Dinas Tanaman Pangan Holtikultura dan Perkebunan
RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT KERJA
( R KS )
KEGIATAN
Pengadaan Interior Finishing HPL Rumah Dinas
BAB I PEKERJAAN PERSIAPAN
PASAL I
ADMINISTRASI DAN UMUM
1. URAIAN UMUM PEKERJAAN
a. Satuan Kerja : Dinas Tanaman Pangan Holtikultura dan Perkebunan
b. Nama Pekerjaan : Pengadaan Interior Finishing HPL Rumah Dinas
c. Lokasi Pekerjaan : Kota Bengkulu
d. Pelaksanaan pekerjaan harus mengacu pada
1. Rencana kerja dan syarat-syarat
2. Bestek, detail dan gambar kerja
e. Apabila terjadi perbedaan teknis / persepsi tentang pelaksanaan maka diharuskan berkonsultasi dan
persetujuan pihak Direksi
f. Pemborong diharuskan menyerahkan contoh material/ bahan/ barang sebelum digunakan/
dipasang di lapangan
2. LINGKUP PEKERJAAN
Pekerjaan yang harus dilaksanakan adalah sesuai dengan yang dinyatakan dalam gambar Rencana, Uraian
Rencana Kerja dan Syarat-syarat Teknis, Daftar Kuantitas dan penjelasan penjelasan tambahan lainnya yang
diberikan. Lingkup pekerjaan ini terdiri dari:
a. Pas. Partisi Dinding 1 sisi Multiplek Fin. Hpl
b. Pek. Pas. Partisi Dinding 1 sisi Multiplek Fin. Hpl (Sebelah Backdrop Tv)
c. Pek. Pas. Backdrop TV Multiplek Fin. Hpl
d. Pek. Wallpanel
e. Instalasi Listrik
f. StripLED
g. Lampu Downlight 12 watt
h. Kunci & Penggantungan
i. Engsel Pintu Lemari
3. SITUASI
a. Lokasi Lokasi pengadaan pekerjaan : Kota Bengkulu
b. Pada saat Aanwizjing lapangan lokasi akan ditunjukan pekerjaan yang akan dilaksanakan,
Kontraktor wajib meneliti situasi Tapak, terutama keadaan Lokasi Pekerjaan, sifat dan luasnya
pekerjaan, dan hal-hal lain yang dapat mempengaruhi harga penawaran, untuk itu setiap
rekanan diharuskan meneliti dengan seksama setiap detail bangunan rencana
c. Ukuran luas tersebut dalam pasal 1 ayat-ayat terdahulu dimaksudkan sebagai garis besar/prinsip/
patokan pelaksanaan dan pegangan Kontraktor.
d. Kontraktor harus sudah memperhitungkan segala kondisi yang ada (Existing) di Lokasi Pekerjaan
yang meliputi antara lain, pipa, kabel di dalam gedung dan lain sebagainya yang dapat
mengganggu kelancaran pelaksanaan pekerjaan.
e. Apabila dalam pelaksanaan pekerjaan harus dilakukan pembongkaran ataupun pemindahan hal-
hal tersebut diatas, maka Kontraktor diwajibkan memperbaiki kembali, atau
menyelesaikan pekerjaan tersebut sebaik mungkin tanpa mengganggu system yang ada.
f. Didalam kasus ini Kontraktor tidak dapat mengajukan "klaim” biaya pekerjaan tambah,
sebelum melakukan pemindahan/ pembongkaran segala sesuatu yang ada di lapangan, Kontraktor
diwajibkan melaporkan dahulu ke Konsultan Pengawas/Direksi.
g. Kelalaian atau kekurang telitian Kontraktor dalam hal ini tidak dapat dijadikan alasan untuk
mengajukan klaim baik dari segi waktu maupun biaya
h. Lahan akan diserahkan kepada pemborong dengan kondisi seperti pada saat Aanwizjing
lapangan, seluruh biaya yang dikeluarkan untuk meneliti dan meninjau lapangan
adalah menjadi tanggung jawab sepenuhnya pihak rekanan.
4. GAMBAR-GAMBAR DOKUMEN
Rencana Kerja dan syarat-syarat ini (RKS) dilampiri:
a. Gambar Rencana Arsitektur
5. PENJELASAN RKS DAN GAMBAR - GAMBAR
a. Kontraktor wajib meneliti semua gambar kerja, Rencana Kerja dan Syarat-syarat (RKS); termasuk
tambahan dan perubahannya dalam Berita Acara Penjelasan Pekerjaan yang dibantu Konsultan
Pengawas/Direksi.
b. Ukuran Pada dasarnya semua ukuran utama yang tertera dalam Gambar Kerja meliputi:
As - As
Luar - Luar
Dalam - Dalam
Luar - Dalam
c. Pembedahan Gambar
• Bila Gambar Kerja tidak sesuai dengan Rencana Kerja dan Syarat-syarat (RKS), maka
yang mengikat/berlaku adalah Gambar.
• Bila suatu Gambar tidak cocok dengan Gambar yang lain dalam satu disiplin kerja,
maka gambar yang mempunyai skala yang lebih besar yang berlaku/mengikat.
• Bila ada perbedaan antara Gambar Kerja Arsitektur dengan Struktur, maka yang
berlaku/ mengikat adalah Gambar Kerja Arsitektur sepanjang tidak mengurangi segi
Konstruksi
d. Gambar Detail Pelaksanaan (Shop Drawing).
• Gambar Detail Pelaksanaan atau Shop Drawing adalah Gambar Kerja yang wajib
dibuat Kontraktor berdasarkan Gambar Kerja Dokumen yang telah disesuaikan
• Kontraktor wajib membuat Shop Drawing untuk Detail-detail khusus yang belum
tercakup lengkap dalam Gambar Kerja Dokumen, maupun yang diminta oleh
Konsultan Pengawas/Direksi dan atau Konsultan Perencana.
• Dalam Shop Drawing ini harus dicantum Konsultan Pengawas/Direksi dan
digambarkan semua data yang diperlukan termasuk pengajuan contoh jadi
dari semua bahan, keterangan produk, cara pemasangan dan atau
spesifikasi/ persyaratan khusus seuai dengan spesifikasi pabrik yang belum
tercakup secara lengkap didalam Gambar Kerja Dokumen maupun Rencana Kerja
dan Syarat-syarat (RKS).
• Kontraktor wajib mengajukan Shop Drawing kepada Konsultan Pengawas/Direksi
dan Konsultan Perencana untuk mendapatkan persetujuan tertulis bagi pelaksanaan.
• Kontraktor tidak dibenarkan mengubah atau mengganti ukuran-ukuran yang
tercantum didalam gambar Kerja Dokumen tanpa sepengetahuan Konsultan
Pengawas/Direksi.
• Segala akibat yang terjadi adalah tanggung jawab Kontraktor, baik dari segi biaya
maupun waktu pelaksanaan.
6. JADWAL PELAKSANAAN
a. Sebelum mulai pelaksanaan pekerjaan di lapangan, Kontraktor wajib membuat rencana kerja
pelaksanaan dan bagian-bagian pekerjaan berupa Bar Chart & S-Cun/e Bahan dan Tenaga dan
mengkoordinasikan hasilnya kepada Konsultan Pengawas/Direksi, sehingga pelaksanaan
pekerjaan terkendali dan tidak mengganggu kelancaran proyek secara keseluruhan dan
kelancaran kegiatan di sekitar lokasi pekerjaan.
b. Rencana Kerja tersebut harus mendapatkan persetujuan terlebih dahulu dari Konsultan
Pengawas/Direksi, paling lambat dalam waktu 14 (empat belas) hari kalender setelah
surat keputusan penunjukan (SKP) diterima oleh Kontraktor.
c. Rencana Kerja yang disetujui oleh Konsultan Pengawas/Direksi, akan disahkan oleh Pemberi
Tugas
d. Kontraktor wajib memberikan salinan Rencana Kerja rangkap 4 (empat) kepada Konsultan
Pengawas/Direksi, 1 (satu) salinan Rencana Kerja harus ditempel pada bangsal Kontraktor
di lapangan yang selalu diikuti dengan grafik kemajuan pekerjaan/prestasi kerja.
e. Konsultan Pengawas/Direksi akan menilai prestasi pekerjaan Kontraktor berdasarkan Rencana
Kerja tersebut.
7. KUASA KONTRAKTOR DILAPANGAN
a. Di lapangan pekerjaan, Kontraktor/Pemborong „wajib" menunjuk seorang Kuasa Kontraktor atau
biasa disebut “Pelaksana” yang cakap dan ahli untuk memimpin pelaksanaan pekerjaan di
lapangan dan mendapat kuasa penuh dari Kontraktor/Pemborong, berpendidikan minimal
sarjana teknik sipil atau sederajat dengan pengalaman minimum 1 (Satu) tahun
b. Dengan adanya “Pelaksana” tidak berarti bahwa Kontraktor/Pemborong lepas tanggung jawab
sebagian maupun keseluruhan terhadap kewajibannya.
c. Kontraktor/Pemborong wajib memberi tahu secara tertulis kepada Tim Pengelola Teknis
Wilayah dan Konsultan Pengawas/Direksi, nama dan jabatan “Pelaksana” untuk mendapat
persetujuan.
d. Bila dikemudian hari menurut Tim Pengelola Teknis Wilayah dan Konsultan Pengawas/Direksi
bahwa “Pelaksana” dianggap kurang mampu atau tidak cukup cakap memimpin pekerjaan, maka
akan diberitahukan kepada Kontraktor/Pemborong secara tertulis untuk mengganti “Pelaksana”.
e. Dalam waktu 7 (tujuh) hari setelah dikeluarkan surat pemberitahuan,
Kontraktor/Pemborong harus sudah menunjuk “Pelaksana” yang baru atau
Kontraktor/Pemborong sendiri (penanggung jawab/Direktur Perusahaan) yang akan memimpin
pelaksanaan pekerjaan
8. JAMINAN DAN KESELAMATAN KERJA
a. Kontraktor diwajibkan menyediakan obat-obatan menurut syarat-syarat Pertolongan Pertama pada
Kecelakaan (P3K) yang selalu dalam keadaan siap digunakan dilapangan, untuk mengatasi
segala kemungkinan musibah bagi semua petugas dan pekerja dilapangan.
b. Kontraktor wajib menyediakan air minum yang cukup bersih dan memenuhi syarat-syarat
kesehatan bagi semua petugas yang ada dibawah kekuasaan Kontraktor.
c. Kontraktor wajib menyediakan air bersih, Kamar Mandi dan WC yang layak dan bersih bagi
semua petugas dan pekerja.
d. Tidak diperkenankan, membuat penginapan didalam lapangan pekerjaan untuk Pekerja,
kecuali untuk penjaga keamanan.
e. Kontraktor Pelaksana Wajib Menjaga Keselamatan seluruh personil yang terlibat di Dalamnya
f. Segala hal yang menyangkut jaminan social dan keselamatan para pekerja wajib diberikan oleh
Kontraktor sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku.
9. PEMERIKSAAAN BAHAN DAN KOMPONEN JADI
a. Semua bahan dan material dan komponen jadi yang didatangkan harus memenuhi syarat-syarat
yang ditentukan dalam buku RKS ini.
b. Konsultan Pengawas/Direksi berwenang menanyakan asal bahan/material dan komponen
jadi, dan Kontraktor wajib memberi tahu.
c. Contoh bahan/material dan komponen jadi yang akan digunakan harus diserahkan kepada
Konsultan Pengawas/Direksi dan Konsultan Perencana untuk mendapatkan “Standard of
appearance”. Paling lambat waktu penyerahan contoh bahan adalah 2 (dua) minggu sebelum
jadwal pelaksanaan. Keputusan bahan, jenis, warna, tekstur, dan produk yang dipilih; akan
diinformasikan oleh Konsultan Pengawas/Direksi kepada Kontraktor selama tidak lebih dari 7
(tujuh) hari dari kalender setelah penyerahan contoh bahan tersebut.
d. Semua bahan/material dan komponen jadi harus disetujui secara tertulis oleh Konsultan
Perencana/Konsultan Pengawas/Direksi sebelum dipasang.
e. Bahan/material dan komponen jadi yang telah didatangkan oleh Kontraktor dilapangan
pekerjaan tetapi ditolak pemakaiannya oleh Konsultan Pengawas/Direksi harus segera
dikeluarkan dari lapangan pekerjaan selambat- lambatnya dalam waktu 2x24 jam terhitung dari
jam penolakan.
f. Penyimpanan dan pemeliharaan bahan/material dan komponen jadi harus sesuai dengan
persyaratan dari pabrik pembuat, dan atau sesuai dengan spesifikasi bahan tersebut.
10. PEMERIKSAAAN HASIL PEKERJAAN
a. Pekerjaan atau bagian pekerjaan yang telah dilakukan Kontraktor tetapi karena bahan/material
ataupun komponen jadi, maupun mutu pekerjaannya sendiri ditolak oleh Konsultan
Pengawas/Direksi harus segera dihentikan dan selanjutnya dibongkar atas biaya Kontraktor.
b. Sebelum memulai pekerjaan lanjutan yang apabila bagian pekerjaan ini telah selesai, akan tetapi
belum diperiksa oleh Konsultan Pengawas/Direksi, Kontraktor diwajibkan meminta persetujuan
dari Konsultan Pengawas/Direksi. Baru apabila Konsultan Pengawas/Direks telah menyetujui
bagian pekerjaan tersebut, Kontraktor dapat meneruskan pekerjaannya.
c. Bila permohonan pemeriksaan itu dalam waktu 2 x 24 jam dihitung dari jam diterimanya Surat
Permohonan Pemeriksaan, maka Kontraktor dapat meneruskan pekerjaannya dan bagian yang
seharusnya diperiksa dianggap telah disetujui Konsultan Pengawas/Direksi. Hal ini
dikecualikan bila Konsultan Pengawas/Direksi minta perpanjangan waktu.
11. PEKERJAAN TAMBAH KURANG DAN PEKERJAAN PERSIAPAN
a. Pekerjaan Tambah Kurang
- Tugas mengerjakan pekerjaan tambah kurang diberitahukan dengan tertulis atau
ditulis dalam buku harian oleh Konsultan Pengawas/Direksi serta disetujui oleh Pemberi
Tugas.
- Pekerjaan tambah kurang hanya berlaku bila memang nyata-nyata ada perintah tertulis
dari Konsultan Pengawas/Direksi atas persetujuan Pemberi Tugas.
- Biaya pekerjaan Tambah Kurang akan diperhitungkan menurut daftar harga satuan
pekerjaan, yang dimasukan oleh Kontraktor.
BAB II PEKERJAAN ARSITEKTUR
PASAL I
PEKERJAAN PARTISI
1. LINGKUP PEKERJAAN
Pekerjaan ini dilakukan meliputi pemasangan panel kayu /plywood veneer, sesuai yang disebutkan /
ditunjukkan dalam gambar dan sesuai petunjuk Konsultan Pengawas/MK.
2. PERSYARATAN BAHAN
a. Jenis : jenis bahan / material yang digunakan adalah sebagai berikut:
a. Bahan utama 1 : Rangka Multiplek 12 mm.
b. Bahan utama 2: Plywood dan MDF untuk finishing dengan HPL.
c. Bahan pengikat & perekat.
d. Bahan finishing : High Pressure Laminate (HPL).
b. Persyaratan : Pemilihan jenis bahan / material dan sumbernya harus sesuai dengan spesifikasi.
c. Pengajuan Alternatif: Apabila karena suatu hal, Pelaksana akan mengganti jenis bahan / material
atau sumber yang telah dispesifikasikan, pengajuan alternatif tersebut harus memenuhi
persyaratan yang ada dan mendapat persetujuan Konsultan Pengawas/MK dan Perencana.
3. SYARAT - SYARAT PELAKSANAAN
a. Plywood Veneer dan Kayu Padat
- Persyaratan : Jenis plywood veneer yang dipakai adalah plywood nyatoh dan plywood mega
sungkai atau sesuai yang tercantum dalam gambar desain.
- Kayu padat/solid yang dipakai adalah sama/sejenis dengan plywood veneer yang
- dipakai dalam satu barang/item tersebut.
- Ukuran-ukuran yang tertera pada gambar desain adalah ukuran jadi artinya ukuran kayu
sesudah diserut dan diproses atau diberi finishing.
- Kedap air : kayu harus melalui proses tertentu supaya mempunyai kedap air yang cukup,
terutama bila digunakan untuk jenis furniture sebagai berikut:
- Kualitas / Mutu Kayu : Kayu yang digunakan harus memiliki kualitas / mutu yang
- sesuai Standard yang ada dan sesuai dengan tujuan penggunaannya.
- Kelembaban Kayu : Persyaratan kelembaban kayu yang dipakai harus memenuhi syarat NI-5
(PPKI tahun 1961). Untuk pekerjaan ini, kelembaban kayu yang dijinkan, baik kayu padat
maupun kayu lapis tidak boleh melebihi 12% WMC. Khusus untuk kayu Kamper atau kayu
Kapur tidak diperkenankan melebihi 10% WMC.
- Pola Serat Kayu : Harus diperhatikan pola serat kayu pada pekerjaan kayu dekoratif, baik yang
bersifat “veneer matching”, “cross veneer inlay”, ataupun “banding”, harus sesuai dengan
desain dan pola yang tertera pada gambar desain, serta sesuai dengan contoh warna pada
Material color board. Pengerjaan harus dilakukan sebaik-baiknya sehingga menghasilkan
permukaan dekoratif yang betul-betul rata, sejajar, halus dan menghasilkan daerah-daerah
pertemuan yang rapi.
- Metode : Semua pekerjaan kayu di tempat pengerjaan harus sebaik mungkin, dalam ruang
yang kering, sirkulasi udara baik dan dijaga agar tidak terkena cuaca / udara langsung.
Pencegahan kerusakan oleh benturan amat mutlak, baik sebelum maupun sesudah terpasang.
b. Alat Pengikat dan Bahan Perekat
- Alat Pengikat: Sediakan alat-alat pengikat kayu yang diperlukan seperti angkur, paku, sekrup,
baut dan jenis lain yang disetujui. Penggunaan pengikat ini harus
- tampak rapi, tidak menimbulkan keretakan dan harus menunjang konstruksi panel agar kuat
dan kokoh. Bila perlu kayu harus dibor agar permukaannya tidak retak.
- Metode : Pembuatan, persiapan dan pemasangan alat-alat pengikat yang terbuat dari logam /
“iron mongery” pada kayu harus dikerjakan dengan mesin kayu sehingga tercapai kerapian
dan ketepatan yang setinggi-tingginya.
- Bahan Perekat : Perekat yang digunakan harus disetujui dan tidak berpengaruh bagi
kesehatan. Penggunaan perekat ini harus menunjang konstruksi furniture agar kuat dan
kokoh, permukaan kayu harus tampak rapi dan tidak meninggalkan noda (terutama bila di-
spesifikasikan bahwa permukaan kayu diberi “clear / transparent finish”).
BAB III PEKERJAAN AKHIR
PASAL I
PEKERJAAN PENYELESAIAN AKHIR
1. PEKERJAAN PERBAIKAN MINOR
a. Perbaikan minor pekerjaan adalah pekerjaan perbaikan kecil yang diakibatkan oleh pelaksanaan
pekerjaan
b. Setiap bagian dari dampak pekerjan yang diakibatkan oleh kelalaian dan ketidaktelitian Kontraktor
dalam pelaksananan harus dilakukan perbaikan.
c. Kontraktor Bertanggung jawab penuh atas kesempurnaan pekerjaan hingga masa berakhir kontrak
2. PEKERJAAN PEMBERSIHAN AKHIR
a. Pekerjaan pembersihan akhir adalah pekerjaan pembersihan kembali lokasi yang terdiri sisa bahan
bangunan, kotoran dan sampah yang di akibatkan oleh pelaksanaan pekerjaan.
b. Pembersihan tapak Konstruksi dan pada semua pekerjaan yang termasuk dalam lingkup
pekerjaan seperti tercantum di gambar kerja dan terurai dalam buku RKS ini dari semua barang
atau bahan bangunan lainnya yang dinyatakan tidak digunakan lagi setelah pekerjaan selesai
menjadi tanggung jawab kontraktor.
c. Selama pembangunan berlangsung, kontraktor harus menjaga keamanan bahan/material, barang
maupun bangunan yang dilaksanakannya sampai tahap serah terima.
3. PEKERJAAN LAINNYA
a. Hal-hal yang timbul pada pelaksanaan yang memerlukan penyelesaian di lapangan akan
diatur/dibicarakan dilapangan oleh konsultan pengawas dan kontraktor, bila diperlukan akan
dibicarakan dengan konsultan perencana.
b. Selain persyaratan teknis yang tercantum di atas, pemborong diwajibkan pula mengadakan
pengurusan -pengurusan perizinan.
c. Sebelum penyerahan pertama, kontraktor wajib meneliti semua bagian pekerjaan yang belum
sempurna, dan harus segera diperbaiki, semua ruangan harus bersih, halaman harus ditata rapih
dan semua barang yang tidak berguna harus disingkirkan dari proyek. Pemberesan halaman ini
harus dilaksanakan sesuai petunjuk konsultan pengawas.
d. Meskipun telah ada pengawas dan unsur-unsur lainnya, semua penyimpangan dari ketentuan
gambar kerja dan bestek menjadi tanggung jawab Pelaksana, untuk itu Pelaksana/pemborong
harus menyelesaikan pekerjaan dengan sebaik mungkin.