77
Newcomb : Jurnal Ilmu Komunikasi dan Media
Volume 2, No. 1, September 2024, hlm 77-90
REPRESENTASI KELAS SOSIAL DALAM DRAMA KOREA LITTLE
WOMEN
Dewi Saputri1, Muh. Aswan Zanynu2, Sirajuddin3
Jurusan Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik1,2,3
Universitas Halu Oleo, Kendari, Sulawesi Tenggara, Indonesia
ABSTRAK
Drama Korea Little Women mengangkat isu kesenjangan sosial yang mencerminkan realitas sosial di
Korea Selatan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis representasi kelas sosial dalam drama tersebut
menggunakan metode analisis semiotika Roland Barthes dengan pendekatan deskriptif kualitatif. Data
diperoleh melalui observasi, dokumentasi, dan studi pustaka. Hasil penelitian menunjukkan adanya tiga
representasi kelas sosial. Kelas sosial bawah direpresentasikan melalui adegan kemiskinan, perjuangan
untuk memenuhi kebutuhan dasar, serta ketergantungan pada kelas atas. Secara konotasi, kelas bawah
dipandang sebagai kelompok yang menderita karena keterbatasan ekonomi dan kurang dihargai oleh
masyarakat kelas atas. Sebaliknya, kelas sosial atas digambarkan melalui kemewahan, kekuasaan, dan
sifat individualistis, dengan mitos bahwa mereka mendominasi dan memanfaatkan kelas bawah untuk
kepentingan pribadi. Kesenjangan antar kelas terlihat melalui perbedaan signifikan dalam tempat tinggal
dan gaya hidup. Secara keseluruhan, penelitian ini mengungkapkan bagaimana konstruksi denotasi,
konotasi, dan mitos dalam drama Little Women menggambarkan ketimpangan sosial dan budaya di Korea
Selatan. Penelitian ini berkontribusi pada pemahaman representasi kelas sosial dalam media populer dan
relevansinya terhadap realitas sosial
Kata Kunci : Representasi, Drama Korea, Kelas Sosial, Semiotika Roland Barthes
Website: [Link]
78
Newcomb : Jurnal Ilmu Komunikasi dan Media
Volume 2, No. 1, September 2024, hlm 77-90
REPRESENTATION OF SOCIAL CLASS IN THE KOREAN DRAMA LITTLE
WOMEN
ABSTRACT
The Korean drama Little Women explores social inequality, reflecting the social realities of South
Korea. This study aims to analyze the representation of social class in the drama using Roland Barthes'
semiotic analysis method and a qualitative descriptive approach. Data were collected through
observation, documentation, and literature review. The findings reveal three representations of social
class. The lower class is depicted through scenes of poverty, struggles to meet basic needs, and
dependency on the upper class. Connotatively, the lower class is perceived as suffering due to economic
limitations and undervalued by the upper class. Conversely, the upper class is portrayed through luxury,
power, and individualism, with the myth that they dominate and exploit the lower class for personal
gain. The gap between classes is prominently illustrated through stark differences in living conditions
and lifestyles. Overall, this study highlights how denotation, connotation, and myths constructed in
Little Women reflect the profound social and cultural disparities in South Korea. This research
contributes to understanding the representation of social class in popular media and its relevance to
societal realities.
Keywords: Representation, Korean Drama, Social Class, Roland Barthes Semiotics
Website: [Link]
79
Newcomb : Jurnal Ilmu Komunikasi dan Media
Volume 2, No. 1, September 2024, hlm 77-90
PENDAHULUAN
Film adalah fenomena sosial yang berfungsi sebagai media untuk merepresentasikan
berbagai aspek kehidupan, mulai dari nilai-nilai budaya hingga isu-isu sosial yang kompleks.
Sebagai alat komunikasi, film mengintegrasikan elemen visual dan audio, seperti gambar, suara,
dan simbol, untuk menyampaikan pesan kepada audiens. Pesan-pesan ini dapat
diinterpretasikan secara beragam berdasarkan konteks budaya, pengalaman, dan perspektif
individu. Dalam konteks ini, film sering digunakan untuk menggambarkan tema sosial, seperti
ketimpangan ekonomi, perjuangan kelas, dan kekuasaan, yang relevan dengan realitas
kehidupan masyarakat (Littlejohn & Foss, 2012).
Drama Korea Little Women adalah salah satu contoh karya yang mengeksplorasi isu sosial,
khususnya kesenjangan kelas sosial di Korea Selatan. Drama ini mengisahkan perjuangan tiga
saudara perempuan dari keluarga miskin yang harus menghadapi keluarga kaya yang penuh
kekuasaan dan pengaruh. Narasi ini tidak hanya menggambarkan ketimpangan ekonomi, tetapi
juga bagaimana mobilitas sosial terhambat oleh sistem yang mengutamakan kekayaan dan
pendidikan sebagai indikator status sosial. Kota seperti Gangnam, yang identik dengan
kemewahan, sangat kontras dengan Desa Guryong yang kumuh, mencerminkan jurang besar
antara kelas atas dan kelas bawah di Korea Selatan (Mao, 2022). Situasi ini semakin relevan
dengan meningkatnya pandangan bahwa kerja keras saja tidak cukup untuk mencapai
kesuksesan tanpa dukungan kekayaan keluarga (Widiastuti, 2022).
Urgensi penelitian ini terletak pada pentingnya memahami bagaimana media, khususnya
drama Korea, merepresentasikan kelas sosial dan memengaruhi persepsi publik tentang
ketimpangan. Representasi media memainkan peran signifikan dalam menciptakan narasi yang
dapat memperkuat atau menantang ideologi dominan. Stuart Hall (1997) menjelaskan bahwa
representasi tidak hanya menggambarkan realitas, tetapi juga mengonstruksi realitas baru
melalui penggunaan tanda dan kode. Dalam drama seperti Little Women, representasi kelas
sosial tidak hanya menyampaikan cerita, tetapi juga memengaruhi cara masyarakat memahami
struktur sosial yang ada.
Untuk menganalisis representasi ini, pendekatan semiotika Roland Barthes menjadi
kerangka teoritis yang relevan. Barthes (1977) menjelaskan bahwa makna dalam teks media
dibangun melalui tiga tingkat analisis: denotasi, konotasi, dan mitos. Denotasi merujuk pada
makna literal atau langsung dari tanda, sementara konotasi melibatkan makna yang dipengaruhi
oleh budaya, emosi, dan pengalaman audiens. Mitos, di sisi lain, mencerminkan ideologi atau
Website: [Link]
80
Newcomb : Jurnal Ilmu Komunikasi dan Media
Volume 2, No. 1, September 2024, hlm 77-90
nilai-nilai dominan dalam masyarakat yang tersembunyi di balik tanda (Sobur, 2013). Melalui
analisis ini, penelitian dapat mengungkap bagaimana drama Little Women membangun narasi
tentang kelas sosial dan kesenjangan.
Beberapa penelitian sebelumnya telah membahas representasi kelas sosial dalam media
Korea. Widiastuti (2022) dalam penelitiannya tentang Squid Game menemukan bahwa kelas
bawah sering digambarkan sebagai kelompok yang tertindas, sementara kelas atas menikmati
keistimewaan tanpa batas. Penelitian oleh Syifa dan Haloho (2022) tentang Class of Lies
menunjukkan bahwa kelas atas cenderung menyalahgunakan kekuasaan mereka untuk
kepentingan pribadi. Dianiyah (2020) dalam penelitiannya tentang Parasite mengungkapkan
bahwa perbedaan kelas sosial terlihat melalui tempat tinggal, gaya hidup, dan akses terhadap
sumber daya. Namun, penelitian-penelitian ini cenderung fokus pada aspek tertentu dari
representasi kelas sosial tanpa mengintegrasikan analisis multi-level, seperti denotasi, konotasi,
dan mitos secara holistik. Selain itu, belum ada penelitian yang secara khusus mengkaji Little
Women dalam konteks representasi kelas sosial.
Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis representasi kelas sosial dalam
drama Little Women melalui tiga tingkat semiotika Roland Barthes: denotasi, konotasi, dan
mitos. Penelitian ini juga bertujuan untuk mengungkap bagaimana drama ini mengonstruksi
kesenjangan sosial dan mengkritisi struktur masyarakat di Korea Selatan. Dengan demikian,
penelitian ini diharapkan dapat memberikan wawasan mendalam tentang representasi kelas
sosial dalam media populer dan relevansinya terhadap realitas sosial.
METODE
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif untuk
menganalisis representasi kelas sosial dalam drama Korea Little Women. Pendekatan ini dipilih
karena memungkinkan eksplorasi mendalam terhadap makna yang terkandung dalam setiap
adegan, simbol visual, dan narasi yang direpresentasikan. Metode semiotika Roland Barthes
diterapkan untuk mengkaji tiga tingkat makna, yaitu denotasi, konotasi, dan mitos. Semiotika
Barthes relevan dalam mengungkap bagaimana tanda-tanda dalam media, seperti visual,
dialog, dan elemen simbolik lainnya, membangun narasi sosial yang dipengaruhi oleh ideologi
dan konteks budaya.
Objek penelitian adalah drama Korea Little Women yang terdiri dari 12 episode dengan
durasi rata-rata 80 menit per episode. Fokus analisis diarahkan pada adegan-adegan yang
merepresentasikan dinamika kelas sosial atas dan bawah, serta kesenjangan sosial yang terlihat
Website: [Link]
81
Newcomb : Jurnal Ilmu Komunikasi dan Media
Volume 2, No. 1, September 2024, hlm 77-90
melalui elemen-elemen visual dan naratif. Data dikumpulkan melalui tiga teknik utama, yaitu
observasi, dokumentasi, dan studi pustaka. Observasi dilakukan dengan menonton ulang
seluruh episode untuk mengidentifikasi adegan yang relevan, sementara dokumentasi
melibatkan pengambilan tangkapan layar dan pencatatan dialog atau elemen visual yang
mendukung analisis. Studi pustaka digunakan untuk mengumpulkan referensi dari buku, artikel
jurnal, dan penelitian sebelumnya yang relevan dengan teori semiotika Roland Barthes dan
konsep representasi kelas sosial.
Proses analisis data dilakukan melalui tiga tahapan sesuai semiotika Barthes. Pada tingkat
denotasi, fokus analisis adalah makna literal dari tanda, seperti visual tempat tinggal atau
interaksi antar karakter. Konotasi menginterpretasikan makna simbolis yang dipengaruhi oleh
budaya, emosi, atau nilai yang melekat, seperti kemiskinan yang dikaitkan dengan
ketidakberdayaan. Pada tingkat mitos, tanda-tanda dianalisis untuk mengungkap ideologi
tersembunyi, misalnya kelas atas yang diasosiasikan dengan kekuasaan dan individualisme,
serta kelas bawah yang dipandang sebagai pihak yang tertindas. Keabsahan data dijamin
melalui triangulasi data dari observasi, dokumentasi, dan studi pustaka, serta member checking
dengan rekan sejawat untuk memastikan interpretasi yang objektif. Seluruh proses penelitian
terdokumentasi secara transparan untuk memastikan akurasi dan validitas hasil analisis.
Metode ini dirancang untuk memberikan analisis yang mendalam dan komprehensif
mengenai bagaimana drama Little Women merepresentasikan kelas sosial dan kesenjangan
sosial, sehingga dapat memberikan kontribusi signifikan pada pemahaman tentang representasi
kelas sosial dalam media populer
HASIL DAN PEMBAHASAN
Penelitian ini menganalisis representasi kelas sosial dalam drama Korea Little Women
menggunakan semiotika Roland Barthes melalui tiga tingkat analisis: denotasi, konotasi, dan
mitos. Berdasarkan hasil penelitian, ditemukan bahwa kelas sosial atas dan bawah
direpresentasikan secara kontras, mencerminkan ketimpangan sosial yang menjadi tema utama
dalam drama ini. Selain itu, kesenjangan sosial digambarkan melalui perbedaan dalam akses
terhadap sumber daya, gaya hidup, dan status sosial.
Representasi kelas bawah melalui kemiskinan terlihat pada scene 1 yang memperlihatkan
Oh In Joo meniup lilin yang ditancapkan di atas telur rebus.
Website: [Link]
82
Newcomb : Jurnal Ilmu Komunikasi dan Media
Volume 2, No. 1, September 2024, hlm 77-90
Gambar 1. Scene 1 Telur Digunakan Sebagai Pengganti Kue Ulang Tahun
Sumber: [Link]
Tabel 1. Makna Denotasi, Konotasi, Mitos Scene 1
Denotasi Seorang anak perempuan yang sedang duduk bersiap meniup lilin
dihadapannya. Terdapat beberapa telur rebus yang ditancapkan lilin
diatasnya.
Konotasi Oh In Joo sedang merayakan ulang tahunnya dengan menggunakan telur
rebus sebagai pengganti kue ulang tahun. Karena keluarganya tidak
memiliki uang yang cukup untuk membeli kue ulang tahun.
Mitos Kekurangan ekonomi membuat seseorang tidak bisa dengan mudah
memenuhi keinginannya.
Sumber : Olahan Peneliti
Secara denotasi, kelas sosial bawah digambarkan melalui adegan yang menunjukkan kondisi
kemiskinan dan perjuangan hidup yang berat. Contoh yang menonjol adalah adegan di mana tokoh
Oh In Joo meniup lilin di atas telur rebus sebagai pengganti kue ulang tahun karena keluarganya
tidak mampu membeli kue. Visual ini secara langsung menunjukkan keterbatasan ekonomi yang
dihadapi oleh keluarga kelas bawah. Pada tingkat konotasi, adegan ini memuat pesan simbolis
tentang ketidakmampuan kelas bawah untuk memenuhi kebutuhan dasar mereka, yang menjadi
gambaran umum bagi kelompok ekonomi lemah. Mitos yang muncul dari representasi ini adalah
bahwa kelas bawah selalu berada dalam kondisi terpinggirkan dan harus bergantung pada kelas
atas untuk bertahan hidup, sebuah pandangan yang memperkuat stereotip tentang
ketidakberdayaan kelompok ini (Sobur, 2013; Barthes, 1977).
Website: [Link]
83
Newcomb : Jurnal Ilmu Komunikasi dan Media
Volume 2, No. 1, September 2024, hlm 77-90
Representasi kelas bawah melalui melakukan apapun demi uang terlihat pada scene 2
saat Oh In Joo yang rela dipukuli oleh Go So Im demi mendapatkan uang 100 juta won.
Gambar 2. Scene 2 Oh In-Joo Yang Dipukuli Oleh Go So Im
Sumber: [Link]
Tabel 2. Makna Denotasi, Konotasi, Mitos Scene 2
Denotasi Seorang perempuan sedang memegang pipinya, dihadapan perempuan
tersebut terlihat belakang seseorang yang sedang menghadap kepadanya.
Konotasi Oh In Joo ditampar oleh Go So Im sebagai syarat untuk mendapatkan uang
sebesar 100 juta Won. Oh In Joo terpaksa menerima pukulan tersebut karena
ia sangat membutuhkan uang untuk membayar biaya rumah sakit adiknya.
Sulitnya mencari pekerjaan yang layak bagi orang-orang dari kelas bawah
membuat beberapa orang dari kelas bawah harus rela melakukan apa saja
demi mendapatkan uang untuk memenuhi kebutuhan
hidupnya
Mitos Kekerasan menjadi salah satu cara untuk mendapatkan uang.
Sumber : Olahan Peneliti
Kelas bawah juga direpresentasikan melalui adegan di mana tokoh rela melakukan apa saja
untuk mendapatkan uang, seperti saat Oh In Joo menerima perlakuan kekerasan untuk
mendapatkan uang yang sangat dibutuhkan. Representasi ini menunjukkan bagaimana kemiskinan
memaksa individu untuk mengambil risiko besar, bahkan merendahkan martabat mereka. Dalam
konteks ini, Barthes (1977) menjelaskan bahwa tanda-tanda seperti ini sering digunakan untuk
mengonstruksi narasi ideologis yang menggambarkan kelas bawah sebagai pihak yang tidak
memiliki pilihan lain dalam sistem sosial yang hierarkis.
Website: [Link]
84
Newcomb : Jurnal Ilmu Komunikasi dan Media
Volume 2, No. 1, September 2024, hlm 77-90
Kelas sosial atas direpresentasikan melalui kemewahan. Hal tersebut terlihat pada scene
7 yang memperlihatkan kemewahan pesta perayaan kemenangan Park Hyo Rin.
Gambar 3. Scene 7 Para Tamu Yang Hadir Di Pesta Kemenangan Park Hyo Rin
Sumber: [Link]
Tabel 3. Makna Denotasi, Konotasi, Mitos Scene 7
Denotasi Terlihat sebuah pesta yang megah dan ramai di sebuah rumah. Terlihat
banyak lampu pada rumah tersebut. Furnitur yang digunakan juga terlihat
mewah. Orang-orang yang datang terlihat menggunakan pakaian yang rapi
dan terlihat elite.
Konotasi Memperlihatkan pesta yang diadakan di rumah Park Jae Sang. Pesta tersebut
adalah pesta perayaan kemenangan Park Hyo Rin. Jika dilihat dari interior
dan pakaian yang digunakan oleh orang-orang yang datang, pesta tersebut
merupakan pesta yang diselenggarakan oleh orang yang berasal dari kelas
atas. Dalam kehidupan kelas masyarakat, orang yang menduduki kelas sosial
atas lebih sering kali memperlihatkan kedudukan kelas mereka seperti
menggunakan atribut yang serba mewah dan elite.
Mitos Kemewahan adalah salah satu ciri dari masyarakat kelas atas atau orang
kaya.
Sumber : Olahan Peneliti
Kelas sosial atas digambarkan melalui kemewahan dan kekuasaan. Secara denotasi, kelas atas
direpresentasikan melalui adegan yang menunjukkan pesta mewah di rumah tokoh Park Jae Sang,
yang dikelilingi oleh interior elegan dan tamu-tamu dengan pakaian mahal. Adegan ini
menonjolkan keistimewaan yang dinikmati oleh kelas atas, termasuk akses tak terbatas terhadap
fasilitas kesehatan, pendidikan, dan sumber daya lainnya. Secara konotasi, kekayaan dan
Website: [Link]
85
Newcomb : Jurnal Ilmu Komunikasi dan Media
Volume 2, No. 1, September 2024, hlm 77-90
kemewahan tersebut menggambarkan dominasi kelas atas yang memanfaatkan kekuasaan mereka
untuk mengontrol kehidupan orang lain. Mitos yang terkandung adalah bahwa kelas atas
memegang kendali atas masyarakat melalui kekayaan mereka, yang sering kali digunakan untuk
mempertahankan status quo (Hall, 1997).
Representasi kelas sosial atas memanfaatkan kelas sosial bawah terlihat pada scene 9 saat
Park Hyo Rin memenagkan lomba melukis dengan menggunakan hasil lukisan Oh In Hye.
Gambar 4. Scene 9 Park Hyo Rin memenangkan lomba melukis
Sumber: [Link]
Tabel 4. Makna Denotasi, Konotasi, Mitos Scene 9
Denotasi Memperlihatkan seorang perempuan yang sedang memegang bunga,
piagam dan piala. Terlihat lukisan di layar yang berada di belakang
perempuan tersebut.
Konotasi Park Hyo Rin yang memenangkan lomba melukis. Namun lukisan yang
dimenangkan oleh Park Hyo Rin tersebut adalah hasil lukisan Oh In Hye.
Oh In Hye memberikan lukisan tersebut karena menerima imbalan dari
Wong Sang Ah yaitu ikut menyekolahkannya ke luar negeri. Karena
memiliki uang Wong Sang Ah bisa memanfaatkan Oh In Hye demi
kepentingannya.
Mitos Dengan uang, seseorang bisa mendapatkan apa yang mereka inginkan.
Sumber : Olahan Peneliti
Kelas atas juga direpresentasikan sebagai kelompok yang individualistis dan oportunistis,
seperti terlihat dalam adegan di mana keluarga kaya memanfaatkan tokoh dari kelas bawah
untuk keuntungan pribadi mereka. Representasi ini menunjukkan bahwa kelas atas tidak hanya
menggunakan kekayaan mereka untuk memperkuat posisi sosial, tetapi juga untuk
mengeksploitasi kelas bawah. Representasi ini sejalan dengan temuan penelitian sebelumnya
Website: [Link]
86
Newcomb : Jurnal Ilmu Komunikasi dan Media
Volume 2, No. 1, September 2024, hlm 77-90
oleh Widiastuti (2022), yang menunjukkan bahwa kelas atas dalam media Korea sering
digambarkan sebagai kelompok yang menyalahgunakan kekuasaan mereka.
Kesenjangan antar kelas sosial direpresentasikan melalui perbedaan tempat tinggal antara
kelas atas dan kelas bawah. Rumah tempat tinggal Oh In Joo dan saudarinya terlihat begitu
berantakan. Barang-barang yang ada dalam rumah tersebut tidak tertata dengan rapi. Selain itu
keadaan rumah Oh In Joo berbeda jauh dengan rumah Park Jae Sang. Jendela
rumah yang rusak, kamar mandi yang kecil dan banyak serangga yang masuk ke dalam
rumah keluarga Oh In Joo.
Gambar 5. Scene 16 Rumah Tempat Tinggal Keluarga Oh In Joo
Sumber: [Link]
Tabel 5. Makna Denotasi, Konotasi, Mitos Scene 16
Denotasi Kondisi rumah yang tidak begitu terang dengan perabotan yang terlihat
begitu berantakan. Perabotan dalam rumah tersebut jauh dari kemewahan.
Konotasi Kondisi rumah tempat tinggal Oh In joo bersama kedua adiknya. Rumah
tersebut jauh dari kata mewah. Semua perabotan terlihat usang. Kondisi
rumah yang tidak begitu terang. Keadaan rumah yang rusak seperti jendela
kamar yang susah untuk dibuka dan ditutup, kemudian banyaknya serangga
yang masuk dalam rumah seperti tikus dan semut. Semua itu dapat
menandakan bahwa Oh In joo dan keluarganya berasal dari kelas
bawah.
Mitos Kelas bawah memiliki tempat tinggal yang terlihat berantakan dan tidak
nyaman.
Sumber : Olahan Peneliti
Sedangkan tempat tinggal kelas atas terlihat lebih berbeda jauh dengan rumah kelas
bawah. Rumah kediaman keluarga Park Jae Sang terlihat berbeda dengan rumah keluarga Oh
Website: [Link]
87
Newcomb : Jurnal Ilmu Komunikasi dan Media
Volume 2, No. 1, September 2024, hlm 77-90
In Joo. Desain dan interior rumah Park Jae Sang terlihat lebih elegan dan rapi. Perabotan yang
ada dalam rumah tersusun rapi dalam lemari. Rumah Park Jae Sang terlihat lebih luas, memiliki
banyak ruang, fasilitas yang lengkap, dan memiliki pencahayan yang terang.
Gambar 6. Scene 17 Salah Satu Ruangan Di Rumah Keluarga Park Jae Sang
Sumber: [Link]
Tabel 6. Makna Denotasi, Konotasi, Mitos Scene 17
Denotasi 3 orang yang sedang bersiap untuk sarapan. Ruangan tersebut terlihat
sangat mewah dan rapi. Perabotan yang ada tersimpan rapi dalam lemari
kaca.
Konotasi Oh In hye yang sedang sarapan bersama Park Hyo rin dan Park Jae sang,
dapat dilihat kondisi rumah Paek Jae sang berbeda jauh dengan keadaan
rumah yang di tempati oleh Oh In Joo dan saudarinya.
Mitos Kelas atas memiliki tempat tinggal yang nyaman.
Sumber : Olahan Peneliti
Secara denotasi representasi kelas sosial dalam drama Korea Little Women dapat
terlihat melalui scene: (1) kelas sosial bawah direpresentasikan melalui scene yang
memperlihatkan lingkungan rumah dan tempat tinggal yang terlihat kumuh dan berantakan,
menggunakan telur rebus sebagai pengganti kue ulang tahun karena tidak mampu untuk
membeli kue ulang tahun, rela dipukuli demi mendapatkan uang, memakai barang palsu dan
membeli apartemen yang terletak di dekat sungai Han agar terlihat seperti orang dari kelas atas,
masuk ke dalam komunitas yang dapat membuat individu dari kelas bawah dengan cepat
mendapatkan pekeraan dan dikucilkan di lingkungan pekerjaan; (2) kelas sosial atas terlihat
melalui kemewahan, kemudahan dalam mendapatkan fasilitas kesehatan, memanfaatkan kelas
bawah; (3) kesenjangan antar kelas sosial terlihat melalui perbedaan mencolok antara tempat
Website: [Link]
88
Newcomb : Jurnal Ilmu Komunikasi dan Media
Volume 2, No. 1, September 2024, hlm 77-90
tinggal kelas atas dan kelas bawah.
Kesenjangan sosial digambarkan secara eksplisit melalui perbedaan tempat tinggal antara
kelas atas dan bawah. Rumah keluarga Oh In Joo yang sempit, kumuh, dan penuh dengan
barang-barang usang mencerminkan ketidakmampuan mereka untuk memiliki lingkungan
yang layak. Sebaliknya, rumah keluarga Park Jae Sang terlihat luas, terang, dan dilengkapi
dengan fasilitas modern. Perbedaan ini menonjolkan jurang besar dalam kualitas hidup antara
kedua kelas. Secara konotasi, kesenjangan ini menunjukkan bagaimana akses terhadap tempat
tinggal menjadi simbol status sosial. Mitos yang terkandung adalah bahwa kelas atas selalu
memiliki keunggulan struktural yang sulit dicapai oleh kelas bawah, memperkuat ideologi
bahwa kekayaan adalah penentu utama mobilitas sosial (Syifa & Haloho,2022).
Hasil penelitian ini mendukung teori representasi Stuart Hall (1997), yang menjelaskan
bahwa media tidak hanya mencerminkan realitas, tetapi juga menciptakan realitas baru melalui
tanda-tanda yang digunakan. Dalam drama Little Women, konstruksi kelas sosial dibentuk
melalui visual, dialog, dan simbol-simbol yang mengandung makna ideologis. Representasi
kelas bawah sebagai kelompok yang menderita dan kelas atas sebagai kelompok yang berkuasa
mencerminkan realitas ketimpangan sosial di Korea Selatan, di mana akses terhadap kekayaan
dan pendidikan sangat menentukan status sosial seseorang.
Selain itu, semiotika Roland Barthes memberikan kerangka analisis yang efektif untuk
mengungkap bagaimana makna denotasi, konotasi, dan mitos dalam drama ini
merepresentasikan kelas sosial. Representasi kelas bawah yang bergantung pada kelas atas,
misalnya, mencerminkan ideologi kapitalisme yang memposisikan kelompok miskin sebagai
pihak yang hanya bisa bertahan melalui subordinasi terhadap kelompok kaya (Barthes, 1977;
Sobur, 2013).
KESIMPULAN
Penelitian ini menunjukkan bahwa drama Korea Little Women merepresentasikan kelas
sosial melalui tiga tingkat analisis semiotika Roland Barthes: denotasi, konotasi, dan mitos.
Kelas sosial bawah direpresentasikan melalui adegan-adegan yang menunjukkan kemiskinan,
perjuangan hidup, dan ketergantungan pada kelas atas. Secara konotasi, kelas bawah
digambarkan sebagai kelompok yang menderita akibat ketimpangan ekonomi dan kurang
dihargai oleh masyarakat. Sebaliknya, kelas sosial atas direpresentasikan melalui kemewahan,
kekuasaan, dan individualisme, dengan mitos bahwa kekayaan memberikan mereka kendali dan
dominasi atas kelas lain. Kesenjangan sosial antara kedua kelas tercermin jelas melalui
perbedaan tempat tinggal, gaya hidup, dan akses terhadap sumber daya. Hasil penelitian ini
Website: [Link]
89
Newcomb : Jurnal Ilmu Komunikasi dan Media
Volume 2, No. 1, September 2024, hlm 77-90
mengungkapkan bagaimana media tidak hanya mencerminkan realitas sosial, tetapi juga
mengonstruksi narasi ideologis yang memperkuat struktur sosial yang ada.
Penelitian ini memberikan kontribusi teoretis dalam memahami bagaimana media,
khususnya drama Korea, berperan dalam merepresentasikan kelas sosial dan membangun narasi
ideologis yang memengaruhi persepsi masyarakat. Temuan ini dapat menjadi dasar bagi studi
media untuk menganalisis narasi sosial secara lebih mendalam dan memberikan wawasan praktis
bagi pembuat konten agar lebih berhati-hati dalam merepresentasikan kelas sosial. Namun,
penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan, di antaranya fokus hanya pada satu objek
penelitian tanpa perbandingan dengan media lain, serta pendekatan kualitatif yang bergantung
pada interpretasi peneliti, sehingga hasilnya bersifat subjektif. Selain itu, penelitian ini tidak
melibatkan audiens, sehingga belum diketahui bagaimana interpretasi mereka terhadap
representasi kelas sosial dalam drama ini.
Untuk penelitian selanjutnya, disarankan untuk melakukan studi komparatif dengan drama
atau film lain yang memiliki tema serupa untuk memahami pola representasi kelas sosial secara
lebih luas. Selain itu, pendekatan kuantitatif, seperti survei atau analisis audiens, dapat
digunakan untuk mengukur persepsi penonton terhadap narasi yang disampaikan. Penelitian di
masa depan juga dapat mengeksplorasi pengaruh budaya lokal terhadap interpretasi representasi
kelas sosial, serta menggunakan perspektif interdisipliner untuk memberikan analisis yang lebih
komprehensif dan mendalam. Dengan demikian, studi tentang representasi kelas sosial dalam
media dapat semakin memperkaya literatur akademik dan memberikan kontribusi praktis dalam
menyikapi isu ketimpangan sosial.
Website: [Link]
90
Newcomb : Jurnal Ilmu Komunikasi dan Media
Volume 2, No. 1, September 2024, hlm 77-90
DAFTAR PUSTAKA
Barthes, R. (1977). Image, Music, Text. New York: Hill and Wang.
Dianiyah, V. (2020). Representation of social class in film (semiotic analysis of Roland Barthes
in Parasite). Profetik: Jurnal Komunikasi, 13(2), 212-224.
Hall, S. (1997). Representation: Cultural Representations and Signifying Practices. London:
Sage Publications.
Littlejohn, S. W., & Foss, K. A. (2012). Theories of Human Communication (10th ed.). Long
Grove, IL: Waveland Press.
Mao, F. (2022). Rising inequality in South Korea. Retrieved from BBC News:
[Link]
Sobur, A. (2013). Semiotika Komunikasi. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Syifa, S. A., & Haloho, H. N. Y. (2022). Depictions of upper-class society in Class of Lies.
Jurnal PIKMA: Publikasi Ilmu Komunikasi Media dan Cinema, 5(1), 124–143.
Widiastuti, A. (2022). Representasi kelas sosial dalam drama Squid Game karya Hwang Dong
Hyuk (analisis semiotika Roland Barthes). Doctoral Dissertation, Universitas Islam Sultan
Agung Semarang.
Website: [Link]