lainnya (Zingle, 2008).

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Lokasi Dan Waktu Penelitian

3.1.1 Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian ini terletak di [Link] Warope, Kecamatan Wolio,

Kecamatan Sampolawa Kabupaten Buton Selatan.

18
Gambar 3.1 Peta Wilayah Penelitian.

3.1.2 Waktu Penelitian

Penelitian ini diperkirakan selama tiga bulan yaitu mulai dari penyusnan

proposan sampai skripsi. Meliputi tahap persiapan, pengumpulan data, analisis data

serta penyusunan hasil penelitian.

19
3.2 Metode Pengumpulan Data

Sistem pengumpulan data pada penelitian ini yaitu :

1. Data Primer

Data yang di lakukan dengan mengsurvei langsung pada lokasi untuk

dapat memperoleh data.

2. Data Sekunder

Adalah data diperoleh dari instansi terkait yaitu Porles Kecamatan

Sampolawa Kabupaten Buton Selatan.

3.3 Metode Penelitian

Metode penelitian yang dilakukan pada penelitian ini yaitu :

1. Menentukan Karakteristik Keselamatan

Analisis yang dilakukan dalam menentukan karakteristik keselamatan

yaitu dengan mengolah data keselamatan yang diperoleh dari instansi

terkait yakni Porles Kecamatan Sampolawa Kabupaten Buton Selatan

Sulawesi Tenggara.

2. Melakukan Pemeriksaan Secara Langsung

Analisis pemeriksaan secara langsung dalam keselamatan jalan yang

dilakukan dengan pembuatan daftar untuk membantu agar dapat

memudahkan proses pengumpulan dan pencatatan data untuk

mengetahui sesuatu masalah yang terjadi di jalan.

3. Melakukan sumulasi dalam berkendara dijalan raya

20
3.4 Metodologi

Dilihat dari sifatnya, penelitian yang penulis lakukan ini dapat digolongkan

sebagai penelitian studi kasus (case study) dengan menggunakan metode

deskriptif.

Metode deskriptif adalah metode yang menjelaskan, menerangkan, dan

memaparkan sesuatu masalah dengan menggunakan data-data yang diperoleh

langsung dilapangan maupun dari hasil penelitian di laboratorium. Penelitian ini

juga dapat digolongkan sebagai penelitian studi literatur karena dalam

pembahasannya digunakan literatur yang berisikan teori yang mendukung

penelitian.

21
3.5. Kerangka Penelitian

Mulai

Studi Studi
Rumusan Masalah Lapangan
Pustaka

Pengumpulan Data

Data Primer Data Sekunder


1. Menghitung arus lalu lintas 1. Data kecelakaan lalu lintas
2. Kapasitas ruas jalan 2. Dll.
3. Lebar jalan

Analisis Data

Kesimpulan dan Saran

Selesai

Gambar 3.5. Diagram Alir Penelitian

22
BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Inspeksi Keselamatan Jalan

Salah satu cara untuk mengurangi tingkat kecelakaan adalah dengan

melakukan Inspeksi Kecelakaan Jalan. Analisis di fokuskan pada identifikasi

fasilitas transportasi sebagai pendukung jalan yang dianggap berpotensi

mengakibatkan kecelakaan lalu lintas melalui konsep pemeriksaan jalan.

Berdasarkan temuan yang ada di lokasi penelitian, temuan difokuskan pada

jawaban yang berindikasikan Tidak (T) serta identifikasi bagian-bagian desain

jalan dan fasilitas pendukung lain yang dianggap kurang memenuhi standar atau

persyaratan teknis sehingga Hasil inspeksi dapat dilihat pada Tabel 4.1.

Tabel 4.1 Daftar Periksa Kondisi Umum

Kondisi Umum
Daftar Periksa
Ya (Y)/
Fokus Pemeriksaan Keterangan
Tidak (T)

Apakah kelas jalan


sudah memenuhi Y Jalan Arteri
standar?
Apakah lebar jalur jalan
eksisting memenuhi Y 6 meter
standar?
1.
Kelas/Fungsi Apakah lebar lajur jalan
Jalan eksisting memenuhi Y 3 meter
standar?
Kemiringan melintang
Apakah kemiringan jalan sudah memenuhi
melintang jalan eksisting Y standar
memenuhi standar?

23
Lanjutan 1
Papakah ruas jalan
ekisting memiliki T Tidak ada median
median?

Apakah median jalan


2. Median T Tidak ada median
sesuai desain standar?

Apakah median jalan


T Tidak ada median
eksisting ditinggikan?

Apakah lebar bahu jalan


T Tidak ada bahu jalan
eksisting sesuai standar?

Apakah posisi bahu jalan


lebih rendah dengan T Tidak ada bahu jalan
3. Bahu Jalan permukaan jalan?

Apakah posisi bahu jalan


lebih rendah dari T Tidak ada bahu jalan
permukaan jalan?

4. Tinggi Apakah terdapat kerb


T Tidak ada kerb
Kerb pada sisi jalan?

Apakah dimensi dan


5. Drainase desain drainase sesuai T Tidak ada drainase
standar?

Apakah desain kecepatan Desain kecepatan sudah


6. Kecepatan sesuai dengan desain Y sesuai dengan kelas dan
kelas dan fungsi jalan? fungsi jalan

Apakah terdapat Terdapat pohon dan


7. Lansekap tanaman/pohon pinggir Y tanaman pada sisi
jalan? kanan dan kiri jalan

24
Lanjutan 2

Tidak ada tempat parkir


Apakah terdapat fasilitas
yang memadai. Badan
8. Parkir parkir di trotoar/bahu T
jalan dijadikan sebagai
jalan/badan jalan?
fasilitas ruang parkir

Tidak terdapat tempat


pemberhentian
Apakah terdapat lokasi
kendaraan/bus/pangkala
9. Tempat pemberhentian
T n kendaraan yang
pemberhentian kendaraan/bus/pangkalan
menyebabkan naik
kendaraan?
turunnya penumpang
dengan sembarangan

Jumlah 16
Sumbe: Data Survei 2022

Dari hasil pemeriksaan berdasarkan Tabel 4.1 maka dapat dianalisis

dengan difokuskan pada Jawaban T dan identifikasi pada bagian desain jalan yang

tidak memenuhi standar yaitu sebagai berikut :

1. Median

Pada Jalan Pendakian Warope tidak memiliki median ruas jalan eksisting

karena pada lokasi penelitian jalan tersebut tidak memiliki lokasi yang

cukup.

2. Bahu Jalan

Pada Jalan Pendakian Warope tidak memiliki bahu jalan eksisting karena

pada lokasi penelitian jalan tersebut tidak memiliki lokasi yang cukup.

25
3. Tinggi Kerb

Pada lokasi penelitian tidak ada kerb jalan karena lokasi penelitian jalannya

mendaki dan tidak memungkinkan adanya kerb jalan.

4. Drainase

Pada lokasi penelitian tidak ada drainase jalan karena lokasi penelitian

jalannya mendaki dan tidak memungkinkan adanya drainase jalan.

5. Tempat Parkir

Pada lokasi penelitian tidak ada tempat parkir karena keadaan jalan yang

mendaki dan sepadan jalan yang tidak sesuai standar.

6. Pemberhentian Angkutan Umum

Tidak ada tempat pemberhentian angkutan umum pada lokasi penelitian

karena pada lokasi penelitian tidak terdapat jalur angkutan umum.

4.1.1 Perbandingan Indikasi Ya / Tidak

Berdasarkan hasil survei yang didapat di lapangan perbandingan antara

jawaban Ya dan Tidak dengan jumlah kondisi umum berjumlah 5 untuk jawaban

Ya sementara untuk jawaban Tidak berjumlah 11, dengan memperhitungkan

perbandingan persenya untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

26
Tabel 4.2 Perbandingan Antara Indikasi Ya dan Tidak

Perbandingan Ya/Tidak
Daftar
Ya Tidak
Periksa Keterangan
Jumlah Persen Jumlah Persen
Hasil perbandingan
menyatakan persentase
Kondisi
6 37,50 % 10 62,50 % Ya lebih rendah
Umum
dibandingkan
persentase Tidak
Sumber: Analisis Data, 2022

Dari hasil pemeriksaan berdasarkan tabel 4.2 maka dapat dianalisi dengan

difokuskan pada kondisi perbandingan Ya 37,50 % dan perbandingan Tidak 62,50

% yang menyatakan persentase Ya lebih rendah dibandingkan persentase Tidak,

sehingga identifikasi pada aspek kondisi umum jalan sudah memenuhi standar.

Hasil wawancara Alinyemen daftar periksa pada Jalan Pendakian Warope,

terdapat 5 dari masing-masing survei di lapangan didapat, sehingga bisa dilihat

pada tabel di bawah ini yaitu :

Tabel 4.3 Daftar Periksa Alinyemen Jalan

Alinyemen Jalan
Daftar
Ya (Y)/
Periksa 2 Fokus pemeriksaan Keterangan
Tidak (T)
Apakah ada rambu Tidak ada rambu
T
peringatan? peringatan pada jalan
1. Kecepatan
Rencana Tidak adanya rambu
Apakah ada rambu batas batas kecepatan pada
T
kecepatan? daerah rawan
kecelakaan

27
Lanjutan 1

Apakah marka dan


2.
perkerasan yang rusak Tidak ada marka jalan
Pengharapan T
sudah diganti atau pada lokasi penelitian
Pengemudi
diperbaiki?

Apakah tersedia lokasi


Tidak tersedia lokasi
overtaking yang T
overtaking
memadai?
3. Lajur
Mendahului
Tidak tersedia
Apakah lebar jalur untuk pengendara untuk
T
mendahului memadai? mendahului pada 1
jalur denga 2 lajur
Jumlah 5
Sumber: Data Survei 2022

Dari hasil pemeriksaan berdasarkan tabel 4.3, lebih banyak jawaban Tidak

dari pada jawaban Ya, maka dapat dianalisis dengan difokuskan pada jawaban T

dan identifikasi pada bagian desain jalan yang tidak memenuhi standar yaitu

sebagai berikut :

1. Kecepatan Rencana

Pada lokasi penelitian hanya ada rambu peringatan tapi tidak memiliki

rambu untuk menandakan kecepatan lalu lintas yang melintasi jalan

tersebut.

2. Pengharapan Pengemudi

Marka jalan pada lokasi penelitian belum ada sehingga atau di karenakan

kondisi jalan yang sudah rusak sehingga marka jalan sudah sudah terhapus.

28
3. Lebar Jalur dan Lajur

Jalan Pendakian Warope merupakan jalan arteri primer dengan memiliki 1

jalur dan 2 lajur. Berdasarkan peraturan pemerintah RI 34/2006, untuk tipe

jalan arteri primer dan lebar badan jalan minimum tidak kurang dari 6 meter

dengan kecepatan rencana paling rendah 20 km/jam. Jalan Pendakian

Warope mempunyai lebar badan jalan 6 meter dengan lebar perlajur 3

meter.

Berdasarkan survei yang dilakukan pada penelitian pada daerah studi bahwa

kondisi lapangan dengan membandingkan pada peraturan sudah memenuhi

standar.

4.1.2 Perbandingan Antara Indikasi Alinyemen Jalan

Berdasarkan hasil survei yang didapat di lapangan perbandingan antara

jawaban Ya dan Tidak dengan jumlah Aliyemen jalan berjumlah 1 untuk jawaban

Ya sementara untuk jawaban Tidak berjumlah 4, dengan memperhitungkan

perbandingan persenya untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel di bawah ini

yaitu :

Tabel 4.4 Perbandingan Antara Indikasi Ya dan Tidak

Perbandinga Ya/Tidak
Daftar
Periksa Ya Tidak
Keterangan
Jumlah Persen Jumlah Persen
Hasil perbandingan
Alinyemen
0 0% 5 100% menyatakan bahwa
Jalan
persentase Tidak lebih

29
tinggi dibandingkan Ya
Sumber : Analisa Data, 2022

Hasil pemeriksaan berdasarkan Tabel 4.4 maka dapat dianalisis bahwa

perbandingan antara indikasi Tidak lebih tinggi dibandingkan indikasi Ya sebesar

100%. Sehingga menyatakan Indikasi pada aspek alinyemen jalan belum

memenuhi standar berkeselamatan.

4.2 Fasilitas Jalan

Fasilitas jalan yaitu prasarana transpotasi darat yang meliputi segala bagian

jalan, termasuk bangunan pelengkap yang diperuntuhkan bagi lalu lintas yang

berada pada permukaan tanah yang meliputi tabel-tabel dibawah ini.

Dari hasil survei yang didapat dilapangan dengan melakukan wawancara

terhadap pemakai jalan pada kondisi fasilitas jalan Pendakian Warope dilihat pada

tabel dibawah ini :

Tabel 4.5 Daftar Pemeriksaan Kondisi Fasilitas Jalan

Kondisi Umum
Daftar
Ya (Y)/
Periksa Fokus Pemeriksaan Keterangan
Tidak (T)
Tidak terdapat rambu
Apakah tersedia rambu- untuk
T
rambu? menginformasikan
kepada pengendara
Tidak terdapat rambu
1. Rambu Apakah penempatan untuk
T
sesuai dengan standar? menginformasikan
kepada pengendara
Apakah tersedia rambu Tidak ada rambu
peringatan sebelum T peringatan pada
mendekati persimpangan daerah rawan

30
dan daerah rawan kecelakaan
kecelakaan?

Apakah rambu lalu lintas Bentuk rambu lalu


ini sesuai dengan bentuk T lintas sesuai dengan
yang ada pada standar? standar

apakah semua perkerasan Tidak ada marka


T
jalan memiliki marka? jalan

2. Marka
Apakah marka jalan
tampak jenis dan efektif Tidak ada marka
T
pada semua kondisi jalan
( pagi,siang,malam,dsy)

Apakah tersedia Lampu


penerangan jalan dan
Tidak ada lampu
apakah semua T
penerang jalan
penerangan beroperasi
baik ?

Apakah Lampu
3. Lampu penerangan jalan Tidak ada lampu
Penerang ditempatkan pada lokasi T penerang jalan
jalan yang tepat?

Apakah tipe tiang lampu


yang digunakan sesuai
Tidak ada tiang
untuk semua lokasi dan T
lampu penerang jalan
ditempatkan secara
tepat?

31
Apakah penerangan
Tidak ada lampu
untuk rambu masih T
penerang jalan
memadai?

Tidak ada lampu


Apakah terdapat Lampu pengatur lalu lintas
T
Pengatur lalu lintas? pada lokasi
penelitian

Tidak ada lampu


Apakah penempatannya pengatur lalu lintas
T
cukup aman? pada lokasi
penelitian
4. Alat
Pemberi
Isyarat Lalu Tidak ada lampu
Apakah lampu lalu lintas
Lintas pengatur lalu lintas
masih beroperasi dengan T
pada lokasi
baik?
penelitian

Tidak ada lampu


Apakah posisi lampu
pengatur lalu lintas
terlihat dengan T
pada lokasi
jelas/tidak terhalang
penelitian

Jumlah 14
Sumber: Data Survei, 2022

Dari hasil pemeriksaan Tabel 4.5 terhadap kondisi fasilitas jalan terdapat

jawaban Ya lebih banyak dibandingkan jawaban Tidak, maka dapat dianalisis

dengan difokuskan pada jawaban T dan indikasi pada bagian desain jalan yang

tidak memenuhi standar seperti dibawah ini :

1. Rambu

32
Pada lokasi pengamatan rambu lalu lintas belum ada. Namun tidak adanya

rambu peringatan pada lokasi rawan kecelakaan membuat pengendara menjadi

tidak hati-hati.

2. Marka

Secara keseluruhan marka dan delineasi pada lokasi pengamatan belum ada

sama sekali. Dikarenakan sudah memudar dan tidak kelihatan sama sekali.

3. Lampu Penerangan Jalan

Secara umum untuk lampu penerangan pada lokasi belum ada sama sekali

sehingga para pengendara masih menggunakan penerangan kendraan masing-

masing.

4. Alat Pemberi Isyarat Lalu Lintas

Pada lokasi penelitian tidak memiliki alat pemberi isyarat lalu lintas yang

melintasi jalan Pendakian Warope.

4.2.1 Perbandingan Fasilitas Jalan

Hasil survei dengan melakukan wawancara terhadap pihak pengguna jalan

yang didapat di lapangan perbandingan fasilitas jalan antara jawaban Ya dan

Tidak dapat dilihat pada tabel di bawah ini :

Tabel 4.6 Perbandingan Antara Indikasi Ya dan Tidak

33
Pembanding Ya/Tidak
Daftar Periksa Ya Tidak
Keterangan
Jumlah Persen Jumlah Persen
Hasil perbandingan
menyatakan
Fasilitas Jalan 0 0% 14 100 % persentase Ya lebih
tinggi dibandingkan
persentase Tidak
Sumber : Analisa Data, 2022

Dari hasil pemeriksaan berdasarkan Tabel 4.6, terdapat jawaban Ya

berjumlah 0 sementara jawaban Tidak berjumlah 14, maka dapat dianalisi dengan

difokuskan pada kondisi perbandingan tidak 100%, indentifikasi pada aspek

kondisi fasilitas jalan belum memenuhi standar namun masih harus dilalukan

perbaikan.

Sedangkan dari hasil wawancara yang didapat dilapangan untuk bangunan

pelengkap jalan dapat dilihat dari tabel di bawah ini :

Tabel 4.7 Daftar Periksa Bangunan Pelengkap Jalan

34
Kondisi Umum
Daftar
Ya (Y)/
Periksa Fokus Pemeriksaan Keterangan
Tidak (T)
1. Tiang Apakah penempatan Tiang listrik dan tiang
Listrik dan tiang listrik dan tiang telepon berada pada sisi
Y
Tiang telepon cukup aman jalan yang cukup aman
Telepon dari lalu lintas? dari lalu lintas

Apakah pagar
(Penghalang)
keselamatan dibuat
Tidak ada penghalang
pada lokasi-lokasi Y
tabrakan
penting misalnya pada
2. jembatan telah sesuai
Penghalang dengan standar?
Tabrakan

apakah sistem
penghalang tabrakan Tidak ada penghalang
T
telah sesuai dengan tabrakan
tujuannya?

Apakah posisi papan


Tidak ada papan
petunjuk dan papan
T petunjuk dan papan
iklan cukup aman dari
iklan
3. Papan jalur lintas?
Petunjuk dan
Papan Iklan
Apakah posisi benda-
Tidak ada papan
benda ini tidak
T petunjuk dan papan
menghalangi pandangan
iklan
pengemudi?
Jumlah 5
Sumber: Data Survei 2022

Dari hasil pemeriksaan Tabel di atas, daftar periksa bangunan pelengkap

jalan lebih banyak jawaban Tidak dari pada Ya, maka dapat dianalisis dengan

difokuskan pada jawaban T dan identifikasi pada bagian desain jalan yang tidak

memenuhi standar yaitu sebagai berikut:

35
1. Pagar Penghalang Tabrakan

Dari hasil pengamatan di lokasi ruas jalan Pendakian Warope ada di

temukannya pagar penghalang tabrakan.

2. Papan Penunjuk Arah dan Papan Iklan

Papan penunjuk arah dan papan iklan tidak ada pada lokasi penelitian.

3. Tiang Listrik dan Tiang Telepon

Pada lokasi penelitian penempatan tiang listrik dan tiang telepon tidak

membahayakan atau mengganggu pengguna jalan.

4.2.2 Perbandingan Bangunan Pelengkap Jalan

Untuk hasil survei yang didapat di lapangan perbandingan antara indikasi

jawaban Ya dan Tidak pada bangunan pelengkap jalan dapat dilihat pada tabel di

bawah ini.

Tabel 4.8 Perbandingan Antara Indikasi Ya dan Tidak

Pembanding Ya/Tidak
Daftar
Ya Tidak
Periksa Keterangan
Jumlah Persen Jumlah Persen
Hasil perbandingan
Bangunan menyatakan persentase
Pelengkap 2 40% 3 60% Tidak lebih tinggi
Jalan dibandingkan persentase
Ya
Sumber : Analisa Data, 2022

Dari hasil pemeriksaan tabel diatas, maka dapat dianalisis dengan

difokuskan pada kondisi perbandingan Ya 40% namun nyatanya lebih tinggi

perbandingan Tidak, jadi identifikasi pada aspek kondisi bangunan pelengkap

jalan sudah memenuhi standar dengan baik.

36
Kondisi umum untuk tempat pemberhentian terdapat banyak di bahu jalan

di gunakan sebagai tempat pemberhentiandan tempat berjualan. Sedangkan pada

persimpangan untuk ruas bebas sampling dengan sudut persimpangan tidak bebas

dari bangunan yang ada di sekitarnya. Fasilitas jalan seperti marka jalan sudah

mengalami pemudaran atau tidak kelihatan sama sekali sehingga marka jalan pada

lokaksi penelitian sudah tidak ada lagi. Kemudian untuk bangunan pelengkap

seperti penghalang tabrakan pada lokasi penelitian tidak ada.

4.3 Volume Lalu Lintas

Berdasarkan hasil pengolahan data, didapatkan volume lalu lintas untuk 1

jalur 2 arah pada jalan Pendakian Warope selama 1 hari yaitu pada kondisi hari

pasar (Hari Sabtu) yang dapat dilihat pada lampiran. Pencataan volume lalu lintas

dilakukan dengan interval waktu 15 menit kemudian dijumlahkan dalam interval

waktu 1 jam, data volume tersebut diplot kedalam grafik fluktuasi volume lalu

lintas harian yang dapat dilihat pada tabel dan grafik gambar 4.1 di bawah ini :

Tabel 4.9 Volume Lalu Lintas Per 1 Jam Jalan Pendakian Warope Dalam Satuan
Mobil Penumpang (SMP)
Volume Kendaraan (smp/jam)
Waktu
Naik Turun
07.00-08.00 40 23

37
08.00-09.00 49 27
09.00-10.00 36 25
10.00-11.00 30 20
11.00-12.00 33 17
12.00-13.00 35 18
15.00-16.00 29 22
16.00-17.00 52 21
Jumlah 264 150
Sumber : Analisis Data 2022

Fluktuasi volume lalu lintas dapat dilihat pada grafik 4.1 dibawah ini;

Fluktasi Volume Lalu Lintas

52
49

40
36 35
33
30 29
27
25
23 22
20 21
17 18

07.00- 08.00- 09.00- 10.00- 11.00- 12.00- 15.00- 16.00-


08.00 09.00 10.00 11.00 12.00 13.00 16.00 17.00

Naik Turun

Gambar 4.1 Grafik Fluktuasi Volume Lalu Lintas Untuk Jalan 2 Lajur 2 Arah

Pada Jalan Pendakian Warope

Dari grafik fluktuasi lalu lintas harian tersebut diketahui jam puncak

tertinggi terdapat pada jam 16.00 - 17.00 lebih banyak yang naik dari pada yang

turun dengan jumlah pengendara sebanyak 52 pengendara, sementara untuk jam

sepi pada jam 15.00 - 16.00 yang lebih sedikit di bandingkan dengan kendaraan

yang naik dengan jumlah kendaraanya adalah 29 pengendara.

38
Sementara untuk volume lalu lintas rata-rata pada Jalan Pendakian Warope

dapat dilihat pada tabel berikut di bawah ini :

Tabel 4.10 Rekapitulasi Volume Lalu Lintas Rata-rata Jalan Pendakian Warope

Volume Kendaraan Total


(smp/jam) Volume Rata-
Waktu Pengamatan Kendaraan
rata (smp/jam)
Naik Turun (smp/jam)
16.00-17.00 52 21 73
08.00-09.00 49 27 76
Puncak 68,25
07.00-08.00 40 23 63
09.00-10.00 36 25 61
12.00-13.00 35 18 53
11.00-12.00 33 17 50
Sepi 51,00
10.00-11.00 30 20 50
15.00-16.00 29 22 51
Rata-rata 59,6 59,6
Sumber : Analisis Data 2022

Berdasarkan hasil pengolahan data selama 1 hari pengambilan data

dilapangan didapatkan Volume lalu lintas rata-rata saat jam puncak pada Jalan

Pendakian Warope adalah sebesar 68,25 smp/jam, pada saat jam sepi volume lalu

lintas 51,00 smp/jam dan volume lalu lintas rata-rata pada Jalan Pendakian

Warope adalah 59,6 smp/jam.

4.4 Kecepatan Lalu Lintas

Data pengamatan kecepatan lalu lintas yang diperoleh berdasarkan

pengukuran waktu tempuh kendaraan dalam satuan detik, untuk melewati pias

39
pengamatan yang telah ditentukan yaitu berjarak 50 meter yang nantinya akan

memperoleh kecepatan setempat. Data kecepatan (waktu tempuh kendaraan) yang

diperoleh dari pengamatan masih dalam satuan detik, kemudian diubah kedalam

satuan km/jam. Hasil perhitungan keseluruhan kecepatan selama 1 hari

pengumpulan data ditampilkan pada tabel berikut;

Tabel 4.11 Kecepatan Setempat Dengan Interval Waktu 1 Jam

Kecepatan
(Km/Jam/1 Jalur/2
Waktu
Arah
Titik A Titik B
07.00 - 08.00 14,69 15,24
08.00 - 09.00 19,92 17,44
12.00 - 13.00 11,20 12,65
13.00 - 14.00 20,19 18,33
16.00 - 17.00 17,51 16,37
17.00 - 18.00 15,79 16,80
Sumber : Analisis Data 2022

Grafik kecepatan lalu lintas dapat dilihat pada grafik 4.2 dibawah ini:

40
Fluktasi Kecepatan Lalu Lintas

19.92 20.19
18.33
17.44 17.51 16.8
16.37 15.79
15.24
14.69
12.65
11.2

07.00 - 08.00 08.00 - 09.00 12.00 - 13.00 13.00 - 14.00 16.00 - 17.00 17.00 - 18.00

Titik A Titik B

Gambar 4.2 Grafik Fluktuasi Kecepatan Lalu Lintas Untuk Jalan 1 Jalur 2 Arah

Pada Jalan Pendakian Warope

Berdasarkan grafik diatas pengambilan data dilapangan didapatkan data

kecepatan lalu lintas bisa dilihat pada Titik A dan Titik B yaitu :

 Titik A (Puncak) :

Kecepatan Rata-rata = (19,92 + 20,19 + 17,51)/3 = 19,21 Km/Jam

 Titik B (Puncak)

Kecepatan Rata-rata = (17,44 + 18,33 + 16,80)/3 = 17,52 Km/Jam

Kecepatan lalu lintas rata-rata Jalan Pendakian Warope dapat dilihat pada

tabel berikut ini dengan menentukan antara Titik A dan titik B yaitu:

41
Tabel 4.12 Rekapitulasi Kecepatan Lalu Lintas Rata-Rata Jalan Pendakian

Warope

Kecepatan Kecepatan Rata-


Titik Waktu Pengamatan
(km/jam) rata (km/jam)
08.00 - 09.00 19,92
Puncak 13.00 - 14.00 20,19 19,21
16.00 - 17.00 17,51
Titik A
07.00 - 08.00 14,69
Sepi 12.00 - 13.00 11,20 13,89
17.00 - 18.00 15,79
Rata - rata 16,55 16,55
08.00 - 09.00 17,44
Puncak 13.00 - 14.00 18,33 17,52
17.00 - 18.00 16,80
Titik B
07.00 - 08.00 15,24
Sepi 12.00 - 13.00 12,65 14,75
16.00 - 17.00 16,37
Rata - rata 16,135 16,135
Sumber : Analisis Data 2022

Untuk mendapatkan data kecepatan kendaraan di atas dengan menghitung

kendaraan dari Titik A dan Titik B yang meliputi antara jam puncak/sepi dengan

mempunyai waktu kecepatan kendaraan yang tidak beda jauh antara kendaraan

yang satu dengan yang lainya tergantung kenyamanan penggunanya. Sehingga

kami memperhitungkan setiap berapa detik kecepatan kendaraan tersebut,

kemudian dari hasil yang didapat untuk setiap kendaraan dibagi dengan 10 sampel

untuk setiap kendaraan yang dihitung sehingga memperoleh hasil kecepatan

kendaraan km/jam.

Dalam pergerakan arus lalu lintas, tiap kendaraan berjalan pada kecepatan

yang berbeda. Dengan demikian pada arus lalu lintas tidak dikenal karakteristik

kecepatan tunggal akan tetapi lebih sebagai distribusi dari kecepatan kendaraan

42
tunggal. Dari distribusi tersebut, jumlah rata-rata nilai dapat digunakan untuk

mengetahui karakteristik dari arus lalu lintas. Dalam perhitungan kecepatan rata-

rata kendaraan dengan mengunakan aplikasi Stopwatch untuk memperhitungkan

kecepatan kendaraan dari Titik A ke Titik B per satuan waktu tertentu.

Berdasarkan hasil pengolahan data selama 1 hari pengambilan data

dilapangan didapatkan 2 titik data kecepatan lalu lintas yaitu titik A dan titik B,

untuk di Titik A rata-rata pada Jalan Pendakian Warope saat jam puncak dari jam

16.00 - 17.00 rekapitulasi kecepatan lalu lintas sebesar 17,51 km/jam dimana

angka ini diambil dari data sampel pengambilan kecepatan di titik A, Pada jam

08.00 - 09.00 rekapitulasi kecepatan lalu lintas sebesar 19,92 km/jam dimana

angka ini diambil dari data sampel pengambilan kecepatan di titik A, dan Pada

jam 13.00 - 14.00 rekapitulasi kecepatan lalu lintas sebesar 20,19 km/jam dimana

angka ini diambil dari data sampel pengambilan kecepatan di titik A. Pada saat

jam sepi dari jam 12.00 - 13.00 Rekapitulasi kecepatan lalu lintas sebesar 11,20

km/jam dimana angka ini diambil dari data sampel pengambilan kecepatan di titik

A, Pada jam 07.00 - 08.00 Rekapitulasi kecepatan lalu lintas sebesar 14,69

km/jam dimana angka ini diambil dari data sampel pengambilan kecepatan di titik

A, dan Pada jam 17.00 - 18.00 Rekapitulasi kecepatan lalu lintas sebesar 15,79

km/jam dimana angka ini diambil dari data sampel pengambilan kecepatan di titik

A.

Di titik A rata-rata pada Jalan Pendakian Warope saat jam puncak dari jam

08.00 - 09.00, 13.00 - 14.00, dan 16.00 - 17.00 kecepatan rata-rata sebesar 19,21

km/jam, pada saat jam sepi dari jam 08.00 - 09.00, 13.00 - 14.00, dan 17.00 -

43
18.00 kecepatan rata-rata sebesar 13,89 km/jam dan kecepatan rata-rata lalu lintas

pada 2 titik di jalan tersebut adalah 16,55 km/jam. Kecepatan rata-rata jam puncak

lebih rendah dari pada kecepatan rata-rata jam sepi. Hal ini dipengaruhi oleh

besarnya volume lalu lintas pada jam puncak sehingga kecepatan lalu lintas

menurun.

Untuk Titik B rata-rata pada Jalan Pendakian Warope saat jam puncak dari

jam 08.00 - 09.00, 13.00 - 14.00, dan 17.00 - 18.00 kecepatan rata-rata sebesar

17,52 km/jam, pada saat jam sepi dari jam 07.00 - 08.00, 12.00 - 13.00, dan 16.00

- 17.00 kecepatan rata-rata sebesar 14,75 km/jam dan kecepatan rata-rata lalu

lintas pada 2 titik di jalan tersebut adalah 16,135 km/jam. Kecepatan rata-rata jam

puncak lebih rendah dari pada kecepatan rata-rata jam sepi. Hal ini dipengaruhi

oleh besarnya volume lalu lintas pada jam puncak sehingga kecepatan lalu lintas

menurun.

Dari hasil analisis terdapat kecepatan rata-rata lalu lintas yang di dapat oleh

penulis yang di hitung berdasarkan rekapitulasi kecepatan rata-rata dengan jumlah

hasil rata-ratanya adalah 16,135 km/jam, sedangkan kecepatan ideal yang saya

dapatkan dengan terjun langsung dengan kendaraan saya sendari rata-ratanya

adalah 15,29 km/jam, namun tergantung lagi dengan kenyamanan pengguna

kendaraan yang melakukan kecepatan tersebut.

44
BAB V

PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil survei dan pembahasan pada penelitian

yang dilaksanakan

di Jalan Pendakian Warope Kecamatan Sampolawa Kabupaten

Buton Selatan, maka dapat disimpulkan sebagai berikut :

1. Indikasi keselamatan lalu lintas yang berada di ruas jalan Pendakian

Warope di tinjau dari kelengkapan jalan dan kondisi jalan:

a. Tidak adanya median jalan sehingga memungkinkan

terjadinya

kecelakaan dari arah berlawanan.

b. Tidak ada bahu jalan pada lokasi penelitian karena lokasi

penelitian jalan tersebut tidak memiliki jalan yang cukup.

c. Tidak ada lajur khusus sepeda atau kendaraan tak

bermotor lainnya,

sehingga menggunakan lajur yang sama dengan

kendaraan yang lain dan

tingkat keselamatan menjadi rendah.

d. Rambu dan marka di sepanjang Jalan Pendakian Warope

tidak ada sehingga pengguna kendaraan harus berhati-

45
hati. Untuk marka bagian tengah dan pada bagian tepi

jalan tidak ada.

2. Dari hasil pengambilan dan pengolahan data selama 1 hari Volume lalu

lintas pada saat jam puncak sebesar 76 smp/jam dan untuk jam sepinya

sebesar 50 smp/jam. Sedangkan Volume lalu lintas rata-rata pada jam puncak

sebesar 68,25 smp/jam namun untuk jam sepinya sebesar 51,00 smp/jam.

Sedangkan kecepatan lalu lintas pada Titik A saat jam puncak sebesar 20,19

km/jam dan untuk jam sepinya sebesar 11,20 km/jam. Sedangkan untuk Titik

B jam puncaknya sebesar 18,33 km/jam dan jam sepinya sebesar 12,65

km/jam, sedangkan Kecepatan lalu lintas rata-rata pada Titik A saat jam

puncak sebesar 19,21 km/jam dan untuk jam sepinya sebesar 13,89 smp/jam

dan kecepatan lalu lintas rata-rata pada Titik B saat jam puncak sebesar 17,52

km/jam dan untuk jam sepinya sebesar 14,75 smp/jam.

5.2 Saran

Adapun saran-saran yang dapat diberikan dalam penelitian ini, antara lain:

1. Kepada pihak pemerintah diharapkan untuk melakukan

perbaikan dan

pemeliharaan secara rutin terhadap bangunan struktur jalan,

rambu-rambu

lalu-lintas dan sarana pelengkap jalan lainnya.

46
2. Kepada para pengguna jalan agar meningkatkan kesadaran,

berhati-hati dan

menaati rambu-rambu lalu-lintas yang telah ada

3. Untuk menghasilkan data yang lebih baik mengenai hubungan

kecepatan dengan kepadatan dan hubungan volume dengan kepadatan

pada studi kasus ini perlu dilakukan penelitian lebih lanjut.

47

Anda mungkin juga menyukai