0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
2 tayangan10 halaman

Bab 2

Dokumen ini membahas tentang pengertian, mekanisme, kewajiban, dan tanggung jawab perusahaan bongkar muat (PBM) di pelabuhan, serta definisi pelabuhan dan muatan kapal. Kegiatan bongkar muat meliputi stevedoring, cargodoring, dan receiving/delivery, yang dilakukan dengan menggunakan berbagai peralatan seperti crane, loader, dan grab. Selain itu, PBM memiliki kewajiban untuk memenuhi ketentuan peraturan dan bertanggung jawab atas kelancaran serta keselamatan kegiatan bongkar muat.

Diunggah oleh

ridza nasution
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
2 tayangan10 halaman

Bab 2

Dokumen ini membahas tentang pengertian, mekanisme, kewajiban, dan tanggung jawab perusahaan bongkar muat (PBM) di pelabuhan, serta definisi pelabuhan dan muatan kapal. Kegiatan bongkar muat meliputi stevedoring, cargodoring, dan receiving/delivery, yang dilakukan dengan menggunakan berbagai peralatan seperti crane, loader, dan grab. Selain itu, PBM memiliki kewajiban untuk memenuhi ketentuan peraturan dan bertanggung jawab atas kelancaran serta keselamatan kegiatan bongkar muat.

Diunggah oleh

ridza nasution
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Bongkar Muat


Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2015), kata “bongkar” berarti
angkat atau turunkan dan bila dirangkai dengan kata muat sehingga
menjadi “bongkar muat” berarti mengeluarkan dan memasukkan muatan
dari atau ke kapal. Sedangkan kata “muat” sendiri dalam Kamus Besar
Bahasa Indonesia (2015) berarti ada ruang untuk diisi, ditempati,
dimasuki, dipakai, dapat berisi. Pengertian lain yakni ada di dalamnya,
berisi atau mengandung.
Di dalam Peraturan Menteri Perhubungan Republik Indonesia Nomor :
PM 60 Tahun 2014 tentang Penyelenggaraan dan Pengusahaan Bongkar
dan Muat Barang dari dan ke Kapal, BAB I Pasal 1 ayat 6 menjelaskan
tentang Usaha Bongkar dan Muat Barang yakni :
“Usaha Bongkar dan Muat Barang adalah kegiatan usaha yang
bergerak dalam bidang bongkar muat barang dari dan ke kapal di
pelabuhan yang meliputi kegiatan stevedoring, cargodoring dan
receiving/ delivery”.

Dalam Peraturan Menteri Perhubungan Nomor : KM.21 Tahun 2007


tentang Sistem dan Prosedur Pelayanan Kapal, Barang dan Penumpang
pada Pelabuhan Laut yang Diselenggarakan oleh Unit Pelaksana Teknis
(UPT) Kantor Pelabuhan, BAB I Pasal 1 Ayat 13 menerangkan bahwa,
“Kegiatan bongkar muat barang dari dan ke kapal adalah kegiatan yang
meliputi stevedoring, cargodoring dan receiving/ delivery di pelabuhan”.

Dilanjutkan dalam ayat 14 menjelaskan pengertian stevedoring yakni


:“Stevedoring adalah pekerjaan membongkar barang dari kapal ke
dermaga/ tongkang/ truk atau memuat barang dari dermaga/ tongkang/

6
7

truk ke dalam kapal sampai dengan tersusun dalam palka kapal dengan
menggunakan derek kapal atau Derek darat”.
Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa kegiatan bongkar
dapat diartikan membongkar barang dari kapal ke dermaga.
Sedangkan kegiatan muat adalah memuat barang dari dermaga ke kapal
yang keduanya dilakukan dengan menggunakan derek kapal atau derek
laut.

2.2 Pengertian Perusahaan Bongkar Muat


Menurut Keputusan Menteri Perhubungan No. KM 14 tahun 2002,
yang dimaksud dengan perusahaan bongkar muat (PBM) adalah badan
hukum Indonesia yang khusus didirikan untuk menyelenggarakan dan
mengusahakan kegiatan bongkar muat barang dari dan ke kapal.
Adapun tenaga kerja bongkar muat (TKBM) adalah semua tenaga kerja
yang terdaftar pada pelabuhan setempat yang melakukan pekerjaan
bongkar muat dipelabuhan. Penyedia jasa bongkar muat adalah
perusahaan yang melakukan kegiatan bongkar muat (stevedoring,
cargodoring dan receiving/delivery) dengan menggunakan tenaga kerja
bongkar muat (TKMB) dan peralatan bongkar muat.

2.3 Mekanisme Kegiatan Bongkar Muat di Pelabuhan


Secara umum mekanisame kegiatan bongkar telah dijelaskan dalam
Peraturan Menteri Perhubungan Nomor : KM.21 Tahun 2007 tentang
Sistem dan Prosedur Pelayanan Kapal, Barang dan Penumpang pada
Pelabuhan Laut yang Diselenggarakan oleh Unit Pelaksana Teknis (UPT)
Kantor Pelabuhan, pada BAB I Pasal 1 Ayat 13 sampai dengan Ayat 16
yang berbunyi :
ayat 13 Kegiatan bongkar muat barang dari dan ke kapal
adalah kegiatan yang meliputi stevedoring, cargodoring dan
receiving/ delivery di pelabuhan.
8

ayat 14 Stevedoring adalah pekerjaan membongkar barang dari kapal ke


dermaga/ tongkang/ truk atau memuat barang dari dermaga/
tongkang/ truk ke dalam kapal sampai dengan tersusun dalam
palka kapal dengan menggunakan derek kapal atau derek darat.
ayat 15 Cargodoing adalah pekerjaan melepaskan barang dari tali/ jala-
jala di dermaga dan mengangkut dari dermaga ke gudang/
lapangan penumpukan barang atau sebaliknya.
ayat 16 Receiving/ Delivery adalah pekerjaan memindahkan barang dari
timbunan/ tempat penumpukan di gudang/ lapangan
penumpukan dan menyerahkan sampai tersusun di atas
kendaraan di pintu gudang/ lapangan penumpukan atau
sebaliknya.
Dari penjelasan diatas dapat diketahui bahwa kegiatan
bongkar barang meliputi kegiatan yang dilakukan saat barang
dibongkar dari kapal dan diangkut hingga ke pintu keluar
pelabuhan (get out).

Mekanisme kegiatan bongkar barang di pelabuhan menurut


Peraturan Menteri Perhubungan Nomor : KM.21 Tahun 2007
tentang Sistem dan Prosedur Pelayanan Kapal, Barang dan
Penumpang pada Pelabuhan Laut dibedakan menjadi 2 (dua) jenis
yakni :

1. Proses kegiatan bongkar dari kapal secara TL (truck lossing).


Proses kegiatan bongkar secara TL (truck lossing) dilakukan
hanya melewati tahap stevedoring atau barang dibongkar
kemudian diangkut dengan truk lalu barang langsung dibawa
keluar pelabuhan melewati pintu keluar (get out) tanpa
melewati tahap cargodoring dan receiving.
Dalam Peraturan Menteri Perhubungan Nomor: KM.21
Tahun 2007 tentang Sistem dan Prosedur Pelayanan Kapal,
Barang dan Penumpang pada Pelabuhan Laut yang
9

Diselenggarakan oleh Unit Pelaksana Teknis (UPT) Kantor


Pelabuhan, Pasal 8 menjelaskan bahwa :
“Pelayanan kegiatan bongkar dan muat langsung (truck
lossing) diperuntukkan bagi sembilan bahan pokok, barang
strategis, barang militer serta barang/ bahan berbahaya yang
memerlukan penanganan khusus sesuai kondisi pelabuhan
setempat”.
Dari penjelasan tersebut diketahui bahwa untuk kegiatan
bongkar secara TL (truck lossing) diberlakukan kepada muatan
tertentu.
2. Proses kegiatan bongkar dari kapal secara non-TL (truck
lossing).
Untuk proses kegiatan bongkar secara non-TL (truck
lossing) dilaksanakan melalui tiga tahapan kegiatan bongkar
barang yakni :
a) Stevedoring, yakni membongkar barang dari kapal
ke dermaga/ tongkang/ truk.
b) Cargodoring, yakni melepaskan barang dari tali/ jala di
dermaga dan mengangkut dari dermaga ke gudang/
lapangan penumpukan barang.
c) Receiving, yakni memindahkan barang dari timbunan
atau tempat penumpukan barang di gudang/ lapangan
penumpukan dan menyerahkan sampai tersusun di atas
kendaraan di pintu gudang/ lapangan penumpukan.
Setelah barang siap di atas kendaraan, maka tahap
terakhir adalah kendaraan pengangkut barang keluar
pelabuhan melalui pintu keluar untuk dilanjutkan ke
tempat tujuan.
10

2.4 Kewajiban PBM


Selama melakukan usahanya perusahaan bongkar muat memiliki
kewajiban yang harus dipenuhi (R.P Suyono,2007). Kewajiban tersebut
adalah sebagai berikut:

1. Melaksanakan ketentuan-ketentuan yang ditetapkan dalam izin


usaha dalam keputusan ini, dan kebijaksanaan umum pemerintah di
bidang penyelenggaraan kegiatan bongkar muat dari dan ke kapal.
2. Memenuhi batasan minimal kecepatan bongkar muat barang yang
telah ditetapkan pada setiap pelabuhan.
3. Mengenakan/memberlakukan tarif yang berlaku sesuaiperaturan.
4. Meningkatkan keterampilan kerja.
5. Bertanggung jawab terhadap barang selama berada di bawah
pengawwasannya.
6. Bertanggung jawab kepada kerusakan alat bongkar muat (gear)
kapal yang disebabkan oleh kesalahan, kelalaian orang-orang yang
bekerja di bawah pengawasannya.
7. Menyampaikan laporan kegiatan usahanya secara berkala kepada.
a) Administrator pelabuhan setempat berupa laporan harian,
bulanan, dan tahunan.
b) Direktur Jenderal Perhubungan Laut, dalam hal ini adalah
Kepala Direktorat Lalu Lintas Angkutan Laut dan
Kakanwilhubla setempat berupa laporan bulanan dan
tahunan.
8. Menaati segala peraturan perundangan yang berlaku.

2.5 Tugas dan Tanggung Jawab PBM


Dalam melakukan pelayanan, perusahaan bongkar muat harus bekerja
sama dengan pihak seperti PT Pelabuhan Indonesia, perusahaan pelayaran,
EMKL, pemilik barang, penyedia tenaga buruh, dan sebagainya. Masing-
11

masing pihak memiliki tugas dan tanggung jawab. Sedangkan perusahaan


bongkar muat memiliki tanggung jawab atas (R.P Suyono,2007):
1. Kelancaran kegiatan bongkar muat.
2. Keselamatan penerimaan dan penyerahan barang.
3. Kebenaran laporan yang disampaikan,
4. Mengatur penggunaan tenaga kerja bongkar muat dan peralatan
sesuai kebutuhan.

Tahapan-tahapan tugas yang dilaksanakan oleh Perusahaan Bongkar Muat


pada saat kegiatan bongkar muat adalah :

a. Sebelum kapal sandar di dermaga


Dokumen-dokumen yang harus dipersiapkan oleh PBM
sebelum kapal sandar di dermaga :
1) Document manifest
2) Stowage plan
3) Ship plan
4) Loading list
5) Handling order
6) Dangerous cargo list
7) Shifting cargo list
b. Saat kapal sandar di dermaga
Hal-hal yang harus dipersiapkan saat sebelum kapal di
dermaga adalah :
1) pembuatan laporan pengawasan kondisi muatan (cargo
maupun container).
2) pengawasan dan supervisi kegiatan operasional
bongkar muat.
c. Setelah kapal berangkat hal-hal yang harus dilakukan setelah
kapal berangkat adalah :
12

1) Pembuatan laporan hasil kegiatan bongkar muat secara


menyeluruh dan rekapitulasi hasil kegitan bongkar
muat.
2) Melaksanakan penagihan terhadap biaya-biaya kegiatan
bongkar muat.
d. Warehousing
Kegiatan yang dilaksanakan oleh Perusahaan Bongkar Muat
pada tahapan warehousing (pergudangan) adalah:
1) Penanganan barang-barang yang akan masuk ke
gudang.
2) Penanganan terhadap barang yang memerlukan
perlakuan/penanganan khusus.
3) Penanganan terhadap barang yang ditimbun di open
storage.
e. Delivery
Kegiatan yang dilaksanakan oleh Perusahaan Bongkar Muat
pada tahapan delivery (pergudangan) adalah :
1) Menerima kwitansi pembayaran.
2) Menerima Delivery Order (DO) yang telah di fiat
(diberi izin) impor oleh custom.
3) Pemberian surat jalan keluar dari pelabuhan kepada
shipper/consignee.

2.6 Pengertian Pelabuhan


Pelabuhan (port) adalah tempat yang terdiri atas daratan dan atau
perairan dengan batas-batas tertentu sebagai tempat kegiatan pemerintahan
dan kegiatan pengusahaan yang di pergunakan sebagai tempat kapal
bersandar, naik turun penumpang dan bongkar muat barang, berupa
terminal dan tempat berlabuh kapal yang dilengkapi dengan fasilitas
keselamatan dan keamanan pelayaran dan kegiatan penunjang pelabuhan
13

serta sebagai tempat perpindahan intra dan antar moda transportasi (UU
No. 17 Tahun 2008 Tentang Pelayaran).

2.7 Pengertian Muatan Kapal


Muatan kapal (cargo) merupakan objek dari dalam pengangkutan
sistem transportasi laut, dengan mengangkut muatan sebuah perusahaan
pelayaran niaga dapat memperoleh pendapatan dalam bentuk uang
tambang (freight) yang sangat menentukan dalam kelangsungan hidup
perusahaan dan membiayai kegiatan dipelabuhan.
Muatan curah di bagi menjadi 3, yaitu:
1. Curah Kering
Merupakan muatan curah padat dalam bentuk biji-bijian , serbuk,
bubuk, butiran butiran dan sebagainya yang dalam pembuatan/
pembongkaran dilakukan dengan mencurahkan muatan kedalam
palka dengan menggunakan alat-aalat khusus. Contoh muatan
curah kering antara lain biji gandum, kedelai, jagung, pasir,
semen, klinker, soda, kristal gula dan sebagainya.
2. Curah Cair (liquid bulk cargo)
Yaitu muatan yang berbentuk cairan yang diangkut dengan
menggunakan kapal-kapal khusus yang disebut kapal tanker.
Contoh muatan curah cair ini adalah bahan bakar, crude palm oil
(CPO), produk kimia cair dan sebagainya.
3. Curah Gas
Yaitu muatan curah dalam bentuk gas yang dimampatkan,
contohnya gas alam (LPG).

2.8 Peralatan Bongkar Muat


Sistem bongkar muat merupakan gabungan dari beberapa alat bantu
yang dioperasikan dan dipergunakan untuk kegiatan bongkat muat dari
kapal ke dermaga atau sebaliknya. Tujuanya adlah melaksanakan bongkar
14

muat secepatnya (produktif), menghindari resiko kerusakan terhadap


barang, peralatan dan kecelakaan kerja serendah mungkin, melaksanakan
seluruh perencanaan bongkar muat sebagaimana tertera dalam stowage
plan, menghasilkan stabilitas kapal yang aman, menghindari terjadinya
long hatch, over hatch dan long distance. Pada sitem bongkat muat
pelayanannya dipengaruhi oleh jenis muatan dan jenis kapal.
Berikut adalah alat-alat bongkar muat pada kapal curah kering (Dry
Bulk Carier):
1. Crane Kapal
Alat ini biasanya terletak dibagian tengah kapal, berfungsi untuk
mengangkat cargo dari palka kapal, kemudian dipindahkan ke
dermaga. Lengan dari crane kapal harus cukup panjang, sehingga
dapat memindahkan dari palka ke dermaga. Sistem yang
digunakan pada crane kapal serupa dengan crane pada umumnya,
yakni menggunakan kabel baja, dengan motor sebagai
penggeraknya.
2. Loader
Adalah kendaraan yang di pakai dalam cleaning
(pembersihan sisa diatas palka kapal) yang berfungsi
mengumpulkan muatan yang bersebaran yang ada di dalam
tongkang sehingga muatan dapat terjangkau oleh crane untuk
di muat ke kapal. Dan kendaraan ini juga berfungsi untuk
meratakan muatan yang ada di dalam palka agar ruang muat
dapat digunakan secara optimal.
3. Grab
Adalah alat yang digerakan oleh crane sering digunakan untuk
bongkar/ muat, khususnya muatan curah kering. Yang berfungsi
mengambil muatan dari atas palka kapal kemudian di pindahkan
ke hopper.
15

4. Hopper
Hopper adalah alat pelengkap dalam rangkaian bongkar muat
yang berfungsi sebagai tempat penerima material umpan yang
berasal dari grabs yang selanjutnya di pindah ke truk untuk
pengiriman barang.
5. Exchavator
Exavator adalah alat berat yang dipergunakan untuk
memindahkan material. Dlam proses bongkar muat alat ini
berperan dalam proses cleaning (pembersihan) pada saat muatan
dalam palka sedikit/ untuk mempermudah grabs dalam
memindahkan muatan.
6. Sling
Sling adalah jerat untuk muatan yang dibuat dari tali kawat baja,
gunanya untuk mengangkut muatan dan alat berat dari palka
kapal.
7. Hook crane
Hook terletak pada ujung sling crane, dan berfungsi untuk
dikaitkan pada beban atau grab.

2.9 Pengertian Raw Sugar


Raw Sugar adalah gula mentah berbentuk kristal berwarna kecoklatan
dengan bahan baku dari tebu. Raw Sugar ini memiliki nilai ICUMSA
sekitar 600 – 1200 IU5. Gula tipe ini adalah produksi gula “setengah jadi”
dari pabrik-pabrik penggilingan tebu yang tidak mempunyai unit
pemutihan yang biasanya jenis gula inilah yang banyak diimpor untuk
kemudian diolah menjadi gula kristal putih maupun gula rafinasi. (Gina
Rahmalia,2012)

Anda mungkin juga menyukai