Pembelajaran Bahasa Arab Berbasis Pendekatan Psikolinguistik Implikasi Dan Implementasinya
Pembelajaran Bahasa Arab Berbasis Pendekatan Psikolinguistik Implikasi Dan Implementasinya
Tanggal Submit: 29 Desember 2022 Tanggal diterima: 16 Mei 2023 Tanggal Terbit:m01 Juni 2023
Abstrak: Bahasa dan fenomena bahasa sangat erat hubungannya dengan kehidupan manusia. Bahasa
adalah ilmu linguistik yang dipelajari sebagai bahasa yang mengandung beberapa komponen: Fonologi,
morfologi, sintaksis, semantik. Sementara itu, bahasa merupakan kajian psikolinguistik yang mengkaji
aktivitas manusia dalam memperoleh (acquiring), menerima (receiving), dan memproduksi (producing)
bahasa. Pidato dimulai dengan pengkodean semantik dan sintaksis di otak pembicara dan diakhiri
dengan pengkodean semantik dan sintaksis di otak pendengar. Hasil kajian psikolinguistik sering
digunakan untuk memahami pembelajaran bahasa pertama dan pembelajaran bahasa kedua atau
bahasa asing. Hal ini dikarenakan ruang lingkup kajian psikolinguistik sangat bermanfaat dalam
pembelajaran bahasa. Mata kuliah psikolinguistik dimasukkan dalam kurikulum bahasa pada kelompok
proses belajar mengajar, bukan pada kelompok linguistik/linguistik. Karena komponen psikolinguistik
sangat erat hubungannya dengan fungsi pengajaran dan pembelajaran bahasa. Artikel ini mencoba
menjelaskan pentingnya dan ruang lingkup psikolinguistik dalam pembelajaran bahasa Arab, kemudian
memaparkan peran dan pentingnya psikolinguistik dalam pembelajaran bahasa Arab, yang dijabarkan
melalui unsur-unsur kurikulum (tujuan, materi, metode, evaluasi) dan prinsip-prinsip pembelajaran
Bahasa Arab.
Abstract: Language and language phenomena are very closely related to human life. Language is a
linguistic science studied as a language that contains several components: Phonology, morphology, syntax,
semantics. Meanwhile, language is a psycholinguistic study that examines human activities in acquiring,
receiving, and producing language. Speech begins with semantic and syntactic coding in the speaker's brain
and ends with semantic and syntactic coding in the listener's brain. The results of psycholinguistic studies
are often used to understand first language learning and second language or foreign language learning.
This is because the scope of psycholinguistic studies is very useful in language learning. Psycholinguistics
courses are included in the language curriculum in the teaching and learning process group, not in the
linguistics/linguistics group. Since the psycholinguistic component is very closely related to the function of
teaching and learning languages. This article tries to explain the importance and scope of psycholinguistics
in Arabic language learning, then exposes the role and importance of psycholinguistics in Arabic language
learning, which is spelled out through the elements of the curriculum (objectives, materials, methods,
evaluations) and the principles of learning Arabic Language.
PENDAHULUAN
Bahasa merupakan salah satu bentuk yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan
manusia, sehingga dapat dikatakan bahwa bahasa adalah milik masyarakat yang telah
melekatkan diri pada pemiliknya. Sebagai milik manusia, bahasa selalu muncul dalam
segala bentuknya dan dalam tindakan manusia. Tidak ada satu aktivitas manusia pun
yang tidak melibatkan kehadiran bahasa. Jadi definisi bahasa berbeda-beda sesuai
dengan perspektif yang digunakan. Ibnu Jinni mendefinisikan bahasa sebagai "aswatun
yu'abbiru bihaa Kullu qaumin 'an agraadihim" (suara yang diucapkan semua kelompok
manusia untuk mengungkapkan niatnya). Sementara itu, para ahli bahasa
mendefinisikan bahasa sebagai sistem lambang bunyi yang digunakan secara acak
(random) oleh sekelompok anggota masyarakat untuk berinteraksi dan
mengidentifikasi diri.1
Saat ini, tingginya permintaan akan penelitian akademik dalam kehidupan telah
menyebabkan perlunya persilangan antara dua atau lebih disiplin ilmu. Penelitian
interdisipliner ini diperlukan untuk memecahkan berbagai masalah yang semakin
kompleks dalam kehidupan manusia. Karena aktivitas berbahasa merupakan aktivitas
manusia yang kompleks, maka aktivitas berbahasa tidak hanya berkaitan dengan
masalah bahasa, tetapi juga dengan proses penggunaan bahasa. Aktivitas bahasa
berlangsung tidak hanya secara mekanis, tetapi juga secara mental. Dengan kata lain,
aktivitas bahasa juga terkait dengan proses atau fungsi mental (otak). Oleh karena itu,
kajian bahasa ini tidak cukup mempelajari linguistik saja, tetapi harus dilengkapi
dengan kajian tentang proses kesehatan mental atau nalar yaitu psikologi yang
mempelajari proses mental. Dari sinilah lahir psikolinguistik, gabungan dari kedua ilmu
tersebut, yang tujuannya adalah untuk dapat mendeskripsikan secara lebih tepat dan
jelas bagaimana bahasa manusia bekerja.
Secara etimologis, kata psikolinguistik terbentuk dari kata psikologi dan kata linguistik.
Yakni, dua disiplin ilmu yang berbeda yang masing-masing unggul dengan cara dan
metode yang berbeda. Namun keduanya menganggap bahasa sebagai objek formal
mereka. Hanya objek materialnya saja yang berbeda; Linguistik mempelajari bahasa
dari segi fonologi, morfologi, sintaksis dan semantik, sedangkan psikologi mempelajari
perilaku bahasa atau proses bahasa. Dengan kata lain, linguistik berkaitan dengan
kemampuan berbahasa, sedangkan psikolinguistik berkaitan dengan kinerja
kemampuan berbahasa itu (language performance).2
1
Abdul Chaer, Psikolinguistik: Kajian Teoretik (Jakarta: Rineka Cipta, 2003). Hlm,13.
2
Abdul Chaer, Sosiolinguistik: Perkenalan Awal (Jakarta: Rineka Cipta, 2010). Hlm, 38-45.
Emmon Bach secara ringkas menyatakan bahwa psikolinguistik adalah ilmu yang
mempelajari bagaimana sebenarnya penutur atau pengguna bahasa membentuk,
mengkonstruksi atau memahami ungkapan bahasa tertentu.3
Sementara itu, Paul Fraisse menjelaskan bahwa "Psikolinguistik adalah studi tentang
hubungan antara kebutuhan ekspresif dan komunikatif kita, dan antara bahasa yang
dipelajari saat anak-anak dan sarana bahasa yang dipelajari kemudian". Psikolinguistik
adalah studi tentang hubungan antara kebutuhan kita untuk mengekspresikan dan
berkomunikasi dalam bahasa yang kita pelajari sejak kecil dan seterusnya.4
Berdasarkan beberapa definisi di atas, psikolinguistik dalam ruang lingkupnya adalah
ilmu yang mempelajari aktivitas berbahasa manusia, serta pemerolehan, pemahaman,
dan penggunaan bahasa. Psikolinguistik adalah ilmu yang muncul dari perpaduan
linguistik dan psikologi. Tujuan integrasi interdisipliner ini adalah agar masyarakat
dapat lebih menggambarkan fenomena aktivitas kompetensi bahasa dalam kehidupan
masyarakat. Perpaduan keduanya dapat melengkapi kelemahan bahasa yang hanya
membatasi kajian masalah bahasa, dan psikologi yang mengkaji akal manusia.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan merupakan penelitian
kepustakaan yang mengkaji berbagai literatur dengan topik “Psikolinguistik dalam
Pembelajaran Bahasa Arab”, khususnya literatur yang ditulis oleh ahli bahasa Arab dan
psikolinguistik. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif,
dimana berbagai masalah dan latar belakang masalah dikaji secara kritis dan diuraikan
gambaran umum masalah yang diteliti, namun dilakukan interpretasi terhadap materi.
PEMBAHASAN
Ruang Lingkup Psikolinguistik
Psikolinguistik merupakan suatu disiplin keilmuan yang membahas tentang
kebahasaan yang meliputi wilayah mekanistik (hakikat struktur bahasa, dan
genealogisnya) dan mentalistik (proses pemerolehan bahasa, dan pengekspresiannya
secara praktis). 5 Psikolinguistik bertujuan untuk menganalisis objek linguistik dan
psikologis dengan memfokuskan pada bidang psikologi. Psikolinguistik mencoba
3
Henry Taringan Guntur, Psikolinguistik (Bandung: Angkasa, 1986).hlm, 3.
4
Cazacu Slama Tatlana, Introducation To Psycholinguistics (Paris: Mouton, 1973).hlm,39.
5
“Psikolinguistik Dalam Metodologi Pembelajaran Bahasa Arab_Muh Yusuf_Al-Mi’yar,” [Link],
187.
menjelaskan bahasa dari sudut pandang psikologis dan sejauh yang dapat dipikirkan
orang. Psikolinguistik adalah ilmu linguistik terapan (applied linguistics) yang
berkaitan dengan fenomena bahasa, atau hubungan antara bahasa dan akal, serta
sosiolinguistik, neurolinguistik, leksikologi dan pembelajaran bahasa, semuanya
berkaitan dengan hubungan antara bahasa dan aspek eksternal bahasa.6
Dalam kurikulum bahasa lembaga pengajaran, mata kuliah psikolinguistik dimasukkan
dalam kelompok proses belajar mengajar, bukan dalam kelompok linguistik/linguistik.
Karena jurusan psikolinguistik sangat erat kaitannya dengan kegiatan belajar mengajar
bahasa, misalnya 7 hakikat bahasa, fungsi bahasa, komponen bahasa, pembelajaran
bahasa dan alat belajar yang dimiliki orang. Selain itu, Psikolinguistik juga membahas
tentang proses pembentukan bahasa, pemerolehan bahasa pertama (bahasa ibu),
mempelajari bahasa kedua, mempelajari bahasa kedua, ketiga atau lebih, aktivitas otak,
hubungan antara bahasa dengan pikiran dan budaya terjadi selama proses bahasa serta
gangguan bicara dan penyakit (seperti afasia) dan pengobatannya.
6
Fadlan Masykura Setiadi, “Pendekatan Psikolinguistik Bahasa Arab Di Indonesia,” Ihya Al-Arabiyah:
Jurnal Pendidikan Bahasa Dan Sastra Arab, [Link], 59.
7
Chaer, Psikolinguistik: Kajian Teoretik. Hlm, 8.
8
Dihyatun Masqon, Al Lughoh Al Arobiyah: Ta‘allumuhaa Wa Taklimuhaa, n.d. hlm, 5.
9
Abdul Bin Ibrahim Asyly Aziz, Al Nadzariyaat Al Lughowiyah Wa Al Nafsiyah Wa Taklimu Al Lughoh
Al Arabiyah (Riyadh: Jami‘ah Imam Bin Sa‘ud Al Islamiyah, 1999). Hlm, 6-7.
Arab bagi orang non-Arab saat ini mengikuti pengajaran bahasa asing yang merupakan
salah satu bidang kajian linguistik terapan. Seperti halnya belajar bahasa asing lainnya,
belajar bahasa Arab dipengaruhi oleh teori linguistik dan psikologi modern yang
berasal dari negara-negara Barat seperti Amerika, Inggris, dan Swiss.
10
Rusdy Tu’aimah, Al Marjak Fi Ta’limil Lughoh Al Arabiyah Linnaatiqiin Bi Lughotin Ukhro, Juz 1
(Saudi: Jami’ah Ummul Qura, n.d.). hlm, 125.
11
Rusdy Tu’aimah, Taklimu Al Arabiyah Li Ghoiri An Natiq Biha: Manaahijuhu Wa Asalibuhu, n.d.
hlm, 49.
kekhasan bahasa Arab dari segi fonologis, leksikologis dan sintaksis yaitu dengan
mengetahui budaya Arab, kekhasan dan lingkungan Arab.
2. Materi Pembelajaran
Materi pembelajaran merupakan kumpulan pengalaman belajar, pengetahuan dan
keterampilan yang ingin diajarkan kepada siswa untuk dikuasai. Beberapa ahli
menyarankan kriteria atau aspek berikut untuk dipertimbangkan ketika memilih
bahan pembelajaran bahasa Arab:
a. Validitas
Materi pembelajaran bahasa Arab harus sesuai dengan realitas keseharian siswa
dan juga memenuhi syarat akademik.
b. Signifikansi
Materi dianggap penting ketika ada urgensi dalam kehidupan siswa, seperti
Pengetahuan, nilai-nilai dalam masyarakat, keterampilan yang memiliki
kepentingan dan urgensi untuk menjadikan mereka orang yang berguna bagi agama
dan bangsa.
c. Kecenderungan pelajar
Dengan memilih materi pembelajaran sesuai dengan kesukaan siswa misalnya, guru
dapat memilih beberapa topik pembelajaran bahasa Arab sesuai dengan hobi siswa
dengan tetap memperhatikan tujuan pembelajaran.
d. Keterampilan yang dipelajari
Materi pembelajaran disesuaikan dengan tingkat kemampuan dan usia peserta
didik, serta memperhatikan perbedaan individu dengan tetap menghormati prinsip
pembelajaran bertahap.
e. universalitas
Bahan pembelajaran seharusnya baik jika memuat aspek universalitas bagi siswa,
sehingga dapat digunakan dimana saja dan tidak terbatas pada daerah atau budaya
tertentu.
3. Metode Pembelajaran
Metode pembelajaran adalah seperangkat teknik yang digunakan untuk memandu
kegiatan pembelajaran menuju tujuan pembelajaran yang diberikan. Metode
pembelajaran bahasa sangat beragam, sehingga guru harus berhati-hati dalam
memilih metode yang digunakan dalam pembelajaran.12 Perlu dicatat bahwa tidak
ada metode yang lebih tepat dan, dalam segala keadaan, paling cocok untuk siswa
12
Mahmud Naqoh Kamil, Thoroiq Tadris Al Lughoh Al Arabiyah Li Ghoiri Natiqiin Bihaa (Kairo:
Munaddzomah Islamiyah Li Tarbiyah Wa Al Ulum, 2003). Hlm, 69.
13
Abdul ’Azali Majid, Ta‘Allum Al Lughot Al Khayyah Wa Taklimuha: Baina Nadhariyyah Wa Tadbiq
(Kairo: Maktabah Lubnan, n.d.). hlm, 42.
Metode yang dikembangkan oleh C. Gatteno (1972) memiliki gagasan yang sama
dengan teori kognisi Noam Chomsky bahwa siswa memiliki kemampuan bahasa
asli. Agar pembelajaran sangat bergantung pada siswa itu sendiri, peran guru adalah
sebagai fasilitator yang mengkoreksi, membimbing dan merangsang mereka agar
mengeluarkan bakat mereka. Siswa menerima rangsangan tersebut, yang kemudian
diproses dalam diri mereka sebagai bagian dari diri mereka sendiri. Praktik metode
jalan diam terdiri dari fakta bahwa guru memberikan contoh sesedikit mungkin. Di
sisi lain, ia harus menawarkan pembelajaran sebanyak mungkin kepada siswa.
e. Metode eklektik
Rusdy Thu'aimah mengatakan: “Tidak ada metode pembelajaran bahasa yang
paling baik untuk segala keadaan.” Hal ini didasarkan pada asumsi bahwa setiap
metode memiliki kelebihan dan kekurangan serta berfokus pada keterampilan
tertentu. Dari sinilah lahir metodologi eklektik, yang memberi kebebasan kepada
guru untuk memilih aspek metode yang disesuaikan dengan keadaan siswa, kelas
sosial di mana mereka berada, bahasa ibu mereka, dan tujuan pembelajaran bahasa
mereka. Metode opsional menggabungkan diskusi, membaca, latihan, dan tugas.
Pemilihan metode eklektik banyak bergantung pada kemampuan guru dalam
memilih aspek-aspek metode yang sesuai dengan kondisi pembelajaran. Dari sini
dapat disimpulkan bahwa metode tersebut paling cocok untuk mencapai tujuan
pembelajaran bahasa Arab dalam kondisi pembelajaran tertentu dengan
mempertimbangkan beberapa aspek yang telah disebutkan di atas.
4. Evaluasi Pembelajaran
Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa hubungan keempat unsur
kurikulum dalam pembelajaran merupakan hubungan timbal balik. Tujuan
pembelajaran ditentukan sebelum pelaksanaan program pembelajaran, yang
kemudian menentukan pilihan metode dan materi pembelajaran. Meskipun
peringkatnya tidak kalah pentingnya. Unsur ini muhasabah bagi pelaksanaan
program pembelajaran baik saat masih berlangsung maupun setelah pembelajaran
dilaksanakan. Hubungan keempat unsur kurikulum ini dapat digambarkan dalam
skema berikut: Evaluasi Menurut Rusdy Tu'aimah, ada beberapa teknik yang
digunakan untuk mengumpulkan informasi tentang hasil pembelajaran untuk
mengetahui seberapa sukses pembelajaran tersebut atau telah dilaksanakan. 14
Elemen ini digunakan untuk mengevaluasi tujuan, metode dan bahan.
14
Tu’aimah, Taklimu Al Arabiyah Li Ghoiri An Natiq Biha: Manaahijuhu Wa Asalibuhu. Hlm, 228.
1. Prinsip-Prinsip Pendidikan
Pada bagian ini guru harus memahami dan kemudian menguasai praktek-praktek
metode pembelajaran bahasa sehingga dapat memilih dan mengurutkan metode
yang sesuai dengan keadaan siswa. Metode-metode tersebut, seperti yang penulis
jelaskan pada bagian Silabus, yaitu: Metode Qawaid dan taktil, metode langsung,
metode audio-lingual, metode diam, metode eklektik. Karena dia juga harus bisa
menetapkan tujuan, materi dan penilaian.
2. Prinsip-prinsip psikologis
Prinsip ini mengacu pada pengetahuan teori belajar psikologi yang perlu diketahui
guru karena teori psikologi ini merupakan pendekatan atau teori metode
pembelajaran bahasa.16 Prinsip-prinsip psikologis ini adalah:
a. Teori behaviorisme
Belajar menurut teori ini sangat bergantung pada faktor eksternal belajar, seperti
lingkungan, guru, materi atau bahan ajar, metode yang digunakan. Teori ini juga
mendalilkan bahwa teknik tradisional conditioning (operant conditioning), reward
and punishment (hukum tindakan), dan motivasi (reinforcement) adalah teknik
yang harus digunakan untuk mencapai tujuan pembelajaran. Berikut ini adalah
diagram belajar mengajar menurut teori behaviorisme:
b. Teori kognitivisme
Teori kognitisme dengan tegas menentang konsep teori behaviorisme, yang
menurutnya belajar sangat bergantung pada faktor belajar eksternal dan pikiran
siswa, seperti selembar kertas kosong yang kemudian diwarnai oleh lingkungan.
Menurut teori kognitivisme, belajar tidak hanya terkait dengan psikomotor tetapi
15
Ali Madzkur, Khasaais Al Mu‘Allim Al Asry Wa Adwaaruhu: Al Isroof Alaihi Wa Tadribuhu (Kairo:
Darul Fikri, n.d.). hlm, 31.
16
Abdul Ahmad Mansur Majid, Ilmu Al Lughoh Al Nafsy (Riyadh: Jami‘ah Malik Sa‘ud, 1982). Hlm,
43-46.
juga proses kognitif. Dengan kata lain, jiwa pembelajar memainkan peran lebih
besar dalam belajar daripada faktor eksternal. Pikiran mereka ditentukan oleh
faktor eksternal yang mereka terima atau pahami dan kaitkan pengalaman masa
lalu dengan apa yang mereka terima. Padahal faktor eksternal hanya berperan
sebagai pendorong bakat bawaan ini.
a. Teori striktiralisme
Teori ini digagas oleh ahli bahasa Swiss Ferdinand de Sausere (1857-1913). Dia
berasumsi bahwa bahasa aslinya adalah bunyi atau kata-kata yang diucapkan oleh
penutur asli bahasa itu. Oleh karena itu, penelitian linguistik harus dimulai dengan
analisis bunyi atau ucapan penutur asli bahasa tersebut, kemudian bentuk huruf
bahasa tersebut, baru kemudian dilanjutkan dengan analisis struktur kalimat
(sintaksis). Berlawanan dengan asumsi di atas, teori ini menganggap bahwa belajar
terjadi melalui pengulangan, penguatan, peniruan, seperti halnya teori
behaviorisme.
a. Prinsip Pendidikan
Prinsip ini mengacu pada komponen kurikulum, yaitu: Tujuan, metode, materi dan
penilaian pembelajaran. Dalam menetapkan tujuan pembelajaran, seorang guru
bahasa Arab harus memperhatikan beberapa hal, antara lain: Motivasi,
kemampuan, perbedaan individu, dll. Sementara itu, metode pembelajaran bahasa
harus mengikuti pendekatan atau teori pembelajaran, yaitu behaviorisme atau
kognitivisme. Beberapa metode berdasarkan model perilaku adalah metode
langsung, audio-lingual. Metode kognisi meliputi metode cara diam, aturan
tarjamah. Demikian pula dalam materi pembelajaran bahasa Arab, guru harus
menyesuaikan materi tersebut dengan kecenderungan siswa, makna materi
tersebut bagi siswa.
b. Prinsip psikologis
Dari sudut pandang psikologi yang berprinsip, kita dapat melihat keterkaitan antara
psikolinguistik dan pembelajaran bahasa dari keterkaitan antara metode
pembelajaran bahasa dan teori psikologi pembelajaran. Ada dua teori utama dalam
psikologi belajar, yaitu behaviorisme dan kognitivisme. Teori behavioris berfokus
pada pembelajaran melalui pembiasaan, pengulangan, peniruan, penguatan dan
teknik mempengaruhi, teknik ini sesuai dengan metode langsung yang
memperkenalkan pembelajar pada bahasa target meninggalkan bahasa ibu
pembelajar dan auditori, berfokus pada pembelajaran bahasa melalui peniruan dan
pengulangan. dari pelajaran bahasa. Pada saat yang sama, teori kognitivisme
berfokus pada pembelajaran bahasa dengan teknik yang dapat digunakan untuk
memahami dan memperdalam keterampilan bahasa, bukan efisiensi bahasa, karena
behaviorisme berulang. Konsep ini sejalan dengan Kaidah Metode Tarjamah dan
Metode Jalan Diam.
c. Prinsip linguistic
Dari perspektif prinsip-prinsip bahasa, kita dapat melihat hubungan antara
psikolinguistik dan pembelajaran bahasa dari hubungan antara metode
pembelajaran bahasa dan teori bahasa. Teori bahasa adalah teori yang mempelajari
analisis bahasa, dengan dua benang merah utama, yaitu: Strukturalisme generatif
dan kapasitas transformatif. Strukturalisme memandang asal-usul bahasa sebagai
KESIMPULAN
Secara garis besar, psikolinguistik adalah ilmu yang mempelajari aktivitas bahasa
manusia dan perolehan, pemahaman, dan penggunaan bahasa. Sementara itu,
pembelajaran bahasa Arab merupakan bidang yang berhubungan dengan teori, metode
dan teknik untuk membekali siswa dengan keterampilan berbahasa (menyimak,
berbicara, membaca, menulis) dalam bahasa sasaran. Psikolinguistik dan pembelajaran
bahasa Arab memiliki bidang studi yang sama, yaitu bahasa. Selain itu, keduanya juga
termasuk dalam linguistik terapan, sehingga memiliki hubungan yang sangat erat. Jadi,
seorang guru tidak hanya harus menguasai prinsip-prinsip pedagogi, tetapi juga harus
memahami prinsip-prinsip psikologi dan linguistik, yaitu ilmu yang mempelajari
psikolinguistik. Dalam kurikulum bahasa lembaga pengajaran, mata kuliah
psikolinguistik dimasukkan dalam kelompok proses belajar mengajar, bukan dalam
kelompok linguistik/linguistik. Hal ini menunjukkan besarnya peran psikolinguistik
dalam pembelajaran bahasa Arab.
DAFTAR PUSTAKA
Aziz, Abdul Bin Ibrahim Asyly. Al Nadzariyaat Al Lughowiyah Wa Al Nafsiyah Wa
Taklimu Al Lughoh Al Arabiyah. Riyadh: Jami‘ah Imam Bin Sa‘ud Al Islamiyah,
1999.
Chaer, Abdul. Psikolinguistik: Kajian Teoretik. Jakarta: Rineka Cipta, 2003.
———. Sosiolinguistik: Perkenalan Awal. Jakarta: Rineka Cipta, 2010.
Guntur, Henry Taringan. Psikolinguistik. Bandung: Angkasa, 1986.
Kamil, Mahmud Naqoh. Thoroiq Tadris Al Lughoh Al Arabiyah Li Ghoiri Natiqiin Bihaa.
Kairo: Munaddzomah Islamiyah Li Tarbiyah Wa Al Ulum, 2003.
Madzkur, Ali. Khasaais Al Mu‘Allim Al Asry Wa Adwaaruhu: Al Isroof Alaihi Wa
Tadribuhu. Kairo: Darul Fikri, n.d.
Majid, Abdul ’Azali. Ta‘Allum Al Lughot Al Khayyah Wa Taklimuha: Baina Nadhariyyah
Wa Tadbiq. Kairo: Maktabah Lubnan, n.d.
Majid, Abdul Ahmad Mansur. Ilmu Al Lughoh Al Nafsy. Riyadh: Jami‘ah Malik Sa‘ud,
1982.
Masqon, Dihyatun. Al Lughoh Al Arobiyah: Ta‘allumuhaa Wa Taklimuhaa, n.d.
“Psikolinguistik Dalam Metodologi Pembelajaran Bahasa Arab_Muh Yusuf_Al-Mi’yar,”
n.d.
Setiadi, Fadlan Masykura. “Pendekatan Psikolinguistik Bahasa Arab Di Indonesia.” Ihya
Al-Arabiyah: Jurnal Pendidikan Bahasa Dan Sastra Arab, 2020.
Tatlana, Cazacu Slama. Introducation To Psycholinguistics. Paris: Mouton, 1973.
Tu’aimah, Rusdy. Al Marjak Fi Ta’limil Lughoh Al Arabiyah Linnaatiqiin Bi Lughotin
Ukhro, Juz 1. Saudi: Jami’ah Ummul Qura, n.d.
———. Taklimu Al Arabiyah Li Ghoiri An Natiq Biha: Manaahijuhu Wa Asalibuhu, n.d.