SIPNOSIS
Nama : Lisman Sandra Dewi Gowasa
Nim : 223010303078
Jurusan : Akuntansi
AKUNTABILITAS ALOKASI DANA DESA, KEBIJAKAN, DAN
KELEMBAGAAN DESA TERHADAP KESEJAHTERAAN
MASYARAKAT (STUDI EMPIRIS PADA BEBERAPA DESA DI
KABUPATEN PULANG PISAU)
A. Latar Belakang
Tujuan utama dari pembangunan sebuah Negara adalah untuk
mengsejahterakan masyarakat, sama seperti Negara Republik Indonesia.
Pemerintah Indonesia terus mengupayakan pelaksaan pembangunan nasional
baik itu pembangunan di setiap daerah, perkotaan hingga di pedesaan. Maka
dari itu, terdapat unsur pemerataan pembangunan yang langsung berdampak
dalam kepentingan dan kesejahteraan masyarakat.
Kesejahteraan masyarakat adalah kondisi di mana masyarakat dapat
memenuhi kebutuhan material, spiritual, dan sosialnya untuk dapat hidup
layak dan berkembang secara optimal. Pemerintah mempunyai tanggungjawab
agar kebutuhan masyarakat terpenuhi, contohnya seperti Kesehatan,
Pendidikan, ekonomi (pendapatan dan pekerjaan), sarana dan prasarana
umum. jadi Mengenai peran pemerintahan desa dalam mengelola keuangan
desa harus di ungkapkan secara tegas dan jelas. Sehingga masyarakat
mengetahui bagaiamana pengelolaan alokasi dana desa, karena pengelolaan
alokasi dana desa yang transparan dan akuntabilitas di tampilkan kepada
publik.
Akuntabilitas dapat diartikan sebagai bentuk tanggung jawab dalam
menjalankan misi organisasi untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan
melalui media pertanggungjawaban yang dilakukan secara berkala (Wida et
all, 2017). Transparansi merupakan salah satu unsur dalam akuntabilitas,
transparansi mengacu pada keterbukaan pemerintah dalam mengungkapkan
informasi mengenai hal-hal yang memerlukan perhatian dalam
menjalankannya.
Alokasi dana desa (ADD) merupakan bagian dari keuangan desa yang
diperoleh dari bagi hasil pajak daerah dan bagian dari dana perimbangan
keuangan pusat dan daerah yang diterima oleh kabupaten/kota untuk desa
yang dibagikan secara proporsional. Menurut Undang-Undang Nomor 6
Tahun 2004, tentang desa menjelaskan bahwa desa akan mendapatakan dana
sebesar 10% dari anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN), dana yang
didapatkan ini di namakan dana desa. Berdasarkan peraturan pemerintah
Nomor 8 tahun 2016 disebutkan bahwa dana desa adalah dana yang
bersumber dari anggaran pendapatan dan belanja negara yang diperuntukan
bagi desa yang ditransfer melalui anggran pendapatan dan belanja daerah
kebupaten/kota dan digunakan untuk membiayai penyelenggaraan
pemerintahan, pelaksanaan pembangunan, pembinaan kemasyarakatan,
pemberdayaan dan kesejahteraan masyarakat (Fahri, 2017).
Kebijakan pemerintah desa merupakan salah satu produk hukum karena
setiap pemerintah desa secara hukumpun memiliki wewenang
[Link] berskala kecil dan lokal yang mencangkup wilayah
administrasi desa itu sendiri. Secara undang-undang, kebijakan formal di level
desa tertuah dalam bentuk peraturan desa. Meskipun demikian desa memiliki
hak dan wewenang berpartisipasi dalam menentukan arah pembangunan
nasional secara umum serta pembangunan desa sendiri secara khusus.
Penelitian mengenai kebijakan desa pernah dilakukan oleh Justita (2016) yang
menyatakan bahwa kebijakan desa berpengaruh terhadap kesejahteraan
masyarakat di desa Gubugklakah Kecamatan Poncokusumo Kabupaten
Malang.
Sandhi (2015) menyebutkan bahwa Lembaga kemasyarakatan adalah
tempat mayarakat berpartisipasi dan menyalurkan aspirasinya dalam
perencanaan, pelaksanaan dan pengendalian pembangunan yang bertumpu
pada masyarakat. Dengan tujuan Untuk meningkatkan kemampuan
masyarakat sebagai Sumber Daya Manusia (SDM) untuk mengolah dan
memanfaatkan potensi Sumber Daya Alam (SDA) yang ada. Menurut Robert
Mac Iver dan Charles H. Page dalam Soekanto (1990:218), Lembaga
kemasyarakatan adalah tata cara atau prosedur yang telah diciptakan untuk
mengatur hubungan antar-manusia yang berkelompok dalam suatu kelompok
kemasyarakatan yang dinamakannya asosiasi. Untuk dapat membantu
pemerintah desa dalam aspek perencanaan, pelaksanaan dan pengendalian
pembangunan yang bertumpu pada masyarakat (Ampera, 2016).
Meskipun alokasi Dana Desa memiliki peran strategis dalam mendorong
pembangunan dan kesejahteraan masyarakat, kenyataannya implementasi
pengelolaannya di Kabupaten Pulang Pisau masih menghadapi berbagai
permasalahan. Gap masalah yang muncul adalah kurang optimalnya
akuntabilitas dan transparansi pengelolaan dana desa yang berdampak pada
rendahnya partisipasi masyarakat dan ketimpangan pemanfaatan dana. Sistem
pengendalian internal yang belum memadai serta kelembagaan desa yang
belum sepenuhnya siap menghadapi tuntutan pengelolaan keuangan modern
menyebabkan potensi penyimpangan dan ketidakefisienan program bertambah
besar. Fenomena ini tercermin dari adanya laporan pertanggungjawaban yang
sudah ada namun belum didukung oleh keterbukaan informasi dan
pengawasan yang efektif, sehingga manfaat Dana Desa belum sepenuhnya
dirasakan secara adil untuk pembangunan infrastruktur dan peningkatan
kesejahteraan masyarakat secara menyeluruh. Oleh karena itu, penelitian ini
penting untuk mengkaji sejauh mana akuntabilitas, kebijakan, dan
kelembagaan desa berperan dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat
melalui pengelolaan Dana Desa yang lebih transparan, partisipatif, dan efektif.
B. Rumusan Masalah
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh rendahnya tingkat akuntabilitas dan
transparansi dalam pengelolaan alokasi Dana Desa di Kabupaten Pulang
Pisau. Masalah utama yang diidentifikasi adalah:
1. Bagaimana tingkat akuntabilitas dalam pengelolaan Alokasi Dana Desa
(ADD) di beberapa desa di Kabupaten Pulang Pisau?
2. Bagaimana kebijakan pemerintah desa dalam mengoptimalkan
penggunaan dana desa untuk kesejahteraan masyarakat?
3. Bagaimana peran kelembagaan desa dalam mendukung transparansi dan
efektivitas pengelolaan dana desa?
4. Sejauh mana akuntabilitas, kebijakan, dan kelembagaan desa berpengaruh
terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat?
C. Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk:
1. Menganalisis pengaruh akuntabilitas pengelolaan alokasi dana desa
terhadap kesejahteraan masyarakat.
2. Mengkaji peran kebijakan desa dalam menentukan arah pembangunan
yang berorientasi pada kepentingan publik.
3. Mengevaluasi kontribusi kelembagaan desa dalam meningkatkan
partisipasi dan transparansi masyarakat.
4. Menemukan hubungan empiris antara akuntabilitas, kebijakan, dan
kelembagaan desa terhadap kesejahteraan masyarakat di Kabupaten
Pulang [Link]
Teori Pendukung
1. Teori good governace
Teori Good Governance atau tata kelola pemerintahan yang baik
merupakan konsep yang menekankan pentingnya prinsip-prinsip
transparansi, akuntabilitas, partisipasi, efektivitas, efisiensi, dan tanggung
jawab dalam pengelolaan keuangan publik serta pembangunan
masyarakat. Prinsip ini menegaskan bahwa setiap kegiatan pemerintahan,
termasuk pengelolaan Dana Desa, harus dilakukan secara terbuka,
bertanggung jawab, dan berorientasi pada kepentingan publik. Menurut
Purwanti (2022), penerapan prinsip Good Governance dalam sistem
pemerintahan lokal dapat meningkatkan kualitas pelayanan publik,
memperkuat akuntabilitas pemerintah, serta menumbuhkan kepercayaan
masyarakat terhadap institusi pemerintahan. Penerapan prinsip ini sangat
penting untuk mendorong efektivitas dan efisiensi penggunaan sumber
daya publik sehingga hasil pembangunan dapat dirasakan oleh seluruh
lapisan masyarakat.
Dalam konteks penelitian ini, teori Good Governance relevan
karena pengelolaan Dana Desa membutuhkan sistem yang transparan,
partisipatif, dan akuntabel agar tujuan kesejahteraan masyarakat dapat
tercapai. Akuntabilitas publik dan mekanisme pengawasan yang jelas akan
membantu mencegah penyimpangan penggunaan dana serta memperkuat
efektivitas kebijakan desa. Saptayuda (2024) menegaskan bahwa tata
kelola pemerintahan desa yang baik menjadi faktor utama yang
menentukan keberhasilan implementasi kebijakan alokasi Dana Desa
dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat di tingkat lokal. Dengan
kata lain, semakin tinggi penerapan prinsip-prinsip Good Governance,
maka semakin optimal pula hasil pembangunan dan kesejahteraan
masyarakat desa.
2. Teori Institusional (Institutional Theory)
Teori Institusional menjelaskan bahwa perilaku organisasi dan
implementasi kebijakan publik sangat dipengaruhi oleh struktur
kelembagaan, norma sosial, serta peraturan formal dan informal yang
berlaku. Kelembagaan berperan penting dalam menciptakan keteraturan,
stabilitas, dan legitimasi dalam penyelenggaraan pemerintahan.
Purnamasari et al. (2024) menyatakan bahwa efektivitas akuntabilitas
kinerja pemerintahan desa sangat bergantung pada kekuatan institusi dan
sistem pengendalian internal yang dimiliki. Institusi yang kuat akan
membentuk perilaku organisasi yang lebih transparan, efisien, dan
bertanggung jawab dalam pengelolaan keuangan publik, termasuk dalam
konteks Dana Desa.
Dalam penelitian ini, teori Institusional digunakan untuk
menjelaskan bagaimana kelembagaan desa dan kebijakan lokal berperan
penting dalam menciptakan akuntabilitas serta meningkatkan partisipasi
masyarakat. Kelembagaan desa yang efektif akan mendorong masyarakat
untuk ikut terlibat dalam proses perencanaan, pelaksanaan, dan
pengawasan pembangunan desa. Utama dan Arieffiani (2025) menjelaskan
bahwa model tata kelola desa berbasis kearifan lokal yang memperkuat
peran lembaga kemasyarakatan mampu membangun sinergi antara
pemerintah desa dan masyarakat. Kelembagaan desa yang kokoh dan
berfungsi baik dapat menjadi fondasi kuat bagi pelaksanaan pembangunan
desa yang berkelanjutan serta peningkatan kesejahteraan masyarakat
secara menyeluruh.
3. Kerangka Teoritis: Hubungan Variabel
Berdasarkan teori Good Governance dan teori Institusional, penelitian ini
membangun kerangka konseptual yang menghubungkan tiga variabel
independen yaitu akuntabilitas, kebijakan desa, dan kelembagaan desa
terhadap kesejahteraan masyarakat. Akuntabilitas dalam pengelolaan Dana
Desa mencakup transparansi, pertanggungjawaban, dan pengawasan
publik atas setiap kegiatan yang menggunakan dana publik. Kebijakan
desa berperan sebagai instrumen formal dalam mengatur arah, prioritas,
dan pelaksanaan pembangunan desa, sedangkan kelembagaan desa
berfungsi sebagai sarana partisipasi masyarakat dalam setiap tahapan
pembangunan. Sinergi antara ketiga faktor ini akan menghasilkan sistem
pengelolaan Dana Desa yang transparan, efektif, dan berorientasi pada
kesejahteraan masyarakat.
Kode Hipotesis Rumusan Hipotesis
Akuntabilitas pengelolaan Dana Desa
H1 berpengaruh positif terhadap kesejahteraan
masyarakat.
Kebijakan desa berpengaruh positif terhadap
H2
kesejahteraan masyarakat.
Kelembagaan desa berpengaruh positif terhadap
H3
kesejahteraan masyarakat.
Akuntabilitas, kebijakan, dan kelembagaan desa
H4 secara simultan berpengaruh positif terhadap
kesejahteraan masyarakat.