BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Pengobatan komplementer ialah pengobatan modalitas yang bersifat menyempurnakan
pengobatan konvensional yang bertujuan guna mendapati hasil pemulihan yang optimal. Saat ini
kebutuhan masyarakat akan terapi komplementer cukup tinggi. Kurang lebih 80%
masyarakat Indonesia mencari pengobatan alternatif, ini karena dipengaruhi oleh beberapa faktor
antara lain keyakinan, keuangan, reaksi obat kimia dan tingkat kesembuhan (Komariah et al., 2021).
Melonjaknya kunjungan pada tempat pengobatan alternatif maupun terapi komplementer karena
dampak tingginya permasalahan kesehatan di masyarakat, khususnya penyakit degeneratif.
Peningkatan status kesehatan masyarakat dapat dicapai melalui upaya promotif, preventif,
kuratif dan rehabilitatif secara berkesinambungan. Salah satu upaya peningkatan kesehatan
yang saat ini sedang diminati masyarakat adalah terapi komplementer. Keberadaan terapi
komplementer akhir - akhir ini menjadi isue menarik di beberapa negara. Alasan masyarakat
menggunakan terapi ini antara lain karena keyakinan, finansial, reaksi obat kimia dan tingkat
kesembuhan. Profesi perawat memiliki peluang terlibat dalam terapi ini, namun demikian
memerlukan dukungan dari hasil- hasil penelitian (evidence-based practice)Terapi komplementer
telah didukung berbagai teori keperawatan seperti teori Nightingale, Roger, Leininger, dan teori
lainnya. Terapi komplementer dapat digunakan pada berbagai level pencegahan dan perawat
dapat berperan sesuai kebutuhan klien
Adanya peningkatan penggunaan terapi alternatif atau komplementer di negara-negara maju,
bahkan beberapa negara memasukkan terapi komplementer dalam sistem kesehatan nasional mereka.
Terapi ini dapat direkomendasikan sebagai pendamping terapi konvensional, meskipun
penggunaannya perlu dipastikan risiko dan keamanannya (Wahyuni et al., 2023).
Seorang perawat diharapkan dapat meningkatkan kesadaran diri akan adanya hubungan
internal dalam dirinya serta hubungan eksternal baik dengan orang lain, dengan lingkungan, maupun
dengan Tuhannya. Kesadaran inilah yang akan memfasilitasi dalam penyembuhan pasien, sehingga
praktik keperawatan secara holistik dapat sejalan dengan filosofi pendekatan pengobatan
komplementer (Putri & Amalia, 2021)
1.2. Rumusan Masalah
1. Apakah definisi terapi komplementer ?
2. Apa saja jenis – jenis terapi komplementer ?
3. Pada siapa fokus terapi komplementer ?
4. Bagaimana peran perawat dalam terapi komplementer ?
5. Bagaimana terknik terapi komplementer
1.3. Tujuan Penulisan
1. Mahasiswa mampu memahami definisi terapi komplementer
2. Mahasiswa mengetahui apa saja jenis – jenis terapi komplementer
3. Mahasiswa dapat memfokuskan untuk siapa terapi komplementer ?
4. Mahasiwa dapat mengetahui peran perawat dalam terapi komplementer
5. Mahasiswa mampu memngetahui dan mejalankan terknik terapi
komplementer
BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Terapi Komplementer
1. Definisi
Terapi komplementer dikenal dengan terapi tradisional yang digabungkan dengan
pengobatan modern dan mampu memengaruhi aspek biologi, psikologi dan spiritual (Fuadah,
2022).
Terapi komplementer adalah pengembangan terapi tradisional yang diintegrasikan
dengan terapi modern yang mampu memengaruhi keharmonisan individu dari aspek biologi,
psikologis dan spiritual dan telah lulus uji klinis.
Menurut World Health Organization (WHO), pengobatan komplementer adalah
pengobatan non konvensional yang bukan berasal dari negara yang bersangkutan. Apabila
pengobatan tersebut telah digunakan sejak zaman dahulu secara turun-temurun maka disebut
pengobatan tradisional. Contoh pengobatan tradisional adalah penggunaan jamu di Indonesia
((Zainal Abidin, 2019), dalam fajar et,al 2024))
Terapi komplementer adalah pengembangan terapi tradisional, yang mencakup
integrasi metode pengobatan modern dan bertujuan untuk mempengaruhi keharmonisan
individu dari sudut pandang biologis, psikologis, dan spiritual(Pugliese, 2020)
Terapi komplementer dan alternatif menggunakan pendekatan holistik pada kesehatan
fisik dan mental, dengan mempertimbangkan aspek fisik, kesejahteraan dan emosional secara
keseluruhan, tidak menangani gejala tertentu secara terpisah. Beberapa terapi berfokus pada
pikiran, tubuh dan jiwa atau aliran energi ke seluruh tubuh. Pendekatan ini pada filosofi
kesehatan Timur kuno atau jenis metode penyembuhan tradisional yang digunakan secara luas
sebelum pengembangan pengobatan model yang saat ini digunakan, berdasarkan bukti klinis
dan penelitian (kadang disebut pengobatan modern atau pengobatan konvensional).
Terapi komplementer dan alternatif mencakup berbagai metode pengobatan non-
konvensional yang belum sepenuhnya diterima dalam kedokteran modern, namun
memiliki potensi untuk memberikan manfaat kesehatan yang signifikan(Siburian & Silaban,
2023). Perbedaan antara terapi komplementer dan alternatif. Komplementer digambarkan
terapi yang dapat digunakan bersamaan dengan pengobatan yang ditawarkan seperti yoga,
pijat dan meditasi. Alternatif menggambarkan pendekatan yang umumnya untuk
menggantikan perawatan yang ditawarkan oleh perawat atau dokter (seperti pengobatan
tradisional Tiongkok atau pengobatan Ayurveda, atau beberapa pengobatan herbal seperti St
John’s wort).
2. Jenis – Jenis Terapi Komplementer
1) Jenis – jenis terapi komplementer CAM
a. Terapi pikiran-tubuh (Mind-body therapies (MBT))
Pengobatan dengan terapi pikiran-tubuh berfokus pada hubungan intrinsik
antara pikiran dan fungsi fisiologi. Pendekatan penyembuhan ini memanfaatkan
kekuatan pikiran dan emosi secara positif dapat mempengaruhi kesehatan dan
kesejahteraan. Terapi pikiran-tubuh (MBT) termasuk meditasi, dipandu dengan
membayangkan lokasi atau tempat yang disukai atau menyenangkan, relaksasi,
hipnosis, biofeedback, doa, terapi ekspresif (tari, seni dan musik) dan pernapasan.
Salah satu contoh termasuk terapi perilaku kognitif dan kelompok dukungan pasien.
b. Terapi Berbasis Biologis (Biologically-based therapies)
Terapi berbasis biologis sebagai penggunaan “zat yang ditemukan di alam”.
Domain ini tidak terbatas pada tumbuhan, ekstrak hewani, vitamin, mineral, asam
lemak, asam amino, protein, prebiotik dan probiotik, makanan utuh dan makanan
fungsional.
c. Manipulative and body-based methods
Tahun 1998, metode berbasis tubuh mewakili lebih dari 50% pengguna
CAM. Terapi meliputi osteopati, chiropraktik, pijat, dan refleksologi. Setiap terapi
yang melibatkan pergerakan satu atau lebih bagian tubuh dan berfokus pada struktur
dan sistem tubuh, termasuk tulang dan sendi, jaringan lunak dan peredaran darah dan
sistem limfatik diklasifikasikan dalam domain ini.
d. Terapi Energi (Energy Therapies)
Terapi Energi melibatkan penggunaan medan energi untuk meningkatkan
kesehatan dan penyembuhan. Dua klasifikasi yaitu:
a. Terapi biofield: intervensi yang mempengaruhi medan energi yang mengelilingi
dan menembus tubuh manusia dengan menerapkan tekanan langsung atau tidak
langsung pada bidang-bidang ini. Contoh healing touch dan therapeutic touch.
b. Terapi berbasis bio elektromagnetik : intervensi yang menggunakan penggunaan
yang tidak konvensional medan elektromagnetik untuk tujuan penyembuhan.
Terapi termasuk penggunaan medan magnet dan arus bolak-balik atau arus
searah.
2) Klasifikasi Terapi Komplementer dan Contoh Terapi (Nccm, 2012 dalam Lindquist,
Rush, Mariah Snyder, Tracy, Mary Fan. 2014.)
a. Natural Product Therapies (Terapi Produk Alami)
Terapi menggunakan zat yang ditemukan di alam. Contoh: Jamu (tumbuhan),
vitamin, mineral, suplemen makanan, probiotik.
b. Mind Body Therapies (Terapi Pikiran-Tubuh)
Intervensi menggunakan berbagai teknik untuk meningkatkan kemampuan
pikiran mempengaruhi fungsi dan gejala tubuh. Contoh: imajinasi, meditasi, yoga,
terapi musik, doa, biofeedback, humor, Tai Chi, terapi seni, akupuntur.
c. Manipulative and Body-Based Therapies (Terapi manipulatif dan terapi berbasis
tubuh)
Terapi didasarkan pada manipulasi atau pergerakan satu atau lebih bagian
dari tubuh. Contoh: pengobatan chipopraktik, pijat, bodywork dan sebagainya.
d. Energy Therapies (Terapi Energi)
Terapi berfokus pada penggunaan medan energi seperti medan magnet dan
bio yang diyakini mengelilingi dan menembus tubuh. Contoh: sentuhan terapeutik,
Reiki, Qi gong eksternal, magnet.
e. Systems of Care (Sistem perawatan)
Seluruh sistem perawatan dibangun berdasarkan teori dan praktik dan sering
kali berevolusi terpisah dari dan lebih awal pengobatan barat. Contoh : pengobatan
tradisional tiongkok, Ayurveda, naturopati, dan homeopati.
f. Traditional Healers (Penyembuhan Tradisional)
Penyembuhan menggunakan metode dari teori, kepercayaan, dan pengalaman
asli diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Contohnya adalah tabib
atau dukun.
3. Tujuan dan Fokus Terapi Komplementer
1) Tujuan Terapi Komplementer
Minat masyarakat Indonesia terhadap terapi komplementer ataupun yang masih
tradisional mulai meningkat, hal ini daoat dilihat dari banyaknya pengunjung tempat
praktik terapi komplementer dan tradisional di bergai tempat. Tujuan terapi
komplementer bertujuan untuk memperbaiki fungsi dari sistem – sistem tubuh, terutama
sistem kekebalan tubuh agar tubuh dapat menyembuhkan dirinya sendiri yang sedang
sakit, hal ini ditentukam karena dipercaya tubuh mempunyai kemampuan untuk
menyembuhkan dirinya sendiri (Wijaya el al, 2022)
Pengobatan dengan menggunakan terapi komplementer mempunyai manfaat selain
dapat meningkatkan kesehatan secara lebih menyeluruh juga lebih murah. Terapi
komplementer terutama akan dirasakan lebih murah bila klien dengan penyakit kronis
yang harus rutin mengeluarkan dana. Pengalaman klien yang awalnya menggunakana
terapi modern menunjukkan bahwa biaya membeli obat lebih berkurang setelah
menggunakan terapi komplementer (nezabudkin, 2007 dalam widiyono et, al 2022).
Tujuan terapi komplementer Menurut (Purwanto (2013) dalam fajar et,al 2024) adalah :
a. Memperbaiki fungsi dan sistem kerja organ-organ tubuh secara menyeluruh
b. Meningkatkan sistem kekebalan tubuh terhadap penyakit
c. Menstimulasi dan mengaktifkan mekanisme penyembuhan alami tubuh
Terapi komplementer ini memiliki tujuan untuk memperbaiki fungsi dari
sistem tubuh, terutama dalam hal sistem kekebalan dan pertahanan agar tubuh dapat
memulihkan dirinya sendiri dari berbagai penyakit. Pada dasarnya tubuh manusia
memiliki kemampuan untuk menyembuhkan dan memperbaiki dirinya sendiri asalkan
mendapatkan asupan nutrisi yang baik dan lengkap serta perawatan yang tepat.
Sebelum menggunakan terapi komplementer, pasien disarankan untuk
konsultasikan kondisinya dengan profesional kesehatan. Beberapa terapi herbal terapi
mungkin tidak sesuai atau bahkan bertentangan dengan kondisi medis tertentu atau
pengobatan konvensional yang sedang [Link] faktor yang menjadi
pendorong meningkatnya penggunaan obat herbal di berbagai negara seperti :
a. Peningkatan usia harapan hidup pada saat jumlah penyakit kronik meningkat,
b. Terjadinya kegagalan terapi obat konvensional atau obat modern untuk penyakit
tertentu seperti kanker,
d. Mudahnya akses informasi terapi herbal ((Sukandar, 2004) dalam fajar, et al,
2024))
2) Fokus Terapi Kompelementer
Fokus dari terapi komplementer pada umumnya adalah:
a. Pasien penyakit kardiovaskular.
Penyakit kardiovaskular masih menjadi ancaman global yang serius dan
masih menjadi penyebab utama kematian di seluruh dunia, penyakit
kardiovaskular menyebabkan lebih banyak kematian dan kecacatan dibandingkan
penyakit lain serta menyebabkan kerugian finansial di negara maju. Penyakit
jantung iskemik (IHD) adalah penyakit yang paling umum, parah, kronis, dan
mematikan di Amerika Serikat. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO),
17,9 juta orang akan meninggal karena penyakit kardiovaskular pada tahun 2021
dan penyakit ini menyumbang 32% dari seluruh kematian di seluruh dunia.
Dalam kasus penyakit kardiovaskular, kecemasan dan depresi pasien dapat
meningkatkan pemulihan jantung dan waktu pemulihan. aromaterapi sebagai
intervensi non farmakologis yang efektif pada setting lain dapat menjadi
intervensi yang efektif untuk mengurangi kecemasan dan depresi pada pasien
sindrom koroner akut (ACS). Aromaterapi penciuman mampu mengoptimalkan
suasana hati atau bermanfaat bagi keadaan pikiran yang terkena dampak buruk
oleh faktor kehidupan dan efek penyakit selanjutnya seperti kecemasan, depresi
dan menghirup berbagai aromaterapi adalah metode yang cepat, nyaman dan
aman (Sri Hindriyastuti et al., 2023)
b. Pasien dengan gangguan spektrum autisme dan mereka yang menunjukkan
perilaku hiperaktif.
Autisme adalah suatu gangguan perkembangan yang kompleks, biasanya
muncul pada usia 1-3 tahun dan tanda tandanya muncul pada tahun pertama
sebelum umur 3 tahun (Sebtalesy, 2019). Gangguan perkembangan yang
melibatkan kemampuan emosional, bahasa kognitif, motorik, sensorik dan
interaksi sosial (Rosyidatul & Harsiwi, 2024). Hiperaktivity Disorder (ADHD)
merupakan Disfungsi perkembangan saraf mencakup karakteristik seperti
impulsif, hiperaktif, dan kesulitan memusatkan perhatian yang tidak sesuai
dengan perkembangannya dan mengganggu fungsi otak (National Institute
of Mental Health) (Nurfitriana et al., 2019). Strategi untuk ADHD Terapi
pengobatan, terapi musik, terapi bermain, perawatan nutrisi, pengobatan,
dan terapi perilaku adalah beberapa pilihan yang tersedia untuk anak - anak
(Erinta&Budiani, 2012) dalam (Suyanto & Wimbarti, 2019).
c. Pasien penderita kanker.
Pengobatan kanker sering menyebabkan masalah fisik seperti kelelahan,
nyeri, mulut kering, insomnia, mual dan muntah juga masalah psikologis seperti
stres emosional, kecemasan dan depresi Aktivitas fisik selama dan setelah
pengobatan menimbulkan efek psikososial yang menguntungkan. erapi
komplementer merujuk pada penggunaan pendekatan yang melengkapi atau
memperkuat perawatan medis konvensional dalam mengelola kondisi
kesehatan. Pendekatan ini melibatkan penggunaan metode dan modalitas
noN- konvensional, seperti akupunktur, pijat, yoga, meditasi, suplemen
herbal, dan lain sebagainya. Yoga merupakan salah satu terapi komplementer
yang sering digunakan oleh individu sebagai pelengkap pengobatan
konvensional dalam rangka mengurangi gejala, meningkatkan kualitas hidup
Dan mendukung kesehatan dan holistik
4. Peran Perawat Dalam Terapi Komplementer
Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 38 Tahun 2014 tentang
Keperawatan, Perawat adalah seseorang yang telah lulus pendidikan tinggi Keperawatan, baik
di dalam maupun di luar negeri yang diakui oleh Pemerintah sesuai dengan ketentuan
Peraturan Perundang-undangan.
Perawat sebagai salah satu profesional kesehatan, dapat turut serta berpartisipasi dalam terapi
komplementer. Peran yang dijalankan sesuai dengan peran-peran yang ada. Arah
perkembangan kebutuhan masyarakat dan keilmuan mendukung untuk meningkatkan peran
perawat dalam terapi komplementer karena pada kenyataannya, beberapa terapi keperawatan
yang berkembang diawali dari alternatif atau tradisional terapi.
Menurut UU no. 38 tahun 2014, pelayanan keperawatan adalah suatu bentuk
pelayanan profesional yang merupakan bagian integral dari pelayanan kesehatan, didasarkan
pada ilmu dan kiat keperawatan ditujukan kepada individu, keluarga, kelompok, atau
masyarakat, baik sehat maupun sakit.
Terapi komplementer dapat memberikan kesempatan bagi seorang perawat untuk
memberikan perawatan yang lebih baik dan manusiawi dalam merawat pasien. Perawat bukan
hanya mengetahui berbagai obat-obatan untuk perawatan pasien, tapi perlu juga mengetahui
dan memahami tentang banyak jenis terapi komplementer, dimana terapi tersebut telah
dilakukan oleh perawat dimasa lalu, seperti meditasi, yoga, terapi musik, humor,taichi, terapi
seni (art therapy), pijatan (massage), doa (prayer), dan obat-obatan herbal.
Adanya peningkatan kebutuhan masyarakat dalam pelayanan kesehatan memberikan
peluang bagi perawat untuk ikut berperan dalam memberikan terapi komplementer yang
sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan kemampuan perawat. Perawat dapat membantu
klien untuk memilih alternatif terapi yang sesuai atau memberikan terapi secara langsung.
Selanjutnya perlu dikembangkan penelitian (evidence-based practice) agar dapat digunakan
sebagai dasar dalam memberikan pelayanan keperawatan yang lebih baik. Adapun peran
perawat tersebut adalah :
1) Peran sebagai pemberi asuhan keperawatan (Caregiver)
Penerapan terapi komplementer pada keperawatan mengacu pada teori yang
mendasari praktik keperawatan. Sebagai pemberi asuhan keperawatan, perawat dapat
memberikan terapi komplementer secara langsung dan tidak langsung kepada klien
dengan menggunakan pendekatan proses keperawatan yang meliputi pengkajian dalam
upaya mengumpulkan data dan informasi yang benar, menegakkan diagnosa
keperawatan berdasarkan hasil analisis data, merencanakan intervensi keperawatan
sebagai upaya mengatasi masalah yang muncul dan membuat langkah/cara pemecahan
masalah, melaksanakan tindakan keperawatan sesuai dengan rencana yang ada dan
melakukan evaluasi berdasarkan respon klien terhadap tindakan keperawatan yang
terintegrasi dengan terapi komplementer.
2) Peran sebagai pembela untuk melindungi klien (Client advocate).
Peran advokasi ini sekaligus mengharuskan perawat bertindak sebagai narasumber
dan fasilitator dalam tahap pengambilan keputusan terhadap upaya kesehatan yang harus
dijalani oleh klien. Perawat membantu klien dan keluarga dalam menginterpretasikan
berbagai informasi dari pemberi pelayanan atau informasi lain khususnya dalam
pengambilan persetujuan atas tindakan keperawatan berkaitan dengan terapi
komplementer yang diberikan. Selain itu perawat berperan mempertahankan dan
melindungi hak-hak klien yang meliputi hak atas pelayanan sebaik-baiknya, hak atas
informasi tentang penyakitnya, hak atas privasi, hak untuk menentukan nasibnya sendiri
dan hak untuk menerima ganti rugi akibat kelalaian
3) Peran sebagai pendidik klien (Educator).
Peran ini dilakukan dengan membantu klien dalam meningkatkan tingkat
pengetahuan kesehatan mengenai terapi komplementer, yang diterima sehingga
klien/keluarga dapat menerima tanggung jawab terhadap hal-hal yang diketahuinya.
Pemberian terapi komplementer dapat bersifat promosi kesehatan, pencegahan penyakit
maupun rehabilitasi. Salah satu bentuk promosi kesehatan yang dilakukan adalah
memperbaiki gaya hidup dengan menerapkan pola nutrisi sehat dan seimbang yang
mengandung berbagai unsur nutrisi yang dibutuhkan. oleh tubuh sehingga terjadi
peningkatan kesehatan.
Terapi komplementer dapat memberikan kesempatan bagi seorang perawat untuk
memberikan perawatan yang lebih baik dan manusiawi dalam merawat pasien. Perawat
bukan hanya mengetahui berbagai obat-obatan untuk perawatan pasien, tapi perlu juga
mengetahui dan memahami tentang banyak jenis terapi komplementer, dimana terapi
tersebut telah dilakukan oleh perawat dimasa lalu, seperti meditasi, yoga, terapi musik,
humor,taichi, terapi seni (art therapy), pijatan (massage), doa (prayer), dan obat-obatan
herbal.
4) Peran sebagai pemberi bimbingan/konseling klien (Counselor)
Peran disini adalah sebagai tempat konsultasi terhadap masalah atau tindakan
keperawatan yang tepat untuk diberikan. Peran ini dilakukan atas permintaan klien
terhadap informasi tentang tujuan pelayanan keperawatan yang diberikan. Sebagai
konselor perawat dapat menjadi tempat bertanya, konsultasi, dan diskusi apabila klien
membutuhkan informasi ataupun sebelum mengambil keputusan tentang terapi
komplementer. Sebagai konselor perawat dapat menjadi tempat bertanya, konsultasi, dan
diskusi apabila klien membutuhkan informasi ataupun sebelum mengambil keputusan
berkaitan dengan terapi komplementer.
5) Peran sebagai koordinator (Coordinator)
Perawat dapat memanfaatkan semua sumber-sumber dan potensi yang ada, baik
materi maupun kemampuan klien secara terkoordinasi sehingga tidak ada intervensi yang
terlewatkan maupun tumpang tindih yang berkaitan dengan terapi komplementer. Selain
itu perawat dapat menjelaskan tentang penggunaan terapi komplementer dan rujukan
bagi klien, serta memberikan kesempatan klien memilih pengobatan komplementer yang
sesuai dengan kondisinya.
Perlu diketahui bahwa seorang perawat tidaklah mungkin menguasai berbagai jenis
terapi alternatif dan komplementer, namun dengan memiliki pengetahuan terapi alternatif
dan komplementer secara umum dapat membantu perawat dalam memberikan asuhan
keperawatan secara komprehensif terkait aspek biologis, psikologis, sosial, dan spiritual
klien.
6) Peran sebagai peneliti (Research)
Peran sebagai peneliti. Sebagai peneliti di bidang keperawatan, perawat diharapkan
mampu mengidentifikasi masalah penelitian, menerapkan prinsip dan metode penelitian,
serta memanfaatkan hasil penelitian untuk meningkatkan mutu asuhan atau pelayanan
dan pendidik keperawatan. Berperan sebagai peneliti banyak hasil penelitian perawat
yang meneliti di area penerapan terapi komplementer. Peran perawat sebagai peneliti di
antaranya dengan melakukan berbagai penelitian yang berhubungan dengan terapi
komplementer yang dikembangkan dari hasil evidence based practice. Beberapa jurnal
ilmiah di USA dan Australia seperti Journal of Holistic Nursing and Complementary
Therapies in Nursing and Midwifery membahas model terapi komplementer. Dalam
jurnal tersebut berisi informasi bermacam-macam jenis terapi komplementer, bagaimana
terapi komplementer tersebut digunakan dalam praktik keperawatan (Hidayat, 2019).
Perawat pun memiliki kesempatan untuk dapat berperan serta dalam pemberian terapi
komplementer, meskipun saat ini masih perlu dilakukan penelitian-penelitian untuk
pembuktian keberhasilan pemberian terapi. Pada dasarnya terapi komplementer telah
merujuk pada beberapa teori keperawatan, seperti teori Nightingale, Roger, Leininger,
dan teori lainnya. Selain itu, terapi komplementer dapat digunakan pada berbagai tingkat
pencegahan penyakit. Dalam konteks ini, terapi komplementer dalam keperawatan
kesehatan adalah modalitas atau pelengkap dan peningkatan pendekatan dari berbagai
pendekatan keperawatan yang sudah ada. Berdasarkan sistematik literature review yang
dilakukan oleh Lee et al., (2022) yang terdiri dari empat puluh penelitian dari 14 negara
(21 survei nasional dan satu survei lintas negara) mengenai penggunaan produk
(misalnya obat-obatan herbal), praktisi/terapi alternatif dan komplementer, atau
keduanya, diperoleh hasil prevalensi penggunaan terapi alternatif dan komplementer
(produk dan/atau praktisi/terapi) selama 12 bulan sebelumnya adalah 24–71,3%. Di
United States (US), penggunaan terapi alternatif dan komplementer untuk asma
mengalami peningkatan dari 41,3% pada tahun 2008 menjadi 47,9% pada tahun 2019.
Prevalensi ini tergolong tinggi, namun penggunaan terapi komplementer ini masih
dipandang sebelah mata (Ogbu et al., 2023).
5. Teknik Terapi Komplementer
1) Akupuntur
a. Definisi
Akupuntur pada dasarnya memasukkan jarum kedalam kulit pada titik-titik
tertentu pada tubuh, dengan atau tanpa menggunakan arus listrik dan/atau panas,
dengan tujuan meningkatkan kesehatan dan keseimbangan (Stimulasi listrik dan
magnet; moxibustion dan bentuk terapi panas lainnya; teknik bekam, akupresur dan
pijat). Terapi akupunktur adalah bentuk pengobatan yang berasal dari tradisi medis
tiongkok kuno. Dalam terapi ini, jarum tipis dimasukan ke dalam titik-titik
akupunktur tersebut agar mengalirkan energi yang disebut sebagai “qi” atau “chi”
dalam tubuh serta memulihkan keseimbangan energi yang baik antara bagian tubuh
yang berbeda. Titik-titik akupuntur ini terletak di sepanjang “jalur-jalur” energi
yang disebut sebagai meridian. Menurut tradisi tiongkok, ada sekitar 2000 titik-titik
akupunktur di seluruh tubuh manusia. Setiap titik memiliki efek yang berbeda
tergantung pada masalah Kesehatan yang ingin diatasi.
b. prinsip dasar terapi akupunktur :
a) Qi (Chi): Qi adalah energi vital yang mengalir melalui meridian dalam tubuh.
Praktisi akupunktur berusaha untuk mengembalikan keseimbangan dan aliran Qi
yang lancar untuk mempromosikan kesehatan.
b) Yin dan Yang: Konsep Yin dan Yang merupakan prinsip dasar dalam filsafat
Tiongkok yang mendasari pengobatan tradisional. Yin dan Yang mewakili dua
kekuatan yang berlawanan namun saling melengkapi, dan kesehatan dipandang
sebagai keseimbangan antara keduanya.
c) Titik Akupunktur: Merupakan titik-titik di sepanjang meridian tubuh tempat
jarum akupunktur dimasukkan untuk mempengaruhi aliran Qi dan memperbaiki
keseimbangan Yin dan Yang.
d) Stimulasi: Stimulasi pada titik-titik akupunktur dilakukan dengan menggunakan
jarum atau teknik lainnya seperti pijatan atau pemanasan untuk memulihkan aliran
Qi yang terganggu.
e) Holistic: Terapi akupunktur melibatkan pendekatan holistik terhadap kesehatan,
yang memperhatikan keseimbangan fisik, emosional, dan spiritual dalam
pengobatan
c. Jenis Jarum Akupuntur
a) Jarum Logam Tradisional: Jarum logam tradisional terbuat dari stainless steel
atau logam lainnya dan memiliki ujung runcing yang tajam. Jarum ini adalah
jenis yang paling umum digunakan dalam praktik akupunktur.
b) Jarum Dapat Dilepas (Disposable): Jarum ini dirancang untuk digunakan
sekali pakai dan dibuang setelah satu kali penggunaan. Mereka umumnya terbuat
dari stainless steel atau bahan logam lainnya yang steril dan aman untuk
digunakan. Peter Deadman (2007).
c) Jarum dengan Lubang: Beberapa jenis jarum akupunktur memiliki lubang di
tengahnya, yang memungkinkan aliran energi yang lebih baik dan
meminimalkan sensasi yang terasa oleh pasien.
d) Jarum dengan Penutup Plastik: Jarum-jarum ini memiliki penutup plastik di
bagian pegangannya, yang memungkinkan praktisi akupunktur untuk
memasukkan jarum ke dalam kulit tanpa harus menyentuh bagian logamnya.
e) Jarum Elektrik: Jarum-jarum ini memiliki ujung yang dilengkapi dengan kabel
yang terhubung ke sumber listrik, memungkinkan pengiriman stimulasi listrik
pada titik akupunktur
d. Teknik Penusukan dan Posisi Titik Akupunktur
a) Teknik Penusukan
i. Penusukan yang Tepat: Penusukan jarum akupunktur harus dilakukan
secara tepat agar mencapai kedalaman yang sesuai dengan titik
akupunktur yang dituju. Hal ini memastikan bahwa stimulasi yang
efektif dapat diberikan pada titik tersebut.
ii. Sudut Penusukan: Sudut penusukan jarum akupunktur dapat bervariasi
tergantung pada lokasi titik akupunktur dan tujuan pengobatan. Praktis
akupunktur harus memahami sudut penusukan yang optimal untuk
setiap titik yang akan dituju.
iii. Kedalaman Penusukan: Kedalaman penusukan jarum juga penting
dan harus disesuaikan dengan kedalaman titik akupunktur yang dituju.
Beberapa titik memerlukan penusukan yang lebih dalam daripada yang
lain untuk mencapai efek yang diinginkan.
b) Posisi Titik Akupunktur
i. Lokasi Anatomi yang Tepat: Titik-titik akupunktur memiliki lokasi
anatomi yang spesifik dalam tubuh manusia. Praktisi akupunktur harus
memastikan bahwa mereka menemukan dan menstimulasi titik tersebut
dengan tepat.
ii. Pemahaman Meridian: Titik-titik akupunktur terletak di sepanjang
jalur-jalur meridian dalam tubuh. Memahami jalur meridian yang terkait
dengan setiap titik membantu praktisi akupunktur dalam menentukan
posisi yang tepat.
iii. Penggunaan Bantuan Pemetaan Tubuh: Beberapa referensi
menggunakan diagram atau peta tubuh yang jelas untuk membantu
praktisi akupunktur dalam menemukan posisi titik akupunktur dengan
akurasi.
e. Jenis Kondisi yang dapat di atasi
a) Nyeri Kronis: Akupunktur telah terbukti efektif dalam mengelola nyeri kronis,
termasuk nyeri punggung, nyeri sendi, migrain, dan nyeri neuropatik. Stimulasi
titik akupunktur tertentu dapat merangsang pelepasan endorfin dan mengurangi
sensasi nyeri.
b) Gangguan Sistem Pencernaan: Akupunktur dapat membantu mengurangi
gejala gangguan pencernaan seperti sindrom iritasi usus besar (IBS), asam
lambung berlebih (GERD), dan sembelit. Ini dapat dilakukan dengan
menstimulasi titik-titik yang terkait dengan fungsi pencernaan yang sehat. Li
Xiaoding (2010)
c) Gangguan Psikologis: Akupunktur dapat menjadi tambahan dalam penanganan
gangguan psikologis seperti kecemasan, depresi, dan insomnia. Stimulasi pada
titik-titik akupunktur tertentu dapat membantu merangsang sistem saraf dan
mengurangi stress.
d) Gangguan Pernafasan: Akupunktur telah digunakan untuk membantu
meredakan gejala gangguan pernapasan seperti asma, alergi, dan bronkitis. Ini
dapat dilakukan dengan merangsang titik-titik yang terkait dengan fungsi
pernapasan yang sehat.
e) Gangguan Reproduksi: Dalam beberapa kasus, akupunktur telah digunakan
sebagai bagian dari perawatan untuk gangguan reproduksi seperti infertilitas,
dismenore, dan gangguan menstruasi lainnya.
f. Inovasi akupuntur
a) Akupuntur Elektro:
Penggunaan akupunktur elektrik atau electroacupuncture (EA) telah menjadi
tren yang berkembang dalam praktik akupunktur. Dalam metode ini, jarum
akupunktur diberi stimulasi listrik dengan menggunakan aliran rendah atau
frekuensi tertentu, yang dapat meningkatkan efek terapeutik dan meredakan nyeri
lebih efektif. Zhao, L., & Gong, B. (2020).
b) Neuro Akupunktur:
Konsep neuro akupunktur berkaitan dengan pemahaman lebih mendalam
tentang mekanisme neurologis di balik efek akupunktur. Penelitian terbaru telah
menunjukkan bahwa stimulasi titik akupunktur dapat memengaruhi aktivitas
otak, pelepasan neurotransmitter, dan regulasi sistem saraf, membantu
memahami lebih baik bagaimana akupuntur bekerja dalam pengobatan penyakit
neurologis dan gangguan lainnya. Lim, C. E., & Jang, M. (2019)
c) Penelitian Genomik dan Proteomik:
Penelitian dalam genomik dan proteomik telah memberikan wawasan baru
tentang mekanisme molekuler di balik efek akupunktur. Studi-studi ini telah
membantu mengidentifikasi biomarker yang terkait dengan respons individu
terhadap akupunktur, memungkinkan pengembangan pendekatan terapi yang
lebih terarah dan personalisasi pengobatan. Wu, H., & Wang, J. (2020).
d) Akupuntur Terintegrasi:
Praktik akupunktur semakin diintegrasikan ke dalam sistem perawatan
kesehatan konvensional, seperti integrasi akupunktur dalam perawatan kanker,
perawatan ibu hamil, dan manajemen nyeri di rumah sakit dan klinik medis.
Center of the University of Pennsylvania (2019).
2) Aromatherapy
a. Definisi
Aromaterapi berasal dari kata "aroma" berarti harum dan wangi, dan kata
"therapy" yang dapat diartikan sebagai cara pengobatan atau penyembuhan.
Aromaterapi merupakan terapi komplementer yang bertujuan meningkatkan
kesehatan tubuh, pikiran dan jiwa menggunakan sari tumbuhan aromatik murni
dengan bahan tanaman volatile (Tasalim, N. R.,2021).
b. Bentuk – bentuk Aromatherapy
Bentuk aromaterapi yang umum digunakan adalah aromaterapi berbentuk
lilin dan dupa (incense stick dan incense cone) serta berbentuk minyak esensial
(Siburian,C. H.,2023), antara lain:
a) Minyak Esensial (Essential Oil)
Merupakan bentuk aromaterapi yang paling banyak digunakan untuk terapi,
yang merupakan hasil ekstrak dari tanaman seperti bunga, daun, akar tanaman,
kulit kayu serta bagian tanaman lain. Efek relaksasi aromaterapi dapat dicapai
dalam hitungan 21 sampai 27 detik dalam ruang tertutup memberikan sensasi
positif sehingga dapat menenangkan diri maupun otak.
b) Dupa
Aromaterapi yang terbuat dari bubuk akar tanaman yang dicampur dengan
minyak esensial, penggunaannya dengan cara dibakar bagian akar tersebut.
c) Lilin
Bahan baku pembuatan lilin dicampur dengan beberapa tetes dari minyak
esensial grade III yang bertujuan untuk menimbulkan sensasi relaksasi dan
tenang saat dihirup, penggunaannya dengan cara membakar sumbu lilin.
c. Manfaat
Aromaterapi dapat memberikan efek dan manfaat teraupetik dengan
mekanisme kerja dalam tubuh melalui dua sistem yaitu sistem penciuman dan
sirkulasi tubuh. Berikut manfaat dari beberapa aromaterapi berdasarkan jenis esensial
yang terkandung:
a) Lavender (Lavandula angustifolia), merupakan salah satu jenis bahan aromatic
yang memiliki manfaat paling tinggi dari semua kandungan minyak astiri dalam
aromaterapi. Minyak lavender memiliki beberapa kandungan seperti
monoterpene hidrokarbon, camphene, limonene, geraniol lavandulol, nerol dan
sebagian besar mengandung linalool sekitar 30-60%(Setyawan & Oktavianto,
2020). Berfungsi sebagai peningkat relaksasi sehingga menurunkan intensitas
nyeri, sakit kepala, insomnia, ketegangan dan stres (kecemasan), kelelahan,
meningkatkan daya tahan tubuh, serta meningkatkan kenyamanan (Junita et al.,
2020).
b) Lemon (Citrus Lemon.L.), salah satu kandungan utama dari aromaterapi lemon
adalah limeone yang dapat menghambat sistem kerja hormon prostaglandin
sehingga dapat mengurangi nyeri, mengurangi mual muntah, menurunkan
hipertensi, dan meningkatkan kualitas tidur. Selain itu limeone akan mengontrol
siklogienase I dan II, mencegah aktivitas prostaglandin dan mengurangi rasa
sakit, dengan menghirup aromaterapi lemon, maka akan meningkatkan
gelombang-gelombang alfa dalam otak dan gelombang inilah yang membantu
untuk merasa rileks (Fadlilah et al., 2021).
c) Peppermint (Mentha piperita L.). Di Indonesia minyak esensial peppermint
memiliki kandungan menthol (35,4%), menthoduran (18,2%), menthone (15,4%)
dan menthyl asetat (12,4%)(Ayubbana & Hasanah, 2021). Dapat diaplikasikan
pada tubuh melalui cara inhalasi, metode topikal, atau konsumsi langsung yang
memiliki sifat analgesik kuat (menghilangkan nyeri), sakit kepala, mual, lelah,
batuk, masalah pencernaan, antibakteri, anti karsinogenik, anti inflamasi, anti
parasit, anti spasme, dan masalah pencernaan (Tasalim, N. R.,2021).
d) Mawar (Rosa damascena), aromaterapi mawar yakni mengandung sitronelol dan
geraniol sebanyak 75% yang dapat menimbulkan efek relaksasi bagi seseorang
secara fisik maupun psikologisnya, serta dapat memberikan perasaan tenang,
menghilangkan depresi dan dapat memperlancar aliran darah serta menurunkan
nyeri (Kune & Djamaluddin, 2022).
e) Jahe (Zingiber officinale), digunakan untuk mengurangi rasa mual dan muntah,
anti inflamasi, serta mampu menstabilkan tekanan darah. Ginger aromaterapi
mengandung gingerols, shogaols, galanolactone dan terpenoid mengandung zat-
zat yang mampu memblok serotonin yang merupakan neurotransmitter dan
disintesiskan pada neuron-neuron serotonergis dalam sistem saraf pusat dan sel-
sel enterokromafin yang berguna untuk memberikan perasaan nyaman dan dapat
mengatasi mual muntah(Tobing et al., 2023).
f) Melati (Jasminum grandiflorum). Kandungan senyawa aktif linalool dan linalyl
acetate yang memberikan efek sebagai antidepresan, menstimulasi hormon
serotonin sehingga meningkatkan energi dan suasana hati(Assari et al., 2022).
Selain itu aromaterapi minyak melati memiliki efek sedatif yang bersifat
menenangkan tubuh dan pikiran serta menciptakan energi positif. Sehingga
mengatasi stres, kecemasan, jantung berdebar, gugup serta dapat menciptakan
perasaan rileks (Tasalim, N. R.,2021).
g) Ylang-ylang (Cananga Odorata). Ylang-ylang atau bisa disebut minyak kenanga
mengandung zat flavonoid yang dapat dimanfaatkan sebagai anti depresan, anti-
inflamasi, analgesic, dan antioksidan(Asmawariza & Nurwahida, 2021). Efek
teraupetik yang ditimbulkan dari aromaterapi kenanga mampu menstimulasi
perasaan tenang dan menjadi rileks dengan sifatnya yang memperlambat
frekuensi pernapasan dan denyut jantung yang terlalu cepat, minyak kenanga dan
ylang-ylang sangat membantu menurunkan tekanan darah(Andriati et al., 2022).
h) Rosemary (Rosmarinus officinalis). Senyawa aktif yang terkandung dalam
minyak esensial rosemary adalah 1,8-cineole. Aromaterapi yang terhirup
dihantarkan ke oleh olfactory ephitelium, akan ditransmisikan menuju
hypothalamus untuk menstimulasi pelepasan Corticotropin Releasing Factor
(CRF). Untuk merangsang penurunan ekskresi kortisol sehingga mempengaruhi
suasana hati dan memberi efek relaksasi pada sistem saraf yang berpengaruh
terhadap terjadinya penurunan tingkat stres, merelaksasikan otot-otot tubuh yang
tegang serta melancarkan sirkulasi darah ke seluruh tubuh(Maharianingsih &
Ariasanti, 2022).
i) Tea tree oil, kandungan senyawa aktif adalah terpinen-4-ol (sampai 30%), 1,8
sineol, pinen, terpinen, cymen, sesquiterpen, sesquiterpen alkohol sehingga
berfungsi sebagai antimikroba dan antivirus untuk membunuh mikroorganisme
ataupun mengurangi jumlah bakteri udara ruangan(Mawaddah & Iko, 2020).
Kandungan zat yang bersifat hidrofobik pada tea tree oil ini digunakan untuk
pengobatan pilek, sinusitis, bronkitis, dan penyakit pernafasan lainnya.
Pengobatan tea tree oil juga bisa dilakukan dengan cara mengencerkan tea tree
oil yang dicampur dengan air di bak mandi untuk pengobatan penyakit radang
sendi, kelainan pada kulit kepala, infeksi virus ruam, dan demam.
j) Chamomile (Matricaria chamomilla), memiliki kandungan chamazulene,
apigenin, bisabolol, benzodiazepine yang dapat menghasilkan efek ansiolitik
(anti-kecemasan)(Marwan et al., 2022). Aromaterapi chamomile digunakan
untuk mereduksi stress, mempengaruhi suasana hati, peningkatan tidur,
meningkatkan imunitas tubuh, meningkatkan energy, mengurangi rasa sakit dan
mempercepat penyembuhan luka. Hal ini disebabkan oleh efek aromaterapi yang
dihirup merangsang sistem saraf pusat yang mempengaruhi aktivitas gelombang
otak dan sistem saraf otonom sehingga menurunkan aktivitas otak dan
meningkatkan konsentrasi serta kenyamanan dan meningkatkan rasa kantuk atau
dapat tidur dengan nyaman (Amelia Hartika Rani et al., 2023).
d. Teknik Penggunaan Aromaterapi
Berikut beberapa cara penggunaan aromaterapi untuk mendapatkan efek teraupetik
( Tasalim, N. R.,2021):
a) Inhalasi atau dihirup Penghirupan minyak essensial lebih efektif dengan
menggunakan uap minyak yang dituangkan ke dalam wadah berisi air panas atau
menghirup dari kain yang telah direndam minyak essensial. Penghirupan uap
minyak essensial diarahkan langsung ke dalam lubang hidung dan rongga mulut.
Keuntungan penggunaan aromaterapi melalui inhalasi dibandingkan obat dengan
pemberian oral yaitu tidak akan mempengaruhi saluran pencernaan, terutama
ketika targetnya adalah jalan nafas atau paru-paru. Penggunaan dilakukan dengan
mencampurkan beberapa tetes minyak aromaterapi kedalam wadah, serta
menutup kepala dengan kain lalu hirup uap yang keluar dari air hangat tersebut
selama 5-10 menit.
b) Diffuser Penggunaan diffusser lebih efektif dalam aromaterapi karena dapat
mengubah cairan minyak esensial menjadi molekul-molekul kecil dan
menghasilkan uap air yang membawa minyak esensial ke udara dengan cara yang
halus. Hal ini membantu menjaga kelembaban udara dan mendistribusikan aroma
secara merata
c) Pijat Aromaterapi Ketika dilakukan pijat aromaterapi perlu diperhatikan
pemilihan minyak essensial yang cocok. Teknik pemijatan dan pemilihan
aromaterapi akan sangat berpengaruh terhadap efek teraupetik yang dihasilkan.
d) Aromatherapeutic baths Dilakukan dengan merendam sebagian tubuh dalam air
pada suhu sekitar 40oC selama 15-30 menit serta tidak digunakan sabun yang
berbusa. Kemudian, aromaterapi berupa minyak essensial di teteskan ke dalam air.
Ketika tubuh terendam dalam air, minyak essensial akan berpenetrasi ke dalam
aliran darah melalui sebaceous, kelenjar keringat serta jalan napas yang akan
memberikan efek terapi pada kulit, saraf maupun sistem kardiovaskular.
e) Sauna Suhu tinggi yang diberikan dalam sauna akan membuat pembuluh darah
berdilatasi, maka minyak essensial akan terfasilitasi untuk berpenetrasi ke dalam
tubuh sehingga menstimulasi jalan napas dan membuat tubuh lebih rileks.
3) Akupresure
a. Definisi
Akupresur adalah suatu bentuk terapi fisik yang memijat dan menstimulasi
titik-titik tertentu pada tubuh (Komariah, 2021).
b. Titik Akupresur
a) Titik tubuh atau titik umum. Terletak di sepanjang meridian dan mempunyai
hubungan langsung dengan organ dan daerah aliran meridiannya.
b) Titik istimewa . Terletak di luar lintasan meridian serta memiliki fungsi khusus.
c) Titik nyeri. Disebut juga dengan titik yes point, titik ini apabila dirangsang akan
terasa nyeri walaupun titik ini tidak termasuk dalam titik istimewa ataupun titik
umum.
c. Teknik akupresur
Di dalam teknik akupresur terdapat 6 teknik dasar akupresur, teknik tersebut
antara lain :
a) Gosokan ringan
Gosokan ringan merupakan teknik yang sering digunakan, dimana gerakan
eksfoliasi dan pemijatan dilakukan pada tubuh menggunakan tangan kemudian
dilakukan secara lembut. Teknik ini memiliki tujuan untuk meningkatkan aliran
darah dan getah limfa serta merangsang sistem saraf pada otot dan organ dalam,
meningkatkan kepekaan indra kulit, memperbaiki fungsi kelenjar keringat dan
lemak, menyegarkan daya respirasi pori-pori.
b) Remasan ringan
Teknik ini biasanya dilakukan pada otot dengan menggunakan telapak tangan
dan jari, tanpa ada penekanan dari ujung jari. Teknik ini dilakukan secara lembut
dengan cara melakukannya dari bawah ke atas diiringi dengan putaran dan
cubitan halus.
c) Pijatan
Dalam pijatan telapak tangan dan ibu jari digunakan sebagai pusat
[Link] umum metode pijatan biasanya dipakai untuk pengobatan batuk,
pilek, influenza, sesak nafas, asma, stress penyakit kulit, kelumpuhan dan
gangguan sistem perkemihan dan kelamin serta gangguan peredaran darah dan
jantung.
d) Vibrasi
Teknik ini menggunakan gerakan ritmis pada telapak tangan dan ujung jari
untuk menggetarkan tubuh pasien dengan lembut. Gerakan ini dilakukan 10 –
40x per detik. Teknik ini berfungsi untuk saraf perifer yang penting untuk terapi
kelumpuhan terutama dilakukan pada otot di wilayah anggota gerak, juga dapat
untuk wilayah pinggang dan panggul.
e) Tepukan
Teknik ini secara fleksibel menggunakan bagian luar tangan dan pergelangan
[Link] ringan dilakukan secara ritmis pada tubuh [Link]
pemupukan dapat dilakukan dengan jari tangan untuk wilayah yang sempit dan
terbatas seperti pada wajah dan [Link] ini dilakukan dengan [Link]
ini dapat digunakan untuk menyembuhkan penyakit darah tinggi dan asma.
f) Tekanan/ tusukan dengan jari
Teknik ini dilakukan pada titik akupuntur, khusus yang terletak dibagian
punggung dan alat gerak (Tangan dan kaki) dilakukan dengan sedasi atau
stimulasi tergantung keperluannya
d. Cara Kerja Akupresur
Akupresur dipercaya digunakan untuk meredakan rasa nyeri dengan
meningkatkan hormon endorfin. Hormon endorphin dapat menimbulkan rasa nyaman
dan rileks dengan cara memblok reseptor nyeri ke otak. Pemberian tekanan pada titik
akupresur dapat mempengaruhi produksi hormon endorfin pada tubuh manusia.
Hormon endorfin merupakan hormon yang diproduksi oleh kelenjar hipofisis
dibagian bawah otak yang dikatakan 200x lebih efektif dibandingkan morfin sehingga
dapat menimbulkan perasaan nyaman dan senang serta membuat seseorang lebih ber
[Link] hormon endorfin diatur oleh sistem saraf. Sistem saraf sensitif
terhadap rasa sakit serta distimulasi dengan teknik akupresur.
a) Cara Pemijatan
Pijat akupresur dilakukan searah jarum jam dalam 30 lingkaran selama 3-5
[Link] tidak boleh terlalu kasar dan menimbulkan rasa sakit pada
pasien. Pijatan yang tepat dapat menimbulkan sensasi (menyenangkan, nyeri,
hangat, gatal, perih, kesemutan dan sebagainya). Ketika indera perasa tercapai
sehingga melancarkan peredaran chi dan Xue sehingga merangsang pelepasan
hormon endorfin yaitu hormon mirip morfin yang dihasilkan didalam tubuh
sehingga menimbulkan perasaan nyaman.
b) Penggunaan Alat Bantu
Akupresur dapat dilakukan dengan beberapa bantuan alat antara lain :
i. Moksa
ii. Kompres panas dan dingin
iii. Peralatan pijat elektrik
iv. Peralatan pijat mekanik
v. Infra merah.
4) Terapi Herbal (Fifoterapi)
a. Definisi
Penggunaan obat dari bahan alam dinilai lebih ekonomis dan mudah didapatkan oleh
masyarakat. Ditambah lagi terdapatnya kampanye “Back to nature” atau kembali
menggunakan bahan alam dalam kehidupan sehari-hari. “Sediaan farmasi yang
berupa Obat Bahan Alam harus memenuhi standar dan/ atau persyaratan, berupa
farmakope herbal Indonesia dan/ atau standar lainnya yang diakui” (Dewan
Perwakilan Rakyat RI, 2023). Fitoterapi adalah pengobatan dengan pemanfaatan
bahan-bahan yang berasal dari tumbuhan. Fitoterapi, atau terapi dengan
menggunakan tumbuhan dan herbal, memiliki sejarah panjang yang melibatkan
berbagai budaya dan peradaban di seluruh dunia.
b. Jenis – Jenis Terapi Herbal
Untuk mendorong peningkatan penggunaan obat-obatan herbal Indonesia
sekaligus memastikan pelestarian obat-obatan herbal, Indonesia menerapkan program
pengembangan multi-level di kelompok Jamu, Obat Herbal Terstandar, Fitofarmaka,
dan Obat Bahan Alam lainnya. Obat dari bahan alam menurut Undang-Undang
Kesehatan di Indonesia terdapat beberapa penggolongan, yaitu (Dewan Perwakilan
Rakyat RI, 2023):
a) Jamu
Jamu merupakan jenis pengobatan tradisional yang paling sederhana, dimana
bukti ilmiah mengenai efektivitas dan keamanannya hanya didasarkan pada bukti
eksperimental atau genetik. Sejak tahun 2018, budaya kesehatan Jamu
dikampanyekan di seluruh Indonesia dan diakui secara resmi oleh Kementerian
Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi Republik Indonesia sebagai bagian
integral dari warisan budaya tak benda nasional Indonesia.
b) Obat Herbal Terstandar
Obat herbal terstandar adalah Obat Bahan Alam yang telah digunakan sejak
lama di Indonesia yang digunakan untuk peningkatan kesehatan, pemeliharaan
kesehatan, pencegahan penyakit, pengobatan, dan/ atau pemulihan kesehatan yang
dibuktikan keamanan dan khasiatnya secara ilmiah melalui uji praklinik serta
bahan baku yang telah distandarisasi. Logo Obat herbal terstandar berupa” Jari-
Jari Daun (3 Pasang) Terletak Dalam Lingkaran”, dan tercetak pada bagian atas
sebelah kiri dari wadah/ pembungkus/ brosur.
c) Fitofarmaka
Fitofarmaka merupakan obat dari bahan alam yang digunakan untuk
peningkatan kesehatan, pemeliharaan kesehatan, pengobatan, pencegahan
penyakit, serta pemulihan kesehatan yang dibuktikan melalui uji klinik. Bahan
baku dan produk jadinya telah melalui uji keamanan dan khasiatnya secara ilmiah
dengan uji praklinik terstandar. Logo Fitofarmaka berupa “Jari-Jari Daun (Yang
Kemudian Membentuk Bintang) Terletak Dalam Lingkaran”, dan tercetak pada
bagian atas sebelah kiri dari wadah/ pembungkus/ brosur.
c. Pemanfaatan Bahan Alam Sebagai Terapi Herbal
a) Antibakteri
Antibakteri adalah zat yang berasal dari alam maupun hasil sintesis yang
dapat menghambat ataupun mematikan pertumbuhan bakteri. Menurut beberapa
hasil penelitian cukup banyak tumbuhan yang memiliki efek antibakteri, sehingga
dapat digunakan sebagai terapi tambahan dalam penanganan penyakit infeksi.
b) Antiinflamasi
Antiinflamasi adalah zat yang berasal dari alam maupun hasil sintesis yang
memiliki efek mengurangi peradangan pada bagian tubuh. Banyak penyakit yang
salah satunya menunjukan gejala peradangan seperti memerah, nyeri, panas,
pembengkakan dan penurunan fungsi organ.
c) Antioksidan
Antioksidan adalah zat yang yang berasal dari alam maupun hasil sintesis
dapat menghambat proses oksidasi senyawa lain. Proses oksidasi pada sel dapat
menyebabkan kerusakan sel pada jaringan tubuh. Oksidan berasal dari radikal
bebas yang berada di lingkungan. Antioksidan yang terdapat pada tumbuhan
umumnya berasal dari senyawa: (a) polifenol seperti asam fenolik, stilbena,
flavonoid (flavonol, flavanol, anthocyanin, flavanon, flavon, flavanonol, dan
isoflavon), kalkon, lignan, dan kurkuminoid; (b) karotenoid; (c) capsaicinoid dan
kasinoid; (d) isothiocyanates; dan (e) katekin (Pérez-Torres et al., 2021).
d) Antihipertensi
Antihipertensi adalah zat yang berasal dari alam maupun hasil sintesis dapat
menurunkan tekanan darah. Prevalensi pasien hipertensi di Indonesia sangat
tinggi. Penggobatan hipertensi yang dilakukan seumur hidup dengan tujuan
menjaga kestabilan tekanan darah membuat masyarakat seringkali jenuh dalam
menjalaninya
e) Antidiabetik
Antidiabetik adalah zat yang berasal dari alam maupun hasil sintesis dapat
menurunkan kadar gula dalam darah mencapai kadar gula normal yang diterima
tubuh. Diabetes di Indonesia merupakan penyakit kronis dengan prevalensi
terbanyak kedua setelah hipertensi
5) Meditasi dan Yoga
a. Definisi
Praktik meditasi dan yoga telah dikaitkan dengan peningkatan stres dan
peningkatan mekanisme penanganan stres. Mereka juga telah dikaitkan dengan
perubahan struktur otak, seperti volume amigdala dan hipokampus yang lebih kecil.
Selain itu, praktik-praktik ini telah menunjukkan harapandalam mengobati depresi
tingkat rendah hingga sedang, dengan lebih banyak peserta mengalami remisi
dibandingkan dengan control. Selain itu, penelitian telah menunjukkan bahwa
meditasi dan yoga dapat mengarah pada peningkatan kognisi, kesejahteraan
emosional, dan kimia otak, seperti peningkatan kadar gaba yang terkait dengan
penurunan kecemasan. (BERNARDO-FILHO ET AL., 2022).
Meditasi telah ditunjukkan untuk memiliki berbagai manfaat kesehatan,
seperti menurunkan tingkat stres, meningkatkan kesejahteraan mental, meningkatkan
kualitas tidur, dan menurunkan tekanan darah (Tang et al., 2015).
Terapi Yoga adalah pendekatan integratif yang menggabungkan asana
(gerakan fisik), pranayama (teknik pernafasan), dan meditasi untuk meningkatkan
kesehatan dan kebugaran. Terapi Yoga dapat digunakan untuk mengatasi berbagai
kondisi kesehatan, seperti stres, depresi, asma, hipertensi, dan kanker (Gong et al.,
2015).
b. Tujuan
a) Meditasi
Tujuan dari meditasi adalah untuk meningkatkan kesadaran, fokus, dan
ketenangan. Meditasi dapat dilakukan dengan berbagai cara, seperti meditasi
mindfulness, meditasi transcendental, dan meditasi loving-kindness. Semua
teknik ini bertujuan untuk membantu individu fokus pada saat ini dan
mengurangi rasa stres dan khawatir (Goyal et al., 2014).
b) Yoga
Tujuan terapi Yoga adalah untuk meningkatkan kesehatan dan kebugaran
fisik, mental, dan emosional. Terapi Yoga menggabungkan asana (gerakan fisik),
pranayama (teknik pernafasan), dan meditasi untuk membantu individu mencapai
keseimbangan dan kesejahteraan (Gong et al., 2015).
c. Gerakan Meditasi Dan Yoga
a) Gerakan Meditasi
i. Meditasi Awareness of Breath (Kesadaran Nafas)
- Duduk dengan posisi yang nyaman dengan tulang punggung tegak
lurus.
- Tutup mata dan fokus perhatian pada nafas.
- Hisap nafas melalui hidung dan rileks keluar melalui mulut.
- Jangan memaksakan nafas, tetapi biarkan alirannya alami.
- Jika hati teralih ke pikiran lain, kembali ke fokus pada nafas.
ii. Meditasi Body Scan (Skanning Tubuh)
- Duduk atau tidur dengan posisi yang nyaman.
- Tutup mata dan fokus perhatian pada bagian tubuh yang berbeda,
mulai dari kepala hingga kaki.
- Rileks setiap bagian tubuh dan biarkan rasa yang ada di sana, baik
rasa nyaman ataupun sakit.
- Jika hati teralih ke pikiran lain, kembali ke fokus pada bagian tubuh
yang sedang di scan.
iii. Meditasi Loving-Kindness (Kasih Sayang)
- Duduk dengan posisi yang nyaman dengan tulang punggung tegak
lurus
- Tutup mata dan fokus perhatian pada diri sendiri.
- Bayangkan diri sendiri dalam keadaan sejahtera dan bahagia
- Ucapkan kalimat-kalimat positif kepada diri sendiri, seperti "Aku
damai", "Aku diberkati", "Aku sehat"
- Kemudian, fokus perhatian pada orang lain dan ucapkan kalimat-
kalimat positif kepada mereka.
iv. Meditasi Walking (Medita Berjalan)
- Temukan tempat yang tenang dan aman untuk berjalan.
- Jalan dengan langkah yang nyaman dan fokus perhatian pada gerakan
kaki.
- Biarkan pikiran bebas dan fokus pada gerakan kaki.
- Jika hati teralih ke pikiran lain, kembali ke fokus pada gerakan kaki.
v. Tadasana (Mountain Pose)
- Berdiri dengan kaki bersama dan tulang punggung tegak lurus.
- Rilekskan bahu dan tangan di samping tubuh.
- Tegakkan kepala dan perhatikan nafas.
vi. Utkatasana (Chair Pose)
- Berdiri dengan kaki sedikit terbuka dan tulang punggung tegak lurus.
- Sungkupkan lutut seperti duduk di kursi yang tidak ada.
- Tangan diangkat ke atas kepala dengan jari jari berjajar
x. Warrior II (Virabhadrasana II)
- Langkah ke kanan dengan kaki lebar.
- Kerucutkan lutut kanan dan letakkan kaki kiri miring ke luar.
- Tegakkan tulang punggung dan arahkan dada ke depan.
- Tangan di keluarkan ke samping dengan jari jari berjajar
xi. Tree Pose (Vrksasana)
- Berdiri dengan kaki kiri tegak lurus dan letakkan kaki kanan di pahat
lutut kiri.
- Tangan diangkat ke atas kepala dengan jari jari berjajar.
- Tetap tegak dan fokus pada suatu titik di depan.
xii. Downward-Facing Dog (Adho Mukha Svanasana)
- Mulai dari posisi sphinx, letakkan kakinya ke belakang.
- Angkat bahu dan tegakkan tulang punggung.
- Letakkan kakinya pada lantai dengan lutut ditekuk.
- Jari-jari kaki dipisahkan sedikit dan jarak antara kakinya sama dengan
lebar bahu.
- Tangan ditekuk di bawah bahu dengan jari-jari menempel pada lantai.
6) Terapi Musik
a. Definisi
Dibandingkan dengan pendekatan non-farmakologis lainnya, musik
merupakan intervensi non-invasif dan berbiaya rendah yang sering digunakan di
lingkungan pelayanan kesehatan yang terbukti memiliki efek yang signifikan secara
keseluruhan terhadap pengurangan stres baik secara fisiologis (misalnya detak
jantung, tekanan darah, dan tingkat hormon) dan psikologis (misalnya kegelisahan
dan kecemasan) (de Witte et al., 2020). Terapis musik melibatkan peserta dalam
berbagai pendekatan aktif dan pasif untuk mendengarkan, mendiskusikan,
menciptakan, berimprovisasi, dan menampilkan musik (Ghetti et al., 2022) Terapi
musik adalah proses intervensi yang sistematis dimana terapis membantu pasien
untuk meningkatkan kesehatan(Kenneth Bruscia 2014), dalam (Geretsegger et al.,
2022).
b. Tujuan Terapi Musik
a) Meningkatkan komunikasi dan interaksi sosial dan integrasi sensorik, pengaturan
emosi, pembentukan identitas serta kebutuhan kreatifitas yang dapat
meningkatkan kualitas hidup.
b) Perawatan kesehatan dan pendidikan, mengelola stress, mengurangi rasa sakit,
mengekspresikan perasaan, meningkatkan daya ingat, meningkatkan komunikasi,
mempromosikan rehabilitasi fisik (American Musik Therapy Association
(AMTA), 2019)
c. Manfaat Terapi Musik
a) Perawatan Kritis / Intensif.
Unit perawatan kritis adalah salah satu lingkungan medis yang paling banyak
menimbulkan kecemasan bagi pasien dan pengasuhnya. Pasien yang sakit kritis
sering kali mengalami kecemasan, depresi, gangguan stres pasca trauma,
gangguan kognitif, dan penurunan kesehatan secara umum (Harris, 2014).
Intervensi musik dapat digunakan sebagai intervensi keperawatan untuk
mengendalikan delirium, nyeri, kebutuhan akan obat penenang dan kecemasan
(Dallı et al., 2023). Terapi musik sangat efektif dalam mengurangi kecemasan
dan rasa sakit serta menstabilkan parameter fisiologis yaitu denyut jantung dan
laju pernafasan (Lorek et al., 2023)
b) Pasien Autisme
Ada beberapa teori psikologis dan model neurobiologis yang bertujuan untuk
menjelaskan mekanisme yang digunakan terapi musik untuk membantu pasien
autisme. Penyelarasan musik dan emosi dalam proses terapi musik dapat
mendukung respons sosial pada anak-anak autis (Mössler et al., 2020).
Pemberian terapi musik jika dibandingkan dengan terapi perawatan lainnya dapat
meningkatkan kualitas hidup dan mengurangi tingkat keparahan dari gejala
autisme dan tidak memiliki efek samping (Geretsegger et al., 2022). Pendekatan
terapi musik untuk penyandang autisme didasarkan pada konsep persepsi
sensorik, perkembangan, kreatif, perilaku, dan pendidikan (Bergmann, 2016).
c) Pasien Neurorehabilitasi
i. Stroke
Stroke adalah salah satu penyebab utama kematian dan kecacatan
jangka panjang dan merupakan beban yang signifikan bagi individu dan
sistem perawatan kesehatan. Terapi musik neurologis pada pasien stroke
sangat membantu dalam meningkatkan mood, gerakan, dan konsentrasi
(Street et al., 2020)
ii. Dementia (Lanjut Usia)
Populasi yang menua meningkat dengan cepat, dan diprediksi bahwa
satu dari enam orang akan berusia 65 tahun ke atas pada tahun 2050
(Department of Economic and Social Affairs; United Nations, 2019) Selain
usia, faktor risiko demensia lainnya adalah riwayat keluarga (genetik), risiko
kardiovaskular (misalnya, hipertensi, dislipidemia, merokok, stroke), dan
jenis kelamin perempuan (Chen et al., 2016). Terapi musik untuk
peningkatan fungsi kognitif, pengobatan depresi jangka panjang. Selain itu,
terapi musik tampaknya meningkatkan kualitas hidup penderita demensia
(Moreno-Morales et al., 2020). Menurut Lam et al (2020), terapi musik dapat
meningkatkan kefasihan verbal dan mengurangi kecemasan, depresi, dan
sikap apatis pada pasien tertentu yang hidup dengan demensia
iii. Penyakit Parkinson
Parkinson adalah adalah kondisi neurodegeneratif yang umum terjadi
dan berhubungan dengan berbagai gejala motorik dan non motorik. Penelitian
yang dilakukan pada pasien parkinson menyoroti potensi positif dari
intervensi seni berupa terapi musik dan menyanyi untuk meningkatkan fungsi
berbicara, fungsi motorik, kognisi dan kualitas hidup pada Parkinson (Barnish
& Barran, 2020).
d) Gangguan Mental, Fisik, Emosional.
Stres diyakini sebagai salah satu faktor utama yang berdampak negatif pada
kesehatan kita. Terapi musik adalah praktik non-invasif, non-farmasi dan efisien
untuk meredakan kecemasan pasien di ruang perawatan intensif / Intensive Care
Unit (ICU). (Chahal et al., 2021) Kecemasan pasien merupakan masalah yang
signifikan saat berada di ruangan pembedahan dan pasien sering merasa
ditinggalkan oleh keluarga karena mereka menunggu operasi (Clarke et al.,
2013), Oleh karena itu, terapi musik hadir dalam menurunkan kecemasan pasien
dan keluarga. Terapi musik dalam konteks bedah adalah penggunaan terapi
musik untuk mengurangi kecemasan, mengelola rasa sakit dan menutupi
rangsangan suara yang merugikan selama pengalaman pembedahan (Lane et al.,
2019)
e) Kesehatan Anak.
Terapi musik pada anak-anak adalah merupakan intervensi psikologis,
neurologis, dan fisiologis yang sering kali berfokus pada kesejahteraan
emosional anak, mengatasi kesulitan anak dengan komunikasi sosial, harga diri,
dan keterikatan (Aigen, 2014). Terapi musik yang dilakukan secara signifikan
meningkatkan perkembangan kemampuan kosakata pada anak pendidikan usia
dini (Linnavalli et al., 2018)
f) Kebutuhan Spiritual.
Sepanjang waktu, musik telah dikaitkan dengan hal yang ilahi. Musik
digunakan dalam semua tradisi keagamaan untuk meningkatkan doa dan iman,
menyediakan sarana untuk memohon, berdoa, dan memuji. Musik dapat
mengingatkan orang akan hubungan mereka dengan Tuhan (Gabrielsson, 2011).
d. Jenis-Jenis Terapi Musik
Berikut ini, jenis terapi musik dibedakan menjadi dua bahagian :
a) Terapi Musik Pasif.
Terapi musik pasif adalah terapi nonfarmakologis di mana terapis berlisensi
memberikan intervensi berbasis musik pasif (misalnya mendengarkan)
(McPherson et al., 2019)
b) Terapi Musik Aktif.
Terapi musik aktif mencakup intervensi musik yang melibatkan interaktif
pasien dalam musik, bermain musik, menciptakan musik (De La Rubia Ortí et al.,
2018), dan menciptakan kembali, mengimprovisasi, atau menggubah musik
(American Musik Therapy Association (AMTA), 2019). Pendekatan terapi musik
aktif telah digunakan baik secara mandiri maupun sebagai bagian dari politerapi
(penggunaan pengobatan yang menggabungkan dua atau lebih terapi) untuk
mengobati satu kondisi atau meringankan gejala beberapa gangguan kejiwaan atau
neurologis yang berkaitan dengan fungsi kognitif, emosional, sosial, dan motorik.
Terapi musik aktif sebagai kombinasi musik dan terapi di mana pasien secara aktif
berpartisipasi dalam membuat musik daripada secara pasif terpapar musik. Terapi
musik aktif dapat terdiri dari beberapa aktivitas musik, termasuk latihan ritmik,
alat musik, dan bernyanyi (Schneider et al., 2022)
e. Jenis Musik Dalam Terapi Musik
Menurut Pratiwi (2021), jenis musik yang biasa digunakan dalam pelaksanaan terapi
musik yaitu :
a) Musik Meditasi
Musik meditasi yang pelan, mengalun dan menghanyutkan biasanya diputar
saat kegiatan yoga. Musik ini bermanfaat dalam mengurangi tingkat kecemasan,
bahkan dapat mengurangi serangan panik yang tiba-tiba terjadi, menurunkan
gangguan kardiovaskuler seperti menurunkan tekanan darah dan kadar kolesterol
dan dipercaya dapat meningkatkan memori otak seseorang.
b) Musik Pop Dan Jazz
Saat seseorang mengalami penyakit pada bagian saraf, music pop dan jazz
dapat mengurangi rasa sakit dan dapat memperbaiki bagian saraf yang rusak
akibat kecelakaan.
c) Musik Klasik
Terapi bonny method biasanya menggunakan musik klasik dalam
pengobatan. Dinamakan terapi bonny method karena terapi ini diambil dari nama
orang yang mencetuskan terapi ini. Musik klasik digunakan dalam terapi bonny
method untuk membantu perkembangan dalam bentuk kesadaran dan
transformasi psikologi. Selain itu musik klasik dapat membantu seseorang yang
mengalami kesulitan tidur, mengurangi kerja sistem saraf simpatik, mengatur
pola nafas dan dapat menurunkan kecemasan
d) Musik Rock
Musik rock ketika didengar dalam waktu beberapa menit dapat menstimulasi
mood dan mengurangi kesakitan. Beat yang dihasilkan dari musik rock
digunakan dalam mengalihkan perhatian dan fokus dari rasa sakit yang diderita
bahkan membantu tubuh dalam mengeluarkan hormon endorphin sehingga rasa
sakit tidak dapat dipersepsikan.
f. Mekanisme Kerja Terapi Musik
Mekanisme kerja musik dimulai ketika seseorang mendengarkan musik
menggunakan indera pendengarannya. Fenomena ini melibatkan perubahan kompresi
dan dekompresi molekul udara ke dalam persepsi sadar akan suara. Komponen
pendengaran yang terlibat meliputi gendang telinga, malleus, incus, stapes dan rumah
siput yang mentransmisikan getaran ke sillia diteruskan ke saraf pendengaran dan ke
otak, tempat kognitif menerima sinyal listrik sebagai suara. Ada empat tingkat atau
mekanisme yang bertanggung jawab terhadap efektifitas terapi musik dan pengobatan
musik (Gambar 1) (Clements-Cortes & Bartel, 2018) :
a) Level 1 : Respon Kognitif
Level 1 respon kognitif dibagi menjadi 2 yaitu:
i. Level 1.a: Analitik, Emosional dan Asosiasi
Respons fisiologis dan emosional terhadap musik diciptakan oleh kumpulan
asosiasi yang dipelajari dengan musik, dan bahwa asosiasi ini unik untuk setiap
individu. Asosiasi terhadap musik terbentuk di masa kanak-kanak dan terus
dibangun seiring bertambahnya usia. Dengan memicu kenangan pedih yang
terkait dengan musik tertentu, musik dapat membangkitkan emosi dan
kemudian ketika seseorang mendengar musik itu, hal itu dapat mengaktifkan
memori emosional dan memicu peristiwa emosi yang terkait. Pada populasi
lanjut usia, kebutuhan emosional dan sosial lansia dapat dipenuhi melalui
kehadirannya saat menyanyi, dan mendengarkan musik yang dapat
meningkatkan suasana hati dan energi serta berkurangnya rasa sakit.
ii. Level 1.b Respon yang dipelajari yang bersifat Isomorfik dan primal
Membedakan respons terhadap musik yang telah dipelajari sejak dini, dari
respons yang mungkin bersifat biologis dan bawaan yang bersifat isomorfik
dan primal. Sebagai contoh, bayi mendengar selama berbulan-bulan sebelum
mereka dilahirkan dan terpapar dengan detak jantung ibu dan suara rahim dan
kemudian pada bulan-bulan setelah kelahiran terus belajar dan merespons
musik
b) Level 2 : Proses Kognitif
Level 2 dalam model kami melibatkan mekanisme sirkuit saraf diaktifkan
oleh proses kognitif. Misalnya, ketika seseorang kehilangan kemampuan
berbahasa karena stroke, musik dengan bahasa akan mengaktifkan sirkuit
berbeda di otak dan dengan demikian dapat mengatur fungsi bahasa. Pendekatan
ini dapat berfokus pada gerakan, ucapan dan bahasa, serta proses kognitif lainnya
seperti memori. Praktek musik ini dikenal sebagai Terapi Musik Neurologis
didasarkan pada mekanisme saraf dari proses kognitif.
c) Level 3 : Stimulasi Saraf
Level 3 model berfokus pada mekanisme koherensi osilasi saraf—yaitu, lebih
banyak neuron yang bekerja secara sinkron. Stimulasi ritmis pada indera
(pendengaran, visual, sentuhan) dapat mengakibatkan peningkatan aktivitas saraf
dengan potensi memberikan beberapa efek menguntungkan
d) Level 4 : Respon Sel
Level 4 mengusulkan adanya mekanisme yang diaktifkan oleh musik dan
suara di tingkat sel.
Dewi, S. U., Pratiwi, A., & Muthia, A. (2024). Jurnal Keperawatan Widya Gantari Indonesia, 8(1),
Maret. [Link]
Rakhmawati, N. E., Tjita, J. P., Setyanto, R. B., Pratiwi, A. I., Iskandar, & Asep, H. (2020). Terapi
komplementer sebagai alternatif pengobatan. SENADA: Semangat Nasional Dalam Mengabdi, 1(1),
79–86.
Lilyana, M. T. A. (2023). Pemanfaatan titik Taichong (LR 3) sebagai terapi komplementer: Studi
literatur. Jurnal Ners Lentera, 11(2), September.
Nurhidayati, I., Muflih, M., & Erwanto, R. (2024). Persepsi lansia terhadap penggunaan terapi
komplementer dan alternatif sebagai mitigasi masalah kesehatan. Jurnal Keperawatan
Komplementer Holistic, 2(2), Juli.
Hutapea, L. M. N. (2023). Terapan dasar keperawatan komunitas.
Bandung Barat: CV Green Publisher Indonesia. ISBN: 978-623-8254-84-2
Susanti, F., Sucipto, A., Firsty, L., Panma, Y., Hidayah, N., Idramsyah, Noraduola, D. R., Aniarti, R.
P., Muslim, Z., Masithoh, R. F., Horhoruw, A., Djafar, I., Rahayu, S., Dzulfaijah, N. E., Ningtyas, N.
W. R., & Rahmawati, E. (2024). Terapi keperawatan komplementer untuk mahasiswa keperawatan.
Kabupaten Purbalingga: CV Eureka Media Aksara. ISBN : 978-623-120-441-7
Hindriyastuti, S., Selviani, A. A. P., Ludfi, M. N. A., & Shofiyani, R. (2024). Pengaruh aromatherapy
terhadap kecemasan pada pasien penderita koroner akut: Literature review. Jurnal Profesi
Keperawatan, 11(2), Juli. [Link]
Putri, N. T., Asthiningsih, N. W. W., & Milkhatun. (2024). Pengaruh music therapy terhadap
penurunan hiperaktivitas pada anak dengan gangguan attention deficit hyperactivity disorder
(ADHD): Literature review. Jurnal Keperawatan Merdeka, 4(1), Mei.