0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan3 halaman

Refleksi Diri Rifqi Rizal

Pengalaman mengikuti Modul Kolaborasi Kesehatan memberikan pemahaman mendalam tentang pentingnya kerja sama tim dalam pelayanan kesehatan. Saya belajar bahwa komunikasi efektif dan pemahaman peran antarprofesi adalah kunci untuk meningkatkan keselamatan pasien, meskipun saya masih menghadapi tantangan dalam percaya diri. Saya berkomitmen untuk mengembangkan kompetensi kolaboratif dan berkontribusi lebih baik dalam tim kesehatan.

Diunggah oleh

ridwannurdiansyah61
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan3 halaman

Refleksi Diri Rifqi Rizal

Pengalaman mengikuti Modul Kolaborasi Kesehatan memberikan pemahaman mendalam tentang pentingnya kerja sama tim dalam pelayanan kesehatan. Saya belajar bahwa komunikasi efektif dan pemahaman peran antarprofesi adalah kunci untuk meningkatkan keselamatan pasien, meskipun saya masih menghadapi tantangan dalam percaya diri. Saya berkomitmen untuk mengembangkan kompetensi kolaboratif dan berkontribusi lebih baik dalam tim kesehatan.

Diunggah oleh

ridwannurdiansyah61
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Refleksi Diri Pengalaman Mengikuti Proses Pembelajaran

Kolaborasi Kesehatan dan Tim Kesehatan 2


Rifqi Rizal, 2506695470, Profesi Ners FIK UI

Mengikuti pembelajaran pada Modul Kolaborasi dan Kerjasama Tim Kesehatan 2


merupakan pengalaman yang sangat bermakna bagi saya sebagai mahasiswa dan calon tenaga
kesehatan. Modul ini tidak hanya memberikan pemahaman teoritis mengenai konsep kolaborasi
interprofesional, tetapi juga membuka ruang refleksi melalui observasi praktik kolaborasi di
fasilitas pelayanan kesehatan serta diskusi dengan tenaga kesehatan dari berbagai profesi. Dari
pengalaman tersebut, saya semakin memahami bahwa pelayanan kesehatan yang berkualitas
tidak dapat dicapai secara individual, melainkan melalui kerja sama tim yang terintegrasi dan
berorientasi pada keselamatan pasien.

Salah satu pelajaran paling penting yang saya peroleh adalah pentingnya komunikasi
efektif dalam tim kesehatan. Dalam praktiknya, saya mengamati bahwa perbedaan latar belakang
pendidikan, sudut pandang klinis, serta peran antarprofesi berpotensi menimbulkan
miskomunikasi apabila tidak dikelola dengan baik. Konsep TeamSTEPPS menekankan bahwa
komunikasi yang jelas, kepemimpinan yang efektif, serta saling mendukung antar anggota tim
merupakan kunci dalam meningkatkan keselamatan pasien (Agency for Healthcare Research and
Quality [AHRQ], 2019). Saya juga memahami bahwa penggunaan komunikasi terstruktur seperti
SBAR (Situation, Background, Assessment, Recommendation) dapat membantu menyampaikan
informasi pasien secara sistematis dan mengurangi risiko kesalahan klinis (Haig et al., 2006).

Melalui modul ini, saya semakin menyadari peran saya sebagai calon tenaga kesehatan
dalam kolaborasi tim. Berdasarkan kerangka Interprofessional Education Collaborative (IPEC),
kolaborasi yang efektif menuntut adanya kompetensi dalam komunikasi antarprofesi,
pemahaman peran dan tanggung jawab masing-masing profesi, serta sikap saling menghargai
(IPEC, 2016). Saya memandang diri saya sebagai individu yang memiliki peran strategis dalam
menyampaikan informasi pasien, mengoordinasikan asuhan, serta menjadi penghubung antara
pasien, keluarga, dan profesi kesehatan lain. Kesadaran ini mendorong saya untuk lebih
bertanggung jawab dan aktif dalam setiap proses kolaborasi.
Namun demikian, saya juga merefleksikan adanya hambatan dan tantangan dari dalam
diri saya sendiri. Saya menyadari bahwa rasa kurang percaya diri dalam menyampaikan
pendapat, terutama di hadapan profesi yang lebih senior, masih menjadi kendala. Kekhawatiran
akan melakukan kesalahan atau menyampaikan pendapat yang kurang tepat terkadang membuat
saya ragu untuk berpartisipasi aktif. Hal ini sejalan dengan penelitian yang menyebutkan bahwa
mahasiswa kesehatan sering menghadapi tantangan psikologis dalam kolaborasi interprofesional,
khususnya pada tahap awal pembelajaran klinik (Zwarenstein et al., 2009). Meskipun demikian,
saya juga mengenali kekuatan diri saya, seperti sikap kooperatif, kemampuan mendengar aktif,
empati terhadap pasien, serta kemauan untuk menerima masukan dan belajar dari profesi lain.

Sebagai tindak lanjut, saya berkomitmen untuk terus mengembangkan kompetensi


kolaboratif saya. Saya perlu meningkatkan kepercayaan diri dengan memperdalam pengetahuan
klinis, melatih kemampuan komunikasi, serta membiasakan diri menggunakan metode
komunikasi terstruktur seperti SBAR dalam diskusi dan praktik klinik. Selain itu, saya juga
berencana untuk lebih aktif meminta umpan balik dari dosen pembimbing maupun rekan sejawat
sebagai bagian dari proses pembelajaran reflektif. Dengan upaya tersebut, saya berharap dapat
berkontribusi secara optimal dalam tim kesehatan serta mendukung terwujudnya pelayanan
kesehatan yang holistik, aman, dan berpusat pada pasien.
Daftar Pustaka

Agency for Healthcare Research and Quality. (2019). TeamSTEPPS®: Strategies and tools to
enhance performance and patient safety. [Link]

Haig, K. M., Sutton, S., & Whittington, J. (2006). SBAR: A shared mental model for improving
communication between clinicians. Joint Commission Journal on Quality and Patient
Safety, 32(3), 167–175.

Interprofessional Education Collaborative. (2016). Core competencies for interprofessional


collaborative practice: 2016 update. [Link]

Zwarenstein, M., Goldman, J., & Reeves, S. (2009). Interprofessional collaboration: Effects of
practice-based interventions on professional practice and healthcare outcomes. Cochrane
Database of Systematic Reviews, (3), CD000072.

Anda mungkin juga menyukai