OGRA
AM KE
M KE
RJA
P
P
R
ROGR RJ
A
TPPK
TPPK
NEGERI 1 MAGELA
SMP NG
KATA PENGANTAR
Puji syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan rahmat dan karunia-Nya
sehingga Program Kerja Tim Pencegahan dan Penanganan Kekerasan (TPPK) Satuan Pendidikan
Tahun Pelajaran 2024/2025 ini dapat disusun dengan baik. Dokumen ini disusun sebagai
pedoman operasional dalam upaya mewujudkan lingkungan sekolah yang aman, nyaman,
inklusif, dan bebas dari segala bentuk kekerasan. Pencegahan kekerasan di satuan pendidikan
merupakan tanggung jawab bersama seluruh warga sekolah. Berbagai fenomena kekerasan yang
terjadi di lingkungan pendidikan—baik dalam bentuk perundungan, kekerasan fisik, psikis,
seksual, diskriminasi, maupun kekerasan berbasis digital—menjadi pengingat bahwa sekolah
harus membangun sistem perlindungan yang kuat, terarah, dan berkelanjutan. Melalui
Permendikbudristek Nomor 46 Tahun 2023 tentang Pencegahan dan Penanganan Kekerasan,
pemerintah menegaskan pentingnya pembentukan TPPK di setiap satuan pendidikan sebagai
wujud perlindungan hak-hak peserta didik serta semua warga sekolah.
Program kerja ini memuat berbagai langkah strategis yang sistematis dan terintegrasi,
mulai dari pencegahan, deteksi dini, penanganan, pendampingan, hingga pemulihan korban
maupun pelaku berusia anak. Selain itu, dokumen ini dirancang untuk menguatkan peran
sekolah, guru, orang tua, serta masyarakat dalam menghadirkan budaya pendidikan yang damai,
saling menghargai, dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.
Kami berharap Program Kerja TPPK ini dapat menjadi acuan bagi seluruh warga sekolah
dalam melaksanakan peran dan tanggung jawabnya, serta menjadi fondasi terbentuknya
lingkungan belajar yang aman dan ramah bagi semua. Ucapan terima kasih kami sampaikan
kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi, memberikan masukan, serta mendukung
tersusunnya dokumen ini.
Semoga program ini dapat berjalan dengan baik dan memberikan manfaat nyata bagi
seluruh warga sekolah. Dengan komitmen bersama, kita percaya bahwa lingkungan pendidikan
yang bebas kekerasan dapat terwujud demi masa depan peserta didik yang lebih baik.
HALAMAN PENGESAHAN
PROGRAM TIM PENCEGAHAN DAN PENANGANAN KEKERASAN
(TPPK)
SMP NEGERI 1 MAGELANG
TAHUN AJARAN 2025/2026
Magelang, Juli 2025
Mengetahui
Kepala SMP Negeri I Magelang Ketua
Dr. Ida Rianawaty, [Link]., [Link]. Muh. Farhan, [Link]
NIP 197403122003122000 NIP 197711272005011011
LATAR BELAKANG
Kekerasan di lingkungan pendidikan merupakan salah satu ancaman serius terhadap
proses tumbuh kembang peserta didik serta kualitas pembelajaran di sekolah. Satuan pendidikan
seharusnya menjadi tempat yang aman, nyaman, dan menyenangkan bagi anak untuk belajar,
bertumbuh, dan berekspresi, namun pada kenyataannya kasus kekerasan masih kerap terjadi dan
memberikan dampak yang sangat besar terhadap kondisi psikologis, sosial, maupun akademik
peserta didik. Kekerasan tidak hanya muncul dalam bentuk fisik, tetapi juga dalam bentuk psikis,
perundungan, kekerasan seksual, diskriminasi, intoleransi, hingga kekerasan berbasis digital
seperti cyberbullying. Fenomena kekerasan yang semakin kompleks ini menuntut sekolah untuk
memiliki sistem perlindungan yang terencana, terstruktur, dan berkelanjutan.
Berbagai data nasional menunjukkan bahwa kekerasan di satuan pendidikan bukan
fenomena insidental, melainkan masalah sistemik yang terjadi di banyak sekolah. Berdasarkan
laporan Kemendikbudristek tahun 2023, 3 dari 4 peserta didik di Indonesia pernah mengalami
kekerasan, baik sebagai pelaku, korban, maupun saksi. Selain itu, 41% kasus kekerasan terjadi di
lingkungan sekolah, menjadikannya salah satu lokasi paling rentan bagi anak. Data UNICEF
Indonesia juga memperkuat fakta ini, yaitu bahwa 45% siswa SMP dan SMA mengaku pernah
melihat atau mengalami perundungan, sementara Indonesia masih termasuk 10 negara dengan
angka bullying tertinggi di kawasan Asia Pasifik. Tidak hanya itu, laporan Komnas Perempuan
tahun 2023 mencatat 359 kasus kekerasan seksual di lingkungan pendidikan dalam dua tahun
terakhir, dan angka tersebut sangat mungkin lebih tinggi mengingat banyaknya kasus yang tidak
dilaporkan karena korban takut, malu, atau tidak percaya pada mekanisme pelaporan sekolah.
Perkembangan teknologi juga menambah kompleksitas permasalahan, terutama dengan
meningkatnya kasus cyberbullying, penyebaran konten yang merendahkan martabat korban, dan
pelecehan daring melalui pesan pribadi maupun media sosial. Kondisi ini diperburuk oleh
minimnya literasi digital pada peserta didik yang menyebabkan mereka rentan menjadi korban
maupun pelaku tanpa memahami konsekuensi hukum dan dampaknya terhadap kesehatan
mental.
Dalam konteks inilah, keberadaan sekolah sebagai institusi pendidikan memiliki peran
sentral. Peserta didik adalah individu yang sedang berada dalam proses perkembangan, pencarian
jati diri, dan pembentukan karakter. Mereka sangat membutuhkan lingkungan yang memberi
contoh, pengawasan, perlindungan, serta pendampingan yang tepat. Tanpa perlindungan yang
kuat, anak rentan mengalami trauma, kehilangan semangat belajar, mengembangkan perilaku
agresif, bahkan mengalami gangguan kecemasan dan depresi yang bisa berpengaruh jangka
panjang.
Untuk menjawab tantangan tersebut, pemerintah mengeluarkan Permendikbudristek
Nomor 46 Tahun 2023 tentang Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Satuan Pendidikan,
yang mewajibkan setiap sekolah membentuk Tim Pencegahan dan Penanganan Kekerasan
(TPPK). TPPK berperan sebagai struktur resmi yang bertugas melakukan pencegahan melalui
edukasi, sosialisasi, dan pembiasaan budaya positif; sekaligus memastikan adanya mekanisme
penanganan yang cepat, tepat, profesional, dan berperspektif korban. Pendekatan ini menekankan
bahwa keselamatan dan hak korban harus menjadi prioritas utama dalam setiap proses
penanganan kekerasan.
Pembentukan TPPK bukan hanya bentuk kepatuhan terhadap regulasi, tetapi juga
komitmen sekolah untuk menciptakan lingkungan yang ramah anak, inklusif, dan bebas dari
diskriminasi. TPPK membantu memastikan bahwa semua warga sekolah—baik peserta didik,
guru, tenaga kependidikan, maupun orang tua—memiliki kesadaran dan kemampuan untuk
mencegah kekerasan. Di sisi lain, sekolah memiliki mekanisme yang terstandar dan dapat
dipertanggungjawabkan ketika kasus terjadi, termasuk dalam hal pendampingan psikologis,
rujukan layanan, pemberian sanksi, dan pemulihan bagi korban maupun pelaku berusia anak.
Melalui penyusunan Program Kerja TPPK ini, sekolah menunjukkan tekad untuk
menjalankan upaya pencegahan dan penanganan kekerasan secara terencana, sistematis, dan
terukur. Program ini diharapkan tidak hanya mampu mengurangi angka kekerasan, tetapi juga
menciptakan budaya sekolah yang damai, harmonis, saling menghargai, dan menghormati
keberagaman. Lingkungan yang aman akan mendukung pembentukan dimensi lulusan yang
berkarakter, berakhlak mulia, berempati tinggi, serta mampu hidup berdampingan dalam
keberagaman.
A. Tujuan
Mewujudkan lingkungan satuan pendidikan yang aman, nyaman, inklusif, ramah anak,
bebas dari kekerasan, serta menjamin terpenuhinya hak-hak peserta didik dalam proses
pembelajaran secara optimal
B. Landasan Hukum
1. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, yang
mengamanatkan bahwa pendidikan harus diselenggarakan secara demokratis,
berkeadilan, dan tidak diskriminatif dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia.
2. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, beserta
perubahannya melalui UU Nomor 35 Tahun 2014 dan UU Nomor 17 Tahun 2016,
mengenai kewajiban negara dan satuan pendidikan untuk menjamin perlindungan anak
dari segala bentuk kekerasan.
3. Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak, yang
menekankan pendekatan keadilan restoratif bagi anak yang berkonflik dengan hukum.
4. Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2022 tentang Tindak Pidana Kekerasan Seksual
(TPKS), yang mengatur pencegahan, penanganan, pendampingan, dan perlindungan
korban kekerasan seksual, termasuk di satuan pendidikan.
5. Peraturan Pemerintah Nomor 57 Tahun 2021 tentang Standar Nasional Pendidikan, yang
mengatur lingkungan pendidikan aman dan nyaman sebagai bagian dari standar proses
pembelajaran.
6. Peraturan Pemerintah Nomor 79 Tahun 2023 tentang Perubahan atas PP 57/2021, terkait
penguatan perlindungan peserta didik.
7. Permendikbudristek Nomor 46 Tahun 2023 tentang Pencegahan dan Penanganan
Kekerasan di Satuan Pendidikan (PPKSP), sebagai landasan utama dalam pembentukan
TPPK dan seluruh mekanisme pencegahan–penanganan kekerasan.
8. Permendikbud Nomor 82 Tahun 2015 tentang Pencegahan dan Penanggulangan Tindak
Kekerasan di Lingkungan Satuan Pendidikan (sebagai landasan historis sebelum
diperbarui oleh Permendikbud 46/2023).
9. Permendikbud Nomor 72 Tahun 2023 tentang Kurikulum, terkait pembentukan Profil
Pelajar Pancasila dan pentingnya lingkungan belajar yang aman.
10. Surat Keputusan Kepala Sekolah tentang Pembentukan Tim Pencegahan dan Penanganan
Kekerasan (TPPK) tahun 2025/2026, sebagai dasar legal operasional tim dalam
menjalankan tugas.
C. Ruang Lingkup
Ruang lingkup Tim Pencegahan dan Penanganan Kekerasan (TPPK) meliputi seluruh
aspek pencegahan, deteksi dini, penanganan, pendampingan, pemulihan, serta pemantauan tindak
lanjut terhadap kasus kekerasan di lingkungan satuan pendidikan. Ruang lingkup ini menjadi
batas operasional TPPK dalam menjalankan tugas dan fungsi sesuai regulasi. Secara garis besar,
ruang lingkup TPPK mencakup hal-hal berikut:
1. Pencegahan Kekerasan di Satuan Pendidikan
Ruang lingkup ini mencakup seluruh kegiatan yang bertujuan mencegah terjadinya
kekerasan terhadap peserta didik, pendidik, tenaga kependidikan, maupun warga sekolah
lain. Fokus utama mencakup:
a. Sosialisasi dan edukasi mengenai bentuk-bentuk kekerasan, hak korban, dan mekanisme
pelaporan.
b. Penguatan budaya positif dan karakter peserta didik melalui pembiasaan, kegiatan
kokulikuler, Program Roots, layanan BK, dan pembelajaran intrakurikuler.
c. Meningkatkan kapasitas guru melalui pelatihan pencegahan perundungan, deteksi dini,
teknik komunikasi empatik, dan cara merespon kasus dengan benar.
d. Pemetaan dan pengawasan area rawan kekerasan di lingkungan sekolah.
e. Penyusunan pedoman internal, seperti SOP, alur pelaporan, serta penguatan tata tertib
sekolah.
Semua upaya pencegahan ini dilakukan secara menyeluruh, terencana, dan melibatkan
seluruh warga sekolah.
2. Penerimaan dan Pengelolaan Laporan Kekerasan
TPPK bertanggung jawab mengelola laporan dari seluruh warga sekolah, termasuk
peserta didik, guru, orang tua, dan masyarakat. Ruang lingkupnya meliputi:
a. menyediakan kanal pelaporan yang ramah anak (kotak aduan, hotline, formulir online,
WA).
b. menerima laporan secara empatik dan menjaga kerahasiaan identitas pelapor dan korban.
c. mendokumentasikan laporan secara lengkap dalam formulir resmi.
d. memastikan laporan ditindaklanjuti sesuai prosedur yang berlaku.
TPPK wajib memastikan bahwa setiap laporan diterima tanpa intimidasi dan diproses
dalam batas waktu yang ditentukan.
3. Pemeriksaan dan Verifikasi Kasus
Ruang lingkup ini mencakup langkah-langkah untuk memastikan kebenaran laporan.
Termasuk:
a. melakukan klarifikasi kepada pelapor, korban, saksi, dan terlapor.
b. mengumpulkan bukti (rekaman, tangkapan layar, foto, dokumen, dsb).
c. menyusun berita acara pemeriksaan (BAP).
d. melakukan analisis kasus berdasarkan fakta dan ketentuan hukum.
e. menyimpulkan apakah laporan terbukti atau tidak terbukti.
Seluruh pemeriksaan dilakukan dengan pendekatan non-diskriminatif, menjaga martabat
korban, dan melibatkan minimal 2–3 anggota TPPK.
4. Penanganan Kasus Kekerasan
Apabila kasus dinyatakan terbukti, ruang lingkup TPPK mencakup:
a. memberikan rekomendasi sanksi administratif kepada pelaku.
b. melakukan perlindungan dan pengamanan terhadap korban.
c. mencegah potensi balas dendam atau tekanan pihak lain terhadap korban.
d. menyosialisasikan keputusan kepada pihak terkait dengan tetap menjaga kerahasiaan.
Penanganan kasus dilakukan secara profesional, cepat, dan memprioritaskan keselamatan
korban.
5. Pendampingan dan Pemulihan Korban, Pelapor, dan Saksi
Ruang lingkup pemulihan mencakup layanan-layanan berikut:
a. pendampingan psikologis melalui layanan konseling sekolah atau rujukan ke psikolog
profesional/P2TP2A/rumah sakit.
b. pemulihan kesehatan fisik (jika terjadi kekerasan fisik atau seksual).
c. pemulihan sosial agar korban dapat kembali bersekolah tanpa stigma.
d. perlindungan hukum apabila kasus membutuhkan proses hukum lebih lanjut.
e. pemulihan bagi pelaku berusia anak, untuk memastikan ia memahami kesalahan dan
mendapat layanan pendidikan tanpa putus sekolah.
Pendampingan dilakukan hingga korban benar-benar merasa aman dan pulih.
6. Koordinasi dengan Pihak Eksternal
Dalam kasus tertentu, TPPK bisa melakukan koordinasi dan rujukan ke:
a. P2TP2A
b. Puskesmas / psikolog klinis
c. Polsek/Polres
d. Dinas Pendidikan
e. Komite sekolah
f. Lembaga layanan sosial
g. Tokoh masyarakat
h. Lembaga perlindungan anak
Koordinasi ini penting dalam kasus yang membutuhkan intervensi ahli, termasuk kekerasan
berat atau kekerasan seksual.
7. Dokumentasi dan Pelaporan
Ruang lingkup ini meliputi:
a. dokumentasi setiap laporan, hasil pemeriksaan, rekomendasi, dan tindak lanjut.
b. penyusunan laporan berkala kepada kepala sekolah dan dinas (jika diperlukan).
c. menjaga keamanan data dan kerahasiaan identitas korban.
d. memastikan arsip tersimpan dengan baik sesuai standar perlindungan data.
8. Monitoring, Evaluasi, dan Tindak Lanjut
TPPK bertanggung jawab melakukan pemantauan setelah penanganan kasus, meliputi:
a. memantau kondisi korban pasca pemulihan.
b. mengevaluasi efektivitas penanganan dan pencegahan kekerasan.
c. memperbaiki SOP atau kebijakan internal jika ditemukan kelemahan.
d. menyusun program tindak lanjut untuk mencegah terulangnya kasus serupa.
Monitoring dan evaluasi dilakukan berkelanjutan sebagai bagian dari peningkatan mutu
program.
D. Struktur Tim Pencegahan dan Penanganan Kekerasan (TPPK)
No. Nama/NIP Perwakilan Unsur Jabatan dalam TPPK
Sigit Arjo Koesoemo TN., [Link].
1. Pendidik Koordinator
NIP 196710241998021003
Nisalia Duwata, [Link].
2. Pendidik Sekretaris
NIP 199106172020122009
Rhesi Titasari, [Link]., M.M.
3. BK Anggota
NIP 198907122015022004
Joko Adi Sulistyo, [Link].
4. Pembina OSIS Anggota
NIP 199108162019021001
Lasi Rohani, [Link].
5. Pendidik Anggota
NIP 198904112024212010
Didin Kurniawan, [Link].
6. Pendidik Anggota
NIP 197909102024211002
7. Rida Rahmatika Firdausi, [Link]. Pendidik Anggota
8. Sanny Pratomo Komite Anggota
9. dr. Endra Nastiti Donasari Wali Murid Anggota
10. Mira Susanti Wali Murid Anggota
11. Slamet Yuniarto, S.E. Wali Murid Anggota
12. Herning Palmono, [Link]. Wali Murid Anggota
E. Uraian Tugas Tim TPPK
1. Penanggung Jawab (Kepala Sekolah)
Kepala sekolah berperan sebagai pengambil keputusan tertinggi dalam pelaksanaan
pencegahan dan penanganan kekerasan. Uraiannya sebagai berikut:
Menetapkan SK pembentukan TPPK.
Menjamin berjalannya seluruh program dan kebijakan TPPK.
Menyediakan dukungan sarana, prasarana, dan anggaran yang dibutuhkan.
Menentukan kebijakan akhir terhadap rekomendasi TPPK mengenai penanganan
kasus.
Melakukan koordinasi dengan Dinas Pendidikan, Komite, dan stakeholder
eksternal.
Menjamin kerahasiaan data korban dan pelapor.
Melaporkan perkembangan kasus tertentu kepada dinas terkait sesuai ketentuan.
2. Ketua TPPK
Ketua TPPK bertanggung jawab dalam mengoordinasikan seluruh pelaksanaan
pencegahan dan penanganan kasus kekerasan. Tugasnya meliputi:
Memimpin rapat dan mengoordinasikan seluruh anggota TPPK.
Merancang, menyusun, dan mengawasi pelaksanaan Program Kerja TPPK.
Menginisiasi kegiatan pencegahan, edukasi, sosialisasi, dan pembinaan.
Memimpin proses penerimaan dan pemeriksaan laporan kekerasan.
Memastikan pemeriksaan dilakukan sesuai prosedur dan waktu yang ditetapkan.
Menyusun rekomendasi sanksi serta pemulihan korban.
Melaporkan hasil kerja TPPK kepada Kepala Sekolah.
Menjaga netralitas, integritas, dan kerahasiaan dalam setiap proses pemeriksaan.
3. Sekretaris TPPK
Sekretaris memegang peran administratif dan dokumentatif. Tugasnya mencakup:
Mengelola administrasi TPPK termasuk surat menyurat, notulen, dokumen, dan
arsip kasus.
Menyusun laporan berkala kegiatan TPPK.
Menyimpan dan menjaga kerahasiaan data korban, saksi, pelapor, dan terlapor.
Menyusun jadwal pemeriksaan, rapat, serta undangan untuk pihak terkait.
Mengelola formulir laporan, daftar hadir, berita acara, dan berkas lainnya.
Membantu Ketua TPPK dalam pelaksanaan koordinasi internal maupun eksternal.
4. Anggota TPPK
Anggota TPPK memiliki tugas penting sesuai kapasitas masing-masing. Berikut
uraian tugas lengkapnya:
a. Guru BK / Konselor
Melakukan pendampingan psikologis bagi korban, saksi, maupun pelaku
berusia anak.
Melakukan asesmen kebutuhan pemulihan dan merancang program layanan
lanjutan.
Memberikan rekomendasi pemulihan sosial dan akademik bagi korban.
Memantau kondisi emosional siswa pasca-penanganan.
Membuat rujukan ke psikolog/P2TP2A apabila diperlukan.
b. Wali Kelas / Guru Mata Pelajaran
Melakukan pengawasan dan deteksi dini terhadap potensi kekerasan di kelas.
Melaporkan indikasi kekerasan secara cepat kepada TPPK.
Membantu proses klarifikasi apabila diperlukan.
Melakukan pembinaan kepada peserta didik sesuai rekomendasi TPPK.
Menjaga keamanan dan kenyamanan suasana kelas pasca penanganan kasus.
c. Tenaga Kependidikan / Staf Administrasi
Membantu pengelolaan administrasi pelaporan.
Mendukung pengarsipan dan dokumentasi kegiatan TPPK.
Mendukung pelaksanaan sosialisasi dan edukasi terkait pencegahan
kekerasan.
d. Satpam / Petugas Keamanan (Jika Ada)
Melakukan pemantauan area rawan kekerasan di lingkungan sekolah.
Membantu penanganan situasi darurat terkait keamanan.
Mendampingi korban ke ruang aman jika diperlukan.
Melaporkan temuan yang mencurigakan kepada TPPK.
e. Perwakilan Komite Sekolah
Menjembatani komunikasi antara sekolah dan orang tua.
Mendukung program pencegahan kekerasan melalui sosialisasi kepada orang
tua.
Menghadiri rapat TPPK yang tidak bersifat rahasia pemeriksaan kasus.
Memberikan masukan terhadap kebijakan dan program pencegahan
kekerasan.
F. Program Kerja 1 Tahun
Penanggung
No Program Kegiatan Deskripsi Kegiatan (Sangat Deskriptif) Waktu Output
Jawab
A. Program Pencegahan
1 Penguatan Penyusunan/Pembar TPPK menyusun SOP resmi mengenai alur Juli–Agustus Ketua TPPK SOP resmi
Tata Kelola uan SOP & Alur pelaporan, pemeriksaan, penanganan, dan dan buku alur
Anti Pelaporan pemulihan korban. Dokumen disosialisasikan pelaporan
Kekerasan ke seluruh guru dan tenaga kependidikan
sebagai pedoman kerja.
2 Pembentukan & Pembentukan TPPK melalui SK Kepala Juli Kepala SK TPPK
Penguatan Struktur Sekolah, penugasan tugas spesifik, serta Sekolah dan uraian
TPPK pengarahan mengenai peran masing-masing tugas
anggota.
3 Sosialisasi MPLS Anti Sosialisasi kepada peserta didik baru tentang Juli TPPK, Waka Materi
Pencegahan Kekerasan bentuk kekerasan, cara melapor, hak peserta Kesiswaan MPLS, daftar
Kekerasan didik, dan pengenalan kanal pelaporan ramah hadir
anak.
4 Sosialisasi untuk Workshop internal mengenai tanda-tanda Agustus Ketua TPPK Materi
Guru & Tenaga kekerasan, teknik wawancara empatik, serta pelatihan,
Kependidikan prosedur penanganan laporan. sertifikat
5 Sosialisasi pada Penyampaian materi pencegahan kekerasan Agustus / Komite & Leaflet/pamfl
Orang Tua dalam kegiatan pertemuan orang tua/walisiswa. September TPPK et
6 Penguatan Integrasi dalam Guru BK memberikan layanan tematik terkait Sep–Nov & Guru BK, RPP, lembar
Karakter Layanan BK & P5 perundungan, empati, literasi digital, dan Feb–Mar Guru P5 evaluasi
Peserta Didik resolusi konflik damai. P5 memasukkan tema siswa
“suara demokrasi”, “kearifan lokal”, dan
“toleransi”.
7 Pengawasan Pemetaan Area TPPK melakukan survei area sekolah, September TPPK & Peta area
Area Rawan Rawan menetapkan titik rawan, dan membuat rencana Satpam rawan
Kekerasan pengawasan.
8 Pemasangan Media Poster anti kekerasan di lorong, toilet, ruang Sep–Okt TPPK Poster dan
Edukasi OSIS, kelas, dan kantin. banner
9 Program Pelatihan Agen Sekolah memilih peserta didik pemimpin Oktober Guru BK & 30 agen
Roots/Anti- Perubahan perubahan (Roots) untuk mengikuti pelatihan TPPK perubahan
Bullying dan menyusun kampanye anti bullying.
10 Pelatihan Pelatihan Literasi Edukasi penggunaan media sosial, mencegah Nov–Des TPPK Materi
PTK Digital Aman cyberbullying, dan menjaga jejak digital sehat. literasi digital
B. PROGRAM PENANGANAN (Responsif)
11 Mekanisme Penyediaan Kanal Menyiapkan kotak aduan, WA hotline, formulir
Sekretaris Daftar kanal
Pelaporan Pelaporan online, dan nomor darurat. Semua kanal Juli
TPPK pelaporan
disosialisasikan kepada siswa dan orang tua.
12 Penerimaan Pencatatan & Setiap laporan yang masuk dicatat dalam
Laporan Verifikasi Awal formulir resmi, kemudian diverifikasi untuk Anggota Formulir
Sep–Mei
menentukan jenis kekerasan dan tingkat TPPK laporan
urgensi.
13 Pemeriksaan Wawancara TPPK melakukan wawancara kepada korban, BAP (Berita
Kasus Empatik pelapor, saksi, dan terlapor dengan pendekatan Sep–Mei Ketua TPPK Acara
ramah anak, tanpa tekanan. Pemeriksaan
14 Pengumpulan Bukti Mengumpulkan bukti pendukung seperti
Dokumen
rekaman CCTV, tangkapan layar, pesan WA, Sesuai kasus TPPK
bukti
atau foto terkait laporan.
15 Rapat TPPK Penetapan Rapat pleno menentukan apakah laporan
Kesimpulan terbukti/tidak terbukti dan menyusun Berita acara
Sep–Mei Ketua TPPK
rekomendasi sanksi dan pemulihan bagi kesimpulan
korban.
16 Penanganan Penyampaian Ketua TPPK menyampaikan hasil rekomendasi
Kepala SK
Kasus Keputusan kepada Kepala Sekolah, kemudian sekolah Sep–Mei
Sekolah Keputusan
menetapkan sanksi kepada pelaku.
17 Pendampingan Pemulihan Korban mendapatkan layanan konseling,
Lembar
Korban Psikologis & Sosial pendampingan emosional, dan dukungan untuk
Sep–Mei Guru BK asesmen
kembali nyaman belajar. Jika diperlukan,
konseling
dilakukan rujukan.
18 Pelibatan Mediasi Terbatas Orang tua korban dan pelaku dilibatkan dalam TPPK &
Notulen
Orang Tua sesi klarifikasi dan penjelasan tindak lanjut, Sesuai kasus Kepala
mediasi
dengan tetap menjaga kerahasiaan data. Sekolah
19 Monitoring Pemantauan TPPK melakukan monitoring kondisi korban,
Guru BK & Laporan
Kasus Lanjutan iklim kelas, dan perubahan perilaku pelaku Sep–Juni
TPPK moni
untuk mencegah kekerasan berulang.
C. PROGRAM PEMULIHAN (Restoratif)
20 Pemulihan Konseling Guru BK memberikan pendampingan
Catatan sesi
Korban Berkelanjutan berjenjang setelah kasus ditangani untuk Sep–Juni Guru BK
konseling
memastikan korban pulih secara emosional.
21 Reintegrasi Sosial Korban dibantu kembali beraktivitas normal
TPPK & Laporan
tanpa stigma melalui dukungan teman sebaya Sep–Mei
Wali Kelas reintegrasi
dan guru.
22 Pemulihan Program Pembinaan Pelaku berusia anak diberi konseling perilaku, Lembar
Pelaku Anak Karakter tugas reflektif, dan penguatan nilai moral sesuai Sep–Mei Guru BK refleksi
rekomendasi TPPK. pelaku
23 Mediasi Restoratif Mediasi dilakukan jika korban setuju, untuk Berita acara
menyelesaikan konflik tanpa paksaan dan Sesuai kasus Ketua TPPK mediasi
memastikan tidak ada dendam.
D. PROGRAM PENGUATAN SARANA & LINGKUNGAN AMAN
24 Lingkungan Mengecek titik rawan dan memastikan CCTV Agustus & Sarpras & Laporan
Peninjauan CCTV
Aman berfungsi baik. Januari TPPK inspeksi
25 Perbaikan lampu, toilet, pagar, dan sudut
Perbaikan Area Dokumentasi
sekolah yang potensial menjadi lokasi Sep–Feb Sarpras
Rawan perbaikan
kekerasan.
26 Kampanye
Poster & Banner Memasang poster edukasi di titik strategis Media
Sekolah Sep–Okt TPPK
Anti Kekerasan untuk meningkatkan kesadaran warga sekolah. kampanye
Aman
27 Edukasi kepada siswa mengenai etika digital,
Literasi Pelatihan Anti- Guru BK & Materi dan
keamanan data, dan bahaya perundungan Nov
Digital Aman Cyberbullying TPPK daftar hadir
daring.
E. PROGRAM EVALUASI & PELAPORAN
28 Evaluasi
Evaluasi Internal Meninjau efektivitas program semester 1 dan Laporan
Tengah Desember Ketua TPPK
TPPK menentukan strategi perbaikan. evaluasi
Tahun
29 Laporan mencakup pencegahan, kasus yang
Evaluasi Penyusunan Laporan Sekretaris Laporan
ditangani, pemulihan, dan rekomendasi tahun Juni
Akhir Tahun Tahunan TPPK TPPK resmi TPPK
berikutnya.
30 Rekomendasi
Rapat Perbaikan Rapat bersama guru dan komite untuk Kepala Dokumen
Program Juni
Program menyusun rencana kerja tahun berikutnya. Sekolah rekomendasi
Lanjutan
G. KOMPONEN & INDIKATOR KEBERHASILAN TPPK
1. Tata Kelola dan Kebijakan TPPK
Indikator Keberhasilan:
1. TPPK terbentuk dan ditetapkan melalui SK Kepala Sekolah.
2. Anggota TPPK lengkap dan memenuhi ketentuan (minimal 2 perempuan).
3. SOP Pelaporan & Penanganan kekerasan tersusun dan disosialisasikan.
4. Tersedia kanal pelaporan lengkap (WA hotline, kotak aduan, link Google
Form, dan kontak guru BK).
5. Dokumen pedoman TPPK (program kerja, alur pelaporan, formulir BAP,
dsb.) tersusun lengkap.
6. Data dan arsip kasus tersimpan secara aman dan rahasia.
2. Pencegahan Kekerasan
Indikator Keberhasilan:
1. Sekolah melaksanakan sosialisasi anti-kekerasan pada MPLS, rapat guru,
pertemuan walimurid.
2. Poster dan media edukasi anti-kekerasan terpasang di seluruh area strategis
sekolah.
3. Peserta didik memahami cara melapor (dibuktikan melalui pre-post
test/angket).
4. Guru dan tenaga kependidikan mengikuti pelatihan pencegahan kekerasan
minimal 1 kali setahun.
5. Guru BK melakukan layanan tematik tentang anti-bullying, literasi digital,
dan empati.
6. Area rawan kekerasan terpetakan dan ada strategi pengawasannya.
7. Program Roots atau aksi anti-bullying dilaksanakan dengan keterlibatan agen
perubahan.
3. Penanganan Kasus
Indikator Keberhasilan:
1. Setiap laporan yang masuk dicatat lengkap menggunakan formulir resmi
(tanpa ada laporan diabaikan).
2. Verifikasi awal dilakukan maksimal 1 hari sejak laporan diterima.
3. Pemeriksaan kasus selesai maksimal dalam 14–30 hari sesuai ketentuan.
4. Berita Acara Pemeriksaan (BAP) tersedia dan lengkap (pelapor, saksi,
terlapor).
5. Rekomendasi sanksi diberikan secara objektif dan berperspektif korban.
6. Tidak ada data korban atau pelapor yang bocor/tersebar.
7. Kepala sekolah mengeluarkan keputusan resmi berdasarkan rekomendasi
TPPK.
4. Pendampingan dan Pemulihan
Indikator Keberhasilan:
1. Korban mendapatkan layanan konseling minimal 2–3 sesi setelah kejadian.
2. Bila membutuhkan, korban dirujuk ke lembaga profesional
(psikolog/P2TP2A).
3. Korban tidak mengalami stigma (dibuktikan melalui monitoring wali kelas).
4. Pelaku berusia anak mendapatkan pembinaan, konseling perilaku, atau tugas
reflektif.
5. Mediasi restoratif dilakukan jika korban setuju dan situasinya
memungkinkan.
6. Kondisi emosional korban, saksi, dan pelaku dipantau selama minimal 3
bulan.
5. Saranan dan Prasarana Pendukung
Indikator Keberhasilan:
1. Ruang aman untuk pemeriksaan tersedia dan layak (tenang, tertutup,
nyaman).
2. CCTV berfungsi dan mencakup area rawan kekerasan.
3. Penerangan di area toilet, lorong, dan belakang sekolah memadai.
4. Toilet bersih dan dapat dikunci dengan aman.
5. Spanduk/papan informasi tentang anti kekerasan terpasang dengan baik.
6. Literasi Digital dan Cyber
Indikator Keberhasilan:
1. Peserta didik mengikuti pelatihan literasi digital minimal 1 kali setahun.
2. Ada materi khusus tentang bahaya cyberbullying dan keamanan digital.
3. Peserta didik memahami etika berkomunikasi di media sosial (dari angket
evaluasi).
4. Guru mampu mengidentifikasi indikasi kekerasan berbasis digital.
7. Kerjasama Lintas Sektor
Indikator Keberhasilan:
1. Sekolah memiliki kerja sama dengan P2TP2A, Puskesmas, dan kepolisian
untuk kasus tertentu.
2. Terdapat dokumentasi rujukan korban bila diperlukan.
3. Sekolah mengadakan koordinasi minimal 1 kali dengan komite/orang tua
terkait pencegahan.
8. Monitoring, Evaluasi, dan Laporan
Indikator Keberhasilan:
1. TPPK melakukan monitoring kondisi korban/pelaku secara berkala.
2. Evaluasi program dilakukan minimal 2 kali per tahun (tengah & akhir tahun).
3. Laporan tahunan TPPK tersusun lengkap berisi:
o data kasus
o program pencegahan
o pemulihan
o rekomendasi tahun berikutnya
4. Program tahun berikutnya memperbaiki temuan evaluasi tahun ini.
9. Budaya Sekolah Positif
Indikator Keberhasilan:
1. Iklim sekolah aman (dibuktikan dari angket warga sekolah).
2. Tidak ada kasus kekerasan berulang pada korban yang sama.
3. Peserta didik merasa nyaman untuk melapor dan percaya pada TPPK.
4. Terjadi penurunan kasus dibanding tahun sebelumnya (jika ada).
5. Peserta didik menunjukkan perilaku empatik dan saling menghargai.
H. Penutup
Program Kerja Tim Pencegahan dan Penanganan Kekerasan (TPPK) ini disusun
sebagai panduan operasional bagi seluruh warga sekolah dalam upaya menciptakan
lingkungan pendidikan yang aman, nyaman, inklusif, dan bebas dari segala bentuk
kekerasan. Dokumen ini memuat berbagai strategi pencegahan, mekanisme pelaporan,
tata cara penanganan, prosedur pemulihan, serta langkah-langkah evaluasi yang
diharapkan dapat terlaksana secara konsisten dan berkelanjutan.
Melalui program yang telah dirumuskan, sekolah berkomitmen untuk
mengimplementasikan Permendikbudristek Nomor 46 Tahun 2023 secara menyeluruh,
mengutamakan perlindungan terhadap peserta didik, dan memastikan bahwa setiap
laporan kekerasan ditangani dengan cepat, tepat, profesional, serta berperspektif korban.
Keberhasilan program ini sangat bergantung pada kerja sama seluruh komponen
sekolah—guru, tenaga kependidikan, peserta didik, orang tua, komite sekolah, dan
masyarakat.
Harapannya, Program Kerja TPPK ini dapat menjadi landasan kuat untuk
mewujudkan budaya sekolah yang positif, harmonis, dan menjunjung tinggi nilai
kemanusiaan sehingga peserta didik dapat tumbuh dan berkembang secara optimal.
Semoga upaya yang dilakukan dapat memberikan manfaat nyata dan membawa sekolah
menuju lingkungan yang sepenuhnya aman dan ramah bagi seluruh warga sekolah.