0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan2 halaman

Judul: Lampu Terakhir Di Ujung Dermaga: Dksdkas

Cerita ini mengikuti Arman yang menunggu ayahnya di dermaga setelah perahu ayahnya hilang tiga tahun lalu. Setiap malam, ia menyalakan lampu sebagai tanda harapan bahwa ayahnya akan kembali. Suatu malam, ia melihat perahu tua mendekat dan menemukan ayahnya kembali, membuktikan bahwa harapan dan cinta dapat mengatasi kesedihan.

Diunggah oleh

senziblezamasi
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan2 halaman

Judul: Lampu Terakhir Di Ujung Dermaga: Dksdkas

Cerita ini mengikuti Arman yang menunggu ayahnya di dermaga setelah perahu ayahnya hilang tiga tahun lalu. Setiap malam, ia menyalakan lampu sebagai tanda harapan bahwa ayahnya akan kembali. Suatu malam, ia melihat perahu tua mendekat dan menemukan ayahnya kembali, membuktikan bahwa harapan dan cinta dapat mengatasi kesedihan.

Diunggah oleh

senziblezamasi
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Dksdkas

Judul: Lampu Terakhir di Ujung Dermaga

Angin malam berhembus pelan di sepanjang dermaga kecil itu. Air laut berkilau memantulkan
cahaya lampu yang tergantung di tiang kayu tua. Di ujung dermaga, Arman duduk sendirian,
memandang laut yang gelap seolah mencari sesuatu di balik gelombang.

Setiap malam ia datang ke tempat itu. Duduk di papan kayu yang mulai lapuk, mendengar suara
air yang memukul tiang-tiang dermaga, dan menunggu.

Sudah tiga tahun sejak perahu kecil milik ayahnya hilang di tengah badai. Orang-orang desa
mengatakan laut telah menelan perahu itu. Mereka juga bilang Arman harus berhenti berharap.

Namun Arman tidak pernah benar-benar percaya.

Ia masih ingat malam terakhir sebelum ayahnya berangkat melaut. Angin juga berhembus seperti
malam ini, membawa aroma asin yang sama. Ayahnya menepuk bahunya sambil tersenyum.

“Laut kadang membawa orang pergi,” katanya, “tapi laut juga tahu jalan pulang.”

Sejak saat itu Arman selalu datang ke dermaga, seolah-olah jika ia tetap di sana, ayahnya akan
menemukan jalan kembali.

Lampu kecil di ujung dermaga selalu ia nyalakan setiap malam. Lampu itu sederhana, hanya
bohlam kuning yang digantung dengan kabel panjang. Tapi bagi Arman, lampu itu seperti tanda.

Seperti pesan yang dikirimkan ke tengah laut.

“Ayah, aku di sini.”

Malam semakin larut. Ombak bergerak pelan, seperti napas panjang dari laut yang tak pernah
tidur. Beberapa perahu nelayan lain sudah kembali sejak lama. Desa di belakangnya mulai sepi.

Arman hampir berdiri untuk pulang ketika ia melihat sesuatu di kejauhan.

Sebuah bayangan kecil bergerak di antara gelombang.

Ia menyipitkan mata. Bayangan itu semakin jelas. Sebuah perahu kayu tua, bergerak pelan
menuju dermaga.

Jantung Arman berdetak cepat.


Perahu itu berhenti beberapa meter dari ujung dermaga. Seorang lelaki berdiri di dalamnya,
tubuhnya kurus, wajahnya tertutup bayangan lampu.

“Arman?” suara itu terdengar serak, tapi sangat familiar.

Arman membeku. Ia mengenali suara itu bahkan sebelum cahaya lampu menyentuh wajah lelaki
tersebut.

“Ayah?”

Lelaki itu tersenyum lelah.

“Ternyata lampunya masih menyala.”

Arman berlari menyusuri dermaga, hampir terpeleset di papan kayu yang licin. Tanpa
memikirkan apa pun, ia melompat ke perahu dan memeluk ayahnya erat-erat.

Tubuh lelaki itu dingin dan kurus, tapi nyata.

Sangat nyata.

“Ayah pulang,” bisik Arman dengan suara gemetar.

Ayahnya menepuk punggungnya perlahan.

“Karena ada yang menunggu.”

Di atas mereka, lampu kecil di ujung dermaga tetap menyala, memantulkan cahaya hangat ke
permukaan laut yang tenang. Seolah laut sendiri tahu bahwa malam itu, seseorang akhirnya
menemukan jalan pulang.

Anda mungkin juga menyukai