Pengaruh Buruk Perceraian Orang Tua Terhadap Psikologis Anak Remaja
Perceraian atau akhir dari hubungan suami istri yang telah diputuskan oleh hukum dan agama karena
dalam hubungan suami dan istri tidak memiliki kecocokan, saling percaya, ketertarikan satu sama lain
yang menyebabkan masalah dalam rumah tangga. Banyak seseorang yang tidak menginginkan
sebuah perceraian dalam hubunngan perkawinannya, keutuhan keluarga merupakan impian bagi
siapapun yang ada dalam hubungan perkawinan. Namun tidak sedikit faktor yang menjadi penyebab
dalam perceraian pasangan suami istri misalnya, pasangan tersebut sudah merasa tidak cocok,
terdapat salah satu pasangan yang berselingkuh, dan suami tidak memberikan nafkah (lahir dan
batin) yang sudah menjadi kewajiban. Anak-anak yang menginjak usia remaja rentan terpampar
dampak dari perceraian ayah dan ibu. Remaja sendiri merupakan masa transisi dari masa kanak-
kanak ke dewasa, batasan usia remaja menurut WHO adalah 12-24 tahun. Pada masa ini seseorang
mulai mengenal jati dirinya, mulai dapat memahami arah dan tujuan hidupnya (Ningrum, 2013).
Fase Remaja merupakan fase penting bagi seseorang untuk membangun karakter dan kepribadian,
yang menjadikan peranan orangtua sangat penting agar orangtua dan anak memiliki hubungan yang
baik dan adaptif, dan keluarga yang yang harmonis, tenteram, dan hangat dapat membentuk suatu
kepribadian pada anak remaja. Setiap anak memiliki kebutuhan dasar yang mau tidak mau harus
dipenuhi, kebutuhan umum anak adalah perlindungan, kasih sayang, pendekatan atau perhatian, dan
kesempatan terlibat dalam pengalaman positif yang dapat menumbuhkan dan mengembangkan
kehidupan mental yang sehat (Brown dan Swanson dalam Muhidin, 2003).
Perceraian sangat berdampak bagi orang terdekat, khususnya anak yang memasuki usia remaja
(Aminah, Andayani, dan Karyanta, 2014). Perceraian memiliki akibat yang menjadikan kekuasaan
orangtua berakhir dan berubah menjadi wali ”perwalian” (Subekti 1992:44). Dampak terhadap anak
remaja dari perceraian ayah dan ibunya mereka beresiko mengalami gangguan pada perkembangan
psikis, intelektual, maupun sosial. Anak yang orangtuanya bercerai mereka merasakan kurangnya
kasih sayang dan perhatian dari orangtua, dan mereka merasa bahwa dirinya tidak aman, emosional,
hingga mengalami depresi. Menurut penelitian ahli MC Dermott, Moorison Offord dkk, Sugar,
Westman dan Kalter bahwa remaja yang orang tuanya bercerai cenderung menunjukkan: (1)
berperilaku nakal. (2) mengalami depresi. (3) melakukan hubungan seksual secara aktif. (4)
kecenderungan terhadap obat-obat terlarang (Syamsu Yusuf LN, 2009:43-44). Dampak dari
perceraian itu beresiko besar pada perubahan kondisi kepribadian remaja yang cenderung merasa
dirinya terabaikan, kesepian, dan anak akan cenderung menutup dirinya (membatasi) berhubungan
dengan orangtua maupun sekitarnya. Anak remaja yang orangtuanya bercerai umumnya mereka
merasakan malu dan menjadi inferior terhadap orang lain yang akan mengakibatkan depresi pada
anak, depresi yang timbul akan mengakibatkan kenakalan remaja dan penyalagunaan narkoba
sebagai penenang.
Sedangkan pada kenyataannya peranan orang tua dan dukungan sosial sangat penting dalam
perkembangan karakter anak usia remaja. Peranan orang tua itu sendiri dapat berbentuk
pengasuhan yang dipenuhi rasa kasih sayang dan kehangatan yang dimana mereka membutuhkan
suasana hangat dan tenteramnya keluarga, serta peran mendidik anak yang dimana mengajarkan
karakter yang disiplin dan berperilaku baik sesuai apa yang diajarkan, dan orang tua menjadi panutan
positif bagi anak. Perceraian orang tua memang memberikan dampak buruk bagi kondisi psikologis
anak remaja, sehingga perlu untuk dipertimbangkan secara matang dan orang tua dapat
memberikan pengertian baik kepada anak untuk upaya dan mengatasi dampak buruk dari perceraian
yang terjadi.