0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
9 tayangan7 halaman

Dasd)

Skripsi ini membahas persepsi tokoh utama terhadap lingkungan alam dalam kumpulan cerpen 'Buntung' untuk menyadarkan pembaca tentang pentingnya menjaga dan melestarikan lingkungan. Penelitian ini menggunakan analisis deskriptif kualitatif terhadap 10 cerpen yang menggambarkan tindakan dan pemikiran tokoh utama mengenai isu-isu ekologi. Hasilnya menunjukkan bahwa tokoh utama memiliki sikap menolak aktivitas merusak lingkungan dan mencemaskan dampak kerusakan alam terhadap manusia dan lingkungan itu sendiri.

Diunggah oleh

veneoliandeskil
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
9 tayangan7 halaman

Dasd)

Skripsi ini membahas persepsi tokoh utama terhadap lingkungan alam dalam kumpulan cerpen 'Buntung' untuk menyadarkan pembaca tentang pentingnya menjaga dan melestarikan lingkungan. Penelitian ini menggunakan analisis deskriptif kualitatif terhadap 10 cerpen yang menggambarkan tindakan dan pemikiran tokoh utama mengenai isu-isu ekologi. Hasilnya menunjukkan bahwa tokoh utama memiliki sikap menolak aktivitas merusak lingkungan dan mencemaskan dampak kerusakan alam terhadap manusia dan lingkungan itu sendiri.

Diunggah oleh

veneoliandeskil
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

PERSEPSI TOKOH UTAMA TERHADAP LINGKUNGAN ALAM

DALAM KUMPULAN CERPEN BUNTUNG

SKRIPSI

OLEH

DILA MARDIANA

I1B113015

PROGRAM STUDI SASTRA INDONESIA

FAKULTAS ILMU BUDAYA

UNIVERSITAS JAMBI

2018
ABSTRAK

Mardiana, Dila. 2018. Persepsi Tokoh Utama terhadap Lingkungan Alam dalam
Kumpulan Cerpen Buntung. Skripsi, Program Studi Sastra Indonesia,
FIB Universitas Jambi, Pembimbing: (I) Dr. Warni, [Link], (II) Dwi
Raharyoso, S.S.,M.A.

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan persepsi tokoh utama


terhadap lingkungan alam dalam kumpulan cerpen Buntung. Penelitian ini
diharapkan dapat menyadarkan pembaca bahwasanya lingkungan alam harus
dijaga dan dilestarikan keasriannya. Selain itu, penelitian ini juga merupakan
wujud dari kepedulian krisis ekologi yang sedang terjadi.

Sumber data dalam penelitian ini adalah kumpulan cerpen Buntung yang
diterbitkan oleh Salim Media, tahun 2016. Cerpen yang menjadi data dalam
penelitian ini berjumlah 10 cerpen, yakni (1) “Buntung” karya Tommy H
Pandiangan; (2) “Bungin” karya Titas Suwanda; (3) “Bahasa Alam” karya
Ripaldi; (4) “Rahasia-rahasia Tuk Tamol” karya Asro Al Muthawy; (5) “Rumah
Rodiah” karya Winda Diana P.; (6) “Dusun Pabrik” karya Riana Auza P.; (7)
“Cadar Derita” karya Wiwik Rahmawati; (8) “Mata Pohon” karya Khairul Pajri;
(9) “Merentak” karya Febrianiko S.; (10) “Makhluk Jadi-jadian” karya Agung
Gunawan. Teknik yang digunakan dalam mengumpulkan data adalah teknik studi
pustaka, dengan cara membaca dan mencatat. Teknik analisis data yang
digunakan adalah deskriptif kualitatif. Teknik analisis tersebut berhubungan
dengan (1) membaca dan menelaah; (2) kategorisasi; (3) penyajian data dalam
bentuk tabel; (4) dianalisis, disimpulkan.

Hasil penelitian yang diperoleh persepsi tokoh utama terhadap lingkungan


alam dalam kumpulan cerpen Buntung, terbagi atas dua yaitu outer perception
(fisik) dan inner perception (batin). Outer perception tokoh utama adalah
tindakan tokoh yang mencegah atau menolak pembalakan hutan, pembakaran
hutan, pencemaran sungai, pencemaran udara dan lahan tambang. Meskipun
aktivitas tersebut telah dilegalkan, tetapi tokoh utama tetap menolak atau
melarang (mengharamkan) aktivitas tersebut. Inner perception tokoh utama
adalah pemikiran tokoh yang mencemaskan dampak dari kerusakan alam yang
dapat berakibat buruk terhadap manusia (tokoh) dan alam itu sendiri.

Kata kunci: Persepsi, Tokoh Utama, Ekologi Sastra, Kumpulan Cerpen


BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Karya sastra sebagai sebuah medium dalam menyampaikan gagasan atau

ide-ide, yang dirangkai semenarik mungkin sehingga memunculkan nilai estetika.

Karya sastra yang dihasilkan dari rangkaian gagasan atau ide-ide tersebut, dapat

berupa novel, cerpen maupun puisi. Karya sastra yang hadir untuk dibaca, bukan

hanya sebagai perlipur lara melainkan menitipkan pesan, permasalahan atau isu-

isu mutakhir yang ingin disuarakan.

Dewasa ini, isu-isu mutakhir sudah mulai disuarakan dalam karya sastra.

seperti halnya dengan isu-isu tentang lingkungan yang sudah mengglobal.

Lingkungan yang memiliki kontak langsung dengan manusia menjadi sebuah

jembatan oleh sastrawan untuk menyampaikan pesan ataupun amanat. Karya

sastra yang menyuarakan isu-isu tentang lingkungan tersebut, lahir karena

sastrawan sebagai makhluk hidup (manusia), aktif, dan berpikir. Maka dari itu,

hubungan manusia begitu dekat dengan lingkungan.

Dalam karya sastra, pengarang merupakan ujung tombak dari karya yang

dibuatnya. Ia berkuasa penuh atas semua isi karya tersebut. Peristiwa yang dialami

pengarang ataupun yang dilihat oleh indranya, diimplementasikan dalam karyanya

dan tidak lepas dari interaksinya dengan lingkungan. Dengan banyaknya

permasalahan yang terjadi di lingkungan, khususnya permasalahan tentang alam


seperti pembalakan hutan, pencemaran sungai dan masalah lainnya, yang dapat

dijadikan inspirasi dalam berkarya.

Sejak awal, alam ekologis telah menjadi bagian dari sastra. Antara alam

dan sastra saling berhubungan. Sebagai contoh, lahirnya sebuah puisi yang

bertemakan tentang alam yang berjudul Pohon Pisang karya Anandaokvi.

Munculnya karya sastra dengan tema lingkungan alam, memberikan sumbangan

konsep ekokritik untuk membedah karya tersebut. Puisi ini memuat pesan ataupun

amanat yang ingin disampaikan oleh si pengarang, terhadap apa yang dialami

atau yang dirasakan indranya. Selain itu, Ahmad Tohari juga menulis cerpen

tentang lingkungan alam khususnya alam di Kalimantan. Karya sastra yang

muncul bertemakan alam ini, bukan hanya sebagai karya yang untuk dinikmati,

tetapi karya seperti ini muncul untuk menyadarkan manusia agar lebih

memperhatikan lingkungan sekitar.

Wellek dan Werren (1989:126-127) berpendapat bahwa melalui para

sastrawan, karya sastra diciptakan seperti cermin bagi realitas yang proses

kreasinya digerakkan oleh faktor sosial, iklim dan biologis. Peneliti melihat, telah

adanya kesadaran atau kepedulian terhadap alam di mata penulis jambi. Apalagi,

dengan terbitnya cerpen Buntung ini, menambah keyakinan peneliti terhadap dugaan

tersebut. Fenomena alam yang dihadirkan dalam karya mereka merupakan

cerminan permasalahan fenomena alam Jambi.

Darurat lingkungan atau ekologi yang sedang mewabah di Indonesia

khususnya di Jambi sudah seringkali menjadi berita yang ditayangkan di media.

Seperti adanya banjir di Kabupaten Batanghari, kebakaran hutan dan lainnya.

Selain itu, pencemaran sungai juga terjadi di Jambi. Sumber-sumber air bersih
yang dulu konon digunakan untuk mendukung kehidupan dan kebudayaan mulai

hancur. Ini menjadi sebuah bencana. Sungai Batanghari yang keruh dan tidak bisa

dikonsumsi oleh warga sekitar. Penulis lokal yang peduli atau “gelisah”,

menyuarakan persoalan yang penting ini.

Misalnya, menulis sebuah karya sastra yang bertemakan lingkungan untuk

kemudian dibaca publik khususnya masyarakat Jambi sendiri. Apabila kerusakan

lingkungan terus-menerus terjadi, maka aktivitas kebudayaan atau tradisi yang

melibatkan alam akan hilang. Seperti, hukum-hukum adat, mitos, lokalitas, dan

nilai-nilai pengetahuan tentang alam yang sudah termasuk dalam tradisi atau

kebudayaan. Kebudayaan atau tradisi inilah yang nantinya akan diwariskan pada

generasi penerus. Di sinilah, sastra memberikan kontribusi terutama bagi Jambi,

dengan adanya karya ini diharapkan sedikit banyak mampu menyadarkan

masyarakat agar peduli akan lingkungan. selain itu, dengan hadirnya sebuah karya

sastra khususnya di jambi dapat dijadikan petanda bahwa jambi juga mengalami

krisis ekologi.

Wujud kepedulian ataupun kesadaran sastrawan Jambi untuk menyuarakan

permasalahan lingkungan alam, salah satunya di tandai dengan lahirnya kumpulan

cerpen Buntung. Cerpen yang merupakan prosa naratif yang bersifat imajinatif,

namun biasanya masuk akal yang mengandung kebenaran yang

mendramatisasikan hubungan-hubungan antar manusia. Peneliti merasa patut

mengapresiasi bentuk kepedulian atau kesadaran mereka. Apalagi, mereka

merupakan penduduk yang berdomisili atau menetap di Jambi yang ikut serta

menyuarakan persoalan yang penting ini. Karya sastra yang bertemakan


lingkungan khususnya di Jambi jarang ditulis oleh penulis lokal. Selain itu,

kumpulan cerpen Buntung ini belum pernah diteliti oleh penelitian sebelumnya.

Buku kumpulan cerpen Buntung ini merupakan kumpulan karya para

pemenang lomba cerpen yang diadakan oleh percetakan Salim Media. Selain itu,

keseluruhan cerpen dalam buku Buntung ini layak diteliti karena telah melalui

tahap-tahap seleksi dan penilaian dari panitia dan dewan juri. Dalam kumpulan

cerpen Buntung ini, terdapat 25 cerpen. Cerpen yang tepilih untuk diteliti adalah

10 cerpen, mengapa? Karena, 10 cerpen inilah yang peneliti anggap

merepresentasikan persoalan fenomena lingkungan di Jambi. Adanya tambang

pasir di sungai Batanghari, kabut asap yang terjadi di kota Jambi, tambang emas,

pembalakan hutan di Bukit Saban Nilo dan lain-lain.

Timbul pertanyaan mengapa persepsi yang dipilih? Karena persepsi

memberikan gambaran tentang realitas di dalam cerpen yang melibatkan tokoh

dan bagaimana tokoh berinteraksi dengan lingkungan, sehingga dapat diketahui

sikap ataupun respon tokoh terhadap lingkungan tersebut. Hal ini, dapat dijadikan

barometer bagaimana problematika kerusakan lingkungan diisukan. Dari interaksi

tokoh dan lingkungannya tersebut, menghasilkan fenomena-fenomena alam yang

ingin disuarakan, baik secara langsung ataupun tidak langsung. Dalam hal ini,

problematika kerusakan lingkungan erat kaitannya dengan tokoh, karena tokoh

sebagai jendela untuk hadirnya persepsi. Apalagi, dalam penelitian sastra sangat

minim mengkaji tentang persepsi tokoh yang dilihat dari sudut pandang tokoh itu

sendiri. Pemilihan tokoh utama, peneliti beranggapan bahwa melalui tokoh utama

pengarang menitipkan persepsinya terhadap lingkungan alam. Selain itu, tokoh


utama juga memiliki peran penting dalam alur cerita. Di dalam cerita (cerpen),

jalan cerita ditentukan oleh tokoh utama.

1.2 Rumusan Masalah

Dari uraian latar belakang tersebut, permasalahan dalam penelitian ini

untuk dibahas dalam kumpulan cerpen Buntung ini adalah bagaimanakah persepsi

tokoh utama terhadap lingkungan alam dalam kumpulan cerpen Buntung.

1.3 Tujuan Penelitian

Berdasarkan latar belakang di atas, tujuan dari penelitian ini adalah

mendeskripsikan persepsi tokoh utama terhadap lingkungan alam dalam

kumpulan cerpen Buntung.

1.4 Manfaat Penelitian

1) Secara teoretis, penelitian ini diharapkan dapat menambah khazanah keilmuan

penelitian di bidang sastra, khususnya analisis mengenai cerpen dan karya

fiksi lainnya dengan menggunakan pendekatan ekologi sastra.

2) Secara praktis, penelitian ini diharapkan dapat menambah apresiasi dan

memberi manfaat kepada pembaca terhadap karya sastra, khususnya mengenai

ekologi sastra dalam karya sastra. Hubungan sastra dengan lingkungan dan

penyadaran/edukasi terhadap pentingnya menjaga lingkungan demi masa

depan.

Anda mungkin juga menyukai