0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
10 tayangan9 halaman

Sistel Rangkuman Line Coding

Line coding adalah proses konversi data digital menjadi sinyal digital untuk transmisi, dengan tujuan merekayasa spektrum sinyal, sinkronisasi, dan deteksi kesalahan. Karakteristik line coding mencakup elemen data, data rate, bandwidth, dan self-synchronization, serta berbagai skema seperti unipolar, NRZ, dan bipolar. Pengkodean multilevel seperti 2B1Q dan MLT-3 digunakan untuk meningkatkan kecepatan data sambil mengurangi bandwidth.

Diunggah oleh

Ramadhan
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
10 tayangan9 halaman

Sistel Rangkuman Line Coding

Line coding adalah proses konversi data digital menjadi sinyal digital untuk transmisi, dengan tujuan merekayasa spektrum sinyal, sinkronisasi, dan deteksi kesalahan. Karakteristik line coding mencakup elemen data, data rate, bandwidth, dan self-synchronization, serta berbagai skema seperti unipolar, NRZ, dan bipolar. Pengkodean multilevel seperti 2B1Q dan MLT-3 digunakan untuk meningkatkan kecepatan data sambil mengurangi bandwidth.

Diunggah oleh

Ramadhan
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

RANGKUMAN MATERI SISTEL BAB LINE CODING

Pengertian line coding


Line coding adalah suatu proses konversi data digital menjadi sinyal digital,dengan
asumsi bahwa data berisi atau berbentuk fax, angka, gambar,audio, atau video yang
disimpan dalam memori komputer sebagai bit squence. Line coding juga merupakan metoda
untuk merubah simbol dari sumber ke dalam bentuk lain untuk ditransmisikan dan dapat
merubah pesan-pesan digital ke dalam deretan simbol baru yang disebut dengan proses
encoding.

Tujuan line coding


1. Merekayasa spektrum sinyal digital agar sesuai dengan medium transmisiyang akan
digunakan.
2. Dapat dimanfaatkan untuk proses sinkronisasi antara pengirim dan penerima (sistem
tidak memerlukan jalur terpisah untuk clock).
3. Dapat digunakan untuk menghilangkan komponen DC sinyal (sinyal dengan
frekuensi 0) Komponen DC tidak mengandung informasi apapun tetapi
menghamburkan daya pancar.
4. Line coding dapat digunakan untuk menaikkan data rate.
5. Beberapa teknik line coding dapat digunakan untuk pendeteksian kesalahan.

Karakteristik Line Coding


Karakteristik Line Coding: 8. Deteksi Bit Eror
1. Elemen data dan Elemen Sinyal 9. Mengurangi Noise
2. Data Rate dan Signal Rate [Link]
3. Bandwidth
4. Self Synchronization
5. Baseline Wandering
6. Komponen DC
7. Sinkronisasi Bit
Elemen Data dan Elemen Sinyal
Pada komunikasi data, elemen data merupakan satuan terkecil yang dapat mewakili beberapa
informasi yang berupa bit, sedangkan elemen sinyal merupakan unit terpendek dari sinyal
digital dimana elemen sinyal membawa elemen data.

Data Rate dan Signal Rate


Data rate adalah sejumlah elemen data dalam satu detik, satuannya adalah bit per detik (bps)
sedangkan sinyal rate adalah sejumlah elemen sinyal yang dikirim dalam 1 detik, satuannya
adalah Baud.
Rumus yang digunakan untuk menghitung sinyal rate adalah:
Bandwidth (Lebar Pita)
Bandwidth adalah suatu sistem komunikasi elektronika yang mengirimkan informasi dengan
memancarkan energi elektromagnetik yang dimana dapat berjalan sebagai sebuah tegangan
atau arus yang melalui kawat sebagaimana emisi radio melintasi udara dan cahaya.
Bandwidth menunjukkan ukuran kapasitas jalur transmisi yang dinyatakan dalam satuan,
yakni:
- Baud (Bd) adalah kecepatan modulasi
- Bit perdetik (bps) adalah kecepatan sinyal
- Karakter perdetik (cps) adalah kecepatan transmisi

Rumus mencari bandwidth minimum :


Bmin
Bmin == ccxxNNx 1/r
x 1/r
Dan data rate jika bandwidth saluran diberikan :

Nmax = 1/c × B × r

Self Synchronization
Untuk mengkoreksi sinyal yang diterima dari pengirim dengan benar, interval bit penerima
harus sesuai dengan pengirim interval bit. Jika clock penerima lebih cepat atau lebih lambat,
interval bit tidak cocok dan penerima mungkin akan salah mengoreksi sinyal.

Baseline Wandering
Didalam decoding sinyal digital, penerima menghitung rata-rata menjalankan kekuatan sinyal
yang diterima. Rata-rata ini disebut baseline. Kekuatan sinyal yang masuk dievaluasi
dibandingkan dengan data dasar untuk menentukan nilai dari elemen data. String 0 atau 1
yang sangat panjang dapat menyebabkan penyimpangan dalam baseline (baseline wandering)
dan membuat sulit bagi penerima untuk memecahkan kode dengan benar.
Self-synchronization
Men-sinkronisasi sendiri (self synchronization) sinyal digital termasuk mengatur waktu
(timing) data yang dikirim. Hal ini dapat dicapai apabila ada transisi didalam sinyal yang
memberitahukan penerima untuk awal, tengah, atau akhir pulsa. Jika clock penerima tidak
sinkron, maka pada titik tersebut dapat mengatur ulang clock.

Deteksi bit error


Deteksi bit error adalah kemampuan yang dimilki oleh sinyal digital untuk mendeteksi
kesalahan dalam proses transmisi.

Mengurangi noise
Noise adalah tambahan sinyal yang tidak diinginkan yang masuk dimana pun diantara
pengirim dan penerima. Terdapat beberapa skema yang dapat tahan terhadap noise atau
gangguan yang lain.

Kompleksitas
Skema yang kompleks lebih mahal untuk diterapkan daripada yang sederhana. Misalnya,
skema yang menggunakan sinyal empat tingkat lebih sulit untuk di interpretasikan
dibandingkan dengan hanya menggunakan dua tingkat

Skema Line Coding

Skema unipolar
Skema Unipolar adalah semua elemen sinyal yang mempunyai tanda yang sama, yaitu positif
semua atau negatif semua. Dalam skema unipolar, semua level sinyal berada di salah satu sisi
dari sumbu waktu, baik di atas atau di bawah.
NRZ (Non Return To Zero)
Pada pengkodean polar NRZ, digunakan dua level tegangan. Terdapat dua jenis NRZ polar
yaitu NRZ-L dan NRZ-I. Sebagaimana ditunjukkan pada gambar dibawah.

Pada NRZ-L, level tegangan mendefinisikan nilai dari bit, sedanglan pada NRZ-I, perubahan
atau tidak adanya perubahan level tegangan menentukan nilai dari bit. Jika tidak ada
perubahan, bit nya adalah 0, jika terdapat perubahan nilai bit nya adalah 1. Kelemahan dari
skema pengkodean ini adalah baik NRZ-L dan NRZ-I sama-sama memiliki masalah
komponen DC.

Return to Zero (RZ)


Masalah utama dengan pengkodean NRZ terjadi ketika pengirim dan penerima clock tidak
disinkronkan. Penerima tidak tahu kapan salah satu bit telah berakhir dan bit berikutnya
mulai. Salah satu solusinya adalah kembali ke nol yaitu skema RZ, yang menggunakan tiga
nilai positif, negatif dan nol.
Biphase: Manchester dan Differential Manchester
Di Manchester dan diferensial Manchester encoding, transisi di tengah bit yang digunakan
untuk [Link] minimum dari Manchester dan Manchester diferensial adalah 2
kali dari NRZ.

Keuntungan dan kekurangan Biphase


Kelebihan: Pada skema ini tidak terdapat
- baseline wandering.
- Tidak ada komponen DC karena setiap bit memiliki kontribusi tegangan positif dan negatif.
Kekurangan: Satu-satunya kelemahan adalah tingkat sinyal. tingkat sinyal untuk manchester
dan diferensial manchester adalah dua kali lipat untuk NRZ. Alasannya adalah bahwa selalu
ada satu transisi di tengah bit dan mungkin satu transmisi pada akhir setiap bit.

Bipolar: AMI dan Pseudoternary


Pada bagian ini kita akan melihat dua macam pengkodean bipolar yang dikenal dengan nama
Alternate Mark Inversion (AMI) dan Pseudoternary. Pengkodean bipolar dibuat untuk
mengeliminasi kekurangan-kekurangan yang ada pada NRZ. Dalam encoding bipolar, kita
menggunakan tiga tingkatan: positif, nol, dan negative
Pada pengkodean AMI, elemen data dengan bit 1 direpresentasikan oleh sinyal yang
berinversi bolak balik dari tegangan positif ke tegangan negatif atau sebaliknya dari tegangan
negatif ke tegangan positif. Sedangkan elemen data dengan bit 0 direpresentasikan oleh
tegangan 0 volt.
Pada pengkodean pseudoternary, elemen data dengan bit 0 direpresentasikan oleh sinyal
yang berinversi bolak balik dari tegangan positif ke tegangan negatif atau sebaliknya dari
tegangan negatif ke tegangan positif. Sedangkan elemen data dengan bit 1 direpresentasikan
oleh tegangan 0 volt.

Skema Pengkodean Multilevel


Tujuan dari pengkodean multilevel adalah meningkatkan kecepatan data tetapi pada saat yang
sama menurunkan kecepatan sinyal (menurunkan bandwidth). Untuk mencapai tujuan ini
pengkodean multilevel melakukan pengkodean dari m elemen data menjadi n elemen sinyal.

2B1Q (Two Binary One Quartenary)


Model pengkodean multilevel yang saat ini digunakan oleh Digital Subscriber Line (DSL)
adalah two binary one quaternary (2B1Q). 2B1Q berarti setiap 2 bit data dikodekan ke dalam
1 elemen sinyal yang memiliki 4 level tegangan. Sehingga nilai m=2 dan kecepatan sinyal
rata-rata adalah S=R/4 baud. Dengan demikian nilai m=2, n=1 dan L=4.
8B6T (Eight Binary Six Ternary)
Dinamakan demikian karena pengkodean ini melakukan konversi dari 8 bit bilangan biner
data menjadi 6 pola sinyal dengan tiga (ternary) level tegangan (positif, negatifdan nol).

4D-PAM5 (Four Dimensional Five Level Pulse Amplitude Modulation)

Pengkodean Multiline Transmission: MLT-3


Multiline transmission, three level(MLT-3) menggunakan 3 level tegangan sinyal dan 3
aturan transisi untuk berpindah dari satu level tegangan ke level tegangan yang lain. Tiga
aturan transisi tersebut dapat dirumuskan sebagai berikut:
a. Apabila bit berikutnya adalah 0, maka tidak ada transisi level sinyal.
b. Apabila bit berikutnya adalah 1 dan level sinyal saat ini tidak 0, maka level sinyal
berikutnya adalah 0.
c. Apabila bit berikutnya adalah 1 dan level sinyal saat ini adalah 0, maka level sinyal
berikutnya adalah kebalikan darilevel sinyal tidak 0 yang terakhir.
Ringkasan skema line coding
Ringkasan tentang pengkodean digital beserta lebar bandwidth dan aplikasinya
dapat dilihat dalam Tabel dibawah. Seperti terlihat dalam tabel, sebagian besar
aplikasi pengkodean digital diterapkan untuk komunikasi jaringan Local Area
Network (LAN).

Anda mungkin juga menyukai