LAPORAN PENDAHULUAN
STASE ASUHAN NEONATUS, BAYI, BALITA DAN PRA
SEKOLAH
TOPIK : DIAPER RASH PADA BAYI USIA 6 BULAN DI PKM
BALEENDAH
Dosen Pembimbing Pendidikan: Dr. Noviyanti, SST., [Link]., [Link]
Pembimbing Lapangan: Yatni Oktaviani [Link]., Bdn
Disusun Oleh:
Rizkia Nurunnisa
2550354039
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN PROFESI BIDAN
FAKULTAS ILMU TEKNOLOGI DAN KESEHATAN UNIVERSITAS
JENDERAL ACHMAD YANI
2026
KATA PENGANTAR
Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha
Penyayang. Penulis panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah
melimpahkan rahmat, hidayat dan inayah-Nya kepada di kami, sehingga penulis
dapat menyelesaikan Laporan Pendahuluan (LP) tentang Diaper Rash pada bayi usia
6 bulan.
Laporan Pendahuluan ini telah penulis susun dengan maksimal dan
mendapatkan bantuan dari berbagai pihak sehingga dapat memperlancar pembuatan
Laporan Pendahuluan (LP) ini. Untuk itu kami menyampaikan banyak terima kasih
kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam pembuatan LP ini. Terlepas dari
semua itu, penulis menyadari sepenuhnya bahwa masih ada kekurangan baik dari
segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena itu, dengan tangan
terbuka penulis menerima segala saran dan kritik dari pembaca agar penulis dapat
memperbaiki LP ini.
Akhir kata penulis berharap Laporan Pendahuluan tentang Diaper Rash ini
dapat memberikan manfaat maupun inspirasi terhadap pembaca.
Bandung, Februari 2026
Penulis
i
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR .............................................................................................. i
DAFTAR ISI ........................................................................................................... ii
BAB 1 PENDAHULUAN ............................................................................. 1
1.1 Latar Belakang ..................................................................................... 1
1.2 Tujuan ................................................................................................. 4
BAB II TINJAUAN TEORI ......................................................................... 6
2.1 Definisi Diaper Rash ( Ruam Popok ) ..................................................... 6
2.2. Tanda Gejala Diaper Rash ................................................................. 7
2.3. Etiologi Diaper Dermatitis ................................................................. 8
2.4. Patofisiologi Diaper Dermatitis .......................................................... 9
2.5. Gambaran Klinis dan Tanda Gejala Diaper Dermatitis ........................ 10
2.7 Penatalaksanaan Diaper Dermatitis ................................................... 12
2.8 Pencegahan Diaper Dermatitis ......................................................... 12
2.7 Mind Map .......................................................................................... 14
2.8 Patway .............................................................................................. 15
BAB III PENUTUP ................................................................................... 16
3.1 Kesimpulan....................................................................................................16
3.2 Saran ..............................................................................................................17
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................. 18
ii
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Bayi sangat sensitif terhadap apapun yang ada di lingkungan sekitarnya.
Karena pada kelahiran pertama, bayi baru beradaptasi terhadap semua kondisi
lingkungan sekitarnya, sehingga belum terbiasa dengan keadaan yang dapat
menyerang kondisi tubuhnya terutama masalah kulit, semua bayi memiliki kulit
yang sangat sensitif pada bulan pertama, kondisi kulit pada bayi yang relatif
lebih tipis menyebabkan bayi lebih rentan terhadap infeksi, iritasi, dan alergi.
Jika orangtua kurang menjaga personal hygiene dengan mengganti popok
sesering mungkin dan membersihkan daerah yang tertutup popok bisa
mengakibatkan gangguan kulit. Diaper rash merupakan salah satu masalah
kulit pada bayi. Angka kejadian ruam popok berbeda-beda di setiap negara,
bergantung pada kebersihan bayi, pengetahuan orang tua (pengasuh) tentang
cara penggunaan popok dan mungkin juga berhubungan dengan faktor cuaca.
Diaper dermatitis atau ruam popok merupakan salah satu masalah kulit
yang paling sering terjadi pada bayi, khususnya pada usia 0–12 bulan, karena
kondisi kulit bayi yang masih dalam tahap perkembangan dan memiliki fungsi
perlindungan yang belum optimal. Menurut Kliegman et al. (2023), kulit bayi
memiliki lapisan stratum korneum yang lebih tipis dan fungsi skin barrier yang
belum matang, sehingga lebih rentan terhadap iritasi akibat kelembaban,
gesekan, serta paparan zat iritan seperti urine dan feses. World Health
Organization (WHO, 2022) melaporkan bahwa sekitar 25% bayi di dunia
mengalami gangguan kulit berupa iritasi, termasuk diaper dermatitis. Di
Indonesia, prevalensi diaper dermatitis berkisar antara 7–35% pada bayi usia di
bawah tiga tahun, dengan angka kejadian tertinggi pada usia 9–12 bulan, yang
berkaitan dengan meningkatnya penggunaan popok serta frekuensi eliminasi
bayi yang lebih tinggi.
Diaper dermatitis merupakan bentuk dermatitis kontak iritan yang
terjadi pada area kulit yang tertutup popok, seperti bokong, perineum, dan
genitalia, yang ditandai dengan kemerahan, inflamasi, dan iritasi kulit. Menurut
1
2
American Academy of Pediatrics (AAP, 2023), kondisi ini disebabkan oleh
kombinasi faktor kelembaban yang berlebihan, gesekan antara kulit dan popok,
peningkatan pH kulit akibat amonia dari urine, serta paparan enzim dari feses
yang dapat merusak integritas kulit. Selain itu, penggunaan popok sekali pakai
dalam waktu lama juga dapat meningkatkan risiko iritasi kulit karena
menciptakan lingkungan yang hangat dan lembab, sehingga mempermudah
terjadinya kerusakan kulit dan kolonisasi mikroorganisme. Blume-Peytavi et
al. (2021) menyatakan bahwa kondisi kelembaban yang tinggi dan gangguan
skin barrier dapat meningkatkan risiko infeksi sekunder oleh jamur seperti
Candida albicans, yang dapat memperparah kondisi ruam popok.
Dalam praktik klinis, diaper dermatitis sering ditemukan pada bayi yang
menggunakan popok sekali pakai secara terus-menerus tanpa penggantian yang
adekuat, serta kurangnya perawatan kebersihan area genital. Merritt dan
Ortonne (2022) menjelaskan bahwa paparan iritan secara terus-menerus dapat
menyebabkan inflamasi kulit yang ditandai dengan kemerahan, iritasi, serta
ketidaknyamanan pada bayi, yang dapat mempengaruhi kenyamanan dan
kesejahteraan bayi. Oleh karena itu, diperlukan asuhan kebidanan yang tepat
dan komprehensif untuk mencegah dan mengatasi diaper dermatitis, melalui
edukasi kepada orang tua tentang perawatan kulit bayi, menjaga kebersihan
area popok, serta penggunaan pelindung kulit. Berdasarkan hal tersebut,
penulis tertarik untuk melakukan studi kasus dan memberikan asuhan
kebidanan pada bayi dengan diaper dermatitis, guna meningkatkan kesehatan
kulit bayi dan mencegah terjadinya komplikasi lebih lanjut.
Umumnya diaper rash disebabkan karena kurangnya pengetahuan
orang tua terhadap kebersihan bayi, yang tidak pernah mengganti diapers bayi
ketika urin atau feses bayi sudah penuh dan terlalu lama. Bakteri dan amonia
pada urin serta feses bayi dapat menghasilkan zat yang bisa membuat iritasi
kulit, ruam popok juga disebabkan karena kualitas popok yang tidak baik atau
terlalu kecil. Ruam popok yang tidak segera diatasi segera bisa menyebabkan
kondisi yang semakin parah yaitu timbulnya bintik-bintik merah, kemerahan,
lecet, iritasi kulit, rasa tidak nyaman yang menyebabkan bayi akan menjadi
rewel, sering menangis, sensitif, berakibat pada pola tidurnya yang kurang
3
efektif sehingga membuat hormon pertumbuhan dan perkembangannya
terganggu. Pada pola tidur yang efektif metabolisme otak berada pada tingkat
paling tinggi sehingga berpengaruh pada restorasi atau pemulihan emosi dan
kognitif anak.
Berdasarkan hasil pengkajian yang dilakukan di tempat praktik,
ditemukan bahwa kasus diaper dermatitis masih sering terjadi pada bayi,
terutama pada bayi yang menggunakan popok sekali pakai secara terus-
menerus. Dari hasil wawancara dengan orang tua, diketahui bahwa sebagian
orang tua belum sepenuhnya memahami pentingnya menjaga kebersihan area
popok, frekuensi penggantian popok yang tepat, serta penggunaan pelindung
kulit sebagai upaya pencegahan iritasi. Selain itu, beberapa orang tua
menganggap ruam popok sebagai kondisi yang ringan dan dapat sembuh
dengan sendirinya, sehingga penanganan yang diberikan kurang optimal.
Kondisi ini menyebabkan bayi mengalami kemerahan pada area bokong dan
genitalia, tampak rewel, dan menunjukkan tanda ketidaknyamanan, yang
apabila tidak ditangani dengan tepat dapat meningkatkan risiko infeksi
sekunder dan memperburuk kondisi kulit bayi.
Keterbaruan yang ditemukan di tempat praktik menunjukkan bahwa
penggunaan popok sekali pakai semakin meningkat karena dianggap lebih
praktis, namun belum diimbangi dengan pengetahuan yang memadai tentang
perawatan kulit bayi yang benar. Selain itu, masih terbatasnya edukasi secara
langsung kepada orang tua mengenai pencegahan dan penatalaksanaan diaper
dermatitis menjadi salah satu faktor yang berkontribusi terhadap terjadinya
kasus ini. Peran tenaga kesehatan, khususnya bidan, sangat penting dalam
memberikan asuhan kebidanan yang komprehensif, tidak hanya berfokus pada
penanganan masalah yang terjadi, tetapi juga pada upaya promotif dan
preventif melalui edukasi personal hygiene, teknik perawatan kulit bayi yang
benar, serta pemantauan kondisi kulit bayi secara berkala.
Berdasarkan uraian tersebut, penulis tertarik untuk mengambil kasus
diaper dermatitis sebagai studi kasus karena kondisi ini masih sering ditemukan
di tempat praktik dan memerlukan penanganan yang tepat melalui asuhan
kebidanan yang komprehensif. Studi kasus ini diharapkan dapat memberikan
4
gambaran nyata mengenai penerapan asuhan kebidanan pada bayi dengan
diaper dermatitis, serta meningkatkan pengetahuan dan kesadaran orang tua
dalam menjaga kesehatan kulit bayi, sehingga dapat mencegah terjadinya
komplikasi dan meningkatkan kenyamanan serta kesejahteraan bayi.
1.2 Tujuan
1. Untuk mengetahui definisi diaper rash/ruam popok.
2. Untuk mengetahu faktor predisposisi diaper rash/ruam popok.
3. Untuk mengetahui klasifikasi diaper rash/ruam popok.
4. Untuk mengetahui gejala diaper rash/ruam popok.
5. Untuk mengetahui penatalaksanaan diaper rash/ruam popok.
1.3 Manfaat Studi Kasus
1. Manfaat Teoritis
Studi kasus ini diharapkan dapat menambah dan memperkaya
pengetahuan dalam bidang ilmu kebidanan, khususnya mengenai diaper
dermatitis (ruam popok) pada bayi, meliputi faktor penyebab, tanda dan
gejala, pencegahan, serta penatalaksanaan yang tepat. Selain itu, studi kasus
ini juga dapat menjadi sumber referensi dan bahan pembelajaran dalam
meningkatkan pemahaman mahasiswa kebidanan mengenai pentingnya
menjaga kesehatan kulit bayi melalui asuhan kebidanan yang komprehensif.
2. Manfaat Praktis
a. Bagi Penulis
Studi kasus ini diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan,
keterampilan, dan pengalaman penulis dalam memberikan asuhan
kebidanan pada bayi dengan diaper dermatitis, serta mampu menerapkan
teori yang telah dipelajari ke dalam praktik nyata secara profesional.
b. Bagi Tenaga Kesehatan (Bidan)
Studi kasus ini diharapkan dapat menjadi bahan masukan bagi tenaga
kesehatan, khususnya bidan, dalam meningkatkan kualitas pelayanan
kebidanan pada bayi, terutama dalam upaya promotif, preventif, dan kuratif
terhadap kasus diaper dermatitis melalui edukasi dan perawatan yang tepat.
c. Bagi Orang Tua Bayi
5
Studi kasus ini diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan orang tua
tentang pentingnya menjaga kebersihan kulit bayi, melakukan penggantian
popok secara teratur, serta melakukan perawatan kulit bayi dengan benar,
sehingga dapat mencegah terjadinya diaper dermatitis dan meningkatkan
kenyamanan bayi.
d. Bagi Institusi Pendidikan
Studi kasus ini diharapkan dapat menjadi bahan referensi dan sumber
pembelajaran bagi mahasiswa kebidanan dalam memahami dan
mengaplikasikan asuhan kebidanan pada bayi dengan diaper dermatitis
secara komprehensif.
BAB II
TINJAUAN TEORI
2.1 Definisi Diaper Rash ( Ruam Popok )
Diaper dermatitis atau ruam popok merupakan suatu kondisi inflamasi pada
kulit yang terjadi di area yang tertutup popok, seperti bokong, perineum, genitalia,
lipatan paha, dan perut bagian bawah. Kondisi ini ditandai dengan munculnya
eritema (kemerahan), iritasi, papul, atau lesi pada kulit yang disertai dengan
ketidaknyamanan pada bayi, seperti rewel dan gelisah. Menurut American Academy
of Pediatrics (AAP, 2023), diaper dermatitis adalah bentuk dermatitis kontak iritan
yang paling umum terjadi pada bayi dan disebabkan oleh paparan berkepanjangan
terhadap kelembaban, urine, feses, serta gesekan antara kulit dan popok yang
mengganggu integritas skin barrier. Kondisi ini menyebabkan peradangan pada
kulit dan dapat berkembang menjadi lebih berat apabila tidak ditangani dengan
tepat.
Menurut Kliegman et al. (2023) dalam Nelson Textbook of Pediatrics, diaper
dermatitis merupakan peradangan kulit akut atau kronis pada area popok yang
disebabkan oleh kombinasi faktor fisik, kimia, dan mikrobiologis. Kulit bayi
memiliki struktur yang lebih tipis, fungsi perlindungan yang belum matang, dan
kemampuan regenerasi yang masih berkembang, sehingga lebih rentan terhadap
iritasi dan infeksi. Ruam popok biasanya ditandai dengan kemerahan pada area yang
tertutup popok, seperti bokong, sekitar anus, genitalia, lipatan paha, dan perut
bagian bawah. Bayi yang mengalami diaper dermatitis sering menunjukkan tanda
ketidaknyamanan, seperti menangis saat area popok dibersihkan, gelisah, dan
gangguan tidur.
Menurut Blume-Peytavi et al. (2021) dalam Journal of the European
Academy of Dermatology and Venereology, diaper dermatitis merupakan gangguan
inflamasi kulit yang terjadi akibat gangguan fungsi skin barrier yang disebabkan
oleh kelembaban berlebih, gesekan, serta paparan zat iritan dari urine dan feses.
Selain itu, kondisi lingkungan yang hangat dan lembab pada area popok dapat
meningkatkan pertumbuhan mikroorganisme seperti Candida albicans, yang dapat
memperparah kondisi ruam popok. Hal ini menunjukkan bahwa diaper dermatitis
6
7
tidak hanya merupakan iritasi sederhana, tetapi juga dapat berkembang menjadi
infeksi sekunder jika tidak ditangani dengan baik.
Diaper dermatitis paling sering terjadi pada bayi dan anak usia di bawah 3
tahun, dengan prevalensi tertinggi pada usia 9–12 bulan. Hal ini berkaitan dengan
meningkatnya aktivitas bayi, frekuensi buang air kecil dan besar, serta penggunaan
popok yang lebih sering. Menurut Stamatas dan Tierney (2022), pada usia tersebut
kulit bayi masih dalam tahap perkembangan, sehingga lebih rentan terhadap
kerusakan akibat paparan kelembaban dan iritan. Selain itu, faktor kebersihan,
frekuensi penggantian popok, jenis popok yang digunakan, serta pengetahuan orang
tua tentang perawatan kulit bayi juga mempengaruhi terjadinya diaper dermatitis.
Oleh karena itu, diaper dermatitis merupakan salah satu masalah kesehatan kulit
yang paling umum terjadi pada bayi dan memerlukan perhatian khusus dalam
pencegahan dan penatalaksanaannya.
2.2. Tanda Gejala Diaper Rash
Dengan ciri-ciri kulit di area popok terlihat merah, bengkak dan meradang
pada bagian bokong, paha, dan alat kelamin, dan pada kasus tertentu timbul jerawat.
Ruam popok akan mebuat iritasi bayi dan jika tidak ditangani akan berkembang
menjadi sesuatu yang lebih serius, termasuk infeksi-infeksi tertentu. Beberapa
gejala ruam popok lainnya adalah bayi merasa tidak nyaman, menangis lebih sering
dan keras, serta memperlihatkan ketidaksenangan secara umum. Tanda dan gejala
dari diaper rash yaitu :
a. Gejala yang dapat dilihat pada diaper rash oleh kontak dengan iritan yaitu
kemerahan yang meluas dan berkilat, seperti luka bakar, timbul bintikbintik
merah, lecet atau luka seperti bersisik, basah dan bengkak pada daerah yang
paling lama kontak dengan diapers, seperti pada bagian dalam dan lipatan
paha.
b. Gejala yang terlihat akibat gesekan yang berulang pada tepi diapers, yaitu
bercak kemerahan membentuk garis tepi batas diapers pada paha dan perut.
c. Gejala diaper rash disebabkan oleh jamur ditandai dengan bercak atau bintik
kemerahan berwarna merah terang, basah dengan lecet-lecet pada selaput
lendir dan kulit sekitar anus, dan terdapat lesi di sekitarnya.
8
[Link] Diaper Dermatitis
Diaper dermatitis merupakan kondisi multifaktorial yang disebabkan oleh
kombinasi faktor fisik, kimia, dan mikrobiologis. Menurut American Academy
of Pediatrics (AAP, 2023), penyebab utama diaper dermatitis adalah paparan
kulit secara terus-menerus terhadap kelembaban, urine, dan feses, yang dapat
merusak fungsi perlindungan alami kulit.
Menurut Kliegman et al. (2023), faktor penyebab diaper dermatitis meliputi:
1. Kelembaban berlebih
Area yang tertutup popok memiliki kelembaban tinggi akibat urine
dan keringat, yang menyebabkan kulit menjadi lebih lunak dan rentan
terhadap iritasi.
2. Kontak dengan urine dan feses
Urine mengandung urea yang dipecah menjadi amonia oleh bakteri,
sehingga meningkatkan pH kulit. Feses mengandung enzim protease dan
lipase yang dapat merusak lapisan pelindung kulit.
3. Gesekan mekanis
Gesekan antara popok dan kulit bayi dapat menyebabkan kerusakan
lapisan epidermis, sehingga mempermudah terjadinya iritasi.
4. Infeksi mikroorganisme
Infeksi jamur Candida albicans merupakan penyebab tersering infeksi
sekunder pada diaper dermatitis. Selain itu, bakteri seperti Staphylococcus
aureus juga dapat menyebabkan infeksi.
5. Penggunaan popok sekali pakai
9
Popok yang mengandung bahan kimia tertentu seperti pewangi dan
bahan penyerap dapat memicu iritasi pada kulit sensitif bayi.
6. Kebersihan yang kurang optimal
Frekuensi penggantian popok yang jarang dan kebersihan area popok
yang kurang baik meningkatkan risiko diaper dermatitis.
[Link] Diaper Dermatitis
Menurut Blume-Peytavi et al. (2021), patofisiologi diaper dermatitis
dimulai dari paparan kulit terhadap kelembaban yang berkepanjangan, yang
menyebabkan overhidrasi stratum korneum. Kondisi ini menyebabkan
kerusakan skin barrier dan meningkatkan permeabilitas kulit terhadap zat
iritan. Menurut Stamatas dan Tierney (2022), proses patofisiologi diaper
dermatitis meliputi:
1. Peningkatan kelembaban pada area popok menyebabkan kerusakan lapisan
stratum korneum.
2. Urine dipecah menjadi amonia oleh bakteri, sehingga meningkatkan pH
kulit.
3. Peningkatan pH kulit mengaktifkan enzim protease dan lipase dari feses.
4. Enzim tersebut merusak struktur kulit dan menyebabkan inflamasi.
5. Kerusakan skin barrier mempermudah masuknya mikroorganisme seperti
Candida albicans.
6. Terjadi inflamasi yang ditandai dengan kemerahan, iritasi, dan kerusakan
kulit.
10
Jika kondisi ini tidak ditangani, dapat terjadi infeksi sekunder yang
memperparah kondisi kulit bayi.
[Link] Klinis dan Tanda Gejala Diaper Dermatitis
Menurut American Academy of Pediatrics (AAP, 2023) dan Kliegman et
al. (2023), gambaran klinis diaper dermatitis meliputi:
1. Gejala subjektif
a. Bayi tampak rewel dan gelisah
b. Menangis saat area popok dibersihkan
c. Bayi tampak tidak nyaman
d. Gangguan tidur
e. Nafsu minum dapat menurun pada kasus berat
2. Gejala objektif
Gambaran klinis pada kulit meliputi:
a. Eritema (kemerahan) pada area popok
b. Ruam pada bokong, perineum, genitalia, lipatan paha, dan perut bawah
c. Kulit tampak kering atau lembab
d. Papul (bintik merah kecil)
e. Deskuamasi (pengelupasan kulit ringan)
f. Erosi ringan pada kasus sedang
g. Lesi satelit pada infeksi Candida
h. Pada kasus berat dapat terjadi:
1) Ulserasi ringan
2) Infeksi sekunder
11
3) Perdarahan ringan
Menurut Blume-Peytavi et al. (2021), ruam biasanya terbatas pada area
yang tertutup popok dan jarang mengenai area yang tidak tertutup popok.
2.6 Klasifikasi Diaper Dermatitis
Menurut Merritt dan Ortonne (2022), diaper dermatitis dapat diklasifikasikan
berdasarkan tingkat keparahan:
1. Derajat ringan
• Kemerahan ringan
• Tidak ada luka
• Bayi masih nyaman
2. Derajat sedang
• Kemerahan lebih jelas
• Disertai papul
• Kulit tampak iritasi
• Bayi mulai rewel
3. Derajat berat
• Kemerahan berat
• Erosi kulit
• Ulserasi ringan
• Infeksi sekunder oleh jamur atau bakteri
• Bayi sangat rewel
12
2.7 Penatalaksanaan Diaper Dermatitis
Menurut American Academy of Pediatrics (AAP, 2023) dan WHO (2022),
penatalaksanaan diaper dermatitis meliputi:
1. Perawatan umum
a. Mengganti popok sesering mungkin
b. Menjaga area popok tetap bersih dan kering
c. Membersihkan kulit dengan air hangat
d. Menghindari penggunaan sabun yang keras
e. Mengeringkan kulit sebelum menggunakan popok baru
2. Terapi topikal
Menurut Kliegman et al. (2023):
a. Krim zinc oxide sebagai pelindung kulit
b. Petroleum jelly sebagai barrier cream
c. Antijamur jika terdapat infeksi Candida
d. Kortikosteroid ringan jika terjadi inflamasi berat (sesuai indikasi medis)
3. Edukasi orang tua
a. Menjaga kebersihan kulit bayi
b. Mengganti popok secara teratur
c. Menghindari penggunaan popok terlalu ketat
d. Memberikan waktu tanpa popok (air exposure)
2.8 Pencegahan Diaper Dermatitis
Menurut WHO (2022) dan AAP (2023), pencegahan diaper dermatitis
meliputi:
2.1 Mengganti popok setiap 2–3 jam atau setelah bayi BAK/BAB
2.2 Membersihkan area popok dengan air bersih
2.3 Mengeringkan kulit sebelum menggunakan popok
2.4 Menggunakan krim pelindung kulit
13
2.5 Menghindari penggunaan produk yang mengandung iritan
2.6 Menjaga kebersihan kulit bayi
2.7 Memberikan edukasi kepada orang tua tentang perawatan kulit bayi
Pencegahan yang tepat dapat menjaga integritas kulit bayi dan mencegah
terjadinya iritasi.
14
2.7 Mind Map
-;
15
2.8 Pathway Patofisiologi Diaper Dermatitis
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Diaper dermatitis atau ruam popok merupakan kondisi inflamasi kulit yang
terjadi pada area yang tertutup popok, seperti bokong, perineum, genitalia, lipatan
paha, dan perut bagian bawah. Kondisi ini paling sering terjadi pada bayi usia 0–12
bulan, dengan prevalensi tertinggi pada usia 9–12 bulan, karena pada usia tersebut
kulit bayi masih dalam tahap perkembangan dan memiliki fungsi perlindungan
(skin barrier) yang belum optimal.
Diaper dermatitis bersifat multifaktorial, yang disebabkan oleh kombinasi
kelembaban berlebih, paparan urine dan feses, peningkatan pH kulit, gesekan
mekanis, serta kemungkinan infeksi sekunder oleh mikroorganisme seperti
Candida albicans. Manifestasi klinis yang muncul berupa kemerahan (eritema),
papul, iritasi, hingga erosi pada kasus berat, yang dapat menyebabkan bayi rewel,
gelisah, dan mengalami gangguan tidur. Apabila tidak ditangani dengan tepat,
kondisi ini dapat berkembang menjadi infeksi sekunder dan memperburuk
integritas kulit bayi.
Berdasarkan hasil pengkajian di lahan praktik, kasus diaper dermatitis masih
sering ditemukan, terutama pada bayi yang menggunakan popok sekali pakai secara
terus-menerus tanpa penggantian yang adekuat serta kurangnya edukasi orang tua
mengenai perawatan kulit bayi. Oleh karena itu, diperlukan asuhan kebidanan yang
komprehensif yang mencakup upaya promotif, preventif, dan kuratif melalui
edukasi personal hygiene, penggantian popok secara teratur, penggunaan barrier
16
17
cream, serta pemantauan kondisi kulit bayi secara berkala guna mencegah
komplikasi dan meningkatkan kenyamanan bayi.
3.2 Saran
1. Bagi Tenaga Kesehatan (Bidan)
Diharapkan bidan dapat meningkatkan peran dalam memberikan edukasi
kepada orang tua mengenai pencegahan dan penatalaksanaan diaper
dermatitis, serta melakukan deteksi dini terhadap tanda dan gejala ruam popok
untuk mencegah komplikasi lebih lanjut.
2. Bagi Orang Tua Bayi
Orang tua diharapkan lebih memperhatikan kebersihan dan perawatan kulit
bayi dengan mengganti popok secara teratur, membersihkan area popok
dengan benar, serta menggunakan krim pelindung kulit guna menjaga
integritas kulit bayi.
3. Bagi Lahan Praktik
Diharapkan lahan praktik dapat meningkatkan kegiatan penyuluhan atau
edukasi kesehatan mengenai perawatan kulit bayi dan pencegahan diaper
dermatitis sebagai bagian dari pelayanan kesehatan ibu dan anak.
4. Bagi Institusi Pendidikan
Diharapkan laporan pendahuluan ini dapat menjadi bahan referensi dan
sumber pembelajaran dalam pengembangan ilmu kebidanan, khususnya
dalam asuhan neonatus, bayi, dan balita terkait gangguan kulit seperti diaper
dermatitis.
DAFTAR PUSTAKA
Aisyah, S. (2015). Hubungan pemakaian diapers dengan kejadian ruam popok pada
bayi usia 6-12 bulan.
American Academy of Pediatrics. (2023). Diaper Dermatitis Guidelines.
Blume-Peytavi, U., Hauser, M., Stamatas, G. N., Pathirana, D., & Bartels, N. G.
(2021). Diaper dermatitis in infants: Prevention and management. Journal
of the European Academy of Dermatology and Venereology, 35(2), 245–253.
Ertiana, D. (2021). Hubungan Lama Pemakaian Diaper dengan Kejadian Diaper
Rash pada Bayi Usia 9-12 bulan. Jurnal Kesehatan Poltekkes Kemenkes
Pangkalpinang. Vol 9(1).
Kliegman, R. M., St. Geme, J. W., Blum, N. J., Shah, S. S., Tasker, R. C., & Wilson,
K. M. (2023). Nelson Textbook of Pediatrics (22nd ed.). Elsevier.
Merritt, T. A., & Ortonne, J. P. (2022). Diaper dermatitis: Pathophysiology and
management. Clinical Pediatrics, 61(4), 289–295.
Naimah, A. (2019). Hubungan pemakaian popok sekali pakai pada balita (usia 0–3
tahun) dengan terjadinya dermatitis alergi popok di Purwoharjo
Banyuwangi. The Indonesian Journal of Health Science, 11(2).
Stamatas, G. N., & Tierney, N. K. (2022). Infant skin barrier development and
function. Pediatric Dermatology, 39(3), 321–329.
World Health Organization. (2022). Infant skin care and common dermatological
conditions. WHO.
18