0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
18 tayangan5 halaman

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Agresivitas Remaja: Putri Rahmaning Sekar

Penelitian ini mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi agresivitas remaja, termasuk faktor internal seperti frustrasi, gangguan berpikir, dan gangguan emosional, serta faktor eksternal seperti lingkungan keluarga, teman sebaya, dan iklim sekolah. Metode yang digunakan adalah systematic literature review dengan pendekatan meta-sintesis. Hasil menunjukkan bahwa baik faktor internal maupun eksternal berkontribusi signifikan terhadap perilaku agresif pada remaja.

Diunggah oleh

Sulton Sriwijaya
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
18 tayangan5 halaman

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Agresivitas Remaja: Putri Rahmaning Sekar

Penelitian ini mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi agresivitas remaja, termasuk faktor internal seperti frustrasi, gangguan berpikir, dan gangguan emosional, serta faktor eksternal seperti lingkungan keluarga, teman sebaya, dan iklim sekolah. Metode yang digunakan adalah systematic literature review dengan pendekatan meta-sintesis. Hasil menunjukkan bahwa baik faktor internal maupun eksternal berkontribusi signifikan terhadap perilaku agresif pada remaja.

Diunggah oleh

Sulton Sriwijaya
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

Psyche 165 Journal, Vol. 14 , No.

1 , Januari 2021, ISSN : 2088-5326, E-ISSN : 2502-8766


Copyright@2021 by LPPM UPI YPTK Padang

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Agresivitas Remaja


Putri Rahmaning Sekar
Magister Psikologi, Program Pascasarjana, Universitas Ahmad Dahlan
Email :putisekar@[Link]

Abstract
Aggressiveness is the desire to hurt other individuals, by expressing negative feelings such as hostility to achieve the
desired goal. The aggressiveness component consists of physical aggression, verbal aggression, anger, and hostility.
The purpose of this study is to identify the factors that influence aggressiveness. Literature searches were carried
out on the Researchgate, Scopus, Springer, and Google Schoolar electronic databases using the keywords
"aggressive behavior and aggressiveness". The research strategy of this research is a kind of systematic literature
review research using qualitative (meta-synthesis) methods. The approach used in this research is meta-ethnograph.
Search results show that aggressiveness is influenced by internal and external factors. These internal factors
include: frustration, thinking disorders and adolescent intelligence, as well as emotional / emotional disturbances in
adolescents while external factors include family or peer factors, school factors and environmental factors.

Keywords: Aggressiveness, Frustration, Thinking Disorders, Emotional Disorders

Abstrak
Agresivitas adalah keinginan untuk menyakiti individu lain, dengan cara mengekspresikan perasaan negatifnya
seperti permusuhan untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Komponen agresivitas terdiri dari agresi fisik, agresi
verbal, kemarahan, dan permusuhan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang
mempengaruhi agresivitas. Penelusuran literatur dilakukan pada database elektronik Researchgate, Scopus,
Springer, dan Google Schoolar dengan menggunakan kata kunci “perilaku agresif dan agresivitas”. Strategi
penelusuran penelitian ini termasuk jenis penelitian systematic literature review dengan menggunakan metode
kualitatif (meta-sintesis). Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini ialah meta-etnograf. Hasil penelusuran
menunjukkan bahwa agresivitas dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal. Faktor internal tersebut meliputi:
frustasi, gangguan berfikir dan intelegency remaja, serta gangguan perasaan/emosional pada remaja sedangkan
faktor eksternal meliputi faktor keluarga atau teman sebaya, faktor sekolah dan faktor lingkungan.

Kata Kunci: Agresivitas, Frustasi, Gangguan berfikir, Gangguan emosional

Pendahuluan
Remaja merupakan masa terjadinya transisi dari anak-anak menuju masa dewasa, pada masa remaja
terjadi proses pencarian jati diri yang dilakukan dengan berbagai upaya aktualisasi diri agar di akui oleh
teman sebayanya. Proses pencarian jati diri banyak menimbulkan konflik baik bagi diri maupun orang
lain. Menurut Hurlock[1] bahwa masa remaja merupakan masa yang sangat rentan terjadinya konflik
karena banyak terjadi perubahan baik secara fisik amupun psikisnya. Perubahan fisik seperti pertumbuhan
tinggi dan berat badan, kematangan fungsi reproduksi dan organ seksusal. Sedangkan pada psikis remaja
merasa mampu memenuhi tanggung jawab seperti orang dewasa. Namun keadaan fisik dan psikis remaja
masih belum memiliki kematangan layaknya orang dewasa. Namun banyaknya tuntutan sosial yang
menyebabkan kegagalan sehingga hal tersebut menimbulkan frustasi dan konflik tersendiri bagi remaja.
Masa remaja dapat dikatakan sebagai masa storm and stress, yang diwarnai dengan disequilibrium atau
ketidakseimbangan sikap dan emosi, sehingga membuat remaja mudah berubah, bergejolak, dan tidak
menentu Masa remaja juga merupakan masa transisi dimana pada masa itu diperlukan penyesuaian diri
dari masa anak-anak ke masa dewasa. Pada masa tersebut kemungkinan akan, timbul masa kritis dengan
ditandai kecenderungan munculnya perilaku menyimpang. Dalam kondisi tertentu, perilaku menyimpang
Diterima Redaksi: 22-11-2020 | Selesai Revisi: 23-1-2021 | Diterbitkan Online: 24-1-2021
27
Putri Rahmaning Sekar
Psyche 165 Journal Vol 14 No 1 (2021) 27 - 31

akan berlangsung lebih lama dan akan menjadi perilaku mengganggu misalnya menyerang, merusak dan
beberapa bentuk agresivitas lainnya [2]
Agresivitas adalah keinginan untuk menyakiti individu lain, dengan cara mengekspresikan perasaan
negatifnya seperti permusuhan untuk mencapai tujuan yang diinginkan [3]. Mundy [4] menyebutkan
bahwa kemunculan perilaku agresivitas dapat disebabkan karena berhadapan dengan situasi-situasi atau
keadaan yang tidak menyenangkan dalam lingkungannya. Agresivitas sering kali disebabkan oleh amarah,
yang merupakan jembatan psikologis antara komponen perilaku dan komponen kognitif dalam
agresivitas. Individu pada umumnya menjadi lebih agresif ketika sedang marah dibandingkan saat tidak
marah [3] Contoh dari perilaku agresif remaja yang terlihat jelas adalah semakin banyaknya berita yang
disajikan setiap hari di media masa baik cetak maupun elektronik tentang perilaku kekerasan remaja baik
secara individual maupun secara berkelompok, seperti tawuran, penganiayaan, penyiksaan, bahkan
sampai menghilangkan nyawa [5]
Cornell, Peterson, & Richards (1999) menyatakan bahwa amarah merupakan faktor predisposisi dari
perilaku agresif dan amarah itu paralel dengan dorongan agresi[6], sehingga intervensi terhadap amarah
perlu dilakukan sebagai sarana mengurangi perilaku agresif seseorang. Tingkat amarah yang tinggi di
kalangan remaja awal sering terwujud dalam perilaku kejahatan, antisosial, kekerasan [7], prestasi belajar
rendah, dan lemahnya kesehatan fisik dan mental hingga masa remaja akhir dan dewasa [8] .Penelitian [9]
melaporkan bahwa subjek dengan tingkat amarah yang tinggi cenderung memiliki strategi koping yang
destruktif; mengekspresikan amarah dengan cara menyerang orang dan benda secara fisik dan verbal;
lebih banyak menantang dan berperilaku negatif; serta lebih sering mengalami konflik dengan orang lain.
Berdasarkan fakta tersebut, maka remaja yang memiliki tingkat amarah yang tinggi dan berisiko
berperilaku agresif, perlu mendapatkan perhatian dengan memberikan penanganan yang tepat dalam
mengelola amarah dan mengendalikan dorongan agresinya. Berdasarkan pemaparan tersebut diatas, maka
penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi agresivitas.

Metode Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian systematic literature review dengan menggunakan metode kualitatif
dengan teknik meta sintesis. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan meta-
etnograf, yaitu peneliti merangkum berbagai hasil penelitian yang relevan secara naratif agar dapat
mengembangkan teori yang baru untuk melengkapi teori-teori sebelumnya. Penelusuran ini dilakukan
pada tanggal 15 Mei melalui database elektronik seperti Researchgate ([Link]), Scopus
([Link]), Springer ([Link]) dan Google Schoolar ([Link]) dengan
menggunakan kata kunci agresivitas. Database elektronik tersebut menyediakan berbagai hasil penelitian,
salah satunya penelitian-penelitian di bidang psikologi. Kriteria seleksi berdasarkan hasil penelusuran
yang telah dilakukan, peneliti menelaah dengan membaca judul dan abstrak untuk mengetahui apakah
artikel yang dibaca sudah memenuhi kriteria untuk dikaji. Kriteria yang digunakan yaitu: 1) artikel
penelitian membahas tentang agresivitas; 2) artikel membahas tentang pengaruh variabel x terhadap
agresivitas; 3) artikel berisi laporan hasil penelitian; 4) artikel ditulis dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa
Inggris. Peneliti memperoleh 10 artikel publikasi setelah proses seleksi yang relevan untuk dikaji.
Analisis pada penelitian ini adalah peneliti melakukan identifikasi, evaluasi dan interpretasi terhadap
semua hasil penelitian yang relevan terkait dengan agresivitas. Tujuan penelitian ini untuk
mengindentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi agresivitas. Peneliti mengumpulkan beberapa artikel
publikasi yang relevan untuk dikaji dan membuat rangkuman hasil penelitian yang terdiri dari nama
peneliti, tahun publikasi, jumlah subjek, alat ukur yang digunakan serta hasil penelitian. Berdasarkan hasil
tersebut peneliti membuat kesimpulan mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi agresivitas.

Psyche 165 Journal Terakredetasi Sinta 5


28
Putri Rahmaning Sekar
Psyche 165 Journal Vol 14 No 1 (2021) 27 - 31

Hasil Dan Pembahasan


Berdasarkan hasil bacaan peneliti sebelumnya beberapa hasil penelitian yang relevan diperoleh sebagai
berikut:

Frustasi
Faktor yang mempengaruhi agresivitas adalah frustrasi.[10] mendefinisikan frustasi adalah situasi dimana
individu terhambat atau gagal dalam usaha mencapai tujuan tertentu yang diinginkanya, atau mengalami
hambatan untuk bebas bertindak dalam rangka mencapai tujuan sedangkan frustrasi menurut [5]adalah
terhambatnya atau tercegahnya upaya mencapai tujuan, dan kerap kali menjadi penyebab agresi. Orang
yang frustrasi cenderung melakukan kekerasan ketika isyarat agresif menarik batasan dalam diri
kemudian melepaskan kemarahan yang tertahan [11] Agresi merupakan salah satu cara merespon
terhadap frustrasi. Frustasi ini bisa terjadi di sekolah, di rumah dan lingkungan sosialnya. Frustrasi terjadi
bila seseorang terhalang oleh sesuatu hal dalam mencapai suatu tujuan, kebutuhan, keinginan,
pengharapan atau tindakan tertentu. Frustasi karena tidak bisa mengikuti pelajaran di sekolah dengan
baik, frustasi karena orangtua yang sering bertengkar dan kurang mendapat perhatian dari orangtua,
frustasi karena tidak bisa memenuhi standar hidup seperti orang-orang lain di sekitarnya. Frustrasi dapat
mengarahkan individu kepada bertindak agresif karena frustrasi itu bagi individu merupakan situasi yang
tidak menyenangkan dan dia ingin mengatasi atau menghindarinya dengan berbagai cara, termasuk cara
agresif. Menurut Berkowitz [10]Individu akan memilih tindakan agresif sebagai reaksi atau cara untuk
mengatasi frustrasi yang dialaminya apabila terdapat stimulus-stimulus yang menunjangnya ke arah
tindakan agresif itu .

Gangguan Berfikir
Faktor gangguan perfikir atau intelegensi Faktor gangguan berfikir merupakan pemikiran dan
kepercayaan yang tidak baik dan dapat menyebabkan berbahasa kasar, menghina, bertengkar, mengejek
dan marah-marah. Pemikiran tersebut dapat mendorong seseorang berbahasa kasar pada orang lain.
Berdasarkan informasi yang diperoleh dari siswa melalui wawancara dikemukakan bahwa siswa yang
berbicara kasar dan marah-marah dapat menolong dirinya karena ia dapat melawan ketika diganggu dan
tidak merasa ada masalah, sehingga ia cenderung berbahasa kasar, menghina, bertengkar, mengejek dan
marah-marah. Hasil wawancara menunjukkan gangguan berfikir atau intelegensi merupakan faktor
penyebab agresi verbal pada siswa karena muncul pemikiran siswa yang tidak baik sehingga berbahasa
kasar, menghina, bertengkar, mengejek dan marah-marah dapat menolong dirinya ketika diganggu.

Gangguan Emosional
Salah satu faktor yang sering memicu terjadinya agresivitas adalah faktor emosional yang ada pada
individu. Ketika seseorang mengalami suatu kondisi yang kurang menyenangkan, maka
emosi yang sering terlihat adalah emosi marah. Perasaan marah berlanjut pada keinginan untuk
melampiaskannya dalam satu bentuk tertentu dan pada objek tertentu (Sarwono, 2009) Karena kurang
matangnya emosi yang dimiliki oleh remaja maka mereka merespon permasalahan tersebut dengan
agresivitas [13]. Emosi remaja dapat dikaitkan terutama dengan tekanan sosial dan tingkat kepercayaan
diri yang mereka miliki untuk menghadapi kondisi baru. Emosi memainkan peranan penting dalam
kehidupan individu karena membuat hidup bervariasi, menarik dan mendebarkan. Hidup tanpa emosi
menjadi kusam, monoton dan bagaikan mesin. Jika emosi tidak diungkapkan dengan hati-hati, maka dapat
menciptakan masalah dalam kehidupan seseorang, karena mereka mempengaruhi persepsi pikiran kita,
sikap dan minat.

Keluarga
Perilaku agresif dapat diperoleh atau dipengaruhi oleh [Link] keluarga merupakan
lingkungan terdekat bagi remaja, sehingga keluarga juga merupakan sumber bagi timbulnya agresi. Salah
satu faktor yang diduga menjadi sebab timbulnya tingkah laku agresif adalah kecenderungan pola asuh

Psyche 165 Journal Terakredetasi Sinta 5


29
Putri Rahmaning Sekar
Psyche 165 Journal Vol 14 No 1 (2021) 27 - 31

tertentu dari orang tua (child rearing). Pola asuh orang tua juga merupakan salah satu faktor yang
mempunyai peranan penting dalam pembentukan kepribadian anak, dimana keluarga adalah lingkungan
yang pertama kali menerima kehadiran anak. Keadaan kehidupan keluarga bagi seorang anak dapat
dirasakan melalui sikap dari orang yang sangat dekat dan berarti baginya. Dengan kata lain, pola asuh
orang tua akan mempengaruhi perilaku anaknya[6]

Teman Sebaya
Teman sebaya adalah orang dengan tingkat usia dan kedewasaan yang hampir sama [14].Pengaruh teman
sebaya dapat berdampak positif maupun negatif. Pengaruh teman sebaya yang positif akan membawa
remaja belajar mengembangkan diri dan kreativitas bersama teman – temannya. Tapi teman sebaya juga
dapat membawa pengaruh negatif. Apabila dia berada pada lingkungan yang negatif seperti narkoba, seks
bebas, dan tawuran, maka kemungkinan besar akan terpengaruh juga.
Apabila remaja tidak mengikuti aturan atau perilaku teman sebayanya, maka remaja akan merasa
diasingkan dari kelompoknya. Beberapa hasil dari penelitian juga menyebutkan bahwa remaja cenderung
berperilaku agressif, seperti penelitian. Kuntari [15]yang menyebutkan bahwa semakin tinggi kematangan
emosi remaja, maka akan semakin rendah agresivitasnya, begitu pula sebaliknya.

Sekolah
Menurut hasil penelitian [16] diketahui bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara agresivitas siswa
dengan iklim sekolah. Semakin baik iklim suatu sekolah akan semakin rendah tingkat kekerasan
(agresivitas) yang terjadi di sekolah. Goldstein, S. E., Young, A., Boyd, [17] memperkuat temuan Barnes
bahwa tingkat agresi relasional yang tinggi di sekolah berkorelasi dengan persepsi negatif siswa terhadap
sekolah sebagai lingkungan yang tidak aman, dan memiliki atmosfer sosial yang kurang memuaskan.
Selanjutnya Yıldız & Sümer [18] menyatakan bahwa lingkungan sekolah yang tidak aman berhubungan
erat dengan tingginya kekerasan yang dialami oleh siswa. Beberapa temuan penelitian tersebut
menunjukkan hasil yang sama tentang adanya korelasi antara iklim sekolah yang negatif dengan
agresivitas siswa di sekolah. Sebaliknya rasa aman di sekolah (iklim positif sekolah) menjadi faktor kuat
yang mendukung keberhasilan proses belajar, perkembangan, dan pencapaian pretasi siswa [19]. Selain
itu, siswa yang memiliki persepsi positif mengenai iklim sekolahnya akan lebih mungkin untuk bertindak
dan menunjukkan sikap saling perduli terhadap sesama dan mencegah niat buruk dari sesama siswa [20]
Iklim sekolah merupakan faktor penting yang tidak dapat diabaikan begitu saja. Dalam hal ini Freiberg
[21]menyatakan bahwa keberadaan iklim sekolah dapat berpengaruh positif bagi terciptanya lingkungan
belajar yang sehat, namun secara signifikan dapat pula menghalangi tercapainya proses pembelajaran.
Haynes, Emmons dan Comer [22] mendefinisikan iklim sekolah sebagai kualitas dan konsistensi interaksi
interpersonal di antara masyarakat sekolah yang dapat mempengaruhi perkembangan kognitif, sosial dan
psikologis siswa. Menurut Loukas iklim sekolah adalah perasaan dan sikap yang ditimbulkan dari
lingkungan sekolah. Iklim sekolah juga dapat didefinisikan sebagai persepsi terbuka dari individu
mengenai lingkungan sekolah sebagai ruang belajar, ruang untuk berinteraksi dengan teman sebaya
maupun dengan guru [20]

Lingkungan
lingkungan dimana kita tinggal senantiasa terbagi atas dua jenis, yaitu lingkungan fisik dan lingkungan
non fisik. Lingkungan fisik meliputi segala hal yang ada di sekitar manusia yang sifatnya statis, pasif dan
terlihat oleh mata (tangible). Sedangkan lingkungan non fisik adalah semua hal di luar diri manusia yang
tidak terlihat secara kasat mata (intangible), namun senantiasa aktif dan dinamis, mengikuti pergerakan
relasi sosial anggota di dalamnya. Lingkungan Non fisik di sekitar kita biasa disebut dengan lingkungan
sosial. lingkungan secara fisik mempengaruhi perilaku para individu yang tinggal di dalamnya.
Lingkungan yang tidak sehat dan kotor, penuh-sesak dan padat (slums) juga akan mempengaruhi keadaan
fisik, sosial dan psikologis para penghuninya. Bahkan dikhawatirkan keadaan permukiman yang demikian
ini berpotensi menjadi trigger terjadinya tindakan-tindakan anti sosial yang bisa menimbulkan tindakan-

Psyche 165 Journal Terakredetasi Sinta 5


30
Putri Rahmaning Sekar
Psyche 165 Journal Vol 14 No 1 (2021) 27 - 31

tindakan maladaptive seperti halnya perilaku agresif para warganya. Bahkan, boleh jadi bisa menjadikan
cikal bakal bagi terbentuknya perilaku maladaptive dan menyimpang bagi sebagian individu yang tinggal
di dalamnya. Demikian halnya dengan lingkungan sosial, memiliki andil yang tidak kalah signifikansinya
dalam pembentukan perilaku individu yang tinggal di dalamnya, termasuk pembentuk dan pencetus
perilaku agresif.

Kesimpulan
Hasil studi literatur menunjukkan bahwa agresivitas tidak hanya dipengaruhi oleh faktor dari dalam diri
individu saja (internal), tetapi juga dapat dipengaruhi oleh faktor dari luar (eksternal). Faktor internal
tersebut meliputi: frustasi, gangguan berfikir dan intelegency remaja, serta gangguan perasaan/emosional
pada remaja sedangkan faktor eksternal meliputi faktor keluarga atau teman sebaya, faktor sekolah dan
faktor lingkungan.

Daftar Pustaka
[1] E. B. Hurlock, Psikologi Perkembangan - Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan. 2010.
[2] D. Afandi, F. Chandra, D. Novitasari, I. R. Widjaja, and L. Kurniawan, “Tingkat penyalahgunaan obat dan
faktor risiko di kalangan siswa sekolah menengah umum,” Maj Kedokt Indon, 2009.
[3] A. H. Buss and M. Perry, “The Aggression Questionnaire,” J. Pers. Soc. Psychol., 1992, doi: 10.1037/0022-
3514.63.3.452.
[4] M. Guswani, Aprius and F. Kawuryan, “Perilaku Agresi pada Mahasiswa Ditinjau dari Kematangan Emosi,”
J. Psikol. Pitutur, 2011.
[5] S. W. Sarwono, Teori-Teori Psikologi Sosial. 2010.
[6] L. Berkowitz, Emosional Behavior: Mengenali perilaku dan tindakan kekerasan di lingkungan sekitar kita
dan cara penanggulangannyaTitle. Jakarta: CV. Teruna Grafica., 2003.
[7] M. H. Kellner and B. H. Bry, “The effects of anger management groups in a day school for emotionally
disturbed adolescents,” Adolescence, 1999.
[8] M. Currie, “Doing Anger Differently: A group percussion therapy for angry adolescent boys,” International
Journal of Group Psychotherapy. 2004, doi: 10.1521/ijgp.54.3.275.40335.
[9] H. C. Lench, “Anger management: Diagnostic differences and treatment implications,” Journal of Social
and Clinical Psychology. 2004, doi: 10.1521/jscp.23.4.512.40304.
[10] E. Koeswara, Agresi Manusia. Bandung: PT Eresco, 1988.
[11] D. G. Myers, Psikologi Sosial Edisi 10. Jakarta: Salemba Humanika, 2012.
[12] S. W. & E. A. M. Sarwono, Psikologi Sosial. Jakarta: Penerbit Salemba Humanikao, 2009.
[13] S. B. D. S. Gill, “Emotional Intelligence In Relation To Emotional Maturity And Emotional Competence Of
Secondary School Students.,” Glob. J. Multidiscip. Stud., vol. 4(6), pp. 200-204., 2015.
[14] Santrock, Life-Span Development: Perkembangan Masa Hidup. 2003.
[15] R. Kuntari, “Hubungan Antara Kematangan Emosi dengan Agresivitas Remaja.,” J. Psikol. Univ.
Muhammadiyah Surakarta, vol. 3, pp. 5–11, 2011.
[16] K. Barnes, S. Brynard, and C. de Wet, “The influence of school culture and school climate on violence in
schools of the Eastern Cape Province,” South African J. Educ., 2012, doi: 10.15700/saje.v32n1a495.
[17] C. Goldstein, S. E., Young, A., Boyd, “Relational Aggression at School: Associations with School Safety
and Social Climate,” J. Youth Adolesc. USA., vol. Vol. 37., p. Hal 641-654, 2008.
[18] E. Ç. Yıldız and Z. H. Sümer, “Saldırgan Davranışlarını Yordamada Çevresel Risk, Çevresel Güvenlik ve
Okul İklimi Algısı. (Turkish),” Perceived Neighborhood Risk, Neighborhood Saf. Sch. Clim. Predict.
Aggress. Behav., 2010.
[19] B. Johnson and J. J. Stevens, “Student achievement and elementary teachers’ perceptions of school climate,”
Learn. Environ. Res., 2006, doi: 10.1007/s10984-006-9007-7.
[20] M. D. Syvertsen, A. K., Flanagan, C. A,. & Stout, “Code of silence: students perception of school climate
and willingness to intervene in a peers dangerous plan,” J. Educ. Psychol., vol. 101(1), pp. 219-232., 2009.
[21] H. J. Freiberg, School climate: Measuring, improving and sustaining healthy learning environments. 2005.
[22] E. Hoffman, L. L., Hutchinson, C. J., & Reiss, “On improving school climate: Reducing reliance on reward
and punishment,” Int. J. Whole Sch., vol. 5(3), 2009.

Psyche 165 Journal Terakredetasi Sinta 5


31

Anda mungkin juga menyukai