0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
7 tayangan43 halaman

PTK

Dokumen ini membahas penelitian tindakan kelas yang bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar Biologi siswa kelas XI di SMA Negeri 1 Sausapor melalui penggunaan alat peraga torso manusia. Penelitian ini mengidentifikasi masalah kurangnya inovasi dalam pembelajaran Biologi dan berfokus pada penerapan media pembelajaran yang lebih menarik untuk membantu siswa memahami materi yang bersifat abstrak. Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan manfaat bagi siswa, guru, dan sekolah dalam meningkatkan kualitas pendidikan.

Diunggah oleh

husenkamarudin06
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
7 tayangan43 halaman

PTK

Dokumen ini membahas penelitian tindakan kelas yang bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar Biologi siswa kelas XI di SMA Negeri 1 Sausapor melalui penggunaan alat peraga torso manusia. Penelitian ini mengidentifikasi masalah kurangnya inovasi dalam pembelajaran Biologi dan berfokus pada penerapan media pembelajaran yang lebih menarik untuk membantu siswa memahami materi yang bersifat abstrak. Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan manfaat bagi siswa, guru, dan sekolah dalam meningkatkan kualitas pendidikan.

Diunggah oleh

husenkamarudin06
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

PTK (Penelitian Tindakan Kelas)

A. JUDUL
Meningkatkan Hasil Belajar Biologi Melalui Penggunaan Alat Peraga Torso untuk
Siswa Kelas XI IPA Biologi BIOLOGI di SMA Negeri 1 Sausapor

BAB I
PENDAHULUAN

B. LATAR BELAKANG
Salah satu tujuan dari negara Indonesia adalah mencerdaskan anak bangsa.
Bentuk upaya untuk mencerdaskan kehidupan bangsa adalah melalui jalur pendidikan.
“Pendidikan adalah suatu hal yang sangat penting bagi kehidupan dan kemajuan
bangsa, sejak manusia menghendaki kemajuan dalam kehidupan, sejak itulah timbul
gagasan untuk melakukan pengalihan, pelestarian, dan pengembangan kebudayaan
melalui pendidikan. Masalah yang dihadapi dunia pendidikan salah satunya adalah
lemahnya inovasi dalam proses pembelajaran Biologi dimana seorang guru di tuntut
mampu menciptakan perubahan pembelajaran yang out of the box dalam mendukung
hasil belajar Biologi siswa. Standar kompetensi yang harus dicapai dalam materi
tersebut adalah siswa mampu memahami materi biologi yang bersifat abstrak seperti
sistem rangka manusia, sistem pencernaan dan sebagainya. Materi yang berkaitan
dengan sistem pada manusia bersifat abstrak dan berhubungan dengan fungsi dan
proses yang kompleks.

Kompetensi dasar pada materi tersebut adalah siswa dapat meningkatkan hasil
belajar biologi. Dalam mata perlajaran biologi banyak materi yang memerlukan
variasi media pembelajaran agar siswa lebih bisa memahami konsep yang diajarkan.
Materi yang berhubungan dengan sistem organ tubuh manusia yang ada dalam
pelajaran biologi adalah materi yang cukup sukar apabila dalam pembelajarannya
hanya menggunakan buku, belum adanya inovasi yang dilakukan dalam
pembelajaran, serta kurangnya variasi media pembelajaran yang digunakan sehingga,
siswa kurang tertarik dalam mengikuti pembelajaran dikarenakan materi yang bersifat
abstrak sehingga untuk mengkonkretkannya diperlukan suatu media. Proses
pembelajaran tidak mungkin terwujud dengan baik jika guru dan siswa tidak
didukung oleh media yang sesuai, dimana media pembelajaran adalah alat peraga.
“Alat peraga pendidikan sebagai instrument audio maupun visual yang digunakan
untuk membantu proses pembelajaran menjadi lebih menarik dan membangkitkan
minat siswa dalam mendalami suatu materi.
Alat peraga atau praktik biologi dapat menggunakan media alat peraga torso
manusia, dan tidak memerlukan keterampilan khusus dalam penggunaan alat dan
bahan, dapat menjelaskan dan menunjukkan dan membuktikan konsep-konsep dan
organ-organ yang sedang dipelajari. Ada beberapa hal yang penting diperhatikan
dalam pembelajaran biologi yaitu tersedianya sarana dan prasarana berupa ruang
laboratorium atau alat peraga yang sesuai. Kegiatan pembelajaran dengan
menggunakan alat peraga adalah wujud perpaduan konsep abstrak dengan dunia nyata
sehingga nampak korelasi antara apa yang dipelajari siswa dari teori dan prakteknya
agar proses pendidikan lebih efektif dengan jalan meningkatkan hasil belajar biologi
siswa.
Pada hakikatnya guru dapat mencari alternatif lain sebagai pendukung proses
belajar mengajar agar dapat terlaksana dengan baik, karena pembelajaran biologi
menuntut guru untuk aktif dan kreatif dalam berbagai penggunaan media pembejaran
walau hanya media sederhana apabila media tersebut belum tersedia. Kurikulum 2013
menekankan bahawa guru merupakan fasilitator, maka guru dapat mendampingi serta
memantau dari hasil belajar biologi. Penggunaan alat peraga torso manusia dapat
menjadi solusi alternatif dalam mendukung proses pembelajaran materi biologi yang
berhubungan dengan sistem organ manusia Dalam pelaksanaannya, materi ini sangat
membutuhkan suatu penggunaan alat peraga atau media. Dengan penggunaan alat
peraga sebagai media belajar, maka dapat memudahkan guru dan siswa dalam proses
belajar mengajar. Pelaksanaan penulisan penelitian tindakan kelas ini berdasarkan
pada suatu keadaan dimana keadaan siswa dikelas tidak mempunyai gambaran real
tentang alat-alat organ tubuh manusia, maka guru berinovasi serta menilai
pemahaman atas nilai siswa dalam penggunaan alat peraga torso manusia, siswa ingin
melihat sesuatu yang baru dalam proses pembelajaran dan pengajaran yang
disampaikan oleh guru mereka.
Berdasarkan latar belakang tersebut penulis tertarik mengadakan Penelitian
Tindakan Kelas dengan judul “Meningkatkan Hasil Belajar Biologi Melalui
Penggunaan Alat Peraga Torso untuk Siswa SMA Negeri 1 Sausapor”.
C. RUMUSAN MASALAH Berdasarkan latar belakang diatas, maka dirumuskan
masalah yaitu Apakah proses penelitian tindakan kelas dalam dapat Meningkatkan
Hasil Belajar Biologi Melalui Penggunaan Alat Peraga Torso untuk Siswa Kelas
SMA Negeri 1 Sausapor.
D. IDENTIFIKASI MASALAH
Berdasarkan latar belakang yang telah dijelaskan, maka dapat diidentifikasi masalah
sebagai berikut:
1. Apakah salah satu masalah yang dihadapi dunia pendidikan saat ini yang banyak
terjadi di sekolah?
2. Apa yang dilakukan seorang guru agar membuat siswa dapat tertarik di dalam
proses pembelajaran?
3. Mengapa sarana dan prasarana itu berperan penting di dalam proses pembelajaran
saat dilaboratorium?
4. Apa yang menjadi salah satu solusi alternatif dalam mendukung proses
pembelajaran materi sistem pencernaan di sekolah?
5. Mengapa dalam pelaksanaan materi sistem pencernaan sangat membutuhkan suatu
penggunaan alat peraga atau media?
6. Bagaimana hubungannya antara penggunaan alat peraga torso dengan kemampuan
siswa dalam hasil belajar Biologi?
E. PEMBATASAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang dan identifikasi masalah yang telah dijelaskan, maka
masalah hanya dibatasi Meningkatkan Hasil Belajar Biologi Melalui Penggunaan Alat
Peraga Torso untuk Siswa SMA Negeri 1 Sausapor.
F. TUJUAN DAN MANFAAT
1. Tujuan Penelitian Berdasarkan perumusan masalah yang telah dijelaskan maka
tujuan penelitian adalah untuk mengetahui data empiris tentang:
1. Meningkatkan Hasil Belajar Biologi Melalui Penggunaan Alat Peraga Torso
untuk Siswa SMA Negeri 1 Sausapor
2. Manfaat Penelitian Adapun kegunaan penelitian dibedakan menjadi dua
kategori, yaitu:
a. Kegunaan Teoritik Adapun keguanaan teoritik adalah sebagai salah satu
bahan acuan keilmuan untuk kepentingan penelitian dalam masalah yang
sama atau terkait dimasa yang akan datang dan akan memperoleh
pengetahuan. Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi para guru
dalam memotivasi siswa dalam belajar. Bermanfaat bagi pengembangan
teori penelitian lebih lanjut untuk memverifikasi teori atau hasil penelitian
sebelumnya guna dapat menemui fakta terbaru tentang Meningkatkan
Hasil Belajar Biologi Melalui Penggunaan Alat Peraga untuk Siswa SMA
Negeri 1 Sausapor.
b. Kegunaan Praktik
a. Bagi Siswa Meningkatkan hasil belajar dan solidaritas siswa untuk
menemukan pengetahuan dan mengembangkan wawasan,
meningkatkan hasil belajar biologi.
b. Bagi Guru Sebagai sumber informasi dan referensi dalam
pengembangan penelitian tindakan kelas dalam menumbuhkan rasa
motivasi terhadap siswa.
c. Bagi Sekolah Sebagai bahan masukan bagi sekolah untuk memberikan
motivasi serta menambahkan kelengkapan sarana dan prasarana di
laboratorium untuk dBiologikai dalam pelajaran praktikum.
d. Bagi Peneliti Penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan
pemikiran khusus bagi calon guru mata pelajaran biologi sebagai
bahan pemikiran untuk menghadapi masalah yang terjadi dalam proses
belajar mengajar. Bagi peneliti, penelitian ini sangat bermanfaat
terutama dalam meningkatkan kompetensi dalam melaksanakan tugas
sebagai guru di sekolah.
BAB II
KAJIAN TEORI

A. KAJIAN TEORI
a. Hasil Penelitian yang Relevan Pada penelitian ini, penulis merujuk kepada
penelitian-penelitian terdahulu yang relevan, dan hasil-hasil penelitian terdahulu
yang relevan adalah sebagai berikut:
1. Menurut hasil skripsi yang dilakukan oleh Saputra Agusrio Riska dkk., 2013,
Penerapan Metode STAD Disertai Media Torso untuk Meningkatkan Aktivitas
dan Hasil Belajar Biologi menyatakan bahwa : Berdasarkan hasil penelitian
tindakan kelas yang dilakukan dengan menggunakan metode Student Team
Achievement Division (STAD) disertai Media Torso dan hasil analisis data
hasil penelitian serta pembahasan yang telah dikemukakan, maka dapat
disimpulkan bahwa:
1. Pembelajaran dengan menggunakan Metode STAD disertai Media Torso
dapat meningkatkan aktivitas belajar biologi siswa kelas XI BIOLOGI
semester genap SMA Negeri 1 Sausapor tahun pelajaran 2022/2023. Hal
ini dapat dilihat dari peningkatan rata-rata persentase aktivitas belajar
siswa dari siklus I adalah 63% ke siklus II adalah 72%. Kemudian
didapatkan rata-rata aktivitas belajar siswa dari siklus I ke siklus II adalah
sebesar 9%.
2. Pembelajaran dengan menggunakan Metode STAD disertai Media Torso
dapat meningkatkan hasil belajar biologi siswa kelas XI BIOLOGI
semester genap SMA Negeri 1 Sausapor tahun pelajaran 2022/2023. Hal
ini dapat dilihat dari peningkatan rata-rata hasil belajar siswa dari skor
awal siklus I adalah 53,.2, dan pada akhir siklus I adalah 65,14, kemudian
ke siklus II sebesar 72,28%. Kemudian didapatkan rata-rata hasil belajar
siswa dari siklus I ke siklus II sebesar 7,14%.
B. RENCANA PENELITIAN
a. Setting dan Karakteristik Subyek Penelitian SMA Negeri Sausapor adalah sekolah
menengah yang berada dibawah naungan Ibu Yulice Yewun Dan merupakan
sekolah yang telah didirikan di Desa Bondek Kecamatan Sausapor Kabupaten
Tambrauw Provinsi Papua Barat Daya. Dan diprediksikan akan menjadi sekolah
yang terfavorit yaitu sebuah Sekolah Negeri yang berada dibawah naungan Dinas
Pendidikan Kabupaten Tambrauw. Tahun 2023 : VISI : Menjadi Sekolah yang
unggul dalam prestasi di bidang pendidkan. MISI : Mengembangkan potensi
peserta didik secara optimal melalui pendidikan dan pengajaran [Link]
siswa SMA Negeri 1 Sausapor untuk mau dan mampu serta mencintai Belajar.
b. Waktu Penelitian
Waktu penelitian yang dilakukan peneliti di gambarkan dalam bentuk tabel yaitu
sebagai berikut :

JADWAL JADWAL KEGIATAN PENELITIAN TINDAKAN KELAS SMA


BPK PENABUR BOGOR TAHUN PELAJARAN 2022/2023

Jenis
N JulI Agustus September Oktober November
Kegiatan
o
Minggu 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
1. Persiapan ✓ ✓ ✓ ✓
Penelitian :
a. Pengajian
Permohon
an Izin
b. Identifikas
i Masalah
c. Diskusi
Penentuan
Masalah
d. Pembuata
n Proposal
Kegiatan
2. Pelaksanaan ✓ ✓
Penilaian Pra
Tindakan
3. Pelaksanaan ✓ ✓ ✓ ✓ ✓
Penelitian
Siklus I
a. Penentuan
Rencana
Tindakan
b. Pelaksana
an
Rencana
Tindakan
c. Observasi
d. Refleksi
4. Pelaksanaan ✓ ✓ ✓ ✓
Penelitian
Siklus II
a. Penentua
n
Rencana
Tindakan
b. Pelaksana
an
Rencana
Tindakan
c. Observasi
d. Refleksi
5. Pengelolaha ✓ ✓ ✓
n Data
6. Penyusunan ✓ ✓ ✓
Laporan
a. Penyusun
an Draf
Penelitian
b. Penyemp
urn aan
Draf
c. Finishing

d. Subjek Penelitian Subjek penelitian tindakan kelas ini adalah siswa kelas XI SMA
Negeri 1 Sausapor Unit Pendidikan Kecamatan Sausapor Tengah pada semester I
Tahun Pelajaran 2022/2023. Siswa kelas XI BIOLOGI berjumlah 31 siswa, Usia
siswa kelas XI MBIOLOGI SMA Negeri 1 Sausapor Tahun Pelajaran 2022/2023
adalah sekitar 16 – 17 tahun.
e. Metode Pengumpulan Data Pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian ini
yaitu melalui observasi dan test tertulis yang diberikan kepada setiap sampel yang
telah ditentukan
1. Sumber Data Sumber data yang dalam penelitian ini adalah: Dalam Penelitian
Tindakan Kelas ini terdapat dua sumber data, yaitu sumber data primer dan
sumber data sekunder. Sumber data primer adalah data yang bersumber dari
subjek penelitian. Dalam Penelitian Tindakan Kelas ini sebagai sumber data
primer adalah siswa kelas XI MBIOLOGI SMA Negeri 1 Sausapor pada semester
II tahun pelajaran 2022/2023. Sumber data sekunder adalah data yang bersumber
dari selain sumber data primer, yaitu guru kelas lain dalam sekolah tersebut yang
diajak bekerja sama atau berkolaborasi sebagai observer dalam penelitian tindakan
kelas. Sumber data primer yang berupa nilai hasil belajar. Ada tiga macam nilai
yang diambil dari subjek penelitian ini, yaitu nilai kondisi awal, nilai akhir siklus
I, dan nilai akhir siklus II. Dari tiga macam nilai tersebut yang dijadikan sebagai
dasar penentuan ada tidaknya peningkatan hasil belajar adalah nilai kondisi awal
dan nilai akhir siklus. Karena dalam Penelitian Tindakan Kelas ini terdapat dua
siklus, maka terdapat dua nilai akhir siklus, yaitu nilai akhir siklus I dan nilai akhir
siklus II. Nilai pertama diperoleh melalui tes di akhir siklus I, dan nilai kedua
diperoleh melalui tes di akhir siklus II. Sumber data sekunder diperoleh melalui
kegiatan observasi yang dilakukan bersama kolaborator atau teman sejawat.
Kegiatan observasi dilakukan untuk mengamati minat belajar, aktivitas guru dan
aktivitas siswa selama kegiatan pembelajaran siklus I dan siklus II.
2. Indikator Kinerja (Kriteria Keberhasilan) Berisi berupa indikator keberhasilan
yang menjadi acuan keberhasilan dalam setiap tindakan, berupa gradasi seperti :
1. 81 – 100 : sangat berhasil
2. 75 – 80 : berhasil
3. 69 – 74 : cukup berhasil
4. 63 – 68 : kurang berhasil
5. 57 – 62 : tidak berhasil
BAB III
METODE PENELITIAN

A. PROSEDUR PENELITIAN
1. Desain Penelitian Desain penelitian digambarkan sebagai berikut:

Keterangan:

Siklus I : Tanpa perlakuan yaitu tanpa menggunakan media pembelajaran (siswa


belajar tidak menggunakan torso manusia sebagai media
pembelajaran)
Siklus II : Dengan perlakuan yaitu dengan menggunakan media pembelajaran
(siswa belajar menggunakan torso manusia dengan dibimbing oleh
guru)
2. Prosedur Penelitian
1. Metode Penelitian
Sebelum mengadakan penelitian terlebih dahulu peneliti menentukan metode
penelitian. Metode penelitian dalam penelitian ini adalah tindakan kelas yang
ditandai adanya siklus. Ada tindakan yang dilakukan peneliti pada tiap-tiap
siklusnya. Banyaknya siklus pada penelitian tindakan kelas ini ada dua, yaitu
siklus I dan siklus II. Tiap-tiap siklus terdiri dari empat tahapan, yaitu planning,
acting, observing, dan reflecting
2. Siklus I
1. Perencanaan
Berdasarkan rumusan hipotesis yang telah dibuat, peneliti menyiapkan dan
menetapkan Rencana Perbaikan Pembelajaran (RPP) beserta skenario tindakan.
Skenario tindakan mencakup langkah-langkah yang akan dilakukan oleh guru dan
siswa dalam tindakan atau perbaikan pembelajaran. Sehubungan dengan RPP,
peneliti menyiapkan berbagai bahan yang diperlukan sesuai dengan hipotesis yang
dipilih yaitu : lembar evaluasi, alat dan bahan. Bersama teman sejawat yang
ditugasi sebagai observer, menyepakati hal-hal yang berkaitan dengan kelancaran
observasi dan pengumpulan data, seperti fokus observasi, kriteria observasi, jenis-
jenis kegiatan yang harus diobservasi dan yang lainnya. Setelah ada kesepakatan,
peneliti bersama observer melakukan simulasi perbaikan pembelajaran.
2. Pelaksanaan
Pertemuan Pertama
a. Kegiatan Awal
Sebelum kegiatan belajar berlangsung, peneliti sudah menyiapkan materi di
power point dan lembar kerja siswa/lembar pengamatan berupa tabel. Siswa
dibagi menjadi 6 kelompok, masing-masing kelompok beranggotakan 5 siswa.
Setiap kelompok diberi lembar kerja atau lembar pengamatan untuk
dikerjakan dan didiskusikan bersama dengan temannya. Sebelum lembar kerja
siswa atau lembar pengamatan dikerjakan, peneliti menjelaskan secara singkat
cara mengisi tabel tersebut.
b. Kegiatan inti Peneliti menjelaskan secara singkat materi tentang pembelajaran
hari ini. Siswa dibimbing untuk mengamati gambar torso yang ada di slide
power point. Berdasarkan pengamatan dan pengetahuan mereka. Siswa
mengidentifikasi kemudian mengamati gambar salah satu torso manusia.
Mengajar adalah membina bagaimana siswa belajar, bagaimana berfikir dan
bagaimana mencari informasi sehingga PBM yang memanfaatkan alat dan
bahan yang digunakan sebagai media pembelajaran dapat menciptakan
suasana belajar siswa aktif dan kreatif serta mengembangkan kemampuan
berpikir.
c. Kegiatan akhir Pada kegiatan akhir ini peneliti bersama dengan siswa
menyimpulkan hasil pembelajaran. Kegiatan diakhiri dengan memberikan
saran dan tindak lanjut berupa pemberian pekerjaan rumah (PR)
Pertemuan Kedua
a. Kegiatan Awal
Sebelum kegiatan belajar berlangsung, peneliti sudah menyiapkan materi di
power point dan lembar kerja siswa/lembar pengamatan berupa tabel. Siswa
dibagi menjadi 6 kelompok, masing-masing kelompok beranggotakan 5 siswa.
Setiap kelompok diberi lembar kerja/lembar pengamatan untuk
dikerjakan/didiskusikan bersama dengan temannya. Sebelum lembar kerja
siswa/lembar pengamatan dikerjakan, peneliti menjelaskan secara singkat cara
mengisi tabel tersebut.
b. Kegiatan inti Peneliti menjelaskan kembali secara singkat materi tentang
Sistem Pencernaan berserta bagian-bagiannya. Siswa dibimbing untuk
mengamati gambar tokoh pejuang. Berdasarkan pengamatan dan pengetahuan
mereka. Siswa mengidentifikasi bagian-bagian organ pencernaan kemudian
menuliskannya di dalam pembuatan torso tersebut. Mengajar adalah membina
bagaimana siswa belajar, bagaimana berfikir dan bagaimana mencari
informasi sehingga PBM yang memanfaatkan alat dan bahan yang digunakan
sebagai media pembelajaran dapat menciptakan suasana belajar siswa aktif
dan kreatif serta mengembangkan kemampuan berfikir. Perwakilan masing-
masing kelompok untuk melaporkan hasilnya, dan setelah itu siswa
diperintahkan untuk kembali ketempat duduknya masing-masing. Setelah
selesai siswa diperintahkan untuk kembali ketempat duduk masingmasing
untuk mempersiapkan presentasi dari hasil pembuatan torso tersebut
c. Kegiatan akhir
Pada kegiatan ini peneliti memberikan tes formatif, menganalisis hasil tes
serta memberikan saran tindak lanjut untuk pembelajaran berikutnya.
3. Observasi
Pengamat melakukan observasi terhadap peneliti yang sedang melaksanakan
kegiatan belajar mengajar dengan menggunakan lembar observasi yang telah
disiapkan. Kegiatan ini berlangsung selama proses pembelajaran berlangsung.
4. Refleksi
Reflecting merupakan kegiatan meninjau kembali tentang tindakan kelas yang
telah dilaksanakan dan terhadap hasil belajar yang diperoleh siswa di akhir siklus
I. Hambatan atau keberhasilan dalam siklus I dijadikan dasar untuk melakukan
tindakan kelas pada siklus II. Reflecting juga dilakukan dengan cara
membandingkan kondisi awal dengan kondisi akhir siklus I.
3. Siklus II
1. Perencanaan
Berdasarkan rumusan hipotesis yang telah dibuat dari hasil refleksi siklus
kedua peneliti merevisi Rencana Perbaikan Pembelajaran (RPP) beserta
skenario tindakan yang akan dilaksanakan. Selain itu peneliti juga menyiapkan
berbagai alat dan bahan yang diperlukan, meliputi dipilih yaitu: pembuatan
torso, lembar evaluasi, media atau alat dan bahan. Bersama teman sejawat
yang ditugasi sebagai observer, menyepakati hal-hal yang berkaitan dengan
kelancaran observasi dan pengumpulan data, seperti fokus observasi, kriteria
observasi, jenis-jenis kegiatan yang harus diobservasi dan yang lainnya.
Setelah semua komponen yang diperlukan lengkap, peneliti dengan teman
sejawat mensimulasikan langkah-langkah perbaikan pembelajaran.
2. Pelaksanaan
Pertemuan Pertama
a. Kegiatan Awal Peneliti mengawali pelajaran dengan memberikan
apersepsi dengan maksud untuk menarik perhatian dan minat siswa.
Peneliti menyampaikan tujuan pembelajaran.
b. Kegiatan inti Peneliti menjelaskan materi pelajaran dengna memksimalkan
penggunaan media visual yang meliputi alat peraga torso manusia. Setelah
peneliti selesai menjelaskan materi dengan menggunakan torso tersebut,
kemudian secara bergilir siswa ditunjuk untuk menyebutkan fungsi
tersebut dan peranannya didalam tubuh mausia. Pembelajaran pada siklus
ketiga kelihatan lebih semangat, karena siswa berlomba-lomba untuk dapat
menyebutkan bagianbagian tubuh manusia tersebut dan menjelaskan
peranannya organ tubuh manusia
c. Kegiatan akhir Pada kegiatan akhir ini peneliti bersama dengan siswa
menyimpulkan hasil pembelajaran. Kegiatan diakhiri dengan memberikan
tes formatif, menganalisis hasil tes serta memberikan saran dan
melanjutkan pembuatan torso yang belum selesai.
Pertemuan Kedua
a. Kegiatan
Awal Peneliti mengawali pelajaran dengan memberikan apersepsi dengan
maksud untuk menarik perhatian dan minat siswa. Kemudian bersama
dengan siswa, peneliti membahas pembuatan torso pertemuan sebelumnya.
b. Kegiatan inti
Peneliti menjelaskan materi pelajaran dengan memksimalkan penggunaan
alat peraga torso yang Setelah peneliti selesai menjelasan bagian-bagian
dari torso tersebut, kemudian secara bergilir siswa ditunjuk untuk
menyebutkan bagian organ tubuh manusia tersebut dan peranannya dalam
mempelajarai materi sistem organ tubuh manusia. Pembelajaran pada
siklus ketiga kelihatan lebih semangat, karena siswa berlomba-lomba
untuk dapat menyebutkan bagian organ sistem pencernaan tersebut dan
menjelaskan peranannya bagi kesehatan tubuh. Setelah selesai siswa
diharapkan akan dapat mampu menjadi leader dalam pembahasan materi
sistem organ tubuh manusia untuk kelas XI BIOLOGI lainnya.
c. Kegiatan akhir Pada kegiatan ini peneliti memberikan saran tindak lanjut
untuk pembelajaran berikutnya.
3. Observasi
Observer melakukan observasi terhadap peneliti yang sedang melaksanakan
kegiatan belajar mengajar dengan menggunakan lembar observasi yang telah
disiapkan. Kegiatan observasi ini dilakukan selama proses pembelajaran
berlangsung.
4. Refleksi
Reflecting merupakan kegiatan meninjau kembali tentang tindakan kelas yang
telah dilaksanakan dan terhadap hasil belajar yang diperoleh siswa di akhir
siklus II. Hasil yang diperoleh dalam siklus II dijadikan dasar untuk
menentukan keberhasilan penelitian tindakan kelas.
Reflecting juga dilakukan dengan cara membandingkan kondisi awal, akhir
siklus I, dan kondisi akhir siklus II.
3. Data dan Cara Pengumpulan Data
1. Sumber Data
a. Guru
Untuk mengetahui tingkat keberhasilan penerapan penggunaan media
torso dalam meningkatkan kemampuan memahami macam- macam organ
tubuh sistem pencernaan dan cara merawat organ sistem pencernaan tubuh
dengan baik pada mata pelajaran Biologi siswa kelas XI. b. Siswa
Mendapatkan data tentang perkembangan memahami macam- macam
organ tubuh sistem pencernaan dan cara merawat organ sistem pencernaan
tubuh dengan baik serta hasil belajar siswa selama proses pembelajaran
berlangsung.
1. Cara Pengumpulan Data
a. Data kualitatif Data yang berbentuk penjelasan dan tidak berbentuk
angka Adapun yang termasuk data kualitatif pada penelitian ini
adalah:
1) Materi yang disampaikan pada Penelitian Tindakan Kelas
(PTK)
2) Media pembelajaran yang digunakan dalam Penelitian
Tindakan Kelas (PTK)
b. Data kuantitatif Data kuantitatif adalah data yang berhubungan
dengan angka Data ini menjadi data primer dalam penelitian yang
meliputi:
1) Data jumlah siswa kelas XI SMA BPK PENABUR Bogor
2) Data presentase ketuntasan minimal
3) Data nilai siswa
B. Teknik Pengumpulan Data
1. Observasi
Observasi adalah salah satu proses pengambilan data dalam penelitian dimana
peneliti melihat situasi penelitian. Peneliti melakukan pengamatan terhadap
proses, metode serta suasana kelas pada saat proses pembelajaran. Data hasil
observasi digunakan peneliti sebagai penunjang untuk mengukur hasil belajar
yang telah dilakukan. Dari hasil observasi yang diperoleh mealalui kegiatan
pengamatan, peneliti mendapatkan suatu refleksi untuk melakukan perbaikan
dalam kegiatan pembelajaran selanjutnya. Cara pengumpulan data dengan
menggunakan observasi yakni dengan mengumpulkan data sebagai berikut:
a. Aktivitas Siswa siklus I dan II.
GAMBAR 4.
INSTRUMEN OBSERVASI AKTIVITAS SISWA
NO KEGIATAN 1 2 3 4
1 Respon siswa ketika pembukaan
2 Respon siswa ketika guru menyampaikan
tujuan pembelajaran
3 Respon siswa ketika guru menyampaikan
pelajaran
4 Siswa memperhatikan petunjuk guru untuk
mengerjakan soal
5 Respon siswa ketika guru memberi tugas
6 Siswa mempresentasikan hasil karyanya
7 Respon siswa ketika mengerjakan tugas
8 Ketepatan waktu dalam menyelesaikan
tugas
9 Respon kegiatan penutup yang diberikan
oleh guru

b. Aktivitas guru siklus I dan siklus II


GAMBAR 4.2
INSTRUMEN OBSERVASI AKTIVITAS GURU
Nama Guru :
Mata Pelajaran` :
Materi Pelajaran :
Kelas :
No. Kegiatan Skor Keterangan
1 2 3 4
Membuka
1 a. Menarik Perhatian
b. Menimbulkan Motivasi
c. Memberi acuan
d. Menujukkan kaitan
Penguasan Materi Ajar
2 a. Orientasi,
Motivasi,
dan Bahasa
(Sederhana
dan jelas)
b. Sistematika dan
variasi penjelasan
c. Kecekupan materi
terhadap Kompetensi
d. Keluasan Materi
Ajar
Strategi yang Digunakan
3 a. Kesesuaian strategi
dengan Indikator
Pembelajaran
b. Kesesuaian strategi
dengan karakter materi
ajar
c. Kesesuaian strategi
dengan karakter peserta
didik
d. Variasi Strategi
Performance
4 a. Suara: Informasi,
nada dan irama
b. Pola interaksi: perhatian
pada siswa & kontak mata
c. Ekspresi roman muka
d. Posisi & gerakan guru
Media/Bahan/Sumber Pembelajaran (MBSP)
5 a. Kesesuaian MBSP dengan
Indikator Pembelajaran
b. Kesesuaian MBSP dengan
karakter materi ajar
c. Kesesuaian MBSP dengan
karakter peserta didik
d. Variasi MBSP
Bertanya
6 a. Pertanyaan yang jelas dan
konkrit
b. Pertanyaan memberikan
waktu berpikir
c. Pemerataan pertanyaan
pada siswa
d. Pertanyaan sesuai
indikator kompetensi
Reinforcement (Memberi penguatan)
7 a. Penguatan vorbal
b. Penguatan non verbal
c. Variasi penguatan
d. Feed back
Menutup pembelajaran
a. Meninjau kembali
b. Menarik simpulan
c. Memberi dorongan
psikologis
d. mengevaluasi

Pengamatan ini dilakukan di kelas pada saat proses pembelajaran yang sedang
berlangsung. Hasil pengamatan tersebut dapat dijadikan sebagai bahan refleksi dari
pembelajaran yang telah dilakukan. Selain itu dapat dijadikan sebagai acuan dalam perbaikan
kegiatan selanjutnya.
c. Wawancara
Wawancara adalah pengumpulan data dengan mengajukan beberapa pernyataan secara
lisan kepada subjek penelitian. Wawancara memiliki sifat yang luwes sehingga
pertanyaan yang diberikan dapat disesuaikan dengan subjek penelitian. Wawancara
digunakan untuk menggali beberapa hal yang berkaitan dengan masalah pembelajaran.
Dari proses wawancara peneliti mendapatkan hasil tentang karakteristik siswa, Kriteria
Ketuntasan Minimal (KKM) pada mata pelajaran yang akan diteliti, dan persiapan guru
sebelum pembelajaran dilaksanakan.
d. Tes
Tes ini berupa tes tulis uraian. Tes tulis uraian diberikan guru setelah melaksanakan
proses pembelajaran dengan menggunakan Media torso . Pengumpulan data
menggunakan tes tulis uraian yang digunakan untuk mengumpulkan data kemampuan
memahami macam-macam organ sistem pencernaan h dan cara merawat organ sistem
pencernaan dengan baik pada siklus I dan siklus II.
e. Dokumentasi
Dokumentasi adalah laporan tertulis tentang suatu peristiwa yang terdiri dari penjelasan
dan pemikiran terhadap peristiwa tersebut. Dokumen terdiri atas buku-buku, surat,
dokumen resmi dan foto. Pada penelitian ini metode dokumentasi yang digunakan untuk
mengumpulkan data adalah sebagai penunjang data.
A. Teknik Analisis Data
Teknik penelitian ini menggunakan analisis kuantitatif yaitu analisi yang
menggunakan alat analisis yang bersifat kuantitatif dimana analisis tersebut
menggunakan model matematika, model statiska, dan ekomotorik. Peneliti
menyajikan hasil analisis dalam bentuk angka kemudian disajikan dan
diinterprestasikan dalam bentuk deskriptif atau uraian yang bersifat kualitatif.
a. Analisis secara kuantitatif
Untuk menganalisis tingkat keberhasilan atau persentase keberhasilan siswa
setelah proses belajar mengajar setiap putarannya dilakukan dengan cara
memberikan evaluasi berupa soal tes tertulis pada setiap akhir putaran.
Analisis ini dihitung dengan menggunakan statistic sederhana yaitu:
1. Untuk menilai ulangan atau tes formatif
Peneliti melakukan penjumlahan nilai yang diperoleh siswa, yang
selanjutnya dibagi dengan jumlah siswa yang ada di kelas tersebut
sehingga diperoleh rata-rata tes formatif dapat dirumuskan:
X
X
N
Dengan :X = Nilai rata-rata
Σ X = Jumlah nilai semua siswa
Σ N = Jumlah semua siswa
Selanjutnya skor rata-rata yang diperoleh tersebut diklasifikasikan ke dalam
bentuk sebuah predikat yang memiliki skala sebagai berikut:
90-100 : Sangat Baik
70-89 : Baik
50-69 : Cukup
0-49 : Kurang
Ada dua kategori ketuntasan belajar yaitu secara perorangan dan secara
klasikal. Berdasarkan petunju pelaksanaan belajar mengajar kurikulum 1994
(Depdikbud, 1994), yaitu seorang siswa telah tuntas belajar bila telah mencapai
nilai 85 dan kelas disebut tuntas belajar bila di kelas tersebut terdapat 85% yang
telah mencapai daya serap. Untuk menghitung persentase ketuntasan belajar
digunakan rumus sebagai berikut:
Siswa yang tuntas belajar
P x100% Siswa
Siswa
Untuk mengetahui presentase ketuntasan belajar siswa pada siklus I dan siklus
II digunakan rumus presentase. Seorang siswa dikatakan tuntas belajar jika
memperoleh nilai sebesar 75 karena sesuai dengan Kriteria Ketuntasan Minimal
(KKM) yang ditentukan sekolah dan tuntas secara klasikal jika kelas tersebut
mencapai 85% yang telah mencapai keberhasilan sebagai refleksi
untuk melakukan perencanaan pada siklus selanjutnya. Adapun rumus
ketuntasan belajar, yakni:
P : F X 100
N
Keterangan :
P : Ketuntasan Belajar
F : Jumlah siswa yang tuntas belajar
N : Jumlah semua siswa Tabel

3.2
Kriteria Tingkat Keberhasilan Klasikal
Tingkat Keberhasilan (%) Kriteria
91% - 100% Sangat Baik
81% - 90% Baik
71% - 80% Cukup
61% - 70% Kurang
0% - 60% Sangat kurang

b. Analisis secara kualitatif Untuk mengetahui keefektivan suatu metode dalam


kegiatan pembelajaran perlu diadakan analisa data. Pada penelitian ini
menggunakan teknik analisis deskriptif kualitatif, yaitu suatu metode penelitian
yang bersifat menggambarkan kenyataan atau fakta sesuai dengan data yang
diperoleh dengan tujuan untuk mengetahui prestasi belajar yang dicapai siswa
juga untuk memperoleh respon siswa terhadap kegiatan pembelajaran serta
aktivitas siswa selama proses pembelajaran.
C. Indikator Kerja
Indikator kinerja adalah suatu kriteria yang digunakan untuk melihat tingkat
keberhasilan dari kegiatan PTK dalam meningkatkan proses pembelajaran di kelas.
Indikator kinerja harus realistik dan dapat diukur. Berikut ini merupakan indikator
yang digunakan sebagai ukuran dalam melakukan penelitian:
a. Penilaian Keberhasilan Penggunaan Media torso dikatakan berhasil apabila
jumlah siswa mampu memahami macam-macam organ sistem pencernaan h dan
cara merawat organ sistem pencernaan dengan baik dengan nilai ≥ 85%.
b. Penilaian Rata-rata Penggunaan Media torso dikatakan berhasil apabila nilai rata-
rata siswa lebih dari Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yakni 75
c. Aktifitas Guru Pembelajaran dikatakan berhasil jika observasi aktifitas guru
mendapatkan nilai akhir 85.
d. Aktifitas Siswa Pembelajaran dikatakan berhasil jika observasi aktifitas guru
mendapatkan nilai akhir 85.
D. Instrumen Pengumpulan data Instrumen penelitian ini merupakan serangkaian alat
yang digunakan dalam suatu penelitian untuk melaporkan data yang diinginkan.
Sesuai dengan teknik pengumpulan data yang diinginkan, instrumen-instrumen yang
digunakan yakni:
a. Soal tes individu, digunakan untuk mengetahui kemampuan siswa diakhir
pembelajaran pada setiap siklus.
b. Instrumen observasi aktifitas guru dan siswa.
c. Instrumen wawancara.

E. Tim Peneliti dan Tugasnya


Penelitian tindakan kelas ini dilakukan oleh guru mata pelajaran Biologi yang
berkolaborasi dengan guru sejawat dalam proses pembelajaran yang bertujuan untuk
meningkatkan kemampuan memahami macam-macam organ sistem pencernaan h dan
cara merawat organ sistem pencernaan dengan baik pada mata pelajaran biologi siswa
kelas XI menggunakan media torso .
Guru dan peneliti merupakan satu kesatuan tim yang bertugas untuk mengarah proses
pembelajaran agar berjalan efektif serta dapat meningkatkan kemampuan memahami
macam-macam organ sistem pencernaan dan cara merawat organ sistem pencernaan
dengan baik pada mata pelajaran biologi.
Peneliti bertugas untuk melakukan penelitian terhadap kinerja guru dalam
melaksanakan proses pembelajaran dengan siswa. Selain itu peneliti mempunyai tugas
untuk menyediakan Rencana Perangkat Pembelajaran (RPP). Namun dalam
pelaksanaan (RPP) guru yang mempunyai wewenang seutuhnya ketika proses
pembelajaran berlangsung. Langkah selanjutnya adalah guru melakukan evaluasi
terhadap kemampuan memahami macam-macam organ sistem pencernaan dan cara
merawat organ sistem pencernaan dengan baik. Sehingga mengetahui sejauh mana
kemampuan siswa dalam memahami macam-macam organ sistem pencernaan dan
cara merawat organ sistem pencernaan dengan baik, apakah sudah meningkat atau
belum. Dalam proses pembelajaran peneliti mempunyai tanggung jawab membantu
proses pembelajaran sebagaimana melaksanakan kerja sama dengan baik.
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Pada bab ini akan dipaparkan hasil penelitian tentang penggunaan media pembelajaran torso
untuk meningkatkan kemampuan meningkatkan hasil belajar materi sistem pencernaan pada
mata pelajaran biologi siswa kelas XI MIPA SMA BPK PENABUR Bogor. Adapun hasil
penelitiannya yakni:
A. Hasil Penelitian
Dalam penelitian ini data diperoleh melalui observasi, wawancara, dan penilaian tes
tulis. Observasi dilakukan untuk mengamati aktivitas guru dan aktivitas siswa saat
berlangsungnya proses pembelajaran di kelas untuk meningkatkan kemampuan
memahami materi sistem pencernaan dengan menggunakan media pembelajaran torso.
Selain observasi, data diperoleh melalui wawancara yang dilakukan kepada beberapa
informan di SMA BPK PENABUR Bogor yaitu guru yang mengajar di kelas XI dan
seorang siswa. Wawancara dilakukan di saat jam istirahat pembelajaran atau ketika
sesudah memberikan pembelajaran di kelas dan para siswa sudah pulang dari sekolah.
Di samping observasi dan wawancara, data juga diperoleh dari dokumentasi dan
melalui penilaian tes tulis. Penilaian tes digunakan untuk mengetahui bagaimana
kemampuan memahami materi sistem pencernaan menggunakan media pembelajaran
torso pada tahap siklus I, kemudian pada tahap siklus II digunakan untuk mengetahui
peningkatan kemampuan memahami materi sistem pencernaan.
Hasil penilaian tes tulis diperoleh dari pelaksanaan pembelajaran dengan media
pembelajaran torso. Adapun sebab dari digunakannya media pembelajaran torso yakni
terlihat pada pelaksanaan proses pembelajaran sebelum diterapkannya media
pembelajaran torso yakni minat siswa yang kurang dalam proses pembelajaran terlihat
dari kurangnya keaktifan siswa kelas XI. Hal ini disebabkan pada kegiatan inti pada saat
penyampaian materi guru hanya menggunakan metode ceramah saja, sehingga siswa
mendapatkan pemahaman yang masih abstrak.
Realita tesebut dapat dibuktikan dengan nilai ulangan harian siswa. Nilai ulangan
harian yang diperoleh siswa kelas XI masih dibawah KKM yang ditentukan yakni 75.
Tingkat ketuntasan mata pelajaran biologi kelas XI MIPA SMA Negeri 1 Sausaporr
adalah sebesar 55,2%. Dari 31 siswa kelas XI MIPA SMA Negeri 1 Sausapor, 18 siswa
mendapat nilai diatas KKM dan 13 siswa mendapat nilai di bawah KKM. Media
pembelajaran torso merupakan media pembelajaran yang digunakan pada siklus I dan
siklus II sebagai solusi dari pembelajaran sebelumnya. Penyajian data pada penelitian ini,
peneliti mengelompokan tahapan menjadi dua kelompok yaitu: 1. Hasil Tahap Siklus I
Siklus I terdiri dari empat tahapan yakni tahap perencanaan, tahap pelaksanaan, tahap
pengamatan dan refleksi. Siklus I dilaksanakan dalam satu kali pembelajaran dengan
alokasi waktu 3x35 menit. Berikut empat tahapan tersebut:
a. Tahap Perencanaa Berdasarkan masalah yang ada, peneliti dan guru mata pelajaran
biologi melakukan diskusi untuk memperbaiki pembelajaran sebelumnya dan akan
digunakan pada siklus I. hasil diskusi tersebut diantaranya:
1) Mementukan media pembelajaran yang sesuai dengan materi, yakni dengan
menggunkan media pembelajaran torso. Media pembelajaran ini menuntut siswa
untuk aktif dalam proses pembelajaran dengan memberikan argumen yang
berkaitan dengan materi. Pada penerapan media pembelajaran torso ini
menggunakan media rangka yang dibentuk menyerupai rangka manusia seperti
aslinya.
2) Pembuatan RPP, dimana segala bentuk aktivitas yang akan dilakukan dalam
proses pembelajaran. Terdapat tiga aktivitas dalam RPP yakni kegiatan
pendahuluan, kegiatan inti, dan kegiatan penutup. Kegiatan yang ada dalam RPP
menggunakan media pembelajaran torso secara berurutan. RPP yang dibuat telah
divalidasi oleh Ester Antika, [Link]., sebagai himbauan bahwasannya RPP yang
dibuat layak dilaksanakan dalam proses pembelajaran.
3) Menyiapkan media pembelajaran yang mendukung. Media yang digunakan adalah
media torso yang akan diletakkan di depan kelas, agar seluruh siswa dapat melihat
dengan jelas.
4) Membuat lembar observasi aktivitas guru dan siswa merupakan lembar untuk
mengetahui tingkat keaktifan siswa dan keberhasilan guru dalam proses
pembelajaran biologi dengan menggunakan media pembelajaran torso yang
sedang berlangsung.
5) Membuat lembar evaluasi, yakni menyusun soal tes hasil belajar individu dengan
indikator kompetensi yang telah ditetapkan dalam RPP sebagai penilaian tingkat
kemampuan memahami materi sistem pencernaan di rumah dan di sekolah.
Adapun bentuk tes berupa 10 butir soal uraian yang harus dijawab oleh siswa. b.
Tahap Pelaksanaan Pada pelaksanaan siklus I ini dilaksanakan pada hari Sabtu
tanggal 10 November 2022. Dengan alokasi 3 jam pelajaran (3x35 menit). Proses
pembelajaran dimulai pada jam 07:00 WIB. Saat siswa kelas XI MIPA memasuki
kelas terlihat banyak siswa yang telat ketika memasuki kelas dan guru menyuruh
siswa untuk duduk ditempat duduknya masing-masing. Pada kegiatan
pendahuluan guru memulai dengan mengucapkan salam, mengajak berdoa,
menanyakan kabar siswa dengan suara yang lantang. Terlihat dari respon yang
diberikan siswa yakni kurang bersemangat dan banyak dari siswa yang bercanda
dan bermain dengan teman sebangkunya.
Untuk membangkitkan suasana, guru mengajak siswa untuk melakukan ice
breaking dengan cara bernyanyi dan senam otak menggunakan jari. Ketika guru
memberikan apersepsi sebagian siswa memberikan respon dengan baik. Guru
melaksanakan apersepsi dengan mengaitkan pembelajaran hari kemaren dengan
materi yang akan dipelajari. Adapun apersepsi yang dilakukan yakni dengan
memberikan pertanyaan dengan sebagian siswa menanggapi pertanyaan tersebut
dengan baik. Kemudian guru menyampaikan tujuan pembelajaran biologi dengan
kalimat yang jelas namun beberapa kalimat yang disampaikan masih belum
dBiologihami oleh siswa. Banyak dari siswa yang melamun ketika guru
menyampaikan tujuan pembelajaran. Kegiatan pendahuluan berlangsung selama
15 menit.
Kegiatan inti dimulai dengan membagi siswa kelas XI MIPA yang berjumlah
31 siswa menjadi 5 kelompok dengan masingmasing kelompok terdiri dari 5-6
siswa. Tahap selanjutnya adalah guru menggali pengetahuan awal siswa dengan
memberikan contoh dan mengaitkan contoh berdasarkan materi dengan kehidupan
sehari- hari, yakni apakah fungsi dari sistem pencernaan? Setelah siswa
menjawab, guru menjelaskan materi sistem pencernaan. Guru melanjutkan
kegiatan pembelajaran dengan menjelaskan materi sistem pencernaan, yakni
pengertian sistem pencernaan, macam-macam sistem pencernaan. Pada saat guru
menjelaskan materi sebagian besar siswa memperhatikan dan merespon dari
penjelasan yang diberikan guru. Terlihat ketika guru ketika memberikan
penjelasan guru belum menguasai materi dan langkah pembelajaran yang terdapat
di dalam RPP dengan baik. Guru masih melihat RPP sehingga kurang menguasai
siswa pada pembelajaran. Guru menjelaskan materi sistem pencernaan dengan
menggunakan media torso di depan kelas. Dalam menggunaan media torso masih
ada beberapa siswa yang belum memahami, hal ini dikarenakan guru
menggunakan suara yang kurang lantang dan guru hanya menjelaskan di depan
saja.
Sebelum melaksanakan diskusi setiap kelompok membaca materi dengan
petunjuk yang telah diberikan oleh guru kemudian melakukan diskusi. Pada saat
siswa melakukan diskusi sebagian besar siswa masih belum memahami terlihat
dari pelaksanaan diskusi siswa masih kurang aktif selain itu kurangnya semangat
siswa dalam proses pembelajaran. Hal tersebut diakibatkan karena pada saat
menjelaskan menggunakan media torso, guru menggunakan suara yang kurang
lantang dan guru hanya menjelaskan di depan saja.
Setiap kelompok mempunyai satu perwakilan untuk mempresentasikan hasil
diskusi, namun banyak dari mereka yang kurang percaya diri ketika didepan kelas
untuk membacakan hasil diskusinya. Selanjutnya guru dan siswa bersama-sama
memberikan tepuk tangan kepada perwakilan kelompok yang telah
mempresentasikan hasil kerjanya, kemudian siswa dan guru melakukan koreksi
terhadap hasil pekerjaan yang telah dipresentasikan. Selanjutnya masing-masing
siswa diberikan tes formatif (tes tulis uraian) yang dikerjakan secara individu, hal
tersebut dilakukan untuk mengetahui tingkat kemampuan siswa terkait dengan
materi dalam memahami materi sistem pencernaan. Dalam pelaksanaan
mengerjakan soal siswa belum dapat menyelesaikannya sesuai dengan waktu yang
telah ditetapkan. Kegiatan inti berlangsung selama 70 menit pada pembelajaran
berlangsung.
Kegiatan penutup dilakukan guru dan siswa dengan membuat kesimpulan dari
materi yang telah dipelajari. Pada kegiatan menyimpulkan guru hanya
memberikan pertanyaan salah satu sub materi saja sehingga sebagian besar siswa
saja yang menjawabnya. Selanjutnya guru melakukan refleksi. Selanjutnya guru
memberikan pekerjaan rumah (PR). Siswa dan guru melakukan berdo‟a bersama
sebelum menutup pembelajaran. Selanjutnya guru mengucapkan salam dengan
artian pembelajaran sudah selesai. Kegiatan penutup berlangsung selama 20 menit
pada pembelajaran berlangsung.
Pada pelaksanaan pembelajaran siklus I dengan menggunakan media
pembelajaran torso pada mata pelajaran biologi materi sistem pencernaan kelas XI
MIPA SMA Negeri 1 Sausapor, diperoleh data hasil penilaiantes hasil belajar.
Data hasil penilaian tes tulis terdiri dari nilai rata- rata hasil belajar siswa yakni
77,59 dan ketuntasan belajar yakni 62,5% dengan keterangan 20 siswa dari 31
siswa yang sudah tuntas belajar. Hasil tersebut menunjukkan bahwa pada siklus
pertama siswa belum tuntas belajar, karena siswa yang memperoleh nilai lebih
dari 75 persentasenya hanya sebesar 62,5% lebih kecil dari persentase ketuntasan
yang dikehendaki yaitu sebesar 85%.
c. Tahap Pengamatan atau Observasi Tahap observasi dilakukan oleh peneliti selama
proses pembelajaran berlangsung dengan menggunakan lembar observasi. Observasi
dilakukan untuk mengamati setiap proses yang terjadi pada aktivitas siswa dan guru.
Adapun hasil observasi aktivitas guru pada siklus I yakni:
1) Guru mengucapkan salam, berdoa, menanyakan kabar (pembukaan) dengan suara
lantang dan memberikan apesepsi tapi tidak dapat mengondisikan siswa untuk
siap menerima pelajaran. Pada kegiatan ini guru mendapatkan skor 9 yakni cukup.
2) Guru menampilkan penguasaan materi ketika saat pembelajaran. Pada kegiatan ini
guru mendapatkan skor 16 yakni baik.
3) Guru menggunakan strategi yang sesuai dengan materi pembelajaran. Pada
kegiatan ini guru mendapatkan skor 12 yakni baik.
4) Guru mempunyai performance yang menarik perhatian siswa. Pada kegiatan ini
guru mendapatkan skor 14 yakni baik.
5) Guru menerapkan sebagian besar langkah-langkah pada media pembelajaran
namun ada beberapa pembelajaran yang tidak sesuai. Pada kegiatan ini guru
mendapatkan skor 13 yakni baik.
6) Performance guru (suara yang jelas dalam menyampaikan materi, interaksi yang
baik kepada beberapa siswa). Pada kegiatan ini guru mendapatkan skor 15 yakni
baik.
7) Guru menggunakan metode ceramah, demonstrasi, diskusi tanya jawab selama
proses pembelajaran. Pada kegiatan ini guru mendapatkan skor 12 yakni sangat
baik.
8) Guru memberikan kesimpulan namun siswa pasif dalam menanggapinya. Pada
kegiatan ini guru mendapatkan skor 14 yakni sangat baik. Dari hasil analisis data
terhadap pengamatan aktivitas guru di atas memeperoleh nilai akhir sebesar 82%
dengan kategori cukup. Skor yang diperoleh sebanyak 105 dari skor maksimal
sebanyak 128. Hal ini menunjukkan perlu adanya perbaikan pada siklus
selanjutnya agar tecapai target yang diharapkan yakni sebesar 85%.
Adapun kegiatan yang dirasa kurang baik yakni pada kegiatan pendahuluan
pengondisian kelas dan apersepsi. Apersepsi yang dilakukan dinilai kurang menarik
respon siswa secara keseluruhan selain itu pengondisian kelas yang kurang
menyeluruh yang mengakibatkan tidak secara keseluruhan siswa merespon dengan
baik.
Dalam kegiatan inti yakni kegiatan menyampaikan instruksi langkah-langkah
penerapan media pembelajaran torso dinilai kurang baik, karena dalam
menyampaikannya guru menggunakan suara yang kurang lantang dan guru hanya di
depan kelas saja yang mengakibatkan ada beberapa siswa yang tidak memahami
materi tentang sistem pencernaan. Tahap selanjutnya adalah kegitan penutup. Dalam
kegiatan penutup pada kegiatan kesimpulan guru hanya memberikan beberapa
pertanyaan kepada siswa, sehingga siswa mudah lupa dalam menerima materi.
Seharusnya, guru memberikan beberapa pertanyaan kepada siswa dengan setiap
pemberian sub materi. Dengan begitu siswa lebih mudah mengingat materi yang
sudah disampaikan oleh dalam proses pembelajaran.
Selain data hasil obervasi aktivitas guru, diperoleh juga hasil aktivitas siswa
yang dilakukan observer dengan mengisi lembar aktivitas siswa selama kegiatan
pembelajaran. Adapun hasil observasi aktivitas siswa siklus I, yakni:
1) Banyak siswa yang tidak serius dalam menjawab salam, berdoa, menjawab kabar
dan merespon apersepsi. Pada kegiatan ini guru mendapatkan Sebagian kecil
sudah kompak tetapi beberapa siswa masih banyak skor 2 yakni cukup.
2) Sebagian besar siswa memperhatikan tujuan pembelajaran. Pada kegiatan ini guru
mendapatkan skor 3 yakni baik.
3) Siswa memperhatikan penjelasan guru tetapi masih ada yang belum siap
menerima pelajaran. Pada kegiatan ini guru mendapatkan skor 3 yakni baik.
4) Siswa memperhatikan petunjuk yang diberikan guru tetapi masih ada siswa yang
belum jelas mengenai petunjuk sebelum melakukan diskusi kelompok. Pada
kegiatan ini guru mendapatkan skor 3 yakni baik.
5) Siswa bersedia mengerjakan tugas yang diberikan guru tetapi mash ada yang tidak
bertanggung jawab dengan tugasnya. Pada kegiatan ini guru mendapatkan skor 3
yakni baik.
6) Siswa berani mempresentasikan hasil kerjanya di depan kelas tetapi tidak dengan
rasa percaya diri. Pada kegiatan ini guru mendapatkan skor 2 yakni cukup
7) Siswa bersedia mengerjakan tugas yang diberikan guru tetapi masih ada yang
kurang bersemangat. Pada kegiatan ini guru mendapatkan skor 3 yakni baik.
8) Siswa bisa menuntaskan sebagian kecil tugasnya dengan waktu yang kurang tepat.
Pada kegiatan ini guru mendapatkan skor 2 yakni cukup
9) Sebagian besar siswa memberikan respon terhadap ajakan guru untuk
menyimpulkan materi tetapi tidak kompak/ bersemangat namun ada siswa yang
tidak merespon ajakan guru. Pada kegiatan ini guru mendapatkan skor 3 yakni
baik.
Dari hasil analisis data terhadap pengamatan aktivitas siswa di atas
memeperoleh nilai akhir sebesar 66,6 dengan kategori kurang. Skor yang
diperoleh sebanyak 24 dari skor maksimal sebanyak 36. Hal ini menunjukkan
perlu adanya perbaikan pada siklus selanjutnya agar tecapai target yang
diharapkan yakni sebesar 85.
Adapun hasil nilai akhir dalam menerapkan media pembelajaran torso
tergolong kategori cukup dikarenakan ada beberapa aspek yang tidak
dilaksanakan oleh siswa dengan baik, hal ini terlihat dari respon siswa yang
kurang antusias dan kurang bersemangat dalam proses awal pembelajaran.
Sehingga kondisi kelas menjadi tidak kondusif.
Pada kegiatan inti yakni kurang aktifnya siswa dalam bertanya hal ini
disebabkan rasa ingin tahu siswa masih sangat rendah, semangat dalam proses
pembelajaran yang masih kurang, dan kemampuan siswa yang berbeda-beda
dalam menerima materi yang diajarkan. Selain itu masih banyak siswa yang
melamun dan bermain dengan temannya yang mengakibatkan siswa tidak
memahami materi sistem pencernaan yang di terapkan dalam kegiatan diskusi
siswa.
Pada tahap selanjutnya yakni kegiatan penutup. Pada kegiatan kesimpulan
hanya beberapa siswa saja yang berantusias dalam menyimpulkan materi dan
sebagiannya hanya mendengarkan saja. Hal ini menunjukkan kurangnya
kekompakan dalam menunjukkan semangatnya.
Dengan demikian hasil observasi siswa pada siklus I terdapat aspek yang
harus diperbaiki dan ditingkatkan, sehingga nantinya dapat ditindak lanjuti pada
siklus II untuk memperoleh target yang diharapkan.
d. Tahap Refleksi Data yang diperoleh akan dianalisis dan direfleksikan sebagai alat
evaluasi untuk memperbaiki siklus berikutnya. Temuan yang diperoleh kemudian
dijadikan rumusan pembelajaran untuk dilaksanakan pada kegiatan selanjutnya. Dari
data yang diperoleh dapat diuraikan sebagai berikut:
1) Pengondisian siswa di kelas belum maksimal, performance guru masih kurang
jelas.
2) Penjelasan bagian torso kurang jelas dan suara yang kurang lantang. Sehingga
banyak anggota kelompok yang belum bisa aktif dalam mengikuti diskusi.
3) Pengondisian kelas yang tidak kondusif dalam penerapan media pembelajaran
torso yang mengakibatkan siswa tidak kondusif dikarenakan setiap kelompok
berantusias menjadi kelompok pertama yang dapat mempresentasikan Setelah
peneliti dan guru berdiskusi, langkah yang akan dilakukan untuk memperbaiki
pembelajaran pada siklus I adalah sebagai berikut:
1) Guru lebih semangat dan memotivasi siswa, sehingga pengondisian siswa di
kelas dapat maksimal. Dalam memberikan apersepsi guru harus mengaitkan
materi dengan kehidupan sehari-hari sehingga siswa lebih mudah memahami.
Dalam penyampaian materi guru harus bisa mengeraskan suara dan menguasai
RPP sehingga guru tidak melihat berulang kali dan dapat lebih fokus kepada
siswa.
2) Setiap penyampaian sub materi, guru harus memberikan pertanyaan-
pertanyaan agar siswa dapat mengingat apa yang sudah disampaikan..
3) Guru harus maksimal dalam memberikan penjelasan menggunakan media
torso. Dengan demikian, akan dilakukan penelitian pada siklus berikutnya
(siklus II).
2. Hasil Tahap Siklus II Siklus II dilaksanakan dengan memperhatikan
kekurangankekurangan dan kendala-kendala yang terjadi pada siklus I,
adapun siklus II ini terdiri dari empat tahap, yakni perencanaan,
pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi. Sebagaimana empat tahap tersebut
akan dijelaskan dibawah ini:
a. Tahap perencanaan Pada tahap ini direncanakan semua kegiatan yang
akan menunjang kelancaran perbaikan dan pengambilan data.
Perencanaan dilakukan berdasarkan refleksi dari pelaksanaan pada
siklus I yang telah didiskusikan oleh peneliti dengan guru kolaborator.
Tahap perencanaan yang dilakukan pada siklus II, diantaranya adalah:
1) Mengembangkan media pembelajaran torso agar siswa lebih
tertarik dan lebih mudah memahami materi sistem pencernaan
manusia.
2) Menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) terhadap
perbaikan setelah diadakannya penelitian siklus pertama dengan
memadukan hasil refleksi dari siklus pertama. Dalam kegiatan
awal, ice breaking diubah menjadi yang lebih menarik, yakni
menyanyikan lagu “lutut kaki” dengan gerakan. Untuk apersepsi,
guru memberikanbeberapa gerakan yang ada kaitannya dengan
keseharian siswa mengenai materi sistem pencernaan. Untuk
kegiatan inti menerapkan media pembelajaran torso secara runtut.
3) Menyiapkan bahan ajar dan menyiapkan papan tempel nama tiap
sistem pencernaan yang jelas sehingga siswa secara kesuluruhan
dapat melihatnya.
4) Membuat lembar observasi aktivitas siswa dan lembar aktivitas
guru merupakan lembar untuk mengetahui tingkat keaktifan siswa
dan tingkat keberhasilan guru dalam proses pembelajaran biologi
yang sedang berlangsung.
5) Membuat lembar evaluasi siswa, yakni menyusun soal tes hasil
belajar individu dengan indikator kompetensi yang telah ditetapkan
dalam rencana pelaksanaan pembelajaran sebagai penilaian dari
hasil belajar, dengan indikator kompetensi yang sama pada siklus I
sebagai penilaian dari hasil belajar. Adapun bentuk tes berupa 10
butir soal uraian yang harus dijawab oleh siswa.
6) Menentukan persentase keberhasilan belajar siswa. Dalam
penelitian ini, perbaikan dikatakan berhasil jika nilai rata-rata yang
diperoleh siswa minimal 75 dengan persentase keberhasilan belajar
minimal 85%. Dengan demikian, pembelajaran dapat dikatakan
berhasil, apabila hasil observasi aktivitas siswa dan guru telah
mencapai persentase minimal 85.
b. Tahap kegiatan dan pelaksanaan Pada tahap pelaksanaan siklus II
kegiatan pembelajaran dilaksanakan pada hari Sabtu tanggal 17
November 2023 Dengan alokasi waktu 3 jam (3x35 menit). Proses
pembelajaran dimulai pada jam 07.00 WIB. Sebagian besar siswa
sudah duduk di tempat duduknya masing-masing dan ada siswa yang
asyik berlari-larian di dalam kelas dan ramai sendiri. Dengan
demikian, guru memberikan intruksi agar semua siswa dapat duduk
ditempat duduknya masing-masing dan siap mengikuti proses
pembelajaran.
Pada kegiatan pendahuluan guru memulai dengan
mengucapkan salam, mengajak berdoa, menanyakan kabar siswa
dengan suara yang cukup lantang. Tertlihat dari respon yang diberikan
siswa yakni kurang bersemangat dan kurang serius.
Untuk membangkitkan suasana, guru mengajak siswa untuk
melakukan ice breaking dengan cara bernyanyi lutut kaki dengan
gerakan. Ketika guru memberikan apersepsi sebagian siswa
memberikan respon dengan baik. Guru melaksanakan apersepsi dengan
mengaitkan pembelajaran materi dnegan kehidupan sehari-hari.
Adapun apersepsi yang dilakukan yakni dengan memberikan
pertanyaan dengan sebagian siswa menanggapi pertanyaan tersebut
dengan baik.
Guru menyampaikan tujuan pembelajaran biologi dengan
kalimat yang jelas namun beberapa kalimat yang disampaikan masih
belum dBiologihami oleh siswa. Banyak dari siswa yang melamun
ketika guru menyampaikan tujuan pembelajaran. Kegiatan
pendahuluan berlangsung selama 15 menit.
Kegiatan inti dimulai dengan membagi siswa kelas XI yang
berjumlah 31 siswa menjadi 5 kelompok dengan masing-masing
kelompok terdiri dari 5-6 siswa. Tahap selanjutnya adalah guru
menggali pengetahuan awal siswa dengan memberikan contoh dan
mengaitkan contoh berdasarkan materi dengan kehidupan sehari-hari.
Setelah siswa menjawab, guru menjelaskan materi sistem pencernaan.
Guru melanjutkan kegiatan pembelajaran dengan menjelaskan materi
sistem pencernaan, yakni pengertian sistem pencernaan, macam-
macam sistem pencernaan. Pada saat guru menjelaskan materi seluruh
siswa memperhatikan dan merespon dari penjelasan yang diberikan
guru. Terlihat guru ketika memberikan penjelasan,guru menguasai
materi dan langkah pembelajaran yang terdapat di dalam RPP dengan
baik. Dalam menjelaskan menggunakan media torso, seluruh siswa
sudah dapat memahami, hal ini dikarenakan guru menggunakan suara
yang lantang dan ketika menjelaskan guru berkeliling keseluruh kelas.
Sebelum melaksanakan diskusi setiap kelompok membaca
materi dengan petunjuk yang telah diberikan oleh guru kemudian
melakukan diskusi. Pada saat diskusi sudah dikatakan aktif karena
seluruh siswa aktif dalam pelaksanaan diskusi. Hal tersebut
diakibatkan karena pada saat menjelaskan menggunakan media
pembelajaran torso guru menggunakan suara yang lantang dan guru
berkeliling ke seluruh kelas. Setiap kelompok mempunyai satu
perwakilan untuk mempresentasikan hasil diskusi, namun banyak dari
mereka yang kurang percaya diri ketika didepan kelas untuk
membacakan hasil diskusinya. Selanjutnya guru dan siswa bersama-
sama memberikan tepuk tangan kepada perwakilan kelompok yang
telah mempresentasikan hasil kerjanya, kemudian siswa dan guru
melakukan koreksi terhadap hasil pekerjaan yang telah
dipresentasikan. Selanjutnya masing-masing siswa diberikan tes
formatif (tes tulis uraian) yang dikerjakan secara individu, hal tersebut
dilakukan untuk mengetahui tingkat kemampuan siswa terkait dengan
materi dalam memahami materi sistem pencernaan di rumah dan di
sekolah. Dalam pelaksanaan mengerjakan soal siswa belum dapat
menyelesaikannya sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan.
Kegiatan inti berlangsung selama 70 menit pada pembelajaran
berlangsung.
Kegiatan penutup dilakukan guru dan siswa dengan membuat
kesimpulan dari materi yang telah dipelajari. Pada kegiatan
menyimpulkan guru memberikan pertanyaan pada setiap sub materi
sehingga seluruh siswa mampu menjawabnya. Selanjutnya guru
melakukan refleksi. Selanjutnya guru memberikan pekerjaan rumah
(PR). Siswa dan guru melakukan berdoa bersama sebelum menutup
pembelajaran. Selanjutnya guru mengucapkan salam dengan artian
pembelajaran sudah selesai. Kegiatan ini berlangsung selama 20 menit
pada pembelajaran berlangsung.
Dari hasil pelaksanaan siklus II penggunaan media
pembelajaran torso pada pembelajaran biologi materi sistem
pencernaan kelas XI MIPA SMA Negeri 1 Sausapor di peroleh hasil
penilaian tes hasil belajar yang telah dilakukan. Adapun hasil penilaia
tes tulis yakni dilihat dari peningkatan nilai rata-rata semula 77,59
meningkat menjadi 87,0625. Hal ini dapat disimpulkan bahwa hasil
perbaikan pembelajaran pada siklus II dapat dikatakan tuntas.\
Persentase ketuntasan belajar siswa yang diperoleh adalah
87,5% dengan kategori baik. Hasil yang diperoleh pada siklus II ini
tidak perlu adanya perbaikan pada siklus berikutnya, karena sudah
mencapai target yang diharapkan. Dengan demikian, media
pembelajaran torso pada siklus II dapat meningkatkan kemampuan
memahami materi sistem pencernaan di rumah dan di sekolah siswa
kelas XI MIPA pada materi sistem pencernaan di lingkungan
masyarakat.
c. Pengamatan
Kegiatan pengamatan dilakukan untuk mengetahui kemampuan
guru dalam mengelola pembelajaran serta aktivitas siswa selama
proses pembelajaran setelah melakukan perbaikanperbaikan dari siklus
I maka dilaksanakan pada siklus II. Adapun hasil observasi aktivitas
guru siklus II, yakni:
1) Guru mengucapkan salam, berdoa, menanyakan kabar dengan
suara lantang dan memberikan apersepsi tapi masih kurang
memberikan motivasi dan mengondsikan siswa untuk siap
menerima pelajaran. Pada kegiatan ini guru mendapatkan skor 3
yakni baik.
2) Guru menyampaikan tujuan pembelajaran dengan kalimat yang
cukup jelas namun beberapa kalimat masih sulit untuk
dBiologihami. Pada kegiatan ini guru mendapatkan skor 3 yakni
baik.
3) Guru menjelaskan materi secara lisan maupun tulisan kepada siswa
tanpa melihat buku atau RPP. Pada kegiatan ini guru mendapatkan
skor 4 yakni sangat baik.
4) Guru memberi panduan yang jelas kepada seluruh siswa tentang
materi sistem pencernaan. Pada kegiatan ini guru mendapatkan
skor 4 yakni sangat baik.
5) Guru menerapkan seluruh langkah-langkah pada media
pembelajaran dengan sesuai. Pada kegiatan ini guru mendapatkan
skor 4 yakni sangat baik.
6) Performance guru (suara yang jelas dalam menyampaikan materi,
interaksi yang baik kepada beberapa siswa). Pada kegiatan ini guru
mendapatkan skor 3 yakni baik.
7) Guru hanya menggunakan tiga metode selama proses
pembelajaran. Pada kegiatan ini guru mendapatkan skor 3 yakni
baik.
8) Guru memberi apersiasi secara menyeluruh kepada siswa. Pada
kegiatan ini guru mendapatkan skor 4 yakni sangat baik.
9) Guru dan siswa saling aktif membuat kesimpulan dengan bertanya.
Pada kegiatan ini guru mendapatkan skor 4 yakni sangat baik. Dari
hasil analisis data terhadap pengamatan aktivitas guru di atas
memperoleh nilai akhir sebesar 88,8 dan termasuk kategori baik
dengan memperoleh skor sebanyak 31 dari skor maksimal
sebanyak 36. Namun ada beberapa aspek yang masih kurang,
seperti memberikan motivasi dan menjelaskan materi.
Selain data hasil observasi aktivitas guru, diperoleh juga hasil
aktivitas siswa yang dilakukan obsever dengan mengisi lembar
aktivitas siswa selama kegiatan pembelajaran. Adapun hasil
observasi aktivitas siswa siklus II, yakni:
1) Sebagian besar sudah kompak tetapi beberapa siswa masih ada
yang belum serius dalam menjawab salam, berdoa, dan
menjawab kabar. Pada kegiatan ini guru mendapatkan skor 3
yakni baik.
2) Sebagian besar siswa memperhatikan tujuan pembelajaran.
Pada kegiatan ini guru mendapatkan skor 3 yakni baik.
3) Semua siswa memperhatikan penjelsan guru dan sudah siap
menerima pelajaran. Pada kegiatan ini guru mendapatkan skor
4 yakni sangat baik.
4) Petunjuk yang diberikan guru dan sudah jelas mengenai
petunjuk sebelum melakukan diskusi berkelompok. Pada
kegiatan ini guru mendapatkan skor 4 yakni sangat baik.
5) Siswa kompak dalam mengerjakan tugas dengan penuh
bertanggung jawab dengan tugasnya. Pada kegiatan ini guru
mendapatkan skor 4 yakni sangat baik.
6) mempresentasikan hasil kerjanya di depan kelas tetapi tidak
dengan rasa percaya diri. Pada kegiatan ini guru mendapatkan
skor 2 yakni cukup.
7) Siswa bersedia mengerjakan tugas yang diberikan guru dan
bersemangat. Pada kegiatan ini guru mendapatkan skor 4 yakni
sangat baik.
8) Siswa bisa menuntaskan sebagian besar tugasnya dengan waktu
yang kurang tepat. Pada kegiatan ini guru mendapatkan skor 3
yakni baik.
9) respon terhadap ajakan guru untukmenyimpulkan materi
dengan kompak/ bersemangat. Pada kegiatan ini guru
mendapatkan skor 4 yakni sangat baik.
Dari hasil analisis data terhadap pengamatan aktivitas siswa di
atas memeperoleh nilai akhir sebesar 86,1 dengan kategori baik.
Skor yang diperoleh sebanyak 31 dari skor maksimal sebanyak 36.
Kekurangan pada aktivitas siswa terdapat pada kegiatan apersepsi,
beberapa siswa yang kurang merespon pertanyaan yang diberikan
oleh guru. Dengan demikian, hasil yang diperoleh pada siklus II ini
telah mencapai target yang diharapkan sehingga tidak perlu adanya
pengulangan atau perbaikan pada siklus selanjutnya.
d. Refleksi
Pada tahap ini akan dikaji apa yang telah terlaksana dengan
baik maupun yang masih kurang baik dalam proses mengajar. Data
yang diperoleh dapat diuraikan beberapa hal sebagai berikut:
1) Dalam kegiatan apersepsi, ada beberapa siswa yang tidak merespon
pertanyaan-pertanyaan yang diberikan guru. Hal ini disebabkan
karena kurangnya motivasi yang diberikan oleh guru kepada siswa.
2) Dengan media torso dengan papan nama tiap rangka membuat
siswa dapat melihat materi yang tertera di papan nama dan dengan
media torso siswa lebih tertarik dan antusias dalam menerima
materi sistem pencernaan manusia.
3) Dalam diskusi kelompok, semua anggota mampu aktif dan antusias
dalam menjawab. Hal ini dikarenakan seluruh siswa
memperhatikan pembelajaran media torso yang dijelaskan oleh
guru.
4) Hasil aktivitas guru pada siklus II mengalami peningkatan dari
siklus yang sebelumnya, yakni siklus I 77,7 meningkat menjadi
88,8 pada siklus II. Sedangkan hasil aktivitas siswa pada siklus I
yakni 66,6 meningkat menjadi 86,1 pada siklus II.
5) Perolehan nilai siswa pada siklus II mengalami peningkatan jika
dibandingkan pada siklus I. Dari nilai rata-rata semula 77,59
meningkat menjadi 87,0625. Dan ketuntasan belajar pada siklus I
yakni 62,5% meningkat menjadi 87,5% pada siklus II. Hal ini
dapat disimpulkan bahwa hasil perbaikan pembelajaran pada siklus
II dapat dikatakan tuntas, karena siswa yang memperoleh nilai ≥ 75
sebagai batas ketuntasan belajar yang telah ditetapkan mencapai
lebih dari 85%. Dengan demikian, media pembelajaran torso pada
siklus II ini mengalami keberhasilan dan tidak perlu dilakukan ke
siklus berikutnya.
B. Pembahasan
Berdasarkan pengamatan pada pelaksanaan pembelajaran pada siklus I dan
siklus II dapat diketahui bahwa kemampuan memahami materi sistem pencernaan
siswa kelas XI MIPA SMA Negeri 1 Sausapor mengalami peningkatan dari sebelum
dilaksanakannya penelitian yang menggunakan media torso. Sebelum diterapkannaya
media pembelajaran torso diperoleh nilai rata-rata sebesar 71,4375 dari 31 siswa di
kelas tersebut hanya 18 siswa yang tuntas sedangkan 13 siswa lainnya belum tuntas.
Sedangkan pada siklus I setelah diterapkannya media pembelajaran torso
diperoleh nilai rata-rata siswa adalah 77,59 atau 20 siswa yang tuntas dan 11 siswa
yang masih belum tuntas. Hasil pada siklus I ini belum mencapai indikator kinerja
yang sudah ditetapkan, maka dilakukan perbaikan untuk melaksanakan siklus II. Pada
siklus II terjadi peningkatan pada nilai rata-rata siswa yakni 87,0625 atau 28 siswa
tuntas dan 3 siswa yang tidak tuntas. Hal ini dapat dilihat dari diagram berikut:
Series 1
100
90
80
70
60 Series 1
50
40
30
20
10
0
Pra Siklus Siklus 1 Siklus 2

Diagram 4.1 Nilai Rata-Rata Siswa


Peningkatan yang terjadi pada nilai rata-rata kemampuan memahami materi sistem
pencernaan diikuti pula dengan peningkatan hasil ketuntasan belajar siswa. Sebelum
dilaksanakannya penelitian dengan menggunakan media pembelajaran torso diperoleh
persentase ketuntasan belajar siswa hanya sebesar 56,25%.
Hal ini karena kemampuan memahami materi sistem pencernaan manusia masih
rendah, yang disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya adalah: siswa kurang menguasai
materi sistem pencernaan manusia, siswa merasa kesulitan memahami materi sistem
pencernaan, proses pembelajaran yang kurang bervariasi atau monoton sehingga siswa dalam
kegiatanpembelajaran bersifat pasif dan media yang kurang bervariasi.
Setelah diterapkannya media pembelajaran torso pada siklus I, terjadi peningkatan
ketuntasan belajar siswa dari sebelumnya 56,25% pada pra siklus menjadi 62,5% pada siklus
I. Peningkatan yang terjadi masih belum mencapai persentase yang diharapkan yakni minimal
85%, sehingga dilakukanlah siklus II dengan perbaikan dari siklus I. Pada siklus II diperoleh
hasil ketuntasan belajar siswa sebesar 87,5%, di mana ketuntasan belajar siswa telah tercapai.
Hal ini dapat dilihat dari diagram berikut:
Series 1
100
90
80
70
60
50
40
30
20
10
0
Pra Siklus Siklus 1 Siklus 2

Diagram 4.2 Ketuntasan Belajar Siswa


Selain hasil ketuntasan belajar siswa dan nilai rata-rata siswa, data diperoleh melalui
aktivitas guru maupun siswa. Berdasarkan hasil dari pengamatan guru pada siklus I diperoleh
hasil nilai akhir sebesar 77,7 dan hasil pengamatan siswa pada siklus I mencapai 66,6.
Berdasarkan hasil pengamatan pada siklus I dapat diketahui kekurangan dalam
menerapkan media pembelajaran torso diantaranya adalah guru kurang bisa mengkondisikan
siswa, sehingga siswa kurang siap dalam menerima pelajaran, belum maksimalnya pemberian
arahan penggunaan media pembelajaran torso, dan kurang memberikan pertanyaan pada
siswa mengenai materi.
Agar suasana lebih bersemangat dalam satu kelompok, setiap kelompok yang dapat
menjawab dengan urutan pertama akan mendapatkan reward bintang dengan jumlah anggota
setiap kelompok. Dengan demikian, siswa lebih bertanggung jawab pada tugasnya serta siswa
lebih bersemangat dalam berdiskusi. Selain itu menyiapkan media yang lebih menarik dan
membuat papan nama tiap rangka yang lebih berwarna dan berkarakter, agar siswa dapat
memahami materi dan dapat memahami materi sistem pencernaan manusia dngan baik.
Setelah dilakukan refleksi pada siklus I maka dilakukan perbaikan pada siklus II. Pada siklus
I hasil pengamatan aktivitas guru sebesar 77,7 kemudian meningkat menjadi 88,8. Hal ini
dapat dilihat diagram dibawah ini:
90
88
86
84
82
80
78
76
74
72
Siklus 1 Siklus 2

Diagram 4.3 Hasil Observasi Aktivitas Guru


Peningkatan pada keaktifan guru disertai pula peningkatan pada aktivitas siswa. Pada
siklus I keaktifan siswa hanya mencapai 66,6, sedangkan pada siklus II meningkat menjadi
86,1. Persentase keaktifan siswa dapat dilihat pada diagram di bawah ini:
Se rie s1

100
90
80
70
60
50
40
30
20
10
0
Siklus 1 Siklus 2

Diagram 4.4
Hasil Observasi Aktivitas Siswa

Pada siklus I siswa lebih sulit untuk dikondisikan karena guru kurang bisa
mengkondisikan siswa. Dalam menggunakan media pembelajaran torso masih belum bisa
pahami oleh siswa, sehingga siswa masih kebingungan saat melaksanakan diskusi dalam
mengerjakan soal yang diberikan.
Setelah dilakukannya perbaikan pada siklus I maka diterapkannya siklus II. Dengan
menerapkan penggunaan media pembelajaran torso, membuat siswa lebih aktif dan
lebihmemahami struktur sistem pencernaan mansia secara baik. Media pembelajaran torso
memberi wawasan baru bagi siswa dalam proses pembelajaran, dapat meningkatkan
kemampuan memahami materi sistem pencernaan manusia.
BAB V
PENUTUP

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan selama dua siklus dengan
menggunakan media pembelajaran torso dapat disimpulkan sebagai berikut
A. Simpulan
1. Penerapan media pembelajaran torso pada mata pelajaran biologi kelas X IPA sma
Negeri 1 Sausapor terlaksana dengan baik dengan dua siklus. Hal ini dapat dibuktikan
meningkatnya hasil pengamatan aktivitas guru dan hasil pengamatan aktivitas siswa.
Hasil pengamatan guru pada siklus I adalah 77,7 dan hasil pengamatan pada siklus II
adalah 88,8. Sedangkan hasil pengamatan aktivitas siswa pada siklus I adalah 66,6
dan hasilpengamatan pada siklus II adalah 86,1.
2. Setelah diterapkannya pembelajaran torso, menunjukkan terjadinya peningkatan
kemampuan memahami materi sistem pencernaan mata pelajaran biologi kelas XI
IPA SMA Negeri 1 Sausapor. Hal ini dapat dilihat dari adanya peningkatan
ketuntasan belajar siswa pada setiap siklusnya. Pada siklus I nilai rata-rata yang
didapat adalah 77,59 dengan persentase ketuntasan 62,5%, karena pada siklus I belum
mencapai indikator ketuntasan, maka dilaksanakannya siklus II. Pada siklus II nilai
rata-rata siswa adalah 87,0625 dengan persentase ketuntasan belajar adalah 87,5%.
Dari data tersebut dapat dilihat bahwa pada setiap siklusnya telah mengalami
peningkatan hingga memenuhi indikator ketuntasan pada siklus II.
B. Saran
Berdasarkan pengalaman selama melaksanakan penelitian tindakan kelas
dengan menerakan media pembelajaran torso dalam meningkatkan kemampuan
memahami materi sistem pencernaan pada mata pelajaran biologi siswa kelas X
MIPA SMA Negeri 1 Sausapor, dapat disampaikan saran-saran sebagai berikut:
1. Dalam menerapkan media pembelajaran torso, hendaknya guru menggunakan
volume suara yang lantang dan menggunakan bahasa yang mudah dipahami.
Sehingga siswa tidak kesulitan mengikuti proses pembelajaran. Dengan
menggunakan volume yang keras dan bahasa yang mudah dipahami.
2. Media pembelajaran torso dapat digunakan sebagai alternatif guru dalam
meningkatkan kemampuan memahami materi sistem pencernaan di rumah dandi
sekolah pada pembelajaran biologi materi sistem pencernaan di lingkungan
masyarakat. Dengan media pembelajaran torso dapat meningkatkan keaktifan
siswa dan mempermudah siswa dalam mengungkapkan pikirannya. Selain itu
mempermudah siswa dalam mengingat materi sistem pencernaan di rumah dandi
sekolah pada pembelajaran biologi materi sistem pencernaan di lingkungan
masyarakat. Dengan media pembelajaran torso dapat meningkatkan keaktifan
siswa dan mempermudah siswa dalam mengungkapkan pikirannya. Selain itu
mempermudah siswa dalam mengingat materi sistem pencernaan
DAFTAR PUSTAKA

Ali Imron. 2020. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta. Pustaka Jaya


Azhar Arsyad. 2021. Media Pembelajaran. Jakarta. Grafindo
Kunandar. 2020. Langkah Mudah Penelitian Tindakan Kelas sebagai Pengembangan
Profesi Guru. Jakarta: Rajagrafindo Persada.
Sardiman. 2020. Interaksi dan motifasi belajar mengajar. Jakarta: PT. Raja Grasindo
Persada
Surtini. 2009. Upaya Meningkatkan Aktivitas Dan Hasil Belajar Matematika Melalui
Model Pembelajaran Kooperative Tipe STAD Pada Siswa Kelas X A1
Semester Ganjil SMK Negeri 1 Metro T.P 2008/2009. [Link]
Muhamadiyah Metro.
Umar Hamalik. 2020. Proses Belajar Mengajar. Jakarta. Bumi Aksara
Wardani I GAK. 2021. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta. Universitas Terbuka
Wijaya Agung. 2020. BIOLOGI TERPADU Kelas IX A. Jakarta: PT. Raja Grasindo Persada.
Jurnal Lukitaningsih Tri. 2015. Peningkatan Pencapaian Kompetensi Siswa Kelas VIII G
SMP Negeri 2 Paron Pada Materi Sistem Pencernaan Manusia Dengan Pendekatan Saintifik
Melalui Media Puzzel. Jurnal Florea. Vol 2 No. 1, April 2015 (2-12) Khairunnisah, K.,
Karmana, I. W., Dharmawibawa, I. D., Haikal, M., & Abidin, S. M. (2021). Penerapan Model
Pembelajaran Course Review Horay berbantuan Media Torso Biologi untuk Meningkatkan
Motivasi dan Hasil Belajar Siswa. Empiricism Journal, 2(1), 29-39. Rahayu, S. (2021).
Penggunaan Media Tiga Dimensi Berbentuk Torso Separuh Badan Untuk Meningkatkan
Pemahaman Siswa Pada Materi Sistem Pencernaan Manusia Tema Makanan Sehat di Kelas
V Sekolah Dasar Negeri 130 Pekanbaru (Doctoral dissertation, UNIVERSITAS ISLAM
NEGERI SULTAN SYARIF KASIM RIAU). Fitria, L., Alfian, A., & Novallyan, D. (2022).
PENGGUNAAN MEDIA TORSO UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA
PADA MATA PELAJARAN BIOLOGI TERPADU DI MTs. LABORATORIUM UIN
SULTHAN THAHA SAIFUDDIN JAMBI (Doctoral dissertation, UIN Sulthan Thaha
Saifuddin Jambi). Internet: [Link]
diakses pada tanggal 04 April 2020 pukul 12.45
[Link] diakses
pada tanggal 04 April 2021 pukul 17.03

Anda mungkin juga menyukai