0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan15 halaman

Program Outdoor Learning

Dokumen ini membahas pentingnya pendidikan karakter dan metode pembelajaran di luar kelas (outdoor learning) di SDN 01 Kleger, Madiun. Outdoor learning diusulkan sebagai cara untuk mengembangkan karakter siswa melalui pengalaman langsung di alam, yang dapat meningkatkan keterampilan sosial dan kesadaran lingkungan. Selain itu, dokumen ini menekankan perlunya kolaborasi antara keluarga, sekolah, dan masyarakat dalam membentuk karakter siswa.

Diunggah oleh

sitianisyah72
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan15 halaman

Program Outdoor Learning

Dokumen ini membahas pentingnya pendidikan karakter dan metode pembelajaran di luar kelas (outdoor learning) di SDN 01 Kleger, Madiun. Outdoor learning diusulkan sebagai cara untuk mengembangkan karakter siswa melalui pengalaman langsung di alam, yang dapat meningkatkan keterampilan sosial dan kesadaran lingkungan. Selain itu, dokumen ini menekankan perlunya kolaborasi antara keluarga, sekolah, dan masyarakat dalam membentuk karakter siswa.

Diunggah oleh

sitianisyah72
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

PROGRAM PEMBELEJARAN DI LUAR KELAS

(OUTDOOR LEARNING)

SDN 01 KLEGEN
DINAS PENDIDIKAN KOTA MADIUN
2021

1
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG MASALAH

Pendidikan yang selama ini diterapkan di sekolah-sekolah lebih banyak


menuntut untuk memaksimalkan kecakapan dan kemampuan kognitif.
Paradigmatersebut muncul sebagai buah dari tuntutan yang dari berbagai pihak
baik masyarakat, pemerintah, maupun stakeholder yang lain. Hasil belajar
selalu diukur dengan ukuranukurankuantitatif misalnya nilai Rapor, UAN dan IPK
yang tinggi. Dengan pemahaman, sebenarnya ada hal lain dari anak yang tak
kalah penting yang tanpa kita sadari telah terabaikan. Pendidikan karakter
penting artinya sebagai penyeimbang kecakapan kognitif. Membangun karakter
siswa merupakan hal yang penting dan tidak dapat ditawar lagi karena sejalan
dengan tujuan pemerintah yang ingin membentuk manusia Indonesia
seutuhnya yaitu dengan memberikan pendidikan karakter pada anak didik.
Pendidikan karakter tidak hanya milik atau tugas dari mata pelajaran
agama, pendidikan kewarganegaraan. Semua mata pelajaran memiliki tugas dan
kontribusi yang sama dalam pembentukan karakter siswa. Dengan fenomena itu
sudah sewajarnya pendidikan karakter mendapatkan tempat dan perhatian dari
berbagai komponen baik pemerintah, satuan pendidikan, masyarakat.
Masyarakat kadang dalam memaknai pembelajaran hanya sebatas peningkatan
aspek kognitif saja. Sekolah menjadi seolah tidak berdaya menghadapi
kenyataan ini dan sekolah selalu menjadi kambing hitam dari merosotnya watak
dan karakter bangsa. Padahal, sekolah sendiri menghadapi berbagai masalah
yang cukup berat menyangkut misalnya penyesuaian perubahan kurikulum
2013, jumlah siswa yang kurang atau bahkan overload, fasilitas yang kurang
memadai, kesejahteraan guru dan tenaga kependidikan yang dirasa masih
rendah dan berbagai masalah lainnya.
Pengembangan aspek psikomotor dan afektif kadang menjadi tidak
penting untuk dilakukan. Pengembangan pendidikan karakter dapat dilakukan
dimana saja salah satunya dapat dilaksanakan melaui outdoor education.
Outdoor education merupakan pendidikan lintas studi yang bertujuan untuk
mendidik siswa memperoleh pengetahuan, pemahaman melalui pendekatan dan
setting alamiah. Implementasi Outdoor Education atau Pendidikan luar
kelas/Pendidikan Luar Ruangan/aktivitas luar kelas diberbagai satuan pendidikan
masih sangat minim, bahkan kalau boleh dikatakan tidak pernah dilaksanakan.
Kegiatan outdoor education hanya dijadikan sebagai kegiatan tambahan untuk
mengisi kekosongan setelah ujian semester. Padahal, dalam Standar Kompetensi
dan Kompetensi Dasar disetiap satuan pendidikan sudah tercantum secara jelas

2
bahwa outdoor education masuk dalam kurikulum mata pelajaran Pendidikan
Jasmani. Permasalahan yang muncul adalah rendahnya kemampuan guru
pendidikan jasmani dalam melaksanakan pembelajaran outdoor education.
B. HAKIKAT PENDIDIKAN KARAKTER

Pendidikan karakter penting bagi pendidikan di Indonesia. Pendidikan


karakter akan menjadi basic atau dasar dalam pembentukan karakter
berkualitas bagi bangsa, yang tidak mengabaikan nilai-nilai sosial seperti
toleransi,kebersamaan, kegotongroyongan, saling membantu dan mengormati
dan sebagainya. Pendidikan karakter di ruang lingkup sekolah adalah suatu
system penanaman nilai-nilai karakter kepada warga sekolah yang meliputi
komponen pengetahuan, kesadaran atau kemauan, dan tindakan untuk
melaksanakan nilai nilai tersebut. Pendidikan karakter dapat dimaknai bahwa
pendidikan karakter akan melahirkan pribadi unggul yang tidak hanya memiliki
kemampuan kognitif saja namun memiliki karakter yang mampu mewujudkan
kesuksesan. Kesuksesan seseorang tidak semata-mata ditentukan oleh
pengetahuan dan kemampuan teknis dan kognisinya (Hard Skill) saja. Tetapi
oleh kemampuan mengelola diri dan orang lain (soft skill).
Pendidikan karakter merupakan perpaduan harmonis seluruh budi pekerti
yang terdapat dalam ajaran agama. Karakter suatu bangsa merupakan aspek
penting yang mempengaruhi pada perkembangan sosial-ekonomi. Kualitas
karakter yang tinggi dari masyarakat tentunya akan menumbuhkan keinginan
yang kuat untuk meningkatkan kualitas bangsa. Pengembangan karakter yang
terbaik adalah jika dimulai sejak usia dini. Pratiwi Pujiastuti (2013; 279)
menyatakan ada beberapa karakter yang dibentuk dapat dipengaruhi oleh faktor
keluarga, sekolah dan faktor masyarakat.
1. Faktor Keluarga
Keluarga merupakan tempat pendidikan yang utama dan pertama, karena
dalam keluarga pembentukan sikap dan perilaku anak. Penanaman nilai-nilai
agama juga dilakukan pertama sejak masih bayi atau anak-anak. Nilai-nilai ke-
Tuhan-an harus menjadi dasar yang kuat untuk anak, nilai religi yang
ditanamkan orang tua harus dibarengi oleh keteladanan dari orang tua itu
sendiri. Dengan demikian, rumah tangga dan keluarga sebagai lingkungan
pembentukan watak dan pendidikan karakter pertama dan utama mestilah
diberdayakan kembali.
2. Faktor Sekolah
Sekolah, pada hakikatnya bukanlah sekedar tempat “transfer of knowledge”
belaka. Sekolah bukan hanya merupakan tempat untuk memperoleh ilmu.
Ilmu yang diberikan kepada siswa harus dijelaskan kebermanfaatannya dan

3
nilai karakter yang bisa dikembangkan dalam setiap pembelajarannya.
sekolah tidaklah semata-mata tempat di mana guru menyampaikan
pengetahuan melalui berbagai mata pelajaran. Sekolah juga adalah lembaga
yang mengusahakan usaha dan proses pembelajaran yang berorientasi pada
nilai. Pembentukan watak dan pendidikan karakter melalui sekolah, tidak bisa
dilakukan semata-mata melalui pembelajaran pengetahuan, tetapi adalah
melalui penanaman atau pendidikan nilai-nilai. Pengembangan karakter dalam
ruang lingkup sekolah juga dapat dilakukan dalam cara atau metode
pembelajaran yang disampaikan. Misalnya, dalam pembelajaran guru dapat
membangun karakter siswa dalam hal kerjasama, guru dapat menerapkan
metode diskusi kelompok. Dengan diskusi kelompok
kemampuan bekerjasama siswa, menyampaikan pendapat, mampu menerima
pendapat orang lain baik, tanggung jawabdan sikap lainnya dapat terbentuk
dengan baik. Inilah outcomes yang mestinya menjadi titik perhatian dari
pendidikan di sekolah. Selama ini, sekolah hanya mengejar output saja,
misalnya pencapaian nilai rapor dan UAN yang tinggi. Pembentukan karakter
merupakan bagian dari pendidikan nilai
3. Faktor Masyarakat
Masyarakat menjadi faktor yang harus diperhatikan pula dalam rangka
pembentukan karakter. Masyarakat merupakan lingkungan yang sangat
majemuk. Lingkungan masyarakat luas jelas memiliki pengaruh besar
terhadap keberhasilan penanaman nilai-nilai estetika dan etika untuk
pembentukan karakter. Pembentukan watak dan pendidikan karakter tidak
akan berhasil selama antara ketiga lingkungan pendidikan tidak ada
kesinambungan dan harmonisasi. pendidikan karakter haruslah melibatkan
semua pihak, keluarga, sekolah, dan lingkungan. Menurut Thomas Lickona
(2013) mengetengahkan bahwa dalam membangun karakter harus
menjalankan pendekatan pendidikan nilai yang
komprehensif dan menyeluruh meliputi:
a. Bertindak sebagai pengasuh, teladan dan pembimbing yang
memperlakukan siswa dengan baik.
b. Mencipta komunitas maoral di kelas, membantu siswa untuk saling
mengenal, peduli dan saling menghormati
c. Mempraktikkan disiplin moral, menegakkan peraturan
d. Mencipta lingkungan kelas yang demokratis, melibatkan siswa dalam
diskusi dan pengambilan keputusan
e. Mengajarkan nilai melalui kurikulum menggunakan mata pelajaran untuk
mengkaji masalah etika

4
f. Menggunakan pembelajaran kooperatif untuk mengajarkan sikap dan

keterampilan tolong menolong, kerjasama, tanggung jawab.

5
BAB II
METODE PEMBELAJARAN DI LUAR KELAS (OUTDOOR LEARNING)
A. PENGERTIAN PEMBELAJARAN DI LUAR KELAS (OUTDOOR LEARNING)

Pembelajaran di luar kelas (outdoor study) adalah salah satu metode


pembelajaran yang aktivitas belajarnya berlangsung di luar kelas/sekolah
seperti; taman, perkampungan, kebun dan lain-lain dengan tujuan untuk
melibatkan pengalaman langsung serta menantang semangat petualangan
siswa agar lebih akrab terhadap lingkungan dan masyarakat.
Metode pembelajaran di luar kelas merupakan upaya mengajak lebih dekat
dengan sumber belajar yang sesungguhnya, yaitu alam dan masyarakat. Siswa
diarahkan untuk melakukan aktivitas yang bisa membawa mereka pada
perubahan perilaku terhadap lingkungan sekitar. Berikut definisi dan pengertian
pembelajaran di luar kelas dari beberapa sumber buku:
Menurut Vera (2012), pembelajaran di luar kelas merupakan kegiatan belajar
antara guru dan siswa, namun tidak dilakukan di dalam kelas, tetapi dilakukan di
luar kelas atau alam terbuka sebagai kegiatan pembelajaran siswa.
 Menurut Husamah (2013:19), pembelajaran di luar kelas merupakan aktivitas
luar sekolah yang berisi kegiatan di luar kelas/sekolah dan di alam bebas
lainnya, seperti: bermain di lingkungan sekolah, taman, perkampungan
pertanian/nelayan, berkemah, dan kegiatan yang bersifat kepetualangan,
serta pengembangan aspek pengetahuan yang relevan.
 Menurut Rustam dan Santoso (2015), pembelajaran di luar kelas adalah
metode dimana guru mengajak peserta didik belajar di luar kelas untuk
melihat peristiwa langsung di lapangan dengan tujuan untuk mengakrabkan
peserta didik dengan lingkungannya.
Outdoor Learning atau Pendidikan luar kelas tidak sekedar memindahkan
pelajaran ke luar kelas, tetapi dilakukan dengan mengajak siswa menyatu
dengan alam dan melakukan beberapa aktivitas yang mengarah pada
terwujudnya perubahan perilaku siswa terhadap lingkungan melalui tahap-tahap
penyadaran, pengertian, perhatian, tanggungjawab dan aksi atau tingkah laku.
Pendidikan luar kelas diartikan sebagai pendidikan yang berlangsung di luar
kelas yang melibatkan pengalaman yang membutuhkan partisipasi siswa untuk
mengikuti tantangan petualangan yang menjadi dasar dari outdoor education
seperti hiking, mendaki gunung, camping dll. Pendidikan luar kelas mengandung
filosofi, teori dan praktis dari pengalaman dan pendidikan lingkungan.
Pendekatan Outdoor learning menggunakan setting alam terbuka sebagai
sarana.

6
B. TUJUAN DAN MANFAAT PEMBELAJARAN DI LUAR KELAS (OUTDOOR
LEARNING)
Proses pembelajaran menggunakan alam sebagai media dipandang sangat
efektif dalam knowledge management dimana setiap orang akan dapat
merasakan, melihat langsung bahkan dapat melakukannya sendiri, sehingga
transfer pengetahuan berdasarkan pengalaman di alam dapat dirasakan,
diterjemahkan, dikembangkan berdasarkan kemampuan yang dimiliki.
Pendekatan ini mengasah aktivitas fisik dan sosial anak dimana anak akan lebih
banyak melakukan kegiatan-kegiatan yang secara tidak langsung melibatkan
kerjasama antar teman dan kemampuan berkreasi.
1. Siswa dapat beradaptasi dengan lingkungan dan alam sekitar
2. Siswa mengetahui pentingnya keterampilan hidup dan pengalaman hidup di
lingkungan dan alam sekitar
3. Siswa memiliki apresiasi terhadap lingkungan dan alam sekitar
4. Proses belajar pada kegiatan luar kelas pada dasarnya adalah dengan
memberikan pengalaman yang luas pada siswa
Menurut Vera (2012), tujuan pembelajaran di luar kelas adalah sebagai berikut:
1. Membuat setiap individu memiliki kesempatan unik untuk mengembangkan
kreativitas dan inisiatif personal.
2. Menyediakan latar (setting) yang berarti bagi pembentukan sikap.
3. Membantu mewujudkan potensi setiap individu agar jiwa, raga dan spiritnya
dapat berkembang optimal.
4. Memberikan kesempatan bagi anak-anak untuk merasakan secara langsung
terhadap materi yang disampaikan.
5. Memungkinkan siswa mengembangkan keterampilan dan ketertarikan
terhadap kegiatan-kegiatan luar kelas.
6. Memberikan kontribusi untuk membantu mengembangkan hubungan guru-
murid yang lebih baik melalui berbagai pengalaman di alam bebas.
7. Memberikan kesempatan untuk belajar dari pengalaman langsung.
8. Memanfaatkan sumber-sumber yang berasal dari lingkungan dan komunitas
sekitar untuk pembelajaran.
Menurut Sudjana (2011), pembelajaran di luar kelas dapat memberikan
beberapa manfaat yaitu sebagai berikut:
1. Kegiatan pembelajaran lebih menarik dan tidak membosankan.
2. Hakikat belajar akan lebih bermakna sebab siswa dihadapkan dengan situasi
dan keadaan yang sebenarnya atau bersifat alami.
3. Bahan-bahan yang dipelajari lebih kaya serta lebih faktual sehingga
kebenarannya lebih akurat.

7
4. Kegiatan pembelajaran lebih komprehensif dan lebih aktif serta dapat
dilakukan dengan berbagai cara.
5. Sumber belajar lebih kaya sebab lingkungan yang dapat dipelajari bisa
beraneka ragam.
6. Siswa dapat memahami dan menghayati aspek-aspek kehidupan yang ada di
lingkungan.
C. NILAI KARAKTER PEMBELAJARAN DI LUAR KELAS (OUTDOOR LEARNING)
(Puskur Pengembangan dan Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa:
Pedoman Sekolah. 2009, 9 -10) ada beberapa nilai karakter yang bisa
dikembangkan dalam pembelajaran pendidikan karakter. Hal ini juga sejalan
dengan nilai Karakter yang dapat dibentuk melalui pembelajaran outdoor
education antara lain:
1. Jujur
2. Toleransi
3. Disiplin
4. Kerja keras
5. Kreatif
6. Mandiri
7. Demokratis
8. Rasa Ingin Tahu
9. Semangat Kebangsaan
10. Cinta Tanah Air
11. Menghargai Prestasi Bersahabat/Komunikatif
12. Cinta Damai
13. Peduli Lingkungan
14. Peduli Sosial
15. Tanggung Jawab
16. religius
17. Gemar membaca
D. MATERI PEMBELAJARAN DI LUAR KELAS (OUTDOOR LEARNING)
Ada banyak materi yang bisa diberikan kepada siswa dalam pembelajaran
outdoor education. Materi Pembelajaran ini sangat berhubungan erat dengan
alam. Alam menjadi media dalam pembelajaran. Berikut ini beberapa macam
materi yang bisa dikembangan dalam pembelajaran outdoor education. Outdoor
education dapat berupa permainan, cerita, olahraga, eksperimen, perlombaan,
mengenal kasus-kasus lingkungan di sekitarnya dan diskusi penggalian solusi,
aksi lingkungan, dan jelajah lingkungan. Beberapa bentuk outdoor education
sebagai berikut:
1. Outbond Games
8
2. Survival alam,
3. Berkemah,
4. Memancing
5. Susur Gua
6. Tracking,
7. Canoing, dan
8. Penjelajahan di alam bebas
Dengan konsep-konsep interaksi antara siswa dengan alam, melalui
kegiatan simulasi di alam terbuka, diyakini dapat memberikan suasana yang
kondusif untuk membentuk sikap, cara berpikir, dan persepsi yang kreatif dan
positif dari setiap peserta guna membentuk rasa kebersamaan, keterbukaan,
toleransi, dan kepekaan yang mendalam, yang pada harapnya akan mampu
memberikan semangat, inisiatif, dan pola pemberdayaan baru dalam
kehidupannya. Melalui simulasi outdoor education ini, peserta juga akan mampu
mengembangkan potensi diri, baik secara individu maupun dalam kelompok
dengan melakukan interaksi dalam bentuk komunikasi yang efektif, manajemen
konflik, kompetisi pemimipin, manajemen resiko,dan pengambilan keputusan
serta inisiatif.

E. PENDIDIKAN JASMANI DAN OUTDOOR LEARNING


Undang-undang Sisdiknas menyatakan bahwa Pendidikan adalah usaha
sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses
pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya
untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian,
kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya,
masyarakat, bangsa dan Negara. Rusli Lutan dan Adang Suherman (2000.1)
pendidikan jasmani adalah proses ajar melalui aktivitas jasmani dan sekaligus
pula sebagai proses ajar untuk mengetahui keterampilan jasmani.
Sedangkan menurut Abdul Gafur (1983) dalam dalam Arma Abdoellah dan
Agusmanadji (1994:5) pendidikan jasmani adalah suatu proses pendidikan
seseorang sebagai perorangan maupun sebagai anggota masyarakat yang
dilakukan secara sadar dan sistematik melalui kegiatan jasmani yang intensif
dalam rangka memperoleh peningkatan kemampuan dan keterampilan jasmani,
pertumbuhan kecerdasan dan pembentukkan watak. Pendidikan jasmani
merupakan suatu proses pembelajaran yang didesain untuk meningkatkan
kebugaran jasmani, mengembangkan keterampilan motorik, pengetahuan dan
perilaku hidup aktif dan sikap sportif melalui kegiatan jasmani (Depdiknas, 2003:
2) Pengalaman semacam ini dapat memenuhi kebutuhan psikis anak akan ‘rasa

9
berhasil mengatasi rintangan’. Secara khusus, manfaat pendidikan luar kelas
dalam membentuk kepribadian siswa menurut Bucher adalah sebagai berikut:
1. Siswa belajar untuk hidup secara demokratis bersama anak-anak lain dan
orang dewasa.
2. Siswa dapat belajar lebih banyak mengenai lingkungan fisik dan pentingnya
kekayaan Alam
3. Kontribusi dan apresiasi terhadap aktivitas di luar ruang akan memperkaya
dan meningkatkan kualitas hidup
4. Kualitas hidup yang dimaksud akan membentuk mereka menjadi warga
negara yang baik. Kualitas yang akan berkembang seperti: memiliki rasa
tanggung jawab, memiliki jiwa kepemimpinan, mampu bekerja sama, dan
jujur
5. Mereka akan memberikan apresiasi yang lebih baik terhadap pentingnya
kesehatan dan kebugaran
6. Kecintaan untuk bertualang, yang biasanya sangat digemari oleh anak-anak
dan remaja, akan tersalurkan melalui kegiatan luar kelas
7. Siswa dirangsang untuk belajar tentang segala sesuatu yang terdapat di
alam dan melihat serta dapat mengkaitkannya dengan materi pelajaran di
kelas
8. Siswa belajar untuk mengandalkan kemampuannya sendiri dalam
mempraktekkan aturan-aturan hidup yang seha
9. Siswa juga belajar beberapa aturan dasar keselamatan.
Pembelajaran outdoor education merupakan salah satu bagian dari materi
dalam pendidikan jasmani yang diajarkan di sekolah sasarannya menuju kepada
keselarasan antara tumbuhnya badan dan perkembangan jiwa dan merupakan
suatu usaha untuk membuat bangsa Indonesia menjadi bangsa yang sehat, kuat
lahir dan batin serta dapat diberikan pada segala jenis dan jenjang sekolah.

F. JENIS - JENIS PEMBELAJARAN DI LUAR KELAS (OUTDOOR LEARNING)


Menurut Vera (2012), pembelajaran di luar kelas terbagi menjadi beberapa
jenis, yaitu:
1. Education Training Plus. Education training plus merupakan sebuah
aktivitas pendidikan yang mengintegrasikan kurikulum formal, alam dan
karakter. Kurikulum Diknas pelajaran seperti; art, science dan lain-lain
dengan pola mengenal alam sambil bermain-main. Kurikulum karakter lebih
kepada pembentukan kepribadian dan akhlak, sedangkan kurikulum alam
meliputi pelajaran berkebun dan mengenal tumbuhan, beternak dan
mengenal hewan, agar mengasah kemandirian dan mental para peserta
didik.
10
2. Gathering Plus. Gathering Plus merupakan suatu bentuk wisata di alam
terbuka yang dirancang dalam suasana rekreasi, santai dan gembira dengan
muatan edukatif.
3. Taman Bermain dan Wisata Alam. Taman bermain dan wisata alam
merupakan rangkaian rintangan permainan yang dirancang sedemikian rupa
sehingga bisa menjadi simulasi kegiatan alam terbuka. Kegiatan ini
membuka potensi diri yang selama ini belum diketahui sehingga melalui
aktifitas Low dan High Rope ini muncul rasa percaya diri.
4. Eksperiental Base Study. Eksperiental Base Study merupakan kemasan
kegiatan berupa pembelajaran yang dirancang sedemikian rupa sehingga
dapat diaplikasikan dengan menggunakan alam terbuka sebagai media.
Proses pengenalan diri, minat dan bakat berbasiskan kurikulum sekolah
sehingga program ini sangat efektif untuk para peserta karena mereka
terlibat untuk melihat, mendengar dan langsung berbuat (Eksperiental
Learning).
5. Knowledge Management. Knowledge Management merupakan kemasan
pendistribusian sejumlah pengetahuan yang akan menjadi pembelajaran
bersama. Knowledge management ini telah diformulasikan sebagai sumber
pengetahuan bersama dan dapat diimplementasikan dengan makna berguru
pada alam.

G. TAHAPAN PEMBELAJARAN DI LUAR KELAS (OUTDOOR LEARNING)


Menurut Baharudin dan Wahyuni (2010), tahapan atau langkah-langkah
pembelajaran di luar kelas adalah sebagai berikut:
a. Tahap Pengalaman Nyata
Pada tahap paling awal dalam proses belajar adalah seorang mampu atau
dapat mengalami suatu kejadian sebagaimana adanya. Ia dapat melihat dan
merasakannya, dapat menceritakan peristiwa tersebut sesuai dengan apa
yang dialaminya, namun dia belum memiliki kesadaran tentang hakekat dari
peristiwa tersebut. Ia hanya dapat merasakan kejadian tersebut apa adanya,
dan belum dapat memahami serta menjelaskan bagaimana peristiwa itu
terjadi. Ia juga belum dapat memahami proses mengapa proses peristiwa
tersebut harus terjadi seperti itu. Kemampuan inilah yang terjadi dan dimiliki
seseorang pada tahap paling awal dalam proses belajar.
b. Tahap Obsevasi Reflektif
Tahap kedua dalam peristiwa belajar adalah bahwa seseorang makin lama
akan semakin mampu melakukan observasi secara aktif terhadap peristiwa
yang dialaminya. Ia mulai berupaya untuk mencari jawaban dan memikirkan
kejadian tersebut. Ia melakukan refleksi terhadap peristiwa yang dialaminya,
11
dengan mengembangkan pertanyaan-pertanyaan bagaimana hal itu bisa
terjadi, dan mengapa hal itu mesti terjadi. Pemahamannya terhadap
peristiwa yang dialaminya semakin berkembang. Kemampuan inilah yang
terjadi dan dimiliki seseorang pada tahap kedua dalam proses belajar.
c. Tahap Konseptualisasi
Tahap ketiga dalam proses belajar adalah seseorang sudah mulai berupaya
untuk membuat abstraksi, mengembangkan suatu teori, konsep atau hukum
dan prosedur tentang sesuatu yang menjadi obyek penelitiannya. Berpikir
induktif banyak dilakukan untuk memuaskan suatu aturan umum atau
generalisasi dari berbagai contoh peristiwa yang dialaminya. Walaupun
kejadian-kejadian yang diamati tampak berbeda-beda, namun memiliki
komponen-komponen yang sama yang dapat dijadikan dasar aturan
bersama.
d. Tahap Implementasi
Tahap terakhir dari proses belajar adalah melakukan eksperimentasi secara
aktif. Pada tahap ini seseorang sudah mampu untuk mengaplikasikan konsep-
konsep, teori-teori atau aturan-aturan ke dalam situasi yang nyata. Berpikir
deduktif banyak digunakan untuk mempraktekkan dan menguji teori-teori
serta konsep-konsep di lapangan. Ia mampu menggunakan teori atau rumus-
rumus untuk memecahkan masalah yang dihadapinya.

H. KELEBIHAN DAN KEKURANGAN PEMBELAJARAN DI LUAR KELAS


(OUTDOOR LEARNING)
Menurut Husamah (2013), pembelajaran di luar kelas memiliki kelebihan dan
kekurangan, yaitu:
9. Kelebihan
Kelebihan atau keunggulan pembelajaran di luar kelas adalah:
a) Kegiatan belajar lebih menarik dan tidak membosankan siswa duduk
berjam-jam, sehingga motivasi belajar siswa akan lebih tinggi.
b) Hakikat belajar akan lebih bermakna sebab siswa dihadapkan dengan
situasi dan keadaan yang sebenarnya atau bersifat alami.
c) Bahan-bahan yang dapat dipelajari lebih kaya serta lebih faktual sehingga
kebenarannya akurat.
d) Kegiatan belajar siswa lebih komprehensif dan lebih aktif sebab dapat
dilakukan dengan berbagai cara seperti mengamati, bertanya atau
wawancara, membuktikan atau mendemonstrasikan, menguji fakta, dan
lain-lain.

12
e) Sumber belajar lebih kaya sebab lingkungan yang dapat dipelajari bisa
beraneka ragam seperti lingkungan sosial, lingkungan alam, lingkungan
buatan, dan lain-lain.
f) Siswa dapat memahami dan menghayati aspek-aspek kehidupan yang ada
di lingkungannya, sehingga dapat membentuk pribadi yang tidak asing
dengan kehidupan di sekitarnya, serta dapat memupuk cinta lingkungan.
10. Kekurangan
Kekurangan atau kelemahan pembelajaran di luar kelas adalah:
a) Siswa akan kurang konsentrasi.
b) Pengelolaan siswa akan lebih sulit terkondisi.
c) Waktu akan tersita (kurang tepat waktu).
d) Penguatan konsep kadang terkontaminasi oleh siswa lain atau kelompok
lain.
e) Guru lebih intensif dalam membimbing.
f) Akan muncul minat yang semu.

BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN DAN SARAN
Outdoor Learning pada dasarnya merupakan pendidikan lintas bidang
studi, karena di dalam kegiatannya meliputi seni, ilmu alam, pendidikan jasmani.
Kegiatan dapat dilakukan di mana saja, misalnya dilakukan di lapangan terbuka,
hutan, tepi danau, cagar alam, kebun, camping ground, sungai. Outdoor
Learning merupakan salah satu dimensi dalam pendidikan jasmani, melalui
program kegiatan ini diharapkan konsep diri siswa dapat dibentuk. Pengalaman
semacam survival, berkemah, tracking, canoing, dan penjelajahan di alam bebas
yang merupakan bagian dari progam petualangan akan mampu membentuk
karakter bagi siswa. Pendidikan karakter hendaknya dirumuskan dalam
kurikulum, diterapkan melalui metode pendidikan, dan kemudian dipraktekkan
dalam pembelajaran. di samping itu, di lingkungan keluarga dan masyarakat
sekitar juga sebaiknya diterapkan pola pendidikan karakter. Dengan begitu,
generasi-generasi Indonesia yang unggul akan dilahirkan dari sistem pendidikan
karakter yang terintegrasi dengan berbagai sektor yang mendukung.

13
Pendidikan karakter merupakan konsep yang abstrak, sehingga pemberian
atau penyampaiannya harus dilakukan melalui contoh-contoh, teladan yang
bersifat konstruktif. Pendidikan Jasmani merupakan bidang studi yang memiliki
peran unik dan strategis dalam meningkatkan kualitas hidup bangsa. Keunikan
Pendidikan tersebut tercermin pada kontribusinya terhadap pengembangan
dimensi fisik, seperti keterampilan gerak, kebugaran jasmani, gaya hidup aktif
dan pengetahuan pemahaman tentang gerak yang tidak didapatkan dari mata
pelajaran lain. Peran strategis tercermin dari kontribusi Pendidikan dalam
pengembangan dimensi kognitif, personal dan sosial.

14
Daftar Pustaka

 Arma Abdoellah dan Agus Manadji (1994). Dasar-dasar Pendidikan Jasmani.


Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
 Depdiknas (2003). Kurikulim Berbasis Kompetensi mata pelajaran Pendidikan
Jasmani. Depdiknas. Jakarta
 Pratiwi pujiastuti (2013) Membangun karakter siswa Sekolah Dasar Melalui
pembelajaran Sains. FIP UNY. Yogyakarta
 Thomas Lickona (2013) Pendidikan Karakter (Panduan Lengkap Mendidik
Siswa menjadi Pintar dan Baik). Bandung. Nusa Media
 Thomas K.T., Lee A.M., Thomas J.R. (2003) Physical Education Methods for
Elementary Teachers. Champain, IL. Human Kinetics.
 Vera, Adelia. 2012. Metode Mengajar Anak di Luar Kelas (Outdoor
study). Yogyakarta: DIVA Press.
 Husamah. 2013. Pembelajaran Luar Kelas Outdoor Learning. Jakarta:
Prestasi.
 Rustam, Suparjo dan Santoso, Apik Budi. 2015. Penerapan Metode Outdoor
Study pada Pembelajaran Geografi Kelas X IPS MA Al Bidayah
Kecamatan Bandungan Kabupaten Semarang Tahun 2014/2015.
Semarang: Universitas Negeri Semarang.
 Sudjana, Nana. 2010. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung:
Remaja Rosdakarya.
 Baharuddin dan Wahyuni, Esa Nur. 2010. Teori Belajar dan Pembelajaran.
Yogyakarta: Ar-Ruzz Media.

15

Anda mungkin juga menyukai