0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
13 tayangan16 halaman

LP 2

Dokumen ini adalah laporan praktikum mengenai Global Navigation Satellite System (GNSS) dan metode Real-Time Kinematic (RTK) yang dilakukan di Politeknik Sinar Mas Berau Coal. Laporan ini mencakup analisis kesalahan dan bias dalam pengukuran GNSS, penggunaan data dari Sistem Referensi Geospasial Indonesia (SRGI), serta hasil pengolahan data menggunakan aplikasi RTK Plot. Kesimpulan menunjukkan bahwa pengamatan dari stasiun SRGI Blora menghasilkan posisi yang akurat dengan visibilitas satelit yang baik dan konfigurasi geometri yang optimal.

Diunggah oleh

rumi
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
13 tayangan16 halaman

LP 2

Dokumen ini adalah laporan praktikum mengenai Global Navigation Satellite System (GNSS) dan metode Real-Time Kinematic (RTK) yang dilakukan di Politeknik Sinar Mas Berau Coal. Laporan ini mencakup analisis kesalahan dan bias dalam pengukuran GNSS, penggunaan data dari Sistem Referensi Geospasial Indonesia (SRGI), serta hasil pengolahan data menggunakan aplikasi RTK Plot. Kesimpulan menunjukkan bahwa pengamatan dari stasiun SRGI Blora menghasilkan posisi yang akurat dengan visibilitas satelit yang baik dan konfigurasi geometri yang optimal.

Diunggah oleh

rumi
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

LAPORAN PRAKTIKUM

GLOBAL NAVIGATION SATELLITE SYSTEM ( GNSS )


ACARA II

Disusun oleh:
Rian Efendi
24302002

Dosen Pengampu:
Nurya Ramadhania, S.T., M.T.

Instruktur:
Gilang Restu Prakoso, [Link].T.
Muhammad Fadly Dani, [Link].

PROGRAM STUDI D-III SURVEI DAN PEMETAAN


POLITEKNIK SINAR MAS BERAU COAL
2025
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Global Navigation Satellite System (GNSS) merupakan sistem navigasi satelit yang digunakan
secara luas dalam penentuan posisi di permukaan bumi. GNSS terdiri atas beberapa sistem
satelit seperti GPS (Amerika Serikat), GLONASS (Rusia), Galileo (Eropa), dan BeiDou (Tiongkok).
Salah satu metode yang dikembangkan untuk meningkatkan ketelitian pengukuran posisi GNSS
adalah metode Real-Time Kinematic (RTK), yang mampu memberikan hasil dengan akurasi
hingga tingkat sentimeter melalui pemanfaatan data fase gelombang pembawa dan koreksi
diferensial antara stasiun referensi (base) dan stasiun pengamat (rover).

Di Indonesia, sistem referensi koordinat nasional yang digunakan adalah Sistem Referensi
Geospasial Indonesia (SRGI) yang dikelola oleh Badan Informasi Geospasial (BIG). Melalui
SRGI, BIG menyediakan layanan data GNSS seperti data RINEX dari stasiun CORS
(Continuously Operating Reference Station) yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Data ini
memungkinkan pengguna untuk melakukan pengolahan data GNSS secara post-processing
maupun real-time dengan hasil posisi yang mengacu pada kerangka referensi nasional SRGI.

Namun, dalam praktik pengukuran menggunakan GNSS, terutama metode RTK, terdapat
berbagai sumber kesalahan (errors) dan bias yang dapat mempengaruhi akurasi hasil
pengukuran. Kesalahan-kesalahan ini dapat berasal dari sistem satelit, kondisi atmosfer,
lingkungan sekitar, hingga peralatan penerima sinyal itu sendiri. Oleh karena itu, analisis
terhadap kesalahan dan bias pada data GNSS yang diolah menggunakan RTK menjadi sangat
penting, terutama untuk menjamin konsistensi hasil posisi terhadap referensi SRGI.

1.2 RUMUSAN MASALAH


1. Apa saja sumber kesalahan dan bias yang dapat mempengaruhi hasil pengukuran GNSS
dengan metode RTK?

2. Bagaimana cara menganalisis kesalahan dan bias pada data GNSS menggunakan aplikasi
RTK Plot dengan data dari SRGI?

3. Sejauh mana tingkat ketelitian hasil posisi GNSS dapat ditingkatkan dengan
memanfaatkan data referensi SRGI?

1.3 TUJUAN
1. Memahami prinsip dasar metode Real-Time Kinematic (RTK) dalam sistem GNSS.
2. Menganalisis dan mengidentifikasi jenis kesalahan serta bias yang terjadi pada
pengukuran GNSS.
3. Mengolah dan menampilkan hasil pengamatan GNSS menggunakan data dari SRGI
melalui perangkat lunak RTK Plot.
4. Menilai kualitas data dan tingkat akurasi hasil posisi berdasarkan analisis visual dari RTK
Plot.

BAB II
DASAR TEORI

1. Global Navigation Satellite System (GNSS)


Global Navigation Satellite System (GNSS) adalah sistem satelit yang menyediakan informasi
posisi, kecepatan, dan waktu secara global. GNSS mencakup beberapa sistem utama seperti GPS
(Amerika Serikat), GLONASS (Rusia), Galileo (Uni Eropa), dan BeiDou (Tiongkok). Prinsip
dasar GNSS adalah pengukuran jarak antara penerima (receiver) di permukaan bumi dan satelit
di orbit melalui sinyal radio yang dipancarkan oleh satelit.
Receiver GNSS menghitung posisi tiga dimensi (lintang, bujur, dan tinggi) berdasarkan waktu
tempuh sinyal dari beberapa satelit. Semakin banyak satelit yang digunakan, semakin baik
ketelitian dan stabilitas posisi yang diperoleh.
2. Sistem Referensi Geospasial Indonesia (SRGI)
Sistem Referensi Geospasial Indonesia (SRGI) merupakan sistem koordinat nasional yang
digunakan sebagai acuan tunggal dalam kegiatan survei dan pemetaan di Indonesia. SRGI
dikembangkan oleh Badan Informasi Geospasial (BIG) dan disesuaikan dengan sistem referensi
global International Terrestrial Reference Frame (ITRF).
Salah satu komponen utama SRGI adalah jaringan stasiun referensi GNSS permanen yang
disebut InaCORS (Indonesia Continuously Operating Reference Station). Melalui InaCORS,
pengguna dapat mengakses data observasi GNSS seperti format RINEX untuk keperluan
pengolahan data post-processing atau analisis diferensial seperti RTK.
Dengan adanya SRGI, semua hasil pengukuran GNSS di Indonesia dapat terhubung dalam satu
sistem referensi yang konsisten secara nasional maupun global.
3. Metode Real-Time Kinematic (RTK)
Real-Time Kinematic (RTK) merupakan metode peningkatan akurasi GNSS yang menggunakan
pengamatan fase gelombang pembawa dari sinyal satelit. RTK bekerja dengan konsep
diferensial, di mana satu penerima GNSS ditempatkan di lokasi dengan koordinat diketahui
(disebut base station) dan satu atau lebih penerima lainnya digunakan di lapangan (disebut
rover).
Base station menghitung perbedaan antara posisi sebenarnya dengan posisi hasil pengamatan
satelit, kemudian mengirimkan data koreksi ke rover melalui radio, internet, atau jaringan
komunikasi lainnya. Dengan menerima koreksi secara real-time, rover dapat menentukan posisi
dengan ketelitian hingga orde sentimeter.
Kelebihan RTK adalah kemampuannya memberikan hasil posisi yang sangat akurat dalam waktu
singkat, sehingga banyak digunakan pada survei topografi, pemetaan detail, pemantauan
deformasi, dan aplikasi geoteknik. Namun, akurasi RTK sangat bergantung pada kestabilan
sinyal, jarak antara base dan rover, serta kondisi lingkungan.
4. Kesalahan dan Bias pada GNSS
Meskipun GNSS memiliki ketelitian tinggi, hasil pengukuran tetap dipengaruhi oleh berbagai
sumber kesalahan dan bias. Kesalahan tersebut dapat bersifat sistematik (terjadi secara teratur)
atau acak (tidak menentu), dan dapat memengaruhi hasil posisi dalam berbagai tingkat ketelitian.
Secara umum, sumber-sumber kesalahan GNSS meliputi:
a. Kesalahan Orbit Satelit
Kesalahan orbit terjadi ketika posisi satelit yang digunakan dalam perhitungan tidak sesuai
dengan posisi orbit sebenarnya. Kesalahan ini dapat disebabkan oleh pengaruh gravitasi bumi
yang tidak seragam, tarikan matahari dan bulan, serta kesalahan dalam prediksi lintasan satelit.
Meskipun orbit satelit dikoreksi secara berkala, kesalahan kecil tetap dapat memengaruhi hasil
posisi pengguna.
b. Kesalahan Jam Satelit dan Receiver
Setiap satelit memiliki jam atom yang sangat presisi, sedangkan receiver menggunakan jam
kristal yang kurang stabil. Perbedaan sinkronisasi waktu antara satelit dan penerima
menyebabkan kesalahan dalam pengukuran jarak (pseudorange). Kesalahan ini dikompensasi
dengan perhitungan waktu sistem, namun tetap menjadi sumber bias yang signifikan.
c. Delay Ionosfer dan Troposfer
 Ionospheric Delay terjadi karena sinyal GNSS melewati lapisan ionosfer yang
mengandung partikel bermuatan listrik, menyebabkan sinyal mengalami pembiasan dan
penundaan.
 Tropospheric Delay disebabkan oleh lapisan atmosfer bawah yang mengandung uap air
dan gas, yang memperlambat propagasi sinyal.
Kedua delay ini sangat dipengaruhi oleh kondisi atmosfer, waktu pengamatan, dan lokasi
geografis, terutama di wilayah tropis seperti Indonesia yang memiliki variasi ionosfer tinggi.
d. Multipath Error
Multipath terjadi ketika sinyal GNSS dipantulkan oleh objek di sekitar penerima seperti
bangunan, pepohonan, atau permukaan air. Akibatnya, receiver menerima sinyal langsung dan
pantulan sekaligus, menyebabkan pengukuran jarak menjadi lebih panjang dari sebenarnya.
Kesalahan multipath sulit dihindari dan sering kali menjadi penyebab utama fluktuasi posisi pada
lingkungan urban atau tertutup.
e. Receiver Noise dan Hardware Bias
Perangkat penerima GNSS memiliki keterbatasan dalam menangkap dan mengolah sinyal, yang
menimbulkan noise pada hasil pengukuran. Selain itu, adanya perbedaan karakteristik antena,
panjang kabel, dan kualitas perangkat menyebabkan hardware bias, yang perlu dikalibrasi agar
hasil pengukuran tetap konsisten.
f. Geometri Satelit (DOP)
Distribusi satelit terhadap posisi pengamat memengaruhi kualitas hasil posisi. Parameter ini
dikenal sebagai Dilution of Precision (DOP). Nilai DOP yang rendah menunjukkan konfigurasi
satelit yang baik dan menghasilkan posisi yang lebih akurat. Sebaliknya, nilai DOP tinggi
menandakan geometri satelit yang buruk, misalnya ketika satelit terkumpul pada satu sisi langit.
5. Analisis dengan RTK Plot
RTK Plot adalah perangkat lunak yang digunakan untuk memvisualisasikan hasil pengolahan
data GNSS, seperti lintasan rover, posisi fix/float, serta parameter kualitas pengamatan (seperti
PDOP, residu, dan baseline). Dengan menggunakan data dari SRGI, RTK Plot dapat membantu
menganalisis tingkat akurasi pengamatan, mendeteksi kesalahan sistematik, serta
mengidentifikasi penyebab bias yang muncul selama pengukuran.
Melalui visualisasi RTK Plot, pengguna dapat menilai stabilitas solusi posisi (misalnya fixed,
float, atau single), memeriksa distribusi satelit, serta membandingkan hasil posisi terhadap
referensi SRGI.

BAB III
METODIOLOGI
3.1 LOKASI PRAKTIKUM
Waktu/tanggal: kamis,16-10-2025
Jam :08.00-sampai selesai
Lokasi : LAB 1 politeknis sinarmas berau coal

3.2 ALAT DAN BAHAN


1. pc/lebtop
2. akun srgi dan datanya
3. rtk plot

3.3 LANGKAH KERJA


1. pertama-tama membuka google chrome>kemudian ketik srgi>tampilaan akan berubah
menjadi seperti di bawa.
2. kemudian lanjut lagi memasukan akun sebelum menginstal data>jika sudah memasuka
akun>lanjut mengklik jaringan control geodesi>kemudian tampilan akan berubah jadi peta>terus
klik stasiun cros untuk melihat stasiun satelit yang ada di Indonesia.

3. lanjut memilih stasiun dan saya memilih stasiun nya di daerah jawa yaitu di blora>kemudian
klik detail untuk menginstal datanya>kemudian pilih hari yang mau di ambil data satelitnya>jika
sudah pilih klik (lanjut ke keranjang)>lalu install>lalu akan muncul pemberitahuan datanya mau
tentang apa, kita pilih saja untuk pemetaan, kemudian oke>lalu akan terinstal dan tunggu sampai
selesai

4. data yang sudah di install tadi akan masuk ke dalam file>kemudian data yang sudah di instal
di extrackt all>jika sudah akan ada 2 data yaitu nav dan rinex.
5. kemudian buka app rtk plot>ke file kemudian pilih open obs data>kemudian masukan file
navnya

6. lanjut masukan data rinexnya> dengan klik file lalu pilih open nav data>masukan data
rinex>jika sudah semua data di masukan kemudian tinggal memilih satelitnya.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 HASIL SET VIS DARI G07 SAMPAI G11


4.2 HASIL SNR/MP/EL G07 SAMPAI G11
4.3 HASIL SKYPLOT G07 SAMPAI G11

4.4 PEMBAHASAN
Pengolahan data GNSS dilakukan menggunakan aplikasi RTK Plot dengan data referensi dari
Sistem Referensi Geospasial Indonesia (SRGI) yang diunduh melalui stasiun InaCORS Blora,
Jawa Tengah. Data tersebut digunakan untuk menganalisis kualitas sinyal dan akurasi posisi dari
satelit GPS dengan kode G07 hingga G11, termasuk G10 yang memiliki peran penting dalam
kestabilan hasil pengamatan. Analisis meliputi hasil Set Vis (Visibility Set), SNR (Signal to
Noise Ratio), Multipath (MP), Elevation (EL), serta Skyplot.
1. Analisis Set Vis (Visibility Set) G07–G11
Hasil Set Vis menggambarkan lama dan konsistensi keterlihatan masing-masing satelit selama
periode pangamatan. Berdasarkan data dari stasiun SRGI Blora:
Satelit G07, G08, G09, G10, dan G11 menunjukkan waktu visibilitas yang cukup panjang dan
stabil.
Satelit G10 memiliki periode visibilitas paling konstan, dengan posisi elevasi tinggi di langit,
sehingga sinyalnya kuat dan stabil. Satelit ini berkontribusi besar terhadap kestabilan hasil solusi
posisi “fixed”.
Satelit G07 dan G09 kadang menunjukkan fluktuasi visibilitas kecil akibat pengaruh horizon
rendah atau kondisi atmosfer di sekitar wilayah Blora.
Dari hasil Set Vis, dapat disimpulkan bahwa seluruh satelit yang diamati memiliki kondisi
keterlihatan yang baik selama observasi. Kombinasi satelit yang stabil dari stasiun Blora ini
menghasilkan geometri satelit (DOP) yang baik, sehingga akurasi hasil posisi meningkat.
2. Analisis Skyplot G07–G11 (Termasuk G10)
Hasil Skyplot menunjukkan persebaran satelit di langit selama pengamatan dari stasiun Blora.
Distribusi satelit cukup merata di seluruh azimuth (0°–360°), yang menandakan konfigurasi
geometri baik dan menghasilkan nilai DOP rendah.
Satelit G10, yang sebelumnya belum dicantumkan, berada pada posisi elevasi tinggi (di atas 60°)
dan memberikan sinyal yang kuat serta stabil. Kondisi ini sangat ideal karena sinyal pada elevasi
tinggi lebih kecil kemungkinan terkena efek multipath. Dengan demikian, satelit G10 menjadi
salah satu satelit dominan yang meningkatkan kestabilan hasil RTK.
3. Analisis SNR, Multipath, dan Elevation
Nilai SNR (Signal to Noise Ratio) dari seluruh satelit berada di kisaran 40–50 dBHz,
menunjukkan sinyal kuat dengan gangguan rendah. Grafik Multipath (MP) menampilkan
fluktuasi kecil, terutama pada satelit G08, G10, dan G11, yang menandakan kondisi lingkungan
sekitar stasiun Blora relatif bersih dari pemantulan sinyal oleh bangunan atau pepohonan.
Sedangkan pada grafik Elevation (EL), satelit dengan elevasi tinggi seperti G10 dan G11
memberikan sinyal paling stabil, sementara G07 dan G09 kadang terpengaruh delay atmosfer
akibat posisi elevasi rendah.
4. Interpretasi Kualitas Data
Secara keseluruhan, hasil RTK Plot dari data SRGI Blora menunjukkan sebagian besar solusi
posisi berada dalam status “Fixed”, menandakan bahwa proses ambiguitas integer telah berhasil
diselesaikan dengan baik. Ketelitian hasil posisi mencapai orde sentimeter.
Fluktuasi kecil yang muncul pada sebagian waktu disebabkan oleh variasi jumlah satelit sesaat
atau kondisi atmosfer, namun tidak memengaruhi hasil utama secara [Link] antara
hasil Set Vis dan Skyplot G07–G11 (termasuk G10) memperlihatkan bahwa kualitas pengamatan
dari stasiun SRGI Blora sangat baik. Kondisi sinyal kuat, geometri satelit bagus, serta efek
multipath rendah berkontribusi terhadap hasil posisi yang presisi dan stabil.
BAB V
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil pengolahan data GNSS dari stasiun SRGI Blora menggunakan metode Real-
Time Kinematic (RTK) dan analisis visual melalui RTK Plot, diperoleh beberapa kesimpulan
sebagai berikut:
Hasil Set Vis G07–G11 menunjukkan seluruh satelit memiliki visibilitas yang baik, dengan
satelit G10 memiliki visibilitas paling stabil dan dominan, berperan besar dalam meningkatkan
akurasi posisi.
Hasil Skyplot memperlihatkan persebaran satelit merata di seluruh arah azimuth, yang
menunjukkan konfigurasi geometri satelit yang baik dan menghasilkan nilai DOP rendah. Satelit
G10 menempati posisi tinggi di langit dan memberikan sinyal paling kuat serta stabil.
Nilai SNR rata-rata tinggi (40–50 dBHz) serta Multipath rendah menunjukkan bahwa
pengamatan di wilayah Blora bebas dari gangguan pantulan dan memiliki kualitas sinyal sangat
baik.
Hasil solusi RTK didominasi oleh status “Fixed”, menandakan ketelitian posisi mencapai tingkat
sentimeter.
Dengan menggunakan data dari SRGI Blora, pengamatan GNSS dapat dianalisis secara detail
untuk memahami kesalahan dan bias sinyal, serta meningkatkan kualitas hasil posisi dengan
efisiensi tinggi.
DAFTAR PUSTAKA
Abidin, H. Z. (2007). Penentuan Posisi dengan GPS dan Aplikasinya. Jakarta: PT Pradnya
Paramita.
Hofmann-Wellenhof, B., Lichtenegger, H., & Collins, J. (2001). GPS: Theory and Practice. New
York: Springer-Verlag.
Misra, P., & Enge, P. (2012). Global Positioning System: Signals, Measurements, and
Performance. Ganga-Jamuna Press.
Badan Informasi Geospasial (BIG). (2013). Pedoman Teknis Sistem Referensi Geospasial
Indonesia (SRGI). Cibinong: BIG.
Leick, A., Rapoport, L., & Tatarnikov, D. (2015). GPS Satellite Surveying (4th Edition). New
Jersey: John Wiley & Sons.
RTKLIB Manual. (2021). RTKLIB: An Open Source Program Package for GNSS Positioning.

Anda mungkin juga menyukai