Judul: Nala
Bentuk: Naskah Drama Pendek
Tokoh:
Nala – Siswi yang pendiam tetapi memiliki tekad kuat.
Rani – Sahabat Nala yang ceria.
Ibu – Ibu Nala yang bekerja keras.
Guru – Guru di sekolah Nala.
Adegan 1 – Halaman Sekolah
(Beberapa siswa sedang berbincang. Nala duduk di bangku sambil
membaca buku. Rani datang menghampiri.)
Rani:
Nala, dari tadi kamu baca buku terus. Tidak bosan?
Nala:
Tidak. Buku membuatku bisa pergi ke banyak tempat tanpa harus
bergerak.
Rani:
(tertawa kecil)
Kamu memang aneh. Anak lain main, kamu malah baca.
Nala:
Aku hanya ingin belajar lebih banyak.
Rani:
Untuk apa?
Nala:
Supaya suatu hari nanti aku bisa mengubah hidupku.
(Rani menatap Nala dengan penasaran.)
Adegan 2 – Ruang Kelas
(Guru berdiri di depan kelas.)
Guru:
Anak-anak, minggu depan akan ada lomba pidato antar sekolah. Siapa
yang ingin ikut?
(Kelas menjadi sunyi. Tidak ada yang mengangkat tangan.)
Guru:
Tidak ada?
(Nala perlahan mengangkat tangan.)
Guru:
Baik, Nala. Kamu yakin?
Nala:
Saya ingin mencoba, Bu.
(Beberapa siswa berbisik-bisik.)
Siswa 1:
Nala? Dia kan pendiam.
Siswa 2:
Mana mungkin dia berani bicara di depan banyak orang.
(Nala mendengar bisikan itu, tetapi tetap tenang.)
Adegan 3 – Rumah Nala Malam Hari
(Ibu sedang menjahit. Nala datang membawa buku.)
Ibu:
Kamu pulang terlambat hari ini, Nala.
Nala:
Aku latihan pidato di sekolah.
Ibu:
Pidato?
Nala:
Aku ikut lomba, Bu.
(Ibu terlihat terkejut, lalu tersenyum.)
Ibu:
Ibu bangga padamu. Tapi ingat, menang atau kalah tidak masalah.
Nala:
Aku hanya ingin membuktikan sesuatu.
Ibu:
Membuktikan apa?
Nala:
Bahwa orang yang pendiam juga punya suara.
Adegan 4 – Panggung Lomba
(Lampu panggung menyala. Nala berdiri di depan mikrofon. Penonton
terlihat ramai.)
Nala:
(dengan sedikit gugup)
Selamat pagi. Nama saya Nala.
(Ia menarik napas.)
Nala:
Banyak orang berpikir bahwa seseorang harus keras dan berani untuk
didengar. Tapi sebenarnya, suara kecil pun bisa membawa perubahan jika
kita berani mengucapkannya.
(Penonton mulai memperhatikan.)
Nala:
Saya dulu takut berbicara. Takut salah, takut ditertawakan. Tapi hari ini
saya berdiri di sini karena saya percaya satu hal…
(Ia menatap penonton.)
Nala:
Keberanian bukan berarti tidak takut. Keberanian adalah tetap melangkah
meskipun takut.
(Penonton mulai bertepuk tangan.)
Adegan 5 – Halaman Sekolah Setelah Lomba
(Rani berlari menghampiri Nala.)
Rani:
Nala! Kamu hebat sekali tadi!
Nala:
Aku masih gemetar.
Rani:
Tapi kamu berhasil!
Nala:
Mungkin bukan soal menang atau kalah.
Rani:
Lalu?
Nala:
Yang penting aku akhirnya berani berbicara.
(Guru datang mendekat.)
Guru:
Nala, kamu memberikan pidato yang sangat menginspirasi.
Nala:
Terima kasih, Bu.
(Nala tersenyum. Ia terlihat lebih percaya diri.)
TAMAT
Jika kamu ingin, aku juga bisa membuat:
versi naskah drama “Nala” yang lebih panjang (7–9 adegan)
versi dengan konflik lebih kuat (bullying, tekanan sekolah,
dll.) supaya lebih dramatis untuk pementasan.