0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan6 halaman

Pashol

Dokumen ini berisi dua cerita dongeng anak, yaitu tentang Pashol, panda kecil yang belajar pentingnya salat dari ibunya, dan Kancil yang bermain petak umpet dengan Kerbau, di mana Kancil akhirnya mengakui kekalahannya. Dalam cerita Pashol, ia belajar dari kesalahannya dan berjanji untuk tidak tidur larut malam lagi. Sedangkan dalam cerita Kancil dan Kerbau, Kancil yang sombong akhirnya belajar untuk tidak meremehkan Kerbau setelah kalah dalam permainan.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan6 halaman

Pashol

Dokumen ini berisi dua cerita dongeng anak, yaitu tentang Pashol, panda kecil yang belajar pentingnya salat dari ibunya, dan Kancil yang bermain petak umpet dengan Kerbau, di mana Kancil akhirnya mengakui kekalahannya. Dalam cerita Pashol, ia belajar dari kesalahannya dan berjanji untuk tidak tidur larut malam lagi. Sedangkan dalam cerita Kancil dan Kerbau, Kancil yang sombong akhirnya belajar untuk tidak meremehkan Kerbau setelah kalah dalam permainan.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

6.

Pashol, Panda Anak Sholeh


Di daerah perbukitan China yang dingin, hiduplah habitat panda. Dalam
habitat tersebut, tinggalah Pashol, seekor panda kecil bersama
keluarganya. Hari ini Pashol tampak sedih. Ia berdiam diri di bawah
rerimbunan pohon.

Ia bangun kesiangan sehingga tidak dapat berangkat ke masjid. Ibu


Pashol mendekati anaknya yang nampak sedih. "Ada apa, Pashol?"

"Bu, pukul aku! Hari ini aku bangun kesiangan dan tidak salat subuh,"
jawab Pasal sambil menundukkan kepala. Mendengar ucapan itu. Ibu
Pashol tersenyum.

"Lihat ibu!" Pashol pun secara perlahan mencoba menengadahkan


kepala dan menatap ibunya.

"Ibu tidak akan memukulmu, ibu tahu kamu anak baik! Lupa itu wajar.
Kamu sudah pintar karena tahu kesalahanmu," ungkap ibu menasehati,
"Yang penting jangan diulangi lagi, Nak!" tambahnya.

Mendengar perkataan ibunya, Pashol pun segera meminta maaf dan


memeluk ibunya.

"Sekarang hapus rasa sedihmu dan ingat, jangan tidur larut malam!
Agar dapat bangun lebih awal. Dan segeralah ambil air wudhu setelah
terbangun di waktu pagi dan salatlah, Nak!" ungkap ibu.

Pashol mengangguk mendengarkan nasihat ibunya. Segera ia


mengambil air wudhu untuk melaksanakan salat. Usai salat, ia kembali
kepada ibunya.

"Salat itu ibarat balas budi. Kita bebas menghirup udara, melihat
indahnya dunia, itu semua pemberian Allah SWT semata. Maka, sudah
sepantasnya kita bersyukur atas karunia-Nya dengan menjalankan
perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-laranganNya," ungkap ibu
Pashol padanya kemudian.
Ibu Pashol tidak bosan untuk mengingatkan. Bahwa salat termasuk
bagian perintah agama yang wajib hukumnya. Ibu Pashol selalu
memberikan contoh kepada Pashol untuk menjaga salat lima waktunya.

"Terima kasih ibu untuk nasihatnya. Pashol berjanji akan memperbaiki


salat Pashol. Pashol juga janji, tidak akan tidur terlalu malam lagi agar
bisa bangun lebih awal bersama ayam-ayam," ungkap Pashol dengan
selipan tawa ringan.

Ibu Pashol pun tertawa bahagia mendengar ucapan putranya dan


dengan bangga memeluknya. "Ibu sayang sama Pashol," bisik ibu
padanya.

[Link] dan Siput Lomba Lari


Suatu hari kancil bertemu dengan siput di pinggir kali. Melihat siput
merangkak dengan lambatnya, sang kancil dengan sombong dan
angkuhnya berkata, "Hai Siput, beranikah kamu beradu lomba
denganku?"

Ajakan itu terasa mengejek Siput. Siput berpikir sebentar, lalu


menjawab, "Baiklah, aku terima ajakanmu dan jangan malu kalau nanti
kamu sendiri yang kalah."

"Tidak bisa. Masa jago lari sedunia mau dikalahkan olehmu Siput,
binatang perangkak kelas wahid di dunia," ejek Kancil.

"Baiklah, ayo cepat kita tentukan harinya!" kata Kancil.

"Bagaimana kalau hari Minggu besok, agar banyak yang menonton,"


kata Siput.

"Oke aku setuju," jawab Kancil.


Sambil menunggu hari yang telah ditentukan itu, Siput mengatur taktik.
Segera dia kumpulkan bangsa Siput sebanyak-banyaknya.

Dalam pertemuan itu, Siput membakar semangat kawan-kawannya,


mereka sangat girang dan ingin mempermalukan Kancil di hadapan
umum.

Dalam musyawarah itu, disepakatilah dengan suara bulat bahwa dalam


lomba nanti di setiap Siput ditugasi berdiri di antara rerumputan di
pinggir kali. Diaturlah tempat mereka masing masing.

Bila Kancil memanggil, maka Siput yang di depannya itu yang


menjawab. Begitu seterusnya.

Sampailah saat yang ditunggu-tunggu itu. Penonton pun sangat penuh


menyaksikan perlombaan itu. Para penonton berdatangan dari semua
penjuru hutan.

Kancil mulai bersiap di garis start. Pemimpin lomba mengangkat


bendera, tanda lomba akan segera dimulai. Kancil berlari sangat
cepatnya. Semua tenaga dikeluarkannya.

Tepuk tangan penonton pun menggema memberi semangat pada


Kancil. Setelah lari sekian kilometer, berhentilah Kancil. Dengan napas
terengah-engah dia memanggil.

"Siput!" seru Kancil.

Siput yang berada di depannya menjawab,"Ya, aku di sini."

Karena tahu Siput telah ada di depannya, Kancil pun kembali lari sangat
cepat sampai tidak ada lagi tenaga yang tersisa. Kemudian dia pun
kembali memanggil.
"Siput!" teriak Kancil lagi.

Siput yang di depannya menjawab, "Ya, aku di sini."

Berkali-kali selalu begitu. Sampai akhirnya Kancil lunglai dan tak dapat
berlari lagi. Menyerahlah sang Kancil dan mengakui kekalahannya.
Penonton terbengong-bengong.

Siput menyambut kemenangan itu dengan senyuman saja. Tidak ada


loncatan kegirangan seperti pada umumnya pemenang lomba.

[Link] dan Kerbau Bermain Petak Umpet


Pada suatu hari seekor Kancil bertemu dengan kerbau. Pada
kesempatan itu pula si Kancil mengajak Kerbau untuk bermain petak
umpet di dekat pematang sawah.

Lalu si Kancil berkata "Hai, Kerbau! Apa kabarmu?"

Jawab si kerbau, "Saya baik-baik saja. Bagaimana denganmu?"

"Saya juga baik-baik saja. Bagaimana kalau pertemuan ini kita rayakan
dengan sebuah permainan petak umpet? Jawab Si kancil.

"Ya, kalau saya setuju saja," jawab si Kerbau.

"Kau akan pasti kalah karena badanmu lebih besar dari badanku,"
hardik si Kancil.

"Ayo kita lihat saja nanti. Sekarang kamu yang lebih dulu untuk
bersembunyi," jawab si Kerbau.
Kancil mulai mencari tempat persembunyian, Kancil berlari-lari
sampailah ia di bawah sebatang pohon. Kancil mulai mengendap-
endapkan dirinya.

Ketika itu dedaunan berguguran sehingga menutupi badan si Kancil. Si


Kerbau pun mulai mencari si Kancil.

"Hai Kancil di mana kau?" sambil berlari kesana kemari, namun si Kancil
tidak dapat ditemukannya.

Si Kerbau menginjak-injak rerumputan dan melompat-lompat hampir


saja si Kancil terinjak oleh si Kerbau tapi ia tidak menemukannya. Si
Kancil sudah tak sanggup lagi bersembunyi lebih lama.

Akhirnya, si Kancil keluar dari persembunyiannya dan melompat ke arah


teriakan Kerbau.

Lalu, ia berkata, "Kerbau aku mengaku kalah aku tak sanggup lagi
bertahan lebih lama. Kali ini aku mengaku kalah. Sekarang giliranmu
untuk bersembunyi. Ayolah, Kerbau, bersembunyilah," kata Si Kancil.

Kerbau pun mulai bergegas meninggalkan Kancil untuk mencari tempat


persembunyian. Kerbau mencari tempat yang aman, tiba-tiba Kerbau
menemukan gubuk yang terbakar.

Kerbau segera menelentangkan dirinya dengan meluruskan keempat


kakinya ke arah atas. Ketika itu pula Kancil mulai mencari Kerbau
berlari-lari berputar mengelilingi rerumputan namun tak menemukan
Kerbau.

Tiba-tiba, Kancil melihat gubuk yang terbakar itu. Kancil


menghampirinya dan mendekatinya. Lalu meraba-raba tiang itu. Dalam
hati Kancil berkata, "Tiang ini kok ada bulunya. Persis seperti kaki
Kerbau. Ah, barangkali tidak."
Kancil meninggalkan gubuk itu dan terus-menerus mencari Kerbau
namun tak ditemukan juga. Kancil kembali ke gubuk itu lagi dan
memperhatikan dengan secara seksama, tetap sama saja.

Akhirnya Kancil merasa jenuh dan berteriak memanggil, "Kerbau...


Kerbau... Kerbau. Keluarlah kau. Aku mengaku kalah. Keluarlah. Aku
tak mampu untuk mencarimu lagi."

Mendengar teriakan Kancil Kerbau pun keluar dari persembunyiannya


dan menghampiri Kancil, "Ha... Ha... Ha... bagaimana Kancil siapa di
antara kita yang menang?"

"Ya... Kerbau, aku merasa malu karena aku kalah darimu," jawab si
Kancil.

Mulai saat itu, si Kancil berjanji tidak akan sombong lagi kepada si
Kerbau.

Baca Juga: 5 Cerpen Lucu, Amunisi Cairkan Suasana Bukber &


Lebaran

Itu dia beberapa dongeng anak sebelum tidur yang lucu yang bisa kamu
jadikan referensi. Semoga bermanfaat, ya!

Selain dongeng sebelum tidur lucu untuk anak-anak, kamu juga bisa
membacakan dongeng lucu sebelum tidur buat pacar melalui
sambungan telepon. Oleh sebab itu, biar lancar, jangan lupa beli kuota
internet atau pulsa di aplikasi MyTelkomsel, ya!

Anda mungkin juga menyukai