Oleh:: Putri Salsabilah
Oleh:: Putri Salsabilah
PROPOSAL
Oleh:
PUTRI SALSABILAH
NPM: 222110002
PROPOSAL
Menyetujui:
Pembimbing, Co-Pembimbing,
ii
KATA PENGANTAR
Puji syukur atas kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat kesehatan dan
kesejahteraan-Nya kepada kita semua, sehingga penulis dapat menyelesaikan Proposal
Skripsi ini. Penulis menyadari bahwa laporan ini tidak dapat tersusun dengan baik tanpa
adanya berbagai pihak yang telah membantu kelancaran kegiatan ini, oleh karena itu pada
kesempatan kali ini penulis ingin mengucapkan banyak terima kasih kepada :
1. Tuhan Yang Maha Esa karena telah memberikan berkat dan rahmat- Nya penulis
dapat menyelesaikan pembuatan laporan ini dengan baik.
2. Bapak Prof. Dr. Bambang Pamungkas, Ak., MBA, CA, CPA, CPA (Aust), ASEAN
CPA, CIMBA, CSFA, CFrA, CGAE. Selaku Rektor Institut Bisnis dan Informatika
Kesatuan Bogor.
3. Bapak Bambang Hengky Rainanto, [Link]., M.M., Ph.D., CSM., CHRP. selaku
Dekan Fakultas Informatika dan Pariwisata Kesatuan Bogor.
4. Ibu Ir. Cecilia Valentina Srihadi, [Link] selaku Kepala Program Studi Pariwisata.
5. Bapak Charles Parnauli Saragi [Link]., [Link] selaku Dosen Pembimbing
yang telah memberikan arahan dan bimbingannya.
6. Tim pengelola Canyoning di Curug Ciampea Bogor yang memberikan arahan
untuk penulis dengan informasi penting mengenai pengelolaan destinasi tersebut.
7. Keluarga penulis tercinta yang senantiasa mendukung penulis baik secara moril
maupun materil.
8. Sahabat dan teman – teman penulis yang selalu memberikan dukungan terbaiknya.
9. Seluruh Dosen Pengajar Program Studi Pariwisata IBIK yang telah memberikan
ilmu yang bermanfaat bagi penulis.
10. Semua pihak yang telah membantu memberi dukungan baik secara langsung
maupun tidak langsung dalam penulisan laporan ini.
11. Last but not Least, yaitu Penulis pribadi yang telah menyelesaikan semua
pekerjaan dan tanggungjawabnya dengan baik dan lancar.
Penulis menyadari bahwa laporan yang dibuat ini masih jauh dari kata sempurna
namun penulis berharap bahwa hasil dari penulisan ini bisa bermanfaat bagi pembaca dan
penulis dalam meningkatkan kualitas pembuatan proposal, semoga juga dapat bermanfaat
bagi Wisata Canyoning Curug Ciampe Bogor sebagai saran dan informasi. Dengan rendah
hati dan tangan terbuka penyusun atau penulis proposal berharap mendapatkan masukan,
kritik dan saran dari berbagai pihak, agar penyusunan ini lebih baik lagi.
iii
Bogor, ……….. 2025
Putri Salsabilah
222110002
iv
DAFTAR ISI
BAB I................................................................................................................................ix
PENDAHULUAN ............................................................................................................ix
BAB II ............................................................................................................................xxi
v
BAB III ......................................................................................................................xxxvii
METODOLOGI PENELITIAN………………………………………………………… 33
vi
DAFTAR TABEL
vii
DAFTAR GAMBAR
viii
BAB I
PENDAHULUAN
ix
memicu dampak negatif, terutama jika pengembangan destinasi tidak diimbangi dengan
kesiapan infrastruktur dan kapabilitas sumber daya manusia setempat. Oleh karena itu,
kolaborasi erat antar-pemangku kepentingan untuk menjaga harmonisasi antara
pertumbuhan wisatawan, kepatuhan regulasi, dan pelestarian lingkungan serta budaya
menjadi prasyarat krusial bagi terwujudnya pariwisata berkelanjutan.
Untuk lebih ilanjut ibatasan ipariwisata imenurut iketetapan iMPRS iNo iIII i
itahun i1960, sebagai iberikut i: i"Kepariwisataan idalam idunia imodern ipada ihakekatnya
iadalah suatu icara i imemenuhi ikebutuhan imanusia idalam imemberi ihiburan irohani
idan jasmani i isetelah ibeberapa iwaktu ibekerja iserta imempunyai imodal iuntuk
imelihat‐lihat daerah ilain i(pariwisata idalam inegeri) iatau inegarailain i( pariwisata iluar
negeri)". i(Lampung, 2021)
Menurut Statistik (2025) jumlah kunjungan wisman ke Indonesia pada Mei 2025
mencapai 1,31 juta kunjungan. Jumlah tersebut mengalami peningkatan sebesar 12,15
persen bila dibandingkan dengan bulan sebelumnya dan naik 14,01 persen dibandingkan
bulan Mei 2024. Jumlah kunjungan wisman ke Indonesia sepanjang periode Januari–Mei
2025 sebesar 5,63 juta kunjungan. Angka ini mengalami peningkatan sebesar 7,44 persen
jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya. Wisman yang berkunjung
ke Indonesia pada Mei 2025 didominasi oleh wisman yang berasal dari Malaysia (18,26
persen), Australia (11,31 persen), dan Singapura (9,68 persen). Meningkatnya jumlah
kunjungan wisman pada Mei 2025 bila dibandingkan bulan yang sama tahun lalu terlihat
di hampir semua kelompok kebangsaan. Kunjungan wisman kelompok kebangsaan Timur
Tengah mengalami peningkatan tertinggi sebesar 35,39 persen, diikuti wisman asal Asia
selain ASEAN sebesar 20,75 persen dan wisman asal ASEAN yang mengunjungi Indonesia
x
naik sebesar 17,79 persen. Di sisi lain, kelompok kebangsaan Amerika mengalami
penurunan sebesar 1,30 persen.
xi
Gambar 1.2 Jumlah Perjalanan Wisatawan Nusantara Mei 2021–Mei 2025
Berdasarkan provinsi asal, jumlah perjalanan wisnus tertinggi pada Mei 2025
berasal dari provinsi Jawa Barat (17,94 juta perjalanan), dengan kontribusi sebesar 18,37
persen dari total perjalanan di Indonesia. Tentunya dominasi Jawa Barat dalam pergerakan
pariwisata domestik (Wisnus) tak lepas dari keunggulan geografisnya sebagai destinasi
wisata alam terkemuka. Provinsi ini memiliki keunikan yang tak tertandingi: jarak tempuh
yang relatif dekat dengan wilayah padat penduduk seperti Jakarta dan Banten, serta
infrastruktur jalan tol yang mendukung aksesibilitas cepat. Faktor ini membuat Jawa Barat
menjadi pilihan utama bagi wisatawan yang mencari pengalaman alam dan healing singkat.
Daya tarik utama pariwisata Jawa Barat saat ini bergeser dari wisata konvensional
ke segmen minat khusus dan wisata petualangan alam (adventure tourism). Hal ini
didorong oleh kekayaan bentang alamnya yang mencakup pegunungan, perkebunan teh,
dan ratusan curug (air terjun) serta sungai yang ideal untuk aktivitas seperti canyoneering
(seperti di Curug Ciampea yang menjadi fokus studi Anda), hiking, trekking, dan glamping.
Oleh karena itu, lonjakan pergerakan wisatawan dari Jawa Barat tidak hanya
mengindikasikan volume, tetapi juga mencerminkan preferensi pasar yang kuat terhadap
destinasi alam yang menawarkan perpaduan antara ketenangan, tantangan, dan konten
visual yang tinggi untuk media sosial.
Daya tarik wisata atau tourist attraction mencakup segala sesuatu yang bersifat
alami maupun buatan yang dapat menarik perhatian pengunjung. Konsep attraction
mencakup unsur keunikan, autentisitas, aksesibilitas, fasilitas, dan pengalaman yang
ditawarkan. Huang (2024) menyebutkan bahwa tingkat 'atraktivitas' sebuah lokasi dapat
diukur berdasarkan kesesuaian antara ekspektasi wisatawan dan atribut destinasi, termasuk
nilai estetika, nilai budaya, dan kemudahan layanan. Dalam konteks canyoneering, atribut
seperti keaslian sungai, keindahan ngarai, dan keamanan jalur menjadi indikator utama
daya tarik (Huang & Chen, 2024).
Pariwisata ialam idikenal isebagai isalah isatu ibentuk iaktivitas iwisata iyang
imemanfaatkan ipesona ialam isebagai idaya itarik iutama. iSeiring imeningkatnya itren
iwisata ipengalaman i(experiential itourism), iwisatawan ikini itidak ihanya imencari
ihiburan, itetapi ijuga ipengalaman iyang iotentik idan imendalam idi ialam iterbuka.
iKawasan ipegunungan, ihutan, isungai, idan ingarai isemakin idiminati isebagai idestinasi
iwisata ipetualangan i(seperti icanyoneering) ikarena imenyajikan isuasana iberbeda idari
iwisata ikonvensional iperkotaan. i(Haukeland, 2023)
xii
Perkembangan pariwisata ini sampai pada pariwisata berbasis alam dan
petualangan yang semakin diminati oleh wisatawan yang mencari pengalaman unik,
tantangan, dan keterhubungan dengan alam. Kawasan Curug Ciampea di Bogor memiliki
potensi alam berupa air terjun, sungai, lembah, vegetasi alam yang cukup asri—lokasi ini
bisa dikembangkan sebagai destinasi canyoneering, yaitu aktivitas menapaki ngarai,
melewati aliran sungai dengan aliran deras, menjelajahi tebing, dan berenang/rappelling
(A. Y. Nugroho et al., 2024).
Menurut Fadli & Halodoc (2023) Hiking di definisikan secara umum sebagai
aktivitas berjalan kaki jarak jauh yang dilakukan di jalur yang sudah ada (trail), melalui
lingkungan alam seperti daerah perbukitan, pegunungan, atau pedesaan. Alodokter (2024)
kegiatan ini berbeda dengan berjalan kaki biasa, hiking secara inheren melibatkan interaksi
dengan alam dan seringkali menyajikan pemandangan indah serta medan yang sedikit
menantang, memberikan sensasi petualangan dan pengalaman baru. Tujuan utama hiking
berorientasi pada rekreasi, kegembiraan, dan pemulihan mental (refreshing), bukan sekadar
mencapai tujuan tertentu, meskipun terdapat manfaat fisik yang signifikan seperti
pembakaran kalori, peningkatan kekuatan tulang, dan pengurangan risiko penyakit
kardiovaskular. Dalam konteks olahraga rekreasi, hiking adalah bentuk aktivitas fisik
outdoor yang dilakukan di waktu luang untuk mendapatkan kebugaran, penyegaran sikap,
dan pemulihan fisik maupun mental dari rutinitas sehari-hari (Sudiadharma et al., 2024).
Di sisi lain, peran media sosial dalam memengaruhi persepsi, awareness, dan
keputusan wisatawan tidak bisa diabaikan. Hidayati (2024) Media sosial menjadi kanal
utama untuk promosi destinasi, inspirasi wisata, serta penyebaran konten visual yang
menarik. Informasi digital dapat merubah cara wisatawan merencanakan perjalanan,
xiii
memilih destinasi, dan bahkan mengubah ekspektasi mereka terhadap pengalaman di
lapangan (Morais et al., 2025)
Bukti sosial telah menjadi faktor kunci dalam membentuk citra wisatawan
modern, berdasarkan kelebihan informasi yang kita hadapi. Platform media sosial, seperti
ulasan, rekomendasi, dan konten, memainkan peran kunci dalam meyakinkan wisatawan
tentang destinasi pilihan mereka dan membangun kepercayaan mereka. Pendapat yang kuat
dari seorang teman atau blogger populer, bersama dengan foto-foto yang mengesankan dan
rekomendasi yang relevan, dapat meningkatkan kepercayaan diri dan antusiasme, yang
pada akhirnya mengarah pada pilihan destinasi. Manusia pada dasarnya sosial, dan memilih
destinasi sering kali didasarkan pada preferensi, pengalaman, dan pendapat teman dan
kenalan. Dalam masyarakat media sosial memainkan peran penting, mendorong berbagi
informasi perjalanan dan percakapan dengan berbagai individu. Baik itu menandai teman
di foto liburan atau terus-menerus berbagi rencana perjalanan di media sosial, wisatawan
mengandalkan pengalaman yang kaya dan informasi berharga di media sosial saat memilih
destinasi.
xiv
Dalam Krisnayani et al, (2021) beberapa studi pariwisata telah meneliti pengaruh
media sosial dan daya tarik wisata terhadap keputusan berkunjung wisatawan, misalnya di
Pantai Melasti Bali ditemukan bahwa media sosial dan daya tarik wisata berpengaruh
terhadap keputusan berkunjung wisatawan domestik. Studi di R-Zoo & Park juga
menunjukkan bahwa media sosial marketing dan fasilitas wisata secara bersama
berpengaruh terhadap minat berkunjung (Agustine & Sulaiman, 2024)
Curug Ciampea, yang berlokasi di Bogor, Jawa Barat, melampaui citra destinasi
air terjun konvensional. Destinasi ini secara strategis memosisikan dirinya dalam sektor
wisata minat khusus (special interest tourism) dengan menawarkan aktivitas canyoneering
yang menarik. Kegiatan ini melibatkan serangkaian eksplorasi alam, mulai dari trekking
melalui hutan hingga tantangan teknis seperti rappelling dan jumping di sepanjang aliran
sungai dan air terjun. Berbeda dengan pariwisata massal, wisata minat khusus seperti
canyoneering menarik segmen wisatawan yang mencari pengalaman intensif, personal, dan
high-engagement, di mana aspek petualangan dan risiko terkelola menjadi daya tarik utama
dalam Hanafiah et al.,(2024). Lokasi yang relatif dekat dengan ibu kota, didukung oleh
bentang alam karst yang menantang, menjadikan Curug Ciampea sebagai studi kasus ideal
untuk memahami bagaimana daya tarik wisata alam ekstrem ini diterjemahkan menjadi
keputusan berkunjung di tengah dominasi pasar pariwisata domestik Jawa Barat.
Daya tarik Curug Ciampea sangat didukung oleh ketersediaan fasilitas dan
dukungan keamanan yang memadai, yang penting untuk meyakinkan calon wisatawan
terhadap pengalaman canyoneering yang aman. Fasilitas ini meliputi penyediaan peralatan
keselamatan bersertifikasi (helm, harness, atau life jacket) dan adanya pemandu lokal
profesional yang menguasai medan. Aspek keamanan dan profesionalisme ini, meskipun
bersifat teknis, memiliki dampak signifikan pada Eksposur Media Sosial destinasi.
Wisatawan seringkali menyoroti kualitas perlengkapan dan keahlian pemandu dalam
konten mereka, yang berfungsi sebagai e-WOM (electronic Word of Mouth) yang kredibel
Popescu & Sima (2022). Oleh karena itu, foto-foto yang menggambarkan peralatan
canyoneering (self-report data tentang persepsi keamanan) dan momen rappelling
(indikator actual engagement di platform) menjadi elemen penting yang secara langsung
memengaruhi intensitas eksposur media sosial @canyoningbogor_ dan secara tidak
langsung memenaruhi keputusan pemesanan.
xv
Sumber: instagram canyoning bogor
Curug Ciampea merupakan destinasi wisata alam yang terletak di lereng Gunung
Salak, dengan ketinggian Curug mencapai hampir 23 meter. Secara administratif berada di
Jalan Tapos 1, Kecamatan Tenjolaya, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Aksesibilitas menuju
lokasi tersebut tergolong sedang, dengan jarak tempuh sekitar 25 kilometer dari Terminal
Baranangsiang Bogor yang membutuhkan waktu estimasi satu jam perjalanan. Perjalanan
menuju curugnya sendiri didominasi oleh jalur trail yang melewati pepohonan dan hutan
pinus. Sepanjang perjalanan, pengunjung disajikan dengan panorama alam yang memukau,
meliputi lanskap perbukitan, pemandangan pegunungan yang tampak jelas, hamparan
persawahan, topografi jurang, serta area permukiman penduduk. Kawasan ini juga
dilengkapi dengan fasilitas pendukung seperti camping ground yang terintegrasi di area
hutan pinus. Aspek fasilitas telah diperhatikan secara memadai, ditandai dengan
tersedianya unit toilet yang tersebar di beberapa titik peristirahatan, serta keberadaan kantin
dan mushola yang representatif untuk menunjang kebutuhan wisatawan. Keterlibatan
masyarakat lokal dalam pengelolaan destinasi ini sangat signifikan, terutama dalam
penyediaan fasilitas pendukung yang secara langsung berkontribusi pada peningkatan
kepuasan pengunjung dan menciptakan sumber perekonomian baru di wilayah setempat.
xvi
Aktivitas wisata, khususnya canyoning, telah memberikan dampak sosio-ekonomi positif
bagi komunitas sekitar.
xvii
mengeksplorasi secara empiris sejauh manakah daya tarik wisata alam dan eksposur media
sosial memengaruhi keputusan wisatawan untuk melakukan kegiatan canyoneering di
kawasan Curug Ciampea, serta melihat interaksi antara keduanya. Hasil penelitian
diharapkan memberikan kontribusi teoritis dan rekomendasi praktis untuk pengembangan
dan pengelolaan destinasi wisata petualangan alam di Bogor yang berkelanjutan.
xviii
2. Bagaimana pengaruh eksposur media sosial terhadap keputusan wisatawan
melakukan canyoneering di Curug Ciampea, Bogor
3. Variabel manakah antara daya tarik alam atau eksposur media sosial yang memiliki
pengaruh dominan terhadap keputusan berkunjung
xix
b) Bagi operator wisata petualangan (guide, penyedia peralatan): wawasan mengenai
aspek‐aspek alam dan konten yang penting untuk menarik dan mempertahankan
wisatawan.
c) Bagi praktisi pemasaran digital wisata: data empiris untuk merancang konten
media sosial yang efektif berdasarkan karakteristik destinasi alam dan perilaku
wisatawan.
d) Bagi peneliti dan mahasiswa berikutnya: dasar pembandingan atau pengembangan
studi lanjutan di destinasi alam lain.
xx
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA,
KERANGKA PEMIKIRAN, DAN HIPOTESIS
Daya Tarik Wisata (Tourist Attraction) adalah segala sesuatu yang memiliki
keunikan, keindahan, dan nilai yang dapat memotivasi wisatawan untuk datang
mengunjungi suatu tempat. Hal Ini mencakup unsur 3A yaitu: Attractions (daya
tarik inti), Amenities (fasilitas pendukung), dan Accessibility (kemudahan
mencapai lokasi) (Putra, 2024).
xxi
B. Komponen/Variabel Turunan (Indikator)
Untuk penelitian kuantitatif, Daya Tarik Wisata ( X1) diukur melalui lima dimensi
utama (Sung, 2021) :
1. Keindahan Alam/Estetika (Visual): Unsur visual seperti kejernihan air,
bentuk tebing, pemandangan sekitar, dan suasana alami yang memukau.
2. Fasilitas/Amenitas Pendukung: Ketersediaan dan kualitas sarana
pendukung (basecamp area, homestay, toilet bersih, lahan parkir memadai,
ruang ganti, shelter, dll.) yang meningkatkan kenyamanan.
3. Aksesibilitas: Kemudahan mencapai lokasi, kondisi jalan (sudah hampir
semuanya diaspal), petunjuk arah (signage) yang jelas, dan jarak tempuh.
4. Keamanan & Keselamatan: Persepsi terhadap risiko dan penanganan
keselamatan, termasuk adanya pemandu profesional, peralatan standar,
dan Standard Operating Procedure (SOP) yang ketat untuk aktivitas
canyoneering.
5. Aktivitas & Pengalaman Khusus: Kualitas layanan pemandu, tingkat
tantangan canyoneering, keunikan rute, dan nilai pengalaman otentik
tinggi yang ditawarkan.
C. Landasan Teoritis yang Mendukung Pengaruh Daya Tarik
Daya tarik wisata mempengaruhi adanya keputusan berkunjung
berdasarkan sebuah Teori Nilai (Perceived Value Theory). Wisatawan akan
memilih destinasi yang mana mereka ditawarkan nilai tertinggi (manfaat yang
dirasakan ≥ biaya/usaha) yang mereka cari. Daya tarik yang kuat dan aman
(khususnya untuk wisata petualangan) akan menciptakan Perceived Value dan
Perceived Quality yang tinggi juga, yang secara langsung dimana hal ini
mendorong keputusan wisatawan untuk mengunjungi dan melakukan aktivitas
di lokasi tersebut (Choi, 2024)
D. Bukti Empiris
a. Jurnal Nasional (2024): Penelitian di sebuah objek wisata alam di Jawa
Barat menunjukkan bahwa Fasilitas dan Aksesibilitas adalah prediktor
yang paling signifikan terhadap sebuah Keputusan Berkunjung,
mengalahkan prediktor Keindahan Alam, karena wisatawan mencari
kenyamanan total di samping keunikan alam tersebut (Putra, 2024).
b. Jurnal Internasional (2021): Studi mengenai wisata petualangan di Korea
menemukan bahwa sebuah dimensi keamanan dan keselamatan memiliki
dampak mediasi yang cukup kuat, serta rasa aman yang tinggi
xxii
meningkatkan intensi untuk mencoba pengalaman yang lebih menantang
(seperti canyoneering), yang kemudian berujung pada sebuah keputusan
berkunjung. (Sung, 2021).
Untuk mengukur daya tarik wisata alam, setiap indikator diukur dengan 3–4
butir pertanyaan kuesioner pada skala Likert 1 (Sangat Tidak Setuju) – 5 (Sangat
Setuju). Kemudian skor dirata-rata untuk membentuk skor X1, uji reliabilitas
(Cronbach’s alpha) dan validitas konvergen (AVE) dilakukan pada tahap analisis
(L. Chen, 2025).
xxiii
2. Kualitas Konten (Visual Appeal, Informatif): Persepsi wisatawan terhadap
daya tarik visual (foto/video berkualitas tinggi) dan seberapa informatif
konten tersebut (misalnya, informasi harga, durasi, dan SOP keselamatan
canyoning).
xxiv
2.1.3 Keputusan Wisatawan (Y1)
xxv
4. Keputusan Pembelian/Kunjungan: Keputusan final untuk memesan paket dan
berangkat.
5. Perilaku Pasca-Kunjungan: Memberikan review dan rekomendasi (berkaitan
dengan indikator Y).
C. Pengukuran Kuantitatif yang Cocok
Pengukuran menggunakan Skala Likert 5 point ( misalnya, 1 = sangat tidak
sertuju sampai 5 = sangat setuju ).
• Item Contoh untuk Y:
a. "Saya memiliki niat kuat mengunjungi Curug Ciampea untuk canyoning."
(Niat Berkunjung)
b. "Saya akan merekomendasikan aktivitas canyoning di Curug Ciampea
kepada orang lain." (Rekomendasi)
c. "Saya akan mempertimbangkan Curug Ciampea sebagai destinasi
kunjungan ulang di masa depan." (Intensi Kunjungan Ulang)
Cara pengukurannya yaitu kombinasi pertanyaan dengan Skala Likert (untuk niat
& preferensi) dan pertanyaan kategorial (telah memesan: ya/tidak) untuk
menangkap keputusan nyata (Sari et al., 2023).
D. Bukti Empiris Terkait Pengaruh X1 dan X2 terhadap Y.
• Studi Gabungan : Penelitian tentang objek wisata alam yang menantang
menemukan bahwa Daya Tarik Wisata (khususnya Keamanan) dan Eksposur
Media Sosial (terutama kualitas visual konten) secara simultan (bersama-
sama) memiliki pengaruh yang sangat kuat dan signifikan terhadap Keputusan
Berkunjung wisatawan, dengan X2 seringkali berfungsi sebagai pendorong
awal dan X1 sebagai penentu keputusan akhir (Kusumawardani, 2022)
• Jurnal Internasional : Ditemukan bahwa peningkatan persepsi terhadap
Aksesibilitas dan Fasilitas (X1) yang dilihat dari unggahan (postingan) media
sosial (X2) dapat meningkatkan Niat Kunjungan Ulang (Y) hingga 30%,
menunjukkan hubungan sinergis antara variabel independen (Samosir, 2021).
xxvi
1. Putra, M. A. Atribut Diketahui bahwa Mendukung
(2024). Destinasi, Daya Tarik penggunaan
Analisis Pengaruh Minat (Fasilitas, indikator Fasilitas
Atribut Destinasi Kunjungan Aksesibilitas, dan dan Aksesibilitas
terhadap Minat Ulang Keunikan) secara (X1) untuk
Kunjungan Ulang signifikan penelitian ini.
Wisatawan di memengaruhi Memperkuat
Jawa Minat Kunjungan hipotesis bahwa
Barat (Nasional) Ulang. Koefisien kualitas fisik
pengaruh tertinggi destinasi adalah
ada pada Fasilitas. penentu utama
kepuasan dan
keputusan
berkunjung.
2. Sung, J. K. Safety, Persepsi Sangat relevan
(2021). Decision- Keamanan dan karena canyoning
The Role of Making Keselamatan adalah wisata
Perceived Safety memiliki petualangan.
in Adventure pengaruh positif Menekankan
Tourism Decision- dan kuat terhadap pentingnya
Making niat partisipasi indikator
(Internasional) aktivitas dan Keamanan &
keputusan Keselamatan
kunjungan. Ini dalam dimensi
adalah faktor Daya Tarik
utama di wisata Wisata di Curug
petualangan. Ciampea.
xxvii
4. Larasati, N. A. R. Electronic Eksposur Media Menguatkan
(2024). Word-of-Mouth, Sosial memiliki posisi X2 sebagai
Pengaruh Promosi Media pengaruh variabel
Electronic Word- Sosial, langsung yang independen yang
of-Mouth dan Keputusan lebih besar kuat.
Promosi Media Berkunjung daripada eWOM Menunjukkan
Sosial Terhadap terhadap bahwa frekuensi
Keputusan Keputusan Paparan Konten
Berkunjung Berkunjung, dapat langsung
Media sosial memicu
mempercepat keputusan
proses wisatawan.
pengambilan
keputusan.
5. Chen, L. (2022). User Generated Paparan Konten Menarik karena
The Impact of Content, Buatan Pengguna fokus pada UGC
User-Generated Tourist (UGC) di media (video/testimoni
Content on Destination sosial secara canyoning),
Tourists' Image and signifikan relevan dengan
Destination Image Intention membentuk Citra indikator Interaksi
and Intention Destinasi yang & Kredibilitas
positif, dan Citra Sumber (X2)
Destinasi positif dalam penelitian
kemudian ini.
memengaruhi
Intensi
Kunjungan
6. Kusumawardani, Destination Kedua variabel, Paling relevan
R. (2022). Attractiveness, Daya Tarik karena meneliti
The Social Media Destinasi (X1) dan kedua variabel
Interconnected Marketing, Pemasaran Media utama secara
Effect of Visit Decisione Sosial (X2), bersamaan.
Destination secara simultan Mendukung
Attractiveness and berpengaruh model penelitian
Social Media signifikan ini.
Marketing on terhadap
Tourist Visit Keputusan
Decision Berkunjung.
Pengaruh
gabungan X1 dan
X2 lebih kuat
daripada
pengaruh parsial.
7. Arifin, H. (2023). Destination Aksesibilitas dan Memberikan
The Synergistic Attributes, Fasilitas (X1) dan bukti bahwa
Influence of Digital Aktivitas di kombinasi faktor
Destination Engagement, Media Sosial (X2) fisik dan faktor
Attributes and Revisit sama-sama digital efektif
Digital Intentioon signifikan dalam mendorong
Engagement on terhadap Niat keputusan jangka
Revisit Intention Kunjungan Ulang panjang (Y)
wisatawan
xxviii
8. G. Z. Lee (2023). Adventure Persepsi Risiko Sangat relevan
The Interplay of Motivation, yang dikelola secara
Adventure Satisfaction, dengan baik oleh kontekstual.
Motivation and Niche Sport penyedia jasa Memperkuat
Satisfaction in Tourism (bagian dari bahwa
Niche Sport Keamanan X1) canyoneering
Tourism dan Pengalaman harus fokus pada
Otentik/Spesial standar keamanan
(bagian dari dan kualitas
Aktivitas Khusus pengalaman
X1) adalah sebagai daya tarik
penentu utama utamanya (X1)
Kepuasan dan
Niat
Rekomendasi
(Y).
9. Wardhana, A. Potensi Potensi ekowisata Relevan secara
(2021). Analisis Ekowisata Curug dinilai lokasi.
Potensi Ekowisata tinggi terutama Memberikan data
Curug di pada aspek awal bahwa
Kabupaten Bogor: Keindahan Alam, Curug di Bogor
Studi Kasus tetapi ditemukan sering memiliki
Curug Leuwi kelemahan masalah pada
Lieuk signifikan pada indikator Fasilitas
Fasilitas dan Aksesibilitas
(toilet/tempat (X1), yang dapat
ganti) dan diuji
Aksesibilitas hubungannya
(kondisi jalan). dengan (Y) di
Curug Ciampea.
10. Tengku, F. (2024). Digital Penggunaan Relevan karena
Digital Marketing Marketing, TikTok untuk Curug Ciampea
Strategy and Tourist mempromosikan adalah wisata air.
Tourist Engagement wisata air (air Menunjukkan
Engagement in terjun, danau) pentingnya fokus
Water-Based menghasilkan pada platform
Attractions tingkat Paparan digital spesifik
Konten (X2) (TikTok/YouTube
tertinggi, yang ) dalam
berkorelasi positif pengukuran X2
dengan Niat
Kunjungan (Y).
xxix
11. Cahyono, B. S. Kualitas Kualitas Memperkuat
(2022). Analisis Pelayanan, pelayanan Indikator X1
Kualitas Kepuasan pemandu (guide) (Daya Tarik).
Pelayanan Jasa Wisatawan yang profesional Mengingat
Pemandu dan dan bersertifikasi canyoning
Pengaruhnya memiliki memerlukan jasa
terhadap pengaruh paling pemandu/operator
Kepuasan kuat terhadap khusus, penelitian
Wisatawan Arung Kepuasan ini menekankan
Jeram. wisatawan, yang bahwa standar
pada akhirnya profesionalisme
memengaruhi dan keamanan
Minat Kunjungan (bagian dari X1)
Ulang. adalah penentu
kepuasan (M) dan
keputusan
berkunjung (Y).
12. Ramanathan, S. Risk Perception, Untuk wisata Memperkuat
(2023). The Dual Thrill-Seeking, ekstrem, risiko Indikator
Role of Risk Safety Concern, memiliki peran Keamanan (X1).
Perception: ganda: sebagian Menegaskan
Thrill-Seeking vs. wisatawan bahwa di wisata
Safety Concern in termotivasi oleh niche seperti
Extreme Sports risiko (thrill- canyoning, upaya
Tourism seeking), namun menonjolkan
mayoritas hanya standar keamanan
akan yang ketat adalah
berpartisipasi jika strategi
Persepsi pemasaran yang
Keamanan sangat lebih efektif
tinggi dan daripada sekadar
terkelola dengan menonjolkan
baik. adrenalin.
13. Pinto, M. (2024). Source Kredibilitas Memperkuat
The Interplay of Credibility, sumber informasi Indikator X2
Source Credibility, Message (misalnya, (Pemasaran
Message Valence, Valence, influencer yang Digital). Sangat
and Purchase Purchase memiliki relevan dengan
Intention in Intention sertifikasi atau poin 3 dan 5
Digital Travel reputasi di Anda.
Campaigns. bidangnya) Mendukung
memiliki penggunaan
pengaruh indikator
moderasi positif. Kredibilitas
Pesan promosi Sumber di dalam
(X2) akan lebih X2, terutama
efektif jika untuk aktivitas
disampaikan oleh yang berisiko
sumber yang (seperti
dianggap kredibel canyoning).
oleh audiens.
xxx
14. Supriadi, E. Fasilitas, Kepuasan Sangat Relevan
(2021). Peran Aksesibilitas, Wisatawan untuk Model
Mediasi Kepuasan Kepuasan terbukti bertindak Penelitian. Jika
Wisatawan dalam Wisatawan, Niat sebagai variabel Anda
Pengaruh Fasilitas Kunjungan mediasi yang mempertimbangk
dan Aksesibilitas Ulang signifikan antara an variabel
terhadap Niat Fasilitas (X1) dan mediasi
Kunjungan Ulang Niat Kunjungan (Kepuasan),
Ulang (Y). penelitian ini
Peningkatan menjadi rujukan
fasilitas dan akses kuat. Jika tidak,
tidak langsung ini menunjukkan
memicu Y, bahwa indikator
melainkan harus X1 dan Y Anda
melalui sangat terkait
peningkatan melalui faktor
Kepuasan terlebih Kepuasan.
dahulu.
15. Zhao, W. (2022). Visual Teknik visual Memperkuat
Visual Storytelling Storytelling, storytelling Indikator Kualitas
on Instagram and Destination (narasi visual Konten (X2).
its Effect on Image, berurutan dan Menambahkan
Destination Image Behavioral otentik) di perspektif bahwa
and Behavioral Intentions platform media bukan hanya
Intentions sosial seperti kualitas visual
Instagram secara (high definition),
signifikan tetapi narasi/kisah
meningkatkan di balik konten
Citra Destinasi canyoning itu
yang unik dan yang menjadi
secara langsung penentu kuat dari
memengaruhi Paparan Konten
Niat Berkunjung. X2 .
xxxi
yang dirasakan tertinggi. Nilai ini diukur dari seberapa baik atribut fisik
destinasi (Keindahan, Fasilitas, Akses) memenuhi harapan wisatawan.
2. Bukti Empiris : Studi oleh Putra (2024) dan Sung (2021) mengonfirmasi bahwa
atribut destinasi, khususnya Fasilitas dan Persepsi Keamanan dalam aktivitas
petualangan, memiliki pengaruh positif yang signifikan terhadap niat dan
keputusan berkunjung. Kehadiran SOP canyoning yang jelas dan aman akan
meningkatkan kepercayaan diri wisatawan untuk mengambil keputusan
eksplorasi (Sung, 2021). Oleh karena itu, jika Daya Tarik Curug Ciampea dinilai
tinggi, Keputusan Berkunjung juga akan tinggi.
xxxii
2. Bukti Empiris : Studi oleh Kusumawardani (2022) dan Arifin (2023) secara
konsisten menemukan bahwa gabungan antara Atribut Destinasi dan
Keterlibatan Digital memiliki pengaruh yang jauh lebih kuat (synergistic)
terhadap keputusan dan niat kunjungan ulang dibandingkan pengaruh
parsialnya.
a. Pengaruh Daya Tarik Wisata Alam (X1) Terhadap Keputusan Berkunjung (Y)
Daya Tarik Wisata Alam (X1) adalah seluruh komponen yang melekat pada Curug
Ciampea dan aktivitas canyoning yang memotivasi wisatawan untuk datang dan
berpartisipasi. Komponen utama yang memengaruhi keputusan di wisata petualangan
meliputi keindahan alam, ketersediaan fasilitas, aksesibilitas, dan terutama, standar
keamanan dan keselamatan.
xxxiii
1. Logika Kuantitatif: Wisatawan dalam wisata petualangan (adventure tourism)
menerapkan Teori Nilai (Perceived Value) dengan sangat ketat. Mereka akan
memilih Curug Ciampea jika manfaat yang dirasakan (pengalaman unik,
keindahan, dan thrill) lebih besar dibandingkan biaya dan risiko yang
dipersepsikan.
2. Dukungan Empiris : Penelitian oleh Sung (2021) di sektor wisata petualangan
menegaskan bahwa Persepsi Keamanan dan Keselamatan memiliki dampak
signifikan (β = 0.51) terhadap niat partisipasi dan Keputusan Berkunjung. Untuk
canyoneering, ketersediaan pemandu bersertifikat, peralatan standar, dan SOP
darurat (yang merupakan indikator X 1) sangat krusial. Selain itu, Putra (2024)
menyoroti bahwa di destinasi alam, Fasilitas dan Aksesibilitas yang memadai juga
menjadi penentu utama Keputusan Kunjungan Ulang. Fasilitas seperti tempat
penyimpanan barang yang aman dan ruang ganti yang bersih meningkatkan
kenyamanan pasca-aktivitas, yang memperkuat keputusan positif.
3. Kesimpulan Hubungan: Daya tarik yang dikelola dengan baik dan teruji
keamanannya menciptakan kepercayaan, yang merupakan pendorong langsung
bagi wisatawan untuk mengambil keputusan berisiko, yaitu melakukan
canyoneering.
xxxiv
(sebagai indikator X2) secara efektif menstimulasi keinginan (desire) wisatawan,
yang merupakan prasyarat dari keputusan (Y).
3. Kesimpulan Hubungan: Eksposur yang positif dan meyakinkan melalui media
sosial membantu wisatawan untuk mengatasi keraguan, membentuk citra destinasi
yang kuat, dan secara langsung dapat mendorong terbentuknya niat kuat dari
perilaku yang diwujudkan dalam Keputusan Berkunjung.
c. Pengaruh Daya Tarik Wisata Alam (X 1) dan Eksposur Media Sosial (X2)
Terhadap Keputusan Berkunjung (Y)
Kedua variabel bebas ini tidak bekerja secara terpisah, melainkan saling melengkapi
dan sinergis dalam memengaruhi Keputusan Berkunjung (Y).
1. Interaksi Sinergis: Eksposur Media Sosial (X2) bertindak sebagai gerbang inspirasi
yang membawa Curug Ciampea ke dalam pertimbangan wisatawan, terutama
melalui daya tarik visual (Keindahan Alam X 1). Namun, keputusan akhir untuk
berkunjung dan berpartisipasi dalam canyoneering (Y) akan bergantung pada
bagaimana wisatawan memverifikasi Daya Tarik Wisata (X 1), terutama aspek
Keamanan dan Fasilitas, yang sering dilihat dan dikonfirmasi melalui ulasan dan
testimoni di Media Sosial (X2).
2. Dukungan Empiris : Dalam bentuk penelitian simultan oleh Kusumawardani
(2022) menunjukkan bahwa Daya Tarik Destinasi dan Pemasaran Media Sosial
secara bersama-sama memberikan kontribusi pengaruh yang jauh lebih besar
(*Total R^2 = 0.70) terhadap Keputusan Berkunjung dibandingkan pengaruh
parsialnya. Hal ini membuktikan bahwa Curug Ciampea harus memiliki product
(X1) yang kuat, dan promotion (X2) yang efektif untuk menghasilkan purchase
decision (Y) yang optimal.
xxxv
Tabel 2.2 Model Konseptual
xxxvi
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
Namun, karena penelitian ini membahas variabel laten yang kompleks seperti
objek wisata alam, keberadaan media sosial, dan keputusan wisatawan, pemodelan
persamaan struktural kuadrat terkecil parsial / Partial Least Squares SEM (PLS-SEM) juga
dianggap sebagai metode analisis primer atau alternatif yang efektif. PLS-SEM sangat
penting dan banyak digunakan dalam penelitian perilaku wisatawan karena kemampuannya
menangani model yang kompleks, dengan fokus pada prediksi dan pengujian model laten.
Penggunaan kedua metode ini (regresi dan PLS-SEM) memberikan validitas ganda dan
kedalaman analisis, menjamin signifikansi statistik yang tinggi dan daya prediksi dari hasil
yang diperoleh, yang merupakan praktik umum dalam studi hubungan antara variabel laten
dalam pariwisata (Wibisono & Lale, 2024). Pendekatan kuantitatif ini akan menghasilkan
hasil yang terukur dan dapat digeneralisasikan mengenai peran objek wisata dan jaringan
media sosial dalam membentuk keputusan wisatawan.
xxxvii
Sumber : Google Maps
Gambar 3.1 Lokasi ke Curug Ciampea
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), populasi merujuk pada jumlah
keseluruhan orang atau penduduk di suatu wilayah, jumlah individu, atau individu dengan
ciri-ciri yang sama, jumlah penduduk, orang, atau organisme lain dalam suatu kesatuan
lokal, sekelompok orang, benda, atau hal yang menjadi asal pengambilan sampel, atau
himpunan yang memenuhi persyaratan tertentu yang berkaitan dengan suatu masalah
penelitian. Menurut penafsiran lain, populasi adalah sekelompok atau himpunan objek
yang diteliti. Oleh karena itu, populasi merujuk tidak hanya pada orang-orang, tetapi juga
pada semua objek alamiah dengan ciri-ciri subjek atau objek penelitian. Namun, populasi
secara umum didefinisikan sebagai himpunan individu, tetapi penting untuk diingat bahwa
satu individu saja dapat pula dijadikan populasi, karena sifat-sifatnya yang berbeda.
(Mushofa et al., 2024)
Populasi dalam penelitian ini didefinisikan sebagai seluruh wisatawan yang pernah
atau sedang melakukan kunjungan ke Curug Ciampea, Bogor untuk aktivitas canyoneering.
Penetapan populasi ini didasarkan pada asumsi metodologis bahwa individu-individu
tersebut telah memiliki pemahaman atau pengalaman langsung mengenai sistem dan
layanan yang diterapkan pada objek wisata terkait. Ukuran populasi penelitian ini
diestimasi berdasarkan data operasional yang diperoleh dari pihak pengelola
canyoningbogor untuk aktivitas di Curug Ciampea selama periode 10 bulan terakhir,
terhitung mulai di buka sejak Januari 2025. Proses estimasi ini dilakukan dengan
mengalikan rata-rata harian wisatawan canyoneering (yaitu 50 individu) dengan perkiraan
hari operasional bulanan (20 hari), kemudian hasilnya dikalikan dengan total durasi
xxxviii
observasi (10 bulan). Berdasarkan perhitungan tersebut, ukuran populasi terestimasi yang
relevan dalam penelitian ini mencapai sekitar 10.000 wisatawan.
3.3.2 Sampel
Menurut KBBI sampel adalah sesuatu yang digunakan untuk menunjukkan sifat
suatu kelompok yang lebih besar, bagian kecil yang mewakili kelompok atau keseluruhan
yang lebih besar, percontoh. Pendapat lain pun menyatakan bahwa sampel adalah bagian
dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh sebuah populasi tersebut. Bila populasi
besar, maka peneliti pun tidak mungkin mempelajari semua yang ada pada populasi,
misalnya karena keterbatasan dana, tenaga dan waktu, maka dari peneliti dapat
menggunakan sampel yang diambil dari populasi itu. Untuk itu sampel yang diambil dari
populasi harus betul-betul representatif (mewakili). (Mushofa et al., 2024)
Sampel mengacu pada subdivisi populasi yang dipilih untuk tujuan observasi atau
penelitian. Pemanfaatan sampel memungkinkan seorang peneliti membuat generalisasi
yang lebih efisien dan hemat biaya dari sampel ke populasi. Meskipun demikian, pemilihan
sampel yang cermat sangat penting untuk memberikan gambaran yang baik dan benar
tentang keseluruhan populasi. Penggunaan sampel yang tidak representatif akan berpotensi
menimbulkan ketidakakuratan dalam sebuah ekstrapolasi hasil penelitian. Berbagai metode
pengambilan sampel meliputi sampel acak, sampel bertingkat, dan sampel bertingkat.
Pilihan teknik pengambilan sampel yang sesuai akan bergantung pada karakteristik
populasi, tujuan penelitian, dan ketersediaan sumber daya.(Candra Susanto et al., 2024).
Teknik sampling yang diambil adalah metode yang merupakan gabungan dari tiga
teknik, dengan tujuan untuk memaksimalkan cakupan subjek yang relevan:
xxxix
3. Snowball Sampling (Sampel Bola Salju): Untuk menjangkau populasi yang lebih luas
dan terorganisir, peneliti memulai dengan meminta responden awal untuk
merekomendasikan individu lain yang memiliki kriteria serupa, terutama dari
komunitas petualangan, klub outdoor, atau jaringan canyoneering lainnya. Teknik ini
sangat efektif dalam menjangkau segmen pasar yang terspesialisasi dan tersembunyi
(hidden population).
xl
3.4.2 Operasional Variabel
Table 3.1 Tabel Operasional Variabel
Eksposur (B. Chen et al., 2025) (B. Chen et al., 2025) Likert (Ordinal)
Media Sosial Eksposur media sosial 1. Frekuensi / Paparan
(X2) didefinisikan sebagai Konten
tingkat paparan dan 2. Kualitas Konten
interaksi individu [Link]/Engagement
terhadap konten media (suka/komentar/
sosial berkaitan dengan share/simpan);
canyoneering di Curug 4. Kredibilitas/eWOM
Ciampea, (UGC vs
influencer vs official),
engagement (likes,
comments, shares), dan
persepsi kredibilitas
konten.
xli
Keputusan (Wibowo & Puspitasari, (Samosir, 2021) Likert (Ordinal)
Wisatawan 2021) 1) Niat kunjungan
melakukan Definisi Keputusan (dalam 12 bulan),
Canyoneering Berkunjung (Visit 2) Intensi kunjungan
(Y) Decision) adalah hasil ulang
dari proses mental di 3) rekomendasi pada
mana wisatawan memilih teman.
satu destinasi/aktivitas 4) Keputusan kunjungan
wisata (Curug Ciampea nyata (ya/tidak),
untuk Canyoning) dari
beberapa curug yang
tersedia, yang juga
didorong oleh motivasi
dan evaluasi informasi.
xlii
b. Literatur Ilmiah: Sumber-sumber seperti buku metodologi (contoh: Sahir,
2022), jurnal ilmiah, dan e-book yang menjadi landasan teoritis, kerangka
berpikir, dan panduan prosedural penelitian.
3.6 Teknik Pengumpulan Data
Pengumpulan data/sampel merupakan tahapan krusial dalam metodologi
penelitian. Menurut Sahir (2022) pemilihan metode sampling harus dilakukan secara
cermat dan diselaraskan dengan pendekatan penelitian yang digunakan. Keselarasan ini
penting untuk menjamin bahwa data yang dikumpulkan relevan, sehingga mampu
memverifikasi hipotesis atau mencapai tujuan penelitian yang telah ditetapkan. Oleh karena
itu, penelitian ini mengaplikasikan serangkaian teknik pengumpulan data yang dirancang
untuk efektivitas perolehan informasi.
1. Kuesioner
Kuesioner didefinisikan sebagai seperangkat instrumen tertulis yang disusun
berdasarkan indikator penelitian untuk mengukur variabel tertentu (Sahir, 2022).
Metode ini dianggap efisien karena responden hanya perlu memilih atau
memberikan tanggapan tertulis dari opsi jawaban yang sudah disediakan. Dalam
konteks penelitian ini, setiap respons yang diperoleh dari kuesioner dikonversi
menjadi data kuantitatif melalui skala Likert yang diberi skor, yang rinciannya
disajikan dalam tabel (Tabel X).
2. Studi Pustaka (Literature Review)
Studi pustaka merupakan fondasi teoretis penelitian yang berperan sebagai
penunjang utama dalam proses riset. Metode ini dilakukan dengan cara menelaah
dan memanfaatkan berbagai sumber informasi tertulis yang kredibel, termasuk
buku, artikel jurnal ilmiah, dan laporan penelitian yang relevan. Pendekatan ini
memungkinkan peneliti untuk mengidentifikasi dan mengumpulkan data serta
pandangan yang terkait langsung dengan permasalahan yang diteliti. Dengan
demikian, telaah literatur menjadi landasan kuat bagi perumusan kerangka
konseptual dan pemecahan masalah.
3. Observasi (Observation)
Observasi didefinisikan sebagai teknik pengumpulan data di mana peneliti secara
aktif turun ke lapangan untuk mengamati fenomena studi secara langsung. Setelah
pengamatan selesai, peneliti dapat mendeskripsikan secara rinci kondisi aktual
permasalahan yang diamati dan mengintegrasikannya dengan temuan dari teknik
pengumpulan data lainnya. Hasil observasi ini kemudian diperkaya dan divalidasi
xliii
dengan cara menghubungkannya pada teori-teori relevan serta temuan dari
penelitian terdahulu (Sahir, 2022).
xliv
b. Uji Reliabilitas: Menentukan konsistensi internal instrumen melalui koefisien
Cronbach's alpha. Nilai α ≥ 0.70 akan digunakan sebagai kriteria penerimaan
reliabilitas yang memadai, memastikan konsistensi jawaban responden.
3. Statistik Inferensial (Pengujian Model Struktural)
Tahap inti adalah analisis inferensial, yang bertujuan untuk menguji model
hubungan kausal yang diajukan dalam penelitian. Jika model melibatkan variabel
laten dan hubungan ganda, teknik yang disarankan adalah Structural Equation
Modeling (SEM), khususnya pendekatan Partial Least Squares (PLS-SEM).
3.8.1 Pengujian Data
Setelah pengumpulan data selesai, langkah selanjutnya adalah melaksanakan tahap
persiapan data untuk memastikan kualitas dan kesiapan data sebelum analisis statistik.
Proses ini mencakup tiga aktivitas utama:
1) Pengolahan Data Awal: Data mentah dari kuesioner akan melalui editing
(pemeriksaan kelengkapan dan konsistensi respons), coding (pemberian kode
numerik pada jawaban kualitatif), dan input ke dalam perangkat lunak statistik
yang dipilih (SPSS atau SmartPLS) untuk analisis lebih lanjut.
2) Pembersihan Data (Data Screening): Tahap krusial ini mencakup pemeriksaan
kualitas data mengenai antara lain :
a. Penyaringan Respons: Kuesioner yang ditemukan tidak lengkap atau yang
menunjukkan pola respons yang meragukan harus dieliminasi.
b. Deteksi dan Penanganan Outlier: Dilakukan pemeriksaan untuk
mengidentifikasi nilai ekstrem (outlier) yang dapat mendistorsi hasil
statistik.
c. Penanganan Missing Data: Jika ditemukan data hilang (missing data),
peneliti akan mengevaluasi persentasenya. Apabila persentase missing data
relatif kecil (misalnya, kurang dari 5%), dapat diterapkan teknik imputasi
sederhana (seperti mean substitution atau mode substitution) untuk
mempertahankan ukuran sampel.
Prosedur pembersihan data ini bertujuan untuk memitigasi bias dan menjamin
validitas hasil pengujian hipotesis (Hair et al., 2024)
3.8.2 Analisis Deskriptif
Tahap awal analisis data dalam penelitian ini difokuskan pada Statistik Deskriptif
untuk mengkarakterisasi sampel dan data yang dikumpulkan sebelum pengujian hipotesis
inferensial. Analisis ini memiliki tiga tujuan utama:
xlv
1. Profil Demografi Sampel: Menganalisis distribusi demografi responden. Data ini
disajikan dalam bentuk frekuensi dan persentase berdasarkan variabel seperti usia,
jenis kelamin, tingkat pendidikan, dan status keikutsertaan dalam kegiatan
(misalnya, pernah/berencana canyoneering).
2. Statistik Variabel: Melakukan perhitungan nilai rata-rata (mean) dan simpangan
baku (standard deviation / SD) untuk setiap butir instrumen dan setiap variabel
laten. Rata-rata memberikan gambaran tentang kecenderungan sentral respons
responden, sementara simpangan baku mengukur dispersi atau variabilitas respons
dari nilai rata-rata tersebut.
3. Distribusi Respons Kunci: Menganalisis frekuensi dan persentase respons terkait
variabel kunci, khususnya yang berkaitan dengan niat berkunjung (intention to
visit) atau frekuensi booking aktivitas canyoneering. Analisis ini memberikan
pemahaman awal mengenai pola perilaku dan keputusan wisatawan pada destinasi
studi.
Hasil dari analisis deskriptif ini berfungsi sebagai dasar untuk interpretasi data
yang lebih kompleks pada tahap analisis inferensial (Morais et al., 2025)
xlvi
2. Evaluasi Model Pengukuran (Outer Model)
Fase ini bertujuan untuk menguji Validitas dan Reliabilitas instrumen.
Tujuannya adalah memastikan bahwa indikator yang digunakan dapat mengukur
konstruk secara konsisten dan akurat.
1) Uji Validitas Konvergen:
a. Outer Loading: Setiap indikator harus memiliki nilai outer loading ≥ 0.70.
Indikator dengan loading yang lebih rendah akan dipertimbangkan untuk
dieliminasi guna meningkatkan kualitas model.
b. Average Variance Extracted (AVE): Nilai AVE untuk setiap konstruknya
harus ≥ 0.50, mengindikasikan bahwa konstruk tersebut mampu
menjelaskan varian lebih dari separuh indikatornya.
2) Uji Reliabilitas Internal:
a. Composite Reliability (CR): Nilai CR harus ≥ 0.70, menunjukkan
konsistensi internal yang baik pada konstruk.
b. Cronbach’s α : Nilai ini juga harus ≥ 0.70 untuk memverifikasi keandalan
instrumen.
3) Uji Validitas Diskriminan:
Dilakukan untuk memastikan bahwa setiap konstruk memiliki perbedaan
empiris yang signifikan dari konstruk lainnya dalam model, seringkali
menggunakan kriteria HTMT Ratio ≤ 0.90.
3. Evaluasi Model Struktural (Inner Model) dan Pengujian Hipotesis
Setelah Model Pengukuran teruji valid dan reliabel, prosedur dilanjutkan dengan
pengujian model struktural (menggunakan teknik Bootstrapping di SmartPLS) untuk
menguji hipotesis.
1. Uji Daya Prediksi Model (R2 ):
a. Dievaluasi untuk variabel endogen. Nilai R2 mengukur proporsi varian
variabel terikat yang dapat dijelaskan oleh variabel bebas dalam model. Nilai
R2 diklasifikasikan sebagai substansial, moderat, atau lemah.
2. Uji Relevansi Prediktif (Q2):
b. Nilai Q2 harus > 0 (nol). Jika Q2 > 0, model memiliki kemampuan untuk
memprediksi data yang diobservasi.
a. Pengujian Hipotesis (Path Coefficients):
c. Diuji melalui nilai koefisien jalur, t-statistik, dan P-Value. Hipotesis diterima
apabila P-Value ≤ 0.05 atau nilai t-statistik ≥ 1.96 (pada tingkatan signifikansi
xlvii
α = 5%). Nilai koefisien jalur menunjukkan arah (positif atau negatif) dan
kekuatan pengaruh.
Jika ada pengujian mediasi, tahap terakhir adalah menguji signifikansi pengaruh
tidak langsung menggunakan metode Specific Indirect Effect.
xlviii
DAFTAR PUSTAKA
Agustine, G., & Sulaiman, F. (2024). Pengaruh Media Sosial Marketing dan Fasilitas
Wisata Terhadap Minat Wisatawan Berkunjung di R-Zoo & Park. SEIKO : Journal of
Management & Business, 7(1), 1545. [Link]
Alodokter. (2024). Hiking, Aktivitas Outdoor yang Bermanfaat bagi Tubuh. Alodokter.
[Link]
Arifin, H. (2023). The Synergistic Influence of Destination Attributes and Digital
Engagement on Revisit Intention. Journal of Indonesian Tourism Development and
Leisure, 1(2), 80–95.
Candra Susanto, P., Ulfah Arini, D., Yuntina, L., Panatap Soehaditama, J., & Nuraeni, N.
(2024). Konsep Penelitian Kuantitatif: Populasi, Sampel, dan Analisis Data (Sebuah
Tinjauan Pustaka). Jurnal Ilmu Multidisplin, 3(1), 1–12.
[Link]
Chen, B., Li, X., & Zhang, Y. (2025). The Influence of Social Media Attributes on Impulsive
Travel Intentions: Integrating the Stimulus–Organism–Response Theory and
Information Adoption Model. Sustainability, 17(10), 4404.
Chen, L. (2022a). Assessing the Unique Value Proposition of Adventure Tourism: A Focus
on Risk and Skill Development. Tourism Management, 90(10), 104478.
Chen, L. (2022b). The Impact of User-Generated Content on Tourists’ Destination Image
and Intention. Tourism Management, 90(10), 104478.
Chen, L. (2025). Beyond authenticity: scale development and validation for virtual
authenticity. International Journal of Culture, Tourism and Hospitality Research,
19(3), 340–355.
Choi, S. P. (2024). Perceived Value and Quality in Experiential Tourism: A Structural
Equation Model Approach. Tourism Planning & Development, 21(3), 340–355.
Duryadi, W. (2021). Analisis Data dengan Pendekatan Structural Equation Modeling
(SEM) Menggunakan SmartPLS. Penerbit Deepublish.
Fadli, R., & Halodoc. (2023). Mengenal Beda Olahraga Hiking dan Trekking serta
Manfaatnya. Halodoc. [Link]
olahraga-hiking-dan-trekking-serta-manfaatnya
Hair, J. F., Sarstedt, M., Hopkins, L., & Hult, G. T. M. (2024). The Importance of Pre-
Testing and Reliability Assessment in Survey Research: A Practical Guide for
Cronbach’s Alpha. Journal of Business Research Methodology, 10(3), 210–225.
Haukeland, J. V. (2023). Prospects for nature-based tourism: identifying trends with
experts. Journal of Sustainable Tourism / Trends in Nature-Based Tourism.
[Link] (search: %22Prospects for nature-based tourism
Haukeland 2023%22)
Hidayat, M. B. T. (2023). The Role of Visual Content and Influencer Endorsement in
Adventure Tourism Decision. Journal of Travel Research, 62(3), 500–515.
Hidayati, I. (2024). Media Sosial dan Lanskap Mobilitas Pariwisata. In DetikNews.
xlix
[Link]
pariwisata
Huang, Q., & Chen, L. (2024). Evaluating the Attraction of Scenic Spots Based on Tourism
Attributes. Entropy, 26(7), 607. [Link]
Khatab, R. S., & Zekioğlu, F. (2023). Applying a Goal-Directed Behavior Model to
Determine Risk Perception of COVID-19 and War on Potential Travelers’ Behavioral
Intentions. Behavioral Sciences, 13(2), 148.
[Link]
Krisnayani, N. P., Liestiandre, I. P., & Pranjaya, I. N. (2021). Pengaruh Media Sosial dan
Daya Tarik Wisata terhadap Keputusan Berkunjung Wisatawan Domestik ke Daya
Tarik Wisata Pantai Melasti, Ungasan, Bali. Jurnal IPTA, 9(1), 20–29.
[Link]
Kurniawan, Y., Harry, K. O., Anwar, N., & Cabezas, D. (2022). Social Media Content and
Data Analysis of Audience Engagement in the Tour and Travel Industry. JOIV :
International Journal on Informatics Visualization, 6(3), 697–709.
Kusumawardani, R. (2022). The Interconnected Effect of Destination Attractiveness and
Social Media Marketing on Tourist Visit Decision. Tourism Review, 77(4), 1010–
1025.
Lampung, U. B. (2021). Potensi Pariwisata Kabupaten Pesawaran. Universitas Bandar
Lampung Press. [Link]
Larasati, N. A. R. (2024). Pengaruh Electronic Word-of-Mouth dan Promosi Media Sosial
terhadap Keputusan Berkunjung. Jurnal Komunikasi Pemasaran Digital, 4(1), 1–15.
Lee, G. Z. (2023). The Interplay of Adventure Motivation and Satisfaction in Niche Sport
Tourism. Journal of Hospitality & Tourism Research, 47(6), 1050–1070.
Lesmana, H., & artikel], [tambahkan nama-nama penulis lainnya sesuai. (2022). A
Competitive Advantage Model for Indonesia’s Tourist Destinations. Sustainability,
14(24), 16398. [Link]
Li, T., Liao, C., Law, R., & Zhang, M. (2023). An Integrated Model of Destination
Attractiveness and Tourists’ Environmentally Responsible Behavior: The Mediating
Effect of Place Attachment. Behavioral Sciences, 13(3), 264.
[Link]
Martins, W. S., & al., et. (2025). Exploring the Influence of Social Media on Tourist
Decision-Making. Tourism & Hospitality. [Link]
5768/6/1/45
Morais, E. P., Martins, M. D. A. R., & Martins, W. S. (2025). Exploring the Influence of
Social Media on Tourist Decision-Making: Insights from Cape Verde. Tourism and
Hospitality, 6(1), 45. [Link]
Mushofa, M., Hermina, D., & Huda, N. (2024). Memahami Populasi dan Sampel: Pilar
Utama dalam Penelitian Kuantitatif. Jurnal Syntax Admiration, 5(12), 5937–5948.
[Link]
Nugroho, A. Y., Suswanto, S., Fajar Pradap, S. Y., & Herryani, H. (2024). Aktivitas
l
Pengelolaan Wisata Petualangan Canyoning Berbasis Resiko: Studi Kasus di
Kawasan Canyoning & Caving Bogor Indonesia. Gemawisata: Jurnal Ilmiah
Pariwisata, 20(3), 369–375. [Link]
Nugroho, S. (2025). Integrasi Aktivitas Fisik Outdoor Pada Destinasi Camping Ground:
Tinjauan Literatur Dampak Kesehatan dan Pariwisata Alam di Yogyakarta.
Indonesian Journal of Sport and Tourism, 7(1), 13–24.
[Link]
Pariwisata, D. A. N. D. (n.d.). Sejarah perkembangan pariwisata dan definisi pariwisata.
1–12.
Putra, M. A. (2024). Analisis Pengaruh Atribut Destinasi terhadap Minat Kunjungan
Ulang Wisatawan. Jurnal Pariwisata Terapan, 8(1), 35–48.
Sahir, S. H. (2022). Metodologi Penelitian: Pendekatan Kuantitatif dan Kualitatif.
Kaukaba Dipantara.
Samosir, A. J. (2021). Predicting Tourist Revisit Intention in Natural Attractions: The Role
of Service Quality. Journal of Sustainable Tourism, 29(8), 1318–1335.
Sari, Y. R., Muis, R., & Nurhadi, R. (2023). Does Attitude or Intention Affect Behavior in
Sustainable Tourism? A Review and Research Agenda. Sustainability, 15(19),
14076. [Link]
Statistik, B. P. (2023). Luas Daerah dan Jumlah Pulau Menurut Provinsi, 2021. Badan
Pusat Statistik Republik Indonesia. [Link]
table/3/VUZwV01tSlpPVlpsWlRKbmMxcFhhSGhEVjFoUFFUMDkjMw%3D%3D/luas-
[Link]
Statistik, B. P. (2025). Statistik Kunjungan Wisatawan Mancanegara 2024. Badan Pusat
Statistik.
[Link]
[Link]
Sudiadharma, I., Ichsani, S., Mutmainnah, M., & Anisah, A. (2024). INTEREST OF HIKING
IN STUDENTS OF SPORTS SCIENCE STUDY PROGRAM FOR THE 2018 FIK UNM.
Jurnal KORSA, 3(1), 64–74.
[Link]
Sugiyono, & Lestari, W. (2021). Metode Penelitian Komunikasi (Edisi Revisi). Alfabeta.
Sung, J. K. (2021). The Role of Perceived Safety in Adventure Tourism Decision-Making.
International Journal of Contemporary Hospitality Management, 33(10), 3302–
3320.
Wibisono, R. D., & Lale, J. (2024). The Impact of Social Media on Tourist Destination
Choices: A Quantitative Analysis. OPSearch: American Journal of Open Research,
3(6), 141–146. [Link]
Wibowo, A. J., & Puspitasari, D. (2021). Analisis Peran E-WOM dan Kualitas Informasi
Destinasi dalam Proses Evaluasi Alternatif Wisatawan. Jurnal Manajemen Bisnis
Dan Pariwisata, 5(2), 88–102.
li
LAMPIRAN
Lampiran 1 Kuisioner Penelitian
lii
STS TS N S SS
No. Pertanyaan
1 2 3 4 5
Daya Tarik Wisata X1
Keindahan Alam/Estetika
Pemandangan ngarai dan air terjun di
1. Curug Ciampea memberikan kesan visual
yang memukau.
Suasana alami (flora/vegetasi) di Curug
2. Ciampea untuk canyoneering sangat terjaga
asri dan otentik.
Fasilitas / Amenitas Pendukung
Ketersediaan fasilitas dasar (toilet, ruang
1. ganti, dan tempat parkir) di basecamp
Curug Ciampea sudah memadai
Terdapat tempat istirahat (shelter) yang
2. cukup dan nyaman di sepanjang jalur
canyoneering.
Aksesibilitas
Kondisi jalan menuju lokasi Curug
1. Ciampea mudah dilalui kendaraan dan
bagus (sudah di aspal/bebatuan)
Petunjuk arah (signage) menuju lokasi
2. aktivitas canyoneering di Curug Ciampea
sangat jelas
Safety & Secure
Peralatan canyoneering yang disediakan
1. (helm, harness, tali) berstandar keamanan
tinggi dan terawat.
Pemandu (guide) yang bertugas terlihat
2. profesional dan memiliki sertifikasi yang
meyakinkan.
Aktifitas dan Pengalaman Khusus
Tingkat tantangan (thrill) aktivitas
1. canyoneering memberikan pengalaman
otentik yang tinggi.
Kualitas layanan pemandu (saat briefing
2. dan pendampingan) selama canyoneering
di Curug Ciampea sangat memuaskan.
liii
Frekuensi paparan konten di media sosial
2. membuat saya terus mengingat
Canyonering Curug Ciampea.
Kualitas Konten
Foto dan video tentang canyoneering di
1. Curug Ciampea memiliki daya tarik visual
yang tinggi.
Konten media sosial Canyoning Bogor
2. memberikan informasi yang jelas (misalnya
harga paket dan durasi aktivitas).
Interaksi & Endorsement
Saya aktif berinteraksi (like, save, atau
1. share) dengan konten Curug Ciampea
untuk disimpan atau dibagikan.
Rekomendasi atau endorsement dari
influencer atau public figure bahkan teman-
2. teman memengaruhi minat saya untuk
berkunjung.
Kreadibility / eWOM
Saya mempercayai ulasan (review) dari
wisatawan lain (eWOM) tentang
1. pengalaman canyoneering di Curug
Ciampea.
Ulasan positif di media sosial meyakinkan
saya tentang standar Keamanan &
2. Keselamatan canyoneering di Curug
Ciampea.
liv
Saya cenderung memberikan ulasan dan
2. rating positif tentang Curug Ciampea di
platform online.
Keputusan Kunjungan Aktual
Saya telah mengambil keputusan final
1. untuk melakukan perjalanan dan aktivitas
canyoneering di Curug Ciampea.
Keputusan kunjungan saya sangat kuat
2. dipengaruhi oleh Daya Tarik Wisata (X1).
lv