Jurnal Pembelajaran dan Matematika Sigma (JPMS) ISSN : 2460-593X
Vol. 7, No. 1 (2021) E-ISSN : 2685- 5585
Hal : 48 – 54
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN STUDENT TEAMS ACHIEVEMENT
DIVISION (STAD) TERHADAP AKTIVITAS BELAJAR MATEMATIKA
THE EFFECT OF STUDENT TEAMS ACHIEVEMENT DIVISION (STAD) LEARNING
MODELS ON MATHEMATIC LEARNING ACTIVITIES
HAMNI FADLILAH NASUTION1, DESY ROMANISYAHNIAR2
12
IAIN Padangsidempuan, Jl.T. Rizal Nurdin [Link] 4, RW.5, Sihitang,
Padangsidimpuan Tenggara, Kota Padang Sidempuan
email: 1hamnifadlilahnasution@[Link] , 2romanisyah_niar@[Link]
Abstrak
Tujuan dari penelitian ini adalah 1) untuk mengetahui ada pengaruh model pembelajaran kooperatif tipe
STAD terhadap aktivitas belajar matematika siswa dalam pembelajaran persamaan garis lurus dikelas
VIII SMP N 2 Sumberjo. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh kelas VII yang berjumlah 82 siswa.
Sampel dalam penelitian ini sebanyak 31 orang sebagai kelas eksperimen. Instrumen yang digunakan
untuk mengumpulkan data tentang aktivitas belajar siswa adalah dengan menggunakan instrumen
berupa lembar observasi yang berbentuk daftar cek memuat indikator-indikator aktivitas belajar yang
dilakukan siswa. teknik analisis data yang digunakan adalah, uji normalitas, uji homogenitas, uji
hipotesis atau uji t. Berdasarkan hasil analisis data yang diperoleh dapat disimpulkan bahwa terdapat
metode pembelajaran kooperatif tipe STAD terhadap komunikasi matematika siswa pada materi
Persamaan Kuadrat, dilihat dari hasil perhitungan uji t yang ditunjukkan pada table diatas diperoleh nilai
signifikan 0,000 yang berarti lebih kecil dari taraf signifikan yaitu 0,05 yang berarti terdapat perbedaan
aktivitas belajar siswa matematika yang menggunakan model STAD yang signifikan antara prettes,
maupun post-tes. Hasil Observasi aktivitas belajar siswa ditunjukkan dengan kategori aktif. sedangkan
Respon siswa terhadap pembelajaran matematika menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe
STAD menunjukkan keseluruhan menyatakan Ya. Hal ini berarti siswa memberikan respon Ya terhadap
pembelajaran matematika dengan metode pembelajaran kooperatif tipe STAD karena siswa lebih kreatif
dan dapat beraktivitas dengan kelompok lainnya.
Kata kunci : Pembelajaran Student Teams Achievement Division (STAD), Aktivitas Belajar
Abstract
The objectives of this study were 1) to determine the effect of the STAD cooperative learning model on
students' mathematics learning activities in learning straight line equations in class VIII SMP N 2
Sumberjo. The population in this study were all class VII students totaling 82 students. The sample in
this study were 31 people as the experimental class. The instrument used to collect data about student
learning activities was to use an instrument in the form of an observation sheet in the form of a checklist
containing indicators of student learning activities. The data analysis technique used is normality test,
homogeneity test, hypothesis test or t test. Based on the results of the data analysis obtained, it can be
concluded that there is a STAD type of cooperative learning method for students' mathematics
communication in the Quadratic Equation material, seen from the results of the t test calculation shown
in the table above, a significant value of 0.000 is obtained which means it is smaller than the significant
level of 0.05. which means that there are significant differences in student learning activities using the
STAD model between the prettes and the post-test. The results of the observation of student learning
activities are indicated by the active category. while the student response to mathematics learning using
the cooperative learning model type STAD shows that the whole states Yes. This means that students
respond Yes to learning mathematics with the STAD cooperative learning method because students are
more creative and can do activities with other groups.
Keywords: Learning Student Teams Achievement Division (STAD), Learning Activities
Hamni Fadhlilah Nasution1, Desy Romanisyahniar2
Pengaruh Model Pembelajaran Student Teams Achievement Division (STAD) Terhadap Aktivitas Belajar Matematika 48
Jurnal Pembelajaran dan Matematika Sigma (JPMS) ISSN : 2460-593X
Vol. 7, No. 1 (2021) E-ISSN : 2685- 5585
Hal : 48 – 54
Pendahuluan
Pembelajaran matematika adalah salah satu bidang ilmu yang memegang peranan sangat
penting dalam kehidupan sehari-hari. Berbagai permasalahan dalam kehidupan dapat dipecahkan
dengan menggunakan konsep-konsep matematika. Selain itu, banyak bidang ilmu yang sangat
memerlukan matematika untuk perkembangannya. Matematika itu bukan pengetahuan yang menyendiri
dan dapat sempurna karena dirinya sendiri, tetapi keberadaannya itu untuk membantu manusia dalam
memahami dan menguasai permasalahan sosial, ekonomi, dan alam[1].
Peranan matematika sangat penting dalam kehidupan dan pengembangan pengetahuan.
Mengingat hal tersebut, sudah seharusnya konsep-konsep yang ada dalam matematika dapat dipelajari
dengan baik oleh siswa. Namun, pada kenyataannya tidak sesuai dengan harapan tersebut. Pada
umumnya, pelajaran matematika merupakan mata pelajaran yang tidak disenangi. Hal tersebut dapat
menyebabkan rendahnya minat belajar matematika siswa.
Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan sumber daya manusia adalah
peningkatan mutu pendidikan, baik prestasi belajar siswa maupun kemampuan guru dalam
melaksanakan proses pembelajaran. Peningkatan mutu pendidikan diarahkan untuk meningkatkan
kualitas manusia seutuhnya melalui olah hati, olah rasa, dan ulah raga agar memiliki daya saing dalam
menghadapi tantangan global[2]. Banyak faktor yang menyebabkan minat belajar matematika rendah,
dintaranya adalah rendahnya motivasi berprestasi siswa, tingkatan kognitif siswa, serta apresiasi siswa
terhadap matematika. Hal serupa juga terjadi di SMP Negeri 2 Sumberjo.
Berdasarkan kenyataan di atas, masalah yang sangat menonjol yang dihadapi oleh pendidikan
matematika adalah pada umumnya hasil belajar para siswa yang belum memuaskan. Hal itu disebabkan
karena selama ini proses pembelajaran matematika yang ditemui masih secara konvensional seperti
ekspositori, drill, atau bahkan ceramah. Proses ini hanya menekankan pada penyampaian tekstual
semata dari pada mengembangkan kemampuan belajar dan membangun individu, sehingga sering kali
dijumpai kecenderungan siswa yang kurang berminat untuk belajar. Akibatnya siswa lebih banyak pasif
dan kurang terlibat dalam proses belajar mengajar. Kondisi seperti ini tidak akan menumbuh
kembangkan aspek kemampuan dan aktivitas siswa seperti yang diharapkan. Menurut Eggen dan Kau
chak bahwa siswa belajar secara efektif bila siswa secara aktif terlibat dalam pengorganisasian dan
penemuan pertalian- pertalian (relationships) dalam informasi yang dihadapi. Aktivitas siswa ini
menghasilkan kemampuan belajar dan peningkatan kemampuan pengetahuan serta pengembangan
ketrampilan berpikir (thinking skills)[3].
Matematika dapat mengantar manusia berpikir dengan jelas dan logis. Matematika juga sebagai
sarana untuk memecahkan masalah kehidupan seharihari, sarana pengembangan kreativitas dan
sarana untuk meningkatkan kesadaran terhadap perkembangan kebudayaan. Selain itu juga,
matematika mempunyai peranan sangat penting dalam menunjang keberhasilan pembangunan
dibidang pendidikan karena bagi peserta didik penguasaan matematika akan menjadi sarana yang
ampuh untuk mempelajari mata pelajaran yang lain[4].
Masalah lain yang cukup sulit dirasakan guru matematika adalah bagaimana bahan pelajaran
dapat dikuasai oleh anak secara tuntas. Siswa memiliki perbedaan satu sama lainnya. Siswa berbeda
dalam hal minat, kemampuan, kesenangan, pengalaman, dan cara belajar. Oleh karena itu kegiatan
pembelajaran, organisasi kelas, materi pembelajaran, waktu belajar, alat belajar, dan cara penilaian
perlu beragam sesuai karakteristik siswa. Menciptakan kegiatan belajar yang inovatif dan akan
menempatkan guru sebagai fasilitator, mediator, penilai dan pengarah pembelajaran. Dalam
melaksanakan fungsi tersebut guru harus memiliki kreativitas dan inovasi dalam merencanakan serta
melakukan pembelajaran, sehingga kedua dimensi sains bisa muncul dalam kegiatan belajar.
Pada kenyataanya aktivitas siswa cendrung menurun. Dengan jumlah jam yang terbatas sulit
sekali bagi guru untuk mengaktifkan siswa dalam kegiatan tertentu. Bila hal itu terjadi, siswa yang
ditunjuk oleh guru saja yang aktif dan yang tidak ditunjuk akan pasif. Pembelajaran yang seperti ini
menyebabkan aktivitas siswa tidak berkembang maksimal. Juga karena masing-masing siswa memiliki
kemampuan yang berbeda dalam hal memahami materi pelajaran.
Aktivitas belajar dalam pembelajaran akan menghasilkan pengalaman untuk siswa. Pembelajaran
berdasarkan pengalaman memiliki 3 asumsi : 1) Anda akan belajar paling baik jika anda secara pribadi
Hamni Fadhlilah Nasution1, Desy Romanisyahniar2
Pengaruh Model Pembelajaran Student Teams Achievement Division (STAD) Terhadap Aktivitas Belajar Matematika 49
Jurnal Pembelajaran dan Matematika Sigma (JPMS) ISSN : 2460-593X
Vol. 7, No. 1 (2021) E-ISSN : 2685- 5585
Hal : 48 – 54
terlibat dalam pengalaman belajar itu; 2) Pengetahuan harus ditemukan oleh anda sendiri; 3) komitmen
terhadap pembelajaran akan tinggi apabila anda bebas menetapkan tujuan pembelajaran[5].
Pada prinsipnya belajar adalah berbuat, berbuat untuk mengubah tingkah laku, jadi melakukan
kegiatan. Tidak ada belajar kalau tidak ada aktivitas. Maka aktivitas merupakan prinsif atau asas yang
sangat penting di dalam interaksi belajarmengajar. Oleh karena itu, dibutuhkan model belajar yang tepat
untuk menciptakan siswa aktif, karena selama ini sering sekali pada proses belajar model yang
diterapkan adalah model konvensional. Aktivitas belajar dapat diciptakan dengan melaksanakan
pembelajaran yang menyenangkan dengan menyajikan variasi model pembelajaran yang lebih memicu
kegiatan siswa. Dengan demikian siswa akan lebih aktif dalam kegiatan pembelajaran[6].
Berdasarkan hasil observasi awal peneliti di SMP Negeri 2 Na. IX-X Sumberjo dengan melakukan
wawancara terhadap guru mata pelajaran matematika yaitu Ibu Zubaidah, [Link] tentang matematika
dengan materi persamaan garis lurus, dapat dikatakan bahwa aktivitas belajar matematika dipengaruhi
oleh berbagai faktor seperti: interaksi yang terjadi di dalam kelas, model pembelajaran dan media
pembelajaran yang digunakan guru, sarana dan prasarana yang tersedia, kemampuan siswa dan
sebagainya. Dalam suatu proses belajar mengajar, model pembelajaran yang diterapkan guru sangat
berpengaruh terhadap aktivitas dan hasil belajar siswa. Jika model pembelajaran yang diterapkan guru
tepat sesuai situasi dan kondisi maka hasil belajar akan tercapai secara maksimal. Aktivitas siswa
dalam pelajaran Matematika memberikan gambaran tentang proses belajar belajarnya siswa tentang
Matematika. Semakin banyak siswa melakukan aktivitas dalam proses belajar berarti kualitas
penguasaan materi tentang suatu bahan ajar dapat terpenuhi sehingga otomatis hasil belajar siswa
tercapai seoptimal mungkin.
Berdasarkan uraian tersebut, proses pembelajaran seyogyanya dipersiapkan dengan matang
sehingga akan lebih efektif dan efisien yang tentunya akan berpengaruh pada aktivitas siswa.
Pembelajaran mengandung arti adanya kegiatan pendidikan dan pembelajaran[7]. Pendidik juga
memiliki peranan penting untuk memfasilitasi, membimbing dan membangkitkan aktivitas pada siswa
sehingga menumbuhkan kecintaan untuk terus belajar khususnya mempelajari matematika. Model
pembelajaran Kooperatif Tipe STAD mampu memenuhi apa yang dibutuhkan siswa selama pendidik
selalu berupaya untuk merancang pembelajaran yang bermakna agar dapat meningkatkan aktivitas
siswa dan dapat meningkatkan hasil belajar matematika siswa.
Model pembelajaran kooperatif tipe STAD (Student Teams Achievement Division) merupakan
model pembelajaran yang melibatkan siswa untuk saling membantu dan mendukung dalam
menyelesaikan tugas sehingga mempunyai banyak kesempatan untuk mengolah informasi dan
meningkatkan keterampilan berkomunikasi. Model pembelajaran STAD (Student Teams-Achievement
Divisions) merupakan salah satu model pembelajaran kooperatif untuk membangun pembelajaran yang
aktif[8].
Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan jenis penelitian Kuantitatif dengan metode yang digunakan yaitu
metode kuasi eksperimen dan desain penelitian yang digunakan yaitu Control Group Pre-test and Post-
test Design. Rancangan ini melibatkan kelompok eksperimen dan kelompok [Link] diberikan
perlakuan pada kedua kelas, maka terlebih dahulu diberikan pre-test. Selanjutnya kelompok eksperimen
diberikan perlakuan dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tife STAD sedangkan
kelompok kontrol diberikan pembelajaran menggunakan Pendekatan Konvensional, sampel dalam
penelitian ini kelas VII SMP Negeri 2 Sumberjo dengan jumlah siswa 31 siswa. Instrumen yang
digunakan untuk mengumpulkan data tentang aktivitas belajar siswa adalah dengan menggunakan
instrumen berupa lembar observasi yang berbentuk daftar cek memuat indikator-indikator aktivitas
belajar yang dilakukan siswa.
Hasil Penelitian dan Pembahasan
Data dalam penelitian ini memuat data kuantitaf yang diperoleh dari tes kemampuan yang
observasi aktivitas belajar matematika siswa dan kulitatif diperoleh dari angket. Instrumen penelitian
yang digunakan adalah aktivitas belajar matematika siswa yang terdiri dari 4 soal berbentuk uraian. Tes
ini akan diuji cobakan oleh siswa sebelum pembelajaran tentang persamaan garis lurus.
Hamni Fadhlilah Nasution1, Desy Romanisyahniar2
Pengaruh Model Pembelajaran Student Teams Achievement Division (STAD) Terhadap Aktivitas Belajar Matematika 50
Jurnal Pembelajaran dan Matematika Sigma (JPMS) ISSN : 2460-593X
Vol. 7, No. 1 (2021) E-ISSN : 2685- 5585
Hal : 48 – 54
Hasil Pret-tes siswa seperti tabel berikut ini:
Tabel.1. Deskripsi Statistik Skor Pret-tes Kelas Eksperiment
Frekuensi
No Interval Nilai
Eksperimen
1 40 – 44 4
2 45 – 49 5
3 50 – 54 3
4 55 – 59 1
5 60 – 64 6
6 65 – 70 12
Nilai Tertinggi 70
Nilai Terendah 40
Mean ( rataan ) 57,19
Standar Deviasi 10,616
Berdasarkan tabel1 diperoleh bahwa standart deviasi kelompok eksperimen adalah 10,616, rata-ratanya
57,19 dengan nilai terendah 40 dan nilai tertinggi 70.
Analisis Hasil Terhadap Post-tes
Instrumen penelitian yang digunakan adalah tes aktivitas belajar matematika siswa yang terdiri dari
4 soal berbentuk uraian. Tes ini akan diuji cobakan oleh siswa sebelum pembelajaran tentang pokok
bahasan simpangan rata-rata. Hasil post-test siswa seperti tabel berikut ini :
Tabel 2. Deskripsi Statistik Skor Post-tes Kelas Eksperimen
No Interval Nilai Frekuensi
Eksperimen
1 40 – 44 5
2 45 – 49 8
3 50 – 54 1
4 55 – 59 3
5 60 – 64 4
6 65 – 70 10
Nilai Tertinggi 57
Nilai Terendah 15
Mean ( rataan ) 37,32
Standar Deviasi 14.148
Berdasarkan hasil analisis data aktivitas belajar siswa pada pertemuan I dan pertemuan II maka dapat
disajikan hasil analisis seperti diuraikan dalam Tabel di bawah ini.
Tabel 3. Hasil Lembar Observasi
No Pertemuan Rata-rata Skor Aktivitas Kategori
ke- Belajar Siswa (𝐴̅).
1 1 14,57 Aktif
Dalam menganalisis respon siswa digunakan skala Gruttman. Jawaban setiap item instrumen yang
menggunakan skala Grutman mempunyai gradasi Ya dan Tidak.
Tabel 4. Skala Gruttman
Item Jawaban Skor
Ya 1
Tidak 0
Hamni Fadhlilah Nasution, Desy Romanisyahniar
Pengaruh Model Pembelajaran Student Teams Achievement Division (STAD) Terhadap Aktivitas Belajar Matematika 51
Jurnal Pembelajaran dan Matematika Sigma (JPMS) ISSN : 2460-593X
Vol. 7, No. 1 (2021) E-ISSN : 2685- 5585
Hal : 48 – 54
Angket berisi pernyataan-pernyataan yang berkaitan dengan respon siswa terhadap pembelajaran
matematika menggunakan model STAD. Hasil rekapitulasi Aktivitas Belajar Matematika siswa dapat
dilihat pada tabel berikut:
Tabel 5. Hasil Angket Aktivitas Belajar Matematika Siswa
No Pernyataan Skor Ket
Ya Tidak
1 Apakah kamu mendengarkan bila guru 28 3 31 Ya
sedang menerangkan materi tersebut
2 Apakah kamu bersemangat untuk 30 1 31 Ya
mengikuti pelajaran matematika
3 Apakah kamu akan mengemukakan 25 6 31 Ya
pemikiran bila tidak diminta oleh guru
4 Apakah kamu merasa bosan ketika guru 1 30 31 Tidak
menerangkan pelajaran melalui presentasi
kelompok
5 Apakah kamu malas bila menerangkan materi 29 2 31 Tidak
dengan menggunakan gambar
6 Apakah kamu mau bila ditunjuk 25 6 31 Ya
membaca keputusan dalam kelompok
7 Apakah kamu membaca materi pelajaran 17 14 31 Ya
terlebih dahulu sebelum pelajaran dimulai
8 Apakah kamu akan mencatat bila 21 10 31 Ya
diminta guru
9 Apakah kamu sangat antusias saat 18 13 31 Ya
mendengarkan perdebatan tentang masalah
pelajaran
10 Apakah kamu tetap diam walaupun kamu 15 16 31 Tidak
kurang mengerti materi yang diterangkan
guru
Setelah data hasil penelitian di dapat, maka data akan dianalisis. Sebelum melakukan analisis,
terlebih dahulu dilakukan pengujian prasyarat analisis data, yaitu uji normalitas dan uji homogenitas guna
mengetahui apakah data yang diperoleh terdistribusi normal dan mempunyai ragam yang homogen atau
tidak. Adapun hasil yang di dapat setelah dilakukan pengujian prasyaratan analisis data adalah sebagai
berikut:
Tabel 6. Hasil Uji Normalitas Prettest dan Posttest pada Kelas Eksperimen
Eksperimen
Uji Normalitas
Prettest Posttest
Sig. ( 2 - tailed) 0,200 0,064
Kriteri Sig. > 0,05 Sig. > 0,05
Kesimpulan H0 diterima H0 diterima
Berdasarkan tabel 6 terlihat bahwa keempat data tersebut berdistribusi normal.
Tabel 7. Rekapitulasi Hasil Uji Homogenitas Pada Kelas Eksperimen
Statistik Prettest Posttest
Sig. 0,551 0,438
UjiLevene’s Sig. > 0,05 Sig. > 0,05
Kesimpulan Homogen Homogen
Berdasarkan tabel 7, terlihat bahwa kedua kelas tersebut memiliki varians yang homogen.
1Hamni Fadhlilah Nasution, 2Desy Romanisyahniar
Pengaruh Model Pembelajaran Student Teams Achievement Division (STAD) Terhadap Aktivitas Belajar Matematika 52
Jurnal Pembelajaran dan Matematika Sigma (JPMS) ISSN : 2460-593X
Vol. 7, No. 1 (2021) E-ISSN : 2685- 5585
Hal : 48 – 54
Pengujian Hipotesis
Setelah dilakukan pengujian analisis, maka selanjutnya dilakukan pengujian [Link]
hipotesis dilakukan dengan statistic parametrick karena data kelas eksperimen dan kelas control
berdistribusi normal dan homogen. Untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan aktivitas belajar siswa
pada kelas eksperimen dan kelas control digunakan pengujian hipotesis komparatif dua sampel
independen (ujit independent sample test). Berikut adalah tabel hasil uji hipotesis data pretest dan
posttest menggunakan uji t independent sample test.
Tabel 8. Hasil Uji Hipotesis Data Prettest dan Posttest Kelas Eksperimen
Uji Hipotesis
IndependentSample Prettest Posttest
Test
Sig. ( 2 - tailed) 0,715 0,000
Kriteria Sig. > 0,05 Sig. < 0,05
Kesimpulan H0 diterima Ha diterima
Berdasarkan tabel 8 terlihat bahwa untuk data prettest diperoleh nilai Sig.(1-tailed) sebesar 0,715.
Nilai Sig. (1-tailed) > 0,05 artinya hasil uji t Independent Sample Test kelas eksperimen dinyatakan tidak
terdapat perbedaan. Untuk data posttest diperoleh nilai Sig.(1-tailed) sebesar 0,000. Nilai Sig. (1-
tailed)<0,05 artinya hasil uji t Independent Sample Test kelas eksperimen dinyatakan terdapat
perbedaan. Jadi dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh model pembelajaran kooperatif tipe STAD
terhadap aktivitas belajar matematika siswa.
Dari hasil analisis data diatas diperoleh bahwa pengaruh model pembelajaran kooperatif tipe
STAD terhadap aktivitas belajar matematika siswa adala perhitungan uji t yang ditunjukkan pada tabel
diatas diperoleh nilai signifikan 0,000 yang berarti lebih kecil dari taraf signifikan yaitu 0,05 yang berarti
terdapat perbedaan aktivitas belajar matematika yang menggunakan model stad yang signifikan antara
pre-test maupun post-test.
Berdasarkan hasil analisis data aktivitas belajar siswa diperoleh skor rata-rata sebesar 14,01
dengan katagori aktif, dan ini telah memenuhi persyaratan pembelajaran dikatakan optimal. Dari angket
siswa terhadap aktivitas belajar matematika siswa menunjukkan keseluruhan menyatakan ya. Hal ini
berarti siswa memberikan respon ya terhadap aktivitas belajar matematika siswa karena siswa lebih
kreatif dan dapat berkomunikasi dengan kelompok lainnya.
Berdasarkan hasil pengujian hipotesis dengan uji t Independent Sample Test untuk sampel yang
berdistribusi normal dan homogen diperoleh nilai Sig. (1-tailed) sebesar 0,000 dan nilai Sig. (1-tailed)
<0,05 maka H0 ditolak dan Ha diterima dengan kata lain rata-rata kemampuan aktivitas belajar
matematika siswa pada kelompok eksperimen lebih tinggi.
Kesimpulan
Berdasarkan hasil uji hipotesis yang dilakukan, maka disimpulkan bahwa:
1. Berdasarkan hasil analisis data yang diperoleh dapat disimpulkan bahwa terdapat metode
pembelajaran kooperatif tipe STAD terhadap komunikasi matematika siswa pada materi
Persamaan Kuadrat, dilihat dari hasil perhitungan uji t yang ditunjukkan pada table diatas diperoleh
nilai signifikan 0,000 yang berarti lebih kecil dari taraf signifikan yaitu 0,05 yang berarti terdapat
perbedaan aktivitas belajar siswa matematika yang menggunakan model STAD yang signifikan
antara prettes, maupun post-tes
2. Observasi aktivitas belajar siswa ditunjukkan dengan kategori “aktif ”.
3. Respon siswa terhadap pembelajaran matematika menggunakan model pembelajaran kooperatif
tipe STAD menunjukkan keseluruhan menyatakan Ya. Hal ini berarti siswa memberikan respon Ya
terhadap pembelajaran matematika dengan metode pembelajaran kooperatif tipe STAD karena
siswa lebih kreatif dan dapat beraktivitas dengan kelompok lainnya
1Hamni Fadhlilah Nasution, 2Desy Romanisyahniar
Pengaruh Model Pembelajaran Student Teams Achievement Division (STAD) Terhadap Aktivitas Belajar Matematika 53
Jurnal Pembelajaran dan Matematika Sigma (JPMS) ISSN : 2460-593X
Vol. 7, No. 1 (2021) E-ISSN : 2685- 5585
Hal : 48 – 54
Daftar Pustaka
[1] Budiani, Ni Luh. 2016. Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw Untuk Meningkatkan
Aktivitas Dan Hasil Belajar Siswa Kelas XI APA di SMK Negeri 1 Singaraja Tahun Ajaran
2015/2016. Skripsi (tidak diterbitkan). Undiksha Singaraja
[2] Siregar, S.U. 2016. Perbedaan Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika Menurut Teori Belajar
Bruner dan Teori Belajar Vigosky pada Kompetensi Dasar Menghitung Luas dan Keliling
Bangun Datar kelas V Semester 2 SD Negeri 114375 Binaraga Rantauprapat. Jurnal
Pembelajaran dan Matematika Sigma (JPMS). Vol. 2 No.2, hlm. 51-53. (2016)
[3] Marfana, Erwin, 2007. Perbedaan Persepsi Etika Penyusunan Laporan Keuangan dan Manajemen
Laba Terhadap Mahasiswa Akuntansi dan Non [Link] S-1, Universitas Budi Luhur,
Jakarta.
[4] Hrp, NA. 2017. Peningkatan Kemampuan Representasi Matematis dan Motivasi Belajar Siswa Melalui
Model Pembelajaran Berbasis Proyek (Project Based Learning) di Kelas VII SMP Negeri 1
Torgamba Tahun Pelajaran 2016/2017. Jurnal Pembelajaran dan Matematika Sigma (JPMS).
Vol. 3 No.1, hlm. 38-47 (2017)
[5] Harahap, MAM.,Harahap, NA., Irmayanti. 2019. Pengaruh Media Audio Visual terhadap Kemampuan
Pemahaman Konsep. Jurnal Jomas. Vol. 1 No. 1 (2019)
[6] Yamin,M. 2007. Kiat Membelajarkan Siswa. Jakarta: Gaung Persada Press dan Center for Learning
Innovation (CLI)
[7] Anggriyani, I., Hrp, NA. 2021. Peningkatan Daya Ingat Siswa terhadap Pembelajaran Matematika
dengan Penggunaan Teknik Mnemonic pada Kelas XI MAS Al-Barakah. Jurnal Pembelajaran
Matematika Inovatif. Vol. 4 No. 3 (2021)
[8] Suryani. 2019. Pengaruh Model Pembelajaran Student Teams Achievement Division (STAD) terhadap
Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika. Jurnal Pembelajaran dan Matematika Sigma
(JPMS). Vol. 5, No. 1 (2019) hal.1-6
1Hamni Fadhlilah Nasution, 2Desy Romanisyahniar
Pengaruh Model Pembelajaran Student Teams Achievement Division (STAD) Terhadap Aktivitas Belajar Matematika 54