0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
2 tayangan15 halaman

RT 1

Dokumen ini membahas tantangan dalam penyelenggaraan pendidikan dasar di Indonesia pasca otonomi daerah, termasuk masalah infrastruktur, kekurangan anggaran, dan kualitas guru. Meskipun ada ketentuan konstitusi mengenai alokasi anggaran pendidikan, realisasinya masih jauh dari harapan. Selain itu, kesejahteraan guru yang rendah dan kurangnya sarana prasarana pendidikan menjadi faktor penghambat dalam meningkatkan kualitas pendidikan.

Diunggah oleh

nikelsulawesi143
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
2 tayangan15 halaman

RT 1

Dokumen ini membahas tantangan dalam penyelenggaraan pendidikan dasar di Indonesia pasca otonomi daerah, termasuk masalah infrastruktur, kekurangan anggaran, dan kualitas guru. Meskipun ada ketentuan konstitusi mengenai alokasi anggaran pendidikan, realisasinya masih jauh dari harapan. Selain itu, kesejahteraan guru yang rendah dan kurangnya sarana prasarana pendidikan menjadi faktor penghambat dalam meningkatkan kualitas pendidikan.

Diunggah oleh

nikelsulawesi143
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

VRUIHGUFHGREUGHUYBVFJVBFJGBMGKBNJTRIGHERUIGHRT

EIUEHFURHGURTGHTU

EFIUREHGUITRHGU

FUNYRBGU BGU HBHTUBH

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Sejak pelaksanaan otonomi daerah, penyelenggaraan pendidikan


diserahkan kepada pemerintah kabupaten/kota. Tujuan sebenarnya
adalah untuk meningkatkan keberhasilan dalam pembangunan bidang
pendidikan. Namun kondisi saat ini tampaknya pemerintah
kabupaten/kota dapat dikatakan belum memiliki kesiapan.

Akibatnya Pendidikan dasar banyak menghadapi masalah-


masalah yang kompleks. Di antaranya adalah masih banyak gedung-
gedung dan meja/kursi yang rusak, kekurangan buku perpustakaan,
kekurangan guru, kualitas lulusan yang rendah, masalah anggaran
yang tidak mencukupi, dll.

Permasalahan dalam pendidikan yang demikian banyak, harus


dipikirkan jalan keluarnya secara sungguh-sungguh oleh pemerintah.
Pemerintah, baik pusat, propinsi maupun kabupaten tak dapat
membiarkan masalah-masalah pendidikan terus berkembang menjadi
masalah yang makin sulit diatasi.

1.2 Permasalahan
 Masalah-masalah apa saja yang di hadapi Pemerintah dalam
pelaksanaan Pendidikan Dasar?

1.3 Tujuan
Tujuan pembuatan makalah ini adalah untuk :

 Untuk mengetahui apa saja masalah-masalah apa saja yang di hadapi


Pemerintah dalam pelaksanaan Pendidikan Dasar

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 PENGERTIAN

2.1.1 PENGERTIAN PENDIDIKAN DASAR


Pendidikan Dasar adalah pendidikan umum yang lamanya
sembilan tahun, diselenggarakan selama enam tahun di Sekolah Dasar
dan tiga tahun di Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama atau satuan
pendidikan yang sederajat. Di akhir masa pendidikan dasar selama 6
(enam) tahun pertama (SD/MI), para siswa harus mengikuti dan lulus
dari Ujian Nasional (UN) untuk dapat melanjutkan pendidikannya ke
tingkat selanjutnya (SMP/MTs) dengan lama pendidikan 3 (tiga) tahun.
2.1.2 TUJUAN PENDIDIKAN DASAR

Tujuan Pendidikan adalah untuk terwujudnya manusia yang


beriman dan bertaqwa kepada kepada Tuhan Yang Maha Esa,
berakhlak mulia, sehat, cerdas, berperasaan, berkemauan, dan mampu
berkarya, mampu memenuhi kebutuhannya secara wajar, mampu
mengendalikan hawa nafsunya, berkepribadian, bermasyarakat dan
berbudaya.

Tujuan Pendidikan Dasar adalah untuk berkembangnya kemampuan


dasar pada diri peserta didik sehingga dapat mengembangkan
kehidupanya sebagai pribadi, sebagai anggota masyarakat, sebagai
warga Negara, sebagai umat manusia, dan sebagai makhluk Tuhan
Yang Maha Esa serta mempersiapkan peserta didik untuk mengikuti
jenjang pendidikan menengah.

2.1.3 FUNGSI PENDIDIKAN DASAR


Fungsi Pendidikan adalah untuk mewujudkan/mengembangkan
berbagai potensi yang ada pada peserta didik dalam konteks dimensi
kehidupan keberagamaan, moralitas, induvidualitas/personalitas,
sosialitas, dan keberbudayaan secara menyeluruh dan terintegrasi.

Fungsi Pendidikan Dasar adalah :

1. Sebagai jenjang pendidikan awal dalam hubungannya dengan


jenjang pendidikan menengah
2. Untuk mewujudkan/mengembangkan berbagai potensi yang ada
pada peserta didik dalam konteks dimensi kehidupan
keberagamaan, moralitas, individualitas/personalitas, sosialitas,
dan keberbudayaan secara menyeluruh dan terintegrasi, sehingga
memiliki kemampuan dan keterampilan dasar untuk pendidikan
selanjutnya dan bekal untuk hidup dalam masyarakat.

2.2 ANGGARAN PENDIDIKAN


Dalam UUD 1945 Pasal 31 ayat (4) secara tegas dinyatakan:
"Negara memprioritaskan anggaran pendidikan sekurang-kurangnya
20% dari anggaran pendapatan dan belanja negara serta dari
anggaran dan belanja daerah untuk memenuhi kebutuhan
penyelenggaraan pendidikan nasional." Menurut definisi yang berlaku
umum, anggaran pendidikan adalah keseluruhan sumber daya baik
dalam bentuk uang maupun barang, yang menjadi input dan
dimanfaatkan untuk kepentingan penyelenggaraan pendidikan.
Segenap sumber daya tersebut bisa berupa investasi untuk
pembangunan prasarana dan sarana (gedung sekolah, ruang kelas,
kantor, perpustakaan, laboratorium), biaya operasional, penyediaan
buku dan peralatan, serta gaji guru. Setiap komponen sumber daya
berkaitan langsung dengan keberlangsungan pelayanan pendidikan
sehingga harus dihitung sebagai satu kesatuan pembiayaan
pendidikan.
Namun kewajiban konstitusi pemerintah untuk mengalokasikan
anggaran pendidikan sebesar 20% dari APBN dan APBD belumlah
dipenuhi sepenuhnya hingga saat ini. Buktinya APBN Tahun 2008 yang
telah disahkan pada Rapat Paripurna DPR menetapkan alokasi
anggaran pendidikan hanya 12 persen. Dalam RAPBN 2008, alokasi
untuk anggaran pendidikan hanya sebesar 12 %, jauh di bawah
ketentuan UUD 1945 Pasal 31 ayat (4) dan UU No. 20 tahun 2003
tentang Sistem Pendidikan Nasional, bahwa anggaran pendidikan
sebesar 20 persen. Formulasi anggaran pendidikan 20% kemudian
dirumuskan oleh Pemerintah dan DPR dalam UU 20/2003 tentang
Sisdiknas, bahwa gaji pendidik dan biaya kedinasan tidak termasuk
dalam anggaran 20%, bahwa pemenuhan amanah konstitusi dengan
cara bertahap seperti dalam penjelasan pasal 49 ayat (1) UU sisdiknas
adalah tidak dibenarkan.

Kenyataannya APBN 2007 pun tidak sesuai dengan amanah


konstitusi. Anggaran pendidikan masih berada pada level 11,8%.
karenanya MK dalam Putusan No. 026/PUU-IV/2007 kembali
menegaskan bahwa UU No. 18/2006 tentang APBN 2007 menyangkut
anggaran pendidikan adalah bertentangan dengan UUD 1945 sehingga
tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat. Pemerintah mengulangi
kembali pelanggaran konstitusional pada APBN 2008 ini. Padahal,
Mahkamah Konstitusi (MK) sudah mengeluarkan keputusan bahwa
APBN 2006 dan APBN 2007 melanggar konstitusi. Jadi, dengan tidak
tercapainya anggaran pendidikan 20% berarti pemerintah dan DPR
bersama-sama mengabaikan keputusan MK.

Rupanya keputusan MK itu tidak mampu juga menggetarkan


kemauan politik para penentu kebijakan di negara ini. Pengabaian juga
terjadi terhadap keputusan raker yang telah disepakati antara Komisi X
DPR RI dengan tujuh Menteri Kabinet Indonesia Bersatu, yaitu Menko
Kesra, Mendiknas, Menteri Dalam Negeri, Menteri Pendayagunaan dan
Aparatur Negara (Menpan), Menteri PPN/Ketua Bappenas, Menteri
Agama, dan Menteri Keuangan pada 4 Juli 2005 lalu telah menyepakati
kenaikan anggaran pendidikan adalah 6,6% pada 2004, menjadi 9,3%
(2005), menjadi 12% (2006), menjadi 14,7% (2007), menjadi 17,4 %
(2008), dan terakhir 20,1% (2009).

Sementara realisasinya, tahun 2004 anggaran pendidikan masih


sekitar 5,5% dari APBN atau sekitar Rp20,5 triliun. Dan meningkat
menjadi Rp 24,6 tiriliun pada 2005. Pada tahun 2006 pemerintah
hanya mengalokasikan anggaran pendidikan sebesar 9,7 persen dan
dalam APBN 2007 anggaran untuk sektor pendidikan hanya sebesar
11,8 persen, Dan APBN 2008 hanya mengalokasikan 12%, nilai ini
setara dengan Rp61,4 triliun dari total nilai anggaran Rp854,6 triliun.

2.3 SARPRAS PENDIDIKAN KURANG MENDUKUNG


Peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia selain tergantung
kepada kualitas guru juga harus ditunjang dengan sarana dan
prasarana pendidikan yang memadai.
Tapi sayangnya, hingga sekarang ini, sarana dan prasarana pendidikan
yang dimiliki sebagian besar sekolah di Indonesia masih kurang
memadai seperti fasiltas laboratorium dan sebagainya. Sarana dan
prasarana ini padahal sangat vital dalam kegiatan proses belajar dan
mengajar. Sebagian besar alat peraga di sekolah-sekolah masih kurang
terkontrol baik dari segi mutu, harga dan sikap pribadi para pengusaha
sarana pendidikan.

Padahal setiap satuan pendidikan wajib memiliki prasarana yang


meliputi lahan, ruang kelas, ruang pimpinan satuan pendidikan, ruang
pendidik, ruang tata usaha, ruang perpustakaan, ruang laboratorium,
ruang bengkel kerja, ruang unit produksi, ruang kantin, instalasi daya
dan jasa, tempat berolahraga, tempat beribadah, tempat bermain,
tempat berkreasi, dan ruang/tempat lain yang diperlukan untuk
menunjang proses pembelajaran yang teratur dan berkelanjutan.

Tanpa ada sarana dan prasarana yang mendukung proses


Pendidikan, pendidikan di Indonesia akan sulit mengalami kemajuan.
Dengan terpenuhinya sarana dan prasarana akan sangat menunjang
atas tercapainya suatu tujuan dari pendidikan, sebagai seorang
personal pendidikan kita dituntut untuk menguasi dan memahami
administrasi sarana dan prasarana, untuk meningkatkan daya kerja
yang efektif dan efisien serta mampu menghargai etika kerja sesama
personal pendidikan, sehingga akan tercipta keserasian,
kenyamanan yang dapat menimbulkan kebanggaan dan rasa
memiliki baik dari warga sekolah maupun warga masyarakat
sekitarnya. Lingkungan pendidikan akan bersifat positif atau negatif itu
tergantung pada pemeliharaan sarana dan prasarana itu sendiri.

2.4 KEPROFESIONALAN GURU


Guru adalah ujung tombak dalam proses pendidikan. Berhasil
atau tidaknya suatu proses pendidikan serta tinggi rendahnya kualitas
suatu pendidikan ditentukan salah satunya oleh guru. Demikian
pentingnya peranan seorang guru tentunya membawa pada suatu
tanggung jawab untuk menjalankan profesi tersebut dengan suatu
sikap profesionalisme yang tinggi. Dan dalam menjalankan profesinya,
seorang guru tidak hanya dituntut untuk mampu memberikan
pengetahuan kepada anak didiknya, akan tetapi juga harus mampu
menanamkan suatu nilai – nilai pendidikan dengan guru sebagai
modelnya.

Dalam menjalankan profesinya, seorang guru harus melakukan


dua fungsi sekaligus yaitu; fungsinya secara moral yang mana ia
diharuskan membimbing anak didiknya tidak hanya dengan
kecerdasannya akan tetapi juga dengan rasa cinta, dan rasa tanggung
jawab yang tinggi. Dan juga menjalankan fungsi kedinasannya yaitu
mendidik dan membimbing para anak didiknya agar menjadi sumber
daya manusia yang berkualitas dan bermanfaat bagi pembangunan
bangsa.

Seperti yang telah disampaikan diatas bahwa Guru adalah salah


satu komponen manusiawi dalam proses belajar – mengajar, yang ikut
berperan dalam usaha pembentukan SDM yang potensial dibidang
pembangunan. Oleh karena itu, Guru yang merupakan salah satu
unsur dibidang kependidikan harus berperan serta secara aktif dan
menempatkan kedudukannya sebagai tenaga profesional, sesuai
dengan tuntutan masyarakat yang semakin berkembang. Dalam arti
khusus dapat dikatakan bahwa pada setiap diri guru itu terletak
tanggung jawab untuk membawa para siswanya pada kedewasaan
atau taraf kematangan tertentu. Oleh karena itu menurut saya, Guru
tidak semata – mata sebagai pengajar yang melakukan transfer of
knowledge, akan tetapi juga sebagai “pendidik” yang melakukan
transfer of values dan sekaligus sebagai “pembimbing” yang
memberikan pengarahan dan menuntun siswa dalam belajar.

Berkaitan dengan masalah ini, sebenarnya Guru memiliki


peranan yang unik dan sangat kompleks didalam proses belajar –
mengajar, dalam usahanya untuk mengantarkan siswa atau anak didik
ke taraf yang dicita – citakan. Oleh karena itu, setiap rencana kegiatan
Guru harus dapat didudukan dan dibenarkan semata – mata demi
kepentingan anak didik, sesuai dengan profesi dan tanggung
jawabnya.

Berkenaan dengan peranan seorang Guru, maka profesionalisasi


seorang Guru sangatlah penting untuk memenuhi tuntutan
masyarakat. Namun demikian, membahas masalah profesionalisasi
seorang Guru tidak dapat lepas dari persyaratan atau kualifikasi –
kualifikasi yang harus dipenuhi. Dalam hal ini berkaitan dengan
kualitas intelektual dan mentalnya untuk menjalankan fungsinya
sebagai seorang pendidik dan pembimbing. Bagi saya secara pribadi
memaknai “profesionalisme” seorang pendidik lebih kepada aspek
afeksi seorang pendidik. Dimana seorang pendidik yang tidak
profesional lebih hanya seorang “pekerja” yang hanya memberikan
kewajibannya saja untuk mengajar dan menuntut haknya “uang”
semata tanpa memikirkan aspek psikologis para murid dan tanggung
jawabnya sebagai pendidik. Sekarang ini jarang sekali kita temui
seorang pendidik yang benar – benar berdedikasi secara luhur dan
berdasarkan panggilan hati nuraninya sebagai seorang “Guru”. Saya
termasuk orang yang kurang sependapat kalau “uang” adalah faktor
utama yang dapat meningkatkan keprofesionalisasian seseorang
terhadap pekerjaannya atau lebih tepatnya tanggung jawabnya.
Kesejahteraan “uang” bukan satu – satunya alasan seorang pendidik
untuk menjadikannya sebagai senjata ampuh untuk mereka
mengeluhkan keprofesionalan pekerjaan mereka, pada akhirnya
peserta didik lah yang akan menjadi korbannya.

2.5 KESEJAHTERAAN GURU RENDAH


Faktor lain yang menjadi masalah dalam perkembangan
Pendidikan Dasar adalah kesejahteraan guru. Hal ini sangat
berimplikasi terhadap rendahnya kinerja seorang Guru. Dalam
menyikapi masalah satu ini, banyak yang pro dan kontra terhadap
masalah “kesejahteraan” yang selama ini telah menjadi permasalahan
yang belum ketemu ujung pangkalnya. Sebagian orang beranggapan
bahwa sangat kurangnya kompensasi dari pemerintah terhadap kinerja
guru mengakibatkan kurang profesionalnya para guru di negara kita
selama ini.

Akan tetapi ada juga yang beranggapan bahwa “kesejahteraan”


itu tidak dapat sepenuhnya menjamin keprofesionalan seorang Guru
dalam bekerja. Kesejahteraan itu muncul apabila seorang Guru dapat
bekerja secara profesional dan bersungguh – sungguh menjalankan
tugasnya dengan penuh keikhlasan dan dedikasi yang tinggi terhadap
pekerjaan. Seandainya “kesejahteraan” yang diberikan terlebih dahulu
kepada yanglebih layak menerimanya terlebih dahulu adalah para
pendidik yang berada dipedalaman – pedalaman yang sudah barang
tentu dedikasinya terhadap pendidikan sangat baik. Sebagai contoh
seorang “Butet” yang pendidikan terakhirnya S2, dengan penuh
dedikasi mengabdikan dirinya pada pendidikan anak – anak disuku
Anak Dalam dipedalaman Jambi dan sekarang kalau tidak salah dia
berada dipedalam Papua. Kita patut mencontoh terhadap
perjuangannya untuk ikut mencerdaskan kehidupan bangsa, tanpa
memikirkan kesejahteraan dan kenikmatan dunia semata. Orang
semacam ini yang seharusnya mendapatkan “kesejahteraan” yang
selama ini dielu – elukan oleh para pendidik di negara kita, dan
seharusnya kita malu!
Permasalahan – permasalahan yang ada di dunia pendidikan sudah
harus kita sikapi dari sekarang, kita harus memperbaiki kesalahan –
kesalahan yang telah kita lakukan terutamanya terhadap LPTK di
negara kita untuk lebih selektif dalam penerimaan mahasiswanya.
Sehingga jurusan – jurusan keguruan dan kependidikan kita sekarang
berisikan tidak hanya orang – orang “nomer dua” yang terpaksa dalam
memilih jurusan dan bukan karena panggilan hati nuraninya sebagai
pendidik. Hendaknya dilakukan seleksi yang ketat dan profesional,
tidak hanya secara intelektual saja akan tetapi juga harus diberikan tes
bakat dan minat terhadap calon tenaga pendidik tersebut, sehingga
kita dapat menciptakan tenaga – tenaga pendidik yang mantap secara
intelektual dan dedikasinya terhadap dunia pendidik. Apalagi di era
pengetahuan seperti sekarang ini, apabila permasalahan –
permasalahan dalam dunia pendidikan seperti sekarang ini belum juga
dapat ditanggulangi dengan segera, maka dunia pendidikan kita akan
semakin tertinggal jauh baik secara kuantitas dan kualitasnya.

Yang sangat kita khawatirkan adalah kecenderungan orang –


orang untuk menjadi seorang pendidik hanya beralasan pada masalah
“kesejahteraan” semata, tanpa adanya panggilan hati nuraninya
sebagai pendidik. Apabila ini dibiarkan maka akan semakin membuat
terperosoknya kualitas pendidikan di negara kita, khususnya terhadap
kualitas pendidik dinegara kita.

Upaya dalam menyikapi profesionalisme tenaga pendidik dalam


usaha untuk meningkatkan mutu pendidik sekaligus juga mutu peserta
didik di negara kita. Salah satunya melalui kebijakan mengenai
sertifikasi guru yang sekarang ini sedang digembar – gemborkan. Pada
dasarnya sertifikasi adalah upaya untuk meningkatkan profesi seorang
pendidik agar setara dengan profesi – profesi yang sudah ada seperti;
dokter, pengacara, psikolog, dan lain sebagainya. Pada hakikatnya
profesi adalah suatu pernyataan atau janji seseorang yang
mengabdikan dirinya pada suatu jabatan atau layanan karena orang
tersebut merasa terpanggil menjabat pekerjaan itu. Sedangkan
sertifikasi pada hakikatnya adalah pemberian sertifikat kompetensi
atau surat keterangan sebagai pengakuan terhadap kemampuan
seseorang dalam melakukan suatu pekerjaan setelah lulus uji
kompetensi. Apabila dihubungkan dengan profesi guru, maka
sertifikasi dapat diartikan sebagai surat bukti kemampuan mengajar
dalam mata pelajaran, jenjang dan bentuk pendidikan tertentu.

BAB III

PENUTUP

3.1 KESIMPULAN
Pendidikan sangat penting untuk perkembangan bangsa
Indonesia. Terutama Dikdas, karena pada Dikdas peserta didik akan
dibentuk wataknya untuk menjadi seperti apa nantinya. Perkembangan
Pendidikan Dasar di Indonesia masih sangat jauh dari maju karena
masalah-masalah yang di hadapi Pemerintah dan Dinas Pendidikan
seperti banyak gedung dan meja/kursi yang rusak, kekurangan buku
perpustakaan, kekurangan guru, kualitas lulusan yang rendah, dan
masalah anggaran yang tidak mencukupi dan mjsih banyak lagi yang
lainnya.

Dari semua masalah tadi, masalah yang paling serius adalah


anggaran dari Pemerintah yang di dalam UU tertulis 20% sampai
sekarang belum terlaksana seutuhnya, kurangnya buku-buku
perpustakaan yang di gunakan untuk menambah ilmu yang tidak
diberikan di dalam pelajaran, kurangnya guru yang professional
dikarenakan kurangnya perhatian Pemerintah terhadap kesejahteraan
guru. Kesejahteraan guru akan berakibat profesinal atau tidaknya
seorang guru.

3.2 SARAN
Masalah-masalah yang dijelaskan di atas hanyalah masalah-
masalah yang menurut penulis penting dari sekian banyak masalah
yang di hadapi pemerintah. Makalah ini sifatnya hanyalah sebagai
pengantar belajar mahasiswa, jadi pembaca bisa menambahkan
masalah-masalah apa saja yang sampai saat ini masih di hadapi
pemerintah.

Oleh karena itu kami mengharapkan kritik dan saran yang


membangun untuk melengkapi dan memperbaiki makalah kami yang
selanjutnya.
DAFTAR PUSTAKA

 Wahjoetomo, Wajib Belajar Pendidikan Dasar 9 Tahun. Gramedia


Widiasarana. Jakarta. 1993.
 Prof. Dr. Waini Rasyidin. Landasan Filosofis Pendidikan Dasar.
 Keputusan Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat Nomor :
01 Kep./ Menko / Kesra / I /1991 tentang Tim Koordinasi Wajib Belajar
Pendidikan Dasar.
 Tim Peneliti Universitas Merdeka Malang. 1993. Laporan Hasil
Penelitian tentang Kesiapan Pelaksanaan Program Wajib Belajar 9
Tahun. Malang : Lembaga Penelitian UNMER Malang.
 [Link]
[Link]

Anda mungkin juga menyukai