0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan25 halaman

Chapter I, II

Dokumen ini membahas pemanfaatan energi surya, termasuk teknologi panel surya dan aplikasinya dalam penyemprotan tanaman otomatis. Penelitian bertujuan untuk menganalisis intensitas matahari dan pengaruh kemiringan panel surya di kota Medan. Selain itu, dokumen ini juga menjelaskan kelebihan dan kelemahan dari penggunaan panel surya sebagai sumber energi terbarukan.

Diunggah oleh

zbmeilisa
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan25 halaman

Chapter I, II

Dokumen ini membahas pemanfaatan energi surya, termasuk teknologi panel surya dan aplikasinya dalam penyemprotan tanaman otomatis. Penelitian bertujuan untuk menganalisis intensitas matahari dan pengaruh kemiringan panel surya di kota Medan. Selain itu, dokumen ini juga menjelaskan kelebihan dan kelemahan dari penggunaan panel surya sebagai sumber energi terbarukan.

Diunggah oleh

zbmeilisa
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Energi surya adalah energi yang berupa sinar dan panas dari matahari. Energi ini

dapat dimanfaatkan dengan menggunakan serangkaian teknologi pemanas surya,

fotovoltaik surya, listrik panas surya, arsitektur surya, dan fotosintesis buatan.

Teknologi energi surya secara umum dikategorikan menjadi dua kelompok, yakni

teknologi pemanfaatan pasif dan teknologi pemanfaatan aktif. Pengelompokan ini

tergantung pada proses penyerapan, pengubahan, dan penyaluran energi surya. Contoh

pemanfaatan energi surya secara aktif adalah penggunaan panel fotovoltaik dan panel

penyerap panas. Contoh pemanfaatan energi surya secara pasif meliputi mengarahkan

bangunan ke arah matahari, memilih bangunan dengan massa termal atau kemampuan

dispersi cahaya yang baik, dan merancang ruangan dengan sirkulasi udara alami.

Energi telah menjadi kebutuhan vital masyarakat yang sangat dibutuhkan untuk

makanannya, manusia membutuhkan energi panas atau untuk memenuhi kebutuhan

air di perkotaan, masyarakat membutuhkan energi listrik untuk menyalakan dan

menjalankan pompa air. Energi listrik yang umumnya dipakai oleh masyarakat

Indonesia berasal dari pembangkit tenaga listrik yang menggunakan bahan bakar fosil.

Kelemahan penggunaan bahan bakar fosil adalah pembakarannya menghasilkan gas

rumah kaca sehingga menambah konsentrasi gas rumah kaca di bumi penyebab

peningkatan suhu bumi dan pemanasan global. Matahari adalah sumber energi yang

berjumlah besar dan bersifat terus-menerus (tidak habis), khususnya energi elektro
magnetik yang dipancarkan oleh matahari. Penggunaan tenaga surya tidak

membutuhkan pembakaran sehingga tidak menghasilkan gas buang berupa gas rumah

kaca. Pemanfaatan energi matahari dilakukan dengan mengubah sinar matahari

menjadi energi panas atau listrik untuk memenuhi kebutuhan energi manusia.

Pemanfaatan tenaga surya dilakukan dengan mengubah sinar matahari secara langsung

menjadi panas atau energi listrik. Dua tipe dasar tenaga matahari adalah sinar matahari

dan photovoltaic, yaitu tenaga matahari. Bahan dasar untuk menangkap sinar matahari

dan mengubahnya menjadi energi adalah bahan semi konduktor. Umumnya bahan

yang digunakan adalah bahan silikon. berwarna hitam. Bahan dasar silikon ini dibuat

menjadi lempengan dan dipasangi tiang agar bisa diarahkan langsung pada matahari.

Silikon adalah bahan yang dapat merefleksikan matahari seperti kaca.

Berdasarkan uraian latar belakang diatas, penulis mengambil judul “Pemanfaatan

Energi Matahari Untuk Penyemprot Tanaman Otomatis”

1.2. Rumusan Masalah

1. Bagaimana pengaruh kemiringan panel surya terhadap sinar matahari.

2. Bagaimana intensitas matahari di kota Medan.

3. Bagaimana kondisi cuaca yang di butuhkan dalam pemanfaatan energi matahari

untuk penyemprotan tanaman otomatis.

1.3. Ruang Lingkup

Dalam penelitian ini akan melakukan kajian di laboratorium teknik mesin

universitas harapan dengan pemanfaatan panel surya.


1.4. Tujuan Penelitian

1. Analisa intensitas matahari di kota Medan.

2. Analisa pengaruh kemiringan panel surya terhadap tegangan panel surya.

3. Mencari kondisi optimal dari panel surya dengan variasi kemiringan.

1.5. Manfaat Penelitian

Penelitian di harapkan membantu terutama petani tanaman hias agar lebih inovatif

dan membantu petani dalam efektifitas dan efesiensi waktu yang digunakan dalam

penyiraman tanaman.
4

BAB 2

LANDASAN TEORI

2.1. Panel Surya

Panel surya adalah perangkat yang terdiri dari sel surya yang mengubah sinar

matahari menjadi energi listrik. Matahari atau matahari atau sol adalah sumber energi

paling kuat yang tersedia. Sel surya atau sel surya dapat diartikan sebagai sel surya

"petir" yang bergantung pada efek sel surya untuk menyerap energi. Secara umum, sel

surya adalah semikonduktor yang dapat menyerap proton dari sinar matahari dan

mengubahnya menjadi listrik. Sel surya terbuat dari potongan silikon yang sangat kecil

yang telah dilapisi dengan bahan kimia khusus untuk membentuk dasar sel surya.

Secara umum, sel surya memiliki ketebalan minimum 0,3 mm dan terbuat dari irisan

semikonduktor dengan kutub positif dan negatif. Sambungan antara dua lapisan tipis

sel surya terbuat dari bahan semikonduktor yang dikenal sebagai tipe "P" (positif) dan

semikonduktor "N" (negatif). Silikon tipe P ditempatkan di permukaan dan dibuat

sangat tipis sehingga sinar matahari dapat langsung menembus dan mencapai sendi.

Bagian P ini dilengkapi dengan lapisan nikel berbentuk cincin sebagai terminal output

positif. Ini terletak di bawah bagian P dan memiliki bagian tipe N berlapis nikel dan

terminal keluaran negatif.

2.2. Sejarah Panel Surya

Prinsip dasar pembuatan sel surya adalah memanfaatkan efek photovoltaik, yaitu

suatu efek yang dapat mengubah langsung cahaya matahari menjadi energi listrik.

Efek photovoltaic pertama kali dikenali pada tahun 1839 oleh Fisikawan Perancis
Alexandre-Edmond Becquerel. Akan tetapi, sel surya yang pertama dibuat baru

pada tahun 1883 oleh Charles Fritts, yang melingkupi semikonduktor selenium

dengan sebuah lapisan emas yang sangat tipis untuk membentuk sambungan-

sambungan. Alat tersebut hanya memiliki efisiensi 1%. Russell Ohl mematenkan

sel surya modern pada tahun 1946 (U.S. Patent 2,402,662, "Light Sensitive

Device"). Masa emas teknologi tenaga surya tiba pada tahun 1954 ketika Bell

Laboratories, yang bereksperimen dengan semikonduktor, secara tidak disengaja

menemukan bahwa silikon yang didoping dengan unsur lain menjadi sangat

sensitif terhadap cahaya. Hal ini menyebabkan dimulainya proses produksi sel

surya praktis dengan kemampuan konversi energi surya sebesar sekitar 6 persen.

Pertama kali penggunaan sel surya diperuntukkan bagi satelit-satelit ruang

angkasa pada tahun 1958, dikarenakan ringan dan dapat diandalkan, tahan lama dan

energi matahari di angkasa lebih besar dari bumi. Tapi penggunaan sel Surya pada

masyarakat umum belum begitu meluas dikarenakan mahalnya biaya untuk

instalasinya. Solar cell adalah divais yang dapat mengubah energi matahari

menjadi energi listrik. Jadi secara langsung arus dan tegangan yang dihasilkan

oleh solar cell bergantung pada penyinaran matahari. Pada solar cell ini

dibutuhkan material yang dapat menangkap matahari dan energi tersebut

digunakan untuk memberikan energi ke elektron agar dapat berpindah melewati

band gapnya ke pita konduksi,dan kemudian dapat berpindah ke rangkaian luar.

Melalui proses tersebutlah arus listrik dapat mengalir dari solar cell. Umumnya,

divais dari solar cell ini menggunakan prinsip PN [Link] pelaksanaannya,

sel surya tidak dipakai sendirian, tetapi biasanya dirakit menjadi Modul Surya.
Modul Surya (fotovoltaic)adalah sejumlah sel surya yang dirangkai secara seri

dan paralel untuk

meningkatkan tegangan dan arus yang dihasilkan sehingga cukup untuk

pemakaian sistem catu daya beban. Untuk mendapatkan keluaran energi listrik

yang maksimum maka permukaan modul surya harus selalu mengarah ke

matahari. Komponen utama sistem surya photovoltaic adalah modul yang

merupakan unit rakitan beberapa sel surya photovoltaic.

Untuk membuat modul photovoltaic secara pabrikasi bisa menggunakan teknologi

kristal dan thin film. Modul photovoltaic kristal dapat dibuat dengan teknologi

yang relatif sederhana, sedangkan untuk membuat sel photovoltaic diperlukan

teknologi tinggi. Modulphotovoltaic tersusun dari beberapa sel photovoltaic yang

dihubungkan secara seri dan paralel.

2.3. Struktur panel surya

Sesuai dengan perkembangan sains&teknologi, jenis-jenis teknologi sel surya

punberkembang dengan berbagai inovasi.

Ada yang disebut sel surya generasi satu, dua, tiga dan empat, dengan struktur

atau bagian-bagian penyusun sel yang berbeda pula (Jenis-jenis teknologi surya

akan dibahas di tulisan “Sel Surya : Jenis-jenis teknologi”).

Dalam tulisan ini akan dibahas struktur dan cara kerja dari sel surya yang umum

berada dipasaran saat ini yaitu sel surya berbasis material silikon yang juga secara

umum mencakup struktur dan cara kerja sel surya generasi pertama (sel surya

silikon)dan kedua (thin film/lapisan tipis).


Gambar 2.1 Struktur dari sel surya komersial yang menggunakan material

silicon sebagai semikonduktor

Gambar diatas menunjukan ilustrasi sel surya dan juga bagian-bagiannya. Secara

umum terdiri dari :

1. Substrat/Metal backing

Substrat adalah material yang menopang seluruh komponen sel surya. Material

substrat juga harus mempunyai konduktifitas listrik yang baik karena juga berfungsi

sebagai kontak terminal positif sel surya, sehinga umumnya digunakan material metal

atau logam seperti aluminium atau molybdenum. Untuk sel surya dye-sensitized

(DSSC) dan sel surya organik, substrat juga berfungsi sebagai tempat masuknya

cahaya sehingga material yang digunakan yaitu material yang konduktif tapi juga

transparan seperti indium tin oxide (ITO) dan flourine doped tin oxide (FTO).

2. Material semikonduktor

Material semikonduktor merupakan bagian inti dari sel surya yang biasanya

mempunyai tebal sampai beberapa ratus mikrometer untuk sel surya generasi pertama

(silikon), dan 1-3 mikrometer untuk sel surya lapisan tipis. Material semikonduktor

inilah yang berfungsi menyerap cahaya dari sinar matahari. Untuk kasus gambar

diatas, semikonduktor yang digunakan adalah material silikon, yang umum


diaplikasikan di industri elektronik. Sedangkan untuk sel surya lapisan tipis, material

semikonduktor yang umum digunakan dan telah masuk pasaran yaitu contohnya

material Cu(In,Ga)(S,Se)2 (CIGS), CdTe (kadmium telluride), dan amorphous silikon,

disamping material-material semikonduktor potensial lain yang dalam sedang dalam

penelitian intensif seperti Cu2ZnSn(S,Se)4 (CZTS) dan Cu2O (copper oxide) Bagian

semikonduktor tersebut terdiri dari junction atau gabungan dari dua material

semikonduktor yaitu semikonduktor tipe-p (material-material yang disebutkan diatas)

dan tipe-n (silikon tipe-n, CdS,dll) yang membentuk p-n junction. P-n junction ini

menjadi kunci dari prinsip kerja sel surya. Pengertian semikonduktor tipe-p, tipe-n,

dan juga prinsip p-n junction dan sel surya akan dibahas dibagian “cara kerja sel

surya”.

3. Kontak metal / contact grid

Selain substrat sebagai kontak positif, diatas sebagian material semikonduktor

biasanya dilapiskan material metal atau material konduktif transparan sebagai kontak

negatif.

4. Lapisan anti reflektif

Refleksi cahaya harus diminimalisir agar mengoptimalkan cahaya yang terserap oleh

semikonduktor. Oleh karena itu biasanya sel surya dilapisi oleh lapisan antirefleksi.

Material anti-refleksi ini adalah lapisan tipis material dengan besar indeks refraktif

optik antara semikonduktor dan udara yang menyebabkan cahaya dibelokkan ke arah

semikonduktor sehingga meminimumkan cahaya yang dipantulkan kembali.


5. Enkapsulasi / cover glass

Bagian ini berfungsi sebagai enkapsulasi untuk melindungi modul surya dari hujan

atau kotoran.

2.4. Distribusi Energi Listrik Dari Solar Cell Ke Baterai

Solar cell merupakan salah satu jenis pembangkit listrik yang tidak menghasilkan

polusi sehingga ramah lingkungan, selain itu tidak menghasilkan suara yang bising,

dan tahan lama. Seperti pada penjelasan sebelumnya bahwa solar cell sangat

bergantung pada intensitas cahaya matahari yang masuk pada permukaannya.

Yang terjadi adalah bahwa daya yang disuplai oleh solar cell ini berubah-ubah dan

tidak stabil tergantung kondisi penyinaran saat itu, sehingga apabila solar cell ini

dihubungkan secara langsung ke beban, maka dapat merusak beban tersebut.

Solusinya adalah dengan menggunakan sistem penyimpanan energi yang menyimpan

energi listrik tersebut untuk kemudian disambungkan ke beban, sehingga apabila

kondisi penyinaran matahari dalam keadaan mendung, dari sistem penyimpanan

energi tersebut masih dapat menyuplai beban secara stabil.

Sistem penyimpanan energi yang sering digunakan adalah baterai/ accumulator.

Solar cell yang memiliki nominal tegangan 12 V, biasanya dapat menghasilkan

tegangan yang berubah dari 8 - 20 V, sedangkan baterai yang digunakan mempunyai

tegangan nominal 12 V. Adanya perbedaan antara tegangan keluaran dari solar cell

dan baterai tentu saja memiliki dampak, yaitu kerusakan pada baterai yang berakibat

akan mengurangi lifetime dari baterai. Oleh karena dibutuhkan regulator tegangan

yang mengubah tegangan solar cell tersebut ke 12 V. Regulator ini selain berfungsi

sebagai regulator tegangan, juga harus mempunyai fungsi sebagai dioda proteksi,
sehingga hanya melewatkan arus yang menuju baterai dan tidak ada arus balik ke solar

cell. Apabila sore, dengan tidak adanya penyinaran dari matahari, tegangan dari solar

cell bisa lebih kecil dari baterai yang memungkinkan adanya arus balik dari baterai ke

solar cell, tapi dengan adanya dioda proteksi ini hal tersebut tidak terjadi. Regulator

ini juga disebut sebagai Charger.

2.5. Kelebihan Dan Kelemahan Panel Surya

2.5.1. Kelebihan Panel Surya

Seperti yang anda ketahui energi surya merupakan salah satu sumber energi alternatif

pengganti Bahan Bakar Minyak (BBM). Tak hanya itu saja, energi surya juga

merupakan sumber energi terbarukan yang tidak akan habis meski digunakan secara

terus menerus oleh manusia. Berbeda dengan Bahan Bakar Minyak yang dapat

semakin menipis ketika digunakan secara terus menerus. Hal ini dikarenakan bahan

bakar minyak berasal dari fosil jutaan tahun lalu. Berbeda dengan energi surya yang

memerlukan sinar matahari.

1. Tidak akan pernah habis.

Keuntungan yang pertama adalah tidak akan pernah habis dan ramah lingkungan.

Seperti yang Anda ketahui energi matahari merupakan sumber energi terbarukan

yang tidak akan pernah habis. Penggunaan energi surya juga dapat mencegah

penggunaan bahan bakar fosil menjadi semakin menipi. Dan bahkan saat ini banyak

sekali negara-negara maju yang menggunakan energi surya untuk menjadikannya

energi listrik

2. Ramah lingkungan
Dikatakan ramah lingkungan karena penggunaan energi surya tidak akan

menghasilkan emisi karbon sama seperti BBM. Oleh karena itu energi surya dapat

dikatakan sebagai salah

satu sumber energi alternatif yang sangat lingkungan. Dan pastinya hal ini dapat

mencegah pemanasan global yang dapat menyebabkan perubahan iklim tak menentu.

3. Hanya Membutuhkan Sedikit Perawatan

Keuntungan pembangkit listrik tenaga surya selanjutnya adalah hanya

membutuhkan sedikit perawatan. Setelah instalasi dan dioptimasi, panel surya

dapat menciptakan listrik dengan luasan hanya beberapa milimeter dan tidak

memerlukan perawatan yang berarti. Tak hanya itu saja, panel surya juga

memproduksi energi dalam diam, sehingga tak mengeluarkan bunyi bising dan

lainnya.

4. Sangat Cocok Untuk Daerah Tropis Seperti Indonesia

Selain itu, energi surya juga memiliki keuntungan lainnya seperti, bebas dari biaya

perawatan. Pemasangan sangat mudah, kapasitas yang dihasilkan sesuai dengan

kebutuhan dan lainnya.

2.5.2. Kelemahan Panel Surya

Meskipun memiliki keuntungan, PLTS juga memiliki beberapa kelemahan, apa

saja? Berikut ulasannya. Kelemahan penggunaan listrik tenaga surya :

1. Daya Yang Dihasilkan Berkurang Ketika Mendung


Seperti yang kita ketahui tenaga surya membutuhkan sinar matahari untuk bekerja

ketika mendung atau pada malam hari keluaran energi panel surya pastinya kurang

maksimal, namun untuk menyiasati hal ini banyak tenaga surya skala besar yang

melacak matahari untuk menjaga panel surya di sudut optimal tiap hari.

2. Besarnya Biaya Pembangunan

Pembangkit listrik ini juga sangat membutuhkan biaya yang sangat besar per MW

oleh karena itu banyak sekali negara-negara yang memikirkan hal ini ketika ingin

membangunnya

2.5.3. Distribusi Energi Listrik Dari Solar Cell Ke Baterai

Solar cell merupakan salah satu jenis pembangkit listrik yang tidak menghasilkan

polusi sehingga ramah lingkungan, selain itu tidak menghasilkan suara yang bising,

dan tahan lama. Seperti pada penjelasan sebelumnya bahwa solar cell sangat

bergantung pada intensitas cahaya matahari yang masuk pada permukaannya.

Yang terjadi adalah bahwa daya yang disuplai oleh solar cell ini berubah-ubah dan

tidak stabil tergantung kondisi penyinaran saat itu, sehingga apabila solar cell ini

dihubungkan secara langsung ke beban, maka dapat merusak beban tersebut.

Solusinya adalah dengan menggunakan sistem penyimpanan energi yang menyimpan

energi listrik tersebut untuk kemudian disambungkan ke beban, sehingga apabila

kondisi penyinaran matahari dalam keadaan mendung, dari sistem penyimpanan

energi tersebut masih dapat menyuplai beban secara stabil.


Sistem penyimpanan energi yang sering digunakan adalah baterai/ accumulator.

Solar cell yang memiliki nominal tegangan 12 V, biasanya dapat menghasilkan

tegangan yang berubah dari 8 - 20 V, sedangkan baterai yang digunakan mempunyai

tegangan nominal 12 V. Adanya perbedaan antara tegangan keluaran dari solar cell

dan baterai tentu saja memiliki dampak, yaitu kerusakan pada baterai yang berakibat

akan mengurangi lifetime dari baterai. Oleh karena dibutuhkan regulator tegangan

yang mengubah tegangan solar cell tersebut ke 12 V. Regulator ini selain berfungsi

sebagai regulator tegangan, juga harus mempunyai fungsi sebagai dioda proteksi,

sehingga hanya melewatkan arus yang menuju baterai dan tidak ada arus balik ke solar

cell. Apabila sore, dengan tidak adanya penyinaran dari matahari, tegangan dari solar

cell bisa lebih kecil dari baterai yang memungkinkan adanya arus balik dari baterai ke

solar cell, tapi dengan adanya dioda proteksi ini hal tersebut tidak terjadi. Regulator

ini juga disebut sebagai Charger.

2.6. Sel Surya dan Semikonduktor

Elemen yang memiliki kemampuan listrik antara konduktor dan isolator disebut

semikonduktor (Malviano, 2003: 35). Sel surya adalah perangkat yang 6 mengikuti

prinsip fotovoltaik dan memiliki kemampuan untuk mengubah sinar matahari menjadi

energi listrik. Keberadaan energi dari cahaya (foton) dengan panjang gelombang

tertentu bersemangat. Beberapa elektron dalam materi yang berhubungan dengan

energi ditemukan oleh Alexander Edmond Bacquarel (Belgia) pada tahun 1894.

Semikonduktor listrik dengan konduktivitas sedang dapat menyebabkan efek ini. Pita

valensi. Keadaan non-elektronik juga disebut celah pita, tetapi dua pita energi kontinu
dan pita valensi dan pita konduksi rendah. Ukuran celah pita ini bervariasi dari bahan

semikonduktor ke material, tetapi disarankan untuk tidak melebihi 3 atau 4 eV (1 Ev

= 1,60 x 10-19 J). Gambar 2.1 solar cell (sumber: [Link] di akses

pada 18 oktober 2019 ) Maxwell menganjurkan teori radiasi elektromagnetik, di mana

cahaya dianggap sebagai spektrum elektromagnetik dari berbagai panjang gelombang.

Menurut 7 Einsten, efek fotovoltaik menunjukkan bahwa cahaya adalah partikel diskrit

atau energi.

Karena bahan yang membentuk sel surya adalah semikonduktor, proses

mengubah sinar matahari menjadi listrik dimungkinkan. Lebih tepatnya, muatan

berlebih adalah negatif (n = negatif) karena terdiri dari dua semikonduktor dengan

elektron berlebih. Ini disebut p (p = positif) karena kelebihan positif karena ada terlalu

banyak lubang di semikonduktor tipe-p. Awalnya, produksi kedua jenis

semikonduktor ini bertujuan untuk meningkatkan konduktivitas listrik atau

konduktivitas listrik dan kapasitas panas semikonduktor alami. Dalam semikonduktor

alami ini, ada jumlah elektron dan lubang yang sama. Kelebihan elektron atau lubang

dapat meningkatkan konduktivitas dan panas semikonduktor. Kombinasi dari dua

semikonduktor ini, n dan pp, membentuk koneksi dioda p-n atau p-n.

2.7. Radiasi Matahari Per Hari Pada Permukaan Bumi

Konstanta radiasi matahari sebesar 1353 W/m2 dikurangi intensitasnya oleh

penyerapan dan pemantulan oleh atmosfer sebelum mencapai permkaan bumi. Ozon

diatmosfer menyerap radiasi dengan panjang gelombang paendek (ultraviolet)

sedangkan karbon dioksida dan uap air menyerap sebagian radiasi 13 dengan panjang
gelombang yang lebih panjang (inframerah). Selain pengurangan radiasi bumi yang

langsung atau sorotan oleh penyerapan tersebut, masih ada radiasi yang dipancarkan

oleh molekul-molekul gas, debu, dan uap air dalam atmosfer sebelum mencapai bumi

yang disebut sebagai radiasi sebaran. Besarnya radiasi harian yang diterima

permukaan bumi ditunjukan pada grafik 2.1. pada waktu pagi dan sore radiasi yang

sampai permukaan bumi intensitasnya kecil. Hal ini disebabkan arah sinar matahari

tidak tegak lurus dengan permukaan bumi (membentuk sudut tertentu) sehingga sinar

matahari mengalami peristiwa difusi oleh atmosfer bumi.

Gambar 2.2 Radiasi Sorotan Dan Radiasi Sebaran Yang Mencapai Permukaan Bumi

2.8. Pengaruh Sudut Datang Terhadap Radiasi Yang Diterima

Besarnya radiasi yang diterima panel surya dipengaruhi oleh sudut datang (angle of

incidence) yaitu sudut antara arah sinar datang dengan komponen tegak lurus bidang

panel. 14 Gambar 2.10 Arah Sinar Datang Membentuk Sudut Terhadap Normal

Bidang Panel Surya (sumber : Yuwono, 2005 Skripsi Optimalisasi Panel Surya

Dengan Menggunakan System Pelacak Berbasis Mikrokontroler AT89C5. surakarta :

halaman13) Sel surya mendapat radiasi matahari maksimal pada saat posisi matahari
tegak lurus dengan bidang panel atau membentuk sudut Ɵ seperti gambar 2.2 maka

panel akan menerima radiasi lebih kecil dengan faktor cos Ɵ.

Ir = Ir0 cos Ɵ ............................................................................. (2.1)

Dimana :

Ir = radiasi yang diserap panel Ir0 = radiasi yang mengenai panel Ɵ = sudut antara

sinar dating dengan normal bidang panel

Gambar 2.3 Arah Sinar Datang Membentuk Sudut Terhadap Normal Bidang Panel

Surya.

2.9. Komponen Utama PLTS

2.9.1. Panel surya

Panel surya ialah salah satu komponen berfungsi merubah energy pancaran

matahri menjadi energy listrik dengan menggunakan prinsip efek photovoltaic. Ada

beberapa jenis panel yang di gunakan dalam system PLTS yaitu :

1. Jenis yang pertama adalah jenis terbaik dan banyak digunakan pada saat ini, yaitu

jenis monokristalin. Panel ini memiliki tingkat efisiensi antara 12 % sampai 14 %


Gambar 2.4 Panel Surya Jenis Monokristalin

2. Jenis kedua yaitu jenis polikristalin atau disebut juga multikristalin yang terbuat dari

Kristal silicon yang memiliki tingkat efisiensi antara 10 % sampai 12 %.

Gambar 2.5 Panel Surya Jenis Polikristalin

3. Jenis ketiga yaitu jenis silicon amorphous, berbentuk seperti film tipis. Mempunyai

tingkat efisiensi setiar 4-6 %, pada mainan anak-anak banyak menggunakan panel

jenis ini. 16 Amorphous

Gambar 2.6 Panel Surya Jenis Silicon Amorphous


4. Jenis keempat yaitu panel yang terbuat dari GaAs (Gallium Arsenide)

Gambar 2.7 Panel Surya GaAs (Gallium Arsenide)

Selain itu, IC 78xx mempunyai tiga terminal dan sering ditemui dengan kemasan

TO220, walaupun begitu kemasan pasang permukaan D2PAK dan kemasan logam

TO3 juga tersedia. Piranti ini biasanya mendukung tegangan masukan dari 3 volt diatas

teganan keluaran hingga kira-kira 36 volt, dan biasanya mampu memberi arus listrik

hingga 1,5 ampere 17 (kemasan yang lebih kecil atau lebih besar mungkin memberikan

arus yang lebih kecil atau lebih besar)

2.9.2. Baterai

Secara umum, pembangkit listrik tenaga surya menggunakan baterai siang hari.

Karena itu, panel surya malam hari tidak digunakan. Oleh karena itu, cara untuk

mengatasi masalah ini adalah dengan menyimpan energi yang dilepaskan dari panel

surya pada siang hari untuk memenuhi kebutuhan energi cuaca mendung dan buruk.
Baterai kemudian digunakan untuk menyimpan energi. Sistem pembangkit tenaga

surya yang menggunakan baterai fungsi ganda.

Gambar 2.8 Baterai

Artinya, baterai bertindak sebagai penyimpanan energi. Baterai kedua juga harus

bertindak sebagai sumber daya tegangan konstan untuk memasok energi listrik ke

beban. Ada dua kategori baterai, tergantung pada aplikasinya:

a. Baterai primer

Baterai jenis ini dapat digunakan sekali pemakaian saja. Salah satu elektroda

didalam baterai menjadi larut dalam elektrolit dan tidak dapat kembali dalam

bentuk awal.

b. Baterai sekunder

Baterai jenis ini adalah baterai yang dapat digunakan dan diisi ulang. Ketika baterai

diisi, elektrolit dan elektroda mengalami perubahan kimia, dan ketika baterai

digunakan, elektrolit dan elektroda dimuat ulang. Setelah daya melemah karena

arus mengalir ke arah yang berlawanan saat menggunakan baterai. Ketika dimuat,

energi 18 listrik diubah menjadi energi kimia. Oleh karena itu, fungsi baterai dalam
desain pembangkit tenaga surya ini adalah untuk menyimpan energi yang

dihasilkan oleh sel surya di siang hari, dan tujuannya adalah sebagai cadangan

untuk cuaca buruk di malam hari. Jadi itu berfungsi sesuai kebutuhan. Baterai yang

digunakan adalah baterai basah yang dapat diisi dengan energi listrik atau bahan

kimia.

2.9.3. Inverter

Perangkat listrik yang digunakan untuk mengubah arus searah (DC) menjadi

arus bolak-balik (AC). Perangkat inverter arus DC seperti baterai, panel surya / solar

cell akan menjadi AC. Penggunaan inverter dalam PLTS adalah untuk perangkat

yang menggunakan arus AC.

Ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan ketika memilih inverter.

1. Memuat kapasitas dalam watt. Pilih inverter dengan beban yang dekat dengan beban

yang digunakan untuk memaksimalkan efisiensi kerja.

2. Input DC 12V atau 24V

3. Output AC gelombang persegi atau gelombang sinus.

Inverter gelombang sinus sejati diperlukan, terutama untuk beban yang

menggunakan motor. Ini membuat motor berjalan lebih mudah, lebih halus, dan tidak

cepat panas. Oleh karena itu, dari segi harga, inverter gelombang sinus sejati adalah

yang paling mahal karena paling dekat dengan bentuk gelombang dari jaringan PLN.

19 Dalam pengembangan pasar ada juga inverter gelombang sinus yang dimodifikasi
yang menggabungkan gelombang persegi dan gelombang sinus. Bentuk gelombang

seperti yang terlihat melalui osiloskop sinusoidal dengan garis putus-putus antara

sumbu y = 0 dan grafik sinus. Perangkat yang menggunakan gulungan dapat bekerja

dengan gelombang sinus yang dimodifikasi, tetapi tidak optimal. Di sisi lain, dengan

inverter gelombang persegi, beban listrik menggunakan kumparan dan motor tidak

bekerja sama sekali.

Selain itu, ada istilah Grid Tie Inverter, yang merupakan inverter khusus yang

biasanya digunakan dalam sistem energi terbarukan. Mengubah daya DC ke AC dan

mendistribusikan ke jaringan listrik yang ada. Grid tie inverter, juga dikenal sebagai

inverter sinkron, jangan biarkan perangkat ini digunakan sendiri, terutama ketika grid

tidak tersedia. Dengan inverter tie grid, surplus kWh yang diperoleh dari sistem PLTS

dapat dikembalikan ke jaringan PLN dan dinikmati bersama, tentu saja digantikan oleh

kWh yang dipasok ke penyedia PLW PLTS dengan tarif yang telah disepakati

sebelumnya.

2.9.4. Solar Charger Controller (SCC)

Solar charger cotroller adalah salah satu komponen PLTS yang berfungsi

sebagai pengatur arus yang masuk kebaterai dan mengatur over charging (kelebihan

pengisian karena baterai sudah penuh) dan juga kelebihan voltase dari panel surya

kelebihan voltase dan pengisian akan mengurangi umur baterai. 20 Ada dua jenis

teknologi yangterpasang pada SCC yaitu :

1. PWM (pulse wide modulation) Seperti namanya SCC dengan teknologi ini

menggunakan lembar pulse dari on dan off elektrikal sehingga menciptakan


seakan-akan sine wave electrikall form. 2. MPPT (maximum point tracker) SCC

dengan teknologi ini dinilai lebih efisien dalam mengkonversi arus DC to DC.

Teknologi ini dapat mengambil maximum daya dari PV. MPPT charger controller

dapat menyimpan kelebihan daya yang tidak digunakan oleh beban kedalam

baterai, dan apabila diperlukan beban lebih besar dari daya yang dihasilkan PV,

maka daya dapat diambil dari baterai.

Ada dua jenis teknologi yang terpasang pada SCC yaitu :

1. PWM (pulse wide modulation) Seperti namanya SCC dengan teknologi ini

menggunakan lembar pulse dari on dan off elektrikal sehingga menciptakan seakan-

akan sine wave electrikall form.

2. MPPT (maximum point tracker) SCC dengan teknologi ini dinilai lebih efisien

dalam mengkonversi arus DC to DC. Teknologi ini dapat mengambil maximum

daya dari PV. MPPT charger controller dapat menyimpan kelebihan daya yang

tidak digunakan oleh beban kedalam baterai, dan apabila diperlukan beban lebih

besar dari daya yang dihasilkan PV, maka daya dapat diambil dari baterai

2.10. Perhitungan Data Kebutuhan Beban, Kapasitas Batrai, Kapasitas Modul


Surya.
2.10.1. Data Kebutuhan Beban

Sebelum kita melakukan analisa kesebuah sistem PLTS maka terlebih dahulu

kita mengetahui beban energy keseluruhan yang terdapat pada suatu gedung. Adapun
cara untuk mendapatkan data kebutuhan beban adalah perkalian antara daya beban

(watt) dan opras/hari (jam)

2.10.2. Perhitungan Jumlah Panel Surya

Untuk menghitung jumlah panel yang dibutuhkan oleh sistem, supaya dapat

memenuhi energi yang diperlukan dapat menggunakan rumus sebagai berikut

Dimana :

n = Jumlah Panel

P = Total daya harian

q = Kapasitas Panel Surya

= Jam Efektif

………………………………………………… (2.2) (sumber : Buku System-Sistem

Pembangkit Tenaga Surya, Adjat Sudrajat)

2.10.3. Perhitungan Kapasitas Modul Surya

Untuk menghitung kapasitas daya modul surya yang dibutuhkan, akan sangat

tergantung dari energy bebean yang diutuhkan dan radiasi harian yang tersedia

dilokasi. Menurut SNI 04-6394-2000, didefinisikan bahwa energy yang harus

dikeluarkan oleh modul surya.

2.10.4. Perhitungan Kapasitas Baterai

Untuk mendapatkan kapasitas batrai yang sesuai dapat digunakan rumus sebagai

berikut.

h = et/vs ............................................................................. (2.3)

(sumber : Jurnal Analisa Pembangkit Listrik Tenaga Surya Pulau Baling Lompo,

Abdul Hafid Dkk, Universitas Muhammadiah Makasar)

Dimana :
Ah = kuat arus per jam (Ah)

Er = energy system (Wh)

Vs = tegangan system baterai (v)

2.10.5 Perhitungan Kapasitas Solar Carger Controller (SCC)

Untuk memghitung kapasitas SCC dapat menggunakan persamaan berikut:

ISCC = ISC Panel x Npanel x 25% ................................................. (2.4)

(sumber : Buku System-Sistem Pembangkit Tenaga Surya, Adjat Sudrajat)

Dimana :

ISCC = arus SCC (ampere)

ISC panel = arus hubungan singkat panel surya (ampere)

Npanel = jumlah panel surya

25% = kompensasi

2.11. Perhitungan Daya Masukan, Daya Keluaran Dan Efiensi Pada Panel

Surya

Sebelum mengetahui berapa nilai daya sesaat yang dihasilkan harus diketahui

daya yang diterima (daya input), di mana daya tersebut adalah : Perkalian antara

intensitas radiasi matahari yang diterima dengan luas area modul PV dengan

persamaan :

Pin = Ir A......................................................................................... Pers (2.7)

(sumber : Ihsan., 2003, “ Peningkatan Suhu Modul dan Daya Keluaran Panel Surya

Dengan Menggunakan Reflektor”, UIN Aliuddin Makasar.

Keterangan :
Pin = Daya input akibat Radiasi matahari (W)

Ir = Intensitas radiasi matahari (W/m2 )

A = Luas area permukaan photovoltaic module (m2 )

Sedangkan untuk besarnya daya keluaran pada panel surya (Pout) yaitu perkalian

tegangan rangakaian terbuka (Voc), arus hubung singkat (Isc), dan Fill Factor (FF)

yang dihasilkan oleh sel photovoltaic yang dapat dihitung dengan rumus sebagai

berikut :

Pout = Voc Isc FF ………………………………….………….………. Pers. (2.8)

(sumber : Ihsan., 2003, “ Peningkatan Suhu Modul dan Daya Keluaran Panel Surya

Dengan Menggunakan Reflektor”, UIN Aliuddin Makasar.

Keterangan :

24 Pout = Daya yang dibangkitkan oleh panel surya (Watt)

Voc = Tegangan rangkaian terbuka pada panel surya (Volt)

Isc = Arus hubung singkat pada panel surya (Ampere) FF = Fill Factor dapat dihitung

dengan rumus.

Anda mungkin juga menyukai