0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan11 halaman

MN 5

Dokumen ini membahas metodologi perencanaan dan analisis struktur untuk pembangunan gedung lima lantai di Kota Semarang, termasuk pengumpulan data sekunder dan langkah-langkah perencanaan yang sistematis. Data yang diperlukan mencakup deskripsi bangunan, sistem struktur, dan analisis tanah untuk menentukan pondasi yang tepat. Rencana pelaksanaan studi ini dijadwalkan selama lima bulan dengan tahapan yang jelas untuk memastikan penyusunan laporan tugas akhir yang tepat waktu.

Diunggah oleh

zafiareyn
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan11 halaman

MN 5

Dokumen ini membahas metodologi perencanaan dan analisis struktur untuk pembangunan gedung lima lantai di Kota Semarang, termasuk pengumpulan data sekunder dan langkah-langkah perencanaan yang sistematis. Data yang diperlukan mencakup deskripsi bangunan, sistem struktur, dan analisis tanah untuk menentukan pondasi yang tepat. Rencana pelaksanaan studi ini dijadwalkan selama lima bulan dengan tahapan yang jelas untuk memastikan penyusunan laporan tugas akhir yang tepat waktu.

Diunggah oleh

zafiareyn
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

1 Tinjauan Umum Metodologi diartikan sebagai studi sistematis kualitatif atau kuantitatif

dengan berbagai metode dengan teknik analisis. Beberapa analisis ilmiah diterapkan melalui

analisis kualitatif dan dapat pula menggunakan analisis kuantitatif. Kedua analisis tersebut

digunakan untuk saling melengkapi dan saling mengkoreksi sejauh mana ketepatan analisisnya.

3.2 Pengumpulan Data Data yang dijadikan bahan acuan dalam penyusunan Laporan Tugas

Akhir ini dapat diklasifikasikan menjadi 1 (Satu) menurut jenis datanya, yaitu data sekunder.

3.2.1 Data Sekunder Data yang dijadikan bahan acuan dalam penyusunan Laporan Tugas Akhir,

dimana data tersebut diperoleh dari instansi tertentu yang digunakan langsung sebagai

sumber dalam Perancangan Pembangunan Gedung Lima Lantai Hotel di Kota Semarang .

Klasifikasi data yang menunjang penyusunan Laporan Tugas Akhir adalah literatur literatur

penunjang, grafik, tabel dan peta-peta yang berkaitan erat dengan proses perancangan studi.

Secara garis besar data yang dibutuhkan dalam perancangan dan perhitungan struktur utama

gedung ini adalah : 1. Deskripsi umum bangunan Deskripsi umum bangunan meliputi fungsi

bangunan dan lokasi yang akan didirikan. Fungsi bangunan berkaitan dengan perencanaan

pembebanan sedangkan lokasi bangunan adalah untuk mengetahui keadaan tanah dan lokasi

bangunan yang akan didirikan sehingga bisa direncanakan struktur bangunan bawah yang akan

dipakai. 2. Denah dan sistem struktur bangunan Yang dimaksud sistem bangunan struktur
meliputi rencana struktur yang akan direncanakan, seperti atap, portal dan lain-lain sebagainya

yang berfungsi sebagai perhitungan perencanaan lebih lanjut. Sedangkan rencana denah

tersebut di atas merupakan studi awal yang berkaitan dengan perencanaan posisi 60 dan

kondisi bangunan, seperti dinding, letak lift, letak tangga dan lain-lain sebagainya. 3. Wilayah

gempa bangunan sekitar Merencanakan suatu bangunan membutuhkan ketelitian dalam

perhitungan pembebanan, salah satunya pembenanan yang diakibatkan oleh gempa. Oleh

karena itu perlu diketahui wilayah gempa dari struktur yang akan dibangun. Menurut data

yang ada struktur Gedung Kantor di Kota Semarang yang akan dibangun termasuk dalam

wilayah zone 2. 4. Data tanah berdasarkan penyelidikan tanah Data tanah berfungsi untuk

merencanakan struktur bangunan bawah yang akan digunakan (pondasi). Data tanah tersebut

meliputi : a. Sondir Untuk mengetahui kedalaman tanah keras di lokasi tersebut berdasarkan

nilai conus resistance (qc). b. Soil test Digunakan untuk mengetahui nilai berat jenis tanah (γ).

c. Direct shear test Data direct shear test digunakan untuk mengetahui nilai kohesi tanah (c)

dan untuk mengetahui sudut geser tanah (φ). Nilai-nilai yang diperoleh dari penyelidikan tanah

tersebut di atas digunakan untuk menghitung daya dukung pondasi yang diijinkan untuk

dipikul pondasi. 3.3 Metode Analisis Pada bagian sub bab ini diuraikan secara garis besar

langkah-langkah (metode yang digunakan) dalam perencanaan bangunan dan perancangan


strukturnya. Langkah-langkah yang dimaksud meliputi komponen bangunan non-struktural

(atap), komponen bangunan struktur utama portal dan struktur pondasi. 1. Langkah

perencanaan dan perancangan komponen non-struktural (atap) : a. Tentukan denah dan

konfigurasi atap beserta sistem strukturnya. b. Estimasi dimensi elemen strukturnya. 61 c.

Tentukan beban yang bekerja pada struktur. d. Analisis struktur bangunan atap. e. Desain

elemen struktur termasuk detail joint dan perletakan serta alat sambungnya. 2. Langkah-

langkah perencanaan dan perancangan komponen struktural (pelat, balok dan kolom) : a.

Kumpulkan data perencanaan. b. Kumpulkan data beban. c. Lakukan perhitungan struktur

sebagai berikut : 1) Tentukan denah dan konfigurasi bangunan berikut sistem strukturnya. 2)

Tentukan daktilitas struktur yang akan datang. 3) Tentukan faktor jenis struktur. 4) Tentukan

batas dimensi dari komponen struktur (pelat, balok, kolom). 5) Hitung pelat lantai. 6)

Rencanakan balok portal. 7) Rencanakan kolom portal. 8) Tentukan penulangan pada portal. 3.

Langkah-langkah dalam perencanaan dan perancangan pondasi sub structure (struktur bawah)

: a. Analisis dan penentuan parameter tanah. b. Pemilihan jenis pondasi. c. Analisis beban yang

bekerja pada pondasi. d. Estimasi dimensi pondasi. e. Perhitungan daya dukung pondasi. f.

Desain pondasi Langkah-langkah tersebut di atas merupakan acuan dalam menyelesaikan

analisis perhitungan. Dengan demikian diharapkan langkah-langkah tersebut dapat terlaksana


dengan runtut, sehingga penyusunan Laporan Tugas Akhir dapat berjalan dengan lancar. 3.4

Rencana Teknis Pelaksanaan Studi Penyusunan Tugas Akhir “Perencanaan Struktur

Pembangunan Gedung Lima Lantai Kantor di Kota Semarang” dibatasi dalam waktu 5 bulan.

Oleh karenanya, 62 untuk dapat menyelesaikan Laporan Tugas Akhir ini tepat pada waktunya

diperlukan perencanaan kerja yang tepat. 3.4.1 Tahap Pelaksanaan Studi Dalam penyusunan

Laporan Tugas Akhir yang akan dilakukan meliputi berbagai tahapan, diantaranya : 1.

Persiapan dan Perijinan Sebagai langkah awal dilakukan persiapan dan perijinan yaitu

persiapan dan perijinan dalam pengajuan pembuatan Tugas Akhir menurut bidang ilmu

masing-masing (dalam hal ini adalah bidang ilmu struktur). Pada langkah ini, hal yang perlu

dilakukan adalah permohonan soal (tugas) yang diberikan pembimbing utama. 2. Studi

Literatur Studi literatur meliputi hal-hal yang berkaitan dengan struktur/konstruksi bangunan

gedung. Struktur bangunan gedung yang dimaksud adalah struktur utama yang tidak menutup

kemungkinan untuk pembahasan lain yang menunjang. 3. Survai Lapangan Survai dilakukan

dalam rangka memperoleh data, baik data primer lapangan maupun data sekunder. 4.

Kompilasi Data Tahapan ini merupakan tahapan pengumpulan data yang dibutuhkan untuk

melengkapi laporan. Data tersebut adalah data masukkan yang siap dianalisis. 5. Analisis Data

Berdasarkan data yang diperoleh kemudian dianalisis untuk mengetahui apakah perencanaan
bangunan tersebut telah sesuai / layak. 6. Penyusunan Laporan Diharapkan pada tahap ini

telah sampai pada hasil analisa, sehingga dapat diambil suatu simpulan dan dapat memberikan

rekomendasi walaupun bersifat sementara. 7. Penyusunan Laporan Akhir Tahapan ini

merupakan tahap akhir dalam pelaksanaan studi, lengkap dengan simpulan akhir dan

direkomendasi. 63 3.4.2 Bagan Alir Dalam pembuatan laporan ini diharapkan dapat

memperoleh hasil yang diinginkan dan selesai tepat pada waktunya. Secara sistematis rencana

penyusunan (bagan alir) dapat di lihat dalam Gambar 3.1, berikut ini : MULAI Data Gambar

Arsitektur dan Data Tanah Denah Struktur Tafsir Dimensi “Tata Cara Perhitungan Struktur

Beton Bangunan Gedung” untuk (SNI 03-2847-2002) “Pedoman Perencanaan Ketahanan

Gempa untuk Bangunan Gedung dan Non Gedung” (SNI 1726:2012) PEMBEBANAN (Atap,

Pelat, Tangga, Kolom, Balok) Perhitungan Mekanika Struktur Perhitungan Struktur : Atap,

Pelat, Balok, Kolom, Pondasi “PedomanPerencanaan Pembebanan untuk “Tata Cara

Perhitungan Struktur Beton Bangunan Gedung” YA Cek Kekakuan TIDAK YA Cek Dimensi

Struktur TIDAK (SNI 03-2847-2002) untuk “GrafikdanPerhitunganBet SELESAI Gambar 3.1

Bagan Metodologi Rencana Pelaksanaan/Penyusunan Tugas Akhir. 64 65 3.5 Time Schedulle

Penyusunan Tugas Akhir Rencana waktu pelaksanaan penyusunan laporan Tugas Akhir ini

diselesaikan selama 5 Bulan terhitung sejak tanggal 14 Maret 2018 – 14 September 2018. No
Materi Minggu Ke 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 1 Pengajauan Denah

Gambar Gedung 2 Pembuatan Proposal TA (BAB I, BAB II, BAB III) 3 Penghitungan/Perencanaan

Struktur (BAB IV) 4 Gambar dan Detail Struktur 5 Penutupan (BAB VII) 6 Penjilidan TA BAB IV

PERHITUNGAN STRUKTUR 4.1 Perencanaan Struktur Atap Gambar 4.1 Perspektif Rangka Atap

Sumber : Dokumentasi Pribadi Program SAP Gambar 4.2 Tampak Atas Rangka Atap Sumber :

Dokumentasi Pribadi Program Autocad 66 Gambar 4.3 Tampak Atas Denah Atap Sumber :

Dokumentasi Pribadi Program Autocad Gambar 4.4 Potongan Kuda – Kuda Utama Sumber :

Dokumentasi Pribadi Program Autocad 4.1.1 Pedoman Perhitungan Atap Dalam perencanaan

atap, adapun pedoman yang dipakai, sebagai berikut : 1. Pedoman Perencanaan Pembebanan

Untuk Rumah dan Gedung (PPPURG 1987). 2. Gunawan, Rudy. 1988. Tabel Profil Kontruksi

Baja. Penerbit Kanisius : Yogyakarta. 67 3. Setiawan, Agus. 2013. Perencanaan Struktur Baja

dengan Metode LRFD. Penerbit Erlangga : Jakarta. 4. SNI 03- 1729- 2002. Tata Cara

Perencanaan Struktur Baja untuk Bangunan Gedung. 4.1.2 Dasar Perencanaan Pada

perencanaan gording, tahapan dalam perencanaan meliputi: data-data teknis, pembebanan

gording, kombinasi dan kontrol kekuatan profil pada gording. Secara umum data yang

digunakan untuk perhitungan rencana atap adalah sebagai berikut : a. Bentuk atap b. Jarak

antar kuda – kuda utama c. Jarak antar gording Kutama d. Kemiringan atap Kutama e. f.
Bentang kuda – kuda Kutama Bahan penutup atap g. Bahan rangka kuda – kuda h. Bahan

gording Kutama : Pelana : 4 m : 2,048 m : 30º : 18 m : Genteng : Baja double L : Baja hollow

Tube profil 150.100.6 i. Alat sambung : Baut Sifat mekanis baja struktural untuk perencanaan

di tetapkan sebagai berikut : 1. Modulus Elastisitas (E) 2. Modulus Geser (G) 3. Poisson Ratio

(µ) 4. Koefisien Muai (α) = 200000 Mpa = 80000 Mpa = 30 % = 1,2 * 10-6/ ºC (pasal 5.1.3, SNI

03- 1729- 2002, hal 9) 5. Mutu Baja 6. Tegangan Leleh (fy) 7. Tegangan Ultimit (fu) 8.

Peregangan Minimum = BJ 37 = 240 Mpa = 370 Mpa = 20 % 68 Tabel 4.1. Sifat Mekanis Baja

Struktural (tabel 5.3, SNI 03- 1729- 2002, hal 11) Berat bangunan dan komponen gedung di

tetapkan sebagai berikut : 1. Berat per Unit Volume Baja = 7850 kg/m3 2. Penutup Atap

Genteng 3. Plafond Eternit 4. Penggantung = 50 kg/m2 = 11 kg/m2 = 7 kg/m2 (PPPURG 1987,

hal 5-6) Beban hidup pada atap di tetapkan sebagai berikut : 5. Beban Hidup Pekerja 6. Beban

Air Hujan = 100 kg = (40 – 0,8 x 35) = 12 kg/m2 (PPPURG 1987, hal 7) 7. Tekanan Tiup Angin 8.

Koefisien Angin : - Angin Tekan - Angin Hisap = 25 kg/m2 (PPPURG 1987, hal 18) = 0,02α – 0,4 =

- 0,40 (PPPURG 1987, hal 20) 4.1.3 Perencanaan Pembebanan Gording Utama Pada

perencanaan gording menggunakan baja profil baja hollow dengan dimensi 150.100.6 dengan

data sebagai berikut : b. Berat gording c. d. e. A B Ts : 21,7 kg/m : 150 mm : 100 mm : 6 mm 69

(Tabel 4.2 Profil Konstruksi Baja, hal 54) Gambar 4.5 Profil Gording Sumber: Dokumentasi
Pribadi Program SAP [Link] Perhitungan Gording 1. Pembebanan a. Beban Mati (titik) Beban

gording = 21,7 kg/m Berat Penutup atap = ( 2,048 x 50 ) Berat trackstarng 10 % x 21,7 kg/m q

qx = q sin α = 102,4 kg/m = 2,17 kg/m = 126,27 kg/m = 126,27 sin 30 º qy Mx1 My1 = q cos α =

126,27 cos 30º = 1/8 . qx . L2 = 1/8 . 53,364 . 4 2 = 53,364 kg/m = 114,439 kg/m = 106,728 kg.m

= 1/8 . qy . L2 = 1/8 . 114,439 . 4 2 = 228,878 kg.m b. Beban Hidup 70 P diambil sebesar 100 kg

(beban pekerja) Px = p sin α Py Mx2 My2 = P cos α = ¼ Px L = ¼ Py L c. Beban Air Hujan = 100

sin 30 º = 100 cos 30 º = ¼ x 42,262 x 4 = ¼ x 90,630 x 4 Beban air hujan (qH perlu) = 40 – 0,8 x

α° ) = (40 – 0,8 x 30 ° ) Beban Air Hujan Maksimum (qHmax) = 42,262 kg = 90,630 kg = 42,262

kg.m = 90,630 kg.m = 16 kg/m2 = 16 kg/m2 (PPPURG 1987, hal 7) Beban Air Hujan Perlu <

Beban Air Hujan Maksimum, maka yang dipakai adalah Beban Air Hujan Perlu = 12 kg/m2

Beban Air Hujan = 2,048 m x 12 kg/m2 x 4 m = 98,304 kg PHx = 98,304 . sin 30° = 41,545 kg PHy

= 98,304 . cos 30° = 89,094 kg Perhitungan Momen Pembebanan Mx = 1 4 . PHx . L My = 1 4 Mx

= 1 4 Mx = 41,545 kg.m . 41,545 . 4 My = 1 4 . PHy . L . 89,094 . 4 My = 89,094 kg.m total beban

hidup pekerja dan air hujan adalah Mxtotal Mytotal = 42,262 + 41,545 = 83,807 = 90,630 +

89,094 = 179,724 kg.m kg.m Jadi 71 d. Beban Angin 1 2 3 4 . 5 Beban angin kondisi normal,

minimal = 25 kg/m2 Koefisien kemiringan atap ( α ) = 30 1. Koefisien angin tekan = (0,02 α – 0,4

) 2. Koefisien angin hisap = - 0,4 Beban angin : 1. Angin tekan ( W1) = ((0,02 . 30°) – 0,4) = 0,1 2.
Beban angin tekan Wty Angin Hisap( W2 ) = - 0,4 (pasal [Link], PPPURG, hal 21) = 0,1 x 25 x

2,048 Beban Angin Hisap Why = 5,12 kg/m = -0,4 . 30 . 2,048 Perhitungan Momen

Pembebanan My tekan = 1 8 [Link] [Link] [Link] [Link] [Link] [Link] My tekan = 1 8 . Wty

. Ɩ2 . 5,12 . 42 My tekan = 10,24 kg.m My hisap = 1 8 My hisap = 1 8 = -20,48 kg/m . Why . Ɩ2 . -

20,48 . 42 My hisap = -40,96 kg.m Kombinasi Pembebanan Gording a. 1,4 D Ux = 1,4 (106,728 )

Uy =1,4 (228,878) = 149,419 kg.m = 320,429 kg.m 72 b. 1,2 D +0,5 L Ux = 1,2 (106,728) + 0,5

(83,807) Uy =1,2 (228,878) + 0,5 (179,724) c. 1,2 D + 1,6 L + 0,8 W Ux = 1,2 (106,728) +

1,6(83,807) + 0,8 (0) = 169,977 kg.m = 364,516 kg.m = 128,074 kg.m Uy =1,2 (228,878) + 1,6

(179,724) + 0,8 (10,24) = 570,404 kg.m d. 1,2 D +1,3 W + 0,5 L Ux = 1,2(106,728) + 1,3 (0) +

0,5(83,807) Uy = 1,2 (228,878) +1,3 (10,24) + 0,5 (179,724) e. 0,9 D ± 1,3 W Ux = 0,9 (106,728)

+ 1,3 (0 ) = 0,9 (106,728) - 1,3 (0 ) Uy = 0,9 (228,878) + 1,3 (10,24) = 0,9 (228,878) - 1,3 (10,24) =

169,977 kg.m = 377,828 kg.m = 96,055 kg.m = 96,055 kg.m = 219,302 kg.m = 192,678 kg.m

Jadi, Mux Max Muy Max = 219,302 kg.m = 570,404 kg.m [Link] Kontrol Kekuatan Profil =

219,302 x 104 [Link] = 570,404 x 104 [Link] 1. Kontrol Kelangsingan Penampang Asumsi:

Penampang Kompak bila λ < λp Penampang Tidak Kompak bila λp < λ ≤ λr Penampang

LangsiMencari Modulus Plastis Penampang Gording Keterangan : A = 150 mm, B = 100 mm, t =

6 mm Sumbu X 74 75 y1 = 1 4 𝐴𝐴 y2 = 1 2 (𝐴𝐴−𝑡𝑡) zx = 2 {2(1 2 . A . t . 1 2 𝐴𝐴)+ (B - 2t) . t . 1 2


(𝐴𝐴−𝑡𝑡) zx = 2 {2(1 2 . 150 .6 . 1 2 150)+ (100 – 2 . 6) .6 . 1 2 (150−6) zx = 129916 mm3 Sumbu Y

x1 = 1 2 (𝐵𝐵−𝑡𝑡) x2 = 1 2 (1 2 𝐵𝐵−𝑡𝑡) zy = 2 {A . t . 1 2 (𝐵𝐵−𝑡𝑡) + 2 [(B - 2t) . t . 1 2 (𝐵𝐵−𝑡𝑡)]} zy =

2 {150 . 6 . 1 2 (150−6) + 2 [(100 – 2 . 6) . 6 . 1 2 (150− 6)]} zy = 1145664 mm3 b. Mencari

Momen Nominal yang Bekerja pada Profil Mnx = Zx . Fy = 129916 mm3 . 240 N/mm2 =

31179840 [Link] Mny = Zy . Fy = 1145664 mm3. 240 N/mm2 = 274959360 [Link] Faktor

Reduksi = 0,9 𝑀𝑀𝑆𝑆𝑥𝑥𝑚𝑚𝑎𝑎𝑥𝑥 ∅𝑏𝑏.𝑀𝑀𝑛𝑛𝑥𝑥 + 𝑀𝑀𝑆𝑆𝑦𝑦𝑚𝑚𝑎𝑎𝑥𝑥 ∅𝑏𝑏.𝑀𝑀𝑛𝑛𝑦𝑦 ≤ 1,0

186,7 x 104 0,9 .31179840 + 323,374 x 104 0.9 . 274959360 ≤ 1,0 0,079 ≤ 1,0 2. Kontrol

Lendutan E = 2,0 x 105 kg/cm2 menggunakan asumsi 1 Mpa = 10 kg/cm2, Momen inersia yang

berada pada profil Hollow Circular Tube, Ix = 835 cm, Iy = 444 cm. (Tabel Baja, hal 55) a. Akibat

Beban Mati fx fy = 5 𝑥𝑥 𝑞𝑞𝑥𝑥 𝑥𝑥 Ɩ⁴ 384 𝑥𝑥 𝐸𝐸 𝑥𝑥 𝑙𝑙𝑦𝑦 = 5 x qy x Ɩ⁴ 384 x E x lx b. Akibat Beban

Hidup fx = 𝑃𝑃𝑥𝑥 𝑥𝑥 Ɩ³ 48 𝑥𝑥 𝐸𝐸 𝑥𝑥 𝑙𝑙𝑦𝑦 = 5 𝑥𝑥 53,364 . 10−2 𝑥𝑥4000⁴ 384 𝑥𝑥 2,0 𝑥𝑥 105 𝑥𝑥

4440000 = 5 x 114,439 . 10−2 x 4000⁴ 384 x 2,0 x 105 x 8350000 = 83,807 𝑥𝑥4000³ 48 𝑥𝑥 2,0 𝑥𝑥

105 𝑥𝑥 4440000 fy = Py x Ɩ³ 48 x E x lx c. Akibat Beban Angin fx fy = 0 = 5 𝑥𝑥 𝑊𝑊𝑦𝑦 𝑥𝑥 Ɩ⁴ 384

𝑥𝑥 𝐸𝐸 𝑥𝑥 𝑙𝑙𝑥𝑥 = = 179,724x 4000³ 48 x 2,0 x 105 x 8350000 5 𝑥𝑥 5,12𝑥𝑥 102𝑥𝑥 4000⁴ 384 𝑥𝑥

2,0 x 105 𝑥𝑥 8350000 = 2,003 mm = 2,284 mm = 0,126 mm = 0,143 mm = 0,102 mm

(Perencanaan Struktur Baja Dengan Methode LFRD, Hal 88) d. Kombinasi Lendutan Fx total =

2.003 + 0,126 + 0 Fy total = 2,284 + 0,143 + 0,102 Syarat Lendutan f timbul f timbul < f izin
=�fx²+ fy² f timbul = �2,129² + 2,529² f ijin = Ɩ 240 = 4000 240 = 16,67 = 2,129 mm = 2,529

mm = 3,306 mm (SNI 03 – 1729 – 2002, hal 15) f ijin > f yang timbul  16,67 > 3,306……… (OK)

(tabel 6.4-1, SNI 03- 1729- 2002, hal 15 [Link] Mendimensi Trackstang Beban Mati qx = 53,364

kg/m 76 Px Beban Hidup Jarak Kuda-Kuda = 114,439 kg/m

Anda mungkin juga menyukai