PENGARUH SUDUT KEMIRINGAN BALING BALING (FAN) PADA
COOLING TOWER UNTUK MENURUNKAN TEMPERATUR
AIR LIMBAH PABRIK DI UNIT EFLUENT PLANT
PT TOBA PULP LESTARI , Tbk.
KARYA AKHIR
Oleh:
KEYVIN LUMBANTORUAN
NIM. 23 02 035
KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA
POLITEKNIK TEKNOLOGI KIMIA INDUSTRI MEDAN
PROGRAM STUDI TEKNIK MEKANIKA
2026
LEMBAR PENGESAHAN
PROPOSAL KARYA AKHIR
“PENGARUH SUDUT KEMIRINGAN BALING BALING (FAN) PADA
COOLING TOWER UNTUK MENURUNKAN TEMPERATUR
AIR LIMBAH PABRIK DI UNIT EFLUENT PLANT
PT TOBA PULP LESTARI , Tbk.”
Oleh:
KEYVIN LUMBANTORUAN
NIM 23 02 035
Telah disetujui oleh:
Pembimbing I
(Dr. Evi Christiani Sitepu,SSi,[Link])
Tanggal :..............
NIP. 197803112002122003
Pembimbing II
(Dr. Golfrid Gultom, ST. MT)
NIP. 197705072003121003 Tanggal :............
Medan, Februari 2026
Politeknik Teknologi Kimia Industri
Ketua Program Studi Teknik Mekanika
Fransnazoan Sitorus, ST., MT
NIP. 198408182018011001
PERNYATAAN
Dengan ini saya menyatakan bahwa:
1. Karya saya Akhir Dengan Judul “PENGARUH SUDUT KEMIRINGAN
BALING BALING (FAN) PADA COOLING TOWER UNTUK
MENURUNKAN TEMPERATUR AIR LIMBAH PABRIK DI UNIT
EFLUENT PLANT TOBA PULP LESTARI, Tbk.” adalah asli dan belum
pernah diajukan untuk mendapatkan gelar akademik baik di Politeknik
Teknologi Kimia Industri, maupundi Perguruan Tinggi lainnya.
2. Karya tulis ini murni gagasan, penilaian, dan rumusan saya sendiri, tanpa
bantuan tidak sah dari pihak lain, kecuali arahan tim pembimbing.
3. Di dalam karya tulis ini tidak terdapat hasil karya atau pendapat yang telah
ditulis atau dipublikasikan orang lain, kecuali dikutip secara tertulis dengan
jelas dan Pustaka dicantumkan pada daftar Pustaka.
4. Pernyataan ini saya buat dengan sesungguhnya dan apabila di kemudian hari
terdapat penyimpangan dan ketidakbenaran pernyataan ini maka saya
bersedia menerima sanksi akademik, berupa pencabutan gelar yang telah saya
peroleh karena karya tulis ini, serta sanksi lainnya dengan norma dan
ketentuan hukum yang berlaku.
Medan, September 2026
Saya yang menyatakan,
Keyvin Lumbantoruan
NIM. 23 02 035
BIODATA MAHASISWA
A. DATA PRIBADI
1. Nama Lengkap : Keyvin Lumbantoruan
2. NIM : 23 02 035
3. NIK : 1202092912040001
4. NISN : 0041712389
5. Tempat, Tanggal Lahir : Sosor Hariara III, 29 Desember 2004
6. Jenis Kelamin : Laki-Laki
7. Agama : Kristen Protestan
8. Program Studi : Teknik Mekanika
9. Jalur Pendaftaran : Jarvis Bersama
10. Kewarganegaraan : Indonesia
11. Jenis Pendaftaran : Bersama
12. Mulai Semester : I (Satu)
13. Alamat : Jln. Mentemg VII, Gang Bersama
14. No. Telepon : 0812 6254 6045
15. Email : keyvinlumbantoruan51@[Link]
16. Jenis Tinggal : Kost
17. Alat Transportasi : Jalan Kaki
B. DATA ORANGTUA/WALI
1. AYAH
a. Nama : Parsaoran Lumbantoruan
b. NIK : 1202090801710001
c. Tempat, Tanggal Lahir :-
d. Pendidikan : SMA / Sederajat
e. Pekerjaan : Petani
2. IBU
a. Nama : Sarina Situmorang
b. NIK : 1202094704710001
c. Tempat, Tanggal Lahir :-
d. Pendidikan : SMA Sederjat
e. Pekerjaan : Petani
ABSTRAK
Tangki timbun merupakan salah satu infrastruktur penting dalam industri
penyimpanan minyak dan bahan kimia cair yang harus memiliki ketahanan tinggi
terhadap tekanan internal. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis besarnya
hoop stress (tegangan melingkar) dan longitudinal stress (tegangan memanjang)
yang terjadi pada tangki timbun akibat tekanan fluida dari dalam tangki di PT.
Prima Tangki Indonesia, serta mengevaluasi batas ketahanan material tangki
terhadap tegangan tersebut. Metode penelitian dilakukan melalui pengukuran
langsung dimensi tangki, sifat fluida (Palm Oil Mill Effluent), serta perhitungan
tekanan hidrostatik sebagai dasar analisis tegangan. Hasil perhitungan
menunjukkan bahwa tekanan hidrostatik pada tangki adalah sebesar 86.524,2 Pa
(top), 187.469,1 Pa (middle), dan 302.834,7 Pa (bottom). Berdasarkan data
tersebut diperoleh hoop stress sebesar 151,374 MPa (top), 245,959 MPa (middle),
dan 264,829 MPa (bottom), sedangkan longitudinal stress masing-masing sebesar
75,687 MPa (top), 122,98 MPa (middle), dan 132,414 MPa (bottom). Nilai rata-
rata hoop stress dan longitudinal stress adalah 220,721 MPa dan 110,36 MPa,
masih berada di bawah batas kekuatan tarik material carbon steel SS400 menurut
standar JIS G3101 yaitu 400–510 MPa. Dengan demikian, dapat disimpulkan
bahwa tangki timbun di PT. Prima Tangki Indonesia masih berada dalam batas
ketahanan aman terhadap tekanan fluida internal.
Kata kunci: tangki timbun, tekanan hidrostatik, hoop stress, longitudinal stress,
ketahanan material.
ABSTRACT
Storage tanks are one of the most critical infrastructures in the oil and chemical
storage industry, requiring high resistance to internal pressure. This study aims
to analyze the magnitude of hoop stress (circumferential stress) and longitudinal
stress that occur in storage tanks due to internal fluid pressure at PT. Prima
Tangki Indonesia, as well as to evaluate the material’s resistance limit against
these stresses. The research method involved direct measurement of tank
dimensions, fluid properties (Palm Oil Mill Effluent), and hydrostatic pressure
calculations as the basis for stress analysis. The results show that the hydrostatic
pressure acting on the tank was 86,524.2 Pa (top), 187,469.1 Pa (middle), and
302,834.7 Pa (bottom). Based on these values, the hoop stress was calculated at
151.374 MPa (top), 245.959 MPa (middle), and 264.829 MPa (bottom), while the
longitudinal stress was 75.687 MPa (top), 122.98 MPa (middle), and 132.414
MPa (bottom). The average hoop stress and longitudinal stress were 220.721
MPa and 110.36 MPa, respectively, which are still below the tensile strength limit
of carbon steel SS400 according to JIS G3101 standard (400–510 MPa).
Therefore, it can be concluded that the storage tank at PT. Prima Tangki
Indonesia remains within a safe resistance limit against internal fluid pressure.
Keywords: storage tank, hydrostatic pressure, hoop stress, longitudinal stress,
material resistance.
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas Segala
rahmat dan hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan Karya
Akhir ini. Adapun maksud dan tujuan Karya Akhir ini adalah merupakan
persyaratan yang harus dipenuhi dalam mencapai derajat Ahli Madya Diploma
Tiga Program Studi Teknik Mekanika di Politeknik Teknologi Kimia Industri
Medan.
Dalam menyelesaikan Penulisan karya akhir ini penulis telah banyak
memperoleh petunjuk dan bantuan yang sangat berharga dari berbagai pihak. Oleh
karena itu pada kesempatan ini penulis menyampaikan penghargaan dan ucapan
terimakasih yang sebesar besarnya kepada :
1. Untuk kedua orang tua yang paling berjasa dan paling saya sayangi di hidup
saya. Ayahanda Parsaoran Lumbantoruan dan pintu surgaku ibunda Sarina
Situmorang. Termaksih atas kepercayaan yang telah diberikan kepada saya
untuk dapat melanjutkan pendidikan kuliah, Terimaksih telah memberikan
cinta yang penuh dan dengan doa yang senantiasa selalu dipanjatkan serta
motivasi, semangat, dann nasihat yang tiada hentinya diberikan kepada
anaknya dalam menyusun karya Akhir ini.
2. Bapak Poltak Evencus Hutajulu, ST., MT Selaku Direktur Politeknik
Teknologi Kimia Industri Medan.
3. Pembantu Direktur I, II, III Politeknik Teknologi Kimia Industri Medan.
Bapak Abdul Azis Rahmansyah, M.T., Ibu New Vita Desty Marbun, M.T.,
dan Ibu Dr. Tengku Rachmi Hidayani, [Link].
4. Ibu Sri Darmayani, SE., Msi selaku KaSubag Administrasi Akademik
kemahasiswaaan dan kerjasama Polieknik Teknologi Kimia Industri Medan.
5. Bapak Fransnazoan Sitorus, S.T., M.T Selaku ketua prodi Teknik Mekanika
Politeknik Teknologi Kimia Industri Medan.
6. Bapak Dejoi Irfian Situngkir, S.T., M.T selaku Sekretaris Prodi Teknik
Mekanika Polieknik Teknologi Kimia Industri Medan.
7. Ibu Dr. Evi Christiani Sitepu, SSi Selaku dosen wali penulis yang selalu
memberikan arahan, Masukan serta semangat bagi penulis, Sehingga Karya
Akhir ini dapat terselesaikan.
8. Ibu Dr. Evi Christiani Sitepu, SSi, [Link] selaku dosen pembingbing I yang
telah membingbing penulis dalam penulisan Karya Akhir ini, Sehingga
penulisan karya akhir ini dapat selesai
9. Bapak Dr. Golfrid Gultom, ST, MT selaku dosen pembingbing II yang telah
membingbing penulis dalam penulisan karya akhir ini, sehingga penulisan
karya Akhir ini dapat selesai.
10. Pihak Industri PT. Toba Pulp Lestari, Tbk yang telah memberikan
kesempatan serta arahan kepada penulis selama pelaksanaan kerja lapangan.
penulis mengucapkan terimakasih ke Seluruh Team Maintenance yang tidak
dapat disebut satu persatu, yang telah membimbing dan memberikan Ilmu.
11. Untuk Kakak saya Tercinta Erna Lumbantoruan beserta dengan Abangda
Monang Lumbantoruan, kakak Hazna Lumbantoruan ,dan adek saya Awi
Lumbantoruan, Chase Lumbantoruan .Terimaksih telah banyak memberikan
dukungan, doa, motivasi kepada saya dalam proses pembuatan karya akhir
ini.
12. Kepada Teknik Mekanika A 2023 sebagai Keluarga saya di masa perkuliahan
yang telah menemani penulis dalam menjalani serta menyelesaikan
perkuliahan ini selama di Politeknik Teknologi Kimia industri Medan.
Penulis menyadari bahwa masih banyak terdapat kekurangan dan
kelemahan dalam penulisan karya Akhir ini baik dari segi bahasa, isi, maupun
penyusunannya. Maka dari itu, penulis sangat terbuka untuk kritik dan saran
dalam penyempurnaan Karya Akhir ini. Penulis berharap semoga Karya Akhir ini
bermanfaat untuk kemajuan ilmu pengetahuan [Link] penutup
penulis mengucapkan terimakasih.
Medan, Februari 2026
Penulis
Keyvin Lumbantoruan
NIM 23 02 035
DAFTAR ISI
Halaman
COVER
LEMBAR PENGESAHAN .................................................................................ii
PERNYATAAN ....................................................................................................iii
BIODATA MAHASISWA ...................................................................................iv
ABSTRAK ............................................................................................................vi
ABSTRACT ..........................................................................................................vii
KATA PENGANTAR .........................................................................................viii
DAFTAR ISI .........................................................................................................x
DAFTAR GAMBAR ...........................................................................................xii
DAFTAR TABEL ................................................................................................xii
BAB I PENDAHULUAN .....................................................................................1
1.1 Latar Belakang Masalah ...............................................................................1
1.2 Rumusan Masalah ..................................................................................2
1.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian ..............................................................2
1.3.1 Tujuan Penelitian .........................................................................2
1.3.2 Manfaat Penelitian .......................................................................2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ..........................................................................4
2.1 Tegangan (Stress) ...................................................................................4
2.1.1 Satuan dan Notasi Tegangan .........................................................4
2.2 Jenis-Jenis Tegangan ..............................................................................5
2.2.1 Tegangan Longitudinal..................................................................5
2.2.2 Tegangan Tangensial .....................................................................8
2.2.3 Tegangan Radial ............................................................................9
2.2.4 Tegangan Geser ............................................................................10
2.3 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi ......................................................10
2.4 Pengertian Tangki Timbun......................................................................11
2.4.1 Struktur dan Bentuk Umum Tangki Timbun Silinder ..................13
2.4.2 Komponen Utama Tangki Silinder ..............................................15
2.5 Tekanan dalam Tangki Timbun..............................................................17
2.5.1 Tekanan Hidrostatis......................................................................17
2.5.2 Tekanan Uap (Vapor Pressure).....................................................18
2.5.3 Tekanan akibat Pemanasan (Thermal Expansion Pressure) .......18
2.5.4 Tekanan Internal (Internal Pressure) ..........................................19
2.6 POME....................................................................................................19
BAB III METODOLOGI PENELITIAN ..........................................................21
3.1 Tempat dan Waktu .................................................................................21
3.1.1 Tempat Penelitian .........................................................................21
3.1.2 Waktu Penelitian ..........................................................................21
3.2 Pengumpulan Data ................................................................................21
3.3 Kerangka Konseptual ............................................................................22
BAB IV PEMBAHASAN.....................................................................................23
4.1 Data .......................................................................................................23
4.2 Analisa Data ..........................................................................................23
4.2.1 Tekanan Hidrostatis Fluida Dalam Tangki...................................23
4.2.2 Besarnya Hoop Stress Akibat Tekanan Hidrostatis.......................24
4.2.3 Besarnya Stress Longitudinal Akibat Tekanan Hidrostatis...........26
4.2.4 Penentuan Batas Ketahanan Tangki Dalam Menahan Tegangan..27
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN...............................................................29
5.1 Kesimpulan ...........................................................................................29
5.2 Saran .....................................................................................................29
DAFTAR PUSTAKA
DAFTAR GAMBAR
Halaman
Gambar 2.1 Tegangan Aksial ................................................................................6
Gambar 2.2 Tegangan Tekuk ................................................................................7
Gambar 2.3 Tegangan Tekan.................................................................................7
Gambar 2.4 Tegangan Tangensial .........................................................................9
Gambar 2.5 Tegangan Radial ................................................................................9
Gambar 2.6 Pandangan Atas Keterpasangan Tangki............................................14
Gambar 2.7 Potongan Keterpasangan Tangki.......................................................14
Gambar 2.8 Agitator.............................................................................................16
Gambar 3.1 Kerangka Konseptual .......................................................................22
DAFTAR TABEL
Halaman
Tabel 2. 1 Notasi Tegangan.....................................................................................5
Tabel 2.2 Spesifikasi Agitator ...............................................................................17
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
PT Toba Pulp Lestari Tbk, sebelumnya bernama (PT Inti Indorayon Utama Thk)
adalah perusahaan penggilingan kertas asal Indonesia berdiri di Provinsi Sumatera
Utara, Indonesia, pada tahun 1983 dan dimiliki oleh pengusaha asal Indonesia,
Sukanto Tanoto. Pada awal mula berdirinya perusahaan ini bernama Inti
Indorayon Utama. Perusahaan ini berdiri pada tanggal 26 April 1983 dan memulai
kegiatan usaha komersialnya pada tanggal 1 April 1989.
Pada pengolahan bubur kertas (pulp) pada PT. Toba Pulp Lestari, selain
dihasilkan produk-produk yang dinginkan juga dihasilkan limbah. Limbah yang
menjadi masalah di pabrik-pabrik biasanya berupa osiran. Cairan ini dikenal
dengan nama air limbah yang sebagian besar komponenya terdiri dari air dan zat-
zat sisa pengolahan (pulp) untuk mengurangi terjadinya pencemaran lingkungan
dibutuhkan Effluent Plant sistem instalasi yang dirancang khusus untuk mengolah
air limbah industri (cair) agar mencapai baku mutu aman sebelum dibuang ke
lingkungan. Proses ini menghilangkan polutan fisik, kimia, dan biologis
menggunakan metode fisika, kimia, dan biologi seperti pengendapan dan filtrasi
guna mencegah pencemaran sungai atau laut.
Salah satu peralatan yang umum digunakan untuk menurunkan temperatur
air limbah panas adalah Cooling Tower. Cooling tower bekerja dengan prinsip
perpindahan panas dan massa, yaitu membuang panas dari air ke udara melalui
proses evaporasi. Kinerja cooling tower sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor,
antara lain debit air, suhu udara lingkungan, kelembapan udara, luas permukaan
kontak, serta performa kipas atau baling-baling yang berfungsi mengalirkan
udara.
Baling-baling pada cooling tower memiliki sudut kemiringan tertentu yang
memengaruhi kapasitas aliran udara (air flow rate) dan tekanan statis yang
dihasilkan. Perubahan sudut kemiringan baling-baling akan memengaruhi volume
udara yang melewati fill material, sehingga berpengaruh langsung terhadap
efektivitas proses pendinginan. Semakin optimal aliran udara yang dihasilkan,
1
2
maka proses perpindahan panas antara air dan udara akan semakin efektif,
sehingga temperatur air keluaran dapat diturunkan sesuai standar operasional.
Di Unit Effluent Plant, penurunan temperatur air limbah menjadi
parameter penting karena air dengan suhu tinggi dapat mengganggu proses
biologis pada tahap pengolahan berikutnya serta berpotensi mencemari
lingkungan apabila dibuang tanpa pendinginan yang memadai. Oleh karena itu,
diperlukan evaluasi teknis terhadap parameter-parameter yang memengaruhi
performa cooling tower, salah satunya adalah sudut kemiringan baling-baling.
Berdasarkan permasalahan tersebut, perlu dilakukan kajian mengenai
pengaruh variasi sudut kemiringan baling-baling terhadap penurunan temperatur
air limbah pabrik. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan data teknis
mengenai hubungan antara sudut baling-baling, debit aliran udara, dan efektivitas
pendinginan, sehingga dapat ditentukan sudut optimal yang menghasilkan
performa terbaik. Hasil penelitian ini juga dapat menjadi referensi dalam upaya
peningkatan efisiensi energi dan optimalisasi kinerja cooling tower di Unit
Effluent Plant.
Dengan demikian, penulis tertarik untuk mengangkat judul tugas akhir:
PENGARUH SUDUT KEMIRINGAN BALING BALING (FAN)
PADA COOLING TOWER UNTUK MENURUNKAN
TEMPERATUR AIR LIMBAH PABRIK DI
UNIT EFLUENT PLANT PT. TOBA
PULP LESTARI, Tbk.
3
1.2 Rumusan Masalah
Dari uraian di atas maka hal hal yang menjadi pokok permasalahan adalah
sebagai berikut.
1. Bagaimana pengaruh variasi sudut kemiringan baling-baling (fan) terhadap
debit aliran udara pada cooling tower?
2. Bagaimana pengaruh sudut kemiringan baling-baling (fan) terhadap
penurunan temperatur air limbah pada cooling tower di Unit Effluent Plant?
1.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian
1.3.1Tujuan Penelitian
1. Untuk menganalisis pengaruh variasi sudut kemiringan baling-baling (fan)
terhadap debit aliran udara pada cooling tower.
2. Untuk mengetahui pengaruh sudut kemiringan baling-baling (fan) terhadap
penurunan temperatur air limbah
1.3.2 Manfaat Penelitian
1. Menambah pengetahuan di bidang teknik mekanika dan teknik pendinginan
terkait hubungan antara karakteristik desain baling-baling (sudut kemiringan)
dengan kinerja cooling tower, khususnya pada parameter debit udara dan
penurunan temperatur air limbah
2. Memberikan dasar referensi ilmiah untuk pengembangan model analisis atau
perhitungan kinerja cooling tower yang lebih akurat dengan
mempertimbangkan variasi sudut kemiringan baling-baling sebagai variabel
kunci
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
1.1 Fungsi dan Manfaat Tangki
Tangki timbun merupakan wadah penyimpanan besar yang esensial di berbagai
pabrik industri, terutama untuk cairan seperti minyak, bahan kimia, atau air
industri. Fungsi utamanya adalah menyimpan bahan secara sementara sambil
menjaga kestabilan proses [Link] UtamaTangki timbun menampung
bahan baku, produk setengah jadi, atau hasil akhir sebelum didistribusikan, seperti
di kilang minyak atau pabrik kelapa sawit untuk CPO. Ia juga memfasilitasi
pemisahan zat (misalnya minyak dan air melalui pengendapan) serta menjaga
kestabilan pasokan [Link] di PabrikMeminimalkan risiko kontaminasi,
kebocoran, atau ledakan bahan berbahaya dengan desain sesuai standar K3
Kemnaker dan API [Link] volume produksi akurat untuk pengiriman
atau penjualan, seperti di terminal [Link] suhu atau kondisi
cairan stabil (misalnya 45-50°C untuk CPO via pipa steam), sehingga mendukung
efisiensi [Link] seperti shell, roof, bottom, piping, dan ventilasi
memastikan sistem berjalan aman dengan perawatan berkala.
2.2 Tegangan (Stress)
Tegangan (stress) adalah suatu besaran fisika yang menyatakan gaya internal per
satuan luas yang bekerja di dalam suatu material akibat adanya beban dari luar,
seperti gaya tarik, tekan, atau geser. Tegangan adalah besaran vektor yang selain
memiliki nilai juga memerlukan arah. Nilai dari tegangan di definisikan sebagai
gaya (F) per satuan luas (A). Tegangan menggambarkan seberapa besar gaya yang
dialami oleh material dalam menahan deformasi atau perubahan bentuk.
(Chamsudi, Achmad. 2005)
Menurut J.E. Shigley dalam “Mechanical Engineering Design”, tegangan
adalah resistansi internal yang ditimbulkan oleh suatu benda terhadap gaya luar
yang bekerja padanya, dan diukur sebagai gaya per satuan luas.
Menurut Ferdinand P. Beer dan E. Russell Johnston dalam “Mechanics of
Materials”, tegangan adalah intensitas gaya internal (gaya per satuan luas) yang
terbentuk dalam suatu benda saat dikenai beban dari luar.
Menurut Timoshenko dan Young dalam “Elements of Strength of
4
5
Materials”, tegangan adalah gaya internal yang bekerja antar partikel dalam
material pada suatu bidang potong imajiner di dalam struktur.
2.1.2 Satuan dan Notasi Tegangan
1. Satuan Tegangan
Tegangan adalah besaran yang menunjukkan besar gaya per satuan luas yang
bekerja pada suatu permukaan material akibat beban luar. Oleh karena itu,
satuan tegangan berasal dari satuan gaya dibagi luas. Satuan tegangan yang
digunakan dalam sistem internasional (SI) adalah Pascal (Pa). Sedangkan
dalam sistem imperial (Sistem Inggris), tegangan biasanya dinyatakan dalam
psi = pounds per square inch.
2. Notasi Tegangan
Notasi tegangan adalah simbol atau huruf yang digunakan dalam ilmu
mekanika teknik untuk mewakili jenis dan arah gaya internal (tegangan) yang
bekerja pada suatu material atau struktur akibat beban luar.
Setiap jenis tegangan memiliki simbol tertentu untuk membedakan arah
dan sifatnya (tarik, tekan, geser, melingkar, dll), karena tiap jenis tegangan
mempengaruhi kekuatan material secara berbeda. Notasi tegangan dapat
dilihat pada tabel 2.1 berikut.
Tabel 2. 1 Notasi Tegangan
Notasi Nama Tegangan Keterangan
σ Tegangan Umum digunakan untuk tegangan yang bekerja tegak
normal lurus terhadap permukaan. Bisa berupa tarik (σt) atau
tekan (σc).
τ Tegangan geser Digunakan untuk tegangan akibat gaya yang sejajar
(shear stress) bidang permukaan, misalnya saat benda digeser atau
dipuntir.
σh Tegangan hoop Tegangan melingkar pada dinding silinder atau
6
(circumferential) tangki akibat tekanan dari dalam (internal pressure).
σl Tegangan Tegangan yang bekerja sepanjang arah sumbu
longitudinal silinder, seperti pada tangki horizontal atau pipa.
σr Tegangan radial Tegangan yang bekerja menuju pusat silinder atau
pipa, sering muncul pada struktur dinding tebal.
(Sumber: Beer, F. P. 2015)
2.3 Jenis-Jenis Tegangan
Tegangan pada material tangki silinder, khususnya tangki tekanan (tekanan
dalam), dapat dibagi menjadi beberapa jenis utama. Tegangan-tegangan ini timbul
karena tekanan internal yang bekerja pada dinding silinder. Berikut adalah jenis-
jenis tegangan utama:
2.3.1 Tegangan Longitudinal
Tegangan longitudinal (SL) atau tegangan aksial adalah tegangan yang arahnya
sejajar dengan sumbu longitudinal. Nilai tegangan ini akan dinyatakan positif jika
tegangan yang terjadi adalah tegangan tarik dan negatif jika tegangannya berupa
tegangan tekan. Tegangan Longitudinal merupakan jumlah dari Tegangan Aksial
(Axial Stress), Tegangan Tekuk (Bending Stress) dan Tegangan Tekanan (Pressure
Stress), (Hoop Stress), (Longitudinal Stress). Mengenai kelima tegangan ini dapat
diuraikan berikut ini:
1. Tegangan Aksial (Sax)
Tegangan yang ditimbulkan oleh gaya Fax yang bekerja searah dengan sumbu
tangki timbun. Tegangan aksial dapat dilihat pada gambar 2.1 berikut.
7
Gambar 2.1 Tegangan Tangensial
(Sumber: Ap-Greid Oil & Gas Design Course)
2. Tegangan Tekuk (SB)
Tegangan yang ditimbulkan oleh momen (M) yang bekerja diujung-ujung
tangki. Tegangan tekuk maksimum terjadi pada permukaan tangki sedangkan
tegangan minimum terjadi pada sumbu tangki. Tegangan tekuk dapat dilihat
pada gambar 2.2 berikut.
Gambar 2.2 Tegangan Tekuk
(Sumber: Ap-Greid Oil & Gas Design Course)
3. Tegangan Tekan (SP)
Tegangan yang ditimbulkan oleh gaya tekan internal (P) yang bekerja pada
dinding tangki dan searah sumbu tangki. Tegangan Tekan dapat dilihat pada
gambar 2.3 berikut.
8
Gambar 2.3 Tegangan Tekan
(Sumber: Ap-Greid Oil & Gas Design Course)
4. Hoop Stress (Tegangan Lingkar / Circumferential Stress)
Tegangan yang terjadi sepanjang keliling (arah melingkar) dari dinding silinder
akibat tekanan dari dalam tangki. Hoop stress merupakan tegangan yang terjadi
pada bagian internal dalam tangki penyimpanan yang berpengaruh terhadap
ketebalan dinding tangki dan diameter tangki pada saat beroperasi.
Di PT. Prima Tangki Indonesia yang merupakan perusahaan penyedia
jasa tangki penyimpanan, maka hoop stress menjadi salah satu tantangan yang
harus selalu diperhatikan dan diperhitungkan untuk memastikan keamanan dan
keandalan tangki penyimpanan.
Adapun rumus yang digunakan untuk menghitung besarnya nilai hoop
stress suatu material dinding tangki silinder adalah sebagai berikut:
Pi . D
σh= .......................................................................................................
2t
(2.1)
Keterangan:
σh = Hoop stress (Pa)
P = Tekanan internal (Pa)
D = Diameter dalam silinder (m)
t = Tebal dinding tangka (m)
9
5. Logitudinal Stress (Tegangan Memanjang / Axial Stress)
Tegangan yang terjadi sepanjang sumbu panjang tangki (arah aksial) akibat
tekanan internal yang mendorong tutup-tutup ujung tangki ke luar.
Longitudinal stress merupakan sama hal nya seperti tegangan hoop stress
dimana tegangan tersebut terjadi dibagian internal tangki atau material silinder
pada saat beroperasi.
Di PT. Prima Tangki Indonesia yang merupakan perusahaan penyedia
jasa tangki penyimpanan, maka Longitudinal stress menjadi salah satu
tantangan yang harus selalu diperhatikan dan diperhitungkan untuk
memastikan keamanan dan keandalan tangki penyimpanan.
Adapun rumus yang digunakan untuk menghitung besarnya nilai
Longitudinal stress suatu material dinding tangki silinder adalah sebagai
berikut:
Pi . D
σl= ........................................................................................................
4t
(2.2)
Keterangan:
σl = Longitudinal stress (Pa)
P = Tekanan internal (Pa)
D = Diameter dalam silinder (m)
t = Tebal dinding silinder (m)
2.3.2 Tegangan Tangensial
Tegangan ini disebabkan oleh tekanan dalam tangki dimana tekanan ini bersumber
dari fluida dan nilainya selalu positif jika tegangan cenderung membelah tangki
menjadi dua. Tekanan dalam ini bekerja kearah tangensial dan besarnya bervariasi
terhadap tebal dinding dari tangki, nilai tekanan yang diberikan kepada dinding
tangki atau nilai tekanan yang dialami dinding tangki sama dengan tekanan yang
diberikan oleh fluida. Tegangan Tangensial dapat dilihat pada gambar 2.4 berikut.
10
Gambar 2.4 Tegangan Tangensial
(Sumber: Ap-Greid Oil & Gas Design Course)
2.3.3 Tegangan Radial
Tegangan radial adalah tegangan yang bekerja pada dalam arah radial tangki atau
jari-jari tangki. Besar tegangan ini bervariasi dari permukaan dalam tangki ke
permukaan luarnya dan dapat dinyatakan dengan persamaan tegangan tangensial.
Dimana pada permukaan dalam tangki, besarnya sama dengan tekanan dalam
tekanan yang disebabkan oleh fluida yang ada dalam pipa dan permukaan luar
tangki besarnya sama dengan tekanan atmosfer. Tegangan ini berupa tegangan
kompresi (negatif), dan jika ditekan dari dalam tangki akibat tekanan dalam
(internal pressure) dan berupa tegangan tarik (positif) jika didalamnya tangki
terjadi tekanan hampa (vacuum pressure). Tegangan radial dapat dilihat pada
gambar 2.5 berikut.
Gambar 2.5 Tegangan Radial
(Sumber: Diktat Pipe Stress Analysis Chamsudi)
11
2.3.4 Tegangan Geser
Tegangan geser adalah tegangan yang arahnya paralel dengan penampang
permukaan pipa yang terjadi jika dua atau lebih tegangan normal yang diuraikan
di atas bekerja pada satu titik.
2.4 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi
Dalam menghitung dan mempertimbangkan hoop stress dan longitudinal stress,
terdapat beberapa faktor-faktor dasar yang dimana dapat mempengaruhi tegangan
tersebut, diantaranya ialah sebagai berikut.
1. Tekanan Internal (Internal Pressure)
Tekanan internal adalah tekanan dari dalam tangki yang dihasilkan oleh
fluida yang disimpan. Tekanan ini bisa berasal dari:
a. Berat fluida (tekanan hidrostatik)
b. Tekanan uap (vapor pressure)
c. Tekanan akibat pemanasan
Semakin besar tekanan internal, semakin besar pula gaya yang
menekan ke dinding tangki, yang kemudian menghasilkan hoop dan
longitudinal stress.
2. Diameter atau Jari-jari Tangki (r)
Diameter atau jari-jari adalah ukuran lebar tangki silinder. Tangki yang
lebih besar memiliki luasan permukaan dinding yang lebih luas, sehingga
gaya yang bekerja dari tekanan fluida juga menjadi lebih besar. Semakin
besar jari-jari, maka tegangan (stress) yang ditanggung dinding tangki juga
akan semakin besar, karena tekanan bekerja pada area yang lebih luas.
3. Ketebalan Dinding Tangki (t)
Ketebalan dinding adalah ukuran seberapa tebal pelat baja atau material
tangki. Ini adalah faktor penting untuk menahan tekanan dari dalam.
Semakin tebal dinding tangki, maka dinding mampu menahan tekanan yang
lebih besar dan menurunkan besarnya hoop dan longitudinal stress.
4. Tinggi Fluida dalam Tangki (h)
Tinggi fluida adalah seberapa penuh tangki diisi dengan fluida. Fluida yang
lebih tinggi menghasilkan tekanan lebih besar di dasar tangki akibat berat
kolom cairan (tekanan hidrostatik). Semakin tinggi fluida, maka tekanan di
12
bagian bawah tangki akan semakin tinggi, sehingga stress di bagian bawah
tangki juga lebih besar.
5. Massa Jenis Fluida (ρ)
Massa jenis adalah berat jenis fluida per satuan volume. Minyak memiliki
massa jenis lebih besar dibanding air. Fluida dengan massa jenis lebih tinggi
akan memberikan tekanan lebih besar pada dinding tangki, terutama di dasar
akan menyebabkan stress yang lebih tinggi.
6. Metode Pengelasan dan Sambungan
Tangki terdiri dari beberapa pelat logam yang disambung menggunakan
pengelasan. Kualitas sambungan ini sangat penting. Jika las tidak sempurna,
area tersebut bisa menjadi titik lemah → berisiko retak atau bocor akibat
konsentrasi tegangan (stress concentration).
7. Tekanan Eksternal (jika ada)
Tekanan eksternal adalah tekanan dari luar tangki, seperti dari atmosfer
tertekan atau jika tangki tertanam sebagian. Tekanan dari luar dapat
mengubah distribusi tegangan di dinding tangki, terutama jika tekanan
internal rendah.
2.5 Pengertian Tangki Timbun
Tangki timbun (storage tank) adalah wadah atau bejana berukuran besar yang
digunakan untuk menyimpan cairan atau fluida dalam jumlah besar dalam suatu
periode waktu tertentu. Tangki ini banyak digunakan dalam berbagai industri
seperti minyak dan gas, petrokimia, pangan, serta pengolahan air.
Di PT. Prima Tangki Indonesia, tangki timbun digunakan untuk menyimpan
minyak kelapa sawit mentah yang datang dari pabrik kelapa sawit sebelum
dikirim ke pabrik pengolahan lebih lanjut atau pelabuhan ekspor.
Tangki adalah wadah atau struktur yang dirancang untuk menyimpan cairan,
gas, atau bahan padat dalam jumlah besar. Tangki dapat terbuat dari berbagai
material, termasuk logam, plastik, dan beton, dan digunakan dalam berbagai
industri, seperti minyak dan gas, kimia, makanan dan minuman, serta air. Fungsi
utama tangki adalah untuk menyimpan, mengelola, dan mengontrol bahan yang
disimpan, serta memastikan keselamatan dan efisiensi operasional.
Menurut Robert E. T. Smith dalam bukunya Storage Tank Design, Smith
13
mendefinisikan tangki sebagai struktur yang dirancang untuk menyimpan cairan
atau gas dalam jumlah besar, dengan fokus pada desain yang aman dan efisien.
Ia menekankan pentingnya mempertimbangkan faktor-faktor seperti tekanan,
suhu, dan sifat bahan yang disimpan dalam desain tangki. (Smith, R. E. T, 2005)
Menurut Daniel A. Crowl dan Joseph F. Louvar dalam Chemical Process
Safety: Fundamentals with Applications, Crowl dan Louvar menjelaskan bahwa
tangki adalah komponen penting dalam sistem penyimpanan bahan kimia. Mereka
menekankan bahwa tangki harus dirancang dengan mempertimbangkan
keselamatan, termasuk risiko kebocoran dan ledakan, serta harus mematuhi
regulasi yang berlaku.
Menurut A. A. El-Shafie, El-Shafie mendefinisikan tangki sebagai wadah
penyimpanan yang dirancang untuk menampung cairan atau gas, dengan fokus
pada aspek teknis dan manajemen risiko. Ia menyoroti pentingnya material dan
desain yang tepat untuk memastikan ketahanan dan keamanan tangki.
Menurut J.R. McNeill dalam Something New Under the Sun, McNeill tidak
memberikan definisi spesifik tentang tangki, tetapi ia membahas peran tangki
dalam konteks industri dan lingkungan. Ia menunjukkan bahwa tangki
penyimpanan adalah bagian integral dari infrastruktur industri yang
mempengaruhi lingkungan dan keberlanjutan. (McNeill, J. R., 2000)
Menurut American Petroleum Institute (API), API mendefinisikan tangki
sebagai struktur yang digunakan untuk menyimpan minyak, gas, dan bahan kimia
lainnya. Mereka mengembangkan standar untuk desain dan konstruksi tangki,
menekankan pentingnya keselamatan dan efisiensi dalam penyimpanan bahan
berbahaya.
Fungsi tangki timbun di pelabuhan adalah gudang penyimpanan produk.
Kegiatan pengapalan minyak sawit kasar sangat bergantung pada ketersediaan
produk di tangki timbun pelabuhan. Salah faktor yang diperhatikan dalam
pengendalian persediaan di pelabuhan adalah menjaga mutu minyak sawit kasar
sehingga saat pengapalan spesifikasi yang telah ditetapkan oleh pelanggan dapat
terpenuhi.
Menurut Pahan (2006) kerusakan minyak sawit kasar bisa terjadi selama
pengiriman dari pabrik ke pelabuhan. Konsekuensi yang harus ditanggung pihak
14
manajemen tangki timbun pelabuhan apabila mendapatkan kiriman minyak sawit
kasar dari pabrik yang tidak memenuhi spesifikasi adalah biaya produk kurang
bermutu. Kondisi ini perlu diperhatikan dalam manajemen persediaan tangki
timbun pelabuhan dalam penentuan ukuran pasokan ekonomis.
Asumsi yang digunakan dalam biaya produk kurang bermutu adalah linear
terhadap jumlah pasokan yang diterima pelabuhan. Produk kurang bermutu juga
diasumsi tetap dikapalkan tetapi dengan konsekuensi adanya pinalti harga
penjualan yang menjadi lebih murah.
Tangki yang merupakan suatu wadah atau tempat penyimpanan suatu objek
simpan, kemudian tergolong kedalam kelompok ataupun klasifikasi yang ditinjau
dari beberapa aspek pengklasifikasian.
2.5.1 Struktur dan Bentuk Umum Tangki Timbun Silinder
Tangki timbun silinder berbentuk tabung vertikal dengan dasar datar atau sedikit
melengkung, dan biasanya dilengkapi atap tetap (fixed roof) atau atap
mengambang (floating roof) tergantung jenis cairan yang disimpan. Beberapa
alasan digunakannya bentuk ini adalah:
a. Mampu menahan tekanan hidrostatik dengan efisien.
b. Mudah dalam fabrikasi dan pemasangan.
c. Cocok untuk berbagai volume penyimpanan (ratusan hingga jutaan liter).
Di PT. Prima Tangki Indonesia jenis tangki ini (storage tank) memiliki
ketebalan plat penyusun yang berbeda antara (top, middle, bottom).
Sebelum membahas secara spesifik mengenai struktur dan material tangki,
berikut ini akan dijelaskan terlebih dahulu dengan gambar mengenai
keterpasangan tangki timbun yang berada di PT. Prima Tangki Indonesia.
1. Pandangan Atas
Berikut ini adalah gambar keterpasangan tangki timbun melalui pandangan
atas. Pada gambar keterpasangannya ini akan dijelaskan mengenai komponen-
komponen yang terdapat didalam suatu keterpasangan tangki penyimpanan
(storage tank). Pandangan atas keterpasangan tangki dapat dilihat pada gambar
2.6 dibawah ini.
15
Gambar 2.6 Pandangan Atas Keterpasangan
Keterangan Gambar:
1. Dinding luar tangki 7. Steam coil lane 2
2. Dinding dalam tangki 8. Steam coil lane 3
3. Vent Pipe 9. Agitator 2
4. Main Hole Atas 10. Main Hole samping
5. Agitator 1 11. Pipa inlet
6. Steam coil lane 1 12. Agitator 3
2. Potongan Keterpasangan Tangki
Berikut ini adalah gambar keterpasangan tangki timbun melalui pandangan
depan. Potongan keterpasangan tangki dapat dilihat pada gambar 2.7 berikut.
Gambar 2.7 Potongan Keterpasangan Tangki
16
2.5.2 Komponen Utama Tangki Silinder
1. Shell (Dinding Silinder)
Shell atau dinding silinder adalah bagian utama dari struktur tangki timbun
berbentuk silinder vertikal yang berfungsi sebagai penampung cairan dan
penahan tekanan dari dalam tangki. Shell menjadi komponen utama yang
membentuk volume penyimpanan fluida dan menanggung sebagian besar
beban akibat berat cairan, tekanan internal, dan beban lingkungan seperti
angin atau gempa.
2. Bottom Plate (Dasar Tangki)
Bottom plate atau dasar tangki adalah bagian paling bawah dari struktur
tangki timbun yang berfungsi sebagai alas penopang seluruh cairan yang
disimpan dan mendistribusikan beban cairan ke pondasi. Komponen ini
merupakan area yang paling sering bersentuhan langsung dengan cairan,
sehingga sangat penting dalam aspek kekuatan, ketahanan terhadap korosi,
dan integritas tangki secara keseluruhan.
3. Roof (Atap Tangki)
Roof atau atap tangki adalah bagian atas dari tangki timbun yang berfungsi
untuk menutupi dan melindungi cairan di dalam tangki dari pengaruh
lingkungan luar, seperti hujan, debu, panas matahari, serta mencegah atau
mengendalikan penguapan cairan (terutama pada cairan volatile seperti bahan
bakar). Roof juga membantu menjaga tekanan dalam tangki tetap stabil dan
aman.
4. Vent Pipe
Vent pipe adalah pipa ventilasi yang dipasang pada tangki timbun untuk
mengatur sirkulasi udara dan tekanan gas di dalam tangki, khususnya saat
terjadi proses pengisian (filling) atau pengosongan (emptying) cairan. Vent
pipe memungkinkan udara keluar atau masuk ke dalam tangki, sehingga
mencegah tekanan berlebih (over pressure) atau tekanan negatif (vakum)
yang dapat merusak struktur tangki.
5. Main Hole
Manhole atau main hole adalah lubang akses berbentuk bulat atau oval yang
terdapat pada tangki timbun dan berfungsi sebagai pintu masuk bagi personel
17
atau alat ke dalam tangki, baik untuk pemeriksaan, pemeliharaan, perbaikan,
pembersihan, maupun pengambilan sampel di dalam tangki.
6. Agitator
Agitator adalah sebuah alat mekanis yang digunakan untuk mengaduk,
mencampur, atau menjaga homogenitas cairan di dalam suatu wadah atau
tangki. Dalam konteks tangki timbun, agitator berfungsi untuk mengaduk
cairan seperti minyak kelapa sawit mentah agar tidak mengendap, tetap
homogen, serta menjaga suhu dan viskositas yang merata.
Agitator (pengaduk) adalah serangkaian komponen peralatan yang berfungsi
untuk menghomogenkan larutan dengan pemanfaatan putaran (rotary). Pengaduk
dalam tangki memiliki fungsi sebagai pompa yang menghasilkan laju volumetrik
tertentu pada tiap kecepatan putaran dan input daya. Input daya dipengaruhi oleh
geometri peralatan dan fluida yang digunakan. Profil aliran dan derajat turbulensi
merupakan aspek penting yang mempengaruhi kualitas pencampuran. Rancangan
pengaduk sangat dipengaruhi oleh jenis aliran, laminar atau turbulen. Aliran
laminar biasanya membutuhkan pengaduk yang ukurannya hampir sebesar tangki
itu sendiri. Hal ini disebabkan karena aliran laminar tidak memindahkan
momentum sebaik aliran turbulen.
Pencampuran di dalam tangki pengaduk terjadi karena adanya gerak rotasi
dari pengaduk dalam fluida. Gerak pengaduk ini memotong fluida tersebut dan
dapat menimbulkan arus yang bergerak keseluruhan sistem fluida tersebut. Oleh
sebab itu, pengaduk merupakan bagian yang paling penting dalam suatu operasi
pencampuran fasa cair dengan tangki pengaduk. Agitator dapat dilihat pada
gambar 2.8 dibawah ini.
Gambar 2.8 Agitator
(Sumber: Dokumentasi Pribadi)
18
Spesifikasi Agitator dapat dilihat pada tabel 2.1 dibawah ini.
Tabel 2.2 Spesifikasi Agitator
Tipe Propeller (3 daun kipas)
Model 5057
Power 4 kW
Speed 281 RPM
7. Steam Coil
Steam coil adalah pipa berliku (koil) yang dipasang di dalam tangki timbun,
berfungsi sebagai pemanas tidak langsung yang menggunakan uap air (steam)
sebagai media pemanas. Steam coil dipakai untuk menjaga suhu cairan di
dalam tangki tetap stabil, khususnya pada cairan yang mudah mengental atau
membeku seperti minyak kelapa sawit mentah.
2.6 Tekanan dalam Tangki Timbun
Tekanan adalah besar gaya normal (tegak lurus) yang dikenakan oleh suatu zat
(padat, cair, atau gas) pada suatu permukaan per satuan luas permukaan tersebut.
Tekanan (pressure) juga beragam tergantung faktor yang mempengaruhi dan juga
besar gaya dan luasnya bidang tekan. (API Standard 650.2013)
Beberapa variasi dari pada tekanan yang terjadi didalam suatu tangki
penyimpanan (storage tank) atau tangki timbun adalah sebagai berikut.
2.6.1 Tekanan Hidrostatis
Tekanan hidrostatis (Hydrostatic Pressure) adalah tekanan yang diakibatkan oleh
gaya yang ada pada zat cair terhadap suatu luas bidang tekanan pada kedalaman
tertentu. Secara konseptual tekanan hidrostatis terjadi atas dasar hukum pascal.
Konsep penting yang perlu dipahami dalam materi fluida statis, khususnya
tekanan hidrostatis ialah tekanan hidrostatis tidak dipengaruhi oleh massa jenis
wadah, melainkan dipengaruhi oleh massa jenis zat cair, udara di sekeliling,
percepatan gravitasi dan kedalaman dari benda yang berada di dalam zat cair
tersebut, konsep penting yang perlu dipahami juga ialah prinsip-prinsip dari
hukum pascal.
Tekanan hidrostatis ini terjadi karena berat fluida yang berada di atas suatu
19
titik di dalam tangki. Tekanan hidrostatis fluida dipengaruhi oleh ketinggian fluida
tersebut, ketinggian ini diukur dari permukaan fluida sampai titik ukur yang
diinginkan. Adapun sifat dari pada tekanan ini (Hydrostatic Pressure) adalah:
a. Tekanan ini meningkat seiring bertambahnya kedalaman fluida dalam tangki.
b. Merupakan tekanan utama yang bekerja ke segala arah pada dinding tangki
bagian bawah.
Adapun rumus yang digunakan untuk menghitung besarnya tekanan
hidrostatis adalah.
P = ρ⋅g⋅h.............................................................................................................(2.3)
Keterangan:
P = tekanan hidrostatik (Pa)
ρ= massa jenis fluida (kg/m³)
g = percepatan gravitasi (9,81 m/s²)
h = tinggi kolom fluida dari permukaan ke titik ukur (m)
2.6.2 Tekanan Uap (Vapor Pressure)
Tekanan uap atau vapor pressure adalah tekanan yang dihasilkan oleh uap dari
suatu zat cair (atau padat) ketika zat tersebut berada dalam kesetimbangan dengan
fasa cairnya pada suhu tertentu dalam ruang tertutup. Tekanan uap adalah
tekaanan yang ditimbulkan oleh uap cairan yang menguap dan terkumpul di
bagian atas tangki (ruang headspace). Adapun sifat-sifat dari tekanan ini (vapor
pressure) adalah sebagai berikut:
a. Umumnya terjadi jika tangki tertutup rapat dan menyimpan fluida pada suhu
tinggi (seperti CPO dengan pemanas).
b. Dapat menyebabkan akumulasi tekanan gas yang harus dikendalikan agar tidak
melebihi batas desain.
2.6.3 Tekanan akibat Pemanasan (Thermal Expansion Pressure)
Tekanan akibat pemanasan atau thermal expansion pressure adalah tekanan
tambahan yang terjadi di dalam suatu ruang tertutup karena pemuaian fluida
akibat kenaikan suhu. Saat fluida (baik cair maupun gas) dipanaskan dalam ruang
tertutup seperti tangki timbun, volumenya cenderung ingin bertambah. Namun,
jika ruang penyimpanan tidak memberikan ruang ekspansi yang cukup, maka
20
tekanan di dalam tangki akan meningkat.
2.6.4 Tekanan Internal (Internal Pressure)
Tekanan internal adalah tekanan total yang bekerja dari dalam suatu wadah atau
tangki akibat keberadaan fluida (cair atau gas) di dalamnya, baik karena berat
fluida, penguapan, reaksi kimia, maupun pemanasan. Tekanan ini memberikan
gaya ke arah luar pada permukaan bagian dalam dari dinding tangki, dan menjadi
salah satu faktor utama dalam perhitungan tegangan material, ketebalan dinding
tangki, serta keselamatan struktur tangki.
Semakin besar tekanan internal, semakin besar pula gaya yang menekan ke
dinding tangki, yang kemudian menghasilkan hoop dan longitudinal stress.
Tekanan internal adalah tekanan dari dalam tangki yang dihasilkan oleh fluida
yang disimpan. Tekanan ini bisa berasal dari:
a. Berat fluida (tekanan hidrostatik)
b. Tekanan uap (vapor pressure)
c. Tekanan akibat pemanasan
2.7 POME
Di dunia industri kelapa sawit, istilah POME adalah singkatan dari Palm Oil Mill
Effluent atau limbah cair pabrik kelapa sawit. POME adalah hasil sampingan dari
proses ekstraksi minyak kelapa sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO) dari tandan
buah segar (TBS).
POME bukanlah minyak yang dapat dikonsumsi, melainkan limbah cair
yang memiliki karakteristik khusus dan potensi besar, baik sebagai masalah
lingkungan jika tidak dikelola dengan baik maupun sebagai sumber daya yang
berharga. Densitas (massa jenis) POME sawit bervariasi tergantung pada
komposisinya, tetapi umumnya sedikit lebih tinggi dari air murni. Densitas POME
berkisar antara 1,005 hingga 1,05 g/cm³ atau 1005 hingga 1050 kg/m³.
Meskipun POME adalah limbah yang dapat mencemari, karakteristiknya
yang kaya akan bahan organik dan nutrisi menjadikannya sumber daya yang
berharga jika diolah dengan benar.
1. Sumber Energi Terbarukan (Biogas): Ini adalah pemanfaatan POME yang
paling menonjol. Kandungan bahan organik yang tinggi memungkinkan POME
diolah dalam biodigester anaerobik (sistem pengolahan tertutup tanpa oksigen)
21
untuk menghasilkan biogas yang kaya akan metana. Biogas ini dapat
digunakan sebagai bahan bakar untuk menghasilkan listrik atau panas di pabrik
itu sendiri, bahkan bisa diolah menjadi Bio-CNG (Compressed Natural Gas
berbasis hayati) untuk bahan bakar transportasi.
2. Pupuk Organik: Kandungan N, P, dan K yang tinggi dalam POME
menjadikannya pupuk yang sangat baik. Setelah diolah melalui proses
fermentasi atau lainnya, POME dapat diaplikasikan ke perkebunan kelapa
sawit untuk mengembalikan nutrien ke tanah, mengurangi ketergantungan pada
pupuk kimia, dan meningkatkan kesuburan tanah.
3. Bahan Baku Kompos: POME dapat dicampur dengan limbah padat lain dari
pabrik kelapa sawit, seperti tandan kosong (Empty Fruit Bunch/EFB), untuk
membuat kompos yang bernilai ekonomis.
4. Sumber Air Olahan: Setelah diolah, terutama melalui sistem pengolahan
biologis yang canggih, POME dapat diubah menjadi air olahan yang aman
untuk dibuang ke lingkungan atau bahkan digunakan kembali untuk keperluan
non-produksi di pabrik.
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Tempat dan Waktu
Mahasiswa adalah peserta didik dalam kegiatannya perlu mengaplikasikan teori-
teori yang telah didapatkan dalam proses belajar selama berlangsungnya
perkuliahan. Politeknik Teknologi Kimia Industri Medan merupakan perguruan
tinggi yang bertanggung jawab untuk mempersiapkan mahasiswa sebagai sumber
daya manusia yang ahli dan terampil.
Karena itu, Politeknik Teknologi Kimia Industri Medan, dalam upaya
peningkatan sumber daya manusia yang siap dipakai di dunia kerja, terlebihnya di
dunia industri. Melaksanakan Praktek Kerja Lapangan (PKL) sebagai sarana
pengembangan diri, pengetahuan dan kemampuan sesuai dengan bidang ilmunya.
3.1.1 Tempat Penelitian
Penelitian dilakukan di PT. Prima Tangki Indonesia Jalan Pelabuhan No.3, Kuala
Tj., Kec. Sei Suka, Kabupaten Batu Bara, Sumatera Utara.
3.1.2 Waktu Penelitian
Praktek Kerja Industri di PT. Prima Tangki Indonesia Kuala Tj., Kec. Sei Suka,
Kabupaten Batu Bara dilakukan dalam 02 bulan yang dilaksanakan dari tanggal
01 Juli s/d 15 September 2024.
3.2 Pengumpulan Data
Data akan dikumpulkan dengan menggunakan metode berikut:
1. Observasi langsung: Mengamati, mengenal dan mempelajari komponen
pendukung tangki penyimpanan.
2. Pengukuran teknis: Melakukan pengukuran pada ketebalan, tinggi, tebal dan
diameter (diameter dalam dan luar) tangki.
21
22
3.3 Kerangka Konseptual
Mulai
Tinjauan Pustaka
Rumusan Masalah
Berapa hoop stress yang Berapa longitudinal stress
terjadi pada dinding yang terjadi pada dinding
tangki pada ketebalan tiap tangki pada ketebalan tiap
plat (top, middle, bottom) plat (top, middle, bottom)
akibat adanya tekanan akibat adanya tekanan
fluida dalam tangki fluida dalam tangki
Pengambilan Data
Tidak
Analisa
Data
Kesimpulan
Selesai
Gambar 3.1 Kerangka Konseptual
BAB IV
PEMBAHASAN
4.1 Data
Dari hasil praktek kerja industri yang telah dilaksanakan, pada tangki
penyimpanan (storage tank) di PT. Prima Tangki Indonesia, mengenai besarnya
hoop stress dan stress longitudinal yang terjadi pada tangki timbun akibat adanya
tekanan fluida dari dalam tangki untuk tujuan mengtahui batas ketahanan tangki,
maka kemudian diperoleh data pengukuran. Data pengukuran dapat dilihat pada
tabel 4.1 berikut.
Tabel 4.1 Data Pengukuran
OBJEK KETERANGAN
Jenis Tangki Storage Tank
Jenis Material Carbon Steel (SS400)
Standart JIS G3101 400-510 MPa
Diameter (D) 21 m
Ketebalan Dinding Tangki (t)
a. Top a. 6 mm = 0,006 m
b. Middle b. 8 mm = 0,008 m
c. Bottom c. 12 mm = 0,012 m
g (gravitasi) 9,81 m/ s2
Tinggi Tangki (T)
a. Top a. 8,4 m
b. Middle b. 9,8 m
c. Bottom c. 11,2 m
Jenis Fluida POME
Density Fluida ( ρ ¿ 1050 kg/m³
4.2 Analisa Data
4.2.1 Tekanan Hidrostatis Fluida Dalam Tangki
Sebelum melakukan perhitungan besarnya hoop stress (σh ¿ dan stress
longitudinal (σl ) yang terjadi pada dinding tangki akibat adanya tekanan internal
23
24
fluida dari dalam tangki, maka perlu untuk melakukan perhitungan besarnya
tekanan hidrosotatis (hydrostatic) yang terjadi akibat tekanan fluida dalam tangki.
Untuk menghitung besarnya tekanan hidrostatis akibat tekanan fluida adalah
dengan menggunakan rumus 2.3. Adapun rumus yang digunakan untuk
menghitung besarnya tekanan hidrostatis adalah.
P = ρ⋅g⋅h.............................................................................................................(2.3)
Keterangan:
P = tekanan hidrostatik (Pa)
ρ = massa jenis fluida (kg/m³)
g = percepatan gravitasi (9,81 m/s²)
h = tinggi kolom fluida dari permukaan ke titik ukur (m)
1. Perhitungan Tekanan Hidrostatis Fluida (POME) Dalam Tangki
a. Perhitungan Tekanan Hidrostatis (P) Dinding Bagian Atas (Top)
P = ρ⋅g⋅h
P = 1050 kg/m³ x 9,81 m/ s2 x 8,4 m
P = 86.524,2 kg/m. s2
P = 86.524,2 Pa
b. Perhitungan Tekanan Hidrostatis (P) Dinding Bagian Tengah (Middle)
P = ρ⋅g⋅h
P = 1050 kg/m³ x 9,81 m/ s2 x (8,4 m + 9,8 m)
P = 187.469,1 kg/m. s2
P = 187.469,1 Pa
c. Perhitungan Tekanan Hidrostatis (P) Dinding Bagian Bawah (Bottom)
P = ρ⋅g⋅h
P = 1050 kg/m³ x 9,81 m/ s2 x (8,4 m + 9,8 m + 11,2 m)
P = 302.834,7 kg/m. s2
P = 302.834,7 Pa
4.2.2 Besarnya Hoop Stress Akibat Tekanan Hidrostatis
Setelah dilakukan perhitungan besarnya tekanan hidrostatis akibat tekanan fluida
dalam tangki, maka selanjutnya perhitungan besarnya hoop stress (tegangan
25
melingkar) yang terjadi pada dinding tangki akibat tekanan internal pada tiap
ketebalan plat dinding tangki. Adapun rumus yang digunakan untuk menghitung
besarnya hoop stress adalah dengan menggunakan rumus persamaan 2.1.
Pi . D
σh= .......................................................................................................(2.1)
2t
Dimana:
σh = Hoop stress (Pa)
P = Tekanan internal (Pa)
D = Diameter dalam silinder (m)
t = Tebal dinding tangki (m)
1. Perhitungan besarnya hoop stress pada dinding bagian atas (top)
Pi . D
σh =
2t
Pi .(D−t )
σh =
2t
86.524 , 2 Pa x (21 m−0,006 m)
σh =
2 x 0,006 m
1.816 .489,0548 Pa . m
σh =
0,012 m
σh = 151.374.087,9 Pa
σh = 151,374 MPa
Maka besarnya hoop stress yang terjadi pada dinding bagian atas (top) adalah
sebesar 151,374 MPa
2. Perhitungan besarnya hoop stress pada dinding bagian tengah (middle)
Pi . D
σh =
2t
Pi .(D−t )
σh =
2t
187.469 ,1 Pa x (21 m−0,008 m)
σh =
2 x 0,008 m
3.935.351,3472 Pa .m
σh =
0,016 m
26
σh = 245.959.459,2 Pa
σh = 245,959 MPa
Maka besarnya hoop stress yang terjadi pada dinding bagian tengah (middle)
adalah sebesar 245,959 MPa
3. Perhitungan besarnya hoop stress pada dinding bagian bawah (bottom)
Pi . D
σh =
2t
Pi .(D−t )
σh =
2t
302.834 , 7 Pa x (21 m−0,012 m)
σh =
2 x 0,012 m
6.355.894,6836 Pa . m
σh =
0,024 m
σh = 264.828.945,15 Pa
σh = 264,829 MPa
Maka besarnya hoop stress yang terjadi pada dinding bagian bawah (bottom)
adalah sebesar 264,829 MPa
4.2.3 Besarnya Stress Longitudinal Akibat Tekanan Hidrostatis
Setelah dilakukan perhitungan besarnya tekanan hidrostatis akibat tekanan fluida
dalam tangki, maka selanjutnya perhitungan besarnya stress longitudinal
(tegangan memanjang) yang terjadi pada dinding tangki akibat tekanan internal
pada tiap ketebalan plat dinding tangki. Adapun rumus yang digunakan untuk
menghitung besarnya stress longitudinal adalah dengan menggunakan rumus
persamaan 2.2.
Pi . D
σl= ........................................................................................................(2.2)
4t
Keterangan:
σl = Longitudinal stress (Pa)
P = Tekanan internal (Pa)
D = Diameter dalam silinder (m)
t = Tebal dinding silinder (m)
27
1. Perhitungan besarnya stress longitudinal pada dinding bagian atas (top)
Pi . D
σl =
4t
Pi .(D−t )
σl =
4t
86.524 , 2 Pa x (21 m−0,006 m)
σl =
4 x 0,006 m
1.816 .489,0548 Pa . m
σl =
0,024 m
σl = 75.687.043,95 Pa
σl = 75,687 MPa
Maka besarnya stress longitudinal yang terjadi pada dinding bagian atas (top)
adalah sebesar 75,687 MPa
2. Perhitungan besarnya stress longitudinal pada dinding bagian tengah (middle)
Pi . D
σl =
4t
Pi .(D−t )
σl =
4t
187.469 ,1 Pa x (21 m−0,008 m)
σl =
4 x 0,008 m
3.935.351,3472 Pa .m
σl =
0,032 m
σl = 122.979.729,6 Pa
σl = 122,98 MPa
Maka besarnya stress longitudinal yang terjadi pada dinding bagian tengah
(middle) adalah sebesar 122,98 MPa
3. Perhitungan besarnya stress longitudinal pada dinding bagian bawah (bottom)
Pi . D
σl =
4t
Pi .(D−t )
σl =
4t
28
302.834 , 7 Pa x (21 m−0,012 m)
σl =
4 x 0,012 m
6.355.894,6836 Pa . m
σl =
0,048 m
σl = 132.414.472,575 Pa
σl = 132,414 MPa
Maka besarnya stress longitudinal yang terjadi pada dinding bagian bawah
(bottom) adalah sebesar 132,414 MPa
4.2.4 Penentuan Batas Ketahanan Tangki Dalam Menahan Tegangan
Penentuan batas ketahanan tangki dapat dilakukan dengan melakukan
perbandingan antara kekuatan material dengan besarnya tegangan yang terjadi
pada tangki. Material penyusun tangki adalah carbon steel SS400, dimana
menurut standar JIS G3101 batas kekuatan tangki berdasarkan material adalah
sebesar 400-510 MPa.
1. Perbandingan Batas Ketahanan (JIS G3101) dengan Hoop Stress Yang Terjadi
Pada Tangki
a. Hoop stress pada bagian atas (top) = 151,374 MPa
b. Hoop stress pada bagian tengah (middle) = 245,959 MPa
c. Hoop stress pada bagian bawah (bottom) = 264,829 MPa
( 151,374+245,959+264,829 ) MPa
Total rata-rata hoop stress =
3
662,162 MPa
=
3
= 220,721 MPa
Berdasarkan total rata-rata hoop stress yang terjadi pada tangki sebesar
220,721 MPa ≤ 510 MPa, maka berdasarkan perbandingan tersebut tangki
masih dalam batas ketahanan yang aman dalam menahan hoop stress yang
terjadi.
2. Perbandingan Batas Ketahanan (JIS G3101) dengan Stress longitudinal Yang
Terjadi Pada Tangki
a. Stress longitudinal pada bagian atas (top) = 75,687 MPa
b. Stress longitudinal pada bagian tengah (middle) = 122,98 MPa
29
c. Stress longitudinal pada bagian bawah (bottom) = 132,414 MPa
( 75,687+122 , 98+132,414 ) MPa
Total rata-rata Stress longitudinal =
3
331,081 MPa
=
3
= 110,36 MPa
Berdasarkan total rata-rata Stress longitudinal yang terjadi pada tangki sebesar
110,36 MPa ≤ 510 MPa, maka berdasarkan perbandingan tersebut tangki masih
dalam batas ketahanan yang aman dalam menahan Stress longitudinal yang
terjadi.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Dari hasil pengumpulan data dan analisa data, maka penulis mengambil
kesimpulan bahwa:
1. Berdasarkan hasil perhitungan tekanan hidrostatis (P) yang terjadi akibat
tekanan internal fluida, maka diperoleh tekanan hidrostatis pada bagian atas
(top) sebesar 86.524,2 Pa. Pada bagian tengah (middle) sebesar 187.469,1 Pa.
Pada bagian bawah (bottom) sebesar 302.834,7 Pa. Berdasarkan hasil
perhitungan tekanan hidrostatis maka diperoleh besarnya hoop stress yang
terjadi pada tangki pada bagian atas (top) sebesar 151,374 MPa. Pada bagian
tengah (middle) sebesar 245,959 MPa. Pada bagian bawah (bottom) sebesar
264,829 MPa.
30
2. Berdasarkan hasil perhitungan tekanan hidrostatis (P) yang terjadi akibat
tekanan internal fluida, maka diperoleh besarnya stress longitudinal yang
terjadi pada tangki bagian atas (top) sebesar 75,687 MPa. Pada bagian tengah
(middle) sebesar 122,98 MPa. Pada bagian bawah (bottom) sebesar 132,414
MPa. Berdasarkan hasil perhitungan juga diperoleh total rata-rata hoop stress
yang terjadi pada tangki adalah 220,721 MPa ≤ 510 MPa, maka dapat
disimpulkan tangki dalam batas ketahanan yang aman dalam menahan hoop
stress yang terjadi pada tangki. Berdasarkan hasil perhitungan juga diperoleh
total rata-rata stress longitudinal yang terjadi pada tangki adalah 110,36 MPa
≤ 510 MPa, maka dapat disimpulkan tangki dalam batas ketahanan yang
aman dalam menahan stress longitudinal yang terjadi pada tangki.
5.2 Saran
1. Untuk mengurangi resiko terjadinya kerusakan pada tangki timbun akibat
hoop stress dan stress longitudinal yang diakibatkan oleh tekanan hidrostatis
(tekanan internal fluida), maka ketebalan plat dinding tangki harus
disesuaikan untuk menghindari kerusakan pada tangki timbun
2. Pemilihan jenis material yang tepat dan sesuai sebagai bahan penyusun tangki
timbun menjadi salah satu faktor penentu untuk keberhasilan proses dan
kunci dalam menjaga umur layanan tangki. Ketahanan material penyusun
tangki terhadap tegangan yang terjadi seperti hoop stress dan stress
longitudinal akibat tekanan internal fluida harus disesuaikan dengan tepat.
Dikarenakan apabila tegangan yang terjadi pada tangki melebihi batas
ketahanan maksimal material penyusun tangki, maka dapat merusak tangki
dan menyebabkan kerugian dan keterlambatan operasional pabrik.
31
DAFTAR PUSTAKA
API Standard 650. (2013). Welded Tanks for Oil Storage. American Petroleum
Institute.
Beer, F. P., Johnston, E. R., DeWolf, J. T., & Mazurek, D. F. (2015). Mechanics of
Materials (7th ed.). New York: McGraw-Hill Education.
Callister, William D. Jr. 2014. Materials Science and Engineering: An
Introduction, 9th Edition, Wiley
Chamsudi, Achmad. 2005. Diktat Piping Stress Analysis. Jakarta: PT. Rekayasa
Industri.
Giancoli, D.C. [Link] Edisi Ketujuh Jilid I. Jakarta: Erlangga
McNeill, J. R. (2000). Something New Under the Sun: An Environmental History
of the Twentieth-Century World. W.W. Norton & Company.
Smith, R. E. T. (2005). Storage Tank Design. Gulf Professional Publishing.
32