Cahaya dalam Kegelapan: Kisah Obito Uchiha
Hujan deras mengguyur tanah Kusagakure. Langit yang kelabu
seolah menangisi pertempuran yang sedang berlangsung. Di tengah
reruntuhan bebatuan, seorang ninja muda dengan rambut hitam acak-
acakan tergeletak tak berdaya. Obito Uchiha merasakan kesakitan yang
luar biasa saat tubuhnya tertindih oleh batu besar. Nafasnya tersengal,
matanya buram, tetapi senyumnya tetap ada. Di depannya, dua orang
sahabatnya, Kakashi Hatake dan Rin Nohara, berdiri dengan wajah pucat.
Mereka ingin menolongnya, tetapi sudah terlambat. "Aku tidak akan
selamat," pikir Obito. Dia bukan lagi anak yang bermimpi menjadi Hokage.
Dia bukan lagi anak yang selalu terlambat datang latihan dan ceroboh
dalam setiap misi. Dia bukan lagi anak yang berharap diakui oleh teman-
temannya. Namun, dia tahu satu hal—dia masih bisa melindungi mereka.
Dengan sisa tenaganya, dia menatap Kakashi yang baru saja kehilangan
satu mata dalam pertempuran melawan musuh. “Kakashi… Ini hadiah
untukmu,” katanya, dengan suara yang nyaris tak terdengar. Kakashi
terkejut saat melihat Sharingan Obito berdenyut, sebelum kemudian
perlahan berpindah ke mata kirinya. Kini, Obito telah memberikan
kekuatan terakhirnya kepada sahabat yang dulu selalu ia anggap sebagai
saingan. Namun, sebelum mereka bisa menangis atau berduka, tanah
bergetar hebat. Bebatuan semakin runtuh. Dengan sekuat tenaga,
Kakashi menarik Rin dan melompat keluar dari reruntuhan, meninggalkan
Obito di bawah timbunan batu. Obito tersenyum tipis. "Aku harap… aku
bisa melihat kalian sekali lagi…" Lalu, semuanya menjadi gelap.
Babak Baru: Kelahiran dalam Kegelapan
Namun, takdir berkata lain. Saat Obito membuka matanya, dia
berada di tempat asing—sebuah gua dengan akar-akar raksasa menjalar
di seluruh dinding. Cahaya keunguan dari obor kecil menerangi tempat
itu. Dia merasa ringan, tapi tubuhnya berbeda. Dia mencoba
menggerakkan tangannya dan melihat bahwa tubuh bagian kanan telah
berubah. Sel-sel putih yang aneh seperti kayu menempel pada dirinya.
“Ah, kau akhirnya sadar.” Suara berat memenuhi ruangan. Obito menoleh
dan melihat seorang lelaki tua dengan rambut putih panjang dan mata
penuh kebijaksanaan serta kebencian. Madara Uchiha. “Kau seharusnya
mati, tapi aku menyelamatkanmu,” kata Madara sambil menatapnya
dengan tajam. Obito tidak mengerti. Dia ingin tahu di mana Kakashi dan
Rin. Dia ingin tahu apa yang telah terjadi setelah dia tertinggal di
reruntuhan itu. Namun, hari demi hari berlalu, dan Obito hanya bisa
terjebak di gua itu. Madara terus mengajarinya tentang dunia yang rusak,
tentang bagaimana sistem shinobi penuh dengan kebohongan, dan
bagaimana satu-satunya jalan untuk menghancurkan penderitaan adalah
dengan menciptakan dunia impian yang disebut Mugen Tsukuyomi. Obito
tidak peduli. Dia hanya ingin kembali kepada teman-temannya. Hingga
suatu hari, semuanya berubah.
Keputusan Obito
Salah satu Zetsu datang dengan kabar buruk. “Obito, Rin dalam
bahaya.” Jantungnya berhenti sejenak. “Di mana dia?!” “Dia dikepung
oleh shinobi Kirigakure. Jika kau tidak cepat, dia akan mati.” Tanpa berpikir
panjang, Obito menerobos keluar. Dia merasa tubuhnya lebih kuat. Dia
bisa berlari lebih cepat dari sebelumnya. Setiap langkahnya
mendekatkannya pada sahabat yang ingin ia lindungi. Namun, ketika dia
sampai di medan pertempuran, dia melihat sesuatu yang menghancurkan
hatinya. Rin berdiri di depan Kakashi, dengan mata penuh kesedihan.
Pedang Kakashi menembus dadanya. Obito membeku. Hujan terus turun,
tetapi dunia terasa sunyi. Rin jatuh perlahan ke tanah, darahnya
bercampur dengan lumpur. Kakashi berdiri diam, wajahnya tak bisa
dibaca. Obito tidak bisa bernapas. Sesuatu dalam dirinya pecah. Dunia
seolah kehilangan warnanya. Satu-satunya cahaya dalam hidupnya telah
padam. Dalam sekejap, kemarahan, kebencian, dan keputusasaan
melahapnya. Obito Uchiha yang dulu ceroboh, baik hati, dan penuh
harapan telah mati. Yang tersisa hanyalah seseorang yang ingin
menghancurkan dunia.
Kebangkitan Tobi
Sejak saat itu, Obito mengambil identitas baru—Tobi. Dia
menyembunyikan wajahnya di balik topeng oranye, menyusun rencana
bersama Madara untuk menciptakan dunia baru di mana Rin masih hidup,
di mana tidak ada penderitaan. Bersama Akatsuki, dia mengobarkan
perang. Dulu, dia ingin menjadi pahlawan. Sekarang, dia menjadi musuh
dunia. Namun, jauh di dalam hatinya, dia masih ragu.
Pertarungan Terakhir
Saat Perang Besar Ninja Keempat mencapai puncaknya, Obito
berhadapan dengan Naruto Uzumaki. Naruto menatapnya dengan mata
penuh keyakinan. “Kau masih bisa berubah,” katanya. Obito mengepalkan
tangan. Naruto… mengingatkannya pada dirinya sendiri. Saat dia melihat
ke dalam mata Naruto, dia tidak lagi melihat musuh. Dia melihat dirinya
yang dulu—anak yang bercita-cita menjadi Hokage, anak yang ingin
melindungi teman-temannya, anak yang percaya pada cahaya. Perlahan,
dia mulai sadar. Semua yang dia lakukan… salah. Di saat-saat terakhirnya,
dia mengambil keputusan. Saat Kaguya Otsutsuki menyerang Naruto dan
timnya, Obito melompat ke depan. Sebuah serangan yang seharusnya
membunuh Naruto malah mengenai dirinya. Darah menetes dari bibirnya.
Tubuhnya melemah, tetapi dia tersenyum. Untuk pertama kalinya dalam
waktu yang lama, dia merasa damai. Dia menoleh ke Kakashi. “Jaga
mereka… Dan terima kasih, telah menjadi temanku.” Lalu, dia menghilang
dalam cahaya.
Obito Uchiha, yang dulu tersesat dalam kegelapan, akhirnya menemukan
jalannya kembali.